JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Filsafat Pemikiran Klasik Barat: Membangun Karakter dan Pengetahuan melalui Pemikiran Plato Bunga Apralia1. Paija Misladina Hasibuan2. Herlini Puspika Sari3 Universitas Islam Negri Sultan Syarif Kasim. Riau. Indonesia Email: 12310122606@student. uin-suska. ABSTRACT This article examines classical Western philosophy, particularly Plato, in the context of character development and human knowledge. Plato emphasizes education as a process of shaping the soul harmoniously between reason, morality, and desire, and achieving true knowledge . through philosophical reflection and dialectics. Education, according to Plato, is not merely the transfer of knowledge but a means to guide learners to recognize the values of truth, goodness, and justice, thereby forming morally virtuous, wise, and knowledgeable individuals. This study employs a library research method with a qualitative descriptive-philosophical approach to explore PlatoAos concepts of education, character, and morality, and their relevance to contemporary educational challenges. The findings indicate that integrating PlatoAos philosophy can strengthen character formation and intellectual capacity in modern learners. Keywords: Plato. Character Education. Western Philosophy. Epistemology. Soul Formation ABSTRAK Artikel ini membahas pemikiran filsafat klasik Barat, khususnya Plato, dalam konteks pembangunan karakter dan pengetahuan manusia. Plato menekankan pendidikan sebagai proses pembentukan jiwa yang harmonis antara akal, moral, dan nafsu, serta pencapaian pengetahuan sejati . melalui refleksi filosofis dan dialektika. Pendidikan, menurut Plato, bukan sekadar transfer ilmu, tetapi sarana membimbing peserta didik mengenali nilai kebenaran, kebaikan, dan keadilan, sehingga mampu membentuk individu yang bermoral, bijaksana, dan berpengetahuan. Kajian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif-filosofis untuk menelaah konsep pendidikan, karakter, dan moral dalam pemikiran Plato, serta relevansinya terhadap tantangan pendidikan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pemikiran Plato dapat memperkuat pembentukan karakter dan kapasitas intelektual peserta didik di era kontemporer. Kata Kunci: Plato. Pendidikan Karakter. Filsafat Barat. Epistemologi. Pembentukan Jiwa *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. PENDAHULUAN Di era modern dengan teknologi berkembang pesat saat ini membuat sistem pendidikan harus menghadapi berbagai tantangan yang semakin rumit (Rahmadani et al. Salah satu tantangan yang cukup berpengaruh adalah menjaga dan membentuk karakter di generasi sekarang (Nurhabibah et al. , 2. Pendidikan karakter memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda agar peserta didik tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga bisa bertindak dengan bijaksana dan berperilaku baik di kehidupan sehari-hari (Gunawan, 2. Jadi, tantangan dalam menyeimbangkan antara penguasaan pengetahuan intelektual dan pembentukan karakter moral bisa berpengaruh Sistem pendidikan sekarang cenderung berfokus pada aspek kognitif sedangkan aspek karakter mulai terpinggirkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis karakter memerlukan yang namanya pendekatan filosofis. Filsafat sendiri merupakan salah satu cabang ilmu yang memiliki akar kuat dalam sejarah peradaban manusia dan dipandang sebagai upaya paling tua untuk memahami tentang keberadaan makhluk hidup serta alam semesta (Endi rochadI, 2. Dalam hal ini, filsafat ilmu memiliki peran penting sebagai dasar dan pondasi untuk membentuk karakter pendidikan yang kokoh (Sari & Munir, 2. Filsafat ilmu membantu peserta didik memahami hakikat pegetahuan, kebenaran dan nilai, sehingga mereka bisa meletakkan ilmu sebagai sarana untuk membangun peradaban yang Dengan demikian, pendidikan yang berlandaskan filsafat ilmu akan menghasilkan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter moral yang kuat. Salah satu tokoh filsafat ilmu yang berasal dari Barat yaitu filsuf Plato, memiliki pengaruh besar dalam pembangunan karakter dan pengetahuan. Plato merupakan anak didik paling terkemuka dari