Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 152-165 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Pengembangan Modul Bimbingan Sosial untuk Meningkatkan Perilaku Asertif pada Korban Bullying di Sekolah Menengah Kejuruan this is an open access article distributed under the creative commons attribution license cc-by-nc-4. 0 A2020 by author . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. 0/ ). (Received: Oktober-2024. Reviewed: November-2024. Accepted: November-2024. Available online: Desember-2024. Published: Desember-2. Nur Indah Sari11*Abdullah Sinring2Sahril Buchori3 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar Email: Is6575626@gmail. Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar Email: abdullah. sinring@unm. Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar, email: sahril. buchori@unm. Abstract. The purpose of this research is to find out how feasible this module is for smk garudaya students. To producea social guidance module to improve assertive behavior in victims of bullying that is valid and practical as a classical guidance service for students. The level of validity and practicality of the social guidance module to improve assertive behavior in victims of bullying after going through the validity test was declared valid, based on the results of the material expert validation test with the results of 85% which means that it is in accordance with the needs of students, media experts at 87% which means that in terms of text graphics it is very good and for the practicality of the media after the practicality trial was declared practical with a result of 94%, as well as in small group trials by 10 students obtained results with very valid criteria so that the social guidance module to improve assertive behavior in victims of bullying has been feasible to be widely tested. Keywords: Social Guidance Module. Bullying. Assertiveness Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa layak modul ini untuk siswa SMK garudaya. Untuk menghasilkan modul bimbingan sosial untuk meningkatkan perilaku asertif pada korban bullying yang valid dan praktis sebagai layanan bimbingan klasikal bagi siswa. Tingkat validitas dan kepraktisan dari modul bimbingan sosial untuk meningkatkan perilaku asertif pada korban bullying setelah melalui uji validitas dinyatakan telah valid, berdasarkan hasil uji validasi ahli materi dengan hasil 85% yang berarti sudah sesuai dengan kebutuhan siswa, ahli media sebesar 87% yang berarti dari segi grafis teks sudah sangat baik dan untuk kepraktisan dari media setelah di uji coba kepraktisan dinyatakan praktis dengan hasil sebesar 94%, serta pada uji coba kelompok kecil oleh 10 orang siswa diperoleh hasil dengan kriteria sangat valid sehingga modul bimbingan sosial untuk meningkatkan perilaku asertif pada korban bullying telah layak Kata Kunci: Modul Bimbingan Sosial. Bullying. Asertif. 152 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 152-165 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan proses belajar mengajar yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku dan selalu menjadi fokus perhatian dan bahkan seringkali menjadi sasaran ketidakpuasan karena pendidikan menjadi kepentingan semua orang. Hal ini sesuai dengan Undang-undang nomer 20 tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional Bab i pasal yang menyatakan bahwa AuPendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawabAy. Fenomena yang terjadi saat ini adalah perilaku remaja atau siswa yang sudah menganggap biasa perilaku perundungan atau bullying. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku adalah lingkungan sekolah. Sekolah adalah tempat dimana proses belajar mengajar, tempat para siswa mengembangkan bermacam-macam potensi yang mereka miliki. Sekolah memiliki pengaruh yang cukup besar pada perkembangan peserta didik. Tetapi ada salah satu fenomena yang menyebabkan siswa tidak nyaman di sekolah yaitu adanya perilaku bullying. Menurut Dewi . dan Aswat et al. , . AuBullying merupakan suatu tindak kekerasan, menyakiti perasaan orang lain, menyimpang baik secara verbal, fisik maupun Pendapat lain juga mengatakan bahwa bullying adalah perilaku agresif atau negatif yang dapat merusak mental seseorang rusak, dan ketika dilakukan berulang-ulang maka akan membuat korban bullying trauma, cemas, dan membuat ketidaknyamanan (Nasution et al. , 2. Di Indonesia sendiri hal ini menjadi situasi yang sangat menghawatirkan dimana pada tahun 2018 saja. Indonesia mendapatkan peringkat sebagai negara dengan jumlah kasus bullying tertinggi kedua di dunia setelah Jepang, dan Amerika Serikat serta berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kasus bullying di sekolah mengalami peningkatan setiap tahun dan mencatat kasus bullying menduduki posisi kelima tertinggi dari 78 negara yang paling banyak mengalami bullying. KPAI sendiri mencatat dalam kurun waktu 9 tahun dari 2011 sampai 2019 terdapat 2. 