Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis. Vol. 2 No. 1 Edisi Desember 2018 EFEKTIFITAS ALBENDAZOLE TERHADAP FASCIOLA SP PADA PETERNAKAN SAPI POTONG RAKYAT DI KECAMATAN GEGERBITUNG KABUPATEN SUKABUMI Albendazole Effectivity to Fasciola Sp. in Traditional Cattle Farm in Gegerbitung District. Sukabumi Endang Endrakasih* Jurusan Penyuluhan Peternakan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor *Korespondensi Penulis: E mail endangendrakasih@gmail. Diterima: Februari 2018 Disetujui terbit: April 2018 ABSTRACT Cattle farms in Gegerbitung District. Sukabumi were traditional farms and carried out below standard by giving irregular worm medication and tended to use the same active ingredients Such conditions have the potential to raise cases of helminthiosis and decreased effectiveness / resistancy to the anthelmintic. A common case of helminthiosis found in cows was There was no accurate data on the prevalence of fasciolosis cases in Indonesia, but it was estimated to reach 60 - 90%. Anthelmintic used in general was albendazole. This study aimed to determine: . Prevalence of fasciolosis events . umber of attack / positive tes. Severity of attack . Effectiveness of albendazole to Fasciola sp. Identification of worm eggs in feces was done by sedimentation method. The number of worm eggs per gram of feces were also calculated to determine the severity of infestation, prevalence and effectiveness of albendazole. The results showed that from 40 cows samples. Fasciola sp. Was found in 6 cattle . % of total sampl. Thus the prevalence of fasciolosis was 15%. The severity of fasciolosis on 6 cattle averaged 19. 66 eggs per gram of feces. After treatment with albendazole, 6 positive cattle became negative. It can be concluded that the prevalence and severity infestation of fasciolosis in Gegerbitung District was classified as mild infestation. Albendazole was still effective for fasciolosis. Keywords: traditional cattle farm, fasciolosis, albendazole effectivity ABSTRAK Kondisi peternakan sapi rakyat masih dilaksanakan dibawah standar dengan pemberian obat cacing yang tidak teratur dan cenderung menggunakan obat cacing dengan bahan aktif yang sama. Kondisi semacam ini berpotensi memunculkan kasus penyakit, khususnya kecacingan dan penurunan efektifitas/resistensi jenis obat cacing termaksud. Kasus kecacingan yang umum dijumpai pada sapi adalah fasciolosis. Tidak ada data akurat prevalensi kasus fasciolosis di Indonesia, namun diperkirakan mencapai 60 Ae 90 %. Sedangkan obat cacing yang digunakan pada umumnya adalah Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: . Prevalensi kejadian fasciolosis . umlah terserang/positif uji ) . Tingkat keparahan serangan . Efektifitas albendazole terhadap Fasciola Identifikasi telur cacing dalam feses dilakukan dengan metode sedimentasi. Selain itu juga dilakukan perhitungan jumlah telur cacing per gram feses untuk mengetahui tingkat keparahan infestasi, prevalensi dan efektifitas albendazole. Hasil penelitian menunjukkan dari 40 ekor sapi sample, ditemukan telur cacing Fasciola sp. pada 6 ekor . % dari total sampl. Dengan demikian prevalensi kecacingan adalah 15 %. Sedang tingkat keparahan kecacingan/fasciolosis pada 6 ekor sapi tersebut rata-rata 19. 66 butir telur per gram feses. Setelah pengobatan dengan albendazole, 6 ekor sapi yang semula positif menjadi negatif. Dapat disimpulkan bahwa prevalensi fasciolosis pada peternakan rakyat di Kecamatan Cicurug dan tingkat keparahan infestasinya tergolong ringan. Albendazole masih efektif untuk mengobati fasciolosis. Kata kunci: sapi rakyat, fasciolosis, efektifitas albendazole Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis. Vol. 2 No. 1 Edisi Desember 2018 PENDAHULUAN Pemerintah swasembada daging sapi tercapai pada Untuk mencapai swasembada tersebut salah satu program yang dicanangkan adalah peningkatan produksi dan produktivitas. Adapun faktor utama produktivitas adalah pakan dan kesehatan. Kecacingan/helminthiasis merupakan kasus kesehatan terbesar khususnya pada Berdasarkan peternakan rakyat, 90 % sapi terinfestasi cacing, terutama Fasciola gigantica. Neoascaris vitulorum, dan Haemonchus contortus (Abidin, 2. Keputusan Menteri Pertanian No 04/Permentan/ OT. 140/1/2013 helminthiasis merupakan salah satu penyakit hewan menular strategis. Infestasi parasit cacing sangat merugikan usaha peternakan sapi Gejala yang ditemukan yaitu diare dan penurunan berat badan. Kerugian yang dapat ditimbulkan dari produktivitas ternak, penurunan daya kerja, penurunan berat badan 6-12 kg per tahun, penurunan kualitas daging, kulit, dan organ bagian dalam, terhambatnya pertumbuhan pada hewan muda dan bahaya penularan pada manusia atau zoonosis (Gasbarre et , 2. Hal ini tentu merugikan peternak dan dalam skala besar akan merugikan program ketahanan pangan nasional. Obat cacing yang banyak digunakan pada saat ini yaitu albendazole. Obat cacing albendazole efektif dan efisien Meskipun belum ada data akurat tentang pemakaian albendazole, namun ditengarai obat ini telah digunakan sejak lama, secara terus menerus, dan meluas. Hal ini disebabkan harga albendazole yang tergolong murah. Hal inilah yang menjadi pertimbangan untuk melakukan penelitian Walaupun kecacingan tidak langsung menyebabkan kematian, akan tetapi kerugian dari segi ekonom sangat besar, maka perlu usaha pengendalian yang efektif dan efisien. Untuk itu diperlukan informasi berupa jenis cacing yang menginfeksi, prevalensi dan tingkat keparahan serangan serta efektifitas obat cacing yang dapat dipakai sebagai dasar dalam pengambilan tindakan pencegahan dan pengobatan serta memutus rantai Kasus kecacingan yang umum dijumpai pada sapi potong adalah Oleh karena itu penelitian ini difokuskan pada kasus fasciolosis ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Prevalensi kejadian fasciolosis . umlah terserang/positif uj. Tingkat keparahan serangan . Efektifitas albendazole terhadap Fasciola sp. METODE Penelitian dilakukan di Kelompoktani yang ada di Desa Karangjaya Kecamatan Gegerbitung. Pengidentifikasian jenis telur Laboratorium Kesehatan Hewan Jurusan Penyuluhan Peternakan. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor. Sample penelitian adalah feses sapi Feses diambil dari seluruh sapi potong . eluruh anggota populas. yang ada di 3 kelompoktani di Desa Karangjaya. Kecamatan Gegerbitung. Kabupaten Sukabumi . umlah sampel 40 eko. Pengambilan sample dilakukan sebelum pemberian obat cacing . kali pengambilan sampl. dan setelah pemberian obat cacing . kali pengambilan sample: 3 minggu setelah pemberian obat cacing, 2 minggu setelah pengambilan sample pengambilan sample kedu. Setiap ekor diambil sample sekitar 60 gram. Sample EFEKTIFITAS ALBENDAZOLE TERHADAP FASCIOLA SP PADA PETERNAKAN SAPI POTONG RAKYAT DI KECAMATAN GEGERBITUNG KABUPATEN SUKABUMI. Endang Endrakasih feses dibawa dari lokasi ke laboratorium menggunakan thermos berisi es batu. Selama menunggu pengerjaan, feses disimpan dalam keadaan dingin . i coole. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah feses, garam, aquades, kapas, air, kantong plastik untuk sample feses dan obat cacing albendazol. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kantong plastik, coolbox, refrigerator, timbangan, object glass, cover glass, whitlock chamber, mikroskop, sentrifus, tabung plastik sentrifus bertutup yang mempunyai skala ukuran volume 30 ml, saringan teh, mortar, stemper, gelas ukur, pipet pasteur, sendok pengaduk. Penelitian dilakukan dengan random Parameter yang diamati pada penelitian ini meliputi jenis cacing yang keparahan/intensitas Fasciola trematoda/F. Keberadaan identifikasi telur cacing dalam feses dideteksi dengan metode sedimentasi. Selain itu juga dilakukan perhitungan jumlah telur cacing per gram feses pada setiap sampel untuk mengetahui tingkat keparahan infestasi. Pada saat koleksi sampel, beberapa pertanyaan diajukan ke peternak mengenai ras, populasi, asal dan managemen ternak serta sejarah pemakaian antelmintik, selang pemberian dan jenis antelmintik yang digunakan. Feses diambil langsung dari rektum atau baru keluar dari anus, sebanyak kurang lebih 60 gram setiap ekor sapi. Feses dimasukkan ke dalam kantong plastik kemudian diikat sedemikian rupa sehingga tidak ada udara. Setiap sampel diberi label yang memuat penanda nomor sample, keterangan tempat pengambilan feses, nama pemilik, waktu pengambilan dan catatan lain yang dianggap perlu. Setelah itu, sampel dibawa dengan menggunakan thermos berisi es Pemeriksaan feses menggunakan metode sedimentasi sebagai berikut: Feses dimasukkan ke dalam tabung gelas kemudian ditambahkan dengan air dengan perbandingan 1 bagian feses dengan 10 bagian air. Feses dan air diaduk sampai homogen kemudian disaring. Hasil saringan . dimasukkan ke dalam tabung sentrifus selanjutnya disentrifus selama 2-5 menit dengan kecepatan 1500 Setelah endapannya ditambahkan air seperti tahap sebelumnya, dan kemudian disentrifus lagi selama 2-5 menit dengan kecepatan 1500 Proses diulangi sampai supernatan Setelah jernih, supernatan dibuang hingga tersisa sedikit dan diaduk. Endapan diambil 1 tetes dengan pipet pasteur dan diletakkan pada object glass kemudian ditutup dengan cover glass. Selanjutnya spesimen diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 100 kali (Subekti et al. Prevalensi menggunakan rumus di bawah ini (Budiharta, 2. Prevalensi = C 100% Keterangan: F : Jumlah sample positif N : Total jumlah sample yang diperiksa Feses ditimbang 3 gram kemudian di tambahkan larutan garam jenuh 60 ml diaduk sampai homogen. Feses yang sudah larut disaring, dimasukkan ke dalam tabung beaker plastik. Filtrat diaduk, dimasukkan ke dalam whitlock chamber menggunakan pipet sampai semua kamar whitlock terisi penuh. Filtrat yang ada di dalam whitlock chamber didiamkan 5 menit, setelah itu siap diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 100 kali. Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis. Vol. 2 No. 1 Edisi Desember 2018 Perhitungan jumlah telur cacing per gram feses : Intensitas serangan/derajad keparahan infestasi cacing: Jumlah telur cacing C 1000 mg Jumlah fases yang diperiksa . Tingkat keparahan infestasi cacing menurut McKenna . Infestasi ringan Infestasi sedang Infestasi berat : O 500 butir/gram feses : 600 - 2000 butir/gram : > 2000 butir/gram Infestasi ringan Infestasi sedang Infestasi berat HASIL DAN PEMBAHASAN Prevalensi dan Tingkat Kecacingan Albendazole Dari 40 ekor sapi sampel, ditemukan telur cacing Fasciola sp. pada 6 ekor . % dari total sampe. Dengan demikian prevalensi kecacingan adalah 15 %. Sedang tingkat keparahan kecacingan/ fasciolosis pada 6 ekor sapi tersaji pada Tabel 2, yang memperlihatkan bahwa rataAerata tingkat keparahan infestasi cacing termasuk kriteria Ringan. Menurut McKenna . Keparahan Pemberian : O 500 butir/gram feses : 600 - 2000 butir/gram : > 2000 butir/gram Tabel 1 Tingkat keparahan infestasi cacing pada sapi sampel Urut Nomor sampel yang positif terhadap Fasciola sp. Rata - rata Oc telur cacing/3 gr feses Tingkat keparahan . *) 0,33 0,33 2,67 1,33 14,67 0,33 19,66 Keterangan : *) epg : egg per gram feses . umlah telur cacing/gram fese. Jumlah telur cacing C 1000 mg Jumlah fases yang diperiksa . Rendahnya kasus dan disebabkan oleh: Umur Ternak yang baru lahir sangat peka terhadap cacing. Kekebalan baru tumbuh pada umur 5-8 bulan. Kemudian semakin tua semakin kebal menyesuaikan dengan lingkungan. Sapi yang digunakan sebagai sample dalam penelitian ini rata-rata berumur 2 tahun (Ditjennak, 1. Makanan Ternak yang diberi ransum yang nilai gizinya rendah lebih peka terhadap infestasi daripada yang diberi ransum yang cukup kualitas dan kuantitasnya. Pemberian pakan hijauan yang dilakukan oleh peternak di lokasi penelitian bersifat ad libitum dan terdiri atas rumput lapangan. Selain itu sapi juga diberi feed supplement yang diproduksi sendiri oleh kelompoktani. Sapi ini adalah sapi potong yang disiapkan untuk dijual saat Hari Raya Kurban/Idul Adha (Ditjennak, 1. Genetik Rumpun Misalnya sapi-sapi EFEKTIFITAS ALBENDAZOLE TERHADAP FASCIOLA SP PADA PETERNAKAN SAPI POTONG RAKYAT DI KECAMATAN GEGERBITUNG KABUPATEN SUKABUMI. Endang Endrakasih Asia (Bos Indicu. lebih tahan dari pada sapi Eropa (Bos Tauru. Sapi yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah sapi Peranakan Ongole/PO . ergolong sapi Asia/Bos Indicu. (Ditjennak, 1. Jenis Kelamin Jenis kelamin juga mempengaruhi kekebalan dan kepekaan terhadap infestasi cacing. Cacing cenderung mensinkronkan reproduksinya dengan siklus reproduksi hospes. Proses reroduksi cacing cenderung meningkat pada saat musim beranak dan laktasi. Ini disebut fenomena hypobiosis. Sample pada penelitian ini berjenis kelamin jantan sehingga tidak memiliki siklus reproduksi musiman (Ditjennak. Tabel 2 Pengaruh Luar Pemberian obat-obatan yang bersifat imunosupressive misalnya obat yang mengandung cortison dan sebagainya (Ditjennak, 1. Preimunisasi Ternak yang pernah mengalami infestasi lebih tahan terhadap infestasi berikutnya (Ditjennak, 1. Prevalensi dan Tingkat Keparahan Kecacingan setelah Pengobatan dengan Albendazole Dari 6 ekor . % dari total sampl. sapi yang semula positif Fasciola sp setelah pengobatan dengan albendazole semuanya menjadi negatif. Kondisi infestasi cacing pada domba sample setelah pengobatan dengan Oc telur cacing/3 gr feses . ample I. II, dan . * Nomor sample yang positif terhadap Fasciola sp. i Keterangan : * Sampel I diambil 3 minggu setelah pemberian albendazole. Sampel II diambil 2 minggu setelah pengambilan sample I. Sampel i diambil 2 minggu setelah pengambilan sample II Masa . asa terjadinya infeksi sampai ditemukannya parasit dalam dara. Fasciola spp. 2-3 bulan (Levine, 1. Hal ini diduga menjadi penyebab kuat kondisi jumlah telur cacing pada sampel nomor 5 dan 6. Pada saat pengambilan sampel I Fasciola spp. yang menginfeksi belum sampai pada dijumpai telur Fasciola spp. dalam feses. Pada Fasciola spp. telah sampai pada masa prepatentnya sehingga ditemukan telur cacing dalam feses sejumlah masing- masing 46 butir dan 77 butir per 3 gram feses pada sample nomor 5 dan 6. Karena efek kerja albendazole, pada pengambilan sampel i jumlah telur cacing menurun menjadi 0 pada sampel nomor 5 dan 2 butir/3 gram feses pada sampel nomor 6. Albendazole mempunyai khasiat membunuh cacing, menghancurkan telur dan larva cacing. Efek antelmintik albendazol dengan jalan menghambat pengambilan glukosa oleh cacing sehingga produksi ATP sebagai sumber energi untuk mempertahankan hidup cacing berkurang, hal ini mengakibatkan kematian cacing Jurnal Agroekoteknologi dan Agribisnis. Vol. 2 No. 1 Edisi Desember 2018 mempertahankan hidup (P. Junquera. Albendazole merupakan salah satu jenis obat cacing yang sering digunakan pada hewan. Setelah pemberian secara oral, lebih dari 45% dari dosis yang albendazole akan segera diserap dalam aliran darah. Pada ruminansia penyerapan akan lebih lama karena harus melewati lambung ganda Puncak konsentrasi dalam plasma dapat dicapai dalam waktu 15-24 jam. Dalam hati albendazole akan di metabolisme secara cepat menjadi derivat sulfoxide bersifat an-thelmintik. Setelah beberapa dalam hati dimetabolisme menjadi metabolit sulfon yang tidak mempunyai efek anthelmintik (P. Junquera, 2. Albendazole baik digunakan untuk pengobatan fasciolosis dan cacing lain pada sapi, kuda, kambing, babi, rusa dan Dosis yang dianjurkan untuk sapi 7,5-10 mg/kg berat badan (Rossoff,1. Meskipun albendazole sampai saat ini masih efektif terhadap Fasciola sp. sehingga masih dapat digunakan di lokasi anthelmintik yang sama secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama terjadinya Resistensi Anthelmintik (RA). Beberapa faktor yang berperan terhadap terjadinya resistensi diidentifikasi dan diteliti. Faktor-faktor yang berperan terhadap perkembangan resistensi obat antelmintik yaitu: Frekuensi pengobatan yang tinggi. Penelitian Barton . dan Martin et al. menunjukkan bahwa frekuensi pengobatan yang tinggi menseleksi resistensi lebih kuat Dari penelitian tersebut juga terdapat bukti berkembang lebih cepat pada daerah hewan-hewan antelmintik secara reguler. Geerts et , . Burger dan Bauer, . menyatakan bahwa resistensi obat dapat juga terjadi pada frekuensi pengobatan lebih rendah, khususnya ketika obat yang sama diberikan selama bertahun-tahun. Beberapa perkembangan resistensi obat terjadi ketika hanya dua atau tiga kali pengobatan diberikan per tahun. Regimen obat tunggal. Seringkali sangat efektif pada tahun-tahun secara terus- menerus sampai obat tersebut menjadi kurang efektif. Pada penelitian yang dilakukan Geerts et al. mendapatkan bahwa penggunaan levamisol dalam waktu yang lama pada ternak juga pemberian pengobatan pertahunnya Dosis yang tidak adekuat. Dosis yang tidak adekuat diduga sebagai faktor obat, karena dosis dibawah dosis resisten heterozigot tetap bertahan (Smith, 1. Beberapa menunjukkan bahwa dosis yang tidak adekuat terbukti berperan terhadap seleksi resistensi atau strain- strain yang toleran (Hoekstra et al. , 1. Penelitian benzimidazol dan levamisol lebih rendah pada kambing dibandingkan EFEKTIFITAS ALBENDAZOLE TERHADAP FASCIOLA SP PADA PETERNAKAN SAPI POTONG RAKYAT DI KECAMATAN GEGERBITUNG KABUPATEN SUKABUMI. Endang Endrakasih pada domba dan oleh karena itu kambing harus diobati dengan dosis satu setengah atau dua kali lebih tinggi dari dosis yang diberikan kepada domba (Hennessy, 1. Bagaimanapun bertahun-tahun kambing dan domba telah diberikan dosis antelmintik yang Fakta bahwa RA lebih sering terjadi dan tersebar luas pada kambing merupakan konsekuensi langsung dari dosis yang tidak adekuat ( Smith et al. , 1. SIMPULAN Dalam batas-batas penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prevalensi kecacingan Fasciola di Desa Karangjaya Kecamatan Gegerbitung. Kabupaten Sukabumi tergolong rendah %) dengan tingkat keparahan infestasi ,66 butir/gram Albendazole efektif mengobati kecacingan Fasciola sp. ampu menurunkan hasil perhitungan egg per gram . feses dari 19,66 butir telur cacing per gram feses menjadi 0 butir telur cacing per gram DAFTAR PUSTAKA