Masyarakat Berdaya dan Inovasi , 2024, 122-131 Available online: https://mayadani. org/index. php/MAYADANI Pendekatan Sosial untuk Mengendalikan Kenakalan Anak di TK Kasmanto Rinaldi1*. Muhammad Wahyudi1. Nazhara Indriani1. Ragil Naufal Amjad BarAoi1. Raudho Madani1. Rezi Aznan Shabila1. Sandi Noval Arrahman1. Sari Nabita Amaya1. Siti Rodiyatul Rohimah1. Syahrani Rahma Putri1. Syifa Tasya1. Widya Eka Putri1 Universitas Islam Riau-Jl. Kaharuddin Nst. No. E-mail: kasmanto_kriminologriau@soc. Abstrak Anak usia dini ialah individu yang belum mencapai usia remaja/dewasa atau belum mencapai kemandirian secara Anak umumnya memerlukan perlindungan, perhatian, dan bimbingan oleh orang dewasa untuk memastikan kesejahteraan dan perkembangan mereka yang optimal. Periode anak usia dini dianggap sebagai masa penting dalam membentuk kepribadian dan karakter seseorang, dan merupakan tanggung jawab bagi masyarakat untuk membentuk sebuah lingkungan yang strategis dan baik untuk anak belajar dan tumbuh menjadi lebih baik. Di Indonesia sendiri, permasalahan terkait kenakalan anak usia dini telah meraih tingkat yang meresahkan oleh Sekolah harus turut beperan melakukan pengendalian terkait meminimalisir terjadinya kenakalan pada anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana upaya pengendalian sosial yang dilakukan oleh taman kanak-kanak yang berlokasi di kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara dengan pihak sekolah. Berdasarkan hasil kegiatan, didapati hasil bahwa banyak cara untuk melakukan pengendalian sosial terhadap kenakalan anak pada usia dini seperti melalu media pembelajaran dogeng, cerita rakyat, lagu, dan lain sebagainya . Cara ini yang kemudian efektif untuk menumbuhkan sikap disiplin dan moral anak dalam mencegah kenakalan. Kata Kunci Anak. taman kanak-kanak. pengendalian sosial Abstract Early childhood is an individual who has not yet reached adolescence/adulthood or has not achieved legal independence. Children generally require protection, attention, and guidance by adults to ensure their optimal well-being and development. The early childhood period is considered an important period in forming a person's personality and character, and it is the responsibility of society to form a strategic and good environment for children to learn and grow better. In Indonesia itself, problems related to early childhood delinquency have reached a level that is disturbing to society. Schools must play a role in carrying out controls related to minimizing the occurrence of delinquency in early childhood. This research aims to examine how social control efforts are carried out by kindergartens located in the city of Pekanbaru. This research uses qualitative methods by conducting interviews with school officials. Based on the results of the activities, it was found that there are many ways to exercise social control over children's delinquency at an early age, such as through the learning media of fairy tales, folk tales, songs, and so on. This method is then effective in cultivating children's discipline and moral attitudes in preventing delinquency. Keywords : childhood. juvenile delinquency. social control This is an open access article under the CCAeBY-SA license. http://doi. org/10. 33292/mayadani. info@mayadani. Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 PENDAHULUAN Secara general, anak ialah sesuatu yang didambakan kehadirannya dalam suatu pernikahan. Karena nantinya, anak diharapkan menjadi generasi penerus yang siap mewarisi nilai yang berlaku. Anak dalam keluarga dapat tergolong bagai manusia bersih tanpa noda. Hal ini disebabkan sifat polos yang merupakan karakteristik dari seorang anak. Anak yang berusia dini berkisar pada umur 0-6 tahun (Khairani, et al, 2. Kesuksesan dalam membangun negara tidak dapat dilepaskan dari peranan generasi sebagai pondasi penerus negara. Anak yang termasuk golongan dari generasi mendatang dan diharapkan mampu membawa bangsa menjadi lebih baik di masa mendatang. Sehingga, kehadiran anak krusial untuk di arahkan kepada kegiatan yang positif. Anak wajib memperoleh hak asasi manusia pada perannya sebagai warga negara, maka dari itu hak asasi yang melekat pada dirinya harus terlindungi. Mengingat bahwa anak sebagai pondasi dalam mewujudkan mimpi masa depan bangsa. Anak mempunyai tugas strategis maka harus terlindungi dari seluruh bentuk perlakuan tidak menyenangkan yang menyebabkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Indonesia cukup concern akan isu anak Terlihat dari adanya beberapa lembaga seperti Komnas perempuan dan Anak, dan juga peraturanperaturan yang membahas dengan detail dan khusus terkait anak. Seperti pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Anak diklasifikasikan sebagai penerus yang harus dituntun, agar para anak tidak berpotensi berbuat penyimpangan yang melanggar norma. Pemerintah mengusung beragam upaya untuk mencegah dan menegakan hukum (Tutrianto dan Rinaldi, 2. Selain itu anak tidak memahami terkait batasan perilaku dengan aturan yang diratifikasi di masyarakat pada umumnya (Fatimah dan Umuri, 2. Hal ini dikarenakan dalam konteks kehidupan bernegara, kelak nantinya keberlanjutan tonggak kehidupan bernegara di pegang oleh generasi mudanya. Melihat hal tersebut, maka perlulah persiapan dalam menjaga kualitas calon pemimpin kita sedini mungkin. Salah satunya ialah dengan menjaga anak terhadap paham kenakalan ataupun penyimpangan. Maka oleh karena itu, hal tersebut merupakan sebuah tantangan dalam masa pertumbuhan dan perkembangan si Anak. Adapun terkait pendefinisian, anak dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dikatakan sebagai manusia yang belum masuk usia 18 . elapan bela. tahun, tergolong juga anak yang masih berada dalam kandungan. Walaupun pada kenyataannya dalam rentang 0-18 tahun terbagi menjadi beberapa tahap perkembangan yakni bayi, batita, balita, anak-anak, remaja awal, dan remaja akhir. Pada penelitian kali ini, tim peneliti berfokus hanya pada kajian anak dengan kategori anak usia dini. Anak usia dini yakni anak berada pada fase rentang usia 0-6 tahun dengan melalui usia bayi, batita dan sedang memasuki usia prasekolah. Secara alamiah pada rentang umur segini, seorang anak sedang masa perkembangan dan petumbuhan baik dari segi fisik maupun spiritualisnya (Raihana, n. Pada alamiahnya anak usia dini merupakan individu yang belum mencapai usia remaja/dewasa atau belum mencapai kemandirian secara hukum. Kata "anak" merujuk kepada individu yang masih dalam proses perkembangan fisik, emosional, dan sosial, dan belum memiliki tanggung jawab sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari. Anak usia dini umumnya memerlukan perlindungan, perhatian, dan bimbingan dari manusia dewasa untuk memastikan kesejahteraan dan perkembangan mereka yang optimal. Periode anak usia dini dianggap sebagai masa penting dalam membentuk kepribadian dan karakter seseorang, dan merupakan tanggung jawab bagi masyarakat untuk membentuk sebuah lingkungan yang strategis dan baik untuk anak belajar dan tumbuh menjadi lebih baik. Anak merupakan calon pemimpin bangsa di masa mendatang, sehingga anak harus memperoleh kesempatan yang besar untuk mengembangkan diri baik