The Relationship Between Local Knowledge and Community Participation in Bacukiki in the Implementation of Community-Based Tourism at Ladoma Agro Faizah Layla Rohmah1, Firman2, Dwi Jarwanto3 Article Info *Correspondence Author 1,2,3PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare How to Cite: Rohmah, F.L., Firman., Jarwanto, D. (2025). The Relationship Between Local Knowledge and Community Participation in Bacukiki in the Implementation of Community-Based Tourism at Ladoma Agro. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 4 (3), 2025, 38-50 Article History Abstract This study explores the relationship between local knowledge and community participation in the development of community-based ecotourism in Bacukiki, Parepare. At the heart of this initiative is the Ladoma Community Group, established as a local response to increasing environmental degradation and the need to integrate conservation efforts with sustainable tourism. The findings reveal that knowledge within the community is not solely derived from formal education systems, but also from everyday practices, traditional cultural values, and continuous social interactions among members. Despite variations in economic conditions and educational backgrounds, each member actively contributes ideas, resources, and actions that enable programs to run effectively and remain sustainable. The collaboration with PT Pertamina Patra Niaga FT Parepare further enhanced community capacity by providing training, introducing renewable energy technologies, and supporting agricultural innovation. The Ladoma experience demonstrates that inclusive and participatory approaches not only strengthen sustainability, but also build resilience and adaptability within local communities facing environmental challenges. Keywords: Local Knowledge, Community Paticipation, Ecotourism, Sustainability Submitted: 6 Oktober 2025 Received: 6 Oktober 2025 Accepted: 15 Oktober 2025 Correspondence E-Mail: faizalayla29@gmail.com Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol.4 No.3 (2025) pp. 38-50 https://doi.org/10.55381/jpm/v4i3.538 https://prospectpublishing.id/ojs/index.php/jpm/index p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Creative Commons Share Alike CC-BY-SA: This work is licensed under a Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Creative Commons Attribution- Share-Alike 4.0 International License (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) which permits non-commercial use, reproduction, and distribution of the work without further permission provided the original work is attributed as specified on the Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat and Open Access pages. Keterkaitan Pengetahuan Lokal dan Partisipasi Masyarakat Bacukiki dalam Implementasi Community Based Tourism di Ladoma Agro Faizah Layla Rohmah1, Firman2, Dwi Jarwanto3 Article Info 1,2,3PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare Email Korespondensi: faizalayla29@gmail.com Abstrak Studi ini mengkaji hubungan antara pengetahuan lokal dan partisipasi masyarakat dalam pengembangan ekowisata berbasis komunitas di Bacukiki, Parepare. Inti dari inisiatif ini adalah Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Masyarakat Ladoma, yang dibentuk sebagai respons lokal terhadap meningkatnya degradasi lingkungan serta kebutuhan untuk mengintegrasikan upaya konservasi dengan pariwisata berkelanjutan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tidak hanya berasal dari pendidikan formal, tetapi juga dari praktik sehari-hari, nilai-nilai budaya tradisional, dan interaksi sosial yang terus berlangsung di antara para anggotanya. Meskipun terdapat perbedaan kondisi ekonomi dan latar belakang pendidikan, setiap anggota secara aktif memberikan ide, sumber daya, dan tindakan nyata yang memungkinkan program berjalan efektif dan berkelanjutan. Kolaborasi dengan PT Pertamina Patra Niaga FT Parepare semakin memperkuat kapasitas masyarakat melalui pelatihan, penerapan teknologi energi terbarukan, serta dukungan pada inovasi pertanian. Pengalaman Ladoma menunjukkan bahwa pendekatan yang inklusif dan partisipatif tidak hanya memperkuat keberlanjutan, tetapi juga membangun ketangguhan dan kemampuan adaptasi masyarakat lokal dalam menghadapi tantangan lingkungan. Kata Kunci: Pengetahuan Lokal, Partisipasi Masyarakat, Ekowisata, Keberlanjutan 39 © Rohmah et.al. Pendahuluan Upaya pembangunan nasional di Indonesia terus difokuskan untuk mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera melalui akselerasi di berbagai sektor strategis, seperti ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur. Dalam konteks ini, pembangunan seringkali diasosiasikan dengan kemajuan ekonomi yang dicapai melalui proses industrialisasi dan penggunaan teknologi modern. Teknologi pun kerap dijadikan sebagai pusat tumpuan keberhasilan pembangunan, seolah menjadi penyelamat utama bagi perbaikan kualitas hidup (Kusworo, 2009). Namun demikian, dalam praktiknya, orientasi pembangunan yang terlalu menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi seringkali mengabaikan pentingnya perlindungan lingkungan hidup, padahal sumber daya alam merupakan fondasi utama dalam menopang proses pembangunan itu sendiri, terutama di wilayah yang memiliki kekayaan hayati dan geografis yang tinggi. Ketika eksploitasi sumber daya dilakukan secara berlebihan tanpa perencanaan dan pengawasan