NUSANTARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 3. Agustus 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 411-422 DOI: https://doi. org/10. 55606/nusantara. Available online at: https://prin. id/index. php/nusantara Pelatihan Penyusunan Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli Ceria untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Kompetensi Pengajar Training on Preparing Teaching Modules at Swara Peduli Ceria Foundation to Enhance Learning Quality and Teacher Competence Arif Rahman Hakim1*. Muhamad Farhan2. Tohimin Apriyanto3. Napis4. Rahmatulloh5 Universitas Indraprasta PGRI. Indonesia Jl. Raya Tengah No. RT. 6/RW. Gedong. Kec. Ps. Rebo. Kota Jakarta Timur. Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 13760. Indonesia. Korespondensi Penulis: arsyanriftyrahman@gmail. Abstract: Sustainable learning should begin with strengthening basic skills such as reading, writing, and arithmetic . This is heavily influenced by the teaching methods, media, and teaching modules used. Adapting the content into student activities through modules is key to improving the quality of the learning process. In response to this issue, the Community Service Team (PkM) conducted a Training on Preparing Keywords: Counting Modules. Teaching Modules at the Swara Peduli Ceria Foundation, located Literacy. Reading Modules, in Klender. East Jakarta. This training aimed to assist educators Training on Teaching at the learning center in developing relevant and impactful Modules,Writing Modules teaching modules for children. The activity was held at the Learning Center Hall of the Swara Peduli Ceria Foundation, with 15 participants attending. The training was carried out in five stages: . initial preparation, . activity presentation, . delivery of material, . activity evaluation, and . follow-up. Participants were given both theoretical materials and practical experience in developing teaching modules. The results showed an improvement in the participants' ability to design teaching modules that were appropriate for the needs of the children at the learning center. The final product, a collaboratively developed teaching module, was considered beneficial and practical for the educators to implement in their lessons. This activity provided a positive impact not only for the participants but also for the quality of learning at the center. The PkM program strengthened the role of higher education institutions in supporting sustainable education for the community. By helping educators in preparing suitable teaching materials and modules, the program contributed to enhancing the learning environment for children, ensuring that the education they receive aligns with their developmental needs. This initiative also highlights the importance of collaboration between universities and local educational institutions in improving education quality and fostering sustainable growth in the community. Abstrak. Pembelajaran berkelanjutan perlu dimulai dengan penguatan kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung . Hal ini sangat dipengaruhi oleh metode pembelajaran, media, dan modul ajar yang Penyesuaian materi ke dalam aktivitas siswa melalui modul menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Menyikapi isu tersebut. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melaksanakan Pelatihan Penyusunan Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli Ceria yang terletak di Klender. Jakarta Timur. Pelatihan ini bertujuan untuk membantu para pendidik di sanggar belajar dalam menyusun modul ajar yang relevan dan berdampak bagi anak-anak. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Sanggar Belajar Yayasan Swara Peduli Ceria dan diikuti oleh 15 peserta. Pelaksanaan pelatihan terdiri dari lima tahapan, yaitu: . persiapan awal, . pemaparan kegiatan, . penyampaian materi, . evaluasi kegiatan, dan . tindak lanjut. Para peserta menerima Article History: Received: Mei 30, 2025. Revised: Juni 30, 2025. Accepted: Juli 30, 2025. Published: Agustus 01, 2025 Pelatihan Penyusunan Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli Ceria untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Kompetensi Pengajar materi tentang pentingnya modul ajar yang baik serta praktik langsung dalam menyusun modul ajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak-anak di sanggar. