112 Gustav. Campur Kode dalam Transaksi Jual Beli CAMPUR KODE DALAM TRANSAKSI JUAL BELI DI PASAR ALOK MAUMERE PROPISI NUSA TENGGARA TIMUR Gustav G. Nuwa IKIP Muhammadiyah Maumere gustavnuwa123@gmail. Abstrak Penelitian ini mengangkat masalah penggunaan bahasa dalam konteks sosial. Bahasa yang menjadi sasaran penelitian adalah bahasa Melayu Maumere-Lio yang terjadi pada interaksi jual-beli di pasar AlokMaumere. Untuk menjadi pijakan analisis data peneliti menggunakan teori sosiolinguistik. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah dalam penggunaan bahasa di pasar terjadi campur kode . ode mixin. Ada dua campur kode yang terdapat dalam interaksi komunikasi jual-beli, yaitu campur kode intern dan campur kode ekstern. Campur kode intern terjadi pada unsure kata dan struktur frasa, sedangkan campur kode ekstern terjadi karena munculnya dialek Jawa dan bahasa Inggris. Faktor campur kode terdapat dua faktor timbulnya campur kode bahasa, yaitu identifikasi peran dan ragam. Kata kunci: campur kode bahasa, konteks sosial. Abstract This study raises the problem of using language in a social context. The target language of the research is Maumere-Lio Malay language that occurs in the interaction of buying and selling in Alok-Maumere To be a foothold of data analysis researchers using sociolinguistic theory. The method used is qualitative descriptive method. The results of this study is in the use of language in the market place mixed code . ode mixin. There are two mixed codes contained in the interaction of buy-sell communication, which is mixed internal code and mix external code. Mixed internal code occurs in word elements and phrase structure, while the external code mix occurs due to the emergence of Java and English dialects. Factor of mixed code there are two factors arise mixed language code, that is identification role and variety. Keywords: mix language code, social context. APendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Palembang pAeISSN : 2549-5305 eAeISSN: 2579-7379 Pendahuluan Masyarakat tutur bahasa Melayu Maumere adalah orang yang tinggal atau menetap di kota Maumere. Kota Maumere adalah ibu kota kabupaten Sikka yang masyarakat tuturnya memiliki banyak bahasa . , yaitu bahasa lio (BL), bahasa Sikka (BS) dan bahasa Indonesia (BI). Kota Maumere merupakan salah satu kota yang menghimpun seluruh masyarakat dari berbagai etnis/suku di seluruh wilayah NTT. Kenyataan tersebut dapat dilihat pada situasi tutur yang menjadikan bahasa lio, bahasa Maumere dan bahasa Indonesia sebagai medium Akan tetapi dalam komunikasi sehari-hari terutama komunikasi antarkelompok masyarakat di kota maumere biasanya digunakan bahasa Indonesia dan juga bahasa melayu Maumere, bukan ketiga bahasa yang disebutkan di atas. Di sini terlihat bahwa kebutuhan masyarakat dalam menguasai bahasa Indonesia merupakan hal tidak bisa dielakkan. Kalau mereka hanya menguasai bahasa melayu Maumere saja, mereka akan merasa kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang-orang yang berdatangan dari daerah terpencil dari luar kota maumere. Keadaan inilah yang menjadikan bahasa Indonesia berkembang lebih pesat dalam hal fungsi dan Kalau pada awalnya bahasa Jurnal Bindo Sastra 1 . : 112Ae120 Indonesia hanya digunakan dalam peristiwa yang sifatnya resmi, sekarang ini bahasa Indonesia berkomunikasi sehari-hari di rumah, di pasar dan di tempat-tempat umum yang sifatnya tidak resmi. Mencermati Kembali Indonesia berkomunikasi di tempat-tempat umum yang sifatnya tidak resmi, terlepas dari ada tidaknya perbedaan jenjang pendidikan yang pernah dicapai oleh para penutur bahasa, dapat ditarik suatu simpulan bahwa bahasa Indonesia yang digunakan dalam suasana