secara fisik, mental, dan sosial (Gultom, 2. Akan tetapi, pada belakangan ini kita sering melihat pemberitaan terkait anak sebagai korban hingga sebagai pelaku. Karena, terjadinya isu kenakalan pada anak merupakan bentuk nyata problema sosial yang bersifat fundamental suatu negara. Keluarga dan orang tua sering mengeluhkan perilaku kenakalan pada anak. Gejala sakit secara sosial yang dialami anak dan remaja yang dikarenakan dampak dari pengabaian sosial yang pada akhirnya menghasilkan perilaku menyimpang disebut kenakalan anak (Harsanti dan Verasari, 2. Pengembangan kejahatan saat ini tidak hanya berkembang dalam negeri namun juga luar negeri (Rinaldi, et al, 2. Anak diklasifikasikan sebagai nakal saat melakukan suatu tindakan yang dilarang dari norma aturan yang berlaku dalam suatu lingkungan. Banyaknya pelanggaran yang terjadi di sekolah Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 seperti mengunakan seragam yang tidak sesuai aturan, menggunakan handphone , datang terlambat, bolos, merupakan hasil dari lemahnya kontrol sosial (Meyrizal, dan Rinaldi, 2. Di Indonesia sendiri, permasalahan terkait kenakalan anak usia dini telah meraih angka yang sangat meresahkan bagi negara. Karena, saat masa anak-anak, mereka sering melakukan tingkah laku atau tindakan melawan hukum dan merugikan pihak lain (Rinaldi, dan Ardianyo, 2. Keresahan masyarakat ini dapat dilihat dari berbagai cara seperti daiantaranya melalui narasi pemberitaanpemberitaan yang ada. Adapun dari riset yang peneliti lakukan, maka diperoleh temuan data sebagai Tabel 1. Pemberitaan Terkait Kenakalan dan Penyimpangan Oleh Anak Usia Dini JUDUL BERITA Viral Terjadi Pelecehan Sesama Anak TK. Pakar Unair Sebut Ini Pemicunya. SUMBER Detik. Februari 2. Kasus Bullying di Lampung. Anak TK Merebut Bekal Temannya lalu Diinjak-injak Tribun Lampung . Januari Murid TK Binus Serpong Diduga Dibully sejak Juli 2023-Januari 2024. Keluarga Lapor Polisi Kompas. Tv . Februari 2. Viral Anak TK di Sulut Jadi Korban Bully. Korban 3 Pekan Tak Mau ke Sekolah Detik. Desember 2. Miris. Bocah TK di Pekanbaru Dicabuli Teman Sekolah Sesama Jenis Merdeka. November Sumber : Modifikasi Penulis Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa kenakalan anak usia dini telah memasuki tahapan Banyak anak TK yang melakukan penyimpangan dan pelanggaran bahkan kekerasan dengan Seperti kasus pelecehan yang terjadi di TK, kasus bullying, dan kasus lainnya. Hal ini membutuhkan penanganan serius untuk menghindari penyebaran dan peniruan perilaku pada anak usia Salah satu cara untuk melakukan pengendalian terkait meminimalisir terjadinya kenakalan kepada anak pembelajaran. Sekolah TK merupakan suatu cara dalam membimbing yang dikhususkan kepada anak sejak usia 4-6 tahun yang dilaksanakan lewat memberikan pendidikan. Hal ini suatu wujud pertolongan untuk menumbuhkan serta mengembangkan dengan tujuan anak memiliki persiapan dalam menghadapi pendidikan lebih tinggi. Dalam perannya sebagai sekolah pertama, pendidikan usia dini harus berfokus pada aspekaspek yang mendorong tindakan dan perilaku anak jadi lebih baik. Karena pada dasarnya, pendidikan merupakan cara bagi orang tua dalam memberikan fasilitas baik untuk masa depan sehingga anak dapat meraih wawasan baru. (Adhani, 2. Ditambah lagi, sekolah usia dini seperti TK/ PAUD memberi pengalaman pertama pada anak. Pengalaman yang didapatkan tersebut akan berdampak pada persepsi dan pola pikir anak kedepannya. Peran orang sekitar juga sangat penting. Dengan memberi pengalaman adalah tugas penting dari sekolah. Dalam tujuan untuk mencegah kenakalan pada anak, pendidikan