yang matang, maka yang muncul adalah berbagai bentuk kerusakan ekologis. Aktivitas seperti pembukaan hutan tanpa izin, perubahan fungsi lahan secara masif, serta pengambilan sumber daya alam secara tak terkendali, telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan secara signifikan. Akibatnya, masyarakat menghadapi ancaman nyata terhadap ketahanan hidup jangka panjang. Seperti dikemukakan oleh Pimentel et al. (1995), degradasi lingkungan tidak hanya menurunkan kapasitas ekosistem dalam memberikan layanan vital seperti filtrasi air, penyerapan karbon, dan perlindungan terhadap bencana, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Oleh karena itu, pembangunan masa kini menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi menggabungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang dan berkelanjutan. Dalam kerangka tersebut, sektor pariwisata menjadi salah satu bidang yang memiliki potensi besar untuk menyelaraskan ketiga aspek tersebut. Pemerintah Indonesia telah mengarahkan berbagai kebijakan untuk memperkuat sektor ini, mulai dari pembangunan infrastruktur pendukung, promosi destinasi wisata, hingga peningkatan kapasitas masyarakat lokal. Tujuannya tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan nasional, tetapi juga menciptakan model pariwisata berkelanjutan yang memperhatikan keberlangsungan lingkungan dan nilai-nilai sosial-budaya setempat. Namun, pendekatan pengelolaan pariwisata di masa lalu menunjukkan bahwa kebijakan yang terlalu terpusat pada pemerintah nasional lebih banyak menekankan pada pencapaian angka-angka ekonomi seperti jumlah kunjungan wisatawan, nilai devisa, dan peluang kerja yang tercipta. Sementara itu, aspekaspek yang bersifat kualitatif seperti peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pelestarian budaya lokal cenderung terpinggirkan (Brohman dalam Kusworo & Damanik, 2002). Reformasi kebijakan melalui penerapan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah mengubah lanskap pengelolaan pariwisata. Kini, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam merancang strategi pariwisata berdasarkan kondisi lokal, menjadikan pengembangan pariwisata sebagai tanggung jawab kolektif antara pusat dan daerah. Pada tingkat lokal dan nasional, strategi pariwisata terus dikembangkan untuk meningkatkan daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara (Yhova, 2023). Akan tetapi, munculnya pandemi COVID-19 sejak awal tahun 2020 menjadi titik balik yang menantang bagi sektor ini. Penutupan tempat wisata, pembatasan aktivitas perjalanan, dan menurunnya jumlah kunjungan memberikan tekanan berat terhadap keberlangsungan ekonomi lokal. Namun menariknya, studi dari Wardhani dkk. (2022) menunjukkan bahwa meskipun aktivitas pariwisata sempat melambat, semangat masyarakat untuk tetap melakukan perjalanan tidak sepenuhnya hilang, selama mereka merasa aman melalui penerapan protokol kesehatan. Fenomena ini menunjukkan adanya ketahanan sosial yang kuat dalam sektor pariwisata, sekaligus memberikan pelajaran bahwa ke depan, 40 © Rohmah et.al. pengembangan wisata harus mengedepankan prinsip fleksibilitas, adaptabilitas, serta kesadaran terhadap aspek kesehatan dan keberlanjutan. Pandemi COVID-19 yang merebak sejak awal 2020 membawa dampak yang signifikan terhadap sektor pariwisata global, termasuk Indonesia. Pembatasan sosial berskala besar, penutupan tempat wisata, serta larangan bepergian menyebabkan anjloknya jumlah kunjungan wisatawan. Hal ini secara langsung mempengaruhi keberlangsungan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata. Kendati demikian, temuan Wardhani dkk. (2022) menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap kegiatan wisata tidak sepenuhnya padam. Mereka tetap melakukan perjalanan wisata dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat, menandakan adanya kebutuhan dan dorongan kuat untuk kembali terhubung dengan alam dan rekreasi, meski dalam kondisi krisis. Fenomena ini membuka ruang untuk mengevaluasi ulang arah pengembangan pariwisata ke depan. Merespons tantangan tersebut, wacana tentang pariwisata berkelanjutan kembali mengemuka sebagai solusi strategis. Konsep ini menekankan pentingnya membangun sistem pariwisata yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek, tetapi juga menjamin kelestarian lingkungan serta kesejahteraan sosial masyarakat. Seperti yang diuraikan oleh Nugraheni dkk. (2019), keberlanjutan sosial dalam pariwisata merupakan proses dinamis yang mengedepankan relasi harmonis antara individu, komunitas, serta pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Hal ini mengharuskan seluruh pemangku kepentingan untuk memperhatikan batas ekologi dan kapasitas daya dukung suatu destinasi, demi menjaga kelangsungan manfaat pariwisata secara berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang efektif dalam praktik pariwisata berkelanjutan adalah Community Based Tourism (CBT), yang memosisikan masyarakat lokal sebagai pemegang kendali utama dalam proses pengelolaan destinasi wisata. Melalui CBT, masyarakat diberdayakan untuk terlibat aktif dalam setiap tahapan, mulai dari perencanaan, pengelolaan, hingga distribusi manfaat ekonomi dan sosial. Pendekatan ini menjadikan pariwisata sebagai instrumen pemberdayaan dan bukan sekadar aktivitas ekonomi yang dieksploitasi oleh pihak luar. Ekowisata Ladoma Riverside berada di Bacukiki, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, khususnya