Socrates, ia menyerap ajaran gurunya dan kemudian mengembangkan sistem filsafatnya sendiri secara utuh (Tang, 2. Dalam karya-karya beliau, ia menekankan pentingnya kekuatan moral dan jiwa, dengan persepsi bahwa pendidikan moral sejatinya merupakan pendidikan jiwa. Bagi Plato, pendidikan tidak hanya sebatas proses dalam mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga upaya mengarahkan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik agar dapat digunakan dengan tepat (Agustiani et al. , 2. Jadi. Plato memandang pendidikan sebagai proses pembentukan jiwa menuju kebenaran dan kebajikan, bukan hanya sekedar transfer ilmu. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Sebagai salah satu filsuf besar dunia. Plato memberi perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan dan menegaskan bahwa setiap bagian proses pendidikan harus dirancang dengan perencanaan yang matang agar tujuan yang ingin dicapai dapat terlaksana secara optimal. Menurut Plato, apabila peserta didik dibimbing untuk tumbuh menjadi individu yang berbudi baik serta mampu memahami dan mencapai kebenaran, maka hasilnya akan melahirkan seseorang manusia yang bisa memberi manfaat bagi masyarakat serta negara (Enjang & Supandi, 2. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Leni Adrianti menunjukkan bahwa konsep suatu negara yang ideal menurut Plato berlandaskan pada pentingnya pendidikan dan nilai-nilai kebajikan yang dijadikan sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan serta kebahagiaan bagi seluruh warga negara (Alkhadafi, 2. Membangun pendidikan karakter dan pengetahuan melalui sudut pandang Plato bisa menjadi solusi untuk menghadapi tantangan pendidikan sekarang, karena pemikiran Plato sendiri menempatkan pendidikan sebagai pembentukan jiwa dan tidak hanya sekedar transfer ilmu. Fokus utama penelitian ini terletak pada bagaimana pemikiran klasik Barat, khususnya pandangan Plato mengenai pendidikan dan pembentukan moral, dapat menjadi pondasi yang kuat bagi penguatan karakter dan pengetahuan manusia di era modern. Pemikiran Plato memiliki relevansi kuat dalam mengatasi tantangan pendidikan masa kini karena ia menyediakan dasar filosofis yang sangat dibutuhkan pada saat sistem pendidikan modern bergulat dengan berbagai persoalan mendasar, seperti merosotnya karakter peserta didik, melemahnya moralitas, serta kurangnya kemampuan untuk berpikir kritis dan mendalam. Dengan kerangka filosofis tersebut. Plato membantu mengarahkan pendidikan kembali pada tujuan utamanya: pembentukan manusia yang berintegritas, bernalar sehat, dan mampu menghadapi kompleksitas realitas masa kini. Kajian pustaka . ibrary researc. diperlukan untuk memahami kembali konsep dasar pengetahuan sejati dan pembentukan karakter dari pemikiran Plato. Meskipun sudah beberapa penelitian membahas pendidikan karakter, sebagian penelitian masih condong berfokus pada pendekatan psikologis atau pedagogis semata dan bukan dari sudut pandang filosofis yang mendasar. Dengan demikian, masih terdapat ruang untuk meninjau kembali bagaimana konsep pendidikan Plato dapat diadaptasi untuk konteks JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat untuk memperkaya kajian filsafat pendidikan dengan menekankan pentingnya pemikiran Plato tentang keseimbangan antara pengetahuan dan pembentukan moral. Pemikiran Plato menjadi dasar untuk memahami bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, tetapi juga pembinaan jiwa menuju kebajikan. Sedangkan secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pendidik dan pembuat kebijakan dalam merancang pendidikan karakter yang berlandasan pada nilai-nilai filosofis. Selain itu, penelitian ini diharapkan menumbuhkan kesadaran generasi sekarang untuk berikir kritis dan memilki perilaku berdasarkan nilai kebenaran serta kebajikan METODE Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah studi pustaka . ibrary researc. dengan pendekatan kualitatif deskriptif-filosofis. Pendekatan deskriptiffilosofis dalam penelitian ini dilakukan dengan terlebih dahulu menggambarkan pemikiran Plato secara lengkap dan runtut. Setelah itu, pemikiran tersebut dianalisis secara logis dan kritis