Jurnal Peradaban Masyarakat. Copyright A 2025 pada penulis Vol. No. Oktober 2025 Penyuluhan Anti-Bullying Dalam Upaya Pencegahan Perundungan Verbal. Nonverbal Dan Cyber Di SDN 1 Bugis Tua Fitria1. Artika2. Fitria Zulfa3. Lutfi Maulana4. Septian Eka Prahardik5 STAI Darussalam Kunir. Indonesia fitriacahyadi929@gmail. com1, artikadida6@gmail. com2, fitriazulfa16793@gmail. luthfimaulana213@gmail. com4, prahardik01@gmail. Abstract Bullying remains a critical issue in primary education, including at SDN 1 Bugis Tua in Indramayu Regency. Limited student understanding of the forms and impacts of bullying, coupled with the absence of structured prevention programs, prompted the implementation of an anti-bullying outreach initiative as a preventive effort to foster a safe and inclusive learning environment. This community engagement program aimed to enhance studentsAo awareness and comprehension of bullying, cultivate empathetic behaviour, and internalise values of mutual respect among peers. The program employed a Participatory Action Research (PAR) approach integrated with an experiential learning model, combining interactive lectures, group discussions, simulations, and a creative activity titled AuThe Eternal Tree PaintingAy as a symbolic commitment by students to abstain from bullying behaviours. The outcomes demonstrated significant improvement in studentsAo understanding of various forms of bullyingAiverbal, non-verbal, and cyberAias well as positive behavioural changes, including more respectful interactions, increased willingness to report incidents, and a noticeable decline in bullying cases within the school. Active collaboration between student volunteers and teachers further strengthened the programAos effectiveness by fostering a supportive and conducive learning atmosphere. Beyond raising collective awareness, the initiative also contributed to establishing a safer and more childfriendly school culture. This program is recommended for continuous replication in other schools, particularly in rural areas, to expand its positive impact on early bullying prevention. Keywords : Perundungan, pendidikan dasar, kesadaran siswa. Participatory Action Research (PAR), experiential learning, pencegahan bullying, budaya sekolah aman, kolaborasi gurumahasiswa. Abstrak Fenomena perundungan masih menjadi permasalahan krusial di lingkungan pendidikan dasar, termasuk di SDN 1 Bugis Tua. Kabupaten Indramayu. Minimnya pemahaman siswa mengenai bentuk dan dampak bullying, serta keterbatasan program pencegahan yang terstruktur, mendorong dilaksanakannya kegiatan penyuluhan anti-bullying sebagai upaya preventif untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa terkait bullying, membentuk perilaku empatik, serta menginternalisasi nilai saling menghormati antar peserta didik. Program dilaksanakan melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan metode interaktif berbasis experiential learning, yang memadukan pemaparan materi, diskusi kelompok, simulasi, dan aktivitas kreatif AuLukisan Pohon AbadiAy https://journal-stiehidayatullah. id/index. php/peradaban Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 sebagai simbol komitmen siswa untuk tidak melakukan perundungan. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap bentuk-bentuk bullying, baik verbal, nonverbal, maupun cyber, serta perubahan sikap yang tercermin dalam interaksi yang lebih sopan, kesediaan melapor, dan berkurangnya perilaku perundungan di sekolah. Kolaborasi antara mahasiswa KKN dan guru turut memperkuat efektivitas program melalui pendampingan aktif dan pembentukan suasana belajar yang kondusif. Dampak kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran kolektif siswa, tetapi juga mendorong terciptanya budaya sekolah yang lebih aman dan ramah anak. Kegiatan ini direkomendasikan untuk direplikasi secara berkelanjutan di sekolah lain, terutama di wilayah rural, guna memperluas