Ekaristi dalam Tradisi Syukur atas Padi/Beras Baru Hasil Panen di Masyarakat Dayak Kanayatn Valentina Noviniska1 Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri. Pontianak. Email : valentinaopay3@gmail. Abstrak Masyarakat Dayak Kanayatn merupakan salah satu suku dayak yang masih memegang tradisi leluhur yakni tradisi Naik Dango. Tradisi yang dilakukan turun temurun ini menandakan bahwa masyarakat Dayak Kanayatn memiliki sifat religius yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat mereka. Kehadiran agama Katolik di tengah-tengah mereka tidak serta merta menghilangkan budaya luhur Tradisi Naik Dango masih terus dilakukan hingga sekarang bahkan tak jarang intensi syukur dalam ritual Naik Dango memperoleh tempat dalam Perayaan Ekaristi. Metode penelitian ini menggunakan metode pendekatan penelitian library research dengan membaca buku, jurnal dan dokumen Gereja. Dalam penelitian tidak hanya mengulas bagaimana Gereja memandang tradisi lokal seperti tradisi Naik Dango sebagai ungkapan syukur manusia kepada Penciptanya atas berkat yang diterimanya tetapi juga mengulas makna tari-tarian dan simbol-simbol yang ada di dalam tradisi Naik Dango dan fungsi dari tradisi Naik Dango itu sendiri. Sebagai manusia yang memiliki sifat religius, masyarakat suku Dayak Kanayatn mengungkap kisah perjalanan hidup mereka melalui tari-tarian yang dilakukan pada saat tradisi Naik Dango berlangsung. Tradisi Naik Dango pun tidak hanya dilakukan sehari, tetapi berhari-hari dimulai dari persiapan, penghormatan kepada penguasa lokal hingga akhirnya ditutup. Dengan ulasan tersebut, menjadi jelas bagaimana Gereja dapat masuk ke dalam kebudayaan masyarakat suku Dayak Kanayatn khususnya ke dalam tradisi Naik Dango dan menerimanya sebagai bagian dalam kekayaan Gereja. Kata kunci: Dayak. Gereja. Kanayatn. Naik Dango. Tradisi. Abstract The Dayak Kanayatn people are one of the Dayak tribes who still adhere to their ancestral traditions, namely the Naik Dango tradition. This tradition, which has been passed down from generation to generation, indicates that the Dayak Kanayatn people have a religious nature that upholds their traditional values. The presence of Catholicism among them did not necessarily eliminate this noble culture. The tradition of Naik Dango is still carried out today and it is not uncommon for the intention of thanksgiving in the Naik Dango ritual to have a place in the Eucharist Celebration. This research method uses a library research approach by reading books, journals and Church documents. The research not only reviews how the Church views local traditions such as the Naik Dango tradition as an expression of human gratitude to their Creator for the blessings they receive but also reviews the meaning of the dances and symbols in the Naik Dango tradition and the function of the Naik Dango tradition itself. As humans who have a religious nature, the Dayak Kanayatn people reveal the story of their life journey through dances performed during the Naik Dango tradition. The Dango Ride tradition is not only carried out for one day, but for days starting from preparation, paying respects to local authorities until finally With this review, it becomes clear how the Church can enter into the culture of the Dayak Kanayatn tribal community, especially into the Naik Dango tradition and accept it as part of the Church's wealth. Keywords: Dayak. Church. Kanayatn. Naik