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kompetensi peserta dalam merancang modul ajar yang relevan dan aplikatif. Produk akhir, berupa modul ajar yang dikembangkan secara kolaboratif, dinilai bermanfaat bagi para pendidik untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sanggar. Kegiatan ini memberikan dampak positif tidak hanya bagi peserta, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sanggar. Program PkM ini memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pendidikan masyarakat secara berkelanjutan. Dengan membantu pendidik dalam menyusun materi dan modul ajar yang sesuai, program ini berkontribusi pada peningkatan lingkungan belajar yang lebih baik bagi anak-anak. Program ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lokal untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan di masyarakat. Kata kunci: Modul Membaca. Modul Menulis. Modul Perhitungan. Numerasi. Pelatihan Penyusunan Modul Ajar LATAR BELAKANG Pendidikan yang dilaksanakan harus berkelanjutan sehingga tentu saja memuat rangkaian pembelajaran yang berkelanjutan. Secara umum pembelajaran berarti serangkaian kegiatan berkelanjutan yang tentu saja kualitasnya harus terus menerus dapat berprogres membaik karena secara dinamis terus adanya perubahan tantangan dari zaman ke zaman. Proses pembelajaran dari satu zaman ke zaman yang lainnya tentu saja dinamis akan berganti perihal berbagai tantangan di dalamnya (Hakim, dkk. , 2. Pendidikan sebagai sebuah upaya yang mendasar dan terencana untuk mengembangkan proses pembelajaran sehingga siswa secara aktif mengembangkan potensi diri diperlukan. Pernyataan ini sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1. Pengembangan pendidikan akan menghasilkan generasi yang mampu bekerja sama untuk mencapai kesejahteraan global. Pendidikan sangat penting karena tanpa adanya pendidikan seseorang tidak akan dapat berkembang sesuai dengan cita-cita dan sesuai dengan pandangan hidup mereka tentang kemajuan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Pendidikan yang memuat pembelajaran merupakan kebutuhan mutlak sepanjang hayat, pendidikan adalah proses yang direncanakan dan berkelanjutan yang sangat penting dalam membangun individu untuk dapat berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan kesejahteraan global. Dengan demikian sangat diperlukan pengetahuan dasar sejak dini tentang kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Anak-anak adalah amanah yang harus dijaga dan diarahkan pada pendidikan yang baik dan terbaik. Ketidaktepatan dalam memberikan pendidikan bisa menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan anak (Istiyani, 2. Secara spesifik anak-anak harus baik dan benar perihal kemampuan membaca, menulis, dan berhitungnya. Membaca, menulis, dan berhitung merupakan komponen penting dari sebuah sistem pembelajaran. Dengan membaca, menulis, dan berhitung, anak dapat belajar berbagai macam cara untuk meningkatkan ilmu pengetahuannya (Mardika, 2. Pada saat anak-anak tidak tepat dalam hal menguasai NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 411-422 keterampilan menulis, membaca, dan berhitung pada usia awal mereka, mereka akan menghadapi berbagai tantangan ketika masuk ke kelas-kelas berikutnya. Proses pembelajaran merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan sinkornisasi dari lembaga pemerintah, sekolah, tenaga pendidik, orangtua peserta didik, dan pihak terkait lainnya (Basuki, dkk. , 2. Pembelajaran termasuk berupa membaca, menulis, dan berhitung secara alamiah tentu saja akan ada kesulitan pada masing-masing anak. Secara umum berbagai faktor dapat menyebabkan kesulitan membaca, menulis, dan berhitung. Salah satu yang menjadi faktor bisa jadi karena faktor orangtua, karena hakikatnya pendidik utama bagi anakanak adalah orangtuanya. Anak-anak yang tinggal di rumah memerlukan bantuan dan dukungan dari orangtua untuk berhasil dalam pendidikannya. Selain