resmi, seperti di kantor, sekolah, dan tempat resmi lannya. Bahasa Indonesia yang digunakan ditempat-tempat umum itu cenderung terkesan sebgai bahasa Indonesia kedaerahan dan beragam santai. Artinya, mereka memakai bahasa Indonesia dengan dialek masing-masing daerah, misalnya bahasa Indonesia dialek Lio dan bahasa Indonesia dialek Maumere. Namun demikian, di antara penuturan dengan dialek yang berbeda-beda itu bisa saling mengerti apabila sedang berkomunikasi. Berkaitan dengan bahasa sebagai alat komunikasi, seseorang di samping perlu berkomunikasi dengan sesama anggota masyarakat bahasa sekitarnya, mereka perlu juga berkomunikasi dengan anggota masyarakat bahasa lain dari daerah lain, guna memenuhi kebutuhan hidup. Dalam kepentingan komunikasi tersebut, bahasa indonesialah yang paling tepat sebagai sarana penghubung . alam komunikas. antaretnik yang ada. Pasar Alok Maumere merupakan gambaran yang tepat untuk menyatakan situasi heterogen. Di tempat itu pula masyarakat yang berasal dari berbagai derah wilayah Nusa tenggara Timur mengadakan transakasi jual beli baik dalam skala besar, menengah maupun kecil. Mereka datang dari latar belakang budaya dan bahasa yang berlainan, sehingga komunikasi yang terjadi pun menggunakan bahasa yang Aogado-gadoAy. Sesekali mereka memakai bahasa Indonesia, kemudian bahasa lio. Sikka-Krowe, bahasa campuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa lio, dan sebagainya. Di dalam masyarakat multingual penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah yang diberlakukan kadang-kadang mengakibakan terjadinya campur kode. Campur kode terjai karena kontak bahasa dan saling ketergantungan bahasa, yang disebabkan oleh hubungan peran . dan fungsi kebahasaan . pa yang hendak dicapa. Karchu . alam Ola, 2009: . berpendapat, campur kode adalah pemakaian dua bahasa atau lebih dengan memasukkan unsur bahasa yang satu dengan bahasa yang lain secara konsisten. Berkaitan dengan itu. Thelander . alam Chaer, 2010:. mengatakan bahwa dalam suatu peristiwa tutur, klausa-kalusa maupun frase-frase yang digunakan terdiri atas klausa dan frae campuran . ybrid clauses, hybrid pharase. dan masing-masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung sendirisendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode bukan alih kode. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka bahasa Melayu Maumere sangat tepat untuk dikaji, di mana dalam komunikasi sehari-hari, masyarakat tutur di kota Maumere sering menggunakan secara bersamaan antara bahasa Melayu Maumere. Lio dan bahasa Indonesia. Tinjauan Pustaka Demi memperjelas permasalahan bagaimana campur kode . ode mixin. terjadi, ada beberapa konsep yang relevan dengan masalah tersebut. Konsep-konsep tersebut yakni pertama, tindak tutur. Sering dikatakan, sosiolinguistik itu sangat berkaitan dengan pragmatic . ang oleh segolongan orang dimasukkan ke dalam Salah satu kaitan yang dapat dilihat adalah munculnya istilah tindak tutur dalam kedua bidang kajian itu. Dunia kajian pragmatic biasanya menyebut karya J. Austin . , pakar filsafat dan linguistik dari Inggris, tentang tindak tutur itu. Pandangan Austin, kajian tentang mengkonsentrasikan diri pada pernyataanpernyataan kosong, seperti salju itu putih, lepas dari konteks, karena bahasa itu benarbenar dipakai dalam bentuk tutur, dalam berbagai fungsi. Ketika bertutur manusia memberi saran, berjanji, mengundang, meminta, melarang, dan sebagainya. Sebagaimana dikatakan oleh Malinoski, dalam beberapa hal manusia memakai tutur untuk membentuk tindakan, bahkan dalam pengertian yang ekstrem, sering dikatakan, tutur sendiri adalah tindakan. Jadi, tindakan tutur adalah sepenggal tutur yang dihasilkan sebagai bagian dari interaksi