Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal. DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Peranan Pendidikan Multikultural Dalam Mengatasi Perilaku Bullying Di Smkn 1 Bantaeng Ahmad Iqbal 1. Rezky Dwika Dana Putri2. Putri Maulidyana Takbir3. Hasruddin Nur4 Universitas Negeri Makassar, 250002301009@student. Universitas Negeri Makassar, 2250002301010@student. Universitas Negeri Makassar, 3250002301035@student. Universitas Negeri Makassar. Hasruddin. nur@student. Submitted: 28-12-2025. Reviewed: 30-12-2025. Accepted: 05-01-2026 Abstract This paper examines the strategic role of multicultural education in preventing bullying within the school environment. the context of Indonesia as a diverse nation, multicultural education is positioned as an approach that fosters tolerance, empathy, justice, and respect for differences in culture, religion, ethnicity, and social status among students. The paper describes the concept, objectives, and urgency of multicultural education, and analyzes the forms, causes, and impacts of bullying, including physical, verbal, and psychological dimensions as well as the emergence of new perpetrators. Drawing on findings from studies conducted in primary schools, secondary schools, and Islamic boarding schools, it concludes that multicultural education is effective in reducing bullying by strengthening studentsAo civic disposition and inclusive social Practical implementations discussed include curriculum integration, classroom and extracurricular programs, the establishment of anti-violence task forces, and school culture management that explicitly promotes anti-discrimination and anti-bullying values. Thus, multicultural education is presented as a key solution for shaping democratic, humanistic, and pluralistic student character in a plural society. Keywords: multicultural education, bullying, tolerance, empathy, inclusive school. Abstrak Pendidikan multikultural memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan bebas dari kekerasan di tengah keberagaman sosial, budaya, agama, dan status sosial peserta didik. Makalah ini membahas konsep pendidikan multikultural, definisi, tujuan, dan urgensinya serta menguraikan bentuk, penyebab, dan dampak perilaku bullying yang meliputi aspek fisik, verbal, mental-psikologis, hingga munculnya pelaku bullying baru. Berdasarkan kajian berbagai hasil penelitian di sekolah dasar, sekolah menengah, dan pondok pesantren, pendidikan multikultural terbukti efektif menumbuhkan nilai toleransi, empati, keadilan, dan penghargaan terhadap perbedaan sehingga mampu menekan perilaku bullying di lingkungan pendidikan. Implementasi konkret pendidikan multikultural dilakukan melalui integrasi dalam kurikulum, penguatan civic disposition, pengembangan budaya sekolah yang inklusif, pembentukan satgas anti kekerasan, serta program-program preventif seperti literasi, kegiatan keagamaan, proyek profil pelajar Pancasila, dan workshop anti-bullying. Dengan demikian, pendidikan multikultural dapat menjadi salah satu solusi penting untuk membentuk karakter peserta didik yang demokratis, humanis, dan pluralis dalam masyarakat majemuk. Kata kunci: pendidikan multikultural, bullying, toleransi, empati, sekolah inklusif. This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik agar mampu hidup berdampingan secara harmonis di tengah keberagaman sosial, budaya, dan agama. Indonesia sebagai negara multikultural memiliki masyarakat dengan latar belakang yang sangat beragam. Keragaman ini menjadi potensi besar dalam memperkaya nilai-nilai kehidupan, namun di sisi lain juga dapat memicu konflik, diskriminasi, dan perilaku negatif apabila tidak dikelola dengan baik. Salah satu bentuk perilaku negatif yang kerap muncul di lingkungan pendidikan adalah bullying atau perundungan. Bullying merupakan tindakan kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis yang dilakukan secara sengaja dan berulang terhadap individu yang dianggap lemah. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan fisik dan mental korban. Banyak penelitian menunjukkan bahwa penyebab bullying tidak hanya berasal dari faktor individu, tetapi juga dari lingkungan sosial seperti teman sebaya, keluarga, dan kondisi budaya sekolah. Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal. DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Dalam konteks tersebut, pendidikan multikultural hadir sebagai pendekatan yang relevan untuk mencegah perilaku bullying. Pendidikan multikultural menanamkan nilai- nilai toleransi, empati, penghargaan terhadap perbedaan, dan keadilan sosial kepada peserta didik. Melalui penerapan pendidikan multikultural, siswa didorong untuk memahami bahwa keberagaman bukanlah sumber konflik, melainkan kekayaan yang harus dihargai dan dijaga bersama. Berbagai penelitian menunjukkan efektivitas pendidikan multikultural dalam mencegah perilaku Penelitian Aan Ambarwati . menemukan bahwa penerapan nilai-nilai multikultural di sekolah dasar mampu menumbuhkan empati dan mengurangi perilaku perundungan. Sementara penelitian Febrianti Hutagalung dan Abdinur Batubara . menunjukkan bahwa strategi penguatan civic disposition melalui pendidikan multikultural di SMP Negeri 17 Medan dapat meningkatkan kesadaran sosial, sikap toleran, dan tanggung jawab terhadap perbedaan. Selain itu, penelitian Irmasani Daulay dkk . membuktikan bahwa penerapan Pendidikan multikultural di pondok pesantren juga efektif dalam mengurangi sikap etnosentrisme dan perilaku diskriminatif antar santri. Dengan demikian, pendidikan multikultural terbukti berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan bebas dari kekerasan. Melalui penanaman nilai-nilai keberagaman sejak dini, peserta didik dapat mengembangkan sikap saling menghargai, empati, dan solidaritas antar sesama, yang pada akhirnya dapat menekan perilaku bullying di lingkungan sekolah. Tinjauan Pustaka Definisi Pendidikan Multikultural Pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebagai Aupendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan (Humaidi:2. Pendidikan multikultural mengakui adanya keragaman etnik dan budaya masyarakat suatu bangsa. Dalam dimensi lain, pendidikan multicultural merupakan pengembangan kurikulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang lain. Sedangkan secara luas pendidikan multikultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti gender, etnis, ras, budaya, strata sosial dan agama (Humaidi:2. Pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada para siswa seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, kelas sosial,ras, kemampuan, dan umur agar proses belajar menjadi efektif dan mudah dan sekaligus juga untuk melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap demokratis, humanis, dan pluralis dalam lingkungan mereka (Yakin: 2. Dengan kata lain, dapat digambarkan melalui sebuah peribahasa Ausambil menyelam minum airAy artinya selain siswa diharapkan dapat dengan mudah memahami, menguasai, dan mempunyai kompetensi yang baik terhadap mata pelajaran yang diajarkan guru, siswa juga diharapkan mampu untuk selalu bersikap dan menerapkan nilai-nilai demokrasi, humanisme,dan pluralisme di sekolah atau di luar sekolah. Pendidikan multikultural mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan awal dan tujuan akhir. Tujuan awal merupakan tujuan sementara karena tujuan ini hanya berfungsi sebagai perantara agar tujuan akhirnya dapat dicapai dengan baik. Tujuan pertama yaitu membangun wacana Pendidikan multikultural di kalangan guru, dosen, ahli pendidikan. Pengambil kebijakan dalam dunia pendidikan dan mahasiswa jurusan ilmu pendidikan maupun mahasiswa umum. Harapannya adalah apabila mereka mempunyai wacana pendidikan multikultural yang baik maka kelak mereka tidak hanya mampu untuk membangun kecakapan dan keahlian siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkannya, akan tetapi juga mampu untuk menjadi transformator pendidikan multukultural yang mampu menanamkan nilai-nilai pluralisme, humanisme, dan demokrasi secara langsung di sekolah kepada para siswa. Tujuan akhir, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, tujuan pendidikan multikultural ini adalah agar peserta didik tidak hanya mampu memahami dan menguasai materi pelajaran yang dipelajarinya, akan tetapi diharapkan juga mereka akan mempunyai karakter yang kuat untuk selalu bersikap demokratis, pluralis, dan humanis. Pendidikan multikultural sangat penting untuk pendidikan. Siswa memperoleh pemahaman yang lebih baiktentang perbedaan sosial dan budaya melalui penghargaan terhadap keberagaman budaya, agama, dan Suroyo et al . mengemukakan Pendidikan multikultural memiliki peran dan fungsi dalam dunia Pendidikan yaitu: Menyediakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan aman: Pendidikan multikultural memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan aman bagi semua siswa. Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal. DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Menyediakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan aman: Pendidikan multikultural memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan aman bagi semua siswa Mempromosikan perspektif global dan pemikiran kritis: Pendidikan multikultural membuka mata siswa terhadap konteks global dan kompleksitas dunia kita. Hal ini membantu siswa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang dunia yang semakin beragam dan terhubung ini. Mempersiapkan Siswa untuk Dunia Kerja Multikultural: Pendidikan multikultural membantu siswa mempersiapkan diri untuk hidup dan bekerja dalam masyarakat yang semakin terhubung di seluruh dunia Pendidikan multikultural akan terus berkembang karena hampir semua negara di dunia ini tidak ada yang penduduknya berkultur homogen, melainkan heterogen. Kondisi semacam ini membuat stretegi dan konsep Pendidikan multikultural akan terus dilihat, dipelajari, dan diterapkan. Negara dengan latar belakang multikultural akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keberagamannya, sebab kalau tidak, maka keragaman itu justru akan menjadi pemicu perpecahan. Di Era digital sekarang ini dimana internet berkembang dengan pesat, tercipta kehidupan dunia maya dimana kehidupan multicultural siswa memngalami perubahan signifikan. kita bisa berjalan-jalan ke belahan benua lain dengan cara melakukan AusurfingAy melalui internet di komputer meja atau jinjing. Tapi, sekarang, hampir semua individu, termasuk peserta didik, dapat melihat atau mengakses apa pun dari telepon pintar mereka, di mana pun mereka berada, di kamar. Perilaku Bullying Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak, definisi bullying adalah perilaku kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan dirinya. Atau dengan kata lain bullying dapat dianggap sebagai tindakan seseorang yang disengaja untuk membuat orang lain merasa takut atau terancam, sehingga menyebabkan korban merasa tidak aman, atau bahkan tidak bahagia (Lestari, 2. Tindakan tersebut menyoroti bahwa bullying tidak hanya terbatas pada tindakan fisik, tetapi juga mencakup kekerasan psikologis, namun yang pasti bullying seringkali terjadi dalam waktu yang cukup lama, menyebabkan dampak yang berkepanjangan pada kesejahteraan korban. Menurut Volk . , perilaku bullying adalah tindakan negatif di mana seseorang dengan sengaja menyebabkan cedera atau ketidaknyamanan pada orang lain. Ini sebagian besar mencerminkan perilaku agresif yang melibatkan kontak fisik, kata- kata kasar, atau bahkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh yang menghina. Selain itu, bullying juga dapat mencakup pengucilan yang disengaja dari suatu kelompok. Untuk dapat diklasifikasikan sebagai bullying, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi. Pertamatama, tindakan tersebut harus disengaja dan bertujuan untuk menyakiti atau menakuti korban. Kedua, perilaku tersebut harus terjadi secara berulang kali dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama, menunjukkan pola yang berkelanjutan dari penindasan atau penyalahgunaan kekuasaan. Ketiga, harus ada ketidakseimbangan dalam kekuatan, di mana korban merasa sulit atau tidak berdaya untuk membela diri terhadap pelaku. Artinya definisi bullying ini menekankan bahwa perilaku tersebut melibatkan tindakan agresif yang disengaja, berulang kali dilakukan, dan terjadi dalam hubungan interpersonal yang ditandai dengan ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban. Terdapat dua jenis bullying, yaitu direct bullying dan indirect bullying. Direct bullying terjadi ketika pelaku melakukan perilaku perundungan secara langsung kepada korban, seperti melakukan pukulan, ejekan, atau tindakan agresif lainnya secara langsung. Sementara itu, indirect bullying terjadi ketika pelaku melakukan perilaku perundungan secara tidak langsung terhadap korban, seperti dengan cara melakukan pengucilan atau pengasingan. Pengucilan atau pengasingan adalah tindakan yang bertujuan untuk mengisolasi atau menolak individu tertentu dari lingkungan sosialnya (Almira & Marheni, 2. Hal ini bisa terjadi melalui penolakan dalam interaksi sosial, menghindari kehadiran korban dalam kegiatan atau kelompok tertentu, atau bahkan membatasi akses korban terhadap sumber daya yang penting. Menurut Yayasan Sejiwa yang dikutip dari Adnan . , bentuk-bentuk bullying dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu: Bullying fisik Bullying fisik melibatkan tindakan-tindakan langsung yang menyebabkan kekerasan fisik kepada korban. Contohnya termasuk menampar, menimpuk, menginjak kaki, menjegal, meludahi, memalak, melempar dengan barang, atau bahkan menghukum dengan membuat korban berlari keliling lapangan atau melakukan push-up. Bullying verbal Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal. DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Bullying verbal merupakan jenis yang terdeteksi melalui indera pendengaran, dan melibatkan penggunaan kata-kata atau bahasa yang menyakitkan atau merendahkan martabat korban. Contohnya termasuk memaki, menghina, menjuluki, meneriaki, memalukan di depan umum, menuduh, menyebar gosip, dan menyebar Bullying mental atau psikologis Bullying ini sering dianggap sebagai yang paling berbahaya karena seringkali tidak terdeteksi secara langsung oleh indera penglihatan atau pendengaran. Ini mencakup perilaku yang menyerang mental atau psikologis korban, seperti memandang sinis, melakukan teror melalui pesan atau SMS, mempermalukan, atau mencibir. Berdasarkan definisi-definisi yang telah diuraikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa bullying adalah perilaku yang melanggar norma-norma sosial, dan dilakukan secara sengaja oleh individu yang lebih kuat atau dominan terhadap individu yang lebih lemah, dengan tujuan untuk mengintimidasi, menakut-nakuti, atau membuat korban merasa tidak bahagia. Oleh karena itu, penting untuk memahami definisi bullying agar setiap individu dapat mengenali tindakan-tindakan tersebut dan mengambil langkah- langkah untuk mencegah dan menghindari perilaku tersebut. Penyebab Bullying Mempelajari penyebab-penyebab bullying sangat penting karena dapat membantu mencegah perilaku bullying dan kemudian membangun lingkungan yang lebih baik. Selain itu, dengan memahami penyebabpenyebab tersebut, pihak-pihak terkait dapat lebih memperhatikan potensi-potensi yang menjadi penyebab timbulanya perilaku bullying. Berikut beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya bullying, seperti pertama faktor lingkungan sebaya. Hal tersebut karena teman sebaya memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan seorang anak, yang dimana cenderung berusaha untuk merasa diterima dan diakui keberadaannya di dalam lingkungan kelompok sebaya. Teman sebaya merupakan individu yang memiliki tingkat usia dan tingkat kedewasaan yang sama. Lingkungan sebaya memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan kepribadian individu. Kelompok teman sebaya membantu untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan keterampilan Interaksi dengan teman sebaya memungkinkan untuk belajar berbicara, mendengarkan, berbagi, dan menyelesaikan konflik secara sehat. Selain itu, lingkungan sebaya juga berperan dalam meningkatkan identitas diri individu. Remaja sering kali mencari identitas mereka sendiri melalui pengalaman dan interaksi dengan teman Kelompok teman sebaya dapat menjadi tempat di mana remaja merasa diterima, dihargai, dan memiliki peran yang jelas, yang semuanya merupakan faktor penting dalam pembentukan identitas diri (Permata & Nasution, 2. Lingkungan sebaya atau lingkungan yang terdiri dari teman seumur merupakan bagian integral dari proses sosialisasi anak-anak. Namun demikian, lingkungan sebaya juga dapat menjadi tempat pemicu di mana perilaku negatif, seperti bullying muncul. Anak-anak seringkali terpengaruh oleh dinamika kelompok dan tekanan sosial dalam lingkungan sebaya, yang dapat mendorong mereka untuk melakukan bullying sebagai cara untuk menunjukkan kekuatan atau mendapatkan penerimaan dari kelompok, meskipun mereka sendiri tidak nyaman dengan perilaku tersebut (Zakiyah. Humaedi, & Santoso, 2. Mereka mungkin merasa terdorong untuk melakukan hal tersebut demi mendapatkan penerimaan atau masuk ke dalam kelompok tertentu. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh lingkungan sebaya dalam membentuk perilaku anak-anak. Faktor kedua yang menjadi penyebab timbulnya perilaku bullying dapat berasal dari lingkungan Keluarga diakui sebagai pendidikan pertama bagi seorang anak, menjadi pondasi utama dalam pendidikan awal mereka. Dalam lingkungan keluarga, anak memperoleh pengetahuan, kecerdasan, dan minat pertama mereka dari orang tua dan anggota keluarga lainnya. Pendidikan yang diterima dari keluarga memiliki pengaruh yang sangat penting dalam pembentukan Ini dapat memberikan dampak positif ketika lingkungan keluarga memberikan dorongan, motivasi, dan rangsangan yang tepat kepada anak (Saputra, 2. Jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dipenuhi dengan perilaku yang tidak pantas, hal itu dapat memiliki dampak besar pada masa depan anak Tindakan bullying juga dapat muncul sebagai hasil dari pendidikan awal yang diterima dari orang tua atau Menurut penelitian Lestari . , pola hidup orang tua yang berantakan, terjadinya perceraian orang tua, ketidakstabilan emosional dan mental orang tua, serta pola komunikasi negatif di antara anggota keluarga, seperti caci maki, hinaan, dan pertengkaran di depan anak-anak, dapat menyebabkan stres dan depresi pada Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal. DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. Remaja yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga dengan pola komunikasi negatif, seperti sindiran tajam, akan cenderung meniru kebiasaan tersebut dalam kesehariannya. Bentuk komunikasi negatif seperti ini terbawa dalam pergaulannya sehari-hari, akibatnya remaja akan dengan mudahnya bekata sindiran yang tajam disertai dengan kata-kata kotor dan kasar. Hal ini yang dapat memicu anak menjadi pribadi yang terbelah dan berperilaku bully, sebab anak dan remaja tersebut terbiasa berada di lingkungan keluarga yang kasar. Jadi, lingkungan keluarga yang tidak sehat dan penuh dengan pola komunikasi negatif dapat mempengaruhi anak untuk mengembangkan perilaku bullying. Penyebab bullying selanjutnya, yaitu adanya status sosial individu. Status sosial individu dapat menjadi pemicu perilaku bullying, karena dapat memunculkan adanya perbedaan dalam beberapa aspek penting kehidupan individu. Dimana berdasarkan penelitian oleh Setiowati . , faktor-faktor seperti perbedaan pendapat, kondisi fisik, psikis, sosial, ekonomi, agama, budaya, dan jenis kelami merupakan pemicu utama dari perilaku bullying. Perbedaan dalam status ekonomi mengacu pada kemampuan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan material dan nonmaterial. Indikator dari status sosial ekonomi tersebut dapat meliputi beberapa faktor yang penting dalam menentukan posisi ekonomi seseorang atau keluarganya dalam masyarakat. Indikator tersebut meliputi pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status kepemilikan, tanggungan, jenis tempat tinggal, menu makanan seharihari, status dalam masyarakat dan partisipasi dalam masyarakat (Laini, 2. Pada umumnya, individu dengan status sosial yang lebih tinggi, seperti anak- anak yang berasal dari keluarga konglomerat, cenderung memiliki pandangan merendahkan terhadap orang-orang miskin. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua orang yang kurang mampu secara ekonomi menjadi korban dalam konteks bullying. Bahkan, beberapa dari mereka yang kurang mampu juga bisa menjadi pelaku bullying. Hal ini bisa disebabkan oleh perasaan iri, ketidakpuasan, atau faktor-faktor lainnya. Ini menggarisbawahi pentingnya untuk tidak memandang rendah atau merendahkan individu berdasarkan status sosial mereka. Sebaliknya, perbedaan status sosial harus dianggap sebagai kesempatan untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain. Salah satu penyebab bullying selanjutnya yaitu kesalahan dalam memanfaatkan Perkembangan teknologi yang pesat, tanpa diimbangi dengan kesadaran yang memadai dari masyarakat Indonesia dalam penggunaannya, dapat berdampak negatif bagi individu itu sendiri. Banyak individu yang mengakui menjadi kecanduan teknologi dan smartphone, sehingga menghabiskan waktu mereka terutama untuk bermain smartphone, baik di media sosial maupun game online. Selain itu, terdapat kecenderungan bahwa banyak pelajar lebih tertarik pada budaya baru dari luar daripada budaya lokal mereka sendiri. Fenomena globalisasi ini juga menyebabkan penurunan kualitas moral di kalangan pelajar, karena membawa konten-konten yang tidak selalu pantas untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Beberapa konten tersebut bahkan dapat mempengaruhi karakter peserta didik secara langsung maupun tidak langsung (Listiana, 2. Penggunaan media sosial memiliki dampak yang terbagi menjadi dua, yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya mencakup kemudahan akses terhadap tugas sekolah dan penerimaan informasi yang lebih mudah oleh pengguna media sosial. Namun, dampak negatifnya juga signifikan, salah satunya adalah munculnya perilaku bullying (Wirmando. Anita. Hurat, & Korompis, 2. Meskipun media sosial bisa digunakan untuk keperluan belajar, berkomunikasi dengan orang lain, atau menambah pengetahuan, masalah timbul ketika pengguna meniru tindakan kekerasan setelah melihatnya di media sosial. Bahkan, kesalahan dalam memanfaatkan media sosial dapat memicu tindakan bullying, seperti penyebaran komentar jahat. Jika media sosial digunakan untuk menyebarkan komentar yang merendahkan, menghina, atau memfitnah orang lain, maka tindakan tersebut jelas merupakan bentuk bullying. Ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial tanpa filter atau pengawasan dapat berdampak negatif dan merugikan, terutama dalam hal penyebaran perilaku bullying. Efek Bullying Tindakan bullying yang dilakukan oleh pelaku kepada korbannya memiliki dampak yang bervariasi dan sangat luas cakupannya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Zakiyah . , individu yang menjadi korban bullying cenderung lebih berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Tindakan kekerasan yang sering dilakukan oleh pelaku bullying, seperti memukul, melempar benda tumpul, mencakar, menampar, dan lainnya, dapat menyebabkan dampak fisik yang signifikan bagi korban. Ketika mengalami tindakan- tindakan tersebut, korban bullying akan mengalami gangguan kesehatan fisik yang jelas Dampak fisik dari bullying bisa berupa kulit yang kemerahan, lecet, berdarah, cedera, atau memar. Kondisi fisik yang terganggu ini membuat korban kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dengan Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal. DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. lancar seperti biasanya. Selain itu, dampak dari bullying tidak selalu berhenti setelah tindakan tersebut berakhir. Bekas luka atau trauma dari pengalaman bullying bisa berlangsung dalam jangka panjang, mempengaruhi penampilan korban dan membuatnya lebih rentan terhadap penyakit dan gangguan kesehatan lainnya. Kemudian dampak dari bullying tidak hanya merugikan secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang serius terhadap kesehatan mental atau psikis korban. Anak- anak yang menjadi korban bullying memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami berbagai masalah mental seperti depresi, kegelisahan, dan masalah tidur yang mungkin berlanjut hingga dewasa (Zakiyah et al. , 2. Korban bullying juga mungkin menjadi lebih pasif dan enggan menonjol, serta ada yang bahkan menghindari kegiatan sekolah atau memutuskan untuk putus sekolah karena takut akan pengulangan tindakan kekerasan terhadap mereka. Salah satu contoh gangguan kesehatan mental yang sering dialami oleh korban bullying adalah trauma. Mereka mungkin merasakan histeria atau ketakutan yang intens ketika mereka melihat atau mengingat tindakan kekerasan serupa atau pelakunya. Trauma ini dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama, membuat korban tetap merasa takut dan cemas berlebihan bahkan setelah pelaku bullying tersebut menyesali perbuatannya dan tidak mengulanginya lagi. Bahkan menurut Wirmando . , perilaku bullying dapat menyebabkan dampak psikologis dan kesehatan mental yang serius bagi korban. Mereka mungkin mengalami rasa cemas yang berlebihan, ketakutan, depresi, stres, bahkan memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri. Selain dampak fisik dan mental, perilaku bullying juga memiliki dampak ketiga yaitu melahirkan pelaku bullying baru. Beberapa kasus menunjukkan bahwa pelaku sebenarnya juga merupakan korban. Sebagai contoh, seorang anak mungkin merasa dibully oleh saudaranya di rumah, kemudian ia membalas dengan cara membully teman- temannya di sekolah yang ia anggap lebih lemah dari dirinya. Contoh lainnya adalah orang yang merasakan tekanan akibat bullying dalam kehidupan nyata, kemudian menggunakan internet dan dunia maya untuk