itu, tingkat pendidikan orangtua juga berpengaruh terhadap cara orangtua mendidik anaknya. Pada realitasnya masih banyak anak-anak yang putus sekolah, masih banyak anak-anak yang terlantar dan masih banyak berbagai macam persoalan lainnya yang menyangkut anak yang belum mendapat perhatian penuh dari pemerintah (Fauzi & Irfan, 2. Pada sebuah sudut kota di sisi timur Daerah Khusus Jakarta tepatnya di Jln. Pemancingan Bahri No. RT. RW. Kelurahan Klender. Kecamatan Duren Sawit. Kota Jakarta Timur terdapat kawasan padat penduduk yang familiar disebut dengan kampung pemulung. Di kawasan tersebut para orangtua relatif sibuk dengan aktivitasnya masing-masing dan anak-anak mereka dalam hal pendidikan hanya beraktivitas yang alakadarnya. Pada bagian lain di kawasan tersebut berdiri sebuah Sanggar Belajar di bawah naungan Yayasan Swara Peduli Ceria yang sukarela menyelenggarakan pendidikan non formal yang sifatnya non profit bagi anak-anak di Di Sanggar Belajar Yayasan Swara Peduli Ceria terdapat relawan yang secara berkala datang silih berganti. Para relawan di sana atas dasar kemanusiaan suka dan rela menyisihkan sebagian waktunya untuk hadir di sana memberikan wawasan keilmuan khususnya perihal membaca menulis berhitung . bagi anak-anak di sana. Persoalannya yang dinamis ditemukan fakta di sana para relawan tidak dan/atau belum pernah menyusun modul ajar yang komprehensif yang berdampak berdasarkan sudut pandang konsep belajar deep learning. Hampir setiap hari di sana terlaksana kegiatan belajar termasuk kegiatan calistung namun belajar sekadarnya saja dalam arti kata tanpa modul khusus yang dibuat oleh relawan. Membaca, menulis, dan berhitung, juga dikenal sebagai calistung adalah keterampilan dasar yang sangat penting untuk proses pembelajaran dan perkembangan akademik siswa. Calistung adalah keterampilan fundamental yang menjadi dasar bagi anak-anak dalam memahami bahasa dan konsep matematika, sehingga menjadi pondasi penting dalam Pelatihan Penyusunan Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli Ceria untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Kompetensi Pengajar mendatang (Rachmawati & Watini, 2. Penguasaan calistung sejak dini sangat penting untuk menghadapi kesulitan pembelajaran di tingkat selanjutnya. Kemampuan siswa untuk menguasai keterampilan dasar tersebut bisa jadi dipengaruhi oleh beberapa variabel seperti peran orangtua sebagai guru utama di rumah, dukungan guru di sekolah, dan tingkat pendidikan orangtua yang menjaga anak-anaknya di lingkungan non formal. Oleh karena itu, kerja sama antara guru dan orangtua sangat penting untuk membantu siswa menjadi calistung yang baik. Selain faktor pendukung, faktor yang lain juga mempengaruhi kemampuan siswa di masa mendatang. Media belajar juga memiliki peran penting dalam mendukung proses belajar siswa. Media belajar memainkan peran penting dalam mendukung proses pembelajaran karena dapat membantu menyampaikan materi dengan lebih jelas, menarik, dan mudah dipahami oleh Dengan penggunaan media yang tepat, seperti alat interaktif, buku, komik, dan lain-lain dapat meningkatkan minat anak-anak dalam belajar, memperkuat daya ingat mereka, dan memudahkan pemahaman konsep yang kompleks. Media pembelajaran merupakan alat atau media yang membawa pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. Dengan penggunaan media yang tepat akan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Media pembelajaran yang tepat membuat proses belajar menjadi menarik dan menyenangkan, dapat mengurangi kesalahpahaman dan ketidakjelasan (Nafala. Dengan demikian, media belajar adalah komponen penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang efektif dan menarik. Sejalan dengan pendapat Hasan, dkk. Proses pembelajaran akan lebih efektif dan berhasil jika pendidik mampu untuk menciptakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan jenjang usia siswa. Oleh karena itu, penerapan buku interaktif, khususnya buku membaca, menulis, dan berhitung pada proyek ini diharapkan mampu memfasilitasi proses belajar. Hal tersebut akan berlaku untuk semua mata pelajaran di jalur pendidikan formal dan dapat dipenuhi untuk kompetensinya