Dango, tradition PENDAHULUAN Masyarakat Dayak Kanayatn merupakan makhluk sosial-budaya-religius yang berarti mereka memiliki relasi dengan sesama dan juga Penciptanya. Relasi tersebut turun temurun dalam komunitas mereka yang berarti mereka meneruskan kebudayaannya dari nenek moyang hingga di zaman sekarang. Salah satu tradisi yang mencerminkan masyarakat Dayak Kanayatn ini adalah tradisi Naik Dango. Dalam bahasa Dayak Kanayatn. Dango berarti AulumbungAy atau tempat seperti gudang untuk menyimpan Singkat kata. Dango berarti dangau atau lumbung padi (Mulyadi. Silverius. , 2. Tradisi AuNaik DangoAy merupakan upacara penutupan dari serangkaian upacara yang berkaitan dengan kegiatan berladang khususnya bertanam padi. Upacara ini juga sebagai penanda bahwa kegiatan perladangan telah selesai (Wina. Priani, 2. Menurut informasi narasumber yang bernama bapak Miden, upacara Naik Dango setidak telah dilakukan sejak lama setidaknya terjadi pada tahun 1953 (Yesi Aprisa. Maria. Sanulita. Henny. Fretisari. Imma. , no dat. Menurut Widyanto, tradisi Naik Dango dalam masyarakat Dayak Kanayatn bertujuan untuk bersyukur atas hasil panen . adi, sayur-sayura. yang diperoleh (Mintosih dan Widyanto. Sigit. , 1. Tradisi Naik Dango diyakini oleh masyarakat Dayak Kanayatn berasal dari mitos asal mula padi yang dibawa oleh nek Baruang Kulup. Mitos tersebut menceritakan setangkai padi milik Jubata di gunung Bawakngi yang dicuri seekor burung pipit dan jatuh ke tangan nek Jaek yang tengah mengayau. Kepulangannya yang hanya membawa setangkai buah rumput mengakibatkan dia diejek. Keinginannya untuk mengembangkan dua buah rumput tersebut juga mengakibatkan pertentangan hingga akhirnya ia diusir. Ia kemudian bertemu dengan Jubata yang kemudian melahirkan nek Baruang Kulup. Nek Baruang Kulup inilah yang membawa padi kepada talino . Namun, karena nek Baruang Kulup suka turun ke dunia untuk bermain gasing, ia pun diusir dari gunung Bawakng dan menikah dengan manusia (Rufinus. , 2. Sebelum padi menjadi sumber makanan yang menyegarkan, manusia memakan kulat . Akan tetapi, untuk memperoleh padi justru terjadi tragedi pengusiran lingkungan keluarga manusia dan Jubata yang menunjukkan kebaikkan hatinya kepada manusia. Fungsi padi dan kemurahan Jubata inilah yang menjadi dasar upacara adat Naik Dango (Ivo, 2. Pada zaman dahulu, masyarakat Dayak Kanayatn memiliki rumah atau tempat tinggal yang terpisah dengan pondok untuk menyimpan hasil panen. Pondok tersebut disebut sebagai Dango dalam bahasa Dango dibangun agak tinggi dengan tujuan agar hasil panen tersebut aman dari air pasang dan hewan liar. Dengan demikian Naik Dango berarti naik ke pondok tempat hasil panen disimpan. Dalam tradisi Naik Dango ada pemimpin doa yang disebut sebagai Panyagahant. Panyagahant mendaraskan doa dalam bahasa daerah dayak Kanayatn. Selesainya doa, selanjutnya dilakukan Makant Baras Barahu yakni memanggil para tetangga untuk menikmati hasil panen tersebut (Tindarika, 2. Dalam perkembangan modern di mana Gereja hadir di tengah-tengah masyarakat Dayak Kanayatn, tradisi ini masih diteruskan. Tak jarang, intensi syukur atas panen diucapkan saat Perayaan Ekaristi. Tulisan ini ingin melihat bagaimana pandangan dan perlakuan Gereja terhadap tradisi lokal, khususnya di kalangan masyarakat Dayak Kanayatn. Karenanya, pembahasan mengenai simbol dan makna di dalam tradisi Naik Dango perlu dibahas sebelum menjelaskan secara