dampak positif dalam pencegahan perundungan sejak dini. Kata Kunci: Bullying, primary education, student awareness. Participatory Action Research (PAR), experiential learning, bullying prevention, safe school culture, teacher-student INTRODUCTION Bullying telah menjadi salah satu isu krusial dalam dunia pendidikan, baik di tingkat global maupun nasional. Fenomena ini tidak hanya mengganggu kenyamanan belajar, tetapi juga berdampak serius terhadap perkembangan psikologis, sosial, dan akademik peserta didik. Penelitian dari Kandia . menyatakan bahwa kasus perundungan di sekolah dasar di Indonesia masih tinggi. Perundungan tidak hanya terjadi secara verbal atau fisik, tetapi juga merambah ke ranah digital melalui cyberbullying, seiring dengan meningkatnya akses anak terhadap teknologi digital dan media sosial. Di Kabupaten Indramayu, khususnya di SDN 1 Bugis Tua, fenomena bullying menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius. Hasil pengamatan awal dan diskusi bersama guru menunjukkan bahwa berbagai bentuk perundungan, baik verbal, nonverbal, maupun cyber, masih kerap terjadi di lingkungan sekolah. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak aman bagi peserta didik, tetapi juga menghambat terciptanya suasana belajar yang kondusif. Sayangnya, minimnya program intervensi yang berfokus pada pencegahan dan edukasi membuat masalah ini semakin sulit diatasi. Penyuluhan anti-bullying hadir sebagai salah satu upaya strategis yang dapat dilakukan sekolah untuk meningkatkan kesadaran siswa dan menanamkan pemahaman mendalam mengenai dampak perundungan. Melalui pendekatan edukatif yang sistematis dan kontekstual, sekolah diharapkan mampu membangun budaya positif yang mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan karakter peserta didik. Meskipun berbagai kebijakan nasional telah dikeluarkan untuk menekan angka perundungan di lingkungan pendidikan, implementasinya di sekolah dasar masih menghadapi tantangan yang signifikan. Banyak sekolah, termasuk SDN 1 Bugis Tua, belum memiliki program pencegahan yang terstruktur dan berkelanjutan untuk menangani perundungan, terutama yang mencakup ranah verbal, nonverbal, dan cyber. Minimnya pemahaman siswa mengenai bentuk-bentuk perundungan, dampak psikologis maupun sosial yang ditimbulkan, serta kurangnya keterampilan https://journal-stiehidayatullah. id/index. php/peradaban Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 guru dalam mengintegrasikan edukasi anti-bullying ke dalam proses pembelajaran, menjadikan masalah ini semakin kompleks. Selain itu, fenomena perundungan di era digital membawa tantangan baru. Cyberbullying, misalnya, kerap tidak terdeteksi secara langsung oleh pihak sekolah maupun orang tua karena terjadi di ruang maya, sehingga dampaknya seringkali lebih luas dan sulit dikendalikan. Kondisi ini diperparah oleh kurangnya literasi digital siswa di tingkat sekolah dasar, yang membuat mereka tidak sepenuhnya memahami risiko dan etika penggunaan media digital. Berdasarkan kondisi tersebut. SDN 1 Bugis Tua sebagai representasi sekolah dasar di daerah rural menghadapi urgensi untuk mengimplementasikan pendekatan preventif yang efektif dan kontekstual. Tanpa adanya intervensi yang tepat, praktik perundungan berpotensi mengakar dan memengaruhi iklim belajar secara negatif, sekaligus menghambat perkembangan karakter dan kompetensi siswa. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis permasalahan tersebut secara mendalam, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan spesifik sekolah dalam merancang dan mengimplementasikan program penyuluhan anti-bullying yang terarah dan Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas program penyuluhan anti-bullying sebagai upaya preventif dalam mengatasi perundungan di lingkungan sekolah dasar, khususnya di SDN 1 Bugis Tua. Kabupaten Indramayu. Tujuan ini berangkat dari urgensi perlunya pendekatan edukatif yang sederhana, kontekstual, dan aplikatif untuk membangun kesadaran kolektif di kalangan siswa, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya mengenai bahaya dan dampak perundungan, baik secara verbal, nonverbal, maupun Secara spesifik, penelitian ini memiliki beberapa tujuan utama. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai bullying, baik dari segi definisi, jenis-jenis, hingga dampak negatif yang ditimbulkan. Melalui penyuluhan ini, peserta didik diharapkan mampu mengenali perilaku bullying, baik verbal, nonverbal, maupun cyberbullying, sehingga memiliki kesadaran untuk menghindari serta mencegahnya. Kedua, penelitian ini bertujuan mengevaluasi perubahan sikap dan perilaku siswa pasca-pelaksanaan penyuluhan. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat diketahui apakah penyuluhan berdampak positif dalam membentuk perilaku yang lebih empatik, menghargai perbedaan, serta menciptakan budaya saling menghormati di lingkungan sekolah. Ketiga, penelitian ini bertujuan untuk menyusun model pendekatan penyuluhan yang praktis dan mudah direplikasi oleh sekolah dasar lainnya, baik di wilayah Kabupaten Indramayu maupun di daerah dengan karakteristik serupa. Model ini diharapkan dapat menjadi referensi implementasi program preventif yang terintegrasi dengan aktivitas pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar. Dengan tujuan-tujuan tersebut, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi ilmiah sekaligus praktik yang signifikan dalam upaya pencegahan perundungan di tingkat pendidikan dasar, sekaligus menjadi rujukan bagi pengembangan program serupa di berbagai konteks pendidikan lainnya. Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 Kajian literatur mengenai perundungan di lingkungan pendidikan dasar telah banyak dilakukan, baik pada konteks global maupun nasional. Beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Pratama & Ismail . menyatakan bahwa perundungan, yang sering disebut sebagai bullying, dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan verbal hingga tindakan fisik, dan saat ini menjadi perhatian serius dalam dunia pendidikan di tingkat global. Kajian literatur menunjukkan berbagai penelitian telah membahas upaya edukatif anti-bullying dalam konteks sekolah dasar. Misalnya, di Pekon Padang Dalom, penyuluhan interaktif berbentuk diskusi kelompok dan role-play terbukti memperkuat pemahaman siswa terhadap bentuk perundungan serta mendorong respons positif terhadap kasus bullying (Kurniawan et al. , 2. Di tempat lain, seperti Aceh Utara, model penyuluhan yang menggabungkan ceramah, kuis, dan permainan berhasil meningkatkan kesadaran siswa, guru, dan orang tua tentang pentingnya lingkungan belajar yang aman (Nur Aksa et al. , 2. Oleh karena itu, program ini secara unik mencoba mengisi celah ini dengan menerapkan inovasi simbolis dan kontekstual di lingkungan sekolah dasar di daerah Tidak sekadar menyampaikan informasi, pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan pengalaman bermakna dan menginternalisasi komitmen anti-bullying secara kolektif. Hal ini belum banyak dikaji dalam penelitian sebelumnya, terutama pada konteks sekolah dasar di wilayah pedesaan yang memiliki karakteristik sosial dan budaya tersendiri. Dengan demikian, program ini hadir sebagai respons terhadap kebutuhan pengembangan metode edukatif yang kreatif, partisipatif, dan relevan secara lokal, yang belum ditemukan dalam literatur sebelumnya. Penelitian ini menawarkan novelty yang kuat, baik dari sisi pendekatan maupun kontribusi ilmiah. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya hanya menekankan penyuluhan konvensional, penelitian ini mengintegrasikan metode edukasi berbasis pengalaman . xperiential learnin. melalui pembuatan lukisan pohon abadi sebagai media penguatan komitmen siswa. Dalam kegiatan ini, setiap helai daun pada pohon dilukis menggunakan cap jari siswa peserta penyuluhan, yang secara simbolis merepresentasikan janji dan komitmen mereka untuk tidak melakukan perundungan dalam bentuk apa pun, baik verbal, nonverbal, maupun cyber. Pendekatan inovatif ini tidak hanya memberikan pemahaman konseptual mengenai bahaya bullying, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang Metafora pohon abadi dengan dedaunan berbentuk cap jari mendorong partisipasi aktif siswa dan menanamkan rasa kepemilikan terhadap pesan antibullying yang mereka bangun bersama. Dengan demikian, penyuluhan ini bukan hanya bersifat informatif, tetapi juga transformasional, karena menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam proses pembelajaran. Selain inovasi dari segi metode, penelitian ini juga memberikan justifikasi ilmiah yang relevan. Di tengah keterbatasan sumber daya sekolah dasar, khususnya di daerah rural seperti Kabupaten Indramayu, model penyuluhan ini menawarkan pendekatan yang sederhana, terjangkau, dan mudah direplikasi. Media lukisan pohon abadi dapat digunakan kembali dalam berbagai kegiatan sekolah untuk memperkuat pesan positif dan mengingatkan siswa pada komitmen mereka terhadap https://journal-stiehidayatullah. id/index. php/peradaban Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 lingkungan sekolah yang aman dan inklusif. Lebih jauh, penelitian ini berkontribusi secara signifikan pada pengembangan literatur pendidikan, khususnya terkait strategi kreatif dalam membangun budaya anti-bullying di sekolah dasar. Hasil yang diharapkan bukan hanya berupa peningkatan kesadaran siswa terhadap bahaya bullying, tetapi juga terbentuknya budaya kolektif di sekolah yang menolak segala bentuk perundungan. Pendekatan ini juga memiliki potensi untuk diperluas pada jenjang pendidikan lain dengan penyesuaian konteks, sehingga memperluas dampak penelitian ini di berbagai setting Dengan menggabungkan penyuluhan edukatif dan pendekatan kreatif melalui simbolisasi pohon abadi, penelitian ini tidak hanya mengisi kesenjangan dalam literatur, tetapi juga menawarkan kontribusi praktis yang dapat diimplementasikan secara berkelanjutan oleh sekolah dasar di wilayah lain di Indonesia. RESEARCH METHOD Kegiatan utama berupa penyuluhan interaktif yang memadukan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan menggunakan metode kreatif berbasis pembelajaran pengalaman . xperiential learnin. Pendekatan Participatory Action Research (PAR) menekankan penggalian permasalahan secara langsung dari masyarakat, dengan dasar bahwa proses penelitian berangkat dari kebutuhan nyata yang dirasakan oleh komunitas tersebut (Siswadi & Syaifuddin, 2. sedangkan Materi yang disampaikan meliputi: Pengenalan dasar bullying, mencakup pengertian dan jenis-jenis bullying . erbal, nonverbal, dan cybe. Diskusi interaktif untuk membantu siswa mengenali dan mengidentifikasi perilaku bullying di lingkungan sekolah. Aktivitas kreatif AuLukisan Pohon AbadiAy, di mana setiap siswa memberikan cap jari sebagai simbol komitmen bersama untuk tidak melakukan Pendekatan kreatif ini dipilih agar pesan anti-bullying lebih mudah dipahami dan diingat oleh anak-anak, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki dan Berdasarkan Kindon dan Ottoson yang dikutip oleh Irawan . , metode ini mengintegrasikan proses penelitian dengan tindakan berkelanjutan yang dilaksanakan secara partisipatif bersama masyarakat. Pendekatan PAR dapat dimanfaatkan sebagai strategi untuk menawarkan alternatif solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh mitra. Kegiatan ini diharapkan mampu membuat inovasi baru sebagai pendekatan edukatif dalam pemberian pengajaran dengan teknik yang kreatif, diharap mampu mencegah perundungan dengan lebih baik. Diharap pula, masyarakat bisa mampu menyadari dampak-dampak dari perundungan tersebut. Pendekatan yang dirancang dalam kegiatan ini tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan secara satu arah, tetapi juga menekankan pada penciptaan pengalaman