usia dini memainkan peran yang krusial. Pendidikan usia dini tidak hanya berfokus pada aspek akademis, melainkan pada perwujudan karakter, nilai-nilai moral, dan keterampilan yang menjadi dasar bagi perkembangan yang (Rinaldi, 2. Minimnya edukasi terkait pengendalian sosial kenakalan anak di Taman Kanak-Kanak, membuat sulitnya menanamkan nilai moral dan cara bersikap yang baik kepada anak usia dini. Padahal dalam waktu usia dini inilah anak dengan mudah dibentuk menjadi pribadi yang baik dan memahami hal apa yang boleh atau tidak boleh dilakukannya. Maka pada kesempatan ini, para peneliti akan melakukan penelitian terkait pengendalian sosial yang dilakukan taman kanak-kanak terhadap mencegah terjadinya kenakalan oleh anak usia dini. METODE Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 Penelitian yang tim penulis lakukan ialah penelitian bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan upaya penelitian untuk mengerti dan menelaah fenomena dengan membuat representasi yang menyeluruh yang dapat dipaparkan lewat kalimat atau paragraf, melampirkan pandangan rinci yang diraih dari hasil wawancara dan observasi dengan informan, yang dilaksanakan dalam lingakaran alamiah (Fadli, 2. Pada penelitian ini, tim peneliti turun langsung ke taman kanak-kanak yang berlokasi di Pekanbaru. Hai ini dilakukan guna untuk mengumpulkan data primer melalui observasi dan wawancara bersama pihak guna mengumpulkan data yang konkrit. Pada kesempatan kali ini, peneliti selaku tim penyusun memilih Taman Kanak-kanak Islam Akramunas untuk menjadi lokasi penelitian yang diadakan pada tanggal 1 Maret 2024. Lama kegiatan ini adalah 3 jam dengan beragam TK Islam Akramunas merupakan sekolah untuk anak usia dini yang berlokasi di Jl. Ronggo Warsito No. Kecematan Sail. Pekanbaru. TK Islam Akramunnas ialah sekolah yang dinaungi yayasan Akramunnas. Yang dimana TK Islam Akramunnas sendiri dibangun sejak 2001 dan aktif beroperasi sejak tahun 2004. Selama 20 Tahun berdir. TK Islam Akramunnas dikenal dengan pendidikan anak usia dini yang cukup aktif dalam melakukan pengajaran yang tidak hanya dikelas. TK Islam Akramunnas sering melakukan inovasi-inovasi dan kunjungan dalam proses pengajaran ke siswa-siswanya, maka dari itu tim peneliti memutuskan untuk memilih sekolah ini sebagai tempat penelitian. Dalam konteks penelitian ini, tim peneliti melakukan dua tahap kegiatan. Yang dimana diawali kegiatan sosialisasi terkait kenakalan anak. Tim peneliti membawakan materi AuAdab BertemanAy sebagai bentuk edukasi ke anak-anak terkait bentuk dari pengendalian kenakalan anak. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan menerapkan pendekatan yang persis dengan workshop yang tujuan untuk menyampaikan materi agar dipahami dengan mudah oleh anak-anak yang ada. Pada kegiatan berlangsung terlihat antusiasme siswa-siswa tersebut dari proses tanya jawab yang dilakukan, peneliti menilai mayoritas dari anak-anak memahami materi yang disosialisasikan. Kegiatan selanjutnya adalah melakukan wanwancara dengan pihak terkait demi mendapatkan data yang peneliti butuhkan. Tujuannya adalah untuk melihat peran guru dalam pengendalian sosial di TK Islam Akramunnas. Untuk mendapatkan data yang relevan dan akurat serta bisa dipertanggungjawabkan, maka peneliti menggunakan metode serta alat pengumpul data berupa wawancara dan observasi. Berikut adalah informan penelitian: Tabel 2. Informan No. Nama Jabatan Jumlah Vira Avriati. Wali Kelas 1 Orang Dimas Syarifudin Keamanan 1 Orang Total Orang HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan sosialisasi pengendalian sosial ini melibatkan