di dalam ruang pendidikan non formal dan/atau informal seperti di sebuah sanggar belajar termasuk misalnya secara khusus di Sanggar Belajar Yayasan Swara Peduli Ceria. Melalui berbagai kegiatan pelatihan seperti pelatihan model pembelajaran, pelatihan pembuatan alat peraga, pelatihan pengembangan silabus, pelatihan pembuatan modul ajar, dan berbagai pelatihan lainnya tentu saja berbagai informasi baru dan metode-metode mengajar baru dapat cepat diterima oleh guru atau tutor atau mentor, sehingga tentu saja akan dapat memperbaiki kemampuan guru serta para guru lebih termotivasi dalam hal melaksanakan pembelajaran dengan kualitas yang jauh lebih baik (Hakim, dkk. , 2. Secara mendasar. NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 411-422 tugas guru dan/atau calon guru atau juga tutor dan/atau mentor tidaklah sekadar bisa mengajar saja dan juga tidak pula sekadar bisa menyampaikan informasi ajar dengan baik, akan tetapi tentu saja semuanya diharapkan untuk secara kontinyu dan dinamis dapat melakukan adaptasi perihal mengambil berbagai bentuk inovasi dengan semangat kreativitas atas berbagai hal di dalam ranah rumpun kependidikan. Dalam hal ini, para praktisi pendidikan seperti guru, aktivis pendidikan, dan tutor atau mentor atau relawan atau apapun namanya perlu hadir di dalam sebuah ruangan majelis ilmiah yang harapannya berupaya meningkatkaan kompetensi yang automatisasi ke depannya turut serta ambil bagian dalam hal ikhtiar meningkatkan kualitas Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kesalahan atau kekeliruan oleh karena disebabkan kebosanan dan kejenuhan pada saat mengajar atau pada saat menyusun bahan ajar. Bahkan guru yang sudah berpengalaman pun terkadang menemukan titik jenuh dimana dia kesulitan dalam menyusun soal latihan bagi peserta didiknya (Napis, dkk. , 2. Ruang kajian ilmiah guna peningkatan kompetensi guru dan/atau calon guru atau juga tutor dan/atau mentor sangat dibutuhkan guna peningkatan kualitas pembelajaran yang Adapun ruang kajian ilmiah seringkali dilakukan oleh para akademisi dengan berbagai nama kegiatan. Para akademisi pada umumnya rutin melaksanakan berbagai kegiatan pelatihan dan/atau kegiatan workshop yang kemasannya dalam suatu event tertentu seringkali diberi nama Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang secara automatisasi akan bermitra Lembaga Mitra (Hakim, 2. Berbagai kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tentu saja mesti bersesuaian dengan kebutuhan di lapangan yang memang isu-isunya sedang hangat diperbincangkan. Salah satu isu hangat di lingkungan persekolahan untuk saat ini adalah deep learning atau belajar berdampak. Dengan mengkaitkan konsep deep learning ke dalam suatu rangkaian kegiatan belajar anak-anak di lingkungan pendidikan non formal dan/atau informal, yang secara sederhana dikemas di dalam suatu konsep ide gagasan: AuPelatihan Menyusun Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli CeriaAy, tentu saja harapan idealnya dapat membuahkan hasil positif dalam hal pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. KAJIAN TEORITIS Diantara sekian banyak hal yang harus ada dalam kegiatan belajar adalah bahan ajar. Bahan ajar adalah perangkat yang akan dikaji untuk belajar sebagai salah satu kompenen utama dan bentuknya bisa berupa apapun seperti alat, teks, gambar, video, dan lainnya. Bahan ajar merupakan salah satu komponen utama yang harus ada dalam proses pembelajaran, karena Pelatihan Penyusunan Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli Ceria untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Kompetensi Pengajar merupakan salah satu komponen penunjang kelancaran aktivitas pembelajaran (Muntoro & Puspasari, 2. Bahan ajar merupakan segala bahan baik berupa informasi, alat maupun teks yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran (Prastowo, 2. Modul ajar merupakan bagian dari bahan ajar yang dirancang terencana sengaja disiapkan secara sistematis agar tujuan belajar dapat tercapai secara maksimal. modul ajar ini bentuknya bisa bervariasi yang penting prinsipnya adalah dapat mempermudah dalam hal mencapai tujuan dari kegiatan belajar. Modul