Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Rekonstruksi Toleransi Beragama Umat Hindu dan Islam di Desa Tembok Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng Komang Heriyanti*. Ida Bagus Gde Yudha Triguna. I Gusti Bagus Wirawan Universitas Hindu Indonesia. Denpasar. Indonesia *heriyantikomang@gmail. Abstract Tembok Village as part of Buleleng Regency is inhabited by people of different religions, namely Hindus and Muslims. The relationship between the two communities from the beginning has been based on the values of tolerance. Although in some conditions there was a decline in tolerance, this was strengthened by the reconstruction of religious tolerance such as silaturahmi during religious holidays. The purpose of this study is to provide an overview of the importance of tolerance for a pluralistic society like in Indonesia. Activities that have a nuance of tolerance in Tembok Village can be considered in strengthening the bonds of tolerance in certain areas. The method used in this study is a qualitative method, by exploring the phenomena that occur in the field related to the social life of Hindus and Muslims in Tembok Village. The results of the field research explain that the process of reconstruction of religious tolerance is carried out during religious holidays such as Galungan. Eid al-Fitr, and Eid al-Adha. Furthermore, regarding the implications of the reconstruction of religious tolerance, it explains that it has implications for social, cultural, and religious life. It can be concluded that the reconstruction of religious tolerance in Tembok Village is able to bring positive implications for society. Where society better understands the importance of tolerance in social life. Keywords: Tembok Village. Hinduism and Islam. Tolerance Abstrak Desa Tembok sebagai bagian dari Kabupaten Buleleng dihuni oleh masyarakat yang berbeda agama yaitu umat Hindu dan umat Islam. Hubungan kedua umat dari awal berjalan dengan nilai-nilai toleransi. Meskipun dalam beberapa kondisi sempat terjadi penurunan toleransi, namun hal tersebut diperkuat kembali dengan dilakukannya rekonstruksi toleransi beragama seperti silaturahmi pada saat hari raya keagamaan. Adapun tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang pentingnya toleransi bagi masyarakat pluralisme seperti di Indonesia. Kegiatan-kegiatan yang bernuansa toleransi di Desa Tembok dapat dijadikan pertimbangan dalam memperkuat ikatan toleransi di wilayah tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode kualitatif, dengan menggali fenomena yang terjadi di lapangan yang berkaitan dengan kehidupan sosial umat Hindu dan Islam di Desa Tembok. Hasil penelitian di lapangan menjelaskan bahwa proses rekonstruksi toleransi beragama dijalankan pada saat hari raya keagamaan seperti hari raya Galungan. Idul Fitri, dan Idul Adha. Selanjutnya terkait implikasi rekonstruksi toleransi beragama menjelaskan bahwa berimplikasi terhadap kehidupan sosial, budaya, dan kehidupan beragama. Dapat disimpulkan bahwa rekonstruksi toleransi beragama di Desa Tembok, mampu membawa implikasi positif bagi masyarakat. Dimana masyarakat lebih memahami pentingnya toleransi dalam kehidupan sosial. Kata Kunci: Desa Tembok. Hindu dan Islam. Toleransi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendahuluan Desa Tembok merupakan salah satu desa yang berada di Kabupaten Buleleng. Masyarakat Desa Tembok tidak hanya menganut agama Hindu saja, tetapi juga agama lain seperti Islam. Umat Islam yang mendiami Desa Tembok pada awalnya berasal dari Lombok, yang pada waktu itu jumlahnya sangat minim. Namun dalam perkembangannya jumlah umat Islam semakin bertambah, yang tidak lagi hanya berasal dari Lombok. Hal ini dikarenakan faktor tertentu seperti pernikahan. Perkembangan jumlah umat Islam, menggambarkan bahwa toleransi di Desa Tembok sendiri berjalan dengan baik. Umat Islam yang datang ke Desa Tembok juga memiliki peran dalam perkembangan Desa Tembok, dimana pada awalnya wilayah Desa Tembok sebagian besar merupakan wilayah Dengan demikian umat Hindu terbantu dalam mengubah wilayah hutan menjadi sebuah pemukiman. Selain kerjasama yang baik, toleransi juga tercermin dalam kegiatan menyama braya. Hubungan yang dijalankan dengan nilai-nilai toleransi seperti di atas sesuai dengan teori pluralisme agama dari John Hick. Saumantri . John Hick menyatakan bahwa agama-agama dunia adalah cara manusia untuk merespons realitas transenden, namun realitas transenden tersebut diinterpretasikan melalui berbagai kebudayaan yang berbeda-beda, sehingga muncul beragam bentuk agama. Oleh karena itu, menurut Hick, semua agama memiliki nilai yang sama dan harus dihormati sebagai cara yang sah untuk mencapai transenden. Berdasarkan pendapat tersebut. Dalam konteks pluralisme agama, pemikiran John Hick menunjukkan pentingnya untuk membangun kerukunan beragama dengan menghargai perbedaan dan merangkul keragaman agama, serta menemukan cara untuk mempromosikan toleransi dan dialog antar agama. Kontribusinya dalam studi agama dan pemikiran