siswa, guru, serta staff sekolah lainnya. Setelah melakukan penyuluhan di TK Islam Akramunnas terdapat beberapa hasil yang di peroleh di lapangan sebagai berikut: Para siswa siswi cukup paham dan mampu mengerti mengenai materi adab berteman yang disampaikan oleh pemateri. Sebagian dari para siswa mampu memberikan contoh-contoh kenakalan yang kerap dilakukan pada anak usia dini. Terlihat beberapa siswa cukup kebingungan ketika ditanya oleh pemateri terkait hal yang harus dilakukan ketika teman sebaya melakukan kenakalan kepada dirinya. Berdasarkan hasil yang diperoleh terdapat beberapa upaya untuk menyelesaikan masalah yang dipaparkan sebelumnya adalah: Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 Memberikan edukasi atau pencerahan lebih lanjut kepada para siswa terkait tindakan yang harus dilakukan oleh anak ketika menjadi korban kenakalan temannya. Memberikan pemahaman bahwasannya jika ada konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan oleh sang anak, sehingga menjadi rambu untuk anak melakukan kenakalan Setelah kegiatan sosialisasi dilakukan, selanjutnya tim peneliti melanjutkan pencarian data yang dibutuhkan dengan melakukan wawancara dengan pihak bersangkutan. Pada kesempatan tersebut, tim peneliti diberi kesempatan untuk melakukan wawancara mendalam bersama salah seorang wali kelas serta tenaga ajar yang ada di TK Islam Akramunnas. Adapun informan bernama Vira Avriati. Pd yang merupakan wali murid sekaligus tenaga didik. Informan menyatakan bahwa ia telah mulai mengajar pada TK Islam Akramunnas selama 19 Tahun sejak tahun 2005. Dari hasil wawancara yang mendalam pada wali kelas tersebut, kami mendapatkan temuan data sebagai berikut: Tabel 3. Rasio Jumlah Civitas TK Islam Akramunas Tahun 2024 PERAN JUMLAH Murid 67 Orang Tenaga Ajar 9 Orang Staff Keamanan 1 Orang Berdasarkan hasil wawancara dengan informan bu Vira Avrianti. Pd. Ditemukan beberapa temuan data terkait kenakalan pada anak usia dini, ialah sebagai berikut: Umumnya bentuk kenakalan yang terjadi pada siswa TK Islam Akramunas berupa, memanggil nama orangtua teman, menghina, mengolok-olok, bercanda dengan kasar, dan lain sebagainya. Menurut kesaksiannya, selama informan mengajar belum pernah mendapati terjadinya penyimpangan berbau seksual pada anak didik TK Islam Akramunas. Umumnya perkelahian terjadi bermula dari bercanda/ gurau mengurau. Dengan kata lain, perkelahian umumnya terjadi dengan teman yang hubungannya cukup dekat. Beberapa anak memiliki tingkat emosi yang cukup sensitif, sehingga lebih mudah menjadi pemicu terjadinya perkelahian. Kenakalan pada anak usia dini merupakan bentuk jahil dan ingin terkoneksi nya anak pada rekan sebayaknya. Adapun terkait pengendalian sosial yang dilakukan para tenaga ajar TK Islam Akramunas untuk mengurangi kenakalan pada anak ialah sebagai berikut: Melakukan seruan-seruan anti kekerasan dalam bentuk nyanyian/lagu. Kekerasan fisik ialah kekerasan yang merugikan tubuh seseorang dan dampaknya dapat terbukti dan dilihat dengan mata, sedangkan kekerasan psikologis ialah kekerasan yang merugikan psikologi seseorang dan dampaknya tidak dapat dibuktikan dengan kasat mata (Kevin, et al, 2. Bu Varni menjelaskan bahwasannya edukasi terkait kenakalan dapat dilakukan melalui cara-cara yang kreatif seperti lagu salah satunya. Dengan bentuk nyanyian, nilai yang akan disampaikan akan melekat pada si Anak dan gampang untuk Nyanyian/lagu juga akan diperagakan dalam tarian-tarian sehingga menciptakan suasana belajar yang asyik dan menyenangkan. Edukasi Melalui Dongeng/Cerita Rakyat Dogeng dan Cerita rakyat merupakan kisah-kisah yang mengandung unsur yang mendidik dalam kehidupan bermasayarakat. Hal ini dapat dibuat jadi media belajar untuk anak dengan menceritakan secara lisan kisah-kisah atau dongeng yang terkait. Dengan begitu, anak mampu mempelajari dan menyerap nilai-nilai yang disampaikan melalui Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 dogeng tersebut. Menurut bu Vani, dogeng juga mampu menyuburkan sifat bakti dan rasa cinta kasih kepada orang tua. Ditambah lagi, di Indonesia sendiri kaya akan cerita-cerita rakyatnya seperti Malin Kundang. Sangkuriang. Batu Belah Batu Betakup, dan lain Cara Merenspons Kenakalan yang dilakukan Anak Setiap anak memiliki karakteristik nya masing-masing. Hal ini mungkin saja disebabkan dari faktor pola asuh dan kehidupannya dirumah. Beberapa anak cenderung memiliki sifat yang sensitif, tempramental, dan melankolis. Maka oleh karena itu, selaku guru yang berusaha mendidik perlu melakukan pendekatan berbeda yang sesuai dengan karakteristik anak-anak tersebut. Anak tidak boleh langsung di judge ketika ia melakukan kesalahan dan kenakalan. Karena apabila dilakukan pendekatan yang keras atau tidak sesuai dengan karekteristik Maka akan berdampak ke kepercayaan diri sang anak dan bahkan dapat memicu tindakan delinkuen lainnya. Sinergitas Bersama Wali Murid Tak dapat dipungkiri, bahwa orang tua memberi pengaruh yang cukup signifikan bagi seorang anak. Karena sebelum mencapai tahap sekolah, maka keluarga yang menjadi pengajar pertama bagi sang Anak. Maka sebab itu, keaktifkan orang tua dalam mengikuti perkembangan dan proses pertumbuhan anak sangat penting. Bu Varni menegaskan dalam wawancaranya bahwasannya AuSekolah bukan bengkel untuk memperbaiki sifat anakAy. Keberhasilan dalam mendidik anak tidak akan sukses apabila bergantung pada salah satu lingkungannya saja. Maka oleh karena itu, selaku tenaga didik, bu Varni meminta wali murid untuk berperan aktif dalam proses perkembangan si Anak. Bu Varni aktif dalam menyampaikan progress yang terjadi pada anak ke wali muridnya, dan memberi tau apabila si anak melakukan tindak kenakalan. Terdapat data yang diperoleh dari staff keamanan TK Islam Akramunnas. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait kenakalan anak yang terjadi di sekolah tersebut. Adapun informan yang peneliti wawancarai bernama Dimas Syarifudin, dan yang bersangkut telah bekerja selama 6 tahun pada TK Islam Akramunnas. Pada wawancara tersebut peneliti menanyakan hal terkait kenakalan anak dan peran sttaff keamanan didalamnya. Adapun jawaban yang peneliti dapatkan, penelti sajikan dalam beberapa poin sebagai berikut: Kenakalan dan perkellahian lebih cenderung terjadi di dalam ruang kelas. Kenakalan yang terjadi diluar kelas, umumnya berbentuk perkelahian. Yang dimana perkelahian tersebut biasanya dilatarbelakangi rebutan fasilitas permainan yang disediakan seperti ayunan, seluncuran, dan lain sebagainya. Staff keamanan dalam konteks kenakalan anak, memiliki beberapa bentuk kerja seperti meleraikan perkelahian, menjaga ruangan tertutup seperti wc demi meminimalisir ruang untuk anak melakukan kenakalan. Staff keamanan tidak memiliki peran yang begitu dalam terkait kenakalan anak. Akan tetapi lebih cenderung berfokus pada penjagaan keamanan anak dari potensi-potensi kejahatan seperti penculikan, tindakan bullying bersifat fisik, dan lain sebagainya. Tindakan bullying yang tidak dicegah dari aal oleh guru atau pihak sekolah akan menjadi pemantik munculnya perilaku tersebut pad anak (Bili & Sugito, 2. Pengendalian sosial adalah proses atau mekanisme yang digunakan oleh masyarakat untuk mengontrol