belajar yang bermakna, kontekstual, dan partisipatif bagi siswa. Metode yang digunakan menempatkan siswa sebagai subjek aktif yang dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran, mulai dari diskusi terbuka, simulasi, hingga kegiatan kreatif yang mengajak mereka untuk merefleksikan peran dan tanggung Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 jawab masing-masing dalam membangun lingkungan yang bebas dari perundungan. Strategi ini diharapkan dapat membentuk kesadaran kolektif sekaligus memperkuat nilai empati, toleransi, dan rasa saling menghormati di antara siswa. Lebih jauh, desain metode ini tidak hanya mengedepankan pendekatan preventif, tetapi juga mengintegrasikan unsur pendidikan karakter dan penguatan budaya positif di sekolah, sehingga hasilnya dapat bersifat lebih berkelanjutan dan Kegiatan ini juga diharapkan menjadi model pembelajaran inovatif yang dapat direplikasi di sekolah dasar lainnya, khususnya di wilayah pedesaan atau daerah dengan karakteristik sosial budaya yang serupa. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mengintegrasikan kegiatan edukatif berbasis pengabdian dengan pendekatan partisipatif dan kontekstual. Program ini dilaksanakan di SDN 1 Bugis Tua, yang terletak di Desa Bugis Tua. Kecamatan Anjatan. Kabupaten Indramayu Ai sebuah wilayah rural yang masih memegang erat nilai-nilai tradisional namun mulai terpapar perkembangan informasi dan teknologi. SDN 1 Bugis Tua menjadi mitra utama kegiatan ini, dengan siswa yang berasal dari berbagai jenjang kelas, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Sebagian besar siswa berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, mayoritas bekerja sebagai petani dan nelayan. Kondisi sosial ini menimbulkan tantangan dalam membangun lingkungan belajar yang sehat, aman, dan bebas perundungan. Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada Selasa, 5 Agustus 2025, mulai pukul 00 hingga 10. 30 WIB, bertempat di lapangan sekolah. Seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 dikumpulkan di lapangan untuk mengikuti rangkaian kegiatan. Mahasiswa KKN bertindak sebagai fasilitator utama sekaligus pendamping, dengan beberapa anggota tim membantu menjaga keteraturan dan kenyamanan suasana selama pelaksanaan. Selain itu, evaluasi berkelanjutan terhadap perubahan perilaku siswa pasca kegiatan ini menjadi langkah penting dalam merumuskan rekomendasi praktis untuk pengembangan strategi edukasi anti-bullying di masa mendatang, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata terhadap terciptanya ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan ramah anak. RESULT AND DISCUSSION Hasil analisis menggunakan metode Participatory Action Research (PAR) menunjukkan bahwa pendekatan penyuluhan interaktif yang dilaksanakan di SDN 1 Bugis Tua mampu meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa mengenai perundungan, baik verbal, nonverbal, maupun cyber. Keikutsertaan seluruh siswa dari kelas 1 hingga 6 dalam diskusi, sesi tanya jawab, dan kegiatan kreatif AuPohon AbadiAy memberikan pengalaman belajar kolaboratif yang memperkuat pesan antibullying secara emosional dan kognitif. Dibandingkan dengan penelitian serupa oleh Kartika et al. yang menyoroti efektivitas metode ceramah dan simulasi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi media kreatif dan aktivitas simbolik mampu menciptakan pendekatan yang lebih kontekstual dan sesuai dengan karakteristik siswa di wilayah rural. Maka hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa penggunaan pendekatan experiental learning tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual, tetapi juga https://journal-stiehidayatullah. id/index. php/peradaban Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 membentuk perilaku baru yang lebih positif, tercermin dari perubahan interaksi verbal siswa yang menjadi lebih sopan dan berkurangnya perilaku perundungan di lingkungan