di Kelurahan Watang Bacukiki. Kawasan ini memiliki potensi geografis dan ekologis yang luar biasa, dengan kontur perbukitan, aliran sungai, serta sistem pertanian dan peternakan yang dikelola oleh masyarakat lokal. Lanskap alam yang khas ini memberikan peluang besar untuk mengembangkan ekowisata yang tidak hanya menarik dari segi estetika, tetapi juga edukatif dan berdampak sosial. Sebagaimana dijelaskan oleh Yoeti (dalam Arida, 2017), ekowisata merupakan bentuk pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan pelibatan aktif masyarakat lokal untuk memperkenalkan alam, flora-fauna, serta budaya setempat. Salah satu inisiatif yang lahir dari potensi ini adalah pengembangan Ekowisata Ladoma Riverside. Destinasi ini menawarkan perpaduan harmonis antara keindahan alam, praktik pertanian berkelanjutan, serta edukasi lingkungan. Tidak hanya menghadirkan pengalaman wisata yang menyenangkan, Ladoma Riverside juga menjadi sarana pembelajaran yang memperkaya wawasan wisatawan sekaligus memperkuat identitas lokal. Inisiatif ini dikelola oleh Kelompok Masyarakat Ladoma, yang memperoleh hak kelola hutan dari pemerintah melalui skema Pengelolaan Hutan. Kelompok Ladoma memainkan peran sentral dalam melindungi hutan, mengembangkan sarana wisata, dan mengorganisasi kegiatan berbasis lingkungan hidup. Selain Kelompok Ladoma, terdapat pula sinergi antar kelompok masyarakat seperti Kelompok Peternak Tangguh dan Kelompok Petani Tangguh yang turut berkontribusi dalam pengembangan ekowisata Ladoma. Kelompok Peternak Tangguh, misalnya, mengelola limbah ternak menjadi biogas dan edukasi penggunaan reaktor biodigester, 41 © Rohmah et.al. sementara Kelompok Petani Tangguh menerapkan sistem irigasi tetes untuk pertanian ramah lingkungan. Pendekatan lintas kelompok ini menjadi Solusi terhadap permasalahan lokal, seperti degradasi lingkungan, keterbatasan energi, serta rendahnya produktivitas pertanian, sekaligus menjawab tantangan saat ini terkait perubahan iklim dan kebutuhan ekonomi masyarakat. Tujuan dari pemberdayaan lintas kelompok ini adalah menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan, Dimana setiap kelompok saling melengkapi untuk menjawab masalah lingkungan dan sosial. Upaya ini diperkuat oleh dukungan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Fuel Terminal (FT) Parepare menjadikan Ladoma sebagai mitra binaan. Dukungan tersebut berupa penyediaan sarana edukasi, pelatihan peningkatan kapasitas kelompok, serta pengembangan infrastruktur wisata, sehingga masyarakat tidak hanya mampu mengelola potensi lokal, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui wisata edukatif berkelanjutan. dalam upaya mendorong wisata edukatif berkelanjutan. Dengan sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta, Ekowisata Ladoma Riverside hadir sebagai contoh nyata pemberdayaan yang menjawab tantangan krisis lingkungan, memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, sekaligus mendorong keberlanjutan jangka panjang. Metode Metode pemberdayaan masyarakat yang diterapkan di KPS Ladoma menggunakan pendekatan partisipatif, di mana masyarakat terlibat secara aktif mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Partisipasi anggota tidak hanya bersifat formal, tetapi juga hadir secara alami melalui kontribusi ide, gagasan, tenaga, dan sumber daya yang dimiliki. Proses pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah, sehingga mencerminkan semangat kolektif dan egaliter. Pemberdayaan ini juga berbasis pada pengetahuan lokal yang diperoleh dari pengalaman agraris, praktik sehari-hari, interaksi sosial, serta nilai budaya gotong royong dan solidaritas. Keberadaan pertemuan rutin, diskusi kelompok, serta pendidikan informal menjadi ruang penting dalam memperkuat kapasitas anggota. Selain itu, KPS Ladoma membangun kemitraan multi-pihak, seperti dukungan CSR dari PT Pertamina FT Parepare yang memberikan pelatihan, teknologi pertanian, dan energi terbarukan. Penerapan pemberdayaan dijalankan melalui siklus berkelanjutan yang mencakup perencanaan bersama, aksi kolektif dalam konservasi dan ekowisata, serta evaluasi rutin baik internal maupun eksternal. Dengan demikian, metode yang diterapkan bukanlah bersifat top down, melainkan community based empowerment dengan pendekatan partisipatif yang diperkuat oleh pengetahuan lokal, nilai gotong royong, serta dukungan kemitraan dari pihak luar untuk mewujudkan keberlanjutan. Metode pelaksanaan pengabdian ini diarahkan untuk memecahkan masalah kerusakan lingkungan dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi. Kegiatan mulai dilaksanakan pada tahun 2020 dengan fokus pada perlindungan kawasan Ladoma dan pengembangan ekowisata berbasis komunitas. Program kerja yang dijalankan meliputi konservasi hutan dan sungai, pembibitan tanaman, budidaya pertanian dan peternakan, edukasi lingkungan, penyediaan sarana wisata seperti camping ground, serta pengembangan energi terbarukan melalui biodigester dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Seluruh kegiatan ini berlokasi di Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, yang menjadi kawasan utama pelestarian lingkungan sekaligus destinasi ekowisata berkelanjutan. Pembahasan Pengetahuan subjektif menjadi fondasi awal dalam memahami bagaimana individu mengambil peran dalam suatu tindakan, termasuk dalam konteks pelaksanaan ekowisata berbasis komunitas. Pengetahuan