ajar merupakan segala macam bahan baik cetak, benda, maupun audiovisual atau segala hal yang mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran (Maryam, dkk. , 2. Modul ajar merupakan seperangkat alat belajar yang berisi materi, metode, batasan-batasan dan cara mengevaluasi yang didesain oleh tenaga pendidik untuk membantu peserta didik menguasai tujuan belajar yang berfungsi sebagai media belajar mandiri peserta didik (Nengsih, dkk. , 2. Modul merupakan seperangkat pengalaman belajar yang berdiri sendiri, oleh karena itu modul yang baik haruslah memuat beberapa kriteria yang telah ditentukan (Wena, 2. Menurut Purwanto, dkk. Aufungsi modul ialah sebagai bahan belajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran peserta didikAy. Dengan kata lain modul ajar sebagai bagian dari bahan belajar haruslah dapat menjadikan kegiatan belajar menjadi lebih terarah dan menjadi lebih sistematis yang pada ujungnya dapat mencapai tujuan belajar secara optimal. Secara umum bentuk modul ajar bisa berupa buku teks, bisa berupa lembar kerja, bisa berupa layout, bisa berupa handout, bisa berupa buku saku, bisa berupa komik, bisa berupa APK E-Learning, dan lain-lain yang semisalnya namun tetap pada satu prinsip yaitu menjadikan kegiatan belajar lebih terarah dan lebih sistematis demi mencapai tujuan belajar yang sudah ditetapkan. METODE PENELITIAN Teknis kegiatan untuk pelatihan ini terurut berupa: . Persiapan Awal. Pemaparan Gambaran Kegiatan. Penyampaian Materi Menyusun Modul Ajar Berdampak. Evaluasi Kegiatan. Tindak Lanjut Kegiatan. Uraian masing-masing kegiatan sebagai berikut: C Persiapan Awal, berupa observasi lapangan yang dilakukan untuk mengkaji berbagai informasi dan berbagai situasi yang terjadi pada lembaga mitra yakni di Sanggar Belajar Yayasan Swara Peduli Ceria. Pada tahap persiapan awal didapat sejumlah informasi berupa gambaran nyata serta mengerucutnya kebutuhan tema pelatihan. NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 411-422 C Pemaparan Gambaran Kegiatan, berupa sharing antara Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan pengurus Yayasan Yayasan Swara Peduli Ceria. Pada tahap ini disepakati kegiatan berupa penyampaian materi lalu penyusunan modul ajar lalu pendampingan menyusun produk sebagai luaran dari kegiatan yaitu modul ajar. C Penyampaian Materi Menyusun Modul Ajar Berdampak, berupa kelas materi pelatihan di dalam Sanggar Belajar Yayasan Swara Peduli Ceria. Materi disampaikan oleh nara sumber kepada segenap audiens yang hadir. Di tengah-tengah materi disampaikan terjadi tanya jawab perihal prosedur menyusun modul ajar. C Evaluasi Kegiatan, berupa diskusi secara ramah tamah antar pihak yang dilaksanakan di Aula Sanggar Belajar Yayasan Swara Peduli Ceria. Pada tahap ini diperoleh berbagai masukan dari semua pihak untuk keberlanjutan perbaikan kegiatan berikutnya. Tindak Lanjut Kegiatan, berupa rencana tahap berikutnya setelah selesai kegiatan pelatihan. Pada tahap ini disepakati adanya pendampingan menyusun modul ajar via Grup WhatsApp termasuk juga rencana melanjutkan pengajuan Hak Citpa atas luaran kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Rangkaian kegiatan pembelajaran secara sinergi dan berkelanjutan dapat dilaksanakan di jalur formal, jalur non formal, dan dapat juga dilaksanakan di jalur informal. Untuk di jalur formal biasa dilaksankan oleh guru dan siswa, untuk jalur non formal biasa dilaksankan oleh tutor atau mentor. Sedangkan untuk jalur informal biasa dilaksankan oleh para orangtua dari anak atau bisa juga dilaksanakan oleh relawan dalam hal kegiatan di masyarakat yang notabene lembaga informal non profit. Seperti kegiatan pembelajaran calistung untuk anak-anak yang dilaksanakan di Aula Sanggar Belajar Yayasan Swara Peduli Ceria merupakan salah satu contoh pembelajaran di jalur informal yakni belajar di masyarakat secara sukarela. Anak-anak yang belajar di sana sukarela hadir ke Aula untuk belajar dan juga para relawan pun sukarela untuk mengajar di sana. Rangkaian kegiatan abdimasy yang dilaksanakan di Aula Sanggar Belajar Yayasan Swara Peduli Ceria merupakan realisasi aksi nyata atas hasil eksplorasi beberapa