sekolah. Sebagai contoh aplikatif, studi terbaru tentang eksperimen Augamified experiential learningAy oleh Kong . menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang melibatkan pilihan siswa, kerja tim, dan kompetisi berbasis pengalaman nyata secara signifikan meningkatkan motivasi intrinsik, keterlibatan di kelas, dan kesejahteraan akademik peserta Hasil observasi menunjukkan bahwa penyuluhan anti-bullying yang dilakukan dengan pendekatan interaktif dan berbasis pengalaman nyataAiseperti permainan edukatif dan studi kasusAiefektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa. Hal ini didukung oleh hasil penelitian David & Weinstein . , yang membuktikan bahwa intervensi gamified experiential learningAidengan karakteristik seperti memberikan pilihan kepada siswa, kerja tim kolaboratif, dan kompetisi sehatAiberhasil meningkatkan motivasi intrinsik, engagement di ruang kelas, dan kesejahteraan akademik peserta. Pendekatan partisipatif ini semakin relevan ketika diterapkan di lingkungan sekolah dasar seperti SDN 1 Bugis Tua, sebagai strategi edukatif yang efektif untuk menginternalisasi perilaku anti-bullying pada anak-anak. Program ini juga memberikan dampak positif terhadap kesadaran siswa mengenai berbagai bentuk bullying, seperti bullying verbal, nonverbal, dan Sebelum penyuluhan, banyak siswa yang belum memahami bahwa ejekan atau candaan berlebihan termasuk dalam kategori bullying. Namun, setelah kegiatan berlangsung, siswa mulai mampu mengidentifikasi tindakan yang termasuk bullying dan cara melaporkannya kepada guru atau pihak sekolah. Selain itu, kolaborasi antara mahasiswa KKN dan guru sekolah menjadi faktor pendukung keberhasilan kegiatan ini. Dukungan guru dalam menjaga kondusifitas serta memberikan contoh perilaku positif membantu siswa lebih mudah memahami Temuan ini sejalan dengan penelitian Begaliyeva et al. yang menunjukkan bahwa kemitraan antara guru dan dosen perguruan tinggi memperkaya pengalaman praktis dan pengetahuan, serta mendukung guru dalam pelaksanaan intervensi berbasis sekolahAimembangun kultur pembelajaran kolaboratif yang lebih kuat dan berdampak positif terhadap efektivitas program. Sebelum pelaksanaan kegiatan sosialisasi, sebagian besar siswa masih menunjukkan kebiasaan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang kurang santun, yang dalam beberapa kasus dapat dikategorikan sebagai bentuk perilaku bullying verbal. Kondisi tersebut menjadi dasar dilaksanakannya kegiatan sosialisasi mengenai bullying. Setelah kegiatan dilaksanakan, terlihat adanya perubahan positif pada perilaku siswa. Para siswa mulai memahami konsep penggunaan bahasa yang baik dan sopan serta mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk perilaku bullying di lingkungan sekolah. Selain itu, siswa menunjukkan peningkatan keberanian dalam menyuarakan pendapat terkait isu bullying, menegur teman yang bersikap kasar, serta menolak ajakan yang berpotensi menimbulkan perilaku tidak terpuji. Penyuluhan anti-bullying di SDN 1 Bugis Tua dilaksanakan sebagai bentuk edukasi preventif untuk membangun kesadaran siswa terkait bahaya perundungan dalam berbagai bentuknya, termasuk verbal, nonverbal, dan cyber. Kegiatan ini dilandasi pemahaman bahwa lingkungan sekolah harus menjadi ruang aman dan Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 nyaman bagi seluruh peserta didik. Penyuluhan dimulai dengan pemaparan materi yang disampaikan menggunakan metode interaktif agar siswa dapat memahami konsep bullying secara komprehensif. Pada pelaksanaannya, siswa diberikan contoh konkret mengenai perilaku bullying yang sering ditemui di lingkungan sekolah, seperti ejekan verbal, pengucilan atau intimidasi secara nonverbal, hingga bentuk cyberbullying melalui media sosial. Materi ini disampaikan secara sederhana, disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar. Kegiatan juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab, role