rinci ritual Naik Dango itu sendiri. Pandang Gereja mengenai tradisi dan kepercayaan lokal juga akan dibahas. Dari pembahasan-pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bagaimana pandangan dan perlakuan Gereja tentang tradisi lokal khususnya tradisi Naik Dango di kalangan masyarakat suku Dayak Kanayatn. Ulasan mengenai tradisi Naik Dango di kalangan masyarakat Dayak Kanayatn tersedia pada berbagai sumber literasi . urnal dan artike. Selain itu, pengalaman pribadi penulis yang berada di kalangan masyarakat Dayak Kanayatn menjadi sumber nyata tentang tulisan ini. METODE Pada tulisan ini, pendekatan penelitian yang digunakan ialah pendekatan penelitian library Research atau pendekatan penelitian kepustakaan. Dalam tulisannya. Mirzaqon dan Purwoko mengemukan beberapa arti penelitian kepustakaan dari beberapa ahli seperti Mardalis. Sarwono. Nazir dan Sugiyono. Menurut Mardalis, penelitian kepustakaan merupakan suatu studi yang digunakan dalam mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material yang ada diperpustakaan seperti dokumen, buku, majalah, kisah-kisah sejarah, dsb. Menurut Sarwono, penelitian kepustakaan merupakan studi yang mempelajari berbagai buku refrensi serta hasil penelitian sebelumnya yang sejenis yang berguna untuk mendapatkan landasan teori mengenai masalah yang akan diteliti. Menurut Nazir. Penelitian kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan penelaahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Menurut Sugiyono, penelitian kepustakaan merupakan kajian teoritis, refrensi serta literatur ilmiah lainnya yang berkaitan dengan budaya, nilai dan norma yang berkembang pada situasi sosial yang diteliti (Mirzaqon. , dan. Budi. Purwako. , 2. Dalam penelitian ini metode pendekatan penelitian kepustakaan ini dilakukan dengan membaca buku, jurnal-jurnal dan dokumen Gereja. Penelitian ini akan mengambil masyarakat dayak Kanayatn HASIL DAN PEMBAHASAN Tradisi Naik Dango tidak saja memiliki urutan upacara, tetapi juga memiliki simbol-simbol di Berikut merupakan penjelasan upacara Naik Dango beserta makna simbol di dalamnya. Selanjutnya, akan dijelaskan juga mengenai pandangan Gereja mengenai tradisi dan kepercayaan lokal dan pastoral di tengah masyarakat dayak Kanayatn. UPACARA NAIK DANGO Pelaksanaan upacara Naik Dango dilakukan 3 . Sebelum melaksanakan upacara Naik Dango, masyarakat Dayak Kanayatn membuat plantar . yang bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Jubata karena mendapatan limpahan hasil panen padi (Tindarika, 2. Plantar tersebut diletakan di dalam pahar . ejenis wadah dari tembaga berkaki menyerupai gelas sloki berdiameter kurang lebih 40 cm. Di dalam plantar berisikan antara lain: Tumpi . ue khas suku dayak yang menyerupai kue cucu. Solekng . eras ketan yang dimasak di dalam bambu keci. Potongan daging ayam mentah yang bungkus daun khusus, manok . Kelambe . epung yang dimasak cair atau bubur terig. , botokng . eras yang dibungkus dengan daun kemudian dimasak sehingga menjadi lonton. , babotn . , beras banyu . eras dengan campuran minyak goren. (Tindarika, 2. Selain plantar yang disebutkan di atas, ada juga plantar yang dipersiapkan yakni: beras biasa yang ditaruh pada sebuah piring, beras ketan yang ditaruh pada piring di atas beras biasa, telur, minyak tengkawang, rokok daun, tepung tawar, topong . empat siri. Ada juga plantar berupa pelita . , beliung, tangkeatn . enih padi utama