temuan persoalan berdasarkan observasi awal dalam upaya menyampaikan pesan knowledge kepada relawan di sana tentang tantangan perihal menjawab isu segar yang sedang hangat yakni deep learning melalui penyusunan modul ajar berdampak. Oleh karena itu, rangkaian kegiatan abdimasy ini mengambil tema: AuSanggar Belajar Yayasan Swara Peduli Ceria Peduli Perihal Peningkatan Kualitas Pendidikan Melalui Kegiatan Pelatihan Menyusun Modul AjarAy. Pelatihan Penyusunan Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli Ceria untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Kompetensi Pengajar Harapannya tidak lain dan tidak bukan adalah berupaya menjadikan para relawan di sana bisa mengembangkan sebuah modul ajar yang baik dan terbaik guna dimanfaatkan untuk media belajar anak-anak yang belajar di sana. Adapun modul ajar yang dihasilkan dapat berupa buku saku, buku menulis, buku membaca, buku berhitung, komik literasi, dan lain-lain. Realisasi untuk kegiatan: AuPelatihan Menyusun Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli CeriaAy disampaikan beberapa materi penunjang. Dimulai dari menggali informasi persoalan yang disampaikan kepada audeins, dilanjutkan dengan penyampaian jenis-jenis modul ajar yang bisa dikembangkan oleh audiens, kemudian pada akhirnya seluruh aidiens mampu merancang modul ajar dengan setiap individu dari seluruh audiens dapat memilih dan sekaligus menunjukkan modul ajar yang dikembangkan. Dari awal hingga akhir kegiatan ini dihadiri oleh 15 peserta yang hadir dari berbagai kalangan seperti ada guru di sekolah formal tertentu, ada mahasiswa dari berbagai kampus di wilayah Jakarta, dan bahkan ada juga orangtua dari anak yang memang bukan guru dan/atau bukan mahasiswa. Adapun detail hasil kegiatan berupa ide gagasan produk modul ajar diantaranya yaitu: Buku Saku Matematika Berbasis Budaya. Gembira Belajar Membaca untuk TK & SD. Gembira Belajar Menulis untuk TK & SD. Gembira Belajar Berhitung untuk TK & SD. Ada Komik Literasi Numerasi untuk Anak Usia 5-6 Tahun, dan ada juga APK E-Learning Brilliant Math. Kegiatan AuPelatihan Menyusun Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli CeriaAy ini dilaksanakan di Aula Sanggar Belajar Yayasan Swara Peduli Ceria yang diikuti oleh 15 orang Ada beberapa rangkaian kegiatan dalam pelatihan ini terurut berupa: . Persiapan Awal. Pemaparan Gambaran Kegiatan. Penyampaian Materi Menyusun Modul Ajar Berdampak. Evaluasi Kegiatan. Tindak Lanjut Kegiatan. Tahap persiapan awal, tim PkM berkoordinasi dengan pihak lembaga mitra untuk mempersiapkan tempat kegiatan berupa aula, perangkat pelatihan, dan berbagai media pendukung lainnya pada saat pelatihan berlangsung termasuk mempersiapkan alat tulis serta seting ruangan pelatihan yang nyaman dan kondusif. Tim PkM beserta pihak mitra memastikan semua kebutuhan sudah dinyatakan aman termasuk juga tersedianya snack dan makan siang juga minum untuk semua peserta kegiatan. Tahap pemaparan gambaran kegiatan, tim PkM menyampaikan dan menjelaskan berbagai ketentuan awal yang menjadi kaidah dalam kegiatan pelatihan, target yang akan dicapai setelah pelatihan, dan meminta peserta untuk menyimak dengan baik materi yang akan disampaikan pada saat pelatihan. Pada tahapan ini juga dirangkaikan dengan pemberian kata sambutan dari mitra sebagai pembuka acara kegiatan pelatihan. Inti dari kata sambutan bahwa NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 411-422 pihak mitra memberikan apresiasi atas kegiatan pelatihan ini dan pihak mitra mengharapkan adanya pelatihan-pelatihan lain yang sejenis dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Pada tahap ini, tim PkM menjelaskan bahwa judul materi pelatihan adalah Aubagaimana menyusun modul ajar dan apa pentingnya keberadaan modul ajar manakala dikaitkan dengan kebutuhan pembelajaran di era deep learning yang sedang gencar disosialisasikanAy. Tahap penyampaian materi menyusun modul ajar berdampak, dijelaskan oleh tim PkM bahwa menyusun modul ajar didasarkan pada analisis kebutuhan yang disinyalir menjadi masalah yang harus tersolusikan dan sumber masalah haruslah didapat langsung dari lapangan dengan cara observasi. Kemudian