sosial. Kedua, dwibahasa. Kata dwibahasa merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu kata bilingualism, yang secara konseptual mengandung pengertian ganda. Hal ini di dasarkan pada pemahaman bahwa seseorang yang berdwibahasa adalah orang yang menguasai dan menggunakan dua bahasa. Alder sebgaimana dikutip Romaine . dalam Ola . bahwa hal individual dengan fenomena sosial. Sebagaimana pendapat Mackey . alam Fisman,1970: . Aubilingualism is the property of individualsAy, maka dapat pula sesungguhnya milik individu. Meskipun demikian, kedwibahasaan akan menjadi nyata pada pemakaian dalam konteks Seara umum dwibahasa diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian. (Fisman, 1975:73. Chaer, 2010: . Ketiga, campuran kode. Di dalam campuran kode, ciri-ciri ketergantungan ditandai dengan adanya hubungan timbale balik antara peranan dan fungsi kebahasaan. Peranan maksudnya yang menggunakan kebahasaan berarti apa yang hendak dicapai oleh penutur dengan tuturannya. Seorang penutur yang banyak menguasai bahasa akan mempunyai kesempatan bercampur kode lebih banyak daripada penutur yang hanya menguasai satu atau dua bahasa saja. Tetapi tidak berarti bahwa penutur yang menguasai lebih banyak bahasa selalu banyak bercampur kode. Sebab yang hendak dicapai oleh penutur tuturannya sangat menentukan pilihan Ciri-ciri yang lain adanya gejala campur kode bahwa unsure-unsur bahasa atau variasi-variasinya yang menyisip di dalam bahasa lain tidak lagi mempunyai fungsi tersendiri. Unsur-unsur itu telah menyatu dengan bahasa yang disisipinya dan secara keseluruhan hanya menduduki satu fungsi. Gustav. Campur Kode dalam Transaksi Jual Beli Dalam kondisi yang maksimal campur kode merupakan konvergensi kebahasaan yang mana unsure-unsurnya berasal dari beberapa bahasa yang masingmasing telah menanggalkan fungsinya di dalam mendukung fungsi bahasa yang Unsure-unsur yang demikian dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu . yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya, . bersumber dari bahasa asing. Adapun campur kode golongan . disebut dengan campur kode kedalaman, sedangkan golongan . disebut dengan campur kode keluar. Suwito . memberikan batasan campur kode sebagai pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsure-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten. Thelander, seperti yang dikutip Suwito . 5: . berpendapat bahwa unsur-unsur bahasa yang terlibat dalam peristia campur itu berbatas pada tingkat Apabila dalam suatu tuturan terjadi percampuran atau kombinasi antara variasivariasi yang berbeda di dalam satu klausa yang sama. Nababan . 4: . menyatan bahwa campur kode terjadi bilamana orang mencapur dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tidak bahasa tampa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut percampuran bahasa. Adapun ciri yang menonjol dalam campur kode ini adalah kesatuan atau situasi informal. Misalnya, ada seorang penutur yang dalam berbahasa Indonesia banyak menyisipkan unsur-unsur bahasa Melayu Maumere atau sebaliknya bahasa Melayu Maumere yang disisipikan pada bahasa Indonesia. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sosiolinguistik. Kata sosiolonguistik merupakan gabungan dari kata sosiologi dan linguistik. Menurut Chaer dan Agustina . 5: . sosiologi adalah kajian yang obyektif dan ilmiah mengenai manusia dalam masyarakat dan mengenai lembaga serta proses sosial yang ada dalam masyarakat. Linguistik adalah ilmu bahasa atau bidang yang mengambil bahasa sebagai obyek kajiannya. Dengan demikian sosiolinguistik merupakan bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa di dalam masyarakat. Jurnal Bindo Sastra 1 . : 112Ae120 Apel dan Suwito, seperti yang dikutip Leni . 