ini tidak hanya berakar dari pendidikan formal, tetapi juga 42 © Rohmah et.al. dari pengalaman hidup sehari-hari dan interaksi sosial yang dijalani. Ancok (2002) menyebutkan bahwa dalam diri manusia terdapat enam jenis modal utama yang membentuk modal manusia (human capital), yakni modal intelektual, sosial, emosional, ketabahan, moral, dan kesehatan. Modal intelektual, sebagai salah satu unsur penting, tidak semata-mata terbatas pada jenjang akademik yang dicapai, melainkan dapat diperoleh dari proses pembelajaran sepanjang hayat yang tidak dibatasi ruang dan waktu (Yhova, 2023). Dalam kerangka ini, pengetahuan menjadi penentu bagi setiap individu untuk terlibat secara aktif dalam dinamika sosial dan pengelolaan komunitas, termasuk dalam kegiatan ekowisata. Kemampuan seseorang dalam memahami berbagai fenomena akan terbuka luas ketika mereka memiliki basis pengetahuan yang memadai. Hal ini terlihat jelas dalam konteks masyarakat Bacukiki yang masih mempertahankan nilai-nilai agraris di tengah derasnya arus modernisasi di Kota Parepare. Sebagai kawasan pertanian yang tersisa, masyarakat Bacukiki tetap menjaga keberlangsungan sektor pertanian dan peternakan yang mereka miliki. Komitmen terhadap pelestarian ini secara tidak langsung memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan, khususnya dalam hal konservasi alam yang sejalan dengan prinsip ekowisata. Salah satu faktor penting yang mendorong berkembangnya pengetahuan adalah pendidikan. Pendidikan menjadi ruang fasilitasi yang memungkinkan setiap individu untuk mengakses ilmu dan keterampilan baru. Dalam konteks Kelompok Ladoma, keberagaman latar belakang pendidikan anggota tidak menjadi penghalang, melainkan justru membuka ruang pertukaran ide dan informasi yang dinamis. Secara teori, pendidikan tinggi sering diasosiasikan dengan kemampuan kognitif yang lebih luas, namun temuan lapangan menunjukkan bahwa anggota dengan jenjang pendidikan rendah pun memiliki pemahaman yang mendalam tentang konservasi, pengembangan wisata, dan kerja komunitas (Perkins, 1995). Meski demikian, perbedaan latar pendidikan juga berpotensi menimbulkan ketegangan akibat perbedaan pola pikir. Namun, peneliti mencatat bahwa intensitas komunikasi dan frekuensi pertemuan yang terjalin dalam kelompok justru menjadi perekat yang memperkuat solidaritas internal. Dari sudut pandang sosial, posisi anggota dalam komunitas memberikan pengaruh terhadap partisipasi dan akses terhadap pengetahuan. Wawancara menunjukkan bahwa meski mayoritas anggota hanya berstatus sebagai warga biasa di lingkungannya, mereka tetap memiliki kesempatan yang setara dalam memperluas wawasan. Aspek budaya pun turut memperkuat partisipasi anggota, terutama dalam praktik gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Bacukiki. Nilai kekeluargaan, keramahan, dan solidaritas sosial yang telah mengakar kuat menjadi alasan utama mengapa para anggota antusias terlibat dalam berbagai kegiatan komunitas. Sementara itu, dari sisi ekonomi, kondisi finansial anggota turut menentukan kemudahan akses terhadap sumber-sumber belajar. Individu dengan kestabilan ekonomi yang relatif baik lebih leluasa memanfaatkan fasilitas untuk memperoleh pengetahuan baru. Data penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anggota Kelompok Ladoma adalah pemuda dengan latar belakang sebagai petani dan pecinta alam. Kegiatan sehari-hari mereka bersinggungan langsung dengan alam, sehingga menjadi modal praktis dalam memahami konsep ekowisata secara mendalam. Lingkungan sosial juga berperan besar dalam membentuk pengetahuan anggota. Lingkungan keluarga, dukungan sosial, dan relasi antar anggota kelompok menjadi faktor penentu yang memperkaya proses belajar informal. Dari hasil wawancara, tampak bahwa keluarga mendukung penuh keikutsertaan anggota dalam kegiatan Kelompok Ladoma. Bahkan, keterikatan emosional antar anggota kelompok menciptakan iklim kolaboratif yang kondusif untuk tumbuh bersama dalam komunitas yang solid. Selain itu, pengalaman pribadi juga menjadi guru terbaik dalam proses pembentukan pengetahuan. Melalui rekam jejak aktivitas seperti wisata budaya, wisata religi, hingga wisata kuliner, anggota memperoleh wawasan praktis tentang pariwisata. Pengalaman ini menjadi 43 © Rohmah et.al. bekal yang memperluas perspektif mereka dalam mengelola kawasan ekowisata Ladoma (Yhova, 2023). Tak hanya itu, pengalaman-pengalaman tersebut juga memberi pelajaran berharga tentang apa yang perlu dipertahankan dan apa yang harus diperbaiki dalam pengelolaan destinasi. Aspek usia juga memengaruhi proses dalam pengelolaan, meskipun rata-rata anggota KPS Ladoma berada pada rentang usia di atas 27 tahun, faktor usia tidak menjadi penghalang dalam penerimaan pengetahuan baru. Wawancara dengan para anggota menunjukkan bahwa semangat belajar tetap tinggi, dan usia justru dianggap sebagai kekuatan karena membawa kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Oleh karena itu, dalam konteks penelitian ini, usia tidak menjadi variabel pembatas, melainkan bagian dari dinamika keberagaman yang memperkaya proses belajar kolektif dalam komunitas. Transformasi Partisipatif dalam Pengelolaan KPS Ladoma Lahirnya Kelompok Masyakat Ladoma merupakan respons konkret terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah Bacukiki. Inisiatif ini dipelopori oleh Pak Andi Wahyu sebagai bentuk kepedulian atas maraknya eksploitasi hutan, baik untuk