PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 13 NOMOR 4 . , 569 - 585 PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT. UNIVERSITAS TADULAKO ISSN (P) 2088-3536 ISSN (E) 2528-3375 http://jurnal. id/index. php/preventif Korelasi Tingkat Stres Pada Ibu yang Bekerja dengan Tindakan Kekerasan pada Anak Selama Pandemi Covid-19 di Kabupaten Lumajang Alifiah Puji Larasati*1. Lutfi Agus Salim1 Departemen Epidemiologi. Biostatistika Kependudukan dan Promosi Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Airlangga alifiahlarasati09@gmail. ABSTRAK Kekerasan pada anak selama pandemi Covid-19 cenderung mengalami peningkatan di Kabupaten Lumajang. Jawa Timur. Adapun penyebab dari fenomena ini adalah tingkat stres pada anggota keluarga semakin meningkat, terutama pada ibu yang bekerja karena adanya peran ganda, baik sebagai ibu maupun sebagai pekerja. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk membahas korelasi antara tingkat stres pada ibu yang bekerja selama pandemi dengan kekerasan pada anak khususnya di Kabupaten Lumajang. Jawa Timur. Peneltian ini termasuk dalam penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Adapun responden penelitian ini berjumlah 100 yang merupakan ibu yang bekerja, memiliki anak kurang dari 18 tahun, dan tinggal di Kabupaten Lumajang. Penelitian ini menggunakan analisis spearman rho. Karakteristik responden pada penelitian ini ada empat, yaitu usia, tingkat pendidikan. tempat kerja. keikutsertaan kelas/seminar parenting yang *merupakan faktor-faktor penyebab responden mengalami Setelah dianalisis, didapatkan hasil bahwa tingkat pendidikan, tempat kerja, dan keikutsertaan kelas/seminar parenting tidak memiliki korelasi dengan tingkat stres, kecuali usia*. Selain itu, antara tingkat stres ibu yang bekerja terdapat korelasi dengan kekerasan anak . =0,. Namun untuk kekuatan hubungan variabel ini tergolong lemah . =0,. Tentunya hal ini bisa jadi disebabkan karena berbagai faktor lain yang tidak diteliti, seperti kepribadian ibu, koping stres, besar keluarga, pendapatan ekonomi, dan lainnya. Meskipun demikian, ibu yang bekerja di Kabupaten Lumajang memiliki tingkat stres yang rendah sehingga jarang melakukan kekerasan pada anaknya. Kata Kunci: Kekerasan anak. stres ibu. Published by: Article history : Tadulako University Received : 15 12 2021 Address: Received in revised form : 08 01 2022 Jl. Soekarno Hatta KM 9. Kota Palu. Sulawesi Tengah. Accepted : 11 01 2022 Indonesia. Available online : 31 12 2022 Phone: 628114120202 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Email: Preventif. fkmuntad@gmail. ABSTRACT Child abuse during the Covid-19 pandemic had increased in Lumajang Regency. East Java. This phenomenon was caused by increased stress level in every family members, especially to the working mother due to her double role both as a mother and a worker. Therefore, this case was interesting to learn more about the correlation between stress level on working mother and child abuse during the Covid-19 pandemic in Lumajang Regency. This research was an observational analytic with cross sectional design. The participant for this research was 100 people who were working mother, had less than 18 years old child, and lived in Lumajang Regency. The data was analyzed by using spearman rho test. The charactiristics of the participants were age, educational level, participation in parenting class/workshop, and workplace. *After we analyzed, we found that education level, workplace, and participation in parenting class/workshop had no correlation with stress level, except respondentAos * Additionally, stress level on working mother has accociation with child abuse that mother did . =0,. However this relationship between stress level and child abuse is weak . =0,. This might be happened because other factors unresearched such as personality of mother, coping stress strategy, big family, economic income, and other