pluralisme agama telah memberikan pengaruh yang signifikan dalam upaya untuk membangun perdamaian dan kerukunan di antara agama-agama dunia. Konsep pluralisme juga banyak ditemukan dalam teks agama Hindu yang mengajarkan bahwa setiap umat manusia patut untuk dihargai. Salah satunya tertuang dalam konsep tat twam Kalimat tat twam asi pertama kali termuat di dalam kitab Chandogya Upanisad yang berbunyi sebagai berikut: sa ya eo'NimaitadAtmyamidaE sarvaE tatsatyaE sa AtmA tattvamasi uvetaketo iti bhya eva mA bhagavAnvijyApayatviti tathA somyeti hovAca (Chandogya Upanisad IV. Terjemahannya: Itu yang mana merupakan esensi halus seluruh jagat ini adalah untuk dirinya Itulah kebenaran. Itulah atman. Engkau adalah itu, oh Svetaku. Mohonlah junjunganku, ajarkanlah kepada hamba lebih jauh lagi. Baiklah sayangku kata Ungkapan tat twam asi menegaskan kesatuan identitas yang mendasar, menunjukkan bahwa setiap atman individu memiliki esensi yang sama dengan Brahman, karena semuanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Brahman. Premananda & Heriyanti . tat twam asi menjadi dasar penting bagi masyarakat Hindu untuk hidup harmonis dan damai, tanpa memandang latar belakang individu masing-masing. Setiap individu diajarkan untuk saling menghargai dan saling membantu, seperti ungkapan saling asah . aling memperbaiki dir. , asih . aling menyayang. , dan asuh . aling Relasi antara umat Hindu dan Islam di Desa Tembok, jika dilihat sepanjang perjalanannya bukan berarti selalu berjalan mulus. Seperti misalnya ketika terjadinya tragedi bom Bali pada tahun 2002, dimana teroris yang menjadi pelaku pengeboman membawa nama agama Islam dalam misi mereka, telah mempengaruhi cara pikir umat https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH non Islam di beberapa daerah. Hal tersebut juga memberikan dampak terhadap turunnya toleransi di Desa Tembok. Adapun perubahan-perubahan lain yang terjadi, seperti sebelumnya ikatan kekerabatan sangat jelas terlihat ketika para pendahulu umat Islam dan Hindu secara aktif terlibat kegiatan menyama braya setiap kali ada warga yang melaksanakan upacara baik dari warga Hindu maupun warga Islam. Akan tetapi, hal tersebut sudah mulai ada penurunan akibat datangnya generasi Oleh karena itu perlu dilakukan suatu rekonstruksi dalam mengembalikan toleransi yang begitu kuat seperti yang diajarkan oleh para pendahulu masyarakat di Desa Tembok baik para pendahulu umat Hindu maupun umat Islam. Adapun proses rekonstruksi toleransi beragama di Desa Tembok, dilakukan dengan kegiatan silaturahmi pada saat hari raya keagamaan. Seperti pada saat hari raya Galungan, ketika umat Hindu melaksanakan persembahyangan di Pura Desa serangkaian hari raya Galungan, beberapa umat Islam datang ke halaman luar/jaba pura untuk bersilaturahmi. Sebaliknya ketika hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, giliran umat Hindu untuk masimakrama kepada umat Islam dengan berkunjung ke Masjid. Di halaman Masjid, umat Hindu dan umat Islam makan bersama atau magibung. Salah satu proses rekonstruksi toleransi beragama antara umat Hindu dan umat Islam di Desa Tembok, memiliki fenomena yang unik, yaitu kegiatan magibung. Kegiatan itu mendorong semakin intensnya interaksi dua kelompok berbeda. Jika dilihat secara umum, tradisi magibung merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh umat Hindu. Akan tetapi, sebagai wujud kebersamaan, kegiatan magibung dilakukan oleh kedua umat di halaman Masjid. Dengan adanya kegiatan-kegiatan yang mengandung nilai toleransi dalam hubungan umat Hindu dan umat Islam di Desa Tembok, maka penelitian ini diharapkan dapat menjadi contoh untuk membangun toleransi bagi daerah-daerah yang memiliki masyarakat plural. Untuk itu, perlu kiranya dilakukan penelitian lebih lanjut terkait rekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam di Desa Tembok. Kecamatan Tejakula. Kabupaten Buleleng. Metode Penelitian rekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam di Desa Tembok. Kecamatan Tejakula. Kabupaten Buleleng merupakan penelitian kualitatif. Penelitian ini berfokus pada menganalisis kehidupan masyarakat di Desa Tembok yaitu umat Hindu dan umat Islam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan teologis, dalam arti bahwa bagaimana nilai-nilai teologis yang diyakini oleh umat Hindu dan umat Islam dapat diimplementasikan dalam bentuk sikap toleransi yang tidak saja tercermin melalui hari raya keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Sumber data penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan melalui wawancara dengan masyarakat dan data sekunder didapatkan melalui sumber-sumber tertulis yang berkaitan dengan Desa Tembok. Adapun teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling, informan yang dipilih adalah mereka dianggap memahami permasalahan penelitian. Instrumen penelitian dalam penelitian ini, selain melibatkan peneliti sebagai instrumen utama, juga menggunakan alat pendukung lain seperti kamera, alat tulis, dan perekam suara. Hal ini merupakan cara yang lebih efektif untuk menyimpan data-data yang sudah didapatkan di lapangan daripada hanya menggunakan ingatan peneliti saja. Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan empat langkah yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan yang terakhir adalah penarikan kesimpulan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Hasil dan Pembahasan Kata rekonstruksi dalam penelitian ini merujuk pada relasi antara umat Hindu dan Islam di Desa tembok. Berkaitan dengan penelitian rekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam di Desa Tembok. Kecamatan Tejakula. Kabupaten Buleleng, adapun rekonstruksi toleransi beragama yang dimaksud adalah mengembalikan praktek toleransi antara umat Hindu dan umat Islam yang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan yang terdahulu. Nilai toleransi yang dulu pernah membangun persatuan dalam kehidupan masyarakat, perlu dibangun kembali oleh seluruh masyarakat Desa Tembok baik yang beragama Hindu ataupun yang beragama Islam. Adapun proses rekonstruksi toleransi beragama di Desa Tembok, dilakukan pada setiap datangnya hari raya keagamaan seperti yang yang dijelaskan di bawah ini: Proses Rekonstruksi Toleransi Beragama Umat Hindu dan Islam di Desa Tembok. Kecamatan Tejakula. Kabupaten Buleleng Proses rekonstruksi toleransi beragama di Desa Tembok melibatkan pihak tertentu seperti kepala desa dan tokoh agama. Dalam hal ini, baik kepala desa maupun tokoh agama merupakan sosok yang disegani oleh masyarakat. Proses rekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam di Desa Tembok dianalisis dengan menggunakan teori Ratna dalam Alfanani . mengungkapkan secara leksikografis hegemoni berarti kepemimpinan. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari istilah tersebut biasanya dikaitkan dengan dominasi. Selanjutnya Nezar dalam Anugrah . menyatakan bahwa terbentuknya hegemoni berawal dari jalur kebudayaan. Berkaitan pendapat tersebut, proses rekonstruksi toleransi beragama di Desa Tembok melibatkan suatu aktivitas hegemoni oleh kepala desa dan tokoh agama. Hegemoni dilakukan dengan melihat nilai-nilai dan kebudayaan masyarakat, sehingga dapat membentuk kesadaran kolektif masyarakat bahwa toleransi menjadi unsur penting yang harus ditumbuh kembangkan. Dalam hal ini, tidak ada unsur paksaan yang ditekankan kepada masyarakat, namun lebih melibatkan kesadaran masyarakat. Demikian juga, budaya merupakan objek penting yang dilibatkan dalam proses rekonstruksi seperti budaya magibung. Toleransi Umat Islam Pada Hari Raya Keagamaan Umat Hindu Indonesia sangat menghargai warisan leluhur dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang bermakna meskipun berbeda-beda, tetap satu jua. Semboyan ini menjadi salah satu pilar utama yang mendasari masyarakat dalam memelihara kerukunan dan persatuan Dengan dasar kerukunan yang kuat dari berbagai aspek seperti suku, agama, bahasa, dan ras. Indonesia tidak akan mudah dipecah belah. Heriyanti . menjelaskan bahwa membahas agama membutuhkan sikap yang sangat berhati-hati. Ini karena meskipun agama adalah isu sosial, penghayatannya sangat personal. Pemahaman dan penghayatan seseorang terhadap agama sangat dipengaruhi oleh latar belakang dan Hal ini menyebabkan perbedaan dalam cara setiap individu menghayati agama. Sesuai pernyataan di atas, agama merupakan hal yang bersifat personal, sebab agama melibatkan keyakinan. Keyakinan setiap orang tidak bisa kita lihat hanya dari gambaran luar, sebab hal tersebut berkaitan dengan perasaan seseorang. Untuk itu, sangat penting dalam menjaga perasaan seseorang ketika berbicara tentang agama yang dianutnya. Jika tidak berhati-hati, maka keanekagaraman agama berpotensi menimbulkan suatu konflik. Maka dari itu, dalam masyarakat yang memiliki beragam agama diperlukan seorang pemimpin seperti kepala desa yang mampu bersikap demokrasi. Nilai-nilai demokratis sangat relevan dalam menghadapi situasi multikultural sebagai respons terhadap berbagai https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kebijakan desa. Tanpa adanya aspek demokratis, sangat sulit untuk mengakomodasi berbagai aspirasi masyarakat yang memiliki beragam kepentingan dan keyakinan, seperti umat Muslim dan umat Hindu. Kegiatan silaturahmi umat Islam kepada umat Hindu pada saat hari raya keagamaan tidak terlepas dari usaha kepala desa yang ingin membangun kembali toleransi antara umat Hindu dan umat Islam. Selain kepala desa, kegiatan silaturahmi untuk membangun kembali toleransi umat Hindu dan Islam juga didukung oleh tokoh agama, baik tokoh agama Hindu maupun tokoh agama Islam. Semua agama tentunya mengajarkan kebenaran. Namun, fanatisme berlebihan dari penganut agama tertentu seringkali membuat mereka menganggap ajaran agama lain tidak benar. Sikap tidak toleran dan fanatik agama memang merupakan faktor penyebab konflik sosial, termasuk manifestasi kekerasan terorisme Fenton dalam (Lesmana, 2. Fanatisme tanpa dasar, biasanya disebabkan oleh keengganan untuk mempelajari dan adanya larangan mempelajari ajaran agama lain karena takut terpengaruh. Dalam