pembukaan lahan pertanian baru maupun pembangunan perumahan yang dilakukan tanpa memperhatikan dampak ekologis. Kebiasaan masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar turut memperparah kondisi lingkungan, menyebabkan bencana seperti asap pekat, kekeringan lahan, banjir, hingga tanah longsor. Rentetan bencana ini memuncak pada tahun 2019 dan masih terus berdampak hingga awal tahun 2024, tentu saja mengganggu kehidupan warga dan mengancam keberlanjutan lahan pertanian. Kesadaran akan pentingnya menjaga kawasan hulu mendorong Pak Andi untuk memulai langkah konservatif melalui perlindungan kawasan Ladoma, sebuah lanskap hutan alami yang dilengkapi dengan perbukitan hijau dan aliran sungai. Sejak tahun 2020, ia mengurus perizinan pengelolaan kawasan ini ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang akhirnya pada tahun 2024 mendapatkan izin pengelolaan jasa lingkungan selama 35 tahun. Proses panjang dan rumit tersebut dijalani Pak Andi dengan penuh ketekunan, sekaligus menunjukkan perannya sebagai motor penggerak terbentuknya KPS Ladoma. Namun, perjuangan tersebut tidak selalu disambut baik oleh masyarakat. Di awal pengembangan Ladoma, Pak Andi dan timnya hanya mampu menghadirkan kolam pemancingan sederhana yang ditata di antara pohon buah seperti alpukat, jambu, dan black sapote. Banyak pihak meragukan efektivitas dan manfaat ekonomi dari langkah ini, karena belum memberikan dampak finansial yang signifikan. Sebagian masyarakat masih terpaku pada logika untung-rugi dan belum menyadari pentingnya pelestarian alam. Ketidaktahuan dan sikap apatis menjadi tantangan besar dalam menanamkan nilai-nilai konservasi lingkungan. Seiring berjalannya waktu, Kelompok Ladoma mulai menunjukkan daya tariknya sebagai destinasi wisata berbasis ekologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Parepare. Pada akhir 2020, konsep ekowisata mulai dikembangkan dengan menambahkan fasilitas seperti camping ground dan jalur susur sungai. Ladoma pun mulai ramai dikunjungi, dengan tarif yang sangat terjangkau, Rp 5000 sebagai registrasi masuk dan Rp 10.000 jika mau camping. Namun, momentum tersebut harus terhenti ketika pandemi COVID-19 melanda di awal 2021. Jumlah pengunjung menurun drastis, bahkan kawasan wisata sempat ditutup sepenuhnya. Kendati demikian, pandemi tidak menyurutkan semangat Kelompok Ladoma dalam menjalankan misi konservasi. Alih-alih terhenti, kelompok ini justru memperkuat posisinya sebagai pelaku community-based ecotourism, yaitu model pengelolaan wisata berbasis komunitas yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga berorientasi pada aspek sosial dan ekologi. Ketika sektor wisata lesu akibat pandemi, Kelompok Ladoma tetap aktif melakukan kegiatan konservasi seperti pembibitan tanaman, 44 © Rohmah et.al. metode penanaman stek, dan pelestarian pohon buah. Hasil panen yang diperoleh juga menjadi sumber pendapatan alternatif bagi kelompok, sehingga ketahanan ekonomi tetap terjaga meskipun pariwisata stagnan. Memasuki tahun 2022, geliat baru muncul dari semangat Pak Andi dan timnya yang mulai melakukan revitalisasi kawasan Ladoma. Berbagai fasilitas diperbarui dan wahana baru seperti flying fox serta climbing wall ditambahkan untuk menarik minat pengunjung. Tidak hanya itu, sektor pertanian dan peternakan pun mulai dikembangkan, seperti penanaman pohon mangga, budidaya jagung, serta pemeliharaan kelinci. Dalam konteks ini, Kelompok Ladoma tidak menggunakan pendekatan konservasi yang kaku dan penuh regulasi, melainkan metode sederhana yang mudah dipahami dan diterima masyarakat lokal. Kawasan-kawasan yang semula terbengkalai, seperti hutan tebing dan pesisir sungai, kini menjadi bagian dari ruang edukasi dan aktivitas ekonomi hijau. Potensi besar dan pendekatan partisipatif yang dijalankan Kelompok Ladoma pun mulai dilirik oleh berbagai pihak. Pada Januari 2025, kerja sama strategis dengan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Parepare resmi dimulai. Kolaborasi ini membuka ruang untuk pengembangan Kampung Wisata Berkelanjutan Bacukiki yang lebih terintegrasi. Dalam skema ini, aktor-aktor baru pun terlibat, termasuk kelompok peternak tangguh yang memberikan edukasi terkait biogas, serta kelompok petani tangguh yang memperkenalkan teknologi irigasi tetes. Inisiatif ini menjadi wujud nyata dari sinergi antara pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Partisipasi Anggota dalam Dinamika KPS Ladoma Keberhasilan suatu program dalam kelompok komunitas sangat ditentukan oleh keterlibatan aktif seluruh anggotanya. Sebagaimana diungkapkan oleh Conyers (1991), partisipasi memiliki peran strategis tidak hanya sebagai sarana pengumpulan informasi dalam pembangunan, tetapi juga sebagai medium dalam membangun kepercayaan publik serta sebagai bentuk konkret dari pelaksanaan hak-hak demokratis. Dalam konteks Kelompok Ladoma, partisipasi anggota bukanlah sesuatu yang bersifat formal semata, melainkan dijalankan secara alami melalui pendekatan yang membumi dan humanis. Proses perekrutan anggota dilakukan dengan komunikasi interpersonal yang mengedepankan pemahaman, pendekatan persuasif, dan sentuhan emosional, sehingga menciptakan rasa keterikatan yang kuat terhadap kelompok. Secara struktural, Kelompok Ladoma telah memiliki sub divisi internal atau "ranting" yang berfokus pada pengembangan kegiatan konservasi alam dan praktik budidaya. Aktivitas kelompok ini berada dalam