things. Nevertheless, working mother in Lumajang Regency had low stress level and rarely abused their children. Keywords : Child abuse. mother stress. PENDAHULUAN Pandemi Covid-19 memberikan dampak negatif bagi seluruh elemen masyarakat, mulai dari pengangguran yang meningkat, sekolah yang ditutup sementara, dan pembatasan keluar Dengan perubahan tersebut, stres yang dialami oleh tiap individu meningkat, yang menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga terjadi, salah satunya kekerasan anak . Selama pandemi Covid-19, salah satu kebijakan yang dibuat oleh pemerintah adalah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besa. atau PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyaraka. untuk mengurangi mobilitas masyarakat . Adapun dampaknya bagi para pekerja adalah bekerja dari rumah atau WFH . ork from hom. Menurut Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 47 Tahun 2021, seluruh wilayah Jawa-Bali yang berstatus level 4 harus menerapkan pembelajaran jarak jauh dan kegiatan sektor nonesensial diberlakukan secara WFH. Di Indonesia sendiri, pemberlakuan WFH sudah diterapkan pada bulan Maret 2020 . dan diberlakukan lagi saat ada gelombang kedua pada Juni 2021. Akibatnya beban bagi orang tua bertambah satu lagi, yaitu menjadi guru pengganti yang mendampingi anaknya belajar dengan bantuan teknologi. Hal ini dinilai tidak efektif karena tidak sedikit orang tua yang mengerti teknologi . Selain itu, juga ada kendala jaringan internet, kurang bisa membimbing dan memahami materi pelajaran, dan keterbatasan media . Selain itu, mereka juga kesulitan untuk menumbuhkan minat belajar anak. Hal ini dikarenakan anak cemas, stres, bosan, dan jenuh sehingga tidak termotivasi untuk belajar . Berdasarkan survei yang dilakukan oleh KPAI, selama pandemi Covid-19 orang tua mengaku pernah mencubit anak . ,8%). 19,5% pernah menjewer. 10,6% memukul. 7,7% pernah menarik. dan sisanya pernah mengurung, mendorong, menampar, menjambak, menendang, dan menginjak. Mayoritas yang melakukan kekerasan fisik tersebut terhadap anak adalah ibu . ,4%) . Selama tahun 2017 hingga 2021 kasus kekerasan anak di Jawa Timur cenderung Jumlah kekerasan fisik dan psikis pada tahun 2017 adalah 337 dan 226. tahun 2018 kasusnya bertambah menjadi 368 kekerasan fisik dan 247 kekerasan psikis. 2019 kekerasan fisik menurun menjadi 332 kasus dan 355 kasus kekerasan psikis. naik lagi menjadi 476 kekerasan fisik dan 372 kekerasan psikis. dan pada tahun 2021 turun menjadi 194 kasus kekerasan fisik dan 211 kekerasan psikis per 8 November 2021 . Ditambah, menurut laporan dari Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Lumajang, kekerasan di Kabupaten Lumajang juga cenderung Pada tahun 2017 saja, kekerasan fisik pada anak dilaporkan terdapat 1 kasus dan kekerasan psikis 2 kasus. tahun 2018 terdapat 2 kasus kekerasan fisik dan 3 kasus kekerasan tahun 2019 dan 2020 tidak ada kasus kekerasan fisik namun terdapat 1 kasus kekerasan psikis pada tahun 2019. dan pada tahun 2021 kekerasan fisik naik menjadi 15 kasus namun tidak ada kekerasan psikis per 2 September 2021 . Kebutuhan keluarga yang meningkat juga membuat tingkat stres pada keluarga meningkat, seperti pengeluaran untuk kesehatan, pendidikan, pemenuhan pangan, dan bahan bakar untuk memasak . Hal tersebut menyebabkan para ibu berinisiatif untuk mencari pemasukan tambahan guna menopang kebutuhan ekonomi keluarga . Sehingga, para wanita karir ini memiliki beban ganda harus menjalankan kewajibannya sebagai istri dan ibu dan juga harus menjadi pekerja, sehingga tuntutan untuk membagi waktu harus dilakukan dengan adil . Emosi yang kurang stabil pada ibu yang bekerja menyebabkan masalah pekerjaan bisa tercampur dengan urusan rumah, maupun sebaliknya, sehingga dapat terjadi kekerasan anak . Hal ini berkaitan dengan peran gender yang ada di masyarakat. Bahkan, untuk perempuan memiliki kecenderungan tingkat stres dan konflik yang lebih tinggi daripada