Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . http://journal. id/index. php/keraton Studi Eksistensi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti Franciscus Dicha Sidabutar1. Chontina Siahaan 2 1 Universitas Kristen Indonesia. Jakarta. Indonesia 1 Universitas Kristen Indonesia. Jakarta. Indonesia fransiskussidabutar18@gmail. * Corresponding Author Received 30 Juli 2021. accepted 8 Agustus 2021. published 30 Desember 2021. KEYWORDS ABSTRACT Community life is living together with other people based on one bond, one calling, and one This study aims to determine whether community life at the Wacana Bhakti Intermediate Seminary can help seminarians get to know other cultures so that cultural exchanges occur in the community, as well as see if there are inaccurate perceptions among The respondents of this study were seminarians . ommunity member. in the Wacana Bhakti Minor Seminary starting from grade 1 to the Upper Preparatory Class (KPA). The research method used in this scientific article uses descriptive quantitative The findings in this study indicate that cultural exchange is already owned by almost the entire population and this is supported by intercultural communication that occurs within the community. This can be seen from as many as 58 seminarians who have understood correctly about intercultural communication. The most studied culture in this community is the culture of the Batak and Javanese tribes. Not only that, the researchers found that there are some people who do not even recognize the culture of their own tribe. Therefore, the community may be able to strengthen the communication that occurs between members from different cultures, either directly or indirectly. Hidup Seminari Komunikasi This is an open-access article under the CCAeBYSA license PENDAHULUAN Hidup berkomunitas menjadi salah satu cara bagi manusia dalam memenuhi hasrat untuk saling Seseorang yang berada dalam sebuah komunitas juga dapat mengembangkan kemampuan diri yang dimilikinya. McMillan dan Chavis . menyatakan pandangan mereka bahwa komunitas adalah kumpulan anggota yang memiliki rasa saling memiliki, saling terhubung dan percaya bahwa kebutuhan anggotanya dapat dipenuhi selama anggota berkomitmen untuk hidup bersama dalam komunitas tersebut. (Comdev Bina Nusantara 2. Menurut Baron dan Byrne sebuah kelompok atau komunitas mempunyai dua tanda psikologis. Pertama, anggota komunitas merasa terhubung Ae ada rasa memiliki Ae yang tidak dimiliki oleh nonanggota. Kedua, nasib para anggota saling bergantung, sehingga hasil setiap orang dalam beberapa hal berkaitan dengan hasil orang lain (Wonodihardjo, 2. Oleh karena kedua hal itu, maka komunitas merupakan sebuah bagian yang tidak dapat dilepas dari kehidupan. 32585/keraton. jurnal_keraton@yahoo. Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Berdasarkan beberapa penjabaran diatas, komunitas bukan hanya sekadar sebuah perkumpulan, melainkan juga sebuah wadah bagi setiap anggotanya untuk berkembang. Hal ini mencakup konteks yang luas, seperti misalnya perkembangan akan iman, pertumbuhan akan rasa toleransi dalam diri anggotanya, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Sebuah komunitas yang baik adalah komunitas yang mampu mengantarkan tiap anggotanya kepada pertumbuhan dan perkembangan tersebut melalui relasi yang baik antar anggota komunitas tersebut. Sebuah faktor pengaruh perkembangan dalam sebuah komunitas ialah relasi erat yang terjalin baik bagi tiap anggota komunitas tersebut. Menjalin relasi yang erat dalam sebuah komunitas