pengawasan langsung dari Dinas Lingkungan Hidup (KLH) Kota Parepare, yang menjadi mitra pendamping dalam pelestarian lingkungan. Dari sisi keanggotaan, dominasi laki-laki masih terlihat kuat, meskipun terdapat peran perempuan yang signifikan, terutama pada sektor layanan seperti penjagaan tiket. Hal ini menunjukkan adanya ruang partisipasi lintas gender dalam struktur kelompok, meskipun dalam proporsi yang belum sepenuhnya seimbang. Proses pengambilan keputusan di Kelompok Ladoma dilakukan secara demokratis melalui forum musyawarah yang dilangsungkan setiap malam sebagai bentuk evaluasi harian. Selain itu, pertemuan strategis untuk merancang pengembangan fasilitas biasanya dilakukan minimal dua minggu sekali. Kegiatan diskusi ini menjadi sarana bagi seluruh anggota untuk menyampaikan ide, aspirasi, maupun kritik secara terbuka. Dalam suasana yang cair dan bersahabat, musyawarah kerap diawali dengan percakapan ringan diselingi canda, sebelum masuk ke topik yang lebih serius seperti perbaikan layanan, agenda kegiatan, dan respons terhadap keluhan pengunjung. Budaya 45 © Rohmah et.al. dialog ini mencerminkan semangat egaliter dan kekeluargaan yang sangat kuat dalam tubuh organisasi. Pelaksanaan Program sebagai Wujud Partisipasi Anggota Tahapan implementasi merupakan elemen sentral dalam mewujudkan tujuan dari setiap perencanaan program komunitas. Tanpa eksekusi yang baik, partisipasi tidak akan berlanjut ke tahap menikmati hasil maupun melakukan evaluasi (Yhova, 2023). Dalam penelitian ini, keterlibatan anggota KPS Ladoma pada tahap implementasi diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk kontribusi utama, yakni sumbangan pemikiran, materi, dan tindakan. Ketiga bentuk partisipasi ini saling menopang dan memperkuat dalam praktik nyata. Kontribusi pemikiran muncul melalui gagasan, kritik, maupun masukan yang diberikan oleh anggota dalam forum kelompok. Ruang ini bersifat terbuka, namun juga fleksibel untuk dilakukan secara personal bagi mereka yang lebih nyaman menyampaikan pendapat secara privat. Sementara itu, partisipasi dalam bentuk materi sebagian besar masih bertumpu pada dana pribadi yang dikucurkan oleh Pak Andi selaku tokoh sentral kelompok, serta dari hasil pemasukan tiket wisata. Namun demikian, perkembangan positif mulai terlihat sejak Kelompok Ladoma memperoleh dukungan pendanaan dari program CSR PT Pertamina FT Parepare pada tahun 2025. Bantuan ini tidak hanya mencakup dana pengembangan, tetapi juga pelatihan anggota dalam bidang ekowisata, pertanian, peternakan, hingga energi alternatif. Sebelum realisasi bantuan, dilakukan kajian bersama antara kelompok dan perusahaan untuk menakar dampak positif maupun risiko yang mungkin timbul. Kontribusi tindakan terlihat dari tingginya partisipasi anggota dalam menjalankan berbagai program kelompok. Keterlibatan ini muncul secara sukarela tanpa paksaan dari pihak mana pun, menandakan adanya kesadaran dan rasa tanggung jawab yang mendalam atas peran masing-masing individu dalam organisasi. Menariknya, sebagian besar anggota tidak mempersoalkan imbalan finansial atas keterlibatan mereka, bahkan menganggap kegiatan ini sebagai bentuk aktualisasi diri dan sarana rekreasi sosial. Hal ini menunjukkan adanya motivasi intrinsik yang kuat dalam partisipasi mereka. Dalam praktik pelaksanaan program, pembagian tugas dilakukan secara musyawarah dan disesuaikan dengan kapasitas serta minat masing-masing anggota. Tugastugas tersebut meliputi sektor pertanian, peternakan, pelayanan tiket, pemeliharaan infrastruktur, dan dapur logistik. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan serta observasi lapangan, implementasi program berjalan sesuai rencana awal yang telah disepakati bersama. Kegiatan kelompok selalu diwarnai dengan kehadiran aktif para anggota yang saling bersinergi. Relasi yang terjalin pun mencerminkan nuansa kekeluargaan yang erat, dengan pola komunikasi yang luwes dan egaliter. Hal ini menjadi modal sosial yang penting dalam menjaga keberlanjutan program dan kohesi internal dalam komunitas Kelompok Ladoma. Gambar 1. Koordinasi FT Parepare dengan Kelompok Ladoma dan DLH Kota Parepare 46 © Rohmah et.al. Kesejahteraan sebagai Dampak Positif Partisipasi Salah satu tolok ukur keberhasilan dalam pelaksanaan program komunitas adalah sejauh mana anggotanya dapat merasakan manfaat secara nyata (Brohman, 1996). Ketika anggota kelompok memperoleh hasil yang sepadan dengan keterlibatannya, maka dapat dikatakan bahwa tujuan dari program tersebut telah tercapai secara efektif. Sejalan dengan pandangan umum dalam kegiatan pemberdayaan, hasil akhir dari program seyogianya memberikan keuntungan sebesar-besarnya kepada masyarakat lokal, terutama kepada anggota yang terlibat secara langsung (Kusworo, 2009). Dalam konteks Kelompok Ladoma, terdapat sistem distribusi hasil yang didesain secara adil, dimana pembagian keuntungan dari aktivitas ekowisata dilakukan berdasarkan tingkat kontribusi masing-masing individu. Skema ini dirancang untuk mendorong keterlibatan aktif dan memastikan bahwa manfaat tidak hanya dirasakan secara kolektif, tetapi juga secara individual, sesuai dengan prinsip keadilan sosial. Keuntungan yang diperoleh tidak hanya terbatas pada insentif finansial, tetapi juga dialokasikan untuk kepentingan bersama, seperti pembangunan dan peningkatan sarana ekowisata. Salah satu contohnya adalah pembangunan jembatan kayu yang melintasi sungai, yang tidak