atau induk yang akan dipersembahkan untuk Jubat. (Tindarika. Pada H-3 upacara Naik Dango, dilaksanakan terlebih dahulu upacara NaboAo Padagi yakni upacara yang bertujuan untuk meminta izin kepada AuPenunggu Air TanahAy agar AuPenunggu Air TanahAy tidak marah saat masyarakat menimbulkan suara berisik saat berpesta (Tindarika, 2. Hal ini dilakukan karena masyarakat dayak Kanayatn mempercayai bahwa buni yang diinjak dikuasai oleh Penunggu Air Tanah. Pada Hari H-2 upacara Naik Dango, dilaksanakan Bahapun yakni rapat antara antara pihak penyelanggara (Timanggung tuan ruma. dengan Timanggung . etua ada. dari setiap Banua . esa atau kampun. dan dihadiri oleh ketua DAD (Dewan Adat Daya. dari setiap kecamatan. Dalam Bahapun dibahas mengenai pemilihan tuan rumah untuk upacara adat Naik Dango selanjutnya serta pelaksanaan upacara tersebut bisa berlangsung dengan lebih baik dan lancar. Pada hari H upacara Naik Dango, akan dibunyikan sebanyak 7 . kali alat musik gong. Selanjutnya, dilaksanakan upacara adat Nyangahatn yang bertujuan memohon kepada Jubata agar pelaksanaan upacara adat Naik Dango dapat berjalan dengan lancar. Dalam upacara Naik Dango, dilaksanakan juga beberapa tarian seperti tari Nimang Padi, tari Panompo. Selain kedua tari, biasanya ada juga tarian-tarian lain yang diperlombakan dalam upacara adat Naik Dango seperti tarian NampiAo Seak. MAKNA TARIAN DALAM UPACARA ADAT NAIK DANGO TARI NIMANG PADI ATAU TARI AMBOYO Tarian Nimang Padi atau tarian Amboyo merupakan tarian tradisional pada suku Dayak Kanayatn (Yesi Aprisa. Maria. Sanulita. Henny. Fretisari. Imma. , no dat. yang dilaksanakan pada upacara adat Naik Dango. Karena bersifat ritual, tarian Nimang Padi atau tarian Amboyo hanya dilakukan pada upacara adat Naik Dango saja. Tarian Nimang Padi atau tarian Amboyo pertama kali dilakukan pada tahun 1953 di desa Saham. Kecamatan Sengah Temilah Kabupaten Landak. Kalimantan Barat1 (Yesi Aprisa. Maria. Sanulita. Henny. Fretisari. Imma. , no dat. Tarian Nimang Padi atau tarian Amboyo dilakukan oleh tujuh orang Penari tersebut terdiri dari 2 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Ketujuh penari tersebut menari sambil membawa tangkaian padi. Perkembangan zaman di kalangan masyarakat Dayak Kanayatn. Tarian Nimang Padi atau tarian Amboyo boleh dilakukan beberapa penari saja sesuai ketentuan pelatih tarinya. Tarian Nimang Padi atau tarian Amboyo menampilkan beberapa gerakan yang sederhana, berulang-ulang dan lemah lembut mengikuti syair lagu Amboyo. Tarian Nimang Padi atau tarian Amboyo diiringi alat musik seperti tuma, ganakgn, agukng, seruling dan Dau. Dari sisi sejarah, fungsi dan prosesnya. Tarian Nimang Padi atau tarian Amboyo mempunyai nilainilai seperti nilai religius, nilai simbolik, nilai sosial dan nilai kerja sama. Nilai religius pada tarian ini adalah gambaran bagaimana masyarakat Dayak Kanayatn menempatkan sang Jubata sebagai pusat dalam pengaturan kehidupan mereka. Dilihat dari nilai simbolik, tarian ini mempunyai makna keselamatan, kebahagiaan, kebesaran, dsb. Dilihat dari nilai sosial, tarian ini memperlihatkan keterlibatan seluruh anggota keluarga untuk mencapai kesuksesan dalam melaksanakan upacara adat Naik Dango. Sementara itu, dilihat dari nilai kerja sama, tarian ini menunjukkan adanya kerja sama antara anggota masyarakat yang bersama-sama, mensukseskan upacara Naik Dango (Yesi Aprisa. Maria. Sanulita. Henny. Fretisari. Imma. , no