untuk melihat makna, konsistensi, serta relevansinya. Hasil analisis kemudian dihubungkan dengan isu pendidikan modern sehingga gagasan Plato dapat dipahami dalam konteks kebutuhan pendidikan masa kini. Penelitian ini tidak melibatkan eksperimen lapangan, melainkan berfokus pada kegiatan penelusuran, pengumpulan, pengkajian, dan analisis terhadap berbagai sumber tertulis yang relevan dengan pemikiran Plato. Tujuannya adalah untuk memahami secara mendalam konsep-konsep pendidikan, etika, dan pembentukan karakter manusia yang dikembangkan oleh filsuf Yunani tersebut, serta bagaimana gagasannya dapat diaktualisasikan dalam konteks pendidikan Pemilihan referensi dalam penelitian ini dilakukan melalui penerapan kriteria inklusi dan eksklusi yang jelas. Kriteria inklusi mencakup sumber-sumber yang relevan dengan topik filsafat Plato, pendidikan karakter, dan filsafat pendidikan, serta berasal dari literatur akademik yang terpercaya seperti buku ilmiah, artikel jurnal, serta karya-karya ilmuwan yang menafsirkan dan mengembangkan pemikiran Plato. Referensi yang digunakan diutamakan terbit pada rentang tahun 2020Ae2025 agar kajian memiliki konteks yang aktual. Sementara itu, kriteria eksklusi diterapkan untuk menghindari sumber yang tidak relevan, tidak kredibel, atau berasal dari blog pribadi dan opini nonilmiah. Referensi yang terlalu lama dan tidak dapat diverifikasi juga tidak dimasukkan. Melalui seleksi ini. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. penelitian memastikan bahwa seluruh sumber yang digunakan sahih, relevan, dan mendukung analisis secara akademis. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif-filosofis, penelitian ini berusaha menggambarkan serta menguraikan hakikat pemikiran Plato secara sistematis, tanpa bermaksud melakukan generalisasi kuantitatif. Analisis yang dilakukan bersifat interpretatif dan kritis, menekankan pemahaman terhadap esensi gagasan, bukan sekadar fakta historis. Dengan cara ini, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis terhadap pengembangan konsep pendidikan berbasis nilai dan moral, serta memperkaya wacana tentang relevansi filsafat klasik dalam membentuk karakter manusia modern yang beretika, rasional, dan berkepribadian luhur. Dengan demikian, metode studi pustaka yang digunakan menjadi landasan utama untuk menelusuri makna filosofis dalam pemikiran Plato sekaligus menjembatani antara gagasan kuno dan tantangan pendidikan di era kontemporer. HASIL DAN PEMBAHASAN Latar Belakang Pemikiran Plato Dalam Tradisi Filsafat Klasik Barat Istilah filsafat berasal dari Bahasa Yunani Philosophia, yang secara umum diartikan sebagai kecintaan terhadap kebijaksanaan. Dalam makna aslinya pada masa Yunani Kuno, filsafat ditujunkkan untuk menggambarkan sikap cinta dan pencarian terhadap pengetahuan dan kebijaksanaan (Zahra et al. , 2. Pengertian filsafat ilmu dapat dipahami dalam dua makna, yaitu secara sempit dan secara luas. Dalam arti luas, filsafat ilmu mencakup tentang berbagai persoalan yang berhubungan dengan aspekaspek eksternal dari kegiatan ilmiah. Sedangkan dalam arti sempit, filsafat ilmu condong berfokus pada persoalan yang muncul di dalam ilmu itu sendiri, seperti hakikat pengetahuan ilmiah serta cara untuk mendapatkan dan mengembangkannya (Budi Harianto, 2. Filsafat klasik Barat mencakup tentang periode yang berkembang dari Yunani kuno hingga awal era Romawi, ditandai adanya pencarian rasional terhadap hakikat kebenaran, keadilan, dan pengetahuan. Pada masa sekarang, para filsuf tidak lagi memahami dunia melalui kisah-kisah dewa dan legenda, tetapi melalui penggunaan akal logika, dan argumentasi sistematis. Mereka menjelaskan dunia tidak lagi dengan ceritacerita mitos, melainkan dengan akal pemikiran yang masuk akal. Pergeseran JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. epistemologis ini menjadi fondasi munculnya tradisi berpikir secara kritis dan mendalam yang memengaruhi seluruh perkembangan intelektual Barat. Dalam konteks ini. Plato, tampil sebagai salah satu figur sentral yang menjebatani pemikiran Socrates dan Aristoteles, sekaligus memperkuat bangunan filsafat melalui sistem pemikiran yang Filsafat