tindakan individu atau kelompok supaya sesuai dengan norma, nilai, dan aturan yang diterapkan dalam suatu kelompok atau masyarakat. Pengendalian sosial melibatkan berbagai faktor, termasuk tekanan sosial, penghargaan, hukuman, dan regulasi formal maupun informal. Melalui upaya pencegahan yang holistik dan sistematis, pengendalian ini dapat diatasi (Rinaldi, 2. Secara umum, pengendalian sosial bertujuan untuk menjaga ketertiban, stabilitas, dan harmoni dalam masyarakat dengan mencegah atau menanggulangi perilaku yang dianggap tidak sesuai atau merugikan. Hal ini dilakukan dengan mempengaruhi perilaku individu melalui berbagai cara, seperti sosialisasi, pengawasan, dan penegakan aturan. Pengendalian sosial ialah pendekatan yang bisa dipakai dalam Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 mengentaskan kenakalan remaja. Kategori pengendalian sosial dapat berwujud reaksi formal maupun informal (Aulina, 2. Kegiatan dalam penelitian ini dilakukan pada taman kanak-kanak (TK) Islam Akramunnas. Hal ini dilakukan guna untuk mengetahui apa saja upaya taman kanak-kanak selaku sekolah pertama bagi si Anak dalam mencegah terjadinya kenakalan pada anak. Pendidikan karakter diharapkan dapaat membentuk dan menanamkan sikap baik pada anak sejak dini sebagai dasar dan pondasi awal (Yasbiati. Salah satu usia yang ideal dalam menanamkan pendidikan yang baik adalah 5-6 tahun (Aryati. Karena pada dasarnya, sekolah memiliki peran signifikan dalam mengendalikan kenakalan anak usia dini. Guru-guru diharapkan dapat memainkan peran penting dalam membimbing anak-anak untuk mengembangkan keterampilan sosial, emosional, dan akademis yang sehat. Pada konteksi ini peran guru untuk membentuk karakter anak sangat penting dalam dunia pendidikan (Surur, et al, 2. Hal itu dikarenakan bentrokan-bentrokan emosi seringkali menimbulkan permasalahan bagi generasi muda yang lemah mental, emosional, dan spiritual, hingga terkadang berujung pada penyimpangan (Lestari. Berkembang atau tidaknya bangsa di masa mendatang bergantung pada baik atau buruknya generasi yang akan datang (Hasanah dan Ma'arif, 2. Kegiatan ini dilakukan melalui 2 metode, yang pertama sosialisasi. Sosialisasi ini dituju kepada para murid untuk memberi pemahaman tentang adab berteman pada anak. Karna seperti yang kita ketahui sebelumnyaa banyak sekali anak-anak melakukan kenakalan/penyimpangan ke teman terdekatnya. Hal ini dikarenakan baginya, teman merupakan sasaran victim yang cukup strategis. Ditambah lagi, kurangnya informasi terkait batasan dan adab dalam berteman juga menjadi faktor pendukung terjadinya kenakalan dan penyimpangan pada anak. Pada TK Islam Akrammunas ini, kenakalan yang terjadi adalah saling ejek-mengejek antar sesama. Dari hasil kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa, kenakalan oleh anak dapat ditemukan pada TK Islam Akramunnas. Dalam menjalankan peran sekolah dalam menghadapi kenakalan pada anak usia dini. TK Islam Akramunas melakukan berbagai upaya, baik bersifat mencegah . , maupun Setiap orang tua dan sekolah idealnya mempunyai kontrol sosial yang dapat mengarahkan remaja ke hal yang positif di lingkungan sosialnya (Anarta, et al, 2. Pada konteks kenakalan remaja, pola pengasuhan keluarga diperkirakan berpengaruh sangat besar pada pengembangan anak (Suryandari. Pada kegiatan sosialisasi ini, tim peneliti sekaligus tim penyusun melakukan pendekatan sosialisasi dengan menampilkan poster-poster dan infografis yang menarik. Hal ini dilakukan agar memudahkan siswa dalam memahaminya dan membuatnya tampak menarik. Motorik anak akan terlatih jika kegiatan ini menggunakan