dat. TARI NGANTAR PANOMPO Tarian Ngantar Panompo adalah tarian terakhir yang dilaksanakan dalam upacara adat Naik Dango. Tarian ini merupakan ritual penutup dalam upacara adat Naik Dango. Panompo berarti upeti di 1 Wawancara dengan narasumber bernama bapak Miden. Pada waktu itu. Desa Saham menjadi tuan rumah upacara adat Naik Dango mana upeti yang dimaksudkan adalah barang-barang hasil ternak dan pertanian masyarakat Dayak Kanayatn yang selanjutnya akan dimanfaatkan oleh tuan rumah untuk menjamu para tamu yang hadir dalam upacara adat Naik Dango . Tindarika, 2. Dalam tarian Ngantar Panompo terdapat unsur utama yakni gerakan. Ada beberapa motif gerakan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Untuk perempuan, ada gerak bakayuh, yaitu gerak tangan seperti mendayung ke kanan dan ke kiri. Bersamaan dengan itu, ada juga gerakan menghentakan kaki kanan yang dilanjutkan dengan gerak bawakng dengan menghentakan kaki yang sama seperti dalam gerak Bakayuh. Gerak bekayuh mempunyai makna mengayun sampan sesuai dengan kehidupan leluhur masyarakat Dayak Kanayatn yang memiliki sawah yang jauh dari tempat tinggal dan diperlukan sampan untuk ke sawah karena harus menyeberangi anak sungai Kapuas. Sesampainya di seberang, ada gerakan memetik padi yang ditunjukkan dalam gerakan bawakng. Sementara itu, pada gerakan laki-laki pembawa panompo hanya menghentakkan kaki sambil membawa panompo di bahunya . Tindarika, 2. NILAI-NILAI DALAM UPACARA NAIK DANGO Dalam upacara adat Naik Dango ada sejumlah nilai-nilai budaya yang tampak dari simbol-simbol yang berlaku di kalangan masyarakat adat Dayak Kanayatn. Makna-makna tersebut antara lain adalah (Ajisman, 1. Babi. Babi melambangkan hukum adat yang harus ditegakkan. Dalam suatu upacara adat bila menggunakan seekor babi maka upacara adat tersebut dinilai lengkap. Beras biasa. Beras biasa melambangkan hukum adat yang perlu ditegakkan demi kesatuan dalam keluarga serta menyegarkan lingkungan. Beras Ketan. Beras Ketan melambangkan persatuan dan persaudaraan. Lambang ini diperolah dari Beras Ketan yang lengket dan sulit dipisahkan. Ayam. Ayam melambangkan kemakmuran. Lambang ini diperoleh dari kebiasaan ayam yang selalu terbang bebas dan dapat mencari makan sendiri. Tumpi . Tumpi atau cucur melambangkan kesatuan atau semangat yang satu dari seluruh warga masyarakat. Telur masak. Telur yang masak melambangkan persatuan dan sulit dipisahkan sehingga dapat digunakan untuk menolak segala ancaman dari dalam dan luar. Gambir. Gambir memiliki rasa pahit melambangkan kecelakaan atau keteguhan hati. Makna ini diperoleh dari warna daun gambir yang kekuning-kuningan yang berarti sebelum mencapai sesuatu harus bersabar dalam melakukan proses untuk mencapainya. Pinang. Pinang melambangkan keturunan orang yang berbudi baik, jujur, memiliki derajat yang tinggi, melakukan suatu pekerjaan dengan hati terbuka dan bersungguh-sungguh. Makna tersebut berdasarkan dari sifat pohon pinang yang tinggi lurus ke atas serta mempunyai buah yang lebat dalam satu tandan. Kapur. Kapur berasal dari kerang atau batu kapur. Kapur yang berwarna putih bersih dan memilik rasa payau melambangkan sifat hangat, hati bersih dan melunakkan hati yang keras. Daun Sirih. Daun sirih melambangkan sifat rendah hati, suka memberi dan memuliakan orang. Makna ini ditafsirkan dari cara bertumbuh sirih yang memanjat pada para-para atau batang pohon tanpa merusak tempat ia