tentu bukan perkara yang mudah, terlebih apabila anggota komunitas tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda. Salah satu perbedaan yang sangat terlihat yakni perbedaan budaya dari setiap Bierstedt mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan suatu kompleks totalitas yang terdiri dari semua cara orang berfikir dan berbuat dan segala sesuatu yang dimiliki (Robert Bierdstedt 1. Gagasan, norma, dan benda hasil kebudayaan merupakan tiga buah komponen dasar yang terdapat dalam kebudayaan. Dalam sebuah komunitas yang para anggotanya terdiri dari berbagai latar belakang budaya, seringkali terjadi persepsi yang kurang cermat. Persepsi-persepsi tersebut, antara lain etnosentrisme, stereotip, prasangka, dan juga culture shock . egar buday. , yang dapat menjadi penghambat dari terjadinya komunikasi. Irianto menjelaskan bahwa etnosentrisme merupakan kecenderungan berpikir bahwa kebudayaan miliknya lebih unggul apabila dibandingkan dengan kebudayaan-kebudayaan yang lain. Myers menambahkan bahwa etnosentrisme berarti percaya pada superioritas kelompok budaya sendiri dan membenci kelompok lain. Etnosentrisme ini dapat mendorong terjadinya fenomena intoleran terhadap kebudayaan yang bukan miliknya. (Sari and Samsuri 2. Di sisi lain, komunikasi yang terjadi di dalam komunitas ini juga dapat memicu adanya pertukaran budaya. Hal ini diakibatkan orang-orang dari budaya berbeda yang saling memperkenalkan kebudayaan mereka. Dapat juga terjadi secara tidak langsung apabila seseorang menikmati media yang ditayangkan dengan budaya lain, seperti contohnya ketika seseorang dari suku Batak mendengarkan lagu berbahasa Jawa maka orang tersebut akan memahami bahasa Jawa secara tidak disadari. Komunikasi akan berlangsung dengan baik apabila terdapat persamaan latar belakang pada komunikator maupun komunikan. Namun begitupun sebaliknya, komunikasi akan mengalami kesulitan apabila diantara komunikator dan komunikan tidak terdapat latar belakang yang sama. Seperti contohnya seorang dengan budaya Batak tidak akan berkomunikasi yang efektif apabila berkomunikasi dengan yang berbudaya Minahasa. Jawa, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan persepsi, kebiasaan, nilai, dan norma yang digunakan oleh komunikator ketika komunikasi tersebut berlangsung. Oleh karenanya diperlukan komunikasi antarbudaya. Franciscus Dicha Sidabutar. Chontina Siahaan (Studi Eksistensi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. Mengingat bahwa komunitas juga dapat menjadi media bagi terjadinya komunikasi antarbudaya, maka peneliti merumuskan beberapa permasalahan yang kemudian menjadi bahasan pada artikel ini. Beberapa permasalahan tersebut, yakni: Apakah populasi mengetahui pengertian komunikasi antarbudaya? Apakah pada populasi terjadi persepsi-persepsi yang kurang cermat? Apakah hidup berkomunitas dapat membantu seseorang dalam mengenal budaya baru yang sebelumnya tidak diketahuinya? Tinjauan Penelitian 1 Penelitian Terdahulu Untuk mendapatkan perbandingan dan menghindari kesamaan anggapan pada penelitian ini, diperlukan referensi dari penelitian sebelumnya. Penelitian terdahulu ini berisikan bahasan mengenai beberapa penelitian terkait komunikasi antarbudaya yang telah dilakukan sebelumnya. Penelitian-penelitian terdahulu itu antara lain: Hasil penelitian Sinta Paramita dan Wulan Purnama Sari pada jurnal Pekommas yang berjudul AuKomunikasi Antarbudaya dalam Menjaga Kerukunan antara Umat Beragama di Kampung Jaton MinahasaAy ini bertujuan untuk mengetahui jenis komunikasi antarbudaya yang terjadi antara