tim PkM melanjutkan pemaparan satu per satu jenis-jenis modul ajar yang bisa dipilih untuk dikembangkan disertai dengan metodologinya serta berbagai tantangan untuk masing-masing modul ajar manakala modul ajar tersebut dikembangkan oleh peserta pelatihan. Salah satu yang menjadi garis besar isi materi pelatihan adalah hal-hal apa saja yang harus muncul dalam modul ajar di dalam produk akhirnya. Di sana dipaparkan bahwa seyogyanya ada beberapa hal yang muncul, diantaranya: judul modul ajar, cover dan logo modul ajar, daftar isi dan seterusnya, das sollen, das sein, dan state of the art. Terdapat beberapa moment tanya jawab yang secara nyata ilmiah perihal: Pelatihan Menyusun Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli Ceria, diantaranya muncul tanya jawab perihal memunculkan materi belajar berdampak sesuai dengan das sollen dan das sein bagaimana contoh detailnya. Kemudian muncul juga pertanyaan perihal state of the art untuk modul ajar supaya bagaimana agar tetap memunculkan kebaharuan dalam hal modul ajar sekaligus bisa dijadikan Hak Cipta sebagai Kelyaan Intelektual dari peserta pelatihan. Termasuk juga muncul pertanyaan seperti apa contoh real untuk state of the art di dalam naskah modul ajar yang akan dikembangkan. Tahap evaluasi kegiatan berupa diskusi menyusun ide gagasan menyusun modul ajar yang dalam hal ini tim PkM betul-betul menyajikan situasi aktivitas berlatih menyusun narasi ide gagasan modul ajar untuk berbagai alternatif pilihan sangat mungkin untuk dikembangkan oleh para peserta pelatihan. Pada tahapan ini yang terjadi adalah situasi seperti talkshow tanya jawab perihal merencanakan modul ajar lalu menyusun modul ajar dibarengi dengan berbagai kemungkinan kendala saat penyusunan modul ajar sampai dengan di bagian akhir dari kegiatan pelatihan ini adalah para peserta mampu mencetuskan ide modul ajar yang akan dikembangkan oleh masing-masing peserta. Tahap tindak lanjut kegiatan, tim PkM melakukan audiensi kepada pihak lembaga mitra untuk dapat secara berkelanjutan melaksanakan kegiatan pasca pelatihan terlaksana dengan Pelatihan Penyusunan Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli Ceria untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Kompetensi Pengajar segala keterbatasannya. Diantara yang spesifik dibahas adalah rencana proses pengajuan Hak Cipta atas luaran berupa produk modul ajar sebagai hasil dari kegiatan. Gambar 1. Fhoto Produk & Fhoto Peserta di Dalam Ruangan Kegiatan Keseluruhan kegiatan AuPelatihan Menyusun Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli CeriaAy terlaksana sangat baik, terjalin komunikasi multi arah yang sangat baik antara Tim PkM dan seluruh peserta. Sejumlah alasan yang menjadi faktor keberhasilan kegiatan pelatihan ini selain kebutuhan lapangan yang relavan dan respons aktif seluruh peserta, juga tersedianya ruang aula yang sangat representatif. Kemudian juga keberadaan mitra kegiatan yang open minded proaktif atas jalannya kegiatan dari awal sampai dengan akhir sekaligus menjadi fasilitator atas segenap sarana prasarana lain dari lembaga mitra. Hasil akhir dari kegiatan pelatihan AuPelatihan Menyusun Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli CeriaAy ini adalah seluruh peserta berhasil menyusun dan pengembangan modul ajar sesuai dengan kebutuhan lapangan. KESIMPULAN DAN SARAN Pelatihan Menyusun Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli Ceria ini dilaksanakan di Aula Sanggar Belajar Yayasan Swara Peduli Ceria betul-betul sudah dilaksanakan memberikan dampak positif pada seluruh audiens, sehingga masing-masing audiens tercerahkan wawasannya tentang menggagas ide menyusun modul ajar. Pelatihan ini menghasilkan inspirasi ide gagasan berbagai bentuk modul ajar serta mendapatkan respons yang sangat baik dari seluruh audiens. Hal tersebut sangat tampak terlihat jelas pada saat semua peserta pengembangan modul ajar. NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 411-422 Termasuk juga praktik menyalurkan ide gagasan untuk sebuah modul ajar tertentu ternyata sangat dibutuhkan effort dari dalam diri masing-masing peserta pelatihan, dan effort yang maksimal pada diri