479 laporan adanya pengaduan perundungan baik di pendidikan ataupun media sosial dan data tersebut terus meningkat dari tahun ketahun (KPAI, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK dan wali kelas di SMK Garudaya pada tanggal 18 maret 2023 bahwa terdapat tindak bullying yang dilakukan oleh beberapa siswa. Dalam kasus ini bullying yang dimaksud adalah bullying verbal, seperti yang dialami oleh siswa kelas XI. B OTKP (Otomoatisasi dan Tata Kelola Perkantora. yang menjadi korban oleh teman kelasnya. Guru BK di SMK Garudaya mengungkapkan bahwa hal itu terjadi dikarenakan pelaku sering mengancam, menganggu dan mengolok-olok dengan bahasa yang tidak pantas, serta perlakuan sinis dengan menjulurkan lidah kepada korban dan hal itu dilakukan secara terus menerus. Guru BK di SMK Garudaya juga menegaskan bahwa siswa yang menjadi korban bullying dikelas OTKP (Otomoatisasi dan Tata Kelola Perkantora. rata-rata kurang asertif karena apabila di bully oleh temannya, korban hanya terdiam, takut, cemas, tidak mampu mempertahankan hak-hak pribadi dan keiinginannya, serta pendapatnya terhadap pelaku agar hendak menghentikan tindakan bullying tersebut. Perlu diketahui bahwa asertif adalah kemampuan untuk menyampaikan apa yang di inginkan, dirasakan dan dipikirkan kepada orang lain dengan tegas dan lugas dan dengan memiliki sikap asertif ini maka akan mudah bagi individu untuk mengekspresikan diri dan mempertahankan hak-hak pribadi dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi tanpa ada rasa cemas untuk 153 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 152-165 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. menghadapi hal-hal yang menghambat individu untuk keluar dari zona buruk yang di alami. Sitasari & Rozali . mengungkapkan bahwa perlu adanya upaya penanganan dan bantuan terhadap individu yang megalami bullying untuk meningkatkan perilaku asertif agar hidupnya jauh dari tekanan, kekerasan, dan penindasan. Adapun penanganan bullying bagi siswa yang kurang asertif yaitu dengan layanan bimbingan konseling. Dan layanan tersebut, terdapat media yang salah satunya adalah media dalam bentuk modul bimbingan sosial. Karim & Salehudin . menjelaskan bahwa bimbingan sosial merupakan suatu bimbingan atau bantuan dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah sosial seperti pergaulan, penyelesaian masalah konflik, penyesuaian diri dan sebagainya. Seperti yang telah dinyatakan oleh Isitiqomah . bahwa beberapa hasil penelitian yang membahas mengenai strategi pembelajaran menggunakan modul bimbingan sosial yang menunjukkan bahwa adanya hasil yang positif untuk membantu siswa dalam meningkatkan perilaku asertif siswa. Salah satu teori yang dapat digunakan untuk mendukung pendekatan bimbingan sosial dalam meningkatkan perilaku asertif pada korban bullying adalah Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory (Agustini et al. , 2. Teori ini dikemukakan oleh Albert Bandura, menurutnya bahwa pembelajaran sosial, perilaku individu dipengaruhi oleh interaksi antara faktor-faktor lingkungan, kognitif, dan perilaku (Ruwaida, 2. Bandura menekankan peran penting dari proses observasi dan model dalam pembentukan perilaku. Dalam konteks bullying (Sumianto et al. , 2. , korban bullying mungkin memiliki pengalaman traumatis yang mengganggu rasa percaya diri dan kemampuan untuk berinteraksi secara asertif dengan orang lain (Salau et al. , 2. Berdasarkan masukan dari dosen penguji, penelitian ini yang awalnya difokuskan pada pengembangan modul bimbingan sosial, perlu disesuaikan agar lebih berfokus pada pengembangan layanan informasi sebagai bentuk bimbingan sosial untuk meningkatkan perilaku asertif pada korban bullying. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan layanan informasi bimbingan sosial yang dapat digunakan oleh guru BK di SMK Garudaya untuk membantu siswa korban bullying meningkatkan perilaku asertif mereka. Dengan layanan informasi yang terstruktur, diharapkan dapat membantu siswa mengenal kelemahan diri mereka, merangsang pemikiran yang lebih positif, dan menjadi acuan bagi guru BK dalam memberikan bimbingan sosial di sekolah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan desain penelitian dan pengembangan (Researchand Develompmen. Metode R&D adalah metode penelitian yang menghasilkan inovasi baik suatu produk baru atau mengembangkan produk yang sudah ada untuk lebih menarik yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dari pokok bahasan tertentu (Muqdamien et al. , 2. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengembangkan produk atau media modul dalam meningkatkan perilaku asertif pada korban bullying di SMK Garudaya melalui modul bimbingan sosial, pelatihan keterampilan empati dengan teknik sosidrama untuk mencegah terjadinya bullying. 154 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 152-165 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Gambar 1. Prosedur Pengembangan Berikut prosedur penelitian pengembangan Modul B-SOL(Bimbingan sosia. untuk meningkatkan perilaku asertif pada korban bullying di SMK Garudaya sebagai berikut: Pada nalisis Kebutuhan. Peneliti melakukan studi kebutuhan dengan mewawancarai guru BK dan menyebarkan kuesioner tertutup kepada beberapa siswa kelas XI untuk menilai kebutuhan siswa terhadap produk yang sedang dikembangkan. Selain itu pada perencanaan Pengembangan. berdasarkan data dari wawancara dan kuesioner, peneliti merencanakan untuk membuat draft awal dengan mencari referensi materi dan desain produk yang sedang dikembangkan. Serta pada pengembangan produk. Peneliti telah menjalankan rencana yang sudah disiapkan pada fase perencanaan, seperti menetapkan sumber referensi dan merencanakan produk media yang akan dikembangkan. Pada uji validitas Pengujian oleh para ahli melibatkan para pakar dalam bidang bimbingan dan konseling serta para ahli dalam bidang media. Hasil uji awal atau validasi ahli akan digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki produk awal. Selain itu pada revisi produk tahap 1 perubahan pada revisi I ini didasarkan pada data yang diperoleh dari informasi pengujian oleh para pakar. Data yang diperoleh dari ahli akan diselidiki dan hasil pengujian akan menjadi dasar utama untuk melakukan peningkatan. Dan terakhir pada uji coba lapangan. Pada Tahap Uji kelompok kecil ini dipilih karena bisa memberikan gambaran awal tentang apakah layanan informasi yang dikembangkan sudah efektif dan sesuai. Hasil dari uji kelompok kecil ini sudah cukup untuk melihat kekurangan dan melakukan perbaikan sebelum digunakan dalam skala yang lebih besar. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi atau mengumpulkan data. Angket. Alat pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data berisi tanggapan dan penilaian peserta didik SMK Garudaya terhadap media layanan informasi bimbingan sosial yang dikembangkan. Bentuk angket yang digunakan peneliti adalah gabungan bentuk angket terbuka dengan pilhan jawaban AuyaAy dan AutidakAy. Data yang diperoleh dari angket tersebut merupakan data kuantitatif. Dalam penegmbangan modul B-SOL( Bimbingan Sosia. teknik analisis data yang digunakan yakni kualitatif dan kuantitif untuk mengolah data yang dikumpulkan. Analisis Data Kualtitaif 155 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 152-165 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Analisis data kualitatif ini digunakan untuk memproses data yang diperoleh dari review ahli media dan ahli materi bimbingan dan konseling. Teknik analisis data ini mengelompokkan informasi dari data kualitatif, yang meliputi masukan, tanggapan, kritik, dan saran perbaikan hasil dari validasi oleh ahli media dan materi. Hasil analisis data ini kemudian digunakan untuk merevisi produk media media layanan informasi bimbingan sosial untuk meningkatkan perilaku asertif pada korban bullying. Analisis Data Kuantitatif Analisis data kuantitif digunakan untuk mempermudah interpretasi data. Validasi media layanan dilakukan dengan menggunakan rumus berikut: Keterangan : P : Persentase e x : Jumlah skor yang diperoleh e y : Jumlah skor maksimal Setelah diperoleh presentase dengan rumus diatas, peneliti lalu menafsirkan hasil persentase tersebut kedalam empat kriteria kelayakan, yaitu sangat valid, valid, kurang valid, dan tidak valid. Berdasarkan rumus di atas, maka dalam penelitian ini akan menggunakan kriteria kelayakan sebagai berikut : Tabel 1. Kriteria Kelayakan Tingkat pencapaian Kualifikasi Keterangan 81%-100% Sangat Baik Sangat Valid 61%-80% Baik Valid 41%-60% Cukup Kurang Valid 21%-40% Kurang Tidak Valid 156 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume IV Nomor i Desember 2024. Pages 152-165 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: : 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Uji Coba Produk Untuk menentukan keperaktisan media layanan, langkah-langkah berikut dapat digunakan: Penskoran Uji Kepraktisan Skor diberikan berdasarkan kriteria berikut untuk setiap jawaban terhadap pertanyaan: Tabel. 2 Penskoran Uji Kepraktisan Nilai Rata-Rata Kriteria 4 (Empa. Sangat Tinggi 3 (Tig. Tinggi 2 (Du. Cukup 1 (Sat. Sangat Kurang Kategori// Kriteria Kepraktisan Media Tabel. 3 Kriteria Kepratisan Media Nilai Rata-Rata Kriteria 80%