hidup. Sekapur Sirih sebagai bentuk adat ramah tamah atau pembukaan suatu upacara. Gong diartikan bahwa dengan suara yang keras dapat menakuti segala sesuatu yang dapat mengganggu serta dapat dijadikan sebagai alat komunikasi yang lancar. Tepung tawar, yaitu obat penawar turunnya Jubata dari tempat asalnya. Tepung tawar berfungsi untuk membersihkan manusia dan rumah tangga dari segala sesuatu yang menodainya. Beliukng yaitu alat pemotong yang digunakan sebagai pelengkap sesajen. Beliukng bermakna sebagai pengeras atau penolak bala . FUNGSI UPACARA NAIK DANGO Bagi masyarakat suku Dayak Kanayatn, upacara Naik Dango mempunyai fungsinya sendiri. Menurut Sri Mintosih, upacara Naik Dango berfungsi sebagao ungkapan rasa syukur masyarakat suku dayak Kanayatn kepada Jubata (Sang Pencipt. atas panen padi yang telah diperoleh (Mintosih dan Widyanto. Sigit. , 1. Sementara menurut Bahri, yang ditulis ulang oleh Ivo menyatakan bahwa upacara Naik Dango mempunyai fungsi: . menyukuri karunia Jubata (Sang Pencipt. , . Mohon restu kepada Jubata untuk menggunakan padi yang disimpan di Dango . pertanda penutupan tahun berladang . mempererat hubungan persaudaraan atau solidaritas (Ivo, 2. PANDANGAN GEREJA TENTANG KEPERCAYAAN LOKAL Pada umumnya. Gereja Katolik menghormati kepercayaan dan budaya lokal sebagai ekspresi dari kekayaan dan keragaman manusia yang diciptakan oleh Allah. Hal ini sesuai dengan ajaran Gereja Au. Gereja mempertimbangkan dengan lebih cermat, manakah hubungannya dengan agama-agama bukan kristiani. Dalam tugasnya mengembangkan kesatuan dan cinta kasih antar manusia. Sebab semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi. Ay (NOSTRA AETATE, 1. Yesus sendiri berfirman. Au. barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku. dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku. dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku. Ay (Luk 10:. Dalam suratnya yang pertama St. Yohanes sendiri mengajarkan: Aubarangsiapa mengasihi Allah, ia harus mengasihi saudaranyaAy. Ketiga ajaran Kristiani tersebut jelas menggambarkan sikap Gereja yang menghormati kepercayaan lokal sejauh tidak berlaku jahat kepada sesama dan mengedepankan kasih kepada Pencipta . NOSTRA AETATE, 1. Semasa hidup-Nya di dunia pun. Yesus pernah berusaha untuk mempopulerkan lagi kearifan lokal orang Israel yang sudah ada yakni tradisi Theos Patros yang tampak dalam Injil Matius 22:32 (Surbakti, 2. Namun. Gereja juga memandang bahwa kepercayaan lokal harus dinilai dalam kerangka iman Katolik yang lebih luas, dan tidak boleh bertentangan dengan ajaran Gereja. Dalam beberapa kasus, kepercayaan lokal dapat menyertakan praktik-praktik yang bertentangan dengan iman Katolik, seperti pengorbanan manusia atau praktik-praktik sihir dan penyembahan jimat. Dalam hal ini. Gereja dapat berupaya untuk mengajarkan ajaran-ajaran Katolik yang benar dan mengajak orang-orang untuk meninggalkan praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Gereja. Namun, dalam banyak kasus. Gereja juga berusaha untuk mencari kesamaan dan membangun dialog dengan kepercayaan lokal, dengan harapan dapat membangun kerjasama dan saling menghormati dalam mempromosikan nilai-nilai yang dianggap penting bersama. Dalam konteks misi. Gereja juga dapat menghargai kepercayaan lokal sebagai pijakan untuk menyampaikan pesan Injil dan membangun kerjasama dengan masyarakat setempat. Misalnya. Gereja Katolik di Indonesia