e-ISSN: 2745-8784 Volume 06 Issue 02 Des 2025 DOI: 10. 37253/jad. METODE EVALUATIF DALAM PROGRAM PERMUKIMAN KUMUH DI INDONESIA UPGRADING 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari 1,2Program Studi Magister Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta Email: findaraillanursyifa@mail. Informasi Naskah Diterima: 08/08/2025. Disetujui terbit: 08/09/2025. Diterbitkan: 01/12/2025. http://journal. id/index. php/jad ABSTRAK Berbagai program peningkatan kualitas permukiman kumuh di Indonesia, seperti KIP. P2KKP, dan KOTAKU, telah dilaksanakan untuk memperbaiki kondisi lingkungan dan infrastruktur dasar. Hasil pelaksanaan program-program tersebut menunjukkan keragaman, baik dari sisi capaian fisik maupun dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Beberapa studi mencatat bahwa perbaikan fisik tidak selalu diikuti oleh perubahan perilaku atau peningkatan kualitas hidup warga. Hal ini menunjukkan perlunya metode evaluasi yang tidak hanya menilai aspek fisik, tetapi juga mempertimbangkan dimensi sosial, ekonomi, dan kelembagaan secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tren dan metodologi evaluasi yang digunakan, serta memetakan metode evaluatif paling relevan berdasarkan konteks lokasi, jenis intervensi, dan waktu pelaksanaan Penelitian dilakukan dengan metode studi literatur sistematis terhadap 18 artikel ilmiah yang relevan, melalui proses penyaringan menggunakan metode PRISMA dan analisis visual bibliografik menggunakan VOSviewer. Artikel-artikel tersebut dianalisis berdasarkan metode evaluasi, prinsip dan kriteria yang digunakan, serta kesesuaian metode dengan konteks lokasi dan waktu pelaksanaan program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat Metode evaluatif utama yang digunakan, yaitu: . input-output atau berbasis indikator fisik, . outcome-based, . partisipatif, dan . berbasis konteks lokal. Masing-masing metode memiliki fokus, kelebihan, dan keterbatasan tersendiri. Untuk menjawab kompleksitas permasalahan di permukiman kumuh, penggabungan metode fisik dan sosial dinilai lebih relevan, terutama pada wilayah yang memiliki karakter khusus. Metode evaluasi yang fleksibel dan kontekstual menjadi penting agar program upgrading dapat benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang. Kata Kunci: evaluasi program, permukiman kumuh, upgrading, studi literatur, metode evaluatif ABSTRACT Various slum upgrading programs in Indonesia such as KIP. P2KKP, and KOTAKU have been implemented to improve environmental conditions and basic infrastructure. However, the outcomes of these programs show considerable variation, both in terms of physical achievements and their impact on community life. Several studies note that physical improvements are not always followed by behavioral changes or enhancements in residentsAo quality of life. This highlights the need for evaluation approaches that assess not only physical aspects but also consider social, economic, and institutional dimensions comprehensively. This study aims to examine various evaluation methods used in previous studies on slum upgrading programs in Indonesia. A systematic literature review was conducted on 18 relevant academic articles, using the PRISMA approach for filtering and bibliographic visualization analysis through VOSviewer. These articles were analyzed based on the evaluation approach used, underlying principles and criteria, and the appropriateness of each method in relation to the location and timing of program implementation. The findings indicate four main types of evaluative approaches: . input-output or physical indicator-based, . outcome-based, . participatory, and . context-based. Each approach has its own focus, strengths, and limitations. address the complex challenges in slum settlements, combining physical and social evaluation approaches is considered more relevant, especially in areas with unique characteristics. Flexible and context-sensitive evaluation methods are essential to ensure that upgrading programs truly benefit communities in the long term. Keyword: program evaluation, slum settlements, upgrading, literature review, evaluative approach -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari Pendahuluan Perkembangan urbanisasi yang pesat di berbagai kota di Indonesia memunculkan tantangan dalam pengelolaan permukiman. Salah satu dampak dari proses urbanisasi ini adalah mendorongnya pertumbuhan permukiman informal yang berakibat pada meningkatnya jumlah kawasan permukiman kumuh, yang tidak hanya mencerminkan ketimpangan sosial ekonomi, tetapi juga memperburuk kualitas Menurut UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, permukiman kumuh didefinisikan sebagai permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat. Kondisi ini mendorong urgensi program upgrading permukiman kumuh sebagai bagian dari pembangunan kota yang inklusif dan berkelanjutan. UN-HABITAT mendefinisikan permukiman kumuh sebagai kawasan yang dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah dengan kondisi kehidupan yang buruk (Florencetina & Aditantri, 2. Permukiman semacam ini ditandai oleh karakteristik bangunan tidak atau semi permanen, pola hunian yang tidak teratur, tingkat kepadatan