agama Hindu, tidak ada larangan untuk mempelajari agama lain. Bahkan, dianjurkan untuk memperluas wawasan, baik dari pengetahuan umum maupun ajaran agama selain agama Hindu. Tentu saja hal tersebut harus dilakukan dengan mematuhi aturan yang ada. Ketentuan ini diterapkan untuk memperluas wawasan agar terhindar dari pandangan yang Sebab, pandangan sempit jika dibiarkan mengakar dan tidak terkendali, dapat menimbulkan konflik yang merugikan dan merusak keharmonisan. Menurut Made Selamet selaku kepala dusun menyatakan bahwa Berdasarkan hasil wawancara dijelaskan bahwa dewasa ini banyak sekali konflik yang terjadi berbau Entah itu murni terkait permasalahan agama atau agamanya yang dibawa-bawa ke konflik tersebut. Untuk itu dalam memimpin masyarakat yang memiliki perbedaan keyakinan seperti di Desa Tembok, maka pemimpin desa sebisa mungkin bersifat adil dan harus siap menerima keluh kesah masyarakat. Adapun usaha yang dilakukan untuk tetap menjaga toleransi umat Hindu dan Islam di Desa Tembok adalah dengan mengajak kedua umat untuk merajut tali silaturahmi seperti waktu hari raya Galungan umat Muslim datang ke Pura Desa untuk bersilaturahmi kepada umat Hindu (Wawancara, 27 Agustus 2. Hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa salah satu proses rekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam di Desa Tembok. Kecamatan Tejakula. Kabupaten Buleleng yang dilakukan oleh kepala desa adalah dengan mengajak umat Islam silaturahmi kepada umat Hindu pada saat Hari Raya Galungan. Kedua umat perlu diingatkan kembali bahwa sangat penting untuk menghargai pluralisme. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Gelgel . bahwa seluruh umat beragama di Indonesia perlu ditanamkan jiwa dan semangat kebangsaan serta persatuan agar lebih menghargai pluralisme dan bersedia menjunjung tinggi pluralitas. Triguna . kebhinekaan bangsa Indonesia merupakan modal budaya yang mesti dikelola sehingga menjadi kekuatan potensial untuk menjemput masa depan yang lebih baik. Berdasarkan pernyataan tersebut maka penting bagi masyarakat Desa Tembok untuk menerima kenyataan bahwa dalam masyarakat Indonesia yang beragam ini terdapat berbagai cara hidup, budaya, dan keyakinan yang berbeda. Sebagai satu bangsa, maka masyarakat Desa Tembok harus siap untuk hidup, bergaul, dan bekerja sama dengan semua komponen bangsa. Menghargai makna kemanusiaan dengan segala keanekaragaman sifat, kepercayaan, dan budayanya adalah hal yang sangat penting. Toleransi Umat Hindu Pada Hari Raya Keagamaan Umat Islam Adapun proses rekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam selanjutnya diwujudkan dalam bentuk simakrama umat Hindu kepada umat Islam pada hari raya https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH . Toleransi Pada Hari Raya Idul Fitri Kepala desa dan tokoh agama sebagai sosok yang dijadikan panutan oleh masyarakat, mengusahakan beberapa cara tertentu untuk membangun kembali budaya toleransi antara umat Hindu dan Islam di Desa Tembok pada saat hari raya Idul Fitri. Hal ini sejalan dengan teori hegemoni yang menjelaskan bahwa perubahan kebudayaan bukan merupakan suatu peristiwa dalam waktu singkat, tetapi hal itu mencakup proses perjumpaan dan negosiasi antara ideologi intelektual organik atau kelompok yang memiliki maksud untuk melakukan transformasi budaya, dengan subaltern atau masyarakat yang didatangi politik atau penguasa, baik yang sudah memiliki kebudayaan yang sudah mapan, maupun masyarakat yang sedang mencari identitas budaya yang baru. Dalam proses hegemoni. Gramsci menekankan pada sentralitas konsensus atau kesepakatan, bukan pada kekuatan. Konsensus tersebut merupakan syarat pokok untuk meraih kekuasaan (Tami, 2. Berdasarkan pendapat di atas, fenomena yang terjadi di Desa Tembok. Kecamatan Tejakula. Kabupaten Buleleng berkaitan dengan teori hegemoni yang dijelaskan oleh Gramsci. Untuk mengoptimalkan budaya toleransi umat Hindu dan Islam membutuhkan waktu yang tidak singkat. Disini memerlukan dominasi kepala desa dan tokoh agama untuk mengarahkan masyarakat sehingga kedua umat mampu memelihara relasi dengan harmonis. Menekan secara maksimal berbagai pertentangan antara penganut Hindu dan Islam di Desa Tembok, menjadi salah satu tanggung jawab kepala desa dan para tokoh Ketika seseorang telah memasuki kearifan dalam beragama, akan mengantarkan mereka untuk tidak mempertajam perbedaan dan perdebatan tentang Hindu dan Islam, tetapi yang harus dikedepankan adalah bagaimana menjadi penganut Hindu yang baik. Sikap semacam itu sangat penting ditekankan oleh umat Hindu di Desa Tembok. Dengan perinsip seperti ini akan memudahkan seseorang berinteraksi secara harmonis dan Untuk itu kepala desa dan para tokoh berusaha memberikan contoh dalam menumbuhkan toleransi umat Hindu dan Islam pada saat hari raya Idul Fitri. Semenjak tahun 2022 umat Hindu atas arahan kepala desa mengikuti kegiatan simakrama kepada umat Muslim pada saat hari raya Idul Fitri. Simakrama dilakukan di Masjid pada saat berkumpulnya umat Muslim merayakan hari raya. Simakrama