menurut Plato adalah upaya memahami hakikat terdalam dari realitas, bukan hanya mengumpulkan opini, tetapi menembus sampai pada esensi yang tetap dan Ilmu filsafat adalah upaya dalam mencapai suatu pengetahuan dan mengetahui kebenaran yang sebenarnya (Budi Harianto, 2. Filsafat baginya merupakan proses intelektual untuk mencapai pengetahuan yang sejati . , bukan sekadar keyakinan atau pendapat yang berubah-ubah . Pandangan ini mempertegas bahwa filsafat tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga metodologis, menuntut ketelitian berpikir, kesinambungan argumentasi, serta komitmen moral terhadap kebenaran. Selain itu, gagasan dialektika Plato sejalan dengan model pembelajaran inquiry learning dan problem-based learning yang digunakan dalam Kurikulum Merdeka, karena keduanya menuntut siswa aktif mengajukan pertanyaan dan membangun pemahaman. Dengan demikian, pemikiran Plato tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dapat menjadi dasar filosofis untuk menjawab tantangan pendidikan modern seperti krisis moral, rendahnya kemampuan berpikir kritis, dan lemahnya karakter peserta didik. Plato lahir pasa puncak kejayaan pemerintah Athena kurang lebih pada tahun 427 SM dan meninggal dunia pada tahun 327 SM. Pada saat itu pemerintah Athena berada di bawah pimpinan Prinlcles yang baru saja berakhir. Nama Plato sebenarnya adalah Aristokles, tetapi kemudian diberi julukan Plato yang berasal dari bahasa yunani Platos yang artinya lebar. Julukan ini diberi oleh pelatih senamnya karena Plato memiliki dahi dan bahu yang lebar. Pandangan Plato yang disampaikan dalam buku karyanya yang berjudul The Republic menjadi teori awal tentang negara kategori ideal dalam filsafat Hal ini karena pengalaman hidup Plato sangat dipengaruhi oleh guru yang ia kagumi yaitu Socrates yang dihukum mati dengan cara meminum racun karena dituduh merusak moral pemuda Athena (Andariati, 2. Plato memandang kematian Socrates bukan hanya tragedi personal, tetapi sebagai indikasi kegagalan structural dalam demokrasi Athena. Ia melihat bahwa keputusan untuk menghukum Socrates lahir dari ketidaktahuan, ketidakstabilan moral, serta dominasi kepentingan massa yang mudah terprovokasi. Dari sini terlihat bahwa kritik Plato bukan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. sekadar pada individu penguasa, melainkan pada mekanisme politik yang memberi ruang bagi keputusan emosional tanpa ada dasar pengetahuan. Kritik ini menunjukkan bahwa bagi Plato, suatu negara dapat dikatakan pemerintahan yang ideal apabila kekuasaan dipegang oleh para filsuf yang bijaksana. Pemerintahan yang baik tidak cukup didasarkan pada suara terbanyak, melainkan membutuhkan fondasi epistemik, yaitu pemimpin yang harus benar-benar kebenaran dan kebaikan. Selain itu. Plato beranggapan bahwa suatu negara lahir dari kebutuhan manusia dan harus berfokus pada tercapainya kesejahteraan bagi seluruh warganya. Namun. Plato menambahkan bahwa kesejahteraan hanya mungkin tercapai jika ada keseimbangan antara peran pemimpin dan rakyat serta keselarasan Antara moralitas, pengetahuan, dan struktur kekuasaan. Negara yang ideal adalah negara yang bisa menempatkan kebaikan serta keseimbangan antar pemimpin dan rakyat sebagai prinsip dasarnya (Arman Syardi et al. , 2. Inilah alasan mengapa tragedi kematian Socrates menjadi titik balik bagi Plato. Ia menyadari bahwa tanpa sistem pendidikan dan pemerintahan yang tepat, masyarakat dapat dengan mudah menghancurkan orang bijak dan merusak dasar-dasar keadilan. Karena Tragedi ini mendorong Plato mencari bentuk pemerintah dan pendidikan yang mampu melahirkan manusia yang berbudi dan berpengetahuan sejati. Dengan demikian, pemikiran Plato bukan sekadar reaksi emosional terhadap tragedi gurunya, tetapi refleksi filosofis yang mendalam mengenai mengapa negara gagal, bagaimana pemimpin seharusnya dibentuk, dan apa yang diperlukan agar kebaikan menjadi prinsip hidup bernegara. Pemikiran ini menjadi salah satu kontribusi terbesar dalam tradisi filsafat politik Barat. Pemikiran Pendidikan Plato merupakan kelanjutan dari gagasan milik Socrates, namun dikembangkan dengan struktur dan kedalaman yang lebih matang dan