laki-laki di tempat kerja dan keluarga . Fenomena dampak stres pada pekerja wanita yang sudah memiliki anak merupakan hal yang menarik untuk ditelaah dan dianalisis lebih lanjut. Dampak dari stres tidak bisa dipandang sebelah mata karena apabila tidak dapat dikontrol dapat menyebabkan seseorang kehilangan melakukan tindakan yang merugikan orang lain, seperti kekerasan pada anak. Akibatnya, korban yang merupakan anak-anak itu akan mengalami trauma yang akan menghambat proses tumbuh kembangnya dengan orang lain. Sehingga, peneliti tertarik untuk mencari tahu hubungan tingkat stres pada ibu yang bekerja selama pandemi Covid-19 dengan tingkat kekerasan anak di Kabupaten Lumajang. METODE Metode yang digunakan pada penelitian ini termasuk dalam penelitian observasional Hal ini dikarenakan peneliti menganalisis antara tingkat stres dengan kekerasan pada anak tanpa memberikan perlakukan apapun. Adapun untuk desain penelitiannya menggunakan cross sectional karena pengukuran variabel-variabel yang diteliti dilakukan pada satu waktu yang sama. Populasi penelitian merupakan seluruh ibu yang bekerja di Kabupaten Lumajang pada tahun 2021. Pengambilan untuk sampel penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling. Responden yang merupakan ibu yang bekerja, memiliki anak kurang dari 18 tahun, dan berdomisili di Kabupaten Lumajang merupakan kriteria inklusi dari penelitian ini. Setelah dihitung menggunakan rumus lemeshow dengan besar sampel tidak diketahui, sampel minimal yang dapat diambil adalah 97 responden. Namun dalam penelitian ini mendapatkan 103 responden dengan 3 responden tidak termasuk kriteria inklusi. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah stres ibu dan kekerasan anak. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner online google form. Untuk kategori tingkat stres, responden dengan skor kurang dari 44% termasuk dalam tingkat stres rendah, jika skor responden antara 45% - 70% termasuk dalam kategori tingkat stres sedang, dan jika 70% ke atas memiliki tingkat stres tinggi. Sedangkan untuk kategori kekerasan anak, responden yang memiliki skor 35% atau kurang jarang melakukan kekerasan pada anak, jika skor antara 36% - 65% kadang-kadang melakukan kekerasan pada anak, dan jika skornya 65% atau lebih maka sering melakukan kekerasan pada anak. Pengolahan data dilakukan dengan cara editing, coding, entry, cleaning, dan analyze. Pada penelitian ini, analisis data dilakukan dengan uji chi square untuk mengetahui hubungan karakteristik responden dengan tingkat stres dan korelasi spearman untuk mengetahui tingkat stres dengan kekerasan anak. HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Responden Usia <30 tahun Ou30 tahun Tingkat Pendidikan Rendah-sedang Tinggi Tempat Kerja WFH WFO Keduanya Keikutsertaan Kelas/Seminar Parenting Belum pernah Pernah Sumber: Data Primer, 2020 Responden pada penelitian ini adalah ibu yang bekerja yang berdomisili di Kabupaten Lumajang. Jawa Timur. Adapaun untuk karakteristik ibu yang bekerja pada penelitian ini meliputi usia, tingkat pendidikan, tempat kerja, dan keikutsertaan kelas/seminar parenting. Berdasarkan tabel 1 tentang distribusi frekuensi responden, dari 100 ibu yang bekerja, mayoritas berusia 30 tahun atau lebih . ,0%), memiliki latar belakang pendidikan tinggi . ,0%), bekerja dari kantor atau WFO . ,0%) dan juga belum pernah ikut kelas/seminar parenting . ,0%). Tabel 2. Korelasi Antara Karakteristik Responden dengan Tingkat Stres Tingkat Stres Karakteristik Rendah Sedang p value Usia <30 tahun Ou30 tahun Tingkat Pendidikan Rendah Ae sedang Tinggi Tempat Kerja WFH WFO Keduanya Keikutsertaan Kelas/Seminar Parenting Belum pernah Pernah Sumber: Data Primer, 2020 0,046 . <0,. 0,467 . >0,. 0,159 . >0,. 