2: . mengatakan sosiolinguisti memandang bahasa sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu. Sedangkan yang dimaksudkan dengan pemakaian bahasa adalah bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi yang kongkrit. Dengan demikian dalam sosiolinguistik bahasa tidak dilihat secara internal, tetapi dilihat sebagai sarana interaksi komunikasi dalam Dalam penelitian ini dikaji mengenai campur kode yang termasuk dalam bidang sosiolinguistik. Campur kode adalah penggantian kode dalam suatu peristiwa tutur yang tidak dilandasi dengan tujuan-tujuan atau maksud-maksud tertentu. Munculnya campur kode karena seorang penutur terbiasa menggunakan dua bahasa atau ragam secara intensif dan dalam kurun waktu yang sama. Metode Penelitian Penelitian pendekatan deskriptif kualitatif, dengan maksud untuk memberikan hasil analisis data mengenai bentuk campur kode dalam interaksi jual beli di pasar Alok-Maumere. Metode memaparkan, mendeskripsikan sesuatu yang ada. Aminudin . 0: . yang mengutip pandangan Bogda dan Taylor mengemukakan bahwa metode kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dengan orang-orang atau pikiran yang Natsir . 5: . mengatakan metode deskriptif adalah status kelompok mnusia, suatu objek, suatu kondisi atau satu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan metode deskriptif adalah untuk membuat deskriptif secara sistematis dan akurat tentang fakta-fakta dan hubungan fenomena yang diteliti. Maleong . menjelaskan bahwa sala satu cirri penelitian kualitatif adalah bersifat deskriptif. Artinya data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan bukan angka-angka. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode deskriptif adalah bentuk penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata, gambar sekelompok orang atau masyarakat, dan tidak berupa angka-angka. Data dan Sumber Data Saran penelitian ini adalah interaksi jual beli di pasar Alok-Maumere yang diduga terjadi campur kode. Campur kode yang terkandung di dalamnya berwujud tuturan interaksi jual beli di pasar AlokMaumere. Data yang diambil adalah data tuturan interaksi jual beli di pasar AlokMaumere. Sumber data dalam penelitian ini adalah wacana interaksi jual beli di pasar Alok-Maumere. Hal ini dimaksudkan supaya terdapat uraian kebahasaan yang lebih lengkap dan cukup untuk mewakili semua tuturan tersebut yang terdapat dalam campur kode. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengn teknik rekam, di mana peneliti merekam data lingual tuturan pedagang di pasar Alok-Maumere. Selain menggunakan teknik observasi dan teknik Teknik pertama dilakukan dengan observasi atau pengamatan, biasanya cenderung dimasukkan ke dalam tahap penjajagan atau tahap invensi (Maleong 1994:. Tahap penjajagan ini perlu dilakukan sebelum tahap pengambilan data. Hal ini terjadi karena pada dasarnya penelitian deskriptif baru dapat dilakukan jika sudah dikenal sifat-sifat populasi. Dengan tidak menyimpang dari kualifikasi penelitian kualitatif, metode observasi ini sengaja dimasukkan ke dalam tahap pengambilan data. Dalam hal ni, observasi merupakan bagian awal dalam proses pengambilan data. Teknik observasi dilakukan dengan cara pengamatan terhadap fenomena-fenomena kebahasaan dan di luar kebahasaan yang sedang berlangsung pada pedagang di pasar AlokMaumere. Adapun teknik yang digunakan adalah teknik pengamatan dan teknik Teknik pengamatan ini dilakukkan dengan dua cara, yaitu secara berperan serta dan terbuka. Teknik pengamatan berperan serta dilakukan dengan cara pengamatan berlangsung pada pedagang di pasar AlokMaumere. Dalam teknik ini pengamat turut serta dalam situasi tutur yang sedang berlangsung pada