warga Kampung Jaton dengan warga mayoritas yang berbeda agama sehingga kerukunan umat beragama dapat tetap terjaga. Kesimpulan akhir yang dapat diambil dari penelitian tersebut bahwa terjadi akulturasi di antara warga yang beragama Islam dengan warga beragama Kristen. Kerukunan antarumat beragama di Jaton dapat terjaga karena nilai-nilai kehidupan yang dimiliki oleh masyarakat Minahasa. Nilai-nilai kehidupan tersebut menjadikan interaksi antarumat beragama bersifat asosiatif yang ditandai dengan terjadinya akulturasi budaya, sehingga tidak terjadi konflik seperti yang terdapat pada daerah-daerah lain. (Paramita and Purnama Sari 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Abdul Karim pada jurnal At-Tabsyir berjudul AuKomunikasi Antarbudaya di Era ModernAy ini menghasilkan kesimpulan bahwa faktor utama dalam komunikasi adalah kemampuan dalam mengetahui budaya lain demi membangun keberlangsungan atas kebutuhan semua masyarakat, serta ada kenyamanan di antara sesama (Karim, 2. Hasil penelitian Maria Eva Rosalyn dan Yohanes Arie Kuncoroyakti yang berjudul AuKomunikasi Antarbudaya Pada Komunitas PerCaAy ini bertujuan untuk menilik komunikasi antarbudaya yang terjadi dalam pasangan yang tergabung dengan komunitas PerCa Indonesia, khususnya pasangan-pasangan yang berdomisili di Jabodetabek. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi budaya yang terjadi di antara pasangan tersebut menimbulkan komunikasi transaksional serta memunculkan sebuah budaya baru dari perkawinan tersebut akibat salah satu budaya pasangan menjadi lebih dominan, namun hal itu tidak mempengaruhi relasi di antara pasangan itu. (Rosalyn et al. Hasil penelitian Remaja Putra Barus dan Rehia K. Barus dengan judul Komunikasi Antarbudaya pada Komunitas Aron di BerastagiAy yang diterbitkan jurnal Simbolika ini bertujuan untuk Franciscus Dicha Sidabutar. Chontina Siahaan (Studi Eksistensi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . menganalisa proses dan pola komunikasi seperti apa yang terjadi di antara berbagai etnik dalam komunitas Aron, serta kendala dalam komunikasi antarbudaya di kota Berastagi. Kajian ini menunjukkan pola interaktif, transaksional, dinamis, dan juga interaktif terbatas. Selain itu, komunikasi antarbudaya pada komunitas Aron ini berupa komunikasi primer dan sekunder. Pada komunikasi antarbudaya yang diteliti ini juga terdapat hambatan komunikasi berupa prasangka dan stereotip dalam bentuk sindiran yang dilakukan oleh etnik Karo kepada etnik Batak Toba. (Putra Barus and Barus 2. 2 Kebudayaan Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menuliskan definisi kebudayaan yang mencakup semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat (Ilafi 2. Hal ini berkaitan dengan pengertian kebudayaan menurut Koentjaraningrat dimana menurutnya kebudayaan berasal dari kata buddhayah (Sanskert. yang berarti budi dan akal (Karim, 2. Dari pengertian tersebut, kebudayaan memiliki sifat yang sangat amat luas. Istilah budaya ini sendiri bisa dipahami sebagai pola perilaku, kesenian, kepercayaan, dan semua produk lain dari karya serta pemikiran manusia yang merupakan ciri dari kondisi suatu masyarakat. Fungsi utama budaya yakni untuk dapat memahami kondisi lingkungan dan juga menentukan bagaimana masyarakat suatu lingkungan merespons suatu hal, seperti menghadapi ketidakpastian tertentu (Sumarto, 2. Pemimpin dalam masyarakat tersebut harus memikirkan dengan cermat mengenai pentingnya budaya karena berperan sangat penting dalam kesuksesan suatu kelompok. Honigman membedakan fenomena kebudayaan ini mempunyai tiga wujud, yakni sebagai gagasan atau norma, sebagai pola tindakan manusia, dan sebagai benda-benda hasil karya (Kristiya et al. , 2. Kebudayaan sebagai gagasan memiliki beberapa sifat yakni abstrak dan tak dapat diraba, berlokasi hanya dalam pikiran masyarakat, serta dapat mengendalikan dan memberikan arahan kepada kelakuan masyarakat di lingkungan tersebut. Kebudayaan kemudian diperinci ke dalam beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut merupakan isi pokok pada tiap kebudayaan di dunia, biasanya unsur ini disebut dengan cultural universals yang dikemukakan juga oleh Koenjaraningrat. Beberapa unsur tersebut antara lain bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, teknologi, mata pencaharian, agama, dan juga seni (Fuad et al. Unsur-unsur tersebut kemudian terejawantahkan secara nyata pada sistem budaya atau adat-istiadat, sistem sosial, maupun kebudayaan fisik. Unsur ini jugalah yang kemudian menjadi warisan bagi para penerus bangsa demi keberlangsungan budaya tersebut. 3 Komunikasi Antarbudaya Komunikasi antarbudaya merujuk fenomena komunikasi dimana komunikator yang berbeda latar belakang kebudayaan saling berkomunikasi. Komunikasi antarbudaya pada hakikatnya merupakan upaya untuk menciptakan kebersaman di antara perbedaan budaya. Selain itu, komunikasi antarbudaya ini mengandung dimensi antarbudaya, atau dengan kata lain menunjukkan adanya komunikasi ini memberikan dampak positif untuk meminimalisir kesalahpahaman dan saling mengerti perbedaan budaya yang terdapat pada komunikator dan komunikan. Franciscus Dicha Sidabutar. Chontina Siahaan (Studi Eksistensi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. Dalam komunikasi antarbudaya ini ada beberapa konsep yang menjadi karakteristiknya seperti misalnya pertukaran simbol, proses, perbedaan komunitas budaya, negosiasi makna, situasi interaktif, dan sistem sosial (Suryani 2. Pada komunikasi antarbudaya ini terdapat ide atau pemikiran seseorang yang kemudian diserap oleh lawan bicaranya, begitupun sebaliknya. Dalam komunikasi antarbudaya ini tentu kedua belah pihak . omunikator dan komunika. melakukan pertukaran simbol berupa kata-kata maupun gerakan tubuh, pertukaran makna itu memerlukan proses untuk dapat saling menyesuaikan dengan budaya lainnya. Proses tersebut terhitung tidak mudah, namun salah satu kunci keberhasilan proses komunikasi antarbudaya ini adalah menjunjung tinggi tradisi bersama dan untuk mencapai itu sangat diperlukan adanya negosiasi makna agar para pelaku komunikasi dapat mengerti tujuan yang ingin dicapai dari komunikasi antarbudaya yang sedang dilakukan. Terdapat beberapa persepsi yang kurang tepat yang justru dapat menghalangi kinerja pertukaran budaya dalam komunikasi tersebut. Persepsi-persepsi yang kurang tepat tersebut diantaranya: 1 Etnosentrisme Etnosentrisme adalah konsep dalam melihat budaya dalam kelompoknya sendiri sebagai pusat atas segalanya dan menginterpretasi budaya kelompok lain dari perspektifnya sehingga menolak orang yang berbeda budaya. (Fauzi & Asri, 2. 2 Stereotip Lippman mengemukakan bahwa sikap saat menghadapi kebudayaan lain diarahkan dengan adanya stereotip. Dalam komunikasi antarbudaya stereotip ini memiliki beberapa dimensi seperti dimensi arah atau tanggapan, dimensi intensitas atau tingkat kepercayaan terhadap stereotip yang beredar, dimensi keakuratan atau ketepatan stereotip yang beredar bila dilihat dari realitas yang ditemui, serta dimensi isi atau sifat khusus pada kelompok tertentu. (Aziz et al. 3 Prasangka Antar Kelompok Baron dan Byrne mengemukakan bahwa prasangka ialah sikap negatif terhadap kelompok lain yang didasarkan pada keanggotaannya di kelompok tersebut (Sriwahyuningsih et al. , 2. Prasangka biasanya terjadi dikarenakan sebab yang sederhana . isal: saling eje. , namun permasalahan tersebut tidak diselesaikan sehingga muncullah prasangka yang pada akhirnya menimbulkan konflik secara fisik (Santhoso & Hakim, 2. 