0,801 . >0,. Usia ibu yang bekerja dibagi menjadi dua, yaitu kurang dari 30 tahun dan 30 tahun atau Dapat dilihat pada tabel 2 bahwa mayoritas responden yang berusia kurang dari 30 tahun memiliki tingkat stres yang lebih tinggi . ,0%) daripada ibu yang berusia 30 tahun atau lebih . ,0%). Mayoritas ibu yang lebih muda . urang dari 30 tahu. memiliki tingkat stres yang lebih tinggi . ,0%) daripada ibu dengan usia 30 tahun atau lebih . ,0%). Semakin tua usia seseorang, maka semakin rendah juga tingkat stresnya . Adapun hasil dari uji FisherAos Exact menunjukkan terdapat nilai yang signifikan yaitu p=0,046. Hal ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan tingkat stres pada ibu yang Distribusi tingkat pendidikan ibu yang bekerja dibagi menjadi dua, yakni tingkat pendidikan rendah-sedang dan tinggi. Ibu dengan lulusan sekolah dasar hingga sekolah menengah termasuk dalam kategori tingkat pendidikan rendah-sedang, sedangkan ibu dengan lulusan perguruan tinggi termasuk ke dalam kategori tingkat pendidikan tinggi. Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa ibu dengan tingkat pendidikan rendah-sedang cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi . ,6%) daripada ibu dengan tingkat pendidikan tinggi . ,5%). Hasil dari uji spearman rho menunjukkan bahwa nilai p=0,467 yang artinya bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat stres pada ibu yang bekerja. Distribusi tempat kerja dibagi menjadi tiga kategori, yaitu bekerja dari rumah (WFH), bekerja dari kantor (WFO), dan keduanya (WFH dan WFO). Pada tabel 2 dapat didapatkan informasi bahwa tingkat stres lebih tinggi terjadi pada ibu yang bekerja dari rumah atau WFH . ,1%) sedangkan tingkat stres rendah dialami oleh ibu yang bekerja baik di rumah maupun di kantor . yaitu sebanyak 20,0%. Setelah duji dengan FisherAos Exact, didapatkan nilai p=0,159. Hal ini berarti tidak ada hubungan antara tempat kerja dengan tingkat stres pada ibu yang bekerja. Keikutsertaan kelas/seminar parenting dibagi menjadi dua, yaitu pernah dan tidak Berdasarkan informasi yang didapat pada tabel 2, ibu yang pernah mengikuti kelas/seminar parenting memiliki tingkat stres yang lebih rendah . ,3%) daripada ibu yang belum pernah mengikuti kelas/seminar parenting . ,7%). Setelah diuji statistic didapatkan nilai p=0,801. Hal ini berarti tidak ada hubungan antara keikutsertaan kelas/seminar parenting dengan tingkat stres pada ibu yang bekerja. Tabel 3. Korelasi Antara Tingkat Stres Responden dengan Tindakan Kekerasan pada Anak Tingkat Kekerasan Anak Spearman Rho Test Tingkat Jarang KadangCorrelation Stres p value . Rendah 0,237 0,018 Tinggi Sumber: Data Primer, 2020 Tingkat stres pada ibu yang bekerja dibagi menjadi dua kategori yaitu tingkat stres rendah dan tingkat stres tinggi, sedangkan untuk tingkat kekerasan anak dibagi menjadi dua kategori juga yaitu jarang melakukan kekerasan anak dan kadang-kadang melakukan kekerasan pada Berdasarkan informasi pada tabel 3, ibu yang bekerja dengan stres tinggi lebih sering melakukan tindakan kekerasan pada anak selama pandemi Covid-19 . ,0%) daripada ibu yang bekerja dengan stres rendah . ,0%). Selain itu, ketika diuji dengan spearman rho didapatkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat stres dengan tindakan kekerasan pada anak selama pandemi Covid-19 . =0,. Hubungan ini memiliki arah yang positif . =0,. yang berarti semakin tinggi tingkat stres ibu yang bekerja maka semakin sering tindakan kekerasan dilakukan. Hubungan ini juga dinilai lemah . PEMBAHASAN Korelasi antara usia dengan tingkat stres Usia merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat stres. Usia digunakan juga untuk mengukur dan membandingkan perubahan biologis pada manusia. Usia dalam penelitian ini mempengaruhi tingkat stres yang dimiliki oleh ibu yang bekerja. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ansori dan Martiana . bahwa semakin muda umur seseorang, maka semakin tinggi tingkat stres yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan menjadi ibu di usia muda lebih mudah mengalami stres, cemas, dan frustasi . Semakin tua usia seseorang maka kemampuan untuk mengolah informasi semakin berkembang dan memiliki pola pikir yang baik . Orang yang lebih tua dianggap mampu mengendalikan stresnya karena sudah siap menghadapi situasi yang tidak pasti dan dapat mengatasi hal yang tidak nyaman. Ibu dengan usia yang lebih tua memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam menghasapi masalah. Hal ini dapat mempengaruhi pola pikir dan kemampuan kognitif yang membentuk cara berpikir Maka dari itu, ibu yang memasuki usia paruh baya mudah mempelajari tentang pengelolaan stres untuk menghindari kekerasan pada anak . Hal ini berkebalikan dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa semakin tua dan renta seseorang, kemampuan dalam menghindari situasi yang tegang dan kesulitan dalam meregulasi emosi yang lebih sulit . Korelasi antara tingkat pendidikan dengan tingkat stres Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap wawasan pengetahuan yang dimilikinya . , sehingga ketika seseorang tersebut memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, mereka akan lebih berinisiatif untuk mencari tahu sesuatu yang masih belum mereka pahami. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Suci pada tahun 2018, terdapat hubungan terbalik antara tingkat pendidikan dengan tingkat stres. Artinya, semakin rendah tingkat pendidikan maka semakin tinggi tingkat stresnya, dan sebaliknya . Namun pada penelitian ini tingkat pendidikan tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap tingkat stres yang dimiliki oleh responden yang merupakan ibu yang bekerja. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu bahwa juga tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat stres . Pendidikan adalah hal yang dapat menolong seseorang untuk menamatkan pekerjaan. Hal ini dikarenakan semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin baik pengetahuan yang mereka terima . Tidak adanya korelasi antara tingkat pendidikan dengan tingkat stres bisa jadi disebabkan karena kemudahan akses yang semakin mudah menggunakan internet . Meskipun memiliki tingkat pendidikan yang rendah sekalipun, jika mereka mudah mengakses informasi terutama informasi tentang pengelolaan stres maka kemungkinan dapat meregulasi stresnya dengan baik. Penggunaan internet untuk mengakses informasi dapat mengubah kualitas hidup mereka . Banyak sekali informasi yang mengedukasi Korelasi tempat kerja dengan tingkat stres Tempat kerja adalah salah satu elemen yang penting untuk menentukan pekerjaan dan tingkat produktivitas . Namun pada penelitian ini, didapatkan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara tempat kerja dengan stres responden. Mayoritas ibu yang WFH memiliki tingkat stres yang lebih tinggi daripada yang WFO maupun keduanya. Mereka dapat meluangkan waktu untuk memonitor dan menemani anak, terutama bagi ibu yang usianya masih muda dan anaknya masih kecil. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian yang Shepherd-Banigan et al. , pada tahun 2016 yang menyatakan bahwa tidak ada korelasi antara WFH dengan tingkat stres pada wanita yang bekerja, bahkan dengan bekerja dari rumah dapat mengurangi tingkat stres. Hal ini juga disebabkan karena kriteria responden pada peneltian Shepherd-Banigan et al. adalah ibu yang kerja sebagai karyawan dan merupakan sarjana perguruan tinggi . Akan tetapi berbeda dengan penelitian Song and Gao pada tahun 2020 yang menyatakan bahwa ibu yang bekerja dari rumah lebih sering terkena stres terutama selama hari kerja. Selain itu, mereka juga merasa tidak bahagia karena terganggu dengan anak-anak, sehingga ibu yang bekerja dari rumah sulit menyelesaikan pekerjaannya karena harus membagi fokus antara urusan rumah, anak, dan pekerjaannya . Salah satu penyebab stres adalah lingkungan kerja. Pada penelitian ini, lingkungan rumah responden bisa jadi sangat suportif. Kerjasama antara anggota keluarga atau dengan asisten rumah tangga dapat membantu responden, sehingga ia bisa mendelegasikan pekerjaan