peserta terbukti dengan hasil akhir berupa produk modul ajar yang finish tersusun. Pada akhirnya Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang sudah selesai melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan pelatihan senantiasa menyampaikan beberapa saran, diantaranya: . Kegiatan menyusun modul ajar dapat lebih diintensifkan lagi, . semua komponen penyelenggara dapat lebih menyesuaikan dengan konsep deep learning yang lebih konkret dan lebih mendapatkan makna belajar mendalam, . Evaluasi berbagai detail teknis untuk keterbatasan saat berlangsungnya kegiatan, . Penyusunan modul ajar dapat ditindaklanjuti dengan kegiatan lain yang berbeda namun masih satu benang merah yang sama yaitu relawan terus berupaya memajukan pendidikan nasional melalui kegiatan belajar berdampak yang dilakukan dengan senang, suka, dan rela. DAFTAR REFERENSI Basuki. , dkk. Pelatihan penyusunan soal berkualitas pada guru matematika di SMPIT Ar Rahman Jakarta Selatan. Jurnal Pengabdian Barelang, 3. , 36Ae40. https://ejournal. id/index. php/jpkm/article/view/2717/1670 Fauzi. , & Irfan. Rumah edukatif sebagai upaya resiliensi bidang pendidikan di Desa Roworejo. Kabupaten Kebumen. Aplikasia: Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama, 22. , 67Ae80. https://doi. org/10. 14421/aplikasia. Hakim. , dkk. Pelatihan menyusun instrumen penelitian untuk guru, karyawan, dan peneliti pemula. Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat, 7. , 75Ae82. https://jurnalfkip. id/index. php/JPPM/article/view/6826/3885 Hakim. , dkk. Pelatihan penelitian etnomatematika untuk guru dan peneliti Jurnal Interaktif: Warta Pengabdian Pendidikan, 4. , 101Ae108. https://doi. org/10. 29303/interaktif. Hakim. , dkk. Pelatihan penelitian pendidikan dan pembelajaran untuk guru, karyawan, dan peneliti pemula. Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat, 6. , 286Ae292. https://jurnalfkip. id/index. php/JPPM/article/view/5988/3465 Hasan. Milawati. Darodjat. Harahap. Tahrim. Anwari. Rahmat. Masdiana. , & Indra. Media pembelajaran. Tahta Media Group. Istiyani. Model pembelajaran membaca, menulis, menghitung (CALISTUNG) pada anak usia dini di Kabupaten Pekalongan. Jurnal Penelitian, 10. , 1Ae18. Pelatihan Penyusunan Modul Ajar di Yayasan Swara Peduli Ceria untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Kompetensi Pengajar Mardika. Analisis faktor-faktor kesulitan membaca, menulis, dan berhitung siswa kelas 1 SD. Dinamika Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10. , 28Ae33. https://doi. org/10. 30595/dinamika. Maryam. , dkk. Pelatihan penyusunan modul ajar yang inovatif, adaptif, dan Journal Empowerment, 3. , 82Ae92. https://jurnal. id/je/article/view/2322/1690 Muntoro. , & Puspasari. Pengembangan modul pada kompetensi dasar mengidentifikasi jenis-jenis surat atau dokumen kelas XI jurusan administrasi JPEKA: Jurnal Pendidikan Ekonomi. Manajemen Dan Keuangan, 1. , 44Ae53. https://doi. org/10. 26740/jpeka. Nafala. Implementasi media komik dalam pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Al-Fikru: Jurnal Pendidikan Dan Sains, 3. , 114Ae130. https://ejournal. id/index. php/alfikru/article/view/571/564 Napis, dkk. Kreativitas guru dalam pemanfaatan aplikasi Google Form sebagai instrumen evaluasi hasil belajar matematika dan IPA. Jurnal Pengabdian Masyarakat Ipteks, 9. , 27Ae35. http://ejurnal. id/index. php/PENGABDIAN_IPTEKS/article/view/54 2/151 Nengsih. , dkk. Pengembangan modul ajar kurikulum merdeka. Diklat Review: Jurnal Manajemen Pendidikan Pelatihan, 8. , 150Ae158. https://doi. org/10. 35446/diklatreview. Prastowo. Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. Jakarta: Diva Press. Purwanto, dkk. Pengembangan modul. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan. Rachmawati. , & Watini. Implementasi model ATIK dalam peningkatan kemampuan calistung pada pelajar PAUD (Pendidikan Anak Usia Din. di Jakarta Barat. Journal Education Research, 4. , 1334Ae1340. https://doi. org/10. 37985/jer. Wena. Strategi pembelajaran inovatif kontemporer: Suatu tinjauan konseptual Jakarta: Bumi Aksara. NUSANTARA Ae VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025