ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS WAKTU BERMAIN VIDEO GAME DENGAN KEJADIAN MIOPIA PADA MAHASISWA S1 KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM Nurul Widiati1. Luis Yulia 2. Muhamad Fauzan 3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, nurulwidiati@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, luisyulia@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, uzanthedoctor31@gmail. ABSTRACT Background :Playing video games for hours will risk causing eye problems such as headaches, blurring, difficulty seeing distant objects, and frequent squinting when looking at distant objects and in the eye. One of the most common refractive errors is myopia Methods :This research method isis an analytic observational, with a cross-sectional approach. The sample in this study were students of the 2018 Batam University Bachelor of Medicine study program with a total of 80 samples. And brought to the optician to fill out a questionnaire and an eye examination to see the incidence of myopia. The analytical test used is the chi square test. Results :The test results show that there is a significant relationship between the intensity of playing video games with the incidence of myopia in undergraduate medical students at the University of Batam Batch 2018. From the Chi Square results, a p-value of 0. 000 is obtained, so H0 is rejected and Ha is Conclusion:Based on the results of this study can be Keywordsthere is a significant relationship between the intensity of playing video games with the incidence of myopia. Keywords: Time Intensity. Video Game. Myopia ABSTRAK Latar Belakang : Bermain video game selama berjam-jam akan berisiko menyebabkan masalah mata seperti sakit kepala, penglihatan kabur, susah melihat objek yang jauh, dan sering menyipitkan mata ketika melihat obyek jauh dan ketidaknyamanan di mata. Salah satu kelainan refraksi yang banyak dialami adalah kejadian miopia Metode : Metode Penelitian ini merupakan adalah analitik observasional, dengan pendekatan CrossAe sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa/i prodi S1 kedokteran Universitas Batam Angkatan 2018 dengan total 80 sampel. Dan dibawa ke optik untuk dilakukan pengisian kuesioner dan pemeriksaan mata untuk melihat kejadian miopia. Uji analisis yang digunakan adalah uji chi square. Hasil : Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara intensitas waktu bermain video game dengan kejadian miopia pada mahasiswa prodi S1 kedokteran Universitas Batam Angkatan 2018. Dari hasil uji Chi Square didapatkan p-value sebesar 0,000 sehingga H0 ditolak dan Ha Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan adanya hubungan yang bermakna antara intensitas waktu bermain video game dengan kejadian miopia. Kata Kunci : Intensitas Waktu. Video Game. Miopia. Universitas Batam Page 164 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 bermain game terus meningkat dan bertambah PENDAHULUAN Perkembangan teknologi saat ini berjalan begitu pesat seiring modernisasi, informasi, dan industrialisasi. Hal ini akan mempengaruhi pola hidup, moral dan etika seseorang (Piyeke. Bidjuni, & Wowiling. Bukan hanya berdampak pada orang dewasa tetapi juga generasi muda yaitu remaja. Salah satu bukti nyata dari perkembangan teknologi yang kita rasakan sekarang adalah adanya video game. Video game adalah jenis permainan berbasis teknologi komputer yang menggunakan sistem koordinasi organ mata dengan tujuan untuk menghibur penggunaannya. Dalam penggunaannya, video game dikontrol perangkat lunak yang terdapat didalam video atau layar komputer (Purnamawati, 2. Menurut penelitian (Yu. Bennett, & Brison, 2. , sekitar 80% pengguna internet berusia 16-64 tahun memainkan game online setiap Jumlah pemain game di seluruh dunia telah mencapai 3,5 miliar. Mayoritas . %) pengguna internet mengaku bahwa mereka bermain game di perangkat seluler, 41% orang bermain game di laptop atau desktop, dan 25% bermain game di konsol atau playstation. Mengingat harga perangkat seluler yang relatif lebih murah dibandingkan game PC atau konsol game, tidak mengherankan jika jumlah gamer online melebihi PC dan konsol game. Menurut laporan Newzo, pendapatan industri game pada tahun 2019 mencapai US$150 miliar, naik hampir 10%. jika dibandingkan dengan tahun Sementara Statista, menyebutkan game online pada 2019 naik 5% menjadi US$83 miliar (Ivana. Murniati, & Putri, 2. Jumlah orang yang Universitas Batam kejadian miopia meningkat setiap tahun Bermain game dapat berdampak positif dan negatif bagi. Salah satu dampak positif dari bermain game adalah meningkatkan kemampuan bernalar atau logika. Dalam game terdapat permasalahan yang harus dicari jalan keluarnya untuk mencapai tahapan/tujuan tertentu, sehingga diperlukan kemampuan berpikir dan bernalar masalahan dalam game. Kegemaran bermain game membuat anak dapat mengasah otak untuk memecahkan menalarnya terus mengalami (LESTARI. Data Environment Software Association (ESA) pada tahun 2018 menunjukkan pengguna game online di Amerika sebesar 61% laki-laki dan 39% perempuan Environment Software Association. Menurut Kominfo tahun 2016 jumlah pengguna komputer di Sumatera sebanyak 38,2%, di Kalimantan sebanyak 31,3%, di Jawa sebanyak 30,5%, diberdasarkan data Buletin Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016 dimana diketahui bahwa jumlah pengguna komputer dalam melakukan pengguna . ,7%). Bermain video game selama berjam-jam akan berisiko menyebabkan masalah mata seperti sakit kepala, penglihatan kabur, susah melihat objek yang jauh, dan sering menyipitkan mata ketika melihat obyek jauh dan ketidaknyamanan di mata (Purnamawati, 2. Salah satu kelainan refraksi yang banyak dialami adalah kejadian miopia. Miopia adalah suatu bentuk kelainan refraksi di mana sinar-sinar sejajar garis pandang pada Page 165 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 keadaan mata tidak berakomodasi difokuskan dengan seseorang yang bermain video games dengan durasi normal (Arianti, 2. Miopia dapat terjadi karena ukuran aksis bola mata relatif panjang dan Dari hasil survey pendahuluan sebelumnya disebut miopia aksial. Kelainan ini juga dapat berdasarkan wawancara oleh peneliti terhadap disebabkan karena indeks refraksi lensa dan mahasiswa prodi S1 kedokteran Universitas kornea terlalu kuat, dalam hal ini disebut Batam Angkatan 2018 yang hobi bermain video juga miopia refraktif American Academy of game, didapatkan 5 dari 8 mahasiswa yang hobi Ophtalmology, 2012. Berdasarkan data World bermain video game dan didapatkan hasil dari Health Organization (WHO) pada tahun 2012 wawancara telah menggunakan kacamata yang angka kejadian miopia dan miopia tinggi digunakan untuk melihat jauh atau miopia. diperkirakan mempengaruhi 27% . ,8 milia. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dan 2,8% . dari seluruh populasi dunia tertarik untuk meneliti hubungan antara intensitas dan prevalensi penderita kelainan refraksi di waktu bermain video game dengan kejadian Indonesia di usia sekolah . -19 tahu. sebesar miopia pada mahasiswa prodi S1 kedokteran 10% dari 66 juta (Tu. Park. Krisciunas, & Universitas Batam Angkatan 2018. Hwang, 2. Menurut WHO pada tahun 2016 SUBJEK DAN METODE Penelitian ini dilakukan dengan metode cross mengalami gangguan visus akibat kelainan Dalam penelitian ini yang menjadi refraksi yang tidak terkoreksi. Dari 153 juta populasi adalah mahasiswa/I fakultas kedokteran orang tersebut, sedikitnya 13 juta di antaranya Universita Batam berjumlah 81 orang. Teknik adalah anak-anak usia 5-15 tahun di mana prevalensi tertinggi terjadi di Asia Tenggara (Tu menggunakan total sampling. et al. , 2. Di Indonesia, prevalensi kelainan HASIL PENELITIAN refraksi menempati urutan pertama dari penyakit mata, meliputi 25% penduduk atau sekitar 55 juta jiwa. Sedangkan prevalensi miopia di Indonesia -0,5 D pada dewasa muda diatas 21 tahun adalah 48,1% 6. Faktor yang paling nyata adalah yang berhubungan dengan aktivitas jarak dekat. ANALISIS UNIVARIAT Analisis Univariat berupa distribusi frekuensi intensitas waktu bermain video game dan kejadian miopia Hasil Penelitian dapat dilihat sebagaiberikut : Tabel 1. Intensitas Waktu Bermain Video Game menggunakan komputer dan bermain video Intensitas Bermain Video Game Frekuensi . Persentase (%) game (Arianti, 2. Dalam penelitian (Dewi. None Frequency Suryati. Rudhiati, & Mediani, 2. ditemukan Low Frequency bahwa responden yang bermain video games High Frequency Heavy Frequency Total . ebih jam/har. memiliki peluang tiga kali mengalami kelainan ketajaman penglihatan dibandingkan Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa dari 80 responden yang menjadi sampel penelitian Universitas Batam Page 166 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 didapatkan 35 responden . ,7%) berada dalam High frequency gamer = 1-2 Jam /Hari atau kategori none frequency, 13 responden . ,3%) lebih dari 7 jam /minggu dapat menyebabkan berada dalam kategori low frequency, 13 kerusakan pada mata dan bisa menganggu mata responden . ,3%) berada dalam kategori high Heavy gamer = Lebih dari 2 Jam /hari atau frequency, dan 19 responden . 7%) berada lebih dari14 jam / minggu dalam kategori heavy game. Aspek intensitas sangat tinggi dan dapat menyebabkan kecanduan waktu bermain video game dalam penelitian ini yang dapat memperburuk kondisi mata dan juga dilihat dari lama waktu yang digunakan untuk dapat menganggu penglihatan. Bermain game bermain video game, semakin banyak waktu dengan durasi yang terlalu lama juga dapat yang digunakan dalam bermain video game, menimbulkan masalah kesehatan ini dikategorikan Tabel 2. Kejadian Miopia seseorang bermain video game. Dari hasil penelitian ini didapatkan masih Kejadian Miopia Frekuensi . Persentase (%) game yang berada dikategori low frequency. Tidak Miopia high frequency, dan heavy game. Hal ini akan Miopia Total banyaknya mahasiswa yang bermain video kesehatan manusia karena game sifatnya yang Dari kecanduan tersebut dapat menyebabkan mata lelah, namun tetap terbuka karena terpaksa. Pengaruh radiasi dari layar monitor adalah faktor utama yang bisa melelahkan mata. Terlebih jika didukung efek pencahayaan yang ditampilkan dalam sebuah game. Semakin terang radiasi cahaya monitor, mata akan semakin silau. Sebaliknya, semakin gelap cahayanya, dan mata juga akan tetap berusaha menangkap gerak cahaya itu. Hal ini ialah satu efek game online pada mata sangat berbahaya. Sebab secara fisik, paparan cahaya radiasi komputer dapat merusak saraf mata. Penilaian intensitas waktu bermain video game responden dengan tingkatan 4 kategori yaitu: None frequency= Tidak bermain video game Low frequency gamer= kurang dari 1 Jam / Universitas Batam Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa dari 80 responden yang menjadi sampel penelitian didapatkan 48 responden . %) berada dalam responden . %) berada dalam kategori miopia. Penilaian kejadian miopia pada mahasiswa diukur dengan cara efektif menggunakan alat pemeriksaan mata Auto Refractometer. Snellen Chart dan Trial Lens di Lingga optik Kota Batam dengan melihat hasil akhir pemeriksaan pada mata baik secara objektif maupun subjektif. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa 32 responden . %) berada pada kategori mata mengalami miopia. Masih banyaknya responden yang mengalami miopia ini dapat memiliki kebiasaan buruk saat bermain video game dengan intensitas waktu yang berlebihan. Dalam dedifinisikan keadaan refraksi di mana sinar paralel cahaya yang datang dari jarak jauh Page 167 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 difokuskan di depan retina karena memiliki panjang aksial maupun arkus kornea yang Hal Universitas Batam Page 168 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 ANALISIS BIVARIAT Tabel 3. Hubungan Intensitas Waktu Bermain Video Game Dengan Kejadian Miopia Kejadian Miopia Intensitas Bermain Video Game Tidak Miopia Miopia Total P Value (%) (%) (%) None Frequency Low Frequency High Frequency Heavy Frequency Total 0,000 Berdasarkan tabel 3 dan berdasarkan hasil bahwa pengetahuan yang baik adalah hal yang penelitian didapatkan bahwa dari 35 responden utama dan salah satu cara dalam menjaga yang berada pada kategori None Frequency, kesehatan mata (Belete. Anbesse. Tsegaye, & terdapat 30 responden . ,7%) yang memiliki Hussen, 2. Lalu sebagian kecil responden mata tidak miopia dan 5 responden . ,3%) yang berada pada kategori intensitas waktu yang memiliki mata miopia. Dari 13 responden bermain video game dengan kategori High yang berada pada kategori Low Frequency. Frequency juga mengalami kejadian miopia terdapat 7 responden . ,8%) yang memiliki yaitu sejumlah 7 responden. Hal ini terjadi mata tidak miopia dan 6 responden . ,2%) yang memiliki mata miopia. Dari 13 responden yang berada pada kategori High Frequency. Frequency lebih cenderung berpendapat bahwa terdapat 6 responden . ,2%) yang tidak miopia intensitas waktu bermain video game tidak dan 7 responden . ,8%) yang memiliki mata berdampak pada kesehatan mata. Aspek inilah Dari 19 responden yang berada pada yang menyebabkan tidak mengetahui jenis kategori Heavy Game, terdapat 5 responden gangguan kesehatan mata dan dampak bagi . ,3%) yang memiliki mata tidak miopia dan 14 responden . ,7%) yang memiliki mata pencegahan yang maksimal (Halari. Halari. Adeiza. Calista, & Ayotunde, 2. Sebagian PEMBAHASAN kecil responden yang berada pada kategori High Hasil penelitian yang juga menunjukkan intensitas waktu bermain video game dengan beberapa data intensitas waktu bermain video kategori Heavy Frequency juga mengalami game berbanding lurus dengan kejadian miopia kejadian miopia yaitu sejumlah 14 responden, yaitu sebagian kecil responden yang berada Hal ini terjadi dikarenakan kebiasaan yang pada kategori Low Frequency juga mengalami tidak baik yang dilakukan responden seperti kejadian miopia yaitu sejumlah 6 responden, mengerjakan bermain video game hingga larut Jumlah responden yang mengalami kejadian malam dan melupakan waktu istirahat yang miopia ini di dasari pengetahuan responden dibutuhkan oleh tubuh. Intensitas waktu yang Universitas Batam Page 169 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 hari dan hal ini juga akan menyebabkan menyadari bahwa dirinya sedang menghadapi individu lebih rileks sehingga mampu lebih suatu atau beberapa ancaman secara teratur awal untuk memulai waktu beristirahatnya. Responden yang berada pada kategori None Frequency dan mengalami kejadian dikarenakan kejadian miopia dapat disebabkan oleh hal tertentu, misalnya kelainan endokrin, berlebihan, dan penyakit sistemik. Namun peneliti berpendapat bahwa masih banyaknya responden yang mengalami intensitas waktu bermain video game dengan kejadian miopia disebabkan karena kebiasaan responden yang hobi membaca buku dengan kerja mata yang dekat secara berlebihan dan ada yang berasal dari faktor genetik . Terdapat responden yang berada pada kategori None Frequency dan tidak mengalami kejadian miopia sebanyak 30 menunjukkan bahwa jumlah responden dengan tidak mengalami miopia lebih banyak dari pada responden dengan kejadian miopia dikarenakan pengetahuan responden yang baik, kesehatan mata bukanlah hal yang utama. Responden yang mengalami kejadian miopia dikarenakan responden berpendapat bahwa intensitas waktu bermain video game yang berlebih tidak akan berdampak penting untuk Selain itu gaya hidup yang bagus bisa menjaga kesehatan mata yang baik diantaranya adalah responden mampu menjaga aktivitas fisik sepanjang hari yang akan merasakan kenyamanan pada tubuh saat malam Universitas Batam Terdapat responden yang berada pada kategori Low Frequency tidak mengalami waktu bermain video game yang berlebihan mengganggu kesehatan matanya. Sebaliknya terdapat responden yang berada pada kategori High Frequency juga tidak mengalami kejadian miopia sebanyak 6 responden dan responden kategori Heavy Frequency tidak mengalami dikarenakan responden yang beranggapan mengontrol lifestyle sangat penting agar kesehtan mata tetap terjaga sehingga minus mata tidak bertambah lagi, dan menjaga pola makan atau memberikan asupan gizi seperti wortel dan lainnya yang dapat menyehatkan Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Ariaty dkk . dengan judul Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya miopia pada siswa/i SD Katolik Kota Parepare berdasarkan hasil uji statistik salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya miopia adalah lama penggunaan Gadget yang diartikan dalam penelitian ini merupakan sebagai adalah lamanya aktifitas membaca/mengerjakan tugas, membaca untuk hobi, menonton TV, bermain video game dan menggunakan komputer yang diperolah nilai pvalue . =0,. yang berarti menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara lama penggunaan gadget dengan terjadinya miopia. Pada penelitian terhadap mahasiswa prodi S1 Page 170 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 kedokteran Universitas Batam Angkatan 2018. Berdasarkan hasil observasi peneliti bahwa ruangan memiliki peran dalam pembentukan intensitas bermain video game >2 jam/hari utama sklera. Intensitas cahaya yang tinggi disebabkan karena faktor lingkungan dan juga dapat mempengaruhi tingkat keparaha pengaruh teman sebaya yang selalu membawa myopia karena mempengaruhi bekerjanya pada kebiasaan yang buruk seperti seringnya pupil dan lensa mata. Penggunaan gadget pergi ke tempat tongkrongan cafe, warung dalam waktu yang lama akan menyebabkan kopi, dll untuk bermain video game hingga kerusakan pada lensa mata sehingga akibatnya tajam penglihatan mata menurun. Penurunan gangguan masalah kesehatan terutama pada ketajaman penglihatan tersebut tergantung dari mata, hal ini disebabkan oleh radiasi cahaya lamanya durasi paparan dengan layar monitor berlebihan yang diterima oleh mata sehingga sehingga pada saat bermain gadget dianjurkan akan mengakibatkan kejadian miopia pada untuk tidak melebihi 2 jam setiap harinya Kebiasaan mahasiswa bermain (Komariah, 2. video game lebih dari 2 jam perhari secara dalam waktu yang lama dapat memberikan tekanan tambahan pada mata dan susunan berlama-lama Saat melihat gadget dalam waktu langsung dengan layar komputer, tampilan lama dan terus menerus dengan frekuensi layar monitor yang terlalu terang dengan warna mengedip yang rendah dapat menyebabkan yang panas seperti warna merah, kuning, ungu, oranye akan lebih mempercepat kelelahan pada sehingga mata menjadi kering. Dalam hal ini. Pemakaian layar monitor yang tidak air mata memiliki ergonomis dapat menyebabkan keluhan pada Beberapa faktor resiko penyebab miopia adalah faktor genetik dan faktor lingkungan. membersihkan kotoran yang masuk Faktor genetik adalah faktor keturunan seperti adanya riwayat keluarga yang menderita enzim, protei. serta mengandung antibakteri miopia baik orang tua maupun saudara dan antibodi. Apabila mata kekurangan air Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi progresifitas miopia adalah kekurangan nutrisi dan oksigen. Dalam waktu kebiasaan beraktivitas dalam jarak dekat menyebabkan gangguan penglihatan menetap menggunakan komputer dan bermain game atau miopia (Ariaty, 2. Penelitian ini juga online memiliki peran yang besar terhadap diperkuat oleh penelitian yang telah dilakukan Kurangnya (Giri & Dharmadi, 2. dengan judul kegiatan outdoor activity juga mempengaruhi penelitian AuGambaran Ketajaman Penglihatan pertumbuhan miopia. Karena vitamin D yang Berdasarkan Intensitasi Bermain Game Siswa/i Universitas Batam Menatap layar gadget Air mata berfungsi untuk menjaga nutrisi . lukosa, elektrolit. Page 171 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 laki-laki Sekolah Menegah PertamaAy. Dimana menjadi normal (Maksus, 2. Dan juga seseorang yang melakukan aktifitas jarak dekat istirahat cukup berlebihan mungkin mengalami miopia palsu KESIMPULAN Lebih dari sepertiga responden diketahui memiliki intensitas waktu bermain video game disebabkan oleh menggunakan mata untuk dengan kategori low frequency berjumlah 13 fokus secara berlebihan. Setelah melakukan responden . ,3%), high frequency sebanyak 13 aktifitas jarak dekat dalam waktu lama responden . ,3%), dan 19 responden . ,8%) Penglihatan (Tu tidak kembali fokus untuk melihat dengan yang berada dikategori heavy game. jelas dari kejauhan. Gejala ini biasanya Lebih sementara dan penglihatan akan menjadi jelas diketahui yang mengalami kejadian miopia. setelah atau beristirahat beberapa menit. Terdapat Namun, penggunaan mata melihat dekat yang hubungan intensitas waktu bermain video game penurunan penglihatan jauh permanen atau kedokteran Univerista Batam tahun 2021 biasa juga disebut Miopia 7. Penelitian yang SARAN dilakukan (Ester & Sander, 2. menyatakan bahwa durasi yang dianjurkan dalam bermain video game yaitu tidak melebihi 2 jam setiap hari, hal tersebut karena bila terlalu lama terpapar layar monitor mata akan hilang fokus dan dalam jangka waktu cukup lama akan menyebabkan gangguan pada mata (Halari et , 2. Pada penelitian ini disarankan untuk miopia yang telah terjadi tidak semakin berat mempengaruhi progresivitas miopia, seperti mengurangi intensitas bermain video game, melakukan aktivitas jarak dekat, dan juga diharapkan untuk mengontrol lifestyle agar minus mata tidak bertambah lagi, dan menjaga pola makan atau memberikan asupan gizi menyehatkan mata dan mengembalikan mata Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan acuan selanjutnya untuk penelitian lebih lanjut dengan jenis desain penelitian dan variabel yang berbeda untuk berhubungan dengan terjadinya kejadian miopia pada mahasiswa. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis menghanturkan terimakasih kepada Kasih Purwati. Kes memberikan dorongan motivasi dan masukan pada penelitian ini. Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada dr. Zulkarnain Edward MS. PhD dan dr. Andi Ipaljri. Kes yang telah memberikan masukan dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA