CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 1 | Agustus . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Implementasi P5 Kurikulum Merdeka dalam Pengembangan Pembelajaran bagi Guru PAUD Nelva Rolina1. Rini Agustiningsih2. Joko Pamungkas3. Sudaryanti4 Kata Kunci: Kurikulum Merdeka. P5. Guru PAUD. Profil Pelajar Pancasila. Keywords : Kurikulum Merdeka. P5. Early childhood education teacher. Profile of Pancasila Students Corespondensi Author Departemen PAUD. Universitas Negeri Yogyakarta. Indonesia Alamat Penulis Email: riniagustiningsih@uny. Article History Received: 14-01-2025. Reviewed: 10-04-2025. Accepted: 25-07-2025. Available Online: 26-08-2025. Published: 28-08-2025. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang konsep dan praktik Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. dalam konteks Kurikulum Merdeka serta mengembangkan keterampilan guru dalam menerapkannya dalam pembelajaran sehari-hari melalui pemberian pelatihan. Subjek dari penelitian ini yakni guru PAUD di Kabupaten Bantul. Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Participatory Action Research (PAR). Penelitian Participatory Action Research memiliki tiga elemen utama, yaitu partisipasi, penelitian, dan tindakan. Metode pengambilan data yang digunakan yakni ceramah, diskusi kelompok, studi kasus, dan praktik langsung. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan mengimplementasikan P5. Berdasarkan evaluasi dan umpan balik dari peserta, sebagian besar guru merasa lebih siap dan percaya diri untuk mengintegrasikan P5 ke dalam kurikulum mereka. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas guru PAUD di Kabupaten Bantul dengan membekali guru dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dan terkini. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya memperkuat kapasitas guru dalam mengembangkan pembelajaran, tetapi juga mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui implementasi Kurikulum Merdeka. This study aims to provide an in-depth understanding of the concept and practice of Strengthening the Pancasila Student Profile (P. in the context of the Merdeka Curriculum and to develop teachers' skills in applying it in daily learning through training. The subjects of this study were early childhood teachers in Bantul Regency. Yogyakarta. This study was conducted from May to July 2024. The method used in this research is Participatory Action Research (PAR). Participatory Action Research has three main elements, namely participation, research, and action. The data collection methods used were lectures, group discussions, case Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 studies, and direct practice. The results of the study show an increase in teachers' understanding and skills in implementing P5. Based on evaluations and feedback from participants, most teachers feel more prepared and confident to integrate P5 into their curriculum. This activity is expected to contribute to improving the quality of PAUD teachers in Bantul Regency by equipping teachers with relevant and up-to-date knowledge and skills. Thus, this training not only strengthens teachers' capacity in developing learning, but also supports the government's efforts to improve the quality of education through the implementation of the Merdeka Curriculum. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author pembelajaran intrakulikuler yang berpusat pada anak dan memberikan waktu lebih lama bagi anak dalam mendalami satu topik sehingga anak mendapatkan pemahaman yang utuh. Konsep kurikulum merdeka yakni memberikan bekal pada anak dengan bermacam konsep pembelajaran dengan cara yang menyenangkan (Wahyuni et al. , 2. Peraturan Mendikbudristek No. 12 Tahun 2024 mengatakan Kurikulum Merdeka ditetapkan secara resmi menjadi kerangka dasar dan struktur kurikulum untuk seluruh satuan pendidikan di Indonesia, yang bertujuan untuk menciptakan generasi pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, memiliki wawasan kebhinekaan global, mampu bekerja sama, kreatif, berpikir kritis, serta mandiri. Oleh sebab itu kurikulum pembelajaran anak secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan anak. Salah satu aspek utama dalam Kurikulum Merdeka adalah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Cahyaningrum & Diaana, . mengemukakan bahwa Penguatan Projek Profil Pancasila merupakan paradigma baru dari kurikulum merdeka. Nuraini et al. , . mengatakan bahwa dalam kurikulum merdeka. Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. merupakan salah satu yang menjadi aspek utama. Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu dalam dan/atau PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berperan penting dalam membangun karakter emosional, motorik serta keterampilan anak sejak usia dini. Nurhayati, . mengatakan pada PAUD memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan kognitif, sosial dan emosional anak. Pada masa usia dini anak memiliki tingkat sensitif lebih terhadap menerima stimulus yang diberikan. (Jaoza & Kanda. Seiring perkembangannya, dunia pendidikan semakin menyadari bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing, sehingga metode disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan individu setiap anak (Purnasari et al. , 2. Maka PAUD penting dalam mengembangkan kebutuhan anak. Pemerintah Indonesia Kurikulum Merdeka sebagai bagian dari reformasi pendidikan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan anak. Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum intrakurikuler yang bervariasi, bertujuan untuk memperdalam pemahaman konsep, mengembangkan kompetensi pribadi, serta membentuk karakter anak sesuai jenjang pendidikan (Lumbanbatu et al. , 2. Rohiyatun et al. , . mengatakan bahwa Rolina, et al. Implementasi P5 Kurikulum Merdeka dalam. merumuskan solusi terhadap isu atau permasalahan nyata yang relevan bagi peserta Pelaksanaan kegiatan P5 harus memperhatikan ketersediaan sumber daya satuan pendidikan dan peserta didik. Kegiatan P5 dikembangkan oleh satuan pendidikan mengacu pada panduan yang ditetapkan oleh pejabat pimpinan tinggi madya yang melaksanakan tugas di bidang Namun, implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam pengintegrasian P5, memerlukan kesiapan yang matang dari para pendidik, terutama guru PAUD. Kabupaten Bantul memiliki beragam lembaga PAUD yang tersebar di wilayah perkotaan dan pedesaan. Berbagai survei menunjukkan bahwa kompetensi guru PAUD di Bantul dalam memahami konsep P5 masih perlu Diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Farhana & Cholimah, . pemahaman terkait pelaksanaan P5. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pelatihan yang diadakan serta kurangnya pendampingan yang berkesinambungan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berupa pelatihan yang dirancang secara khusus untuk membantu PAUD Berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada guru PAUD di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta, banyak guru PAUD yang masih belum paham dan merasa berat untuk menerapkan kegiatan P5 dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Keterbatasan pemahaman dan keterampilan dalam mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan prinsip P5 menjadi salah satu kendala utama. Oleh karena itu, diperlukan upaya konkret dalam memberikan pelatihan yang komprehensif kepada guru PAUD di wilayah Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelatihan mengimplementasikan P5 sesuai dengan konteks pembelajaran yang holistik dan sesuai dengan perkembangan anak usia dini. Kegiatan pelatihan yang bertajuk "Pelatihan Implementasi P5 Kurikulum Merdeka dalam Pengembangan Pembelajaran bagi Guru PAUD di Kabupaten Bantul. DI Yogyakarta" ini mempengaruhi kualitas pendidikan di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Berikut ini adalah analisis situasi yang meliputi kondisi pendidikan, kebutuhan pelatihan, dan peluang serta tantangan yang dihadapi yakni pertama kondisi Pendidikan PAUD di Kabupaten Bantul. Kabupaten Bantul, sebagai salah satu daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki jumlah lembaga PAUD yang cukup banyak. Namun, berdasarkan observasi awal dan data yang diperoleh, masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh para guru PAUD. Kendala yang dihadapi antara lain: Pertama Kualitas Pengajaran. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan dalam kualitas pengajaran antar lembaga PAUD, yang disebabkan oleh perbedaan latar belakang pendidikan dan pengalaman Kedua Kurikulum. Banyak guru PAUD yang masih belum sepenuhnya memahami konsep dan implementasi Kurikulum Merdeka, terutama terkait dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Ketiga keterbatasan Sumber Daya. Beberapa lembaga PAUD menghadapi keterbatasan dalam hal sumber daya pendidikan, termasuk bahan ajar dan fasilitas pendukung. Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru PAUD dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dan P5. Kebutuhan ini mencakup yakni . Pemahaman Konseptual dimana guru membutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang filosofi dan prinsip dasar Kurikulum Merdeka dan P5. Strategi Pembelajaran dimana guru perlu dilengkapi dengan strategi dan metode pembelajaran yang efektif untuk menerapkan P5 dalam kegiatan sehari-hari. Evaluasi dan Refleksi dimana guru perlu efektivitas pembelajaran dan melakukan refleksi untuk perbaikan berkelanjutan. Dengan memahami situasi ini, pelatihan yang dilaksanakan diharapkan dapat memberikan solusi konkret dan relevan terhadap kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh guru PAUD di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelatihan ini juga diharapkan dapat menjadi Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 profesional guru PAUD di daerah lain. (Himpunan Pendidik Tenaga Kependidikan Anak Usia Din. Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Perencaanaan tersebut mencakup penyusunan strategi dan metode untuk mengatasi masalah dari guru PAUD dalam menerapkan P5 dalam pembelajaran sehari-hari. Tahap kedua, pelaksanaan kegiatan. Tahap pelaksanaan dilakukan setelah proses perencanaan dilakukan, guru PAUD di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta mengimplementasikan rencana yang telah dibuat dengan dibantu dan difasilitasi oleh tim pengabdi masyarakat. Tahap ketiga, refleksi kegiatan. Tahap refleksi mengevaluasi kelemahan dan kelebihan, serta keberhasilan dari tahap pelaksanaan. Hasil dari refleksi, digunakan kembali untuk tahap perencanaan baik yang belum terselesaikan atau untuk mengatasi masalah baru. Hal ini bertujuan untuk mecapai kondisi ideal dimana guru PAUD di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki mengembangakan pembelajaran P5 dalam METODE Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat yang berjudul AuPelatihan Implementasi P5 Kurikulum Merdeka dalam Pengembangan Pembelajaran Bagi Guru PAUD di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa YogyakartaAy ini dilaksanakan pada bulan Mei 2024 sampai dengan Juni 2024. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan kegiatan pendampingan kepada guru-guru PAUD di Kabupaten Bantul yang berjumlah 30 orang. Metode pelaksanaan yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini ialah Participatory Action Research (PAR). Penelitian Participatory Action Research memiliki tiga elemen utama, yaitu partisipasi, penelitian, dan tindakan. Ketiga elemen ini saling terkait dan harus diterapkan dalam bentuk aksi Sinergi antara ketiganya bertujuan perbaikan dari kondisi sebelumnya (Afandi. Participatory Action Research adalah salah satu model penelitian yang berupaya mengintegrasikan proses penelitian dengan proses perubahan sosial (Rahmat & Mirnawati, 2. Penggunaan metode ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan kepada guru-guru PAUD terkait dengan tantangan yang dihadapi dalam menerapkan P5 dalam kegiatan seharihari pembelajaran yang mudah diterapkan oleh guru dan anak dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Adapun strategi yang digunakan dalam melakukan participatory action research dalam kegiatan pengabdian ini dapat digambarkan dalam tiga tahap sebagai Tahap Pada tahap ini, dilakukan dengan kalangan guru PAUD di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta melalui analisis SWOT (Strengths. Weakness. Opportunities, dan Threat. Analisis ini mencakup identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang mungkin muncul pada guru PAUD. Dalam tahap perencanaan ini, tim pengabdi masyarakat menggandeng ketua HIMPAUDI HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pendampingan bagi guru PAUD di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta mencakup tiga tahap kegiatan, yaitu tahap perencanaan kegiatan, tahap pelaksanaan kegiatan, dan tahap refleksi kegiatan, yang dijelaskan sebagai Tahap Perencanaan Kegiatan Perencanaan dengan memperhatikan kondisi aktual para guru PAUD di Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta melalui analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan rangka yang dilakukan dalam manajemen strategis untuk melakukan identifikasi faktor-faktor utama yang berpengaruh pada performa suatu entitas (Jannah et al. , 2. Analisis SWOT dapat membantu merumuskan strategi dengan mempertimbangkan kekuatan dan peluang yang ada, serta mengatasi kelemahan dan ancaman yang dihadapi (Nuraini et al. Analisis pada taap perencanaan kegiatan ini mencakup identifikasi kekuatan. Rolina, et al. Implementasi P5 Kurikulum Merdeka dalam. kelemahan, peluang, serta tantangan yang mungkin dihadapi oleh para guru PAUD. Dalam perencanaan ini, tim pengabdi masyarakat bekerja sama dengan beberapa guru dan ketua HIMPAUDI Kabupaten Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta. keterbatasan sumber daya dan sarana pembelajaran, tidak semua lembaga PAUD memiliki fasilitas dan alat peraga yang cukup untuk mendukung kegiatan yang berbasis projek atau berbasis pengalaman, yang menjadi bagian dari pendekatan P5. Sejalan dengan Lestari, . mengatakan bahwa keterbatasan sumber daya dan dukungan menjadi kelemahan PAUD pengimplemntasian P5. Adapun pengembangan kompetensi guru melalui pelatihan terpadu, pemerintah dan lembaga pendidikan dapat menyediakan lebih banyak pelatihan dan workshop untuk guru PAUD mengenai penerapan P5, sehingga tim pengabdi mengambil kesempatan peluang ini Sedangkan tantangannya ialah perubahan kebijakan yang tidak konsisten kebijakan, kurikulum pendidikan yang sering berubah-ubah di tingkat pusat dapat kesinambungan pelaksanaan P5 di daerah, sehingga menghambat upaya guru dalam menyusun rencana pembelajaran jangka Gambar 1: Proses Focus Group Discussion (FGD) Gambar 1 diatas merupakan proses FGD yang di bersamai oleh ketua tim pengabdi, ketua HIMPAUDI Kabupaten Bantul dan beberapa guru PAUD Kabupaten Bantul. Berdasarkan proses FGD tersebut, ditemukan beberapa kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang mungkin muncul pada guru PAUD dalam menerapkan P5 Kurikulum pada proses pembelajaran yang dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut. Tahap Pelaksanaan Kegiatan Pada tahap pelaksanaan kegiatan merupakan implementasi kegiatan. Kegiatan pelatihan ini terbagi menjadi tiga hari pertemuan secara tatap muka dan satu kali pertemuan secara daring melalui zoom meeting untuk finalisasi dan konsultasi produk berupa modul ajar. Pada hari pertama diawali oleh sambutan dari ketua pelaksana yakni Ibu Dr. Nelva Rolina. Si. Beliau memberikan ucapan terimakasih atas dukungan seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan pelatihan Beliau berharap bahwa acara ini dapat memberikan manfaat bagi guru-guru yang mengikuti rangkaian kegiatan ini. Adapun kegitan pembuka dapat dilihat pada gambar 2 sebagai berikut. Tabel 1 : Analisis SWOT Strengths Semangat Inovasi Guru (Kekuata. Weakness Keterbatasan Sumber Daya (Kelemaha. dan Sarana Pembelajaran Opportunities Pengembangan (Peluan. Kompetensi Guru Melalui Pelatihan Terpadu Threats Perubahan Kebijakan yang (Tantanga. Tidak Konsisten Tabel 1 menjelaskan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan guru PAUD di Kabupaten Bantul berdasarkan FGD. Kekuatan terletak pada semangat inovasi guru, banyak guru PAUD di Bantul yang memiliki semangat untuk terus mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif, sehingga lebih terbuka terhadap penerapan konsep P5 dalam proses Kelemahan terletak pada Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 Adapun pemberian materi oleh Bapak Dr. Joko Pamungkas. Pd dapat dilihat pada gambar 3 dibawah sebagai Gambar 2: Pembukaan Kegiatan Pelatihan Setelah dilanjutkan dengan pemberian materi 1 yang diberikan oleh Ibu Dr. Sudaryanti. terkait dengan tujuan dan dimensi P5 di PAUD. Pada kesempatan kali ini pemateri juga membuka sesi tanya dan jawab dengan Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan pemberian materi 2 oleh Bapak Dr. Joko Pamungkas terkait dengan elemen, sublemen, dan prinsip P5 di PAUD. Pada kesempatan kali ini pemateri juga membuka sesi tanya dan jawab dengan peserta. Setelah selesai, kegiatan hari pertama diakhiri dengan Kegiatan hari kedua diawali dengan regrestrasi peserta dan disambung dengan pemberian materi 3 oleh Ibu Rini Agustiningsih. Pd yang memberikan materi terkait dengan tema P5 yang ada di PAUD. Pada kesempatan kali ini pemateri juga membuka sesi tanya dan jawab dengan Setelah itu dilanjutkan kembali pemberian materi 4 oleh Ibu Dr. Nelva Rolina. Si terkait dengan alur perencanaan P5 di PAUD. Tak lupa pada kesempatan kali ini pemateri juga membuka sesi tanya dan jawab dengan peserta. Setelah selesai kegiatan hari kedua pun diakhiri dengan penutup. Hari ketiga diawali dengan regrestrasi peserta, kemudian pemberan materi 5 oleh Ibu Dr. Nelva Rolina. Si terkait dengan penerapan P5 di PAUD. Pada kesempatan kali ini pemateri juga membuka sesi tanya dan jawab dengan peserta. Materi ke 6 Bapak Dr. Joko Pamungkas. Pd terkait dengan evaluasi dan tindak lanjut P5 di PAUD. Pada kesempatan kali ini pemateri juga membuka sesi tanya dan jawab dengan peserta. Setelah selesai pemberian materi ke 6, kegiatan pun Gambar 3: Penyampaian Materi Pelatihan Tahap Refleksi Kegiatan Pada tahap refleksi kegiatan yang merupakan akhir rangkaian pelatihan, kegiatan refleksi menjadi langkah penting untuk mengevaluasi pemahaman peserta, membahas pencapaian, dan merencanakan langkah-langkah ke depan. Refleksi dapat menjadi cara untuk mengembangkan dan menindaklanjuti hal yang telah dilakukan (Rahman, 2. Refleksi juga dapat ajang mengemukakan pikiran dan pemahaman baru tentang apa yang kita lakukan (Hidayah et al. Dalam pelatihan ini kegiatan refleksi bertujuan untuk melihat pemahaman dan Peserta merefleksikan materi yang telah dipelajari, yaitu tentang tujuan, elemen, dan prinsip P5, tema-tema yang bisa diterapkan di PAUD, serta alur perencanaan dan penerapan nya. Peserta diajak untuk menuliskan atau berbagi secara lisan mengenai konsep yang paling berkesan, tantangan yang mungkin dihadapi, dan bagaimana materi ini relevan dengan konteks PAUD di tempat masing-masing. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini dilakukan dalam bentuk pemberian pelatihan dan dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru PAUD dalam Profil Pelajar Pancasila (P. sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Kegiatan ini mencakup beberapa tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan Rolina, et al. Implementasi P5 Kurikulum Merdeka dalam. refleksi, yang disusun untuk mengidentifikasi serta mengatasi kendala yang dihadapi guru dalam penerapan P5. Metode Participatory Action Research (PAR) digunakan dalam kegiatan ini, yang melibatkan partisipasi aktif dari para guru dan fokus pada perbaikan melalui pendekatan analisis SWOT. Hasil dari pelatihan menunjukkan pemahaman dan keterampilan guru PAUD mengenai P5. Mayoritas guru merasa lebih siap dan percaya diri dalam menerapkan konsep dan praktik P5 dalam kegiatan seharihari di PAUD. Faktor pendukung kesuksesan kegiatan ini mencakup kolaborasi antara tim pengabdi masyarakat dan HIMPAUDI Kabupaten Bantul, serta dukungan dari Universitas Negeri Yogyakarta. Namun, beberapa tantangan seperti keterbatasan sumber daya dan kebutuhan pelatihan lanjutan masih perlu diatasi untuk memastikan keberlanjutan implementasi P5. Secara keseluruhan, pelatihan ini berhasil mengembangkan pembelajaran berbasis P5 dan mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan PAUD di Bantul, sekaligus berpotensi menjadi model pengembangan profesional untuk wilayah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. merupakan kegiatan yang relevan dengan pembentukan karakter anak usia dini. P5 fokus pada nilai-nilai Pancasila seperti kebhinekaan global yang sejalan dengan tujuan pendidikan anak usia dini, yaitu pengembangan karakter anak. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan Pendampingan dan pelatihan berkelanjutan, penyusunan modul dan sumber daya pembelajaran yang praktis, evaluasi berkala dan refleksi hasil implementasi, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, serta kolaborasi dengan komunitas dan pemerintah daerah. demikian, diharapkan pelaksanaan p5 dalam kurikulum merdeka dapat lebih terintegrasi dan memberikan manfaat yang lebih besar dalam pengembangan pendidikan anak usia Masyarakat (Community Dwiputra Pustaka Jaya. Organizin. Cahyaningrum. , & Diana. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Implementasi Kurikulum Merdeka di Lembaga PAUD. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7. , 2895Ae2906. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Farhana. , & Cholimah. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila sebagai Upaya Peningkatan Karakter Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8. , 137Ae148. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Hidayah. Junjunan. Aisyah. Zainul Mufaroj. , & Taufiqoh. Mengembangkan Kesadaran Guru tentang Pentingnya Refleksi Diri Melalui Penelitian Tindakan Kelas. Jurnal Kreativitas Mahasiswa, 2. , 1Ae12. Jannah. Faizah. Indraputri. Puspita. Hidayat. , & Ikaningtyas. Pentingnya Analisis SWOT Suatu Perencanaan dan Pengembangan Bisnis. IJESPG Journal, 2. , 9Ae17. http://ijespgjournal. Jaoza. , & Kanda. PetntingnyaPendidikan Anak Usia Dini Bagi tumbuh Kembang Anak. Glory, 2. , 1Ae9. https://w. br/infodesi gn/article/view/355http://w. br/revista/index. php/ae/articl e/view/731http://w. br/revista/index. php/ae/article/view/ 269http://w. br/revis ta/index. php/ae/article/view/106 Lestari. Implementasi Kurikulum Merdeka di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): Tinjauan Kritis dari Perspektif Guru. Pernik, 7. , 43Ae51. https://doi. org/10. 31851/pernik. Lumbanbatu. Tibo. Ginting. , & Manalu. Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Guru-Guru Pendidikan DAFTAR RUJUKAN Afandi. Modul Participatory Action Research (PAR) untuk Pengorganisasian Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 Agama Katolik Tingkat Dasar dan Menengah. CARADDE:Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6. https://doi. org/https://doi. org/10. 0/caradde. Nuraini. Mulyanto. Hidayat. Mahendra. , & Tohiodin. Evaluasi Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal di Kabupaten Bandung. Jurnal Pelita PAUD, 9. , 625Ae639. Nurhayati. Pentingnya Pendidikan Di Usia Dini Dalam Meningkatkan Perkembagan Kognitif dan Sosial Anak. Jurnal Dinamika Sosial Dan Sains, 2. , 670Ae676. Purnasari. Sadewo. Saputro. Dimmera. Trisnaningtyas. Vendyah Vasantan. Pembuatan Modul Ajar Berdiferensiasi Berbasis Profil Pelajar Pancasila Bagi Guru SD di Wilayah Perbatasan. CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 7. https://doi. org/https://doi. org/10. 0/caradde. Rahman. Refleksi Diri Dan Peningkatan Profesionalisme Guru. JurnalPaedagogia, 17. , 1Ae12. http://jurnal. id/index. Rahmat. , & Mirnawati. Model participation action research dalam pemberdayaan Masyarakat. AKSARA: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 6. Rohiyatun. Garnika. , & Jaswandi. Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini di KB PAUD Permata Bangsa. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 1234Ae1242. https://doi. org/10. 53299/jppi. Wahyuni. Sumarno. , & Dwijayanti. Analisis Implementasi Kurikulum Merdeka pada Satuan Pendidikan Anak Usia Dini. Tematik: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, 3. , 35Ae47. https://doi. org/10. 57251/tem.