BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial P-ISSN: 2685-6700 E-ISSN: 2685-6719 https://jurnal. id/index. php/biyan URGENSI KETERSEDIAAN FASILITAS SANITASI YANG LAYAK BAGI WANITA PADA TEMPAT PENGUNGSIAN KORBAN BENCANA ALAM Nurul Izza Sayyidina Aufa Dianto Universitas Padjadjaran nurul20011@mail. Arie Surya Gautama Universitas Padjadjaran arie@unpad. Muhammad Fedryansyah Universitas Padjadjaran fedryansyah@unpad. ABSTRAK The need for sanitation in women is different from men's due to the differences in their physical conditions and reproductive systems. The most common thing that shows this difference is that women innately experience menstruation. The fulfillment of distinctive sanitation needs for women is often neglected, especially in the emergency conditions such as in refugee camps for victims of natural disasters. Natural disaster situations that are sometimes unpredictable make the countermeasures process more complex. The limitations such as natural resources, human resources, and time constraints also make it even more convoluted. However, despite those limitations, we need to meet the needs of refugees because it is related to the enactment of human rights. The method used in this research is the library research approach with the literature review as the data collecting This research aims to analyze the availability of sanitation facilities for female refugees who were victims of natural disasters KATA KUNCI: Sanitation. Woman Refugee. Refugee Camp. Natural Disaster. Sanitation for Woman ABSTRAK Kebutuhan akan sanitasi pada wanita berbeda dengan pria karena perbedaan kondisi fisik dan sistem reproduksi di antara keduanya. Hal paling umum yang menunjukkan perbedaan tersebut ialah, wanita mengalami menstruasi setiap bulannya. Pemenuhan kebutuhan sanitasi khusus bagi wanita seringkali terabaikan, terutama pada kondisi-kondisi darurat seperti di tempat pengungsian korban bencana alam. Situasi bencana alam yang terkadang tak dapat diprediksi membuat proses penanggulangan menjadi lebih kompleks, terlebih lagi dengan adanya keterbatasan baik dari segi sumber daya alam, sumber daya manusia, hingga keterbatasan waktu. Namun, terlepas dari adanya keterbatasan tersebut, kebutuhan pengungsi harus tetap terpenuhi karena berkaitan erat dengan pelaksanaan hak asasi manusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur atau studi kepustakaan dengan teknik pengumpulan data adalah kajian literatur. Literatur yang penulis gunakan berupa artikel, jurnal, dokumen, serta buku yang berkaitan dengan topik penelitian sebanyak 17 buah literatur. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis ketersediaan fasilitas sanitasi pada pengungsi wanita korban bencana alam KATA KUNCI: Sanitasi. Pengungsi Wanita, bencana alam. Sanitasi bagi Wanita Author correspondence email: nurul20011@mail. Available online at: https://jurnal. id/index. php/biyan Copyright . 2024 by BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Nurul Izza Sayyidina Aufa Dianto, et al. PENDAHULUAN Dewasa ini, dampak dari pemanasan global semakin nyata dirasakan oleh seluruh makhluk Berdasarkan laporan asesmen yang dilakukan oleh IPCC, penyebab utama fenomena ini adalah meningkatnya produksi gas rumah kaca akibat sisa-sisa pembakaran bahan bakar fosil (Zandalinas. Fritschi, & Mittler, 2. Kegiatan-kegiatan industri memiliki andil besar dalam hal ini karena alat-alat yang digunakan umumnya masih memerlukan bahan bakar fosil. Pemanasan global telah menjadi isu internasional akibat dampaknya yang berbahaya bagi makhluk hidup, di antaranya peningkatan suhu bumi, perubahan iklim, peningkatan permukaan laut, gangguan ekologis, serta dampak sosial politik (Sulistyono, 2. Buntut dari serangkaian dampak pemanasan global tersebut adalah timbulnya bencana alam di berbagai belahan dunia. Bencana adalah sebuah proses alam maupun non-alam yang menjatuhkan korban jiwa, harta, serta mengganggu tatanan kehidupan (Suwaryo & Yuwono, 2. Sedangkan bencana alam sendiri merupakan bencana yang terjadi pada ekosistem alam seperti banjir, kebakaran hutan, kekeringan, tsunami, tanah longsor, banjir rob dan lainnya. Berbagai permasalahan seperti terbatasnya ketersediaan air bersih, minimnya sanitasi lingkungan, krisis kesehatan, gangguan psikologis, penyakit menular, serta masalah- masalah lain dapat timbul sebagai akibat dari bencana alam yang terjadi (Nurtyas, 2. Dampak dari bencana alam dapat sangat mengganggu keseimbangan aspek-aspek kehidupan para korban. Apabila bencana alam terjadi dalam skala yang besar dan kerusakan yang ditimbulkan cukup parah, korban-korban terpaksa harus mengungsi dari tempat tinggal mereka dan hidup di pengungsian untuk sementara waktu. Perubahan kondisi lingkungan alam maupun sosial yang terjadi di pengungsian membuat para pengungsi mau tidak mau beradaptasi dengan kondisi yang boleh jadi sangat berbeda dari kehidupan keseharian mereka sebelumnya. Kebutuhan-kebutuhan akan sandang, pangan, papan, layanan kesehatan, serta air dan fasilitas sanitasi yang layak dalam kondisi darurat bencana perlu menjadi perhatian bersama. Terutama kebutuhan bagi kelompok- kelompok rentan seperti wanita, anak-anak, lansia, serta kelompok disabilitas yang rawan mendapat pelanggaran hak asasi (Nurtyas. Kondisi kelompok rentan membutuhkan perhatian ekstra, baik dari pemerintah, maupun lembaga penyedia layanan tanggap bencana yang memberikan penanganan kepada mereka. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sanitasi merupakan usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di bidang kesehatan terutama kesehatan masyarakat. Hal ini membuat urgensi dari terpenuhinya sanitasi sama pentingnya dengan tersedianya air bersih. Namun, akses terhadap air bersih serta penyediaan sarana sanitasi dasar yang layak seringkali luput dari atensi para penyedia layanan bantuan kepada pengungsi terlepas dari pentingnya kedua hal tersebut, terutama dalam upaya pemenuhan kebutuhan dalam segi kesehatan para pengungsi. Entah penyediaan itu terhambat karena faktor pembatasan keamanan, kondisi operasional yang kompleks, sumber daya yang terbatas, kekurangan tenaga kerja atau pergantian tenaga kerja yang tinggi, kesulitan dalam melakukan pengukuran yang menyeluruh dalam situasi darurat bencana, hingga letak pengungsian yang seringkali berada di wilayah pinggiran (Cronin, et al. , 2. Tingkat sanitasi berkaitan erat dengan tingkat kesehatan di sebuah wilayah. WHO menyebutkan, wabah seperti kolera umum terjadi di daerah padat penduduk, daerah dengan akses air bersih yang tidak memadai, dan daerah dengan sanitasi yang buruk (Abdirahman S. Mahamud. Karakteristik tersebut dapat merujuk kepada tempat-tempat pengungsian yang fasilitasnya masih kurang memadai dan pemahaman akan sanitasi dari para pengungsi yang masih minim. Tempat pengungsian yang umumnya padat penduduk cenderung mempermudah penyebaran wabah, apabila kebersihan lingkungan di sekitar pengungsian tidak dijaga, serta pengungsi tidak mendapat sarana membersihkan diri yang layak, wabah akan dengan cepat menjangkit orangorang yang berada di tempat pengungsian. Kelompok-kelompok rentan umumnya memiliki kebutuhan tersendiri yang berbeda dari pengungsi lainnya. Salah satunya adalah wanita. Wanita, mulai dari anak-anak hingga dewasa, memiliki kebutuhan akan air bersih dan sanitasi yang berbeda dengan pria karena kondisi fisiologis, proses kesehatan reproduksi, norma sosial yang berlaku. BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | serta tingkat kerentanan terhadap kejahatan antara wanita dan pria pun berbeda (Schmitt. Clatworthy. Ogello, & Sommer, 2. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa, hak asasi dari kelompok rentan seringkali terabaikan dan salah satu bentuknya adalah dengan adanya Schmitt menyebutkan akses yang tidak memadai terhadap toilet yang privat, nyaman, dan aman merupakan sebuah bentuk diskriminasi yang sering dialami oleh wanita (Schmitt. Clatworthy. Ogello, & Sommer, 2. Oleh sebab itu, timbullah gagasan-gagasan seperti, "World Toilet Day" maupun "Menstrual Hygiene Day" sebagai upaya peningkatan kesadaran masyarakat akan permasalahan sanitasi dan gender (Schmitt. Clatworthy. Ogello, & Sommer, 2. Toilet serta sarana sanitasi yang memadai bagi wanita tidak hanya diperlukan untuk mandi dan buang air, tetapi juga untuk mengelola persoalan menstruasi dan fasilitas yang dibutuhkan antara lain yaitu, akses air bersih, wadah untuk menampung air, alas kaki, pencahayaan, peralatan penunjang menstruasi seperti pembalut dan tempat sampah khusus untuk membuang pembalut bekas (Bethany A Caruso, 2. Pada penelitian ini, penulis akan menganalisis mengenai ketersediaan fasilitas sanitasi yang memadai pada pengungsian korban bencana alam dan urgensinya bagi pengungsi Wanita METODE Metode yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah studi literatur atau studi Melalui bukunya yang berjudul "Research Design". John W. Creswell . mendefinisikan kajian literatur sebagai ringkasan tertulis dari literatur-literatur seperti jurnal, artikel, buku, serta dokumen yang mendeskripsikan teori dan informasi (Creswell, 2014: . dalam (Habsy. Dengan kata lain, studi literatur merupakan sebuah metode pengumpulan data serta sumber yang berkaitan dengan topik penelitian (Habsy, 2. Tahapan yang dilakukan dalam melakukan penelitian ini antara lain, menentukan tema yang ingin diangkat, mengerucutkan batas-batas objek penelitian, mengumpulkan data berupa literatur yang sudah ada dari sumber-sumber kredibel, melakukan kajian dan analisis pada data literatur, lalu menyusun laporan hasil penelitian berupa pembuatan artikel. Adapun dalam melakukan pengumpulan data penelitian ini, literatur yang penulis gunakan berupa artikel, jurnal, dokumen, serta buku yang berkaitan dengan tema yang penulis usung. Penulis memanfaatkan web jurnal kredibel dalam mencari sumber data yang dibutuhkan, yaitu Google Scholar. Adapun kata kunci yang penulis gunakan dalam mencari artikel adalah. Ausanitation for female refugeeAy. Ausanitation and hygiene refugee campAy. Ausanitation rights for women refugeeAy. Auglobal warming impact on disasterAy. Ausanitation on disaster refugee campAy. Penulis kemudian menyeleksi dan memilih artikel yang relevan dengan topik ketersediaan fasilitas sanitasi pada pengungsi wanita korban bencana alam, pada proses ini penulis memilih 17 artikel sebagai sumber data literatur. Keseluruhan data dari literatur yang sudah ada selanjutnya dikaji dan Kemudian, informasi-informasi yang didapat dan berkaitan dengan topik penelitian dianalisis guna menemukan penyelesaian masalah yang diteliti. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan memberikan deskripsi dan penjelasan pada informasi yang dianalisis kemudian menuangkannya dalam hasil penelitian (Habsy, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Wanita dan Kerentanan Pada Situasi Bencana Gender merupakan sebuah konstruksi sosial yang berpengaruh terhadap hampir seluruh aspek kehidupan setiap individu mulai dari identitas, peran, hingga aksesibilitas terhadap sumber-sumber tertentu yang berbeda dengan jenis kelamin . Pengaruh tersebut berada pada tingkat individual maupun institusional yang didorong oleh praktik sosial dalam masyarakat (Enarson. David. Emmanuel. Fenomena yang seringkali terjadi ialah ketidaksetaraan gender terhadap wanita akibat budaya maupun hukum yang berlaku (Alston. Hazeleger, & Hargreaves, 2. seperti munculnya stigma 61 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Nurul Izza Sayyidina Aufa Dianto, et al. bahwa wanita identik dengan hal-hal feminin dan pria dengan maskulinitasnya yang membuat wanita seringkali memiliki keterbatasan terhadap akses-akses tertentu dan mengalami ketimpangan peran. Tidak hanya pada kehidupan sehari-hari, dalam situasi bencana, gender juga berpengaruh terhadap kapasitas, pengambilan keputusan, pola hidup selama bencana, resiliensi, dan ketidaksetaraan gender berdampak pada kerentanan (Enarson. Fothergill, & Peek, 2. Di tengah situasi bencana yang melumpuhkan keberfungsian individu, wanita seringkali mengalami ketidaksetaraan gender yang berkontribusi pada kerentanan mereka. Penting untuk memahami bahwa ketidaksetaraan gender pada dasarnya tidak disebabkan oleh tragedi bencana, melainkan diperburuk dengan terjadinya situasi tersebut (Alston. Hazeleger, & Hargreaves, 2. Hubungan antar gender yang telah terbentuk selama ini membuat wanita cenderung lebih mudah mengalami kerentanan dibanding pria dalam kategori yang sama (Ariyabandu. , 2. Menurut Alston et. , terdapat beberapa bentuk ketidaksetaraan gender yang berkaitan dengan kerentanan wanita pada situasi pasca bencana, mulai dari berkurangnya akses terhadap lahan/tanah, kurangnya keterlibatan dalam pengambilan keputusan, keterbatasan ruang gerak, penghasilan yang cenderung lebih kecil, pembagian peran perawatan yang tidak proporsional, serta budaya dan norma tradisional yang buta akan gender. Terlepas dari banyaknya permasalahan gender yang seringkali lebih timpang pada wanita terutama dalam kondisi tanggap darurat bencana, penanganan berbasis gender masih belum diwujudkan secara maksimal. Hal itu terlihat dari dominasi pria dalam forum-forum mengenai kebencanaan yang mengarah kepada kurangnya perhatian terkait isu-isu yang berdampak pada wanita (Luft, 2. Kerentanan yang dialami wanita pada situasi bencana merupakan hasil dari permasalahan ketimpangan gender yang ada di masyarakat dan diperparah dengan faktor stres lain akibat bencana yang mereka hadapi. Enarson et. menyebutkan, faktor-faktor tersebut antara lain adalah kehilangan kontrol pada sumber-sumber natural untuk memenuhi kebutuhan hidup . ir, makanan, informasi, pengambilan keputusan, waktu, menurunnya kualitas edukasi dan kesempatan kerja, mudah terpapar kondisi yang tidak aman, kurangnya peningkatan kapasitas loka. Neumayer dan Plumper . , menggagaskan 3 penyebab utama dari perbedaan kerentanan pada gender, yaitu: Perbedaan biologis dan psikologis antara pria dan wanita yang terkadang merugikan wanita ketika merespon peristiwa bencana. Norma-norma dan peran sosial yang dapat memicu kerentanan wanita saat maupun pasca bencana terjadi. Diskriminasi gender akibat persaingan antar individu dalam pemenuhan kebutuhan di situasi Faktor-faktor kultural tersebut harus dapat diatasi agar wanita dapat mengakses fasilitas perlindungan yang memadai tanpa harus merasa malu dan terganggu (Ashraf & Azad, 2. Menurut Ashraf & Azad . , pria lebih mudah mengakses sumber bantuan dan berpartisipasi dalam perencanaan serta pengimplementasian program. Sehingga, merancang program penanganan tanggap darurat bencana berbasis gender penting untuk dilakukan agar kebutuhan wanita juga dapat Kebutuhan Sanitasi Pada Wanita Wanita memiliki kebutuhan akan sanitasi yang berbeda dengan pria. Penyebab yang paling mendasar adalah karena perbedaan kondisi biologis yang ditandai dengan adanya siklus menstruasi pada wanita. Menstruasi merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam hidup wanita dan merupakan tahapan reproduksi. Sehingga, menurut Leo heller, pemenuhan kebutuhan menstruasi wanita merupakan bagian dari pemenuhan hak asasi manusia terhadap air minum dan sanitasi yang Walaupun menstruasi merupakan siklus yang lekat dengan kehidupan wanita dan tidak terhindarkan, masih terdapat stigma-stigma yang membuat wanita merasa bahwa menstruasi merupakan hal tabu dan harus dihindari untuk dibicarakan. Hal tersebut merupakan sebuah bentuk BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | diskriminasi terhadap gender. Wanita di seluruh dunia tumbuh dan memahami bahwa mereka harus mengatasi dan menjalani menstruasi secara sembunyi-sembunyi, hingga tak sedikit wanita merasa malu karena mengalami proses natural ini (Helle. Stigma- stigma seperti itu juga berdampak pada keterbatasan akses toilet dan air bersih yang merugikan kesehatan wanita dan keleluasaan mereka dalam mendapatkan hak asasi manusia. Apabila hak asasi manusia terhadap air bersih dan sanitasi terpenuhi, wanita dapat menjalani menstruasinya secara aman tanpa ada tindakan dan stigma yang melukai harga dirinya. Yaitu dengan mewujudkan akses terhadap toilet, produk-produk menstruasi yang higienis, serta suplai air yang aman dan berkelanjutan. Namun, apabila wanita kesulitan untuk mengakses air dan sanitasi yang layak terutama saat menstruasi, mereka akan cenderung lebih rentan dan beresiko mengalami gangguan masalah kesehatan. Menjalani menstruasi tanpa lingkungan yang memadai secara struktural, fasilitas, alat, informasi, dan dukungan dapat berdampak pada kontrol diri, self-esteem, rasa percaya diri, otoritas atas tubuh yang mengganggu kesehatan reproduksi (Mc Rae et. , 2. Mc Rae et. juga menambahkan bahwa memberikan fasilitas sanitasi seadanya akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi wanita tergantung dengan kuantitas maupun kualitas dari alat sanitasi yang tersedia, apabila kebersihan dari alat-alat tersebut yang akan digunakan kembali tidak dijaga, akan berpotensi menimbulkan infeksi. Sebuah penelitian terhadap komunitas dan wanita dalam komunitas tersebut yang dilakukan oleh Caruso et. di Orissa. India, menunjukkan bahwa sanitasi juga berpengaruh pada kesehatan mental wanita. Tidak sedikit wanita yang mengalami gangguan kecemasan, depresi, dan stres ketika buang air akibat sanitation insecurity. Penelitian tersebut menandai, terdapat 2 penyebab utama dari sanitation insecurity atau keraguan sanitasi, yaitu tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kekhawatiran saat menggunakan toilet atau fasilitas sanitasi di malam hari. Dengan latar belakang tempat pengungsian yang dibuat pada keadaan darurat dan memiliki kesenjangan terhadap fasilitas sanitasi di tempat lain pada umumnya, membuat kedua hal tersebut sulit untuk diatasi. Pemenuhan kebutuhan dasar seperti akses terhadap air, alat-alat kebersihan diri . abun, shampo, dll. ), lokasi toilet yang mudah dijangkau, serta aspek-aspek sanitasi lainnya seringkali sulit diwujudkan karena terdapat beberapa lokasi pengungsian yang sebelumnya bukan merupakan wilayah untuk tempat tinggal. Hal serupa terjadi pada kebutuhan penunjang menstruasi wanita seperti pembalut, pakaian, dan pakaian dalam yang berguna untuk menampung aliran darah menstruasi (Schmitt et. , 2. Selain itu, sulitnya akses terhadap toilet juga sering dijumpai pada lokasi-lokasi pengungsian pasca bencana dan sekalipun ada, kelayakannya masih belum terpenuhi, seperti pintu yang kurang memadai dan sulit dikunci, kurangnya pencahayaan, hingga tidak adanya tempat untuk membersihkan sisa-sisa menstruasi (Schmitt et. , 2. Letak toilet terpisah dengan tempat bernaung dan tidak didukung oleh pencahayaan yang baik, akan mempersulit para pengungsi yang ingin menggunakan toilet di malam hari. Kesulitan tersebut meningkat berkali-kali lipat bagi wanita dengan kondisi rentan . enstruasi maupun ibu hami. yang menyebabkan rasa takut dan menambah tekanan pada kondisi psikis mereka ketika situasi tersebut bertahan dalam jangka waktu yang lama. Faktor-faktor tersebut dapat mendorong adanya kekerasan dan eksploitasi terhadap wanita (Schmitt , 2. Upaya Penyediaan Fasilitas Sanitasi Yang Layak Bagi Wanita di Tempat Pengungsian Pemenuhan kebutuhan fasilitas sanitasi yang layak bagi wanita terutama di tempat pengungsian menjadi sebuah tantangan yang harus diidentifikasi lebih lanjut serta dicari pemecahan masalahnya. Manajemen kebersihan menstruasi mulai menjadi fokus dalam merancang program-program sanitasi baik pada tingkat kebijakan pemerintah maupun non- governmental organization (NGO) yang bergerak pada bidang tersebut (Parker et. , 2. Sudah seharusnya program-program sanitasi memasukkan manajemen kebersihan menstruasi ke dalam daftar prioritas utama, mengingat kebutuhan tersebut penting dan merupakan bagian dari hidup wanita yang telah mengalami pubertas. Mengabaikan manajemen kebersihan menstruasi tidak hanya berdampak bagi kesehatan wanita, 63 | BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial Nurul Izza Sayyidina Aufa Dianto, et al. tetapi juga kemampuan mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari mulai dari pendidikan, pekerjaan, dan peran-peran domestik yang mereka emban (Parker et. , 2. Leo Heller dalam tulisannya. AuMenstrual Hygiene and The Human Rights to Water and SanitationAy merumuskan 5 aspek yang harus menjadi fokus dalam menjaga hak asasi manusia terhadap air dan sanitasi yang layak terhadap manajemen kebersihan menstruasi, yaitu availability, accessibility, acceptability, affordability, quality & safety, dan privacy & dignity. A Availability (Ketersediaa. : Ketersediaan produk-produk kebersihan menstruasi seperti pakaian dalam, pembalut dan sebagainya. Serta adanya akses kepada air bersih dan toilet yang layak A Accessibility (Aksesibilita. : Kemudahan bagi wanita untuk mengakses fasilitas tersebut, tidak ada diskriminasi dalam mengakses fasilitas, dan tidak adanya stigma terhadap menstruasi yang membuat wanita memilih untuk tidak mengakses fasilitas sanitasi A Affordability (Terjangka. : Tidak memungut harga yang terlalu tinggi baik itu untuk produk-produk menstruasi maupun fasilitas sanitasi seperti toilet . isediakan secara gratis akan lebih bai. A Quality and Safety (Kualitas dan Keamana. : Program sanitasi harus menjamin keamanan fasilitas dan produk-produk menstruasi yang digunakan wanita, di antaranya air bersih untuk mencuci tangan, membasuh bagian vital wanita, serta membuat mekanisme untuk membuang produk menstruasi yang telah digunakan, seperti pembalut bekas pakai A Privacy and Dignity (Menjaga privasi dan kehormata. : Fasilitas sanitasi wanita harus terjaga privasinya dan terpisah dari pria. Stigma yang beredar mengenai menstruasi juga tidak boleh menghalangi wanita untuk mengakses fasilitas dan produk-produk pendukung menstruasi. Banyak dari wanita yang merasa lebih rentan terhadap kekerasan dan pelecehan selama siklus menstruasi mereka berlangsung, sehingga program sanitasi harus dapat memfasilitasi hal tersebut. KESIMPULAN Wanita dan pria memiliki kebutuhan berbeda akan sanitasi yang disebabkan oleh perbedaan kondisi biologis di antara keduanya. Hal yang paling menonjol adalah wanita mengalami siklus menstruasi setiap bulannya, sehingga mereka memiliki kebutuhan akan sanitasi yang lebih kompleks di masa-masa menstruasi tersebut. Namun, seringkali pada situasi pasca bencana, terutama di tempattempat pengungsian, pengadaan fasilitas sanitasi yang layak bagi wanita masih belum memenuhi standar kebutuhan terutama untuk menunjang siklus menstruasi mereka. Padahal, manajemen kebersihan menstruasi merupakan salah satu bentuk pemenuhan hak asasi manusia terhadap air bersih dan sanitasi. Penelitian ini memberikan gagasan mengenai urgensi ketersediaan fasilitas sanitasi yang layak bagi wanita pada tempat pengungsian korban bencana, terutama dalam melaksanakan manajemen kebersihan menstruasi bagi wanita. Terdapat beberapa hasil penemuan dari studi literatur ini yang dapat digunakan untuk menjadi acuan dalam memberikan fasilitas sanitasi yang layak untuk wanita di tempat pengungsian. Pertama, wanita korban bencana alam cenderung lebih rentan terhadap kekerasan dan permasalahan berbasis gender dalam berbagai aspek kehidupan mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan. Sehingga, penting bagi para profesional yang tergabung dalam regu penyelamat dan pembuat kebijakan untuk membuat skema pemberian pertolongan yang berbasis gender untuk meningkatkan kesetaraan tanpa adanya diskriminasi. Kedua, faktor yang dapat mempengaruhi kerentanan wanita adalah siklus menstruasi yang mereka alami dalam hidup mereka. Kebutuhan-kebutuhan akan sanitasi dan manajemen kebersihan menstruasi yang tidak terpenuhi akan mengarah kepada timbulnya permasalahan kesehatan yang serius. Ketiga, terdapat 5 aspek dasar dalam penyediaan fasilitas sanitasi yang layak bagi wanita di tempat pengungsian korban BIYAN: Jurnal Ilmiah Bidang Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial | DAFTAR PUSTAKA