rumah tangga yang tidak terlalu penting kepada suami atau asisten rumah tangganya, jika Suami yang terlibat dalam mengasuh anak dan mengurus rumah tangga dapat mempengaruhi tingkat stres ibu, terutama dalam hal mengasuh anak . Di samping itu, bagi ibu yang WFO juga bisa jadi disebabkan karena lingkungan kerja yang baik, seperti lingkungan kerja yang aman, memiliki akses untuk melakukan pekerjaan yang inovatif, lingkungan kerja yang suportif, dan lainnya sehingga dapat membuat ibu tersebut nyaman bekerja di kantor . Korelasi keikutsertaan kelas/seminar parenting dengan tingkat stres Dapat dilihat pada tabel 2, pada penelitian ini keikutsertaan kelas/seminar parenting tidak memiliki korelasi terhadap tingkat stres ibu yang bekerja. Adapun kelas/seminar parenting ini tentang pengelolaan stres pengasuhan atau kekerasan pada anak. Penelitian lain yang dilakukan oleh Lindsay dan Totsika pada tahun 2017 mengatakan bahwa perubahan pada stres orang tua kecil dan tidak signifikan setelah mengikuti program parenting. Meskipun orang tua tersebut merasa puas dan meningkatkan self-efficacy-nya, namun tidak ada perubahan pada tingkat stresnya. Program parenting tersebut tidak berdampak terhadap hal yang berhubungan dengan tingkat stres atau kepuasan terhadap perannya sebagai orang . Namun, penelitian yang dilakukan oleh Iida. Wada. Yamashita, et al pada tahun 2018 menemukan bahwa melalui program parenting, tingkat stres pada orang tua menurun secara signifikan, bahkan koping stresnya semakin meningkat . Bahkan stres atau kecemasan yang dialami juga berkurang setelah mengikuti program parenting . Adanya hubungan yang tidak signifikan antara keikutsertaan kelas/seminar parenting dengan tingkat stres pada ibu yang bekerja bisa jadi disebabkan karena mereka punya akses informasi yang luas mengenai ilmu parenting. Informasi tersebut dapat mereka dapatkan melalui berbagai macam media, seperti media massa, media elektronik, dan lainnya . zaman yang maju akan teknologi, berbagai informasi bisa didapat dari mana saja, terutama media sosial, sehingga siapa saja mendapatkan informasi ilmu parenting secara gratis. Dengan internet, siapa saja dapat mengetahui berbagai informasi yang dibutuhkan . Semakin sering informasi ilmu parenting yang didapatkan oleh orang tua, maka perkembangan anak akan semakin baik. bahkan, aspek pemenuhan kebutuhannya juga terpenuh, seperti kasih sayang, kesehatan, dan aspek tumbuh kembang lainnya . Korelasi tingkat stres dengan kekerasan anak Pada penelitian ini, tingkat stres pada ibu yang bekerja cenderung rendah dan jarang melakukan kekerasan pada anaknya. Stres yang dimiliki ibu yang bekerja adalah stres pengasuhan dan stres kerja. Stres pengasuhan . arenting stres. adalah perasaan tegang yang muncul karena tuntutan peran menjadi orang tua sedangkan untuk stres kerja dapat terjadi saat orang yang bekerja tertekan oleh tuntutan-tuntutan yang ada dalam mengerjakan produktivitasnya turun . Adanya PJJ (Pembelajaran Jarak Jau. pada anak sekolah mengharuskan orang tua mendampingi anak belajar di rumah, selain itu mereka juga harus menyelesaikan tugas dari pekerjaannya . Kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tua seringnya tidak disadari, terutama kekerasan verbal, seperti membandingkan dengan anak orang lain. dan membentak . Tidak hanya itu, studi lainnya juga menyebutkan tentang kekerasan fisik yang sering dilakukan oleh orang tua untuk mendisiplinkan anak . , seperti menjewer, mencubit, memukul, dan lainnya. Semakin tinggi tekanan, ketidakpuasan, ketidaknyamanan, dan dukungan antar rekan kerja menyebabkan stres ibu yang bekerja semakin tinggi yang dapat memicu terjadinya kekerasan anak di rumah . Ibu yang memiliki peran ganda ini memiliki lebih banyak tanggung jawab. Ditambah dengan adanya belajar dari rumah juga menambah tekanan ibu karena tidak semua ibu memahami pembelajaran jarak jauh. Sehingga, anak yang kesulitan untuk memahami materi dapat