menunjukkan bahwa dirinya juga memiliki kekuatan dengan cara menyerang orang lain (Yunita, 2. Artinya siklus bullying bisa terus berlanjut di mana korban dari satu situasi dapat menjadi pelaku dalam situasi Oleh karena itu, akibat dari peningkatan jumlah pelaku bullying harus menjadi fokus utama mengingat dampak yang merugikan dan berbahaya yang dihasilkan, baik bagi individu yang menjadi korban maupun bagi masyarakat secara keseluruhan. Sehingga diperlukan upaya pencegahan yang serius dan solusi yang efektif untuk mengatasi masalah bullying ini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan data penelitian berdasarkan kejadian sosial dan lingkungan yang terjadi di masyarakat (Usman & Akbar, 2. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian dengan menekankan proses komunikasi dan interaksi yang erat antara peneliti dan topik yang diteliti, penelitian kualitatif merupakan upaya ilmiah yang berupaya memahami suatu fenomena dalam konteks sosial alaminya (Hadi et al. ,2. Lokasi penelitian ini dilakukan di salah satu sekolah menengah Kejuran yaitu SMK Negeri 1 Bantaeng yang beralamat di Jalan Elang No 7 Bantaeng Provinsi Sulawei Selatan. Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah Guru. Kepala Sekolah, dan siswa siswi SMK Negeri Bantaeng. Teknik pengumpulan data melalui data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, artikel yang relevan dengan topik Analisis data yang digunakan melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan HASIL DAN PEMBAHASAN Keberagaman latar belakang siswa adalah hal yang penting diperhatikan dalam lingkungan sekolah. Keberagaman ini mencakup perbedaan budaya, agama, bahasa, serta kondisi sosial dan ekonomi yang bisa memengaruhi cara siswa berinteraksi di sekolah. Meski perbedaan ini seharusnya menjadi kekayaan, sayangnya kerap memicu konflik, termasuk tindakan perundungan di antara para siswa. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, serta sikap inklusif. Dalam konteks ini, pendidikan berbasis nilai multikultural dianggap sebagai strategi yang tepat dan efektif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, harmonis, serta bebas dari perilaku yang tidak sesuai. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Aan Ambarwati . mengenai analisis dampak pendidikan multikultural dalam mencegah perilaku bullying di sekolah dasar, menyatakan bahwa Pendidikan multikultural terbukti efektif dalam mengurangi perilaku bullying di sekolah dasar. Dengan menerapkan prinsipprinsip keberagaman, toleransi, dan pemahaman antarbudaya, siswa menjadi lebih menghargai perbedaan dan Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal. DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. bersikap inklusif terhadap teman-teman dari berbagai latar belakang. Selanjutnya hasil penelitian tersebut juga menyatakan bahwa Melalui pendidikan multicultural sikap toleransi dan empati siswa berkembang, sehingga mereka lebih mampu merespons konflik sosial dengan damai. Melansir jurnal Febrianti Hutagalung dan Abdinur Batubara, yang berjudul AuStrategi Penguatan Civic Disposition Melalui Pendidikan Multikultural Untuk Mencegah Perilaku Bullying pada Peserta Didik di SMP Negeri 17 MedanAy bahwa Pendidikan multikultural tidak hanya berperansebagai pedoman dalam pengenalan budaya, tetapi juga sebagai strategi untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, keadilan, dan tanggung jawab terhadap perbedaan. Melalui pendekatan ini,peserta didik diarahkan untuk membangun kesadaran akan pentingnya hidup berdampingan secara harmonis di tengah keberagaman. Proses ini menjadi sangat penting, terutama dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan bebas dari diskriminasi, termasuk dalam mencegah terjadinya perilaku bullying. Strategi yang digunakan di SMP Negeri 17 Medan dalam meningkatkan civic disposition pada peserta didik melalui pendidikan multikultural yaitu pertama pengimplementasian Pendidikan Multikultural dalam kelas melalui pembelajaran PPKn dan IPS dan Program Pendidikan Multikultural diluar kelas yang meliputi : Kegiatan Literasi. Kamis Ekspresi. Jumat Religi, dan Kegiatan P5( Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasil. Secara keseluruhan melalui strategi yang ada di SMP Negeri 17 Medan menunjukkan bahwa Pendidikan Multikultural memiliki peran yang efektif dalam penguatan