biasanya ditutup dengan kegiatan magibung. Segala makanan untuk kegiatan magibung, sudah disiapkan oleh warga Muslim. Simakrama tersebut dipelopori oleh kepala desa dan kemudian dibantu oleh beberapa tokoh agama. Para pendahulu warga Muslim dan warga Hindu sudah memiliki ikatan kekeluargaan yang begitu kuat, sehingga hal itu perlu dikembalikan. Fenomena di atas, menggambarkan bahwa kepala desa dan tokoh agama berperan aktif dalam usaha menumbuhkan kerukunan umat beragama tetap terjaga, seperti pada saat hari raya Idul Fitri. Kegiatan tersebut juga merupakan kesempatan untuk bertemunya antar tokoh agama, sehingga antar tokoh agama dapat mengenal satu sama lain dan menjalin hubungan yang baik. Kegiatan-kegiatan yang diadakan di lingkungan sekitar yang mereka ikuti tentu memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitar. Sebab masyarakat secara umum akan mengikuti apa yang diarahkan oleh sosok yang dijadikan tokoh, termasuk tokoh agama. Kegiatan-kegiatan antarumat beragama di Desa Tembok. Kecamatan Tejakula. Kabupaten Buleleng seperti simakrama pada saat hari raya keagamaan turut berperan serta dalam merekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam. Kegiatan silaturahmi akan membawa pada rasa pengertian, saling menyayangi, mengasihi satu sama lain sehingga sangat membantu dan mendukung untuk meningkatkan kerukunan umat Adapun yang menjadi hal menarik dalam simakrama pada saat Hari Raya Idul Fitri adalah adanya kegiatan magibung antara umat Hindu dan Islam. Melalui magibung masyarakat akan bertemu dan dapat berbincang satu sama lain. Magibung merupakan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH budaya yang diwariskan oleh leluhur umat Hindu yang saat ini berperan dalam membangun kembali toleransi umat Hindu dan Islam di Desa Tembok. Dengan demikian budaya dapat dijadikan modal dalam proses rekonstruksi toleransi beragama. Toleransi pada Hari Raya Idul Adha Kemajemukan sebagai kenyataan yang tidak bisa dihindari, sehingga penting untuk menjauhkan eksklusivitas. Kemajemukan bukanlah sesuatu yang harus dihapuskan, melainkan harus dijaga dan dikelola. Dalam konteks ini, toleransi menjadi elemen dasar yang diperlukan untuk menghargai perbedaan demi terciptanya kerukunan umat beragama dalam masyarakat yang plural. Dengan demikian, penganut agama yang berbeda dapat saling menghormati dan memperkuat keimanan keagamaannya masingmasing. Konflik antar dan intra pemeluk agama di Indonesia rentan terjadi karena cara beragama yang cenderung eksklusif. Eksklusivitas adalah pemahaman, sikap, dan perilaku keagamaan yang menganggap bahwa ajaran agamanya yang paling benar dan cenderung mengisolasi diri dari pihak lain. Sikap semacam itu bisa memunculkan perilaku tertutup atau membuat seseorang menutup diri. Suda & Watra . menyatakan bahwa melihat banyaknya agama yang berkembang di Indonesia dengan latar belakang sejarah masing-masing, seharusnya hal ini membuat masyarakat Indonesia mampu hidup bersama dengan sikap toleransi yang tinggi dan saling menghormati satu sama lain. Meskipun memiliki agama dan kepercayaan yang berbeda, pada kenyataannya mereka semua menyembah satu kekuatan yang berada di luar diri mereka, yang disebut Tuhan Yang Maha Esa. Pernyataan di atas, mencerminkan bahwa upaya menciptakan kerukunan umat beragama di tengah masyarakat yang plural sangatlah penting, untuk mengatasi konflik yang dilatarbelakangi oleh agama. Untuk mencapai hal itu, diperlukan sinergi berbagai pihak dalam mengambil langkah-langkah sistematis. Kepala desa dan tokoh agama, sebagai individu yang dianggap lebih kompeten di masyarakat, diharapkan dapat membimbing masyarakat untuk memahami agama lain, sehingga mereka menyadari adanya kesamaan dan perbedaan dalam ajaran masing-masing. Selain itu, peran tokoh agama juga penting dalam membangun komunikasi dan meminimalisir konflik yang dapat terjadi diantara pemeluk agama yang berbeda. Dalam kesempatan perayaan Idul Adha di Desa Tembok, kepala desa mendapat kesempatan untuk menyuarakan nilai-nilai toleransi yang harus dirajut kembali antara umat Hindu dan Islam. Wujud kedamaian tidak hanya sebatas intern umat beragama, tapi antarumat beragama. Kedamaian semacam itu disebut dengan kedamaian horisontal. Untuk mencapai hubungan damai antarumat beragama, tergantung pada bagaimana penerimaan manusia terhadap pesan Illahi guna mewujudkan sikap inklusifisme dalam hidup beragama dan bernegara. Dengan sikap seperti ini, seseorang akan dapat menangkap nilai-nilai kebenaran yang ada pada setiap agama. Konsep kedamaian yang ideal adalah kedamaian yang dapat mengantarkan dan menuntun manusia masa kini keluar dari kungkungan kekerasan. Seseorang yang memegang teguh konsep kedamaian humanis, akan mampu mencerminkan konsep tersebut dalam kata maupun tindakan. Adapun hal yang sama terjadi pada perayaan Idul Adha di Desa Tembok. Idul Adha membawa dampak positif bagi masyarakat Desa Tembok untuk menjalin tali silaturahmi. Hal itu diterapkan dengan beberapa warga Muslim melaksanakan kegiatan ngejot pada hari raya Idul Adha. Wirawan