tinggi, keterbatasan prasarana seperti jalan dan drainase, serta ketiadaan sistem pengelolaan sampah, sehingga memunculkan citra lingkungan yang kumuh (Avelar et al. , 2008 Florencetina & Aditantri, 2. Berbagai program peningkatan kualitas permukiman kumuh telah dijalankan oleh pemerintah, antara lain Kampung Improvement Program (KIP). Program Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman (P2KKP), dan Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Program-program tersebut dirancang untuk mengurangi kawasan kumuh melalui perbaikan kondisi fisik lingkungan serta peningkatan akses terhadap infrastruktur dasar (Huda et al. , 2. Sejalan dengan pelaksanaannya, sejumlah studi telah dilakukan untuk mengevaluasi capaian maupun tantangan implementasi program-program Berdasarkan hasil studi terdahulu, ditemukan bahwa hasil pelaksanaan program upgrading menunjukkan keragaman, baik dari sisi capaian fisik maupun dari dampaknya terhadap kehidupan sosial masyarakat. Beberapa penelitian mencatat bahwa perbaikan fisik belum selalu disertai perubahan signifikan dalam perilaku dan pola adaptasi warga. Studi di Yogyakarta dalam artikel AuEvaluasi Program Penataan dan Rehabilitasi Permukiman Kumuh: Studi Kasus Kawasan Bantaran Sungai CodeAy menunjukkan bahwa infrastruktur hasil program rehabilitasi di bantaran Sungai Code banyak yang diabaikan disebabkan kurangnya keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan dan pengelolaan (Rahayu et al. , 2. Selain itu, evaluasi implementasi NUSP-2 di Bandar Lampung mengungkap bahwa capaian fisik relatif lebih menonjol dibandingkan dampak sosial, sementara keberlanjutan program masih rendah karena aspek sosial-ekonomi warga belum cukup terintegrasi (Umam et al. , 2. Kemudian, kajian mengenai persepsi warga di Palembang menunjukkan bahwa meskipun kondisi lingkungan fisik buruk, penilaian masyarakat terhadap kenyamanan dan kualitas hidup sering kali berbeda dengan standar teknis, menandakan pentingnya pendekatan evaluasi yang berorientasi pada perspektif sosial dan kultural warga (Oktarini et al. , 2. Temuan serupa juga muncul dalam evaluasi KOTAKU di Semarang yang memperlihatkan bahwa fasilitas hasil pembangunan, seperti ruang terbuka hijau dan MCK, tidak selalu dimanfaatkan secara optimal oleh warga sehingga keberlanjutan pemanfaatannya masih menjadi tantangan (Moninggar & Septanaya, 2. Kajian lain yang menyoroti perkembangan KIP di Surabaya pun menegaskan bahwa pendekatan fisik saja tidak cukup, dan keberhasilan program baru lebih nyata ketika disertai aspek pemberdayaan serta partisipasi masyarakat (Dianingrum, 2. Keragaman hasil dari pelaksanaan program upgrading permukiman kumuh menunjukkan perlunya metode evaluasi yang mampu memahami dinamika lokal serta mencakup berbagai dimensi atau aspek. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, penelitian ini menggunakan studi literatur sistematis guna menelusuri dan mengkaji beragam model evaluasi yang telah diterapkan dalam studi-studi sebelumnya terkait -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari program upgrading permukiman kumuh di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tren evaluasi serta pola metode atau metodologi yang digunakan, dan merumuskan pemetaan metode evaluatif yang paling relevan dalam konteks lokasi, jenis intervensi, serta waktu pelaksanaan program yang beragam. Berdasarkan tujuan tersebut, pertanyaan penelitian yang diajukan meliputi: . bagaimana metode evaluasi terhadap program upgrading permukiman kumuh berkembang dalam literatur . apa saja tema utama dan prinsip serta kriteria yang digunakan dalam mengevaluasi program tersebut?. metode evaluasi seperti apa yang paling relevan diterapkan dalam konteks lokasi dan waktu pelaksanaan program yang berbeda-beda? Penelitian ini diharapkan memberi kontribusi konseptual bagi literatur evaluasi program upgrading permukiman kumuh melalui sintesis komprehensif mengenai perkembangan metode evaluasi di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi landasan konseptual bagi perumusan kebijakan upgrading di masa mendatang, khususnya dalam pengembangan metode evaluatif program permukiman kumuh. Kajian Pustaka Permukiman Kumuh Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992, permukiman diartikan sebagai kawasan di luar ekosistem yang berfungsi sebagai tempat tinggal serta untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari yang mendukung kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Permukiman kumuh dalam UU Republik Indonesia No. 1 Tahun 2011 diartikan sebagai area permukiman yang tidak memenuhi standar kelayakan tempat tinggal akibat prasarana yang tidak sesuai, ketidakteraturan dalam konstruksi, serta kepadatan bangunan yang tinggi bersama dengan kualitas struktur dan fasilitas yang ada (Huda et al. , 2. Permukiman kumuh merupakan area kurang layak dengan keadaan lingkungan tempat tinggal yang mengalami penurunan kualitas di aspek fisik, sosial, ekonomi, dan budaya (Sari & Ridlo, 2. Umumnya, wilayah ini dihuni oleh warga yang mengalami kesulitan ekonomi, dengan jumlah penduduk yang melebihi kapasitas tempat tinggal yang ada, serta infrastruktur yang tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya pemukiman kumuh meliputi aspek sosial, fisik, ekonomi, dan Aspek fisik mencakup kepadatan bangunan serta infrastruktur seperti keadaan saluran drainase, sistem air limbah, sumber air bersih, jalan, dan pengelolaan sampah. Sementara itu, aspek ekonomi, sosial, dan budaya mencakup migrasi, penghasilan, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, beban tanggungan, dan sistem keluarga besar (Fitri, 2021 dalam Huda et al. , 2. Program Upgrading Permukiman Kumuh di Indonesia Program upgrading permukiman kumuh di Indonesia telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Secara garis besar, terdapat tiga program upgrading yang pernah dan sedang diterapkan, yaitu: Kampung Improvement Program (KIP). Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman (P2KKP), dan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Kampung Improvement Program (KIP) Program peningkatan permukiman kumuh di Indonesia telah berlangsung sejak 1969, dimulai dengan Kampung Improvement Program (KIP). Tujuan utamanya adalah memperbaiki lingkungan kampung kota yang kumuh dan tidak sehat agar menjadi layak, sehat, dan nyaman. KIP fokus pada perbaikan fisik dan administrasi kawasan kumuh padat penduduk. Dalam lima tahun pertama, program ini mencakup 20% wilayah Jakarta, mencerminkan komitmen pemerintah dalam penanganan permukiman kumuh (Huda et al. , 2. Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman (P2KKP) Selanjutnya, pemerintah mengembangkan Program Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman (P2KKP) untuk menyelaraskan berbagai kebijakan penanganan kawasan kumuh dalam kerangka strategis nasional. P2KKP mendukung target RPJMN dan SDGs, khususnya target 11. 1 tentang akses -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari terhadap perumahan layak dan terjangkau. Program ini menekankan kesinambungan antara perencanaan, pelaksanaan fisik, pemberdayaan masyarakat, dan integrasi kelembagaan. Namun, tantangan tetap ada, seperti ketimpangan kapasitas daerah, koordinasi lintas sektor, keterbatasan anggaran, dan lahan di kota padat (Huda et al. , 2. Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Pada 2016, pemerintah meluncurkan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) sebagai kelanjutan P2KKP dalam skema NSUP (National Slum Upgrading Progra. dengan dukungan Bank Dunia. KOTAKU menargetkan penurunan kawasan kumuh seluas 38. 431 ha di 269 kabupaten/kota hingga 2022. Program ini mengedepankan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, serta mengintegrasikan intervensi fisik dan penataan kelembagaan. Penilaian kekumuhan mengacu pada tujuh indikator: kualitas dan kepadatan bangunan, jalan lingkungan, drainase, air minum, pengelolaan sampah, dan limbah (Huda et al. , 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode studi literatur sistematis untuk mengkaji berbagai sumber terkait evaluasi program upgrading fisik permukiman kumuh di Indonesia. Studi literatur dilakukan dengan merangkum referensi seperti jurnal, buku, prosiding, dan dokumen lainnya secara terstruktur sesuai topik penelitian (Creswell, 2014 dalam Habsy, 2. Metode ini dipilih untuk mengidentifikasi tren tematik, variasi metode, serta prinsip evaluatif dari studi-studi sebelumnya. Data diperoleh dari artikel akademik dan praktis yang relevan, menggunakan kata kunci seperti Auslum upgrading evaluation in IndonesiaAy. Auevaluasi penanganan permukiman kumuhAy, dan Auevaluasi peningkatan kualitas permukiman kumuhAy. Pencarian dilakukan melalui platform seperti Google Scholar. Semantic Scholar. Open Knowledge Map, dan Web of Science, tanpa pembatasan tahun publikasi. Seleksi artikel mengikuti tahapan PRISMA: identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, dan Dari 26 artikel awal, terpilih 16 artikel yang relevan berdasarkan konteks Indonesia, pendekatan evaluatif, dan keterkaitan arsitektural. Artikel yang tidak sesuai dieksklusi karena berada di luar konteks atau tidak membahas evaluasi pascaupgrading. Selain PRISMA, bibliographic analysis juga digunakan dengan VOSviewer untuk memetakan keterkaitan antar tema dan istilah dalam literatur, serta mengklasifikasikan pendekatan metodologis. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan mengkaji tujuan, lokasi studi, metode evaluasi, dan hasil utama tiap artikel. Temuan diklasifikasikan secara tematik untuk mengidentifikasi pola evaluasi, prinsip dominan, serta kekuatan dan keterbatasan masing-masing metode. Hasil dan Pembahasan Proses Penyaringan Literatur Menggunakan Metode PRISMA Penelitian ini menerapkan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. sebagai kerangka kerja sistematis dalam proses seleksi literatur. Prosedur ini terdiri dari empat tahap utama, yaitu: Identifikasi (Identificatio. Pada tahap ini, peneliti melakukan pencarian literatur melalui beberapa platform daring seperti Google Scholar. Semantic Scholar. Open Knowledge Map, dan Web of Science. Kata kunci yang digunakan antara lain: . Auslum upgrading evaluation in IndonesiaAy . Auevaluasi penanganan permukiman kumuhAy . Auevaluasi peningkatan kualitas permukiman kumuhAy. Hasil dari pencarian ini menghasilkan 26 artikel yang memiliki kesesuaian awal terhadap topik penelitian. Penyaringan (Screenin. Artikel yang