mengakui bahwa kepercayaan lokal seperti adat dan kebudayaan suku-suku asli memiliki nilai dan pentingnya dalam konteks misi, dan telah berusaha untuk mempromosikan pesan Injil dengan cara yang memperhitungkan konteks budaya lokal tersebut. Secara keseluruhan, pandangan Gereja Katolik terhadap kepercayaan lokal adalah satu dari penghargaan dan penghormatan terhadap keanekaragaman manusia yang diciptakan oleh Allah, sambil tetap mempertahankan ajaran-ajaran Katolik yang benar dan membangun dialog yang konstruktif dengan kepercayaan lokal dalam upaya mempromosikan nilai-nilai yang dianggap penting bersama. PASTORAL DI TENGAH MASYARAKAT DAYAK KANAYATN Dalam perkembangan zaman, di beberapa tempat, upacara adat Naik Dango yang digunakan untuk menyimpan hasil panen ini sedikit demi sedikit hilang digantikan dengan gudang yang berada di dalam rumah masing-masing. Namun tradisi bersyukur atas hasil panen tersebut masih bertahan hingga sekarang. Di Desa Sungai Duri. Kecamatan Sungai Raya. Kabupaten Bengkayang tradisi ini masih berkembang hingga sekarang. Pelaksanaan upacara adat Naik Dango biasa dilakukan pada bulan April. Mei. Juni dan Juli. Warga Dayak Kanayatn yang mulai memeluk agama Katolik pelan-pelan tidak menggunakan Panyangahant yang membacakan doa atau mantra. Tradisi Panyangahant berganti dengan Doa Syukur yang dipimpin oleh ketua umat atau Pastor. Perayaan upacara adat Naik Dango secara sederhana sendiri dirayakan dalam ibadat syukur atau Ekaristi syukur atas hasil panen. Selesainya ibadat atau Perayaan Ekaristi baru kemudian dilanjutkan makan bersama oleh masyarakat setempat. Dalam doa syukur atau Perayaan Ekaristi tersebut biasa Pemimpin Ibadah atau Pastor menjelaskan dan mengajak seluruh umat menyatukan diri dengan Kristus untuk mengakui perbuatan Allah yang menyertai selama bertani dan mempersembahkan hasil panen tersebut sebagai kurban syukur kepada Allah. Seperti kisah Kain seorang petani dan Habel seorang penggembala. Keduanya selalu mempersembahkan korban dan hasil panenannya yang terbaik kepada Allah (Kejadian 4:1-17. Kepemimpinan Kristiani baik yang dilakukan oleh Pemimpin Ibadah maupun Pastor tidaklah menghilangkan adat Naik Dango. Nilai-nilai luhur dalam upacara adat Naik Dango tetap tercermin dalam makan bersama dan doa syukur secara Katolik dalam Perayaan Ekaristi di mana umat mengucapkan syukur kepada Allah atas berkat panen yang diterima. Dengan demikian, kepemimpinan Kristiani terhadap upacara adat Naik Dango tidak menghilangkan kebudayaan masyarakat adat Dayak Kanayatn, namun memasukannya ke dalam Perjamuan Kudus yakni Perayaan Ekaristi atau Ibadah. KESIMPULAN Pelaksanaan upacara adat Naik Dango dalam Perayaan Ekaristi tidak berarti bahwa Gereja menghilangkan kebudayaan masyarakat Dayak Kanayatn. Nilai-nilai luhur dan spiritual, sosial, kerjasama dsb, tetap ada meskipun ungkapan syukur tersebut dalam bentuk intensi syukur di sebuah ibadah atau Perayaan Ekaristi. Dalam Perayaan Ekaristi sendiri. Gereja tetap mengajak umatnya untuk mengucap syukur atas berkat yang diterima, khususnya berkat keselamatan yang diberikan oleh Allah dalam diri Kristus. Berkat keselamatan itu pun terwujud dalam berkah panen yang melimpah yang diperoleh oleh masyarakat Dayak Kanayatn. Dengan demikian, baik di dalam upacara adat Naik Dango maupun dalam Perayaan Ekaristi, nilai-nilai kebudayaan dan spritual, sosial dan kerja sama tetap ada. DAFTAR PUSTAKA