dalam Hanip . berpendapat bahwa tradisi ngejot sebagai representasi kesadaran beragama untuk mewujudkan keharmonisan dan toleransi antara umat beragama. Putra . ngejot secara niskala adalah hubungan umat dengan Tuhan melalui persembahan kepada Tuhan dalam bentuk banten. Sedangkan ngejot dalam dimensi sekala adalah kegiatan saling membantu dengan memberikan makanan atau bahan makanan kepada seseorang yang memerlukan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan hal tersebut, adapun kegiatan ngejot oleh warga Muslim kepada warga Hindu di Desa Tembok adalah ngejot dalam bentuk daging kambing. Jumlah daging kambing yang diberikan tergantung berapa banyak sumbangan hewan kurban yang ada. Yang nyumbang hewan kurban biasanya dari saudara Muslim yang sudah mampu ekonominya. Dari hewan-hewan tersebut, kemudian dagingnya akan dibagibagikan. Itu sebagai wujud toleransi masyarakat Muslim dan Hindu. Apabila kegiatan ngejot di Desa Tembok bisa berlangsung secara rutin, di dalam masyarakat akan tercipta ketenangan dan ketentraman. Sebab, tidak ada lagi perbedaan status/ keadaan hidup yang Pengorbanan yang tumbuh dalam pelaksanaan ibadah kurban itu akan mengikis sikap egois dan kikir. Berkurangnya atau bahkan hilangnya sikap egois dan kikir itu akan berpengaruh baik bagi kehidupan dan penghidupan orang itu sendiri dan masyarakat luas. Tradisi ngejot merupakan simbol kebersamaan umat Muslim dengan umat Hindu di Desa Tembok. Dengan mengantarkan makanan antar pemeluk agama pada hari-hari besar keagamaan, diharapkan tradisi ini dapat mempererat tali persaudaraan dan rasa kebersamaan antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan fenomena di atas, penting agar pemerintah setempat dan seluruh masyarakat dapat melestarikan tradis ngejot sebagai momen untuk dapat saling berkomunikasi, berbagi, dan memelihara persaudaraan antarumat beragama. Dampak modernisasi dan perkembangan tekhnologi seharusnya tidak mejadi penghalang untuk mengekspresikan hubungan yang positif. Selain itu budaya ngejot juga menjadi jembatan untuk memahami agama secara universal tentang kemanusiaan. Implikasi Rekonstruksi Toleransi Beragama Umat Hindu dan Islam di Desa Tembok. Kecamatan Tejakula. Kabupaten Buleleng Rekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam di Desa Tembok tentu berimplikasi terhadap kehidupan masyarakat. Untuk memahami implikasi tersebut, maka digunakan teori resepsi dari Hans Robert Jauss dalam menganalisis. Junus . resepsi ditujukan kepada bagaimana cara pembaca memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya, sehingga mereka dapat memberikan reaksi atau tanggapan terhadap karya tersebut. Adapun karya sastra yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah teks sosial kehidupan beragama umat Hindu dan Islam di Desa Tembok. Teori ini membantu untuk melihat tentang tanggapan masyarakat dengan dilakukannya rekonstruksi toleransi beragama, sehingga tanggapan-tanggap tersebut memunculkan implikasi. Adapun implikasi yang dimaksud yaitu: Implikasi Terhadap Kehidupan Sosial Terjadinya interaksi sosial yang saling mempengaruhi antar kelompok dalam masyarakat, disebabkan oleh adanya norma-norma yang sebagian besar berasal dari ajaran agama yang menjadi landasan bagi mereka. Musa . agama dijadikan sebagai pedoman oleh masyarakat dalam menjalani kehidupan, karena agama dalam semua ajarannya mengatur dan membina makhluk khususnya manusia dalam kehidupan, dengan tujuan agar manusia terarah dalam menghadapi kehidupan sehari-hari sehingga manusia dapat selamat baik didunia maupun diakhirat. Berdasarkan hal tersebut, agama disini merupakan kumpulan nilai-nilai yang dipercayai oleh masyarakat, yang memainkan peran penting dalam mendorong terciptanya interaksi sosial antara para pemeluknya serta antara kelompok-kelompok pemeluk agama. Agama dipandang sebagai fenomena sosial yang tercermin dari interaksi sosial yang dilakukan oleh para pengikutnya, yang mencerminkan nilai-nilai dan keyakinan yang mereka anut. Interaksi sosial antara kelompok-kelompok pemeluk agama juga terjadi di Desa Tembok setelah dilakukannya rekonstruksi toleransi beragama. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Interaksi antara kelompok agama terjadi dalam berbagai bentuk kehidupan sosial seperti pada perayaan hari kemerdekaan RI ke-78 pada tahun 2023. Rekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam terhadap kehidupan sosial terlihat dalam perayaan HUT RI ke-78 di Desa Tembok pada tahun 2023 yang dirayakan dengan mengkolaborasikan dua umat beragama yaitu umat Hindu dan Islam. Adapun tema yang diambil dalam perayaan tersebut merawat budaya merayakan kebhinekaan. Masingmasing umat pada malam perayaan menampilkan keseniannya. Dari warga Hindu menampilkan beberapa kesenian seperti gamelan kreasi, genjek, dan kecak. Dari pihak warga Muslim membawakan kesenian hadrah dan silat. Implikasi rekonstruksi toleransi beragama dalam kehidupan sosial sejalan dengan teori resepsi dari Jauss yang menjelaskan tentang konsep penerimaan teks, yang jika dikaitkan dengan