ditemukan kemudian disaring berdasarkan judul dan abstrak untuk menghilangkan duplikasi dan studi yang tidak relevan. Kriteria eksklusi meliputi: Artikel yang hanya membahas pelaksanaan program tanpa menjelaskan cara -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari mengevaluasinya, seperti tidak menyebutkan metode, indikator, atau hasil . Artikel yang isinya lebih banyak membahas kebijakan secara umum atau bersifat deskriptif, misalnya hanya membahas rencana awal program atau konteks kebijakan tanpa melihat dampaknya di lapangan. Setelah tahap penyaringan awal ini, tersisa 20 artikel untuk ditelaah lebih lanjut. Penilaian Kelayakan (Eligibiliit. Pada tahap ini, isi setiap artikel dibaca dan ditelaah secara menyeluruh untuk memastikan bahwa isinya sesuai dengan tujuan dan fokus penelitian. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan antara lain: . Apakah artikel membahas evaluasi program upgrading permukiman secara jelas. Apakah artikel menggunakan metode arsitektural, spasial, atau terkait pembangunan . Apakah artikel menjelaskan tujuan evaluasi dan hasilnya secara Setelah proses ini, 4 artikel tidak lolos sehingga total sebanyak 16 artikel digunakan dalam penelitian ini. Inklusi (Include. Setelah melalui proses penyaringan dan penilaian kelayakan, sebanyak 18 artikel dinyatakan layak dan digunakan sebagai sumber utama dalam studi ini. Berikut adalah diagram alur PRISMA yang digunakan dalam proses penyaringan artikel-artikel terkait. Gambar 1. PRISMA 2020 Flow Diagram Untuk memahami bagaimana metode evaluasi terhadap program upgrading permukiman kumuh berkembang dalam literatur akademik, dilakukan kajian terhadap 18 artikel yang dinyatakan layak dan digunakan sebagai sumber utama penelitian ini. Setiap artikel menggunakan metode evaluasi yang berbeda-beda, tergantung pada fokus penelitiannya, lokasi studi, serta waktu pelaksanaan Agar dapat dibandingkan secara sistematis, masing-masing artikel dianalisis berdasarkan tujuan penelitian, hasil penelitian dan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian setiap artikel. -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari Tabel 1. Hasil Studi Literatur dari 16 Artikel Terkait Artikel Jurnal Efektivitas Program Kota Tanpa Kumuh (Kotak. Dalam Menangani Permukiman Kumuh di Kota Padang. (Yulia et , 2. Jurnal Niara. Vol 16 No. Tujuan Penelitian Menganalisis Program KOTAKU dalam menangani Kelurahan Binuang. Efektivitas Penanganan Luas Kawasan Kumuh Program Kotaku di Kota Jayapura. (Pabutungan et al. Jurnal ELIPS. Vol. 5 No. Efektivitas Penanganan Permukiman Kumuh Kelurahan Batang Arau Kota Padang. (Risna Jurnal Rekayasa. Vol. No. Menganalisis Program KOTAKU dalam mengurangi area permukiman kumuh di Kota Jayapura faktor-faktor yang Menganalisis Kelurahan Batang Arau. Kota Padang. Efektvitas Program Kotaku Kabupaten Sidoarjo. (Widodo et al. , 2. Jurnal Pubmedia. Efektivitas Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Upaya Upgrading Permukiman Kumuh di Kota Pagar Alam. (Oktuwar et , 2. Jurnal Matra. Vol. Mendeskripsikan dan menganalisis Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumu. Mengukur tingkat Program KOTAKU kumuh di Kota Pagar Alam. Hasil Penelitian Program kurang efektif karena beberapa indikator belum keteraturan bangunan. Faktor penghambat: . tidak ada program untuk tiga indikator utama. Program mengurangi area kumuh secara signifikan pada tahun-tahun awal, namun area kumuh kembali meningkat pada tahun Faktor pendukung: sumber daya manusia, perencanaan yang baik. Hasil efektif dalam mencapai tujuan yang ditetapkan, terlihat dari perubahan terbatas pada indikator Dampak cukup efektif, terlihat dari dirasakan pada beberapa Program KOTAKU dinilai efektif dalam memenuhi . ejelasan kebijakan, perencanaan. Metode penelitian Penelitian menggunakan 7 indikator kumuh sebagai parameter Konteks lokal dapat ditambahkan pada dilakukan selanjutnya. Program ,9%) ,6%). Penelitian menggunakan parameter Program Kotaku melalui 7 indikator kumuh sebagai parameter efektivitas. Penelitian menggunakan parameter Program Kotaku melalui 7 indikator kumuh sebagai parameter efektivitas. Penelitian menggunakan 7 indikator kumuh sebagai parameter Penelitian ini berfokus pada analisis input dan output Upgrading kawasan kumuh. Penelitian ini berfokus pada analisis input dan output Upgrading kawasan kumuh. -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari Evaluasi Ruang Bantaran Sungai Pasca Penataan Kawasan Permukiman Kumuh di Kelayan Selatan Kota Banjarmasin. (Difo Faridl et al. EnviroScienteae. Vol. 19 No. 3, hlm. 35Ae48. Evaluasi Strategi Penanganan Permukiman Kumuh Mendukung Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup Kelurahan Karang Anyar Pantai Kota Tarakan. (Marzuki et al. , 2. Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah. Vol. 11 No. 3, hlm. 780Ae790. Evaluasi Program Penataan Rehabilitasi Permukiman Kumuh: Studi Kasus Kawasan Bantaran Sungai Code. Yogyakarta. (Tri Rahayu et al. Manusia dan Lingkungan. Vol. X No. 2, hlm. 53Ae62. Analisis Penanganan Permukiman Ilegal Bantaran Sungai: Studi Kasus Kali Pesanggrahan. Jakarta. (Reza Sasanto & Aip S. Khair. Jurnal PLANESATM. Vol. 1 No. 2, hlm. 146Ae Konservasi Revitalisasi Kawasan Bantaran Sungai Ciliwung di Kelurahan Manggarai. Kecamatan Tebet. Jakarta Selatan. (Dianty Mengevaluasi prinsip-prinsip kumuh bantaran Program KOTAKU. Meskipun berhasil dari sisi fisik, jalan dan IPAL, tetapi warga tidak terbiasa Banyak yang kembali buang air di sungai, ruang sosial berkurang, dan kawasan Evaluasi dilakukan dengan kumuh (Permen PUPR No. 14/2. Mengevaluasi lingkungan, dan yang tepat. Luas kawasan kumuh memang berkurang, tapi status kekumuhan tetap "ringan". Capaian program paling rendah ada pada aspek jalan Sanitasi masih menjadi masalah besar di wilayah ini. Penelitian menggunakan metode penilaian konteks kualitas lingkungan secara pencemaran, indeks risiko metode AHP. Penelitian metode penilaian lingkungan secara metode AHP. Untuk memahami masih tinggal dan kembali lagi ke permukiman ilegal peran kebijakan Program berhasil pada penyediaan air bersih dan perbaikan jalan, sampah tidak berjalan baik dan tidak bisa dilanjutkan karena tidak ada pengelolaan yang program selesai. Penelitian menggunakan metode dampak sosial pengalaman warga secara wawancara mendalam dan analisis kualitatif. Penelitian fokus menilai faktor sosial, ekonomi, tetap tinggal di lokasi kawasan itu seharusnya tidak digunakan untuk Penelitian menggunakan metode kebijakan publik dan respons masyarakat wawancara dengan warga serta instansi terkait. Mendeskripsikan kawasan bantaran Evaluasi kondisi eksisting kawasan kumuh serta revitalisasi berdasarkan konteks lokal, sosial, dan regulasi tata ruang Penelitian ini berfokus pada evaluatif deskriptif berbasis observasi lapangan, data sosial-ekonomi, sempadan sungai, serta dalam pemetaan masalah -Vol. 06/No. Desember 2025 Penelitian dengan melihat konteks lokal sungai dan dampak nyata dari pembangunan bagi warga. Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari Jurnal Arsitektur dan Desain. Vol. 04 No. 02, 186Ae Dampak Penataan Permukiman Kumuh terhadap Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Kawasan Bagan Deli. (Manurung et , 2. Jurnal Inovasi. Vol. No. 1, 1Ae10. Evaluasi Pelaksanaan Penyediaan Infrastruktur Permukiman pada Program KOTAKU Kelurahan Pancor Kabupaten Lombok Timur. (Ariana Vol. 17 No. 2, 657Ae Konservasi Revitalisasi Kawasan Bantaran Sungai Ciliwung di Kelurahan Manggarai. Kecamatan Tebet. Jakarta Selatan. (Dianty Jurnal Arsitektur dan Desain. Vol. 04 No. 02, 186Ae Kualitas Ruang Terbuka Publik Menggunakan Good Public Space Index. Studi Kasus: Community Centre Pamulang. (Fasikhi et al. Jurnal Arsitektur dan Desain. Vol. 04 No. 02, 120Ae Analisis Kepuasan Pengunjung terhadap Kualitas Infrastruktur Wisata Pantai Kampung Tua Nongsa. (Nursyamsu et al. Jurnal Arsitektur Desain. Vol. 04 No. 02, 179Ae185. dan potensi Mengevaluasi dampak penataan kawasan kumuh kualitas hidup. Evaluasi ex-post kumuh melalui indikator . ksesibilitas, ekonomi, kesehatan, keamana. Penelitian ini berfokus pada berbasis outcome. sebelum dan sesudah program dengan indikator kualitas lingkungan dan sosial-ekonomi. Mengevaluasi dengan rencana KOTAKU. Evaluasi fisik infrastruktur dan indikator keberhasilan. Penelitian ini berfokus pada rencana realisasi serta Mendeskripsikan kawasan bantaran Evaluasi kondisi eksisting kawasan kumuh serta revitalisasi berdasarkan konteks lokal, sosial, dan regulasi tata ruang. Penelitian ini berfokus pada evaluatif deskriptif berbasis observasi lapangan, data sosial-ekonomi, sempadan sungai, serta dalam pemetaan masalah dan potensi. Menilai indikator GPSI Penilaian kualitas ruang publik melalui indikator . ntensitas, variasi aktivita. Penelitian ini berfokus pada berbasis parameter GPSI, dengan data observasi, analisis aktivitas untuk pemanfaatan ruang publik terhadap kualitas sosial dan fungsional ruang. Mengetahui terhadap kondisi wisata di kawasan pantai Kampung Tua Nongsa. Evaluasi terhadap fasilitas dan keberlanjutan destinasi Penelitian ini berfokus pada evaluatif kualitatif berbasis . awancara dan observasi langsun. , serta menilai kunjungan ulang. -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari Evaluasi Rumah Susun Pekunden Berdasarkan Kaidah Layak Huni dan Berkelanjutan. (Kariza Dewi Wiryanti. Iwan Rudiarto, 2. Jurnal RUANG, Vol. 1 No. 4, 2015, 241Ae250. Evaluasi Implementasi Program Neighborhood Upgrading Shelter Project Phase 2 (NUSP-. di Kota Bandar Lampung. (Umam et al. , 2. Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan. Vol. No. Evaluasi Penanganan Permukiman Kumuh (Studi Program Kotaku di Kel. Banggae. Kab. Majen. (Syamsiar et al. Urban and Regional Studies Journal. Vol. 2 No. Mengevaluasi kelayakan hunian Rusun Pekunden Evaluasi hunian vertikal fisik-lingkungan, sosialekonomi, dan tenure Penelitian ini berfokus pada berbasis parameter teknis, menilai outcome jangka panjang terhadap kualitas hidup penghuni. Mengukur program NUSP-2 . isik dan non-fisi. konomi, sosial. Dampak fisik cukup tinggi . ilai 0,. , . ilai 0,. Dominasi dampak fisik masih lemah. Mixing . abungan kuantitatif dan kualitati. , dengan survei, wawancara, observasi, dan Mengevaluasi Kotaku, dampak program Permukiman kategori kumuh ringanAe Perubahan infrastruktur terjadi, tetapi metode program tidak Banyak indikator fisik dan sosial belum tertangani secara Penelitian kualitatif