poster sebagai media pembelajaran (Sinaga & Eriyani, 2. Adapun poster yang kami gunakan ialah sebagai berikut: Gambar 1. Media yang Digunakan dalam Pemaparan Sosialisasi Poster sebagai media pembelajaran dinilai merupakan sesuatu yang efektif untuk dilakukan. Usia anak mempengaruhi da memiliki karakter yang beda dalam mencerna informasi (Supriatuna dkk, 2. Karena pada poster terdapat gambar, tulisan, dan animasi-animasi yang dapat melekat pada memori Sehingga penyampaian materi tidak dianggap membosankan dan senantiasa diingat oleh anak Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 Penyampain materi juga dilakukan dengan bahasa yang sekiranya dapat dipahami oleh siswa Dalam kegiatan berlangsung, kegiatan sosialisasi ini diselingi dengan ice breaking dan gamesgames yang dibawakan oleh pemateri. Melalui media pembelajaran, orang tua maupun guru dapat menyampaikan pesan pada anak dan mengenalkan norma, budaya, hingga cara berperilaku dalam kehidupan (Winanti, et al, 2. Gambar 2. Pemaparan Materi Sosialisasi kepada Siswa Pemaparan materi sosialisasi dilakukan dengan cara yang interaktif kepada siswa-siswa tersebut. Siswa dituntut aktif dalam kegiatan sosialisasi berlangsung. Hal ini tim peneliti lakukan guna menstimulus kepercayaan diri dan sikap berani pada anak. Gambar 3. Perkenalan dan Penyampaian materi kembali oleh Salah Seorang Murid Tak hanya disitu, kegiatan sosialisasi ini dilakukan dengan sesi taya jawab. Hal tersebut sebagai bentuk cara tim peneliti untuk mengetahui apakah anak telah dan mampu memahami apa yang disamapaikan pemateri. Pengendalian sosial pada anak usia dini sangatlah penting untuk mengedukasi anak. Melalui poster, anak lebih mudah memahami terkait penyampaian dan memiliki pemahaman dengan baik. Pengendalian sosial ini diharapkan dapat menumbuhkan nilai moral yang baik pada anak usia dini. Anak tergolong Copyright A 2024. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 5 . , 2024 kelompok rawan sebab dalam masa pertumbuhan (Wardini dkk, 2. Karena usia dini adalah usia yang ideal untuk menanamkan pendisiplinan dan moral pada anak, sehingga anak terhindar dari perilaku menyimpang dan kejahatan seperti pada kasus-kasus yang telah dijelaskan sebelumnya. Pengendalian sosial yang dilakukan oleh TK Islam Akrammunas merupakan mekanisme yang diciptakan untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan. Kolaborasi ini dapat membantu mempertegas pengendalian sosial di lingungan TK Islam Akrammunas. SIMPULAN Anak usia dini umumnya memerlukan perlindungan, perhatian, hingga bimbingan untuk memastikan kesejahteraan dan perkembangan mereka yang optimal. Taman Kanak-Kanak (TK) berperan penting untuk pembentukan fondasi pendidikan dan perkembangan moral anak. Sebagai institusi pendidikan formal pertama di banyak negara. TK memiliki tanggung jawab besar dalam membantu anak-anak memasuki dunia pendidikan dengan persiapan yang tepat serta memberikan pengalaman belajar yang positif dan mendukung. Adapun pada TK Islam Akramunnas ditemukan beberapa cara menarik dalam melakukan pengendalian terhadap kenakalan anak seperti melalui lagu, dongeng, sinergitas bersama wali murid, dan lain sebagainya. Pengendalian sosial terhadap kenakalan anak usia dini menjadi perhatian dalam upaya memahami dan mengatasi tantangan yang dihadapi oleh anak-anak dalam tahap awal kehidupan mereka. Kegiatan ini berkontribusi dalam membantu tenaga pendidik untuk mengdukasi anak usia dini dalam mencegah terjadinya kenakalan anak. Diharapkan kegiatan ini dapat diadaptasi sebagai upaya menanamkan nilai moral dan disiplin pada anak. DAFTAR PUSTAKA