kompleks. Ia menekankan pentingnya pembentukan karakter, pencarian kebenaran, serta perencanaan pendidikan yang sistematis, yang kemudian menjadi landasan dasar bagi pemikiran Aristoteles (Dhiya, 2. Plato memandang bahwa pengetahuan memiliki kaitan erat dengan kebajikan. Menurutnya, seorang individu yang benar-benar memahami makna kebaikan tidak akan melakukan tindakan kejahatan, karena pengetahuan mampu membimbing jiwa menuju ketenangan dan keharmonisan. la juga menekankan bahwa pendidikan bukan hanya sekedar penyampaian ilmu, melainkan suatu proses pembentukan jiwa yang bertujuan agar sejalan dengan nilai kebenaran dan kebaikan. Oleh sebab itu, pendidikan ideal adalah mampu menyeimbangkan antara akal, moral dan nilai JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. spiritual sebagaimana dijelaskan dalam karya Plato yang berjudul The Republic. Plato menjadi penghubung antara moralitas dan pengetahuan dalam tradisi filsafat klasik barat. Gagasan Inti Plato: Pengetahuan. Dunia Form, dan Jiwa Plato melalui teori ide (Theory of Form. memberi penjelasan bahwa realitas sejati tidak terdapat pada dunia fisik yang dapat ditangkap oleh indra, melainkan pada dunia ide yang sempurna, kekal, serta tidak berubah yang menjadi salah satu doktrin sangat berpengaruh dalam sejarah filsafat. Plato membedakan realitas ke dalam dua tingkat, yaitu ia menyebutkan dunia ide sebagai realitas sejati . ealm of bein. dan dunia fisik sebagai realitas yang senantiasa mengalami perubahan . ealm of becomin. (Lele et , 2. Plato meyakini bahwa pengetahuan sejati . tidak bersumber dari dunia indra yang terus berubah, melainkan dari dunia ide atau Form yang kekal dan la berpendapat bahwa dunia yang tampak oleh pancaindra hanya suatu refleksi atau bayangan dari realitas yang sesungguhnya. Jadi, pengetahuan bukan hanya berasal dari pengalaman yang bisa dilihat atau dirasakan, tetapi dari pemikiran yang mendalam untuk memahami kebenaran yang sesungguhnya . Teori dunia form (Theory of Form. merupakan inti dari metafisika Plato. Sebagai ilustrasi. Plato berpendapat bahwa sebuah kursi yang kita duduki hanya sebagai bayangan dari bentuk AukursiAy yang sempurna di dunia ide. Sedangkan kursi yang ada di dunia nyata dapat mengalami kerusakan atau perubahan, tetapi bentuk idealnya di dunia ide tetap abadi dan tidak akan berubah. Pandangan ini juga tidak hanya berlaku untuk kursi, melainkan berlaku untuk segala hal, baik benda fisik maupun konsep abstrak seperti keadilan, kebaikan, dan keindahan (Lele et al. , 2. Plato menempatkan dunia ide sebagai sumber kebenaran sejati, sedangkan dunia materi hanya bayangan yang digerakkan oleh ide, karena segala sesuatu terdiri atas dua unsur, yaitu jasmani yang bersifat fana dan rohani yang bersifat abadi (Lidinilah, 2. Dalam dialog karyanya yang berjudul The Republic. Plato membedakan pengetahuan sejati . dan pendapat . yang menunjukkan kritik fundamental terhadap cara manusia umumnya memahami realitas (Arman Syardi et al. , 2. Menurut Plato pengalaman yang diperoleh melalui Indra hanya menghasilkan doxa, sebab objek fisik yang kita tangkap bersifat terus berubah. Sebaliknya, episteme dapat dicapai melalui proses berpikir secara filosofis yang bersifat reflektif, rasional, dan kontemplatif, yang membantu jiwa melampaui batas-batas pengalaman indrawi untuk JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. memahami ide-ide abadi dan sempurna (Lele et al. , 2. Pernyataan bahwa pengetahuan indrawi hanya menghasilkan doxa bukan berarti Plato menolak pengalaman empiris sama sekali, tetapi ia menyoroti keterbatasan epistemologis indera, apa yang tertangkap indra selalu berubah, relatif, dan bergantung pada kondisi tertentu. Dengan kata lain, dunia fisik menurut Plato bersifat fluktuatif, sehingga tidak dapat menjadi dasar bagi pengetahuan yang pasti dan universal. Kritik ini sejalan dengan tujuannya untuk membangun dasar epistemologi yang kokoh bagi ilmu dan moralitas. Tujuan filsafat menurut Plato adalah mencapai kemampuan jiwa untuk memahami realitas ditingkat Pengetahuan tidak berhenti pada kepastian logis semata, tetapi berujung pada kemampuan jiwa untuk menangkap bentuk tertinggi, yaitu