dengan desain eksploratif, komparatif, dan Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan lapangan . bservasi & wawancar. Sumber : (Hasil Analisis Penulis, 2. Setelah penyaringan artikel dengan metode PRISMA, analisis bibliografis melalui VOSviewer menunjukkan bahwa evaluasi program peningkatan kualitas permukiman kumuh telah berkembang dari fokus fisik menuju pendekatan yang lebih menyeluruh. Visualisasi tema memperlihatkan beberapa klaster yang saling Klaster pertama menekankan evaluasi berbasis infrastruktur dasar dan capaian Klaster lain menyoroti peningkatan kualitas hidup dan dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan warga. Aspek partisipasi masyarakat, persepsi lingkungan, dan keterlibatan dalam pengelolaan kawasan membentuk klaster tersendiri, mengindikasikan pentingnya pendekatan partisipatif. Selain itu, muncul klaster yang membahas legalitas lahan, dinamika sosial, dan strategi pengembangan kawasan, yang mencerminkan evaluasi kontekstual dan berbasis spasial. Secara keseluruhan, literatur evaluasi permukiman kumuh di Indonesia telah bergeser dari penilaian output fisik menuju penilaian dampak, keterlibatan warga, dan kesesuaian konteks lokal. Evaluasi tidak hanya dilihat dari sisi output fisik, tetapi juga dari sisi sejauh mana program berdampak nyata pada kehidupan masyarakat, keterlibatan masyarakat sebagai penerima manfaat, serta kesesuaian dengan konteks lokasi wilayah dilakukannya -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari Gambar 2. Mapping Artikel Berdasarkan Data Bibliografik Sumber: (Hasil Analisis Penulis, 2. Kecenderungan Tematik Metode Evaluasi Berdasarkan hasil telaah terhadap 18 artikel dari mapping data bibliografik, ditemukan bahwa metode evaluatif terhadap program upgrading permukiman kumuh di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat kecenderungan utama, yaitu: metode input-output indikator fisik, metode berbasis outcome atau dampak nyata program upgrading terhadap kehidupan masyarakat, metode partisipatif, dan metode Metode Evaluasi Input-Output Berbasis Indikator Fisik Sebagian besar artikel menggunakan metode ini, yang mengevaluasi keberhasilan program berdasarkan pencapaian fisik seperti perbaikan jalan lingkungan, drainase, sanitasi, air bersih, atau pengurangan luas kawasan Evaluasi didasarkan pada indikator fisik yang tercantum dalam regulasi nasional, seperti Permen PUPR No. 14 Tahun 2018 tentang 7 1 indikator kumuh. Contoh studi yaitu (Yulia et al. , 2024. Alam et al. , 2021. Patubungan et al. , 2022. Ariana & karyawan, 2. menggunakan parameter kuantitatif berbasis Metode Evaluasi Outcome-Oriented Metode ini menilai keberhasilan program melalui dampaknya terhadap masyarakat, seperti perubahan kualitas hidup, kepuasan masyarakat, persepsi terhadap lingkungan, dan keberfungsian infrastruktur. Evaluasi tidak hanya fokus pada hasil fisik, tetapi juga pada bagaimana manfaat program dirasakan oleh Contoh studi yaitu (Manurung, 2019. Wiryanti & Rudiarto, 2. menilai outcome dalam aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan hunian. Kemudian (Nursyamsu et al. , 2023. Fasikhi et al. , 2. menilai hasil program dari kepuasan dan intensitas penggunaan ruang publik. Metode Evaluasi berdasarkan Partisipastif Masyarakat Beberapa artikel menerapkan evaluasi berbasis partisipasi masyarakat, baik dalam proses evaluasi maupun dalam menilai keberhasilan program berdasarkan persepsi dan keterlibatan warga. Metode ini memberi ruang bagi warga sebagai penerima manfaat untuk ikut aktif dalam pelaksanaan program Contoh studi yaitu (Rahayu et al. , 2. mengevaluasi berdasarkan pengalaman dan respons warga pasca penataan bantaran sungai Code, dan (Dainty Grace Putry et al. , 2. melibatkan masyarakat dalam pemetaan masalah dan potensi sebagai dasar evaluasi spasial kawasan bantaran Ciliwung. Metode Evaluasi berdasarkan Konteks Wilayah Penelitian Metode ini menggabungkan penilaian dari aspek fisik, sosial, dan lingkungan, disesuaikan dengan kondisi khas dari lokasi penelitian. Studi yang memakai metode ini biasanya dilakukan di daerah yang memiliki karakter khusus, seperti kawasan bantaran sungai, tepi pantai, atau wilayah yang rawan terhadap masalah lingkungan. Contoh studi yaitu (Faridl et al. , 2023. Marzuki et al. , 2. -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari mengaitkan keberhasilan program dengan kondisi ekologis lokal, fungsi sosial, serta kebiasaan warga dalam memanfaatkan fasilitas. Berdasarkan kecenderungan tematik metode evaluasi yang telah didapatkan dari hasil penyaringan diatas dapat dilihat bahwa temuan dari proses menunjukkan adanya pergeseran fokus evaluasi program upgrading permukiman kumuh di Indonesia, dari semula berpusat pada capaian fisik . nput-outpu. menuju pendekatan yang lebih menyeluruh, yaitu dampak pada kehidupan masyarakat . utcome-base. dan keterlibatan warga . Ay Untuk memahami bagaimana tiap metode mengevaluasi program upgrading permukiman kumuh, berikut ini disajikan tabel yang merangkum prinsip evaluasi dan indikator utama yang digunakan dalam masing-masing metode. Penulis (Yulia et al. (Patubungan et , 2. (Risna et al. (Widodo & riyadh, 2. (Alam et al. (Faridl et al. (Marzuki et al. (Rahayu et al. (Sasanto & Khair, 2. (Dainty Grace Putry et al. (Manurung, (Ariana, 2. (Fasikhi et al. (Nursyamsu et , 2. Tabel 2. Metode Evaluasi Berbagai Artikel Jurnal Metode Prinsip Evaluasi Kriteria Evaluasi Evaluasi Kolaborasi Keterlibatan masyarakat Partisipasi Warga perencanaan dan Efektivitas program Pengurangan luas kumuh, indikator infrastruktur Input-Ouput Perubahan kualitas Akses air bersih, drainase. Input-Ouput infrastruktur dasar Pengelolaan objek Input-Ouput Ketahanan Fungsi infrastruktur kawasan Input-Ouput kapasitas lokal Respons Perubahan Kontekstual terhadap ruang hasil penggunaan ruang sosial Kualitas lingkungan Indeks sanitasi, pencemaran. Kontekstual teknis di kawasan hasil AHP strategi Keberfungsian Kebermanfaatan pengelolaan Kontekstual infrastruktur pasca air bersih dengan kebiasan warga, pengelolaan sampah Relasi sosialPersepsi warga, aksesibilitas. Kontekstual status tanah legalitas hunian Keterlibatan Pemetaan sosial, regulasi ruang, observasi lapangan Partisipasif Dampak Aksesibilitas. Outcomeekonomi keluarga, kesehatan Perbandingan Realisasi Kontekstual antara rencana dan perubahan perilaku capaian fisik Keberfungsian GPSI: Outcomeruang aktivitas, durasi pakai terhadap aktivitas OutcomeKenyamanan dan Persepsi pengunjung, niat kunjungan ulang -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari Metode Evaluasi Penulis (Wiryanti & Rudiarto, 2. Outcomebased (Taji, 2. Input-Ouput (Umam et al. Outcomebased (Syamsiar et al. Outcomebased Prinsip Evaluasi pengguna ruang Kelayakan hunian secara fisik, sosial, dan hukum Perubahan spasial Evaluasi dan keberlanjutan Evaluasi perubahan Kawasan pasca program Kriteria Evaluasi Struktur bangunan, ekonomi penghuni, keamanan Visualiasi Skor dampak fisik, sosial dan Infrastruktur, sosial-budaya, persepsi warga Sumber : (Hasil Analisis Penulis, 2. Untuk melihat pola yang lebih jelas, dilakukan tabulasi frekuensi munculnya prinsip dan kriteria evaluasi dalam seluruh artikel. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi elemen-elemen evaluasi apa saja yang paling sering dipertimbangkan, serta melihat kecenderungan penggunaan metode dalam konteks tertentu. Tabulasi ini juga membantu dalam merumuskan kesimpulan mengenai kesesuaian metode dengan lokasi serta tahapan waktu pelaksanaan Metode Evaluasi Input-Output Outcome-Based Partisipasi Kontekstual Wilayah Tabel 3. Tabulasi Prinsip dan Kriteria yang Sering Muncul Jumlah Kriteria Evaluasi Paling Prinsip Evaluasi Artikel Sering Digunakan - Efektivitas penurunan - 7 indikator kekumuhan kekumuhan fisik . alan, air, drainase, - Pencapaian dan lain-lai. 5 Artikel - Penurunan kawasan kumuh - Kinerja kelembagaan - Perbandingan rencana dan realisasi - Perubahan kualitas hidup - Aksesibilitas - Efektivitas fungsi ruang - Aktivitas warga di 6 Artikel dan hunian ruang publik - Dampak sosial-ekonomi - Persepsi warga dan pasca program - Keterlibatan warga - Keterlibatan - Kolaborasi sejak perencanaan 2 Artikel pelaksanaan program - Pemetaan sosial dan partisipasi di lapangan - Keselarasan dengan - Perilaku masyarakat kondisi lokal terhadap ruang - Respons terhadap ruang - Kondisi 5 Artikel hasil program - Evaluasi kebiasaan warga karakteristik wilayah Sumber : (Hasil Analisis Penulis, 2. Berdasarkan rekapitulasi di atas, dapat dilihat bahwa evaluasi program upgrading permukiman kumuh dilakukan dengan metode yang beragam, yang dapat bergantung pada fokus studi dan konteks lokasi. Setiap metode membawa prinsip evaluasi yang berbeda dengan kriteria evaluasi yang juga bervariasi. Dengan kata lain, evaluasi program upgrading permukiman kumuh tidak hanya -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari dilihat dari hasil fisik semata, tetapi juga dari sejauh mana program dapat diterima, dimanfaatkan, dan dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan seharihari. Tabel 4. Tabel Kesesuaian Metode Evaluasi Berdasarkan Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Metode Evaluasi Waktu Pelaksanaan Jenis Lokasi dalam Artikel Saat program berlangsung atau Lokasi yang menekankan perbaikan fisik Input-Output segera setelahnya seperti jalan, drainase, air bersih, dan Setelah program selesai . ostLokasi yang mengalami perubahan fisik Outcome-Based dan sosial, serta mulai memanfaatkan ruang publik Partisipasi Selama tahap perencanaan dan Permukiman berbasis komunitas Masyarakat Tahap Kawasan dengan karakter khusus Konteks Lokal seperti bantaran sungai, kawasan padat, atau tidak legal Sumber : (Hasil Analisis Penulis, 2. Beragam metode evaluasi dalam studi-studi terkait program upgrading permukiman kumuh menunjukkan bahwa masing-masing metode memiliki keunggulan sekaligus keterbatasan. Metode input-output cenderung kuat dalam mengukur capaian fisik secara terukur, namun seringkali belum mampu menggambarkan kualitas perubahan dari sisi sosial dan kultural. Sebaliknya, metode partisipatif dan kontekstual lebih peka terhadap dinamika lokal, tetapi membutuhkan waktu dan proses yang lebih intensif, serta sulit untuk diukur secara kuantitatif. Metode outcome-based juga memberikan gambaran yang lebih holistik tentang hasil program, terutama dalam jangka menengah dan panjang, tetapi efektivitasnya sangat tergantung pada ketersediaan data pembanding