play, dan diskusi kelompok yang bertujuan mengasah kemampuan siswa dalam mengidentifikasi dan menolak perilaku perundungan. Dukungan dari guru dan tim KKN turut memperkuat keberhasilan penyuluhan ini dengan memastikan setiap siswa mendapatkan perhatian yang proporsional selama kegiatan berlangsung. Gambar 1 : Partisipasi Anggota KKN pada Pohon Abadi Cap Janji AntiBullying Hasil penyuluhan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran siswa terhadap dampak negatif bullying. Hal ini terlihat dari keterlibatan aktif siswa dalam diskusi, munculnya pertanyaan kritis, serta komitmen mereka untuk tidak melakukan perundungan di sekolah. Kegiatan ini menjadi langkah awal yang efektif dalam membentuk budaya anti-bullying dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan kondusif. Kegiatan ini dirancang dengan pendekatan edukatif-interaktif, di mana siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diajak untuk aktif berpartisipasi melalui diskusi kelompok, simulasi kasus, dan tanya jawab. Dilakukan dengan metode Experiential Learning yang mana proses belajar mengajar yang tertuju pada peserta didik guna membentuk kognitif dan kemahiran di pengalaman secara terarah pada realitasnya (Asmara, 2. Dengan metode ini, penyampaian materi menjadi lebih kontekstual, relevan, dan mudah dipahami oleh siswa. https://journal-stiehidayatullah. id/index. php/peradaban Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 Gambar 2 : Partisipasi siswa pada Pohon Abadi Cap Anti-bullying Dalam literatur pendidikan dasar terbaru, bullying di sekolah anak dipahami dalam tiga ranah utama: verbal, nonverbal . , dan cyberbullying. Agustin et . menjelaskan bahwa perundungan verbal mencakup ejekan, hinaan, ataupun sindiran yang dapat merusak harga diri siswa, sementara perundungan nonverbal meliputi pengucilan sosial atau gestur merendahkan yang sulit terdeteksi namun sangat menyakitkan secara emosional Jurnal Unimed. Sementara itu, walau belum termuat secara eksplisit dalam riset lokal, tren global menunjukkan bahwa cyberbullying atau perundungan melalui media digital menjadi makin marak seiring dengan penetrasi smartphone dan media sosial di kalangan siswa muda. Pendekatan ini selaras dengan tujuan penyuluhan anti-bullying yang efektif, yaitu membekali siswa dengan kemampuan mengenali dan menanggapi berbagai bentuk perundungan baik yang tersurat maupun tersiratAidengan cara yang kontekstual dan Selain pemaparan teori, siswa juga diberikan kesempatan untuk mengidentifikasi tindakan preventif yang dapat dilakukan, seperti melapor kepada guru, membentuk kelompok dukungan teman sebaya, dan menggunakan media digital secara bijak. Pendekatan ini bertujuan menanamkan empati, rasa tanggung jawab, serta kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa siswa lebih memahami konsep anti-bullying serta menunjukkan sikap yang lebih terbuka dalam melaporkan atau mengungkapkan pengalaman terkait perundungan. Temuan dari kegiatan penyuluhan anti-bullying di SDN 1 Bugis Tua memiliki implikasi sosial dan etis yang signifikan, khususnya dalam konteks pendidikan dasar di wilayah rural. Secara sosial, kegiatan ini mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih aman, inklusif, dan kondusif bagi perkembangan karakter anak. Partisipasi aktif siswa, guru, dan pihak sekolah menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang partisipatif mampu meningkatkan kesadaran kolektif untuk mencegah dan menanggulangi perilaku perundungan. Hal ini sejalan dengan prinsip keadilan sosial dan perlindungan hak anak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014, yang menekankan pentingnya perlindungan anak dari kekerasan fisik maupun psikologis, termasuk perundungan. Secara etis, pelaksanaan penyuluhan ini juga menegaskan pentingnya Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 pendekatan pendidikan yang menghargai nilai-nilai lokal dan budaya masyarakat Mengintegrasikan