penelitian ini adalah teks sosial. Fokus pokok bukan hanya pada respons pembaca individu, tetapi lebih pada perubahan respons, pemaknaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh pembaca secara umum (Rokib, 2. Sesuai pernyataan Jauss, yang perlu diperhatikan adalah pemaknaan subjek atau pembaca yang dalam penelitian ini subjek yang dimaksud adalah masyarakat. Demikian pula yang perlu diperhatikan dalam proses rekonstruksi toleransi beragama di Desa Tembok adalah tanggapan masyarakat terkait rekonstruksi yang dilakukan. Dari feomena yang terjadi di masyarakat menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat memaknai jika toleransi perlu dibangun kembali, hal ini dibuktikan dengan adanya perubahan relasi yang lebih dekat antara masyarakat Hindu dengan masyarakat Muslim, jika dibandingkan dengan sebelumnya. Umat Hindu hendaknya selalu mengedepankan kebersamaan dalam kehidupan sosial, sebab agama Hindu sendiri dengan tegas mengajarkan agar manusia selalu maju dengan niat sama. Dalam Mantra Rgveda X. 4 dijelaskan landasan yang kuat tentang awal suatu persatuan hidup bersama di bumi ini, seperti yang dijelaskan di bawah ini: samAn va Aktiu samana hrdayani vah samAnAmastu vo mano yathA vau susahAsati Terjemahannya: Wahai umat manusia semoga engkau maju dengan niat-niat yang sama. Semoga hatimu . dan pikiranmu sama satu dengan yang lain. Sehingga anda bisa diorganisir . secara seragam (Wiana, 2. Perbedaan agama atau adanya masyarakat mayoritas yang berdampingan dengan minoritas bukanlah menjadi suatu penghalang untuk menjaga kerukunan, kedamaian, ketentraman dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana seseorang bisa memposisikan diri pada situasi tertentu. Selain itu menjaga toleransi keberagamaan merupakan salah satu sarat terjadinya kedamaian di muka bumi ini. Sikap toleransi akan membawa seseorang untuk tidak menutup diri pada lingkungan/masyarakat dari agama lain. Implikasi Terhadap Kehidupan Budaya Segala bentuk budaya yang berkembang di Desa Tembok baik budaya Hindu dan Islam, tidak luput dari kesadaran masyarakat untuk memelihara dan menghormati kebudayaan tersebut. Hal ini sejalan dengan pernyataan Azzahra . toleransi terhadap keberagaman suku dan budaya merupakan pilar penting dalam membangun fondasi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Dalam konteks yang begitu beragam seperti Indonesia, di mana berbagai suku dan budaya hidup berdampingan, toleransi menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas sosial dan keharmonisan antarwarga negara. Dengan adanya proses rekonstruksi toleransi secara berkelanjutan, maka masyarakat Desa Tembok akan selalu diingatkan dalam menjaga budaya satu sama lain. Hal tersebut dapat diketahui ketika umat Muslim ikut ngayah https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH membersihkan areal Pura Subak pada saat akan dilaksanakan upacara piodalan. Jadi umat Muslim disana sudah ingat kapan piodalan dilaksanakan di Pura Subak, karena mereka akan ikut terjun ngayah bersih-bersih di areal jaba pura. Sesuai dengan pernyataan di atas, bentuk pelestarian budaya Hindu yang ikut dijaga oleh umat Muslim adalah budaya ngayah yang dilaksanakan pada saat akan dilaksanakan upacara piodalan di Pura Subak. Pitriani . tradisi ngayah adalah kewajiban sosial masyarakat Bali sebagai penerapan ajaran karma marga yang dilaksanakan secara gotong royong dengan hati yang tulus Kegiatan ngayah didasari rasa tulus ikhlas dalam memperkuat kerukunan dan kekeluargaan yang ada dalam masyarakat. Poin utama dalam kegiatan ngayah, masyarakat mendapatkan perlakuan yang sama dan adil Putra dalam (Juniari, 2. Berdasarkan pendapat di atas, dalam konteks budaya masyarakat Hindu Bali, ngayah adalah sebuah kewajiban sosial yang dilaksanakan melalui kerjasama atau gotong royong dengan hati yang tulus dan ikhlas, baik di tingkat banjar maupun di tempat-tempat suci seperti pura. Budaya ngayah dapat dijadikan jalan dalam menumbuhkan toleransi. Hal ini karena sifat dari budaya ngayah bukan hanya berkaitan dengan kegiatan keagamaan saja, akan tetapi sarat akan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Dengan alasan tersebut maka ngayah yang merupakan budaya umat Hindu Bali juga dapat diikuti oleh umat non-Hindu seperti kegiatan ngayah yang dilakukan oleh umat Muslim di Desa Tembok pada saat akan dilangsungkan upacara piodalan di Pura Subak. Implikasi terhadap budaya juga terlihat dalam Tari Kecak di Desa Tembok. Tari Kecak di Desa Tembok terbentuk sekitar akhir tahun 2022. Penari yang ikut berperan serta dalam Tari Kecak sebagian besar warga Hindu, tetapi ada juga dari warga Muslim. Meskipun demikian semangat dari warga Muslim untuk mengikuti Tari Kecak, sama dengan semangat warga Hindu. Berdasarkan fenomena tersebut, implikasi rekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam tercermin dalam Tari Kecak. Dalam tarian tersebut umat Islam ikut berpartisipasi dalam mengembangkan kebudayaan umat Hindu Bali. Tari Kecak yang pada awalnya dibentuk dengan tujuan menghibur masyarakat, tetapi