menjadi sasaran kekerasan apabila ibu tersebut tidak dapat mengelola emosinya . Kekuatan hubungan pada penelitian ini juga lemah . apat dilihat pada tabel . Selain usia, ada banyak sekali faktor yang menyebabkan tingkat stres rendah dan ibu yang bekerja jarang melakukan kekerasan pada anak. Hal tersebut bisa jadi diakibatkan karena kondisi keluarga memiliki stabilitas ekonomi yang baik, terutama bagi suami responden yang memiliki gaji pokok tetap. Keluarga yang tidak memiliki pemasukan dapat berdampak pada produktivitas anggota keluarga itu sendiri . bahkan sampai menyebabkan frustasi. Saat ketegangan muncul, mereka akan lebih merespon dengan emosi. Ketika emosi mereda, permasalahan bisa terselesaikan, namun jika tidak ada kematangan emosi, maka mereka diliputi rasa cemas dan tertekan yang menyebabkan adanya perilaku agresif dan mudah marah yang dapat memicu terjadinya kekerasan . Tidak hanya itu, koping stres yang dimiliki oleh responden juga bisa dinilai baik sehingga mampu mengendalikan emosinya . , sehingga mereka bisa mengendalikan diri mereka dengan baik saat menghadapi masalah . Ada dua macam strategi koping stres, yaitu koping yang berfokus pada masalah dan berfokus pada emosi . Baik yang berfokus pada masalah maupun emosi, kedianya samasama penting. Responden bisa jadi memiliki koping stres yang berfokus pada keduanya . asalah dan emos. yang tidak buruk, sehingga kekerasan anak jarang terjadi. Adapun dampak yang ditimbulkan akibat kekerasan anak ini tidak boleh dipandang Meskipun awalnya orang tua bermaksud untuk mendisiplinkan anak, tetapi jika sampai mengancam jiwanya maka termasuk dalam kekerasan, seperti mengancam, membentak, mengejek, mencubit, menjewer, memukul, dan tindakan kekerasan lainnya . Hal ini dapat menyebabkan anak tersebut kesulitan bahkan tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri dan tidak sedikit juga yang kesehatan mentalnya terganggu . Menurut penelitian lain, anak yang pernah mengalami perlakuan yang salah dari salah satu atau kedua orang tuanya akan merasa dirinya tidak berharga dan menarik diri dari Akibat dari kekerasan verbal yang pernah dilakukan oleh orang tuanya, anakanak akan cenderung memiliki perilaku yang berisiko, seperti mencuri, berperilaku agresif, dan terkadang juga bisa membuat mereka kabur dari rumah agar tidak bertemu dengan orang Ketika dewasa kelak, mereka akan bermasalah ketika ingin menjalin hubungan dengan orang lain. Orang dewasa yang pernah mendapatkan kekerasan verbal oleh orang tuanya lebih mudah untuk menyakiti dirinya sendiri . elf-har. yang dapat menimbulkan bunuh diri. Selain itu, mereka menjadi lebih mudah depresi, cemas, bahkan menyebabkan trauma pada hal yang ada kaitannya dengan orang tua. Selain itu, saat anak mendapatkan perlakuan yang tidak baik secara fisik maupun verbal maka akan mempengaruhi kepribadiannya. Jika semasa hidupnya tidak mendapatkan pertolongan untuk menyelesaikan masalah maka akan menjadi semakin parah . KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian ini yaitu sebagian besar ibu bekerja di Kabupaten Lumajang selama pandemi Covid1-9 memiliki tingkat stres yang rendah dan jarang melakukan kekerasan pada anak, baik kekerasan fisik maupun verbal. Namun, kekuatan hubungan tersebut tergolong lemah. Hal ini disebabkan ada beberapa faktor lain yang tidak diteliti, seperti pendapatan rumah tangga, koping stres, dan lainnya. Untuk menanggulangi hal ini, baiknya pemerintah bekerja sama dengan penyiar radio atau stasiun televisi lokal untuk edukasi kekerasan anak dan manajemen stres. Selain itu, ada baiknya juga jika dalam perkumpulan ibu-ibu diselingi dengan edukasi manajemen stres dan sharing mengenai pengasuhan anak dari ibu satu ke ibu lainnya agar mereka dapat meningkatkan ilmu mengenai manajemen stres dan kekerasan anak. Namun, untuk peneliti selanjutnya dapat mempertimbangkan variabel lainnya yang berhubungan dengan kekerasan anak dan tingkat DAFTAR PUSTAKA