idea tentang Kebaikan. Dengan demikian, pencarian pengetahuan bagi Plato memiliki dimensi etis: seseorang tidak dapat mencapai episteme tanpa mengarahkan dirinya pada kebaikan. Dengan demikian, pembedaan Plato antara doxa dan episteme tidak hanya menjelaskan dua jenis pengetahuan, tetapi sekaligus menjadi kritik terhadap ketergantungan manusia pada pengalaman indrawi serta tawaran metodologis untuk membentuk manusia yang berpengetahuan, bermoral, dan mampu memahami realitas secara mendalam. Plato memberi penegasan bahwa struktur jiwa mencerminkan tatanan ideal Menurut Hadiwijono. Plato memandang jiwa dan tubuh sebagai dua entitas yang berbeda dan tidak dapat disamakan, karena keduanya memiliki hakikat yang bertolak Jiwa dianggap bersifat adikodrati yang berasal dari dunia ide, sehingga kekal dan tidak dapat mati. Plato membagi jiwa menjadi tiga bagian, yaitu bagian rasional yang bekaitan dengan kebijaksanaan, bagian kehendak dan keberanian yang berhubungan dengan kegagahan, serta bagian keinginan atau nafsu yang terkait dengan pengendalian Plato juga memiliki keyakinan bahwa keberadaan jiwa di dalam tubuh merupakan bentuk hukuman (Somawati & Made, 2. Plato memandang jiwa sebagai entitas yang berasal dari dunia Form. Sebelum lahir, jiwa telah melihat beberapa bentuk ideal, namun saat terikat pada tubuh, jiwa menjadi lupa akan pengetahuan sejati tersebut. Jadi, proses menurut pandangan Plato bukan menemukan hal yang bersifat baru, tetapi mengingat kembali apa yang sudah diketahui di dunia Form. Otak adalah pusat memori manusia dengan kapasitas penyimpanan yang sangat luas serta mempunyai kemampuan untuk memproses berbagai hal kompleks secara bersamaan, sehingga kemampuan otak jauh melampaui teknologi JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. apa pun yang ada (Alzuhra, 2. Plato menekankan bahwa realitas sejati terletak pada dunia ide (For. , yang hanya dapat dipahami melalui kemampuan rasional manusia. Jiwa sebagai bagian dari dunia tersebut, memiliki potensi untuk mencapai pengetahuan sejati, dan melalui keseimbangan tiga unsur jiwanya serta proses mengenali kembali kebenaran, manusia dapat membentuk karakter yang adil, bijaksana, dan berpengetahuan. Pendidikan dan Pembentukan Karakter dalam Pemikiran Plato Plato menempatkan pendidikan sebagai dasar dari pembentukan seorang manusia yang berkarakter dan berpengetahuan. Pendidikan dalam sistem Plato bertujuan membentuk keselarasan antara tiga bagian jiwa, yaitu rasional, emosional, dan nafsu. Kemudian pendidikan dalam pandangan Plato dapat dimaknai sebagai proses membimbing jiwa menuju dunia ide yang sempurna dan abadi, yang mencangkup kebenaran (Alethei. , kebaikan . , dan keindahan (Kallo. Plato mengatakan bahwa dunia hanya bayangan dari dunia ide (For. yang sejati. Oleh karena itu. Plato dalam karya bukunya yang berjudul The Republic memberi pandangan bahwa pendidikan sejati bukan sekedar upaya menambahkan pengetahuan, melainkan suatu proses yang menuntun jiwa untuk mengenali dan mengingat kembali . nilai-nilai luhur yang sebenarnya telah ada dalam dirinya sejak awal (Suranto, 2. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Andika Setiawan menunjukkan bagaimana gagasan pendidikan politik Plato dapat diadaptasi ke dalam konteks pembelajaran modern, khususnya dalam Kurikulum 2013. Dalam studinya. Setiawan merumuskan model pendidikan yang bertujuan melahirkan figur pemimpin yang berkarakter dan berintegritas. Program tersebut diwujudkan melalui berbagai aktivitas pembelajaran, seperti pembacaan teks Al-Barzanji untuk menanamkan nilai keteladanan moral, latihan pencak silat sebagai pembentukan disiplin dan ketangguhan karakter, serta diskusi rutin di setiap sesi belajar guna melatih kemampuan bernalar dan berpendapat secara kritis. Secara keseluruhan, kajian ini memperkaya pemahaman terhadap pemikiran Plato dengan menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai landasan pembentukan pemimpin etis yang mampu mengelola kekuasaan dengan kebijaksanaan. Temuan Setiawan menegaskan bahwa idealisme pendidikan Plato tetap relevan ketika diintegrasikan dengan praktik pendidikan Indonesia masa kini (Alkhadafi, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Keadilan sering kali menjadi salah satu isu utama yang dibahas di bidang hukum, karena banyak kasus yang muncul namun tidak selaras dengan prinsip keadilan bagi semua pihak (Zahra et al. , 2. Di era modern sekarang, pendidikan kepemimpinan dihadapkan pada tantangan cukup besar dalam melahirkan pemimpin yang tidak hanya ahli dalam secara teknis, tetapi juga memiliki sikap integritas moral, visi yang kuat, serta kemampuan mengambil keputusan yang berlandaskan keadilan. Plato menilai bahwa pendidikan merupakan dasar utama dalam membentuk individu yang unggul, baik dari sisi intelektual maupun sisi moral dan etika. Melalui pendidikan filosofis yang ia kembangkan. Plato memiliki tujuan untuk mencetak individu berkepribadian kebijaksanaan (Sophi. , keberanian (Adrei. , pengendalian diri (Sophrosyn. , dan keadilan (Dikaiosyn. Keempat nilai tersebut menjadi landasan sangat penting dalam membentuk pemimpin yang bijak serta mampu mengambil keputusan yang berpihak pada keadilan dan kesejahteraan masyarakat (Alkhadafi, 2. Menurut Plato, tujuan utama pendidikan adalah mengembangkan potensi yang dimiliki manusia secara menyeluruh dengan cara menanamkan nilai-nilai kebenaran sejati yang bersifat abadi. Bagi Plato pendidikan bukan hanya suatu proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga sarana untuk membimbing jiwa agar bisa mengenali hakikat kebenaran dan hidup selaras dengan nilai-nilai kebajikan. Dengan demikian, pendidikan dapat berfungsi sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan moral, intelektual dan spiritual manusia (El-Yunusi & Sholikhah, 2. Pandangan Plato mengenai idealiasme dalam pendidikan memiliki pengaruh yang besar, terutama melalui pandangannya tentang dunia ide (For. sebagai sumber kebenaran sejati. Pendidikan harus menuntun manusia untuk melampaui dunia indreawi yang semu dan menuju pemahaman terhadap dunia ide yang sempurna, nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan abadi berada (Aisy et al. Dalam The Republic. Plato menggambarkan sistem pendidikan ideal yang disusun berdasarkan tingkatan usia dan kapasitas jiwa. Dalam karyanya tersebut Plato menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan suatu negara. berpendapat bahwa sejak masa kanak-kanak hingga perguruan tinggi, seluruh proses pendidikan merupakan tanggung jawab negara. Setelah pendidikan selesai setiap individu diharapkan dapat mengabdi dan memberikan kontribusi bagi negaranya. Melalui sistem pendidikan yang berjenjang, peserta didik mampu tumbuh menjadi individu yang JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. memiliki kepribadian yang mandiri dan tidak lagi bergantung pada orang tua (Enjang & Supandi, 2. Pembentukan karakter merupakan hal yang sangat penting dalam melahirkan pemimpin yang berintegritas secara moral. Pendidikan tidak boleh terbatas pada penguasaan kemampuan teknis seperti keterampilan manajerial atau pengetahuan ekonomi saja, tetapi juga harus mencakup proses refleksi diri dan penanaman nilai-nilai kebajikan (Alkhadafi, 2. Bahkan di dalam Islam hal yang paling penting dalam membangun pendidikan karakter adalah dasar atau landasan yang menjadi pijakannya. Dalam Islam, setiap ajaran memiliki dasar yang kuat, termasuk dalam hal pembentukan Dasar pendidikan karakter sendiri dalam Islam bersumber dari Al-Qur'an, dan ketakawaan kepada Allah SWT. Salah satu ayat yang membahas tentang pendidikan karakter terdapat dalam surah Luqman ayat 17-18 (Sri Hafizatul Wahyuni Zain et al. AuWahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah . berbuat yang makruf dan cegahlah . dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia . arena sombon. dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh. Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diriAy. (Luqman: 17-. Plato menekankan pendidikan dialektis, yaitu pencarian kebenaran melalui dialog dan refleksi. Dalam konsep pendidikan (Paidei. yang dikemukakan Plato, tahap formasi eros memiliki peran yang penting karena berfokus pada pendidikan karakter sebagai dasar pembentukan pribadi yang mulia. Tahap ini memiliki tujuan untuk menumbuhkan jiwa anak agar memiliki cinta terhadap kebaikan, kepekaan sosial, keberanian, keadilan, kejujuran, serta kebijaksanaan. Pada jenjang pendidikan dasar, peserta didik dibentuk melalui sebuah kegiatan yang menyenangkan dan kreatif, seperti pendidikan seni dan budaya (Mousik. , dan pendidikan jasmani (Gymnastik. , bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan membangun kepribadian yang seimbang antara tubuh dan jiwa. Setelah tahap dasar dianggap selesai, proses dilanjutkan. Ke jenjang yang selanjutnya yang lebih tinggi, yaitu pembelajaran ilmu hitung dan dialektika, berfungsi untuk melatih kemampuan berpikir logis dan filosofis agar jiwa semakin dekat dengan kebenaran dan kebijaksanaan sejati. Dalam karya A. Musyafa Fathoni yang berjudul AuIdealisme JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Pendidikan PlatoAy menguraikan gagasan idealisme Plato serta keterkaitannya dengan pendidikan, dan menemukan adanya kesamaan tujuan antara pendidikan Plato dan pendidikan Islam, yakni mengarahkan peserta didik menuju kebenaran hakiki. Fathoni menjelaskan bahwa pendidikan dasar menurut Plato berfokus pada permainan, sementara jenjang berikutnya menekankan dialektika. namun ia juga mengkritik bahwa kurikulum Plato hanya ditujukan bagi kalangan berstatus sosial tinggi sehingga tidak sejalan dengan prinsip pemerataan pendidikan di Indonesia. Di tengah tantangan globalisasi, industrialisasi, dan budaya materialistik. Fathoni menilai idealisme Plato sulit diterapkan, tetapi sayangnya tidak menawarkan solusi atas persoalan pendidikan yang ia soroti. Akibatnya, kesimpulannya cenderung bersifat deskriptif dan tidak melampaui penjelasan konsep Plato yang telah dipaparkan (Setiawan, 2. Plato menyatakan bahwa kebajikan sejati berasal dari pengetahuan, karena seseorang yang memahami kebaikan tidak akan bertindak jahat. Oleh sebab itu, pengembangan karakter harus berjalan seiring dengan proses intelektual, karena keduanya saling membutuhkan untuk melengkapi dalam membentuk pribadi individu yang bermoral. Kemudian budi berperan dalam menentukan tujuan dan nilai etika. Ide menjadi dasar moralitas, sebab melalui ide, manusia dapat memahami mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk dengan menggunakan akal budinya. Etika dan pandangan Plato bersifat intelektual dan rasional, dengan tujuan utama untuk mencapai kebajikan, karena bagi Plato, kebajikan berarti pengetahuan. Tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan, dan kebahagiaan itu diperoleh melalui pengetahuan atau proses pendidikan. Plato membedakan budi menjadi dua jenis, yaitu budi filosofi dan budi Seseorang bisa dianggap baik jika kehidupannya dikontrol oleh akal budi, sedangkan ia menjadi buruk apabila dikuasai oleh keinginan dan hawa nafsu. Untuk mencapai tujuan yang baik, manusia harus lebih dahulu membebaskan diri dari energi irasional seperti nafsu dan emosi, serta menuntun hidupnya berdasarkan akal budi (Taufik, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. KESIMPULAN Pemikiran Plato menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan intelektual, tetapi juga pembinaan moral dan karakter peserta Melalui teori dunia ide (For. dan konsep pembagian jiwa. Plato menekankan pentingnya keseimbangan antara rasio, keberanian, dan pengendalian diri untuk membentuk individu yang bijaksana, adil, dan berpengetahuan. Pendidikan dipandang sebagai sarana membimbing jiwa untuk mengenali kebenaran, kebaikan, dan keindahan abadi, sehingga menghasilkan manusia yang mampu berpikir kritis dan bertindak berdasarkan nilai moral yang benar. Dalam konteks pendidikan modern, pemikiran Plato relevan untuk menghadapi tantangan krisis karakter, lemahnya moralitas, dan rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik. Integrasi prinsip-prinsip pendidikan Plato dapat menjadi fondasi filosofis dalam merancang kurikulum yang menekankan pembentukan karakter sekaligus pengembangan kapasitas intelektual. Dengan demikian, pendidikan yang berlandaskan filsafat Plato mampu mencetak individu yang berintegritas, berpengetahuan, dan berkepribadian luhur, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan *** DAFTAR PUSTAKA