hanya meningkatkan aksesibilitas pengunjung, tetapi juga menambah daya tarik destinasi wisata. Selain aspek material, anggota juga memperoleh keuntungan personal dalam bentuk kepuasan batin dan pengakuan sosial dari komunitas sekitar atas kontribusi mereka dalam menjaga dan mengelola kawasan ekowisata. Program ini pun semakin kuat berkat dukungan eksternal dari PT Pertamina Patra Niaga FT Parepare, yang telah berperan dalam memperkaya kapasitas edukasi dan keberlanjutan ekowisata di Ladoma. Bantuan tersebut diwujudkan melalui pemberian biodigester untuk mengolah limbah organik sisa makanan menjadi biogas yang digunakan untuk memasak di dapur kelompok, serta pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi bersih. Di samping itu, anggota kelompok juga menerima bantuan berupa bibit alpukat dan pelatihan budidaya lebah, yang menambah variasi kegiatan edukatif dan sekaligus mendukung diversifikasi ekonomi lokal. Gambar 2. Keindahan Sungai Ladoma sebagai Wisata 47 © Rohmah et.al. Tahapan Evaluasi untuk Perbaikan Berkelanjutan Tabel 1. Tahapan Evaluasi Ekowisata Ladoma Riverside Jenis Evaluasi Evaluasi Internal Pelaksana/Pihak Terlibat Kelompok Ladoma Frekuensi Rutin, setiap hari. Fokus Utama - Evaluasi Eksternal PT Pertamina Patra Niaga FT Parepare bersama Setiap bulan - Pengawasan Pemerintah Stakeholder dan Refleksi Partisipatif Pemerintah Kelurahan Watang Bacukiki, Dinas Pariwisata Kota Parepare, Dinas Lingkungan Hidup Kota Parepare, Masyarakat sekitar Secara berkala/sesuai kebutuhan Semua anggota dan stakeholder dalam forum terbuka Insidental (misalnya saat ada capaian besar, kendala signifikan, atau kunjungan - Meninjau capaian kegiatan Mengidentifikasi kendala operasional Mendengar masukan anggota dan pengunjung Menilai efektivitas program CSR Memastikan keselarasan visi Ladoma & Pertamina Mengukur dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan Memberikan masukan kebijakan Menilai kontribusi Ladoma terhadap Pembangunan lokal Membantu transparansi dan akuntabilitas Membuka ruang kritik & saran Mengidentifikasi kebutuhan baru masyarakat Menyesuaikan strategi program Sumber: Data Primer Lapangan Sebagai tahap akhir dalam siklus partisipasi anggota, evaluasi memainkan peran penting sebagai media refleksi sekaligus pengambilan keputusan untuk peningkatan kualitas program. Evaluasi bukan sekadar formalitas, melainkan suatu proses yang memberikan ruang bagi seluruh anggota untuk menyampaikan pendapat, kritik, dan saran yang konstruktif. Di lingkungan Kelompok Ladoma, evaluasi internal dilakukan secara rutin minimal dua minggu sekali, dan menjadi momen penting untuk melihat kembali capaian serta kendala yang dihadapi kelompok. Selain itu, karena program ini melibatkan kemitraan dengan PT Pertamina FT Parepare, proses evaluasi eksternal juga dilakukan secara berkala setiap bulan. Tidak hanya terbatas pada lingkup internal kelompok, pengawasan terhadap jalannya program juga turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah Kelurahan Watang Bacukiki, Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup (KLH) Kota Parepare, serta masyarakat sekitar turut memberikan masukan dan pemantauan. Hal ini mencerminkan prinsip transparansi yang dijunjung oleh Kelompok Ladoma, bahwa setiap langkah dalam pengelolaan program dilakukan dengan tanggung jawab kolektif. Mekanisme evaluasi yang terbuka dan kolaboratif ini juga menjadi jaminan bahwa tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan segelintir pihak. Sebaliknya, evaluasi menjadi ruang strategis 48 © Rohmah et.al. untuk menyesuaikan arah gerak kelompok dengan kebutuhan serta harapan masyarakat luas, sehingga kebermanfaatan program dapat terus tumbuh dan berkelanjutan. Kesimpulan Ekowisata Ladoma Riverside adalah contoh nyata bagaimana sebuah inisiatif lokal dapat berkembang menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata berkelanjutan. Dengan mengandalkan potensi lingkungan sekitar, semangat gotong royong warga, serta dukungan multi-pihak, Ladoma berhasil memadukan fungsi wisata, edukasi, dan ekonomi dalam satu ekosistem yang saling melengkapi. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pariwisata dapat menjadi instrumen strategis untuk menjawab tantangan sosial, lingkungan, dan ekonomi masyarakat di tingkat lokal. Dari sisi sosial, Ladoma membuktikan dirinya sebagai ruang pembelajaran kolektif yang memperkuat identitas komunitas. Kehadiran ekowisata ini menumbuhkan kembali nilai-nilai kemandirian dan kebersamaan, yang tercermin dari partisipasi aktif warga dalam setiap kegiatan. Gotong royong bukan hanya menjadi slogan, melainkan praktik nyata yang mengikat masyarakat dalam kerja sama lintas kelompok. Kolaborasi yang dijalin dengan pemerintah kelurahan, Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup, serta sektor swasta seperti PT Pertamina FT Parepare turut memperluas jejaring sosial dan membuka akses pada pengetahuan, teknologi, dan dukungan finansial. Dengan demikian, Ladoma menjadi ruang di mana masyarakat lokal tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga aktor utama dalam proses perubahan. Kemudian dari sisi ekonomi, Ladoma telah menghadirkan peluang yang konkret bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Aktivitas ekowisata mendorong tumbuhnya UMKM, produk olahan hasil pertanian dan peternakan, kerajinan lokal, serta layanan pendukung wisata seperti kuliner dan transportasi