sebelum dan sesudah program. Sementara itu, keberlanjutan menekankan pentingnya pengelolaan pasca-program, namun sulit diukur jika tidak didukung oleh sistem pemantauan jangka panjang yang konsisten. Analisis menunjukkan bahwa meskipun indikator fisik sering digunakan, pendekatan berbasis outcome dan partisipasi masyarakat cenderung memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai keberhasilan program, terutama pada konteks kawasan padat dan bantaran sungai. Pemetaan hasil evaluasi juga mengindikasikan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari terbangunnya infrastruktur, tetapi dari seberapa besar masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dan keberlanjutan fasilitas yang tersedia. Oleh karena itu, untuk memahami keberhasilan program upgrading secara menyeluruh, penggabungan dua atau lebih metode evaluasi menjadi pilihan yang lebih ideal. Misalnya, metode input-output dapat dikombinasikan dengan metode partisipatif untuk menilai capaian fisik sekaligus memastikan bahwa proses pembangunan berjalan inklusif dan sesuai kebutuhan warga. Begitu pula, metode outcome-based dapat diperkuat dengan perspektif kontekstual agar hasil yang diperoleh lebih sesuai dengan kondisi spesifik permukiman, terutama di wilayah padat, sempadan sungai, atau kawasan informal. Berikut adalah ringkasan kelebihan dan keterbatasan dari masing-masing metode evaluasi: Metode Evaluasi Input-Output Outcome-based Partisipatif Tabel 5. Kelebihan dan Keterbatasan Metode Evaluasi Kelebihan Metode Keterbatasan Metode Ukur capaian fisik secara jelas Tidak menilai dampak jangka panjang dan terukur atau penerimaan warga Tampilkan perubahan nyata Butuh data pembanding sebelumpasca intervensi bisa bias tanpa kontrol Libatkan warga secara aktif. Butuh waktu dan proses panjang. hasil lebih sesuai kebutuhan diukur kuantitatif -Vol. 06/No. Desember 2025 Metode Evaluatif Dalam Program Upgrading Permukiman Kumuh A/ 1Findara Illa Nursyifa, 2Ardhya Nareswari Konteks Lokal Sesuai karakter budaya, sosial, dan ruang kawasan Sumber : (Hasil Analisis Penulis, 2. Interpretatif. Dengan mempertimbangkan kelebihan dan keterbatasan dari masing-masing metode, strategi evaluasi yang menggabungkan pendekatan fisik, sosial, dan lokal secara bersamaan dinilai lebih relevan, terutama pada kawasan yang memiliki dinamika kompleks dan tantangan yang beragam. Penggunaan metode gabungan ini tidak hanya meningkatkan ketepatan hasil evaluasi, tetapi juga mendorong perbaikan program yang lebih berkelanjutan dan berorientasi kepada masyarakat. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis, dari telaah terhadap 18 artikel, ditemukan empat kecenderungan utama metode evaluasi, yaitu input-output berbasis indikator fisik, outcome-based yang menilai dampak sosial dan ekonomi, partisipatif yang melibatkan masyarakat, serta kontekstual yang menyesuaikan dengan karakteristik lokal. Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran fokus evaluasi, dari dominan menekankan capaian fisik menuju pendekatan yang lebih komprehensif, yang mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat dan dinamika sosial lingkungan. Secara lebih spesifik, metode input-output relevan digunakan pada tahap pelaksanaan atau segera setelah program, terutama di lokasi yang membutuhkan perbaikan infrastruktur dasar seperti drainase, sanitasi, dan akses air bersih. Metode outcome-based lebih tepat diterapkan pada tahap pasca-program untuk mengukur dampak terhadap kualitas hidup, kepuasan, dan keberfungsian ruang publik. Metode partisipatif efektif pada tahap perencanaan dan pelaksanaan di kawasan berbasis komunitas karena memastikan bahwa intervensi sesuai dengan kebutuhan warga. Sementara itu, metode berbasis konteks lokal bermanfaat untuk kawasan dengan karakteristik khusus seperti bantaran sungai atau permukiman padat, di mana evaluasi harus memperhatikan kebiasaan warga serta kondisi ekologis. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini diharapkan berkontribusi pada pengayaan literatur dengan menunjukkan bahwa relevansi suatu metode evaluasi penting ditentukan oleh kesesuaian dengan waktu pelaksanaan, jenis intervensi, dan karakteristik lokasi. Selain itu, pendekatan kombinasi dapat dipertimbangkan dalam perumusan kebijakan evaluasi program pada masa mendatang untuk menangkap kompleksitas kondisi di lapangan. Sebagai ilustrasi, metode input-output dapat dipadukan dengan partisipatif untuk menilai capaian fisik sekaligus memastikan keterlibatan masyarakat, sedangkan metode outcome-based dapat dikombinasikan dengan kontekstual agar hasil evaluasi lebih sesuai dengan dinamika lokal. Meskipun demikian, kajian ini memiliki keterbatasan karena berbasis pada analisis literatur dan belum menguji efektivitas metode secara empiris di lapangan. Untuk penelitian selanjutnya, diperlukan studi komparatif dengan pendekatan campuran . di berbagai konteks permukiman guna menguji efektivitas kombinasi metode secara lebih mendalam. Selain itu, pengembangan instrumen evaluasi terpadu yang mencakup capaian fisik, keberlanjutan sosial, dan kesesuaian ekologis juga penting untuk memastikan program upgrading dapat dinilai secara lebih menyeluruh dan berorientasi pada keberlanjutan. Daftar Pustaka