selanjutnya ada permintaan dari pihak lain untuk mementaskan Tari Kecak tersebut untuk menghibur para tamu yang berkunjung ke salah satu villa di Desa Tembok. Implikasi Terhadap Kehidupan Beragama Beragama merupakan hak bagi segenap umat manusia di muka bumi ini karena pada hakikatnya, di dalam ajaran agama banyak terdapat ajaran/wejangan-wejangan yang sangat berguna bagi segenap insan pemeluk agama itu sendiri. Rambe . dalam perspektif sosiologis, agama dipandang sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam prilaku sosial tertentu yang berkaitan dengan pengamalan keagamaan manusia, sehingga setiap perilaku yang diperankannya akan terkait dengan sistem keyakinan dari ajaran agama yang dianutnya. Dengan demikian, gama menjadi aspek penting dalam kehidupan manusia. Agama merupakan fenomena universal karena ditemukan di setiap Eksistensi agama telah ada sejak zaman prasejarah sampai sekarang. Selain itu kehidupan beragama pada dasarnya merupakan keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang sangat luar biasa, sehingga berpengaruh terhadap kehidupan individu dan Agama adalah keyakinan yang bersumber pada ajaran-ajaran suci yang diwahyukan oleh Tuhan untuk meberikan tuntunan bagi manusia dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Begitu pula dengan kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh umat Muslim di Desa Tembok pada saat hari raya Maulid Nabi. Fatia . proses perayaan Maulid tidak terlepas dari peranan solidaritas sosial antar individu. Mulai dari pemerintah, aparatur negara, perangkat desa serta masyarakat semuanya turun andil dalam menjalan tradisi Maulid. Berdasarkan pendapat tersebut, pelaksanaan Maulid Nabi tidak saja membawa umat Muslim hanya sekedar mempraktekkan ajaran suci, tetapi juga memberi dampak terhadap solidaritas masyarakat. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan wawancara bersama Wahyu Febrian dijelaskan bahwa Hari Maulid Nabi merupakan hari raya yang ditunggu-tunggu bukan saja dari pihak warga Muslim saja, tetapi warga Hindu juga ikut meramaikan. Hal itu dikarenakan ada sebuah tradisi bagi warga Muslim untuk mengarak ogoh-ogoh telur keliling Desa Tembok. Telur dirangkai dalam bentuk-bentuk tertentu misalnya seperti ikan, perahu atau bisa juga bentuk kapal. Bentuk-bentuk itu disepakati karena menyimbolkan warga Muslim kebanyakan bekerja sebagai nelayan. Saat mengarak ogoh-ogoh telur, warga Muslim membagikan bungkusan yang berisi telur kepada warga Hindu. Itulah sebabnya saat Maulid Nabi, sepanjang Desa Tembok, warga Hindu ramai menonton arakan ogoh-ogoh telur di jalan (Wawancara, 27 Agustus 2. Berdasarkan wawancara di atas, implikasi rekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam di Desa Tembok dapat dilihat dari adanya toleransi pada saat hari raya Maulid Nabi yang diwujudkan dengan umat Muslim membagi-bagikan telur kepada umat Hindu ketika mengarak ogoh-ogoh telur keliling desa. Tentu dalam hal ini yang menjadi tujuan bukan seberapa banyak telur yang dibagikan, tetapi yang terpenting adalah faktor kebersamaan dalam merayakan Maulid Nabi. Antusias umat Hindu dalam menunggu ogoh-ogoh telur diarak, menjadikan umat Muslim lebih semangat dalam merayakan Maulid Nabi. Kesimpulan Alasan rekonstruksi toleransi beragama Umat Hindu dan Islam di Desa Tembok. Kecamatan Tejakula. Kabupaten Buleleng disebabkan oleh pertama alasan budaya. Perbedaan budaya dapat saja memicu terjadinya konflik, sehingga pemahaman budaya sangat penting bagi generasi baru masyarakat Desa Tembok. Kedua, alasan globalisasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi menjadi hal yang terkadang memicu terjadinya perubahan sikap toleransi umat Hindu dan Islam, dimana kemajuan teknologi dalam bentuk media sosial telah mempengaruhi cara pikir setiap orang. Ada banyak informasi yang memicu perselisihan antarumat beragama yang dengan cepat dapat diakses. Adapun proses rekonstruksi toleransi beragama umat Hindu dan Islam dilakukan dalam perayaan hari raya keagamaan. Toleransi umat Islam dapat dilihat pada saat hari raya Galungan. Umat Islam datang secara bersama-sama ke pura desa untuk bersilaturahmi kepada umat Hindu yang sedang melaksanakan persembahyangan. Toleransi umat Hindu dapat dilihat pada saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Silaturahmi dilakukan di Masjid Al-Ihsan Desa Tembok. Silaturahmi diakhiri dengan kegiatan magibung antara umat Hindu dan Islam. Implikasi rekonstruksi toleransi beragama Umat Hindu dan Islam di Desa Tembok, dilihat dari pertama, implikasi terhadap kehidupan sosial seperti kebersamaan pada perayaan hari kemerdekaan masing-masing umat bersinergi menampilkan budaya masing-masing. Kedua, seperti penghormatan umat Muslim terhadap budaya Hindu dapat dilihat dari peran serta umat Muslim dalam kegiatan ngayah dan ikut serta bergabung dalam mengembangkan budaya Tari Kecak. Ketiga, implikasi terhadap kehidupan beragama terlihat dalam perayaan Hari Raya Maulid Nabi, dimana umat Muslim membagi-bagikan bingkisan telur kepada umat Hindu. Daftar Pustaka