pedagang. Teknik pengamatan terbuka pada dasarnya hanya merupakan konsekuensi dari pengamatan berperan serta. Artiya, karena dalam pengamatan berperan serta pengamat ikut terlibat dalam situasi yang sedang berlangsung, maka pengamatan tersebut bersifat terbuka. Teknik pencatatan dikukan dengan cara mencatat data yang berada di luar data lingual. Misalnya, factor-faktor situasional berhubungan dengan situasi tutur yang sedang berlangsung, dapat pembicaraan, sudut pembicaraan, dan situasi pembicaraan . uwito, 1985: . Teknik kedua dilakukan dengan teknik Dengan cara penyimakan terhadap tuturan pedagang di pasar Alok-Maumere. Ketika aktivitasnya, peneliti turut erta sebagai bagian dalam aktivitas tersebut, yaitu sebagai konsumen. Dengan demikian, peneliti dapat leluasa memperhatikan tutur dalam tuturan dialog para pedagang, termasuk di dalamnya peneliti juga mempelajari situasi tutur yang sedang Dalam hal ini penggunaan bahasa yang dimaksud adalah tuturan yang muncul dalam transaksi jual beli. Teknik melaksanakan teknik simak ini adalah teknik sadap, teknik rekam, dan teknik Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini pendekatan kontekstual, khususnya dengan mengacu pada konsep komponen tutur sebagai dasar rancangannya. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan kontekstual dalam penelitian ini sejalan dengan pandangan Krisdalaksana . 3: . Menurutnya, pendekatan dalam analisis didasarkan pada aspek-aspek lingkungan fisik atau social yang kait-mengkait dengan Jadi jelas bahwa dalam rangka melaksanakan pendekatan ini, tuturantuturan pengambilan data, dianalisis dengan mendasarkan pada konteks. Konteks yang Gustav. Campur Kode dalam Transaksi Jual Beli dimaksud bukanlah konteks linguistic seperti yang dimengerti dalam linguistic structural, tetapi konteks social dan cultural yang realisasinya telah tertuang dalam konsep komponen tutur tersebut. Metode Penyajian Hasil Analisis Data Hasil penelitian campur kode dalam tuturan interaksi jual beli di Pasar AlokMaumere disajikan dengan menggunakan metode sajian informal. Metode ini dimengerti sebagai cara penyajian hasil dengan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993: Dengan demikian, sajian hasil analisis dalam penelitian ini tidak memanfaatkan berbagai lambing, tanda, singkatan, seperti yang biasa digunakan dalam metode penyajian hasil analisis data secara formal. Metode sajian informal digunakan dalam menuangkan hasil analisis pada tulisan ini karena pada dasarnya penelitian ini tidak memerlukan notasi formal. Hasil dan Pembahasan Bentuk Campur Kode Penggunaan bahasa di berbagai peristiwa tutur yang terjadi pada masyarakat bahasa Melayu Maumere sangat bervariatif. Terjadinya campur kode dari satu kode ke dalam kode yang lain merupakan hal yang logis bagi mereka, karena situasi kebahasaan yang multilingual pada masyarakat tersebut. Kenyataan itu dilakukan karena pada umumnya mereka menguasai bahasa-bahasa yang digunakan dengan baik, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Melayu Maumere, dan bahasa ibu mereka seperti bahasa Lio dan bahasa Sikka Krowe. Campuran kode dilakukan, misalnya ketika seorang penutur dwibahasa yang mampu menggunakan dua bahasa (Indonesia dan Melayu Maumer. secara bersamaan dalam komunikasi dalam kurun waktu yang sama. Soewito . 