simbol-simbol budaya lokal dalam metode penyampaian, seperti kegiatan kreatif AuPohon AbadiAy, tidak hanya memperkuat pesan moral tetapi juga memastikan bahwa penyuluhan ini relevan dengan konteks sosial peserta didik. Pendekatan ini menghindarkan terjadinya bias budaya dan menempatkan anak sebagai subjek aktif, bukan objek pasif, dalam proses Meski demikian, kegiatan ini masih memiliki keterbatasan, terutama dalam aspek pengukuran hasil jangka panjang. Tidak adanya evaluasi lanjutan membuat sulit mengetahui sejauh mana perubahan perilaku siswa setelah sosialisasi dilakukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindak lanjut, seperti monitoring berkala dan penguatan materi melalui kegiatan lanjutan agar dampaknya lebih maksimal. Lebih jauh, keberhasilan kegiatan ini memberikan dorongan moral bagi sekolah dan masyarakat untuk melanjutkan program serupa secara berkelanjutan. Namun, secara etis, penting pula untuk memastikan adanya keberlanjutan upaya monitoring dan evaluasi agar dampak positif penyuluhan ini tidak bersifat sementara. Dengan demikian, implikasi sosial dan etis dari kegiatan ini tidak hanya membentuk kesadaran kolektif, tetapi juga mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang mendukung pembentukan karakter anak yang berintegritas, berempati, dan bebas dari perilaku perundungan. CONCLUSION Kesimpulan dari kegiatan penyuluhan anti-bullying di SDN 1 Bugis Tua menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan metode penyuluhan interaktif dan berbasis pengalaman konkret terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa terhadap berbagai bentuk perundungan, baik verbal, nonverbal, maupun cyber. Keikutsertaan seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 dalam diskusi, simulasi, permainan edukatif, serta kegiatan kreatif seperti AuPohon AbadiAy menciptakan suasana pembelajaran kolaboratif yang tidak hanya memperkuat pemahaman kognitif, tetapi juga menginternalisasi nilai empati, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan. Hasil observasi menunjukkan adanya perubahan perilaku siswa, ditandai dengan meningkatnya kesopanan dalam komunikasi sehari-hari, kesediaan untuk melapor jika melihat atau mengalami perundungan, serta penurunan perilaku intimidatif di lingkungan sekolah. Kegiatan ini juga memberikan manfaat signifikan bagi para guru dan pihak Kolaborasi yang terjalin antara mahasiswa KKN dan tenaga pendidik memperkuat efektivitas penyuluhan, di mana guru berperan aktif dalam memfasilitasi kegiatan, menjaga kondusivitas kelas, serta memberikan contoh perilaku positif yang menjadi teladan bagi siswa. Pendekatan partisipatif ini menunjukkan bahwa keberhasilan program edukatif di sekolah dasar tidak hanya bergantung pada penyampaian materi, tetapi juga pada keterlibatan aktif semua pemangku kepentingan, termasuk guru, siswa, dan fasilitator. Meski demikian, kegiatan ini memiliki keterbatasan pada aspek evaluasi jangka panjang karena tidak dilakukan monitoring lanjutan untuk menilai keberlanjutan dampak program. Oleh karena itu, direkomendasikan agar pihak https://journal-stiehidayatullah. id/index. php/peradaban Jurnal Peradaban Masyarakat. Vol. No. Oktober 2025 ISSN 2828-1349 sekolah bersama masyarakat setempat mengembangkan program tindak lanjut, seperti pelatihan rutin, pembentukan kelompok duta anti-bullying, atau penyusunan kebijakan sekolah yang lebih tegas terkait penanganan perundungan. Replikasi program ini juga sangat disarankan untuk diterapkan di sekolah lain, terutama di wilayah rural dengan karakteristik serupa, agar manfaatnya dapat dirasakan lebih Dengan demikian, penyuluhan anti-bullying di SDN 1 Bugis Tua tidak hanya berfungsi sebagai intervensi preventif, tetapi juga menjadi model edukasi partisipatif yang relevan, kontekstual, dan berkelanjutan dalam mendukung terciptanya ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari perilaku perundungan. REFERENCES