sederhana. Wisatawan yang datang ke Ladoma tidak sekadar menikmati keindahan sungai dan panorama alam, tetapi juga ikut serta menggerakkan roda ekonomi lokal melalui pembelian produk dan jasa masyarakat. Model ekonomi ini menciptakan rantai nilai yang berkelanjutan, memperkuat daya saing masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sektor ekonomi konvensional yang tidak selalu ramah lingkungan. Dari sisi edukatif, Ladoma berhasil mengintegrasikan konsep experiential tourism atau wisata berbasis pengalaman. Setiap pengunjung bukan hanya hadir untuk rekreasi, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar langsung mengenai pengelolaan sumber daya alam secara bijak. Program edukasi seperti pengolahan limbah organik menjadi biogas dengan reaktor biodigester, pertanian organik dengan sistem irigasi tetes, budidaya lebah trigona, serta peternakan ramah lingkungan, memberi nilai tambah yang unik. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesadaran wisatawan terhadap isu keberlanjutan, tetapi juga memberi masyarakat pengetahuan praktis yang dapat meningkatkan ketahanan ekonomi sekaligus memperkuat komitmen pada konservasi lingkungan. Dari sisi lingkungan, Ladoma menjadi jawaban atas persoalan krusial terkait pengelolaan sampah yang semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan. Jika sebelumnya sampah menjadi ancaman bagi kebersihan lingkungan, kini justru menjadi peluang bagi inovasi masyarakat. Dengan dukungan PT Pertamina Patra Niaga FT Parepare melalui pelatihan pemilahan sampah, penyediaan fasilitas daur ulang, hingga pengolahan menjadi furnitur dan kerajinan, masyarakat dapat mengubah limbah menjadi produk bernilai guna. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memperkuat elemen edukatif dalam ekowisata, karena wisatawan dapat belajar secara langsung mengenai pentingnya ekonomi sirkular dalam kehidupan sehari-hari. Namun, perjalanan Ladoma tentu masih menyisakan pekerjaan rumah. Tantangan terkait pengelolaan sampah secara masif, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta 49 © Rohmah et.al. kebutuhan inovasi berkelanjutan memerlukan perhatian kolektif dan dukungan yang konsisten. Meski demikian, kehadiran ekowisata ini telah membuktikan bahwa keterlibatan aktif masyarakat, jika dikombinasikan dengan dukungan strategis pemerintah dan sektor swasta, dapat menghadirkan solusi yang nyata terhadap permasalahan sosial dan lingkungan sekaligus membuka jalan menuju kemandirian ekonomi. Dengan demikian, Ekowisata Ladoma Riverside bukan hanya sebuah destinasi wisata, melainkan laboratorium sosial, ekonomi, dan lingkungan yang mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan. Diharapkan untuk ke depannya, Ladoma memiliki potensi untuk menjadi role model ekowisata di tingkat regional maupun nasional, karena mampu memperlihatkan bagaimana pariwisata dapat berjalan seiring dengan pembangunan berkelanjutan. Melalui inovasi, partisipasi, dan kolaborasi multi-pihak, Ladoma tidak hanya menghadirkan manfaat jangka pendek berupa peningkatan kunjungan wisata, tetapi juga manfaat jangka panjang berupa penguatan ketahanan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan generasi mendatang. Kesimpulannya, Ladoma Riverside adalah bukti bahwa pariwisata berbasis masyarakat dapat menjadi solusi strategis atas tantangan zaman mulai dari krisis lingkungan, keterbatasan ekonomi, hingga kebutuhan akan pendidikan berkelanjutan. Inisiatif ini memberi pelajaran penting bahwa ketika masyarakat diberi ruang untuk berdaya, didukung dengan jejaring kolaboratif, dan diarahkan pada tujuan keberlanjutan, maka lahirlah ekosistem pariwisata yang inklusif, resilien, dan berdaya saing tinggi. Ladoma bukan hanya sebuah destinasi, tetapi simbol transformasi sosial menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Daftar Pustaka Ancok, D. (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia. Disertasi. Yogyakarta: MAP UGM. Arida, I. N. S. (2017). Ekowisata: Pengembangan, Partisipasi Lokal, dan Tantangan Ekowisata. Denpasar: Cakra Press. Brohman, J. (1996). Popular Development: Rethinking the Theory and Practice of Development. https://api.semanticscholar.org/CorpusID:152760398 Conyers, D. (1991). Perencanaan Sosial di Dunia ketiga. Yogyakarta: UGM Press. Kusworo, H. A. (2009). Pariwisata untuk Kesejahteraan: Meninjau Ulang Kebijakan Pembangunan. Center for Population and Policy Studies, Gadjah Mada University. Perkins, D. D., & Zimmerman, M. A. (1995). Empowerment theory, research, and application. American Journal of Community Psychology, 23, 569-579. Kusworo, H. A., & Damanik, J. (2002). Pengembangan SDM Pariwisata Daerah: Agenda Kebjakan untuk Pembuat Kebijakan. Jurnal Ilmu Sosial & Ilmu Politik, 6(1), 105- 120. Muliana, Y. (2023). Partisipasi anggota kelompok masyarakat pengawas (POKMASWAS) ditinjau melalui pengetahuan subjektif dalam pelaksanaan community-based ecotourism di Ekowisata Mangrove Hijau Daun Pulau Bawean (Skripsi Sarjana, Universitas Gadjah Mada). Repository Universitas Gadjah Mada. https://repository.ugm.ac.id Nugraheni, A. I. P., Priyambodo, T. K., Kusworo, H. A., & Sutikno, B. (2019). The Social Dimension of Sustainable Development: Defining Tourism Social Sustainability. Publisher EAI. Proceedings of the 1st International Conference on Engineering, Science, and Commerce, ICESC 2019, 18-19 October 2019, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. 50