5: . membedakan campur kode menjadi dua macam, yaitu campur kode intern dan campur kode Kedua kode tersebut ditemukan dalam tuturan interaksi jual beli di pasar Alok-Maumere. Campur Kode Intern Menurut Soewito . campur kode intern adalah campur kode yang terjadi antara bahasa daerah dalam bahasa Jurnal Bindo Sastra 1 . : 112Ae120 nasional, antara dialek dalam satu bahasa daerah atau antara beberapa ragam dan gaya yang terdapat satu dialek atau terjadi percampuran bahasa yang masih serumpun. Campur kode intern dalam penelitian ini dapat berwujud kata dan frasa. Campur Kode Berwujud Kata Dalam interaksi jual beli di pasar Alok-Maumere, menjajakan dagangan kepada pembeli terdapat tuturan campur kode berupa kata yang digunakan dengan tujuan agar dagangannya cepat laku. Penggalan percakapan dalam data . berikut berisi tuturan yang berupa campur kode intern yang berwujud kata dari penjual kepada pembeli agar pembeli tertarik dengan dagangannya yang berupa rok. Data . Pembeli: AuRok ini berapa harganya. Mas?Ay Penjual: AuDelapan puluh lima ribuAy Pembeli: AuWuiA mahal ngeri Mas! Turun sedikitkah masAy Penjual: AuPas delapan puluh ribu. Ay Dalam tersebut pembeli bertutur menggunakan campur kode intern dengan menyisipkan bahasa Melayu Maumere dan bahasa Indonesia. Seperti pada tuturan AuWuiA mahal ngeri! Turun sedikitkah masAy yang berarti AuMahal sekali, tidak bisa kurang. MasAy yang berasal dari tuturan bahasa Melayu Maumere dan diikuti dengan bahasa Indonesia. Tuturan campur kode tersebut disebabkan pembeli merasa terkejut dan pembeli beranggapan bahwa harga rok tersebut tidak akan setinggi yang ditawarkan oleh penjual. Namun, bagi penjual menawarkan dengan harga berapa pun tidak ada yang melarang. Penggalan percakapan dalam data . mengandung tuturan yang berupa campuran kode intern yang berwujud kata, dagangannya berupa sayur dengan harga terlalu tinggi. Data . Pembeli: AuSayur ini berapa. Inang?Ay Penjual: AuDua lima ribu. Ay Pembeli: AuAisA. tiga su e. Ay Penjual: AuTidak bisa di. dua aAou ju ambil dengan tiga lima ribu na. Ay Penggalan percakapan . pembeli menggunakan tuturan campuran kode intern dengan menyisipkan bahasa Melayu Maumere ke dalam Tuturan bahasa Indonesia. Hal ini terlihat pada tuturan AuSayur ini berapa. Inang?Ay dan AuTiga su Ay Tuturan tersebut merupakan campuran kode dari bahasa Melayu Maumere, di mana AuInangAy berarti Aubunda, mama atau ibuAy dan Ausu eAy artinya AusudahAy. `Kedua tuturan tersebut dalam tuturan bahasa Indonesia berarti Ausayur ini berapaAy, dan AuempatAy. Tuturan tersebut terjadi pada tataran kata. Berbeda dengan tuturan penjual yang mengatakan AuTidak bisa di. dua aAou ju ambil dengan tiga lima ribu na. Ay itu terjadi pada tataran klausa. Pembeli merasa terkejut dan kecewa dengan harga yang terlalu tinggi yang ditawarkan oleh Penggalan percakapan dalam data . berisi tuturan campur kode intern yang berwujud kata dalam tawar-menawar antara penjual dan pembeli yang belum disepakati. Data . Pembeli: AuIkan selar berapa?Ay Penjual: AuEnam dua puluh, mama. Ay Pembeli: AuDari kapan ikan goit ini su e. Ay Penjual: AuAdu Bapak untu apa jao jual ika yang su ancur. Ay Penggalan percakapan . tersebut di atas pemakain campur kode dipakai pada saat pembeli menanyakan kepada penjual, antara tuturan bahasa Melayu Maumere dan Lio yang diselingi dengan tuturan bahasa Indonesia. Seperti pada kata Au goit ini su eAy berarti Auhancur/rusakAy . uturan pembel. dan Auuntu, jao, dan ikaAy yang berarti Auuntuk, saya, ikanAy . enjual yang berasal dari wilayah Maumere-Li. Penggalan campur kode di atas merupakan realitas kongkrit yang terjadi pada saat tawarmenawar antara pembeli orang Maumere dengan penjual orang Maumere-Lio. Campur Kode Berwujud Frasa Peristiwa campur kode yang berwujud frasa juga dipakai oleh penjual terhadap pembeli dalam tawar-menawar di Alok-Maumere. Penggalan percakapan . berisi tuturan campur kode intern yang berwujud frasa pada saat tawarmenawar. Data . Penjual: AuMari, lihat-lihat pakian dulu. Ay Pembeli: AuAda terusan anak usia tiga tahun. Mas. Ay Penjual: AuAda ibu. Ay Pembeli: AuBerapa harganya?Ay Penjual: AuLima puluh ribu. Ay Pembeli: AuJao pi tes dulu baru datang. Ay Percakapan . campur kode intern berupa tuturan bahasa Melayu Maumere-Lio pada tataran klausa yang berbunyi AuJao piAy yang artinya Aukami pergiAy. Frasa AuJao piAy merupakan tuturan dari bahasa Melayu Maumere-Lio yang disisipi dengan tuturan bahasa Indonesia Aubaru datangAy. Bahasa lisan yang disampaikan pembeli kepada penjual yan tertera di atas AuJao pi tes dulu baru datangAy memiliki dua makna. Pertama, pembeli merasa pakian yang ditawarnya terlalu mahal. Ini terbukti karena antara penjual dan pembeli tidak ada komunikasi lanjutan tentang pakian terusan yang dijual Kedua, pembeli menjelaskan kepada penjual, bahwa pembeli pasti membeli pakian itu, namun pembeli menegaskan untuk mencobanya dan setelah itu akan datang bawa kembali untuk melakukan transaksi pembayaran terusan tersebut. Campur Kode Ekstern Campur kode ekstern terjadi karena penyisipan unsure-unsur yang bersumber dari bahasa asing. Dalam wacana interaksi jual-beli di pasar Alok-Maumeresering dijumpai pemakaian tuturan campur kode ekstern yang mencakup unsure-unsur dari bahasa luar daerah atau pun bahasa asing (Inggri. Di dalam penelitian ini campur kode ekstern ditemukan janya campur kode bahasa Jawa dengan campur kode bahasa Asing (Inggri. Campur Kode Ekstern Dari Bahasa Jawa Dalam wacana jual-beli di pasar Alok-Maumere, pembeli dan penjual sering menggunakan campur kode dengan memasukkan unsure-unsur bahasa luar, baik bahasa daerah lainnya maupun bahasa Gustav. Campur Kode dalam Transaksi Jual Beli Itu karena teridentifikasi factor kebiasaan oleh penjual atau pembeli. Dengan demikian penjual dan pembeli dapat menyesyaikan diri dengan siapa mereka berhadapan. Bila berhadapan dengan pembeli maka bahasa yang dipakai pun menyesuaikan dengan pembeli agar terjadi komunikasi yang lebih akrab. Penggalan percakapan dalam data . berisi tuturan yang berupa campuran kode ekstern dari bahasa Jawa. Data . Penjual: AuCari apa. Mba?Ay Pembeli: AuLihat-lihat. MasAy Penjual: AuBoleh lihat ko! Sapa tahu suka Penggalan percakapan . , penjual dan pembeli menggunakan campur kode bahasa jawa yang diselingi dengan tuturan bahasa Indonesia seperti pada tuturan AumbaAy dan AumasAy yang artinya AuperempuanAy dan Aulaki-lakiAy. Itu karena penjual orang Jawa sehingga kebiasaan bertutur untuk perempuan selalu memakai kata AumbaAy. Begitu pula pembeli ketika melihat bahwa penjual orang Jawa maka responnya menggunakan bahasa Jawa, yaitu AumasAy. Penjual menggunakan tutur tersebut karena pembeli berlatar belakang orang Jawa diselingi dengan tutur bahasa Indonesia. Campur Kode Dari Bahasa Inggris Dalam proses interaksi jual-beli di pasar Alok-Maumere, pembeli dan penjual kadang-kadang sama-sama menggunakan unsur-unsur bahasa asing sehingga terjadi campur kode dari bahasa asing pada saat terjadi tawar-menawar. Kegiatan tersebut dilakukan karena penjual mempunyai maksud tertentu. Dengan demikian akan terjadi komunikasi yang akrab. Penggalan percakapan dalam data . berikut berisi tuturan yang mengandung campur kode ekstern dari bahasa Inggris, antara penjual dan pembeli dalam tawar-menawar Data . Penjual: AuBu beli apaAy Pembeli: AuCari speaker. Ay Penjual: AuMau yang aktif atau biasa. Ay Pembeli: AuYang aktif saja. Harganya berapa?Ay Jurnal Bindo Sastra 1 . : 112Ae120 Penjual: AuTujuh Ratus Lima Puluh Ribu. Boleh nawar. Ay Penggalan percakapan di atas, tuturan AuspeakerAy berasal dari bahasa Inggris yang artinya Aupengeras suaraAy. Namun karena kebiasaan oleh penutur maka pada saat tawar-menawar barang pun sering terjadi penggunaan unsure-unsur bahasa Inggris. Faktor Terjadinya Campur Kode Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode pada tuturan interaksi jual-beli di pasar Alok-Maumere Identifikasi Peran Dalam tuturan interaksi jual-beli di pasar Alok-Maumere, penjual dan pembeli selalu memakai bahasa yang mudah diterima antara keduanya. Tuturan ini juga dipakai sebagai pengantar komunikasi agar barang dagangan dibeli, sedangkan pembeli merasa puas dengan barang yang Peran penjual sangat penting dalam melakukan tawar-menawar agar pembeli dapat singgah di tempat jualannya dan barangnya laku. Penjual berupaya maksimal agar dapat mempengaruhi pembeli dengan menyatakan bahwa semua barang adagangannya bsgus dan tidak cepat Penggalan percakapan dalam data . berikut berisi tuturan yang menunjukkan bahwa factor identifikasi peran penjual dagangannya kepada pembeli sehingga terjadi campur kode dalam tuturan pemakaian bahasa Indonesia yang disisipi bahasa Melayu Maumere. Data . Pembeli: AuAda celana ya Mbak?Ay Penjual: AuAda. Mau model yang ganu pae?Ay Pembeli: AuAAou lihat dulu, ya Mbak?Ay Penjual: AuMari!Ay Pembeli: AuYang ini harganya berapa Mbak?Ay Penjual: AuSeratus tuju puluh. Boleh nawar ko?Ay Pembeli: AuSeratus su e Mbak?Ay Penjual: AuRehi dapat ma. Ay Penggalan . menyebutkan bahwa penjual dan pembeli memakai tuturan bahasa Indonesia yang kadang-kadang disisipi tuturan bahasa Melayu Maumere. Misalnya, tuturan Aumau model yang ganupaeAy. AuaAou lihat duluAy, dan Aurehi dapat maAy merupakan tuturan bahasa Indonesia yang disisipi tuturan bahasa Melayu Maumere, yaitu kata Augau pae, aAou, rehiAy. Dengan demikian penjual dapat berkomunikasi dengan pembeli yang menggunakan campur kode. Penjual campur kode tersebut untuk menanyakan model dan motif celana yang mau dibeli Interaksi ini terjadi di sebuah toko pakian yang ada di pasar Alok-Maumere. Identifikasi Ragam Dalam tuturan interaksi jual-beli di pasar Alok-Maumere, penjual menawarkan dagangannya kepada pembeli dengan berbagai macam ragam bahasa Melayu Maumere-Lio. Selain menyesuaikan tuturan yang dipakai oleh pembeli, atau sebaliknya dengan tujuan agar dapat berkomunikasi dengan lancar. Penggalan percakapan dalam data . mengandung tuturan campur kode yang menunjukkan bahwa faktor indentifikasi ragam menyebabkan terjadinya campur kode dalam tuturan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Melayu MaumereLio. Data . Pembeli: AuSayur ini satu ikat berapa. Ina?Ay Penjual: AuSatu Ikat dua ribu, ama. Pembeli: AuTiga lima ribu su Ina e?Ay Penjual: AuAdu Ama iwa dapa utung. Ama. Ay Pembeli: AuNa kasi jao lima ikat su. Ay Penjual: AuDengan apa lai Ama?Ay Pembeli: AuIwa lai InaAy Penggalan percakapan . , penjual dan pembeli menggunakan campur kode dari bahasa Indonesia yang disisipi dengan tutur bahasa Melayu Maumere-Lio. Hal ini terjadi karena antara pembeli dan penjual sama-sama menggunakan tuturan bahasa Indonesia Melayu Maumere-Lio. Tuturan Melayu MaumereLio yang disisipikan dalam tuturan bahasa Indonesia, seperti AuinaAy. Ausu ina eAy, adu Gustav. Campur Kode dalam Transaksi Jual Beli ama jao iwa dapa untung amaAy. AuapalaiAy. Auiwa laiAy. Dengan campur kode ini penjual dan ingin menerangkan kepada pembeli dengan berbagai macam ragam bahasa agar diungkapkan penjual. Percakapan ini terjadi pada saat pembeli menawarkan sayursayuran kepada penjual yang latar belakang bahasa aslinya adalah bahasa Lio. Simpulan Beberapa dengan hasi penelitian ini adalah: Bentuk campur kode. Ada dua macam campur kode dalam tuturan interaksi jual-beli di pasar AlokMaumere, yaitu campur kode intern dan campur kode ekstern. Campur kode intern berwujud kata dan Sedangkan campur kode ekstern mencakup bahasa Jawa dan bahasa asing (Inggri. Faktor campur kode. Ada dua faktor timbulnya campur kode bahasa, yaitu identifikasi peran dan Daftar Pustaka