civic disposition dan pencegahan perilaku bullying pada peserta didik. Dengan demikian, upaya penguatan civic disposition dan pencegahan perilaku bullying melalui pendekatan pendidikan multikultural di SMP Negeri 17 Medan merefleksikan keterpaduan dalam pengembangan aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan sosial peserta didik. Pendidikan multikultural tidak lagi diposisikan sebatas konsep teoritis, melainkan telah diimplementasikan secara nyata melalui kebijakan serta praktik pendidikan yang sistematis dan berkelanjutan. Penerapan Pendidikan Multikultural DI SMK Negeri 1 Bantaeng Integrasi dalam Kurikulum: Masukkan materi tentang keberagaman Indonesia ke dalam mata pelajaran seperti PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraa. Sejarah, atau Agama. Contoh: Diskusi tentang nilai Pancasila untuk menghargai perbedaan, atau proyek tentang budaya daerah siswa. mengguunakan pendekatan pembelajaran aktif, seperti role-playing untuk simulasi konflik budaya dan cara menyelesaikannya tanpa kekerasan. Kegiatan Ekstrakurikuler Memberi kesempatan kepada siswa memperkenalkan keberagaman . estival budaya di mana siswa mempresentasikan adat istiadat daerah masing-masin. Pembentukan Ekskul seperti PIK Remaja dimana pada ekskul PIK Remaja siswa menjadi tutor sekaligus konselor sebaya bagi rekan-rekannya Membentuk Satgas TPPK Satgas TPPK adalah Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan pendidikan, dibentuk sesuai Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023, bertugas mencegah, menangani, dan memulihkan korban kekerasan . isik, psikis, seksual, perundungan, intolerans. di sekolah, dengan tim yang terdiri dari guru, komite sekolah/orang tua, dan dapat melibatkan tenaga kependidikan untuk menciptakan lingkungan belajar aman dan nyaman. Mengadakan Workshop anti Bulying Workshop anti-bullying adalah kegiatan interaktif yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran, membangun empati, dan memberikan keterampilan pencegahan perundungan di lingkungan sekolah. Indonesia, banyak sekolah telah melaksanakan workshop semacam ini, sering kali melibatkan siswa, guru, orang tua, dan narasumber eksternal seperti psikolog atau organisasi seperti Roots Indonesia. Workshop ini efektif untuk mencegah bullying, terutama yang berbasis diskriminasi budaya, sesuai dengan pendekatan multikultural yang menekankan toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman. Program Manajemen dan Budaya Sekolah Penyusunan kode etik dan tata tertib sekolah yang eksplisit memuat nilai anti-diskriminasi, anti-bullying, dan penghargaan keberagaman, disosialisasikan lewat upacara, poster, dan media digital sekolah. Pelatihan rutin bagi guru dan tenaga kependidikan tentang pendidikan multikultural, manajemen kelas inklusif, dan penanganan kasus intoleransi, agar seluruh warga sekolah menjadi role model sikap Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 5 No. 01 Januari-Maret 2026 Vol. 5 No. 1 Januari-Maret 2026 Hal. DOI: https://doi. org/10. 47233/jpst. KESIMPULAN Penelitian deskriptif kualitatif ini menyimpulkan bahwa pendidikan multikultural berperan strategis dalam mengatasi perilaku bullying di SMK Negeri 1 Bantaeng melalui penanaman nilai toleransi, empati, keadilan sosial, dan penghargaan terhadap keberagaman budaya, etnis, agama, serta status sosial siswa. Pendekatan ini terbukti efektif mengurangi tindakan bullying fisik, verbal, dan psikologis yang dipicu faktor lingkungan sebaya, keluarga, status sosial, serta penyalahgunaan teknologi, sebagaimana dibuktikan oleh studi Aan Ambarwati . Febrianti Hutagalung & Abdinur Batubara . , serta Irmasani Daulay dkk. di berbagai jenjang sekolah. Pendidikan multikultural tidak hanya membangun wacana di kalangan pendidik dan siswa, tetapi juga mencapai tujuan akhir membentuk karakter demokratis, humanis, dan pluralis yang mampu merespons onflik secara damai. Di SMK Negeri 1 Bantaeng, implementasi melalui integrasi kurikulum (PPKn. IPS, proyek buday. , kegiatan ekstrakurikuler . estival budaya. PIK Remaj. Satgas TPPK (Permendikbudristek No. 46/2. , workshop anti-bullying, serta budaya sekolah inklusif berhasil menciptakan lingkungan belajar aman dan harmonis. Hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi menunjukkan penurunan etnosentrisme serta peningkatan civic disposition siswa DAFTAR PUSTAKA