4 Culture Shock (Gegar Buday. Istilah culture shock ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960 oleh seorang ahli antropologis bernama Oberg. Dia mendefinisikan gegar budaya sebagai bentuk respons yang mendalam dan negatif terhadap depresi, frustrasi, dan disorientasi yang dialami individu dalam lingkungan baru. (Intan, 2. Franciscus Dicha Sidabutar. Chontina Siahaan (Studi Eksistensi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Gegar budaya ini terjadi karena ketidaksetaraan pandangan dalam beberapa budaya yang saling berinteraksi, sehingga membuat kebudayaan pendatang kehilangan harapan. Oleh karena itu pada dasarnya gegar budaya terjadi pada individu yang memulai kehidupan baru di daerah yang situasi dan kondisi budayanya berbeda dengan budaya asal individu tersebut, atau yang biasa disebut merantau (Maizan et al. , 2. Jenis gegar budaya yang paling jarang disadari bagi para pelaku komunikasi adalah dalam berbahasa, padahal bahasa merupakan aspek yang sangat penting dalam upaya menjalin komunikasi dengan orang lain (Maizan et al. , 2. Melalui konsep di atas, kondisi gegar budaya biasanya terjadi karena tiga penyebab utama (Devinta et al. , yakni: Kehilangan tanda yang dikenal yang telah menjadi bagian kehidupan. Contohnya gerakan tubuh, ekspresi wajah, ataupun kebiasaan yang dapat menggambarkan tindakan. Putusnya komunikasi antarpribadi, baik yang disadari maupun yang mengarah pada keadaan frustrasi dan ketakutan. Salah satu penyebab jelas dari gangguan ini adalah halangan dalam segi . Terjadinya krisis identitas yang terjadi pada seseorang. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hasibullah, upaya yang paling penting dalam mengatasi culture shock ini adalah dengan menyesuaikan diri terhadap bahasa dan budaya setempat sehingga terjadi komunikasi yang efektif antara individu tersebut dengan masyarakat lingkungan sekitar (Maizan. Bashori, and Hayati 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif deskriptif yang dilakukan dengan mendeskripsikan data hasil kuesioner. Penelitian untuk artikel ilmiah ini dilakukan pada pertengahan bulan Oktober 2021 dengan subjek penelitiannya yakni seluruh seminaris pada Seminari Menengah Wacana Bhakti. Populasi yang digunakan adalah seluruh seminaris dengan jumlah 74 . ujuh puluh empa. seminaris yang seluruhnya menjadi sampel dalam penelitian ini. Peneliti tertarik untuk menjadikan para seminaris dalam komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti ini dikarenakan cara hidup mereka. Mereka hidup dengan tanpa gawai sebagaimana layaknya pendidikan calon imam. Dengan hidup tanpa gawai, maka para seminaris dapat hidup berkomunitas dengan lebih intensif, terlebih dalam berkomunikasi. Franciscus Dicha Sidabutar. Chontina Siahaan (Studi Eksistensi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . 14 TAHUN 15 TAHUN 16 TAHUN 17 TAHUN 18 TAHUN 19 TAHUN 20 TAHUN 21 TAHUN Diagram 1: Rentang Usia Seminaris Dari diagram 1 dapat dilihat bahwa rentang usia responden sangat beragam, mulai dari usia 14 tahun hingga 21 tahun. Seminaris yang kuantitasnya paling banyak berada di usia 18 tahun dengan jumlah 23 orang seminaris dan paling sedikit berada di usia 14 tahun dan 21 tahun dengan jumlah masing-masing satu orang seminaris. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang dikirim langsung ke alamat Seminari Menengah Wacana Bhakti dengan seizin rektor seminari tersebut. Dikarenakan adanya peraturan internal yang melarang penggunaan gawai bagi para seminaris, maka peneliti menggunakan kuesioner berbasis kertas yang diisi langsung oleh para seminaris dengan menggunakan pena yang telah disediakan. Penelitian ini menggunakan analisa data dengan cara deskriptif. Data diolah apa adanya tanpa menggunakan teknik-teknik statistik secara lebih lanjut. Biarpun tidak menggunakan teknik-teknik statistik lebih lanjut, namun data pada penelitian ini disajikan dengan diagram lingkaran yang kemudian dideskripsikan oleh peneliti. Hasil dan Pembahasan Pertanyan nomor satu yang menanyakan kepada responden apakah mereka mengerti apa yang dimaksud dengan komunikasi antarbudaya, diperoleh hasil seperti pada diagram di bawah: MEMAHAMI TIDAK MEMAHAMI Diagram 2: Persentase Jawaban Nomor 1 Dari diagram 2 terlihat bahwa dari 74 orang seminaris ada sebanyak 58 seminaris . %) yang sudah memahami terkait komunikasi antarbudaya ini. Namun di sisi lain, ada pula 16 seminaris Franciscus Dicha Sidabutar. Chontina Siahaan (Studi Eksistensi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . %) yang belum memahaminya. Maka dari itu dapat ditarik kemungkinan bahwa sebagian kecil seminaris masih belum dapat memahami dengan benar mengenai apa yang dimaksud dengan komunikasi antarbudaya. Pada pertanyaan kedua peneliti menanyakan pengertian komunikasi antarbudaya menurut pemahaman mereka yang pada pertanyaan pertama mengatakan bahwa mereka mengetahuinya. Dari 58 seminaris . %), semua memahami dengan benar pengertian komunikasi antarbudaya. Pada pertanyaan ketiga peneliti ingin mengetahui apakah komunikasi antarbudaya dapat membantu terjadinya pertukaran budaya, sebagai berikut: SANGAT MEMBANTU KURANG EFEKTIF ATAU EFISIEN TIDAK MEMBANTU Diagram 3: Jawaban Kuesioner Nomor 3 Berdasarkan hasil data penelitian yang tertera pada diagram di atas, terlihat bahwa menurut 50 seminaris . %) komunikasi antarbudaya sangat membantu terjadinya pertukaran budaya. Ada juga 24 seminaris . %) yang mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya dapat membantu terjadinya pertukaran budaya namun hal itu kurang efektif maupun kurang efisien. Namun tidak ada satu seminaris pun yang mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya ini tidak membantu terjadinya proses pertukaran budaya. Untuk pertanyaan nomor empat yang menanyakan apakah para seminaris mengenal secara mendalam kebudayaan dari daerah asalnya, peneliti mendapatkan hasil berikut: MEMAHAMI SECARA MENDALAM SEDIKIT MEMAHAMI TIDAK MEMAHAMI Diagram 4: Jawaban Kuesioner Nomor 4 Berdasarkan diagram di atas, mayoritas responden . 81%) hanya sedikit memahami kebudayaan dari daerah asalnya. Sebagian besar lainnya . 18%) telah memahami kebudayaan dari daerah asalnya secara mendalam. Namun ada pula seorang seminaris yang tidak memahami kebudayaan daerah asalnya. Franciscus Dicha Sidabutar. Chontina Siahaan (Studi Eksistensi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Untuk pertanyaan kelima yang menanyakan pandangan para responden akan kebudayaan yang lain, diperoleh hasil seperti yang ditunjukkan pada diagram berikut: ETNOSENTRISME STEREOTIP PRASANGKA CULTURE SHOCK MENERIMA KEBUDAYAAN LAIN Diagram 5: Jawaban Kuesioner Nomor 5 Berdasarkan diagram terlihat lebih dari setengah populasi . 58%) dapat menerima kebudayaan lain dengan sebaik-baiknya. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak seminaris yang memiliki persepsi yang kurang cermat. Persepsi kurang cermat yang paling banyak dimiliki para seminaris . 31%) yakni percaya kepada stereotip yang masih beredar di masyarakat. Tidak hanya itu, sebanyak 4 seminaris . %) mengalami gegar budaya saat mereka bergabung dengan komunitas ini dan 3 seminaris . %) memiliki prasangka terhadap kebudayaan lain. Hanya ada seorang seminaris yang memiliki kepercayaan bahwa kebudayaannya lebih baik dari kebudayaan yang lain atau yang biasa disebut etnosentrisme. Untuk pertanyaan nomor enam yang menanyakan apakah para responden selama bergabung dengan komunitas ini telah mempelajari kebudayaan yang sebelumnya belum mereka ketahui, diperoleh hasil seperti berikut ini: <2 KEBUDAYAAN >3 KEBUDAYAAN TIDAK ADA Diagram 6: Jawaban Kuesioner Nomor 6 Bila dilihat dari diagram tersebut, sekitar 49% responden . telah mempelajari lebih dari tiga kebudayaan yang tidak mereka kenal sebelum bergabung dengan komunitas tersebut. Tidak hanya itu, sebanyak 35% responden . juga telah mempelajari kurang dari dua kebudayaan yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Namun 12 seminaris sisanya belum dapat mempelajari kebudayaan lain. Franciscus Dicha Sidabutar. Chontina Siahaan (Studi Eksistensi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . Dari enam puluh dua seminaris tersebut, berikut persentase kebudayaan-kebudayaan yang telah mereka pelajari: JAWA BATAK BALI MANADO TIONGKOK FLORES KALIMANTAN SUNDA BETAWI PAPUA MAKASSAR TORAJA BATAM AMBON 2% 1% Diagram 7: Kebudayaan Yang Berhasil Dipelajari Berdasarkan diagram di atas kebudayaan baru yang dipelajari oleh para seminaris adalah kebudayaan Batak dan Jawa . %), hanya dengan selisih satu suara. Kebudayaan yang banyak dipelajari selanjutnya adalah kebudayaan Flores . %). Banyak pula yang mempelajari kebudayaan Tiongkok . %), namun hanya berselisih satu suara dengan kebudayaan Papua . %). Selain kebudayaan-kebudayaan yang telah disebutkan, para seminaris juga telah mempelajari kebudayaan Bali. Manado. Kalimantan. Sunda. Betawi. Papua. Makassar. Toraja. Batak, dan Ambon dengan rentang antara 1% hingga 4%. Perlu diingat, dikarenakan para responden memiliki jumlah kebudayaan yang berbeda maka kebudayaan-kebudayaan pada hasil terakhir bukan dihitung berdasarkan jumlah responden melainkan berdasarkan total seluruh kebudayaan yang disebutkan oleh responden pada kertas Kesimpulan Masyarakat banyak mengatakan bahwa anak-anak remaja generasi Z sudah tidak mengenal kebudayaan dari sukunya sendiri. Apabila kita melihat dari hasil kuesioner di atas, apa yang dikatakan masyarakat banyak itu tidak terbukti, dimana para seminaris masih mengenal kebudayaan dari suku mereka biarpun tidak mengenal secara mendalam. Tidak hanya itu, dari 74 . ujuh puluh empa. responden hanya satu orang yang mengatakan bahwa dirinya tidak mengenal kebudayaan asalnya. Hal ini dengan jelas bertolakbelakang dengan perbincangan tersebut. Meskipun terdapat banyak responden yang memiliki persepsi yang kurang cermat terhadap kebudayaan orang lain, namun hal ini justru menantang mereka untuk dapat mempelajari secara lebih mendalam mengenai kebudayaan-kebudayaan lain. Hal ini terbukti dengan hasil kuesioner dimana selama mereka hidup berkomunitas hanya ada 12 seminaris yang belum berhasil mempelajari kebudayaan lain. Hal ini menunjukkan bahwasanya 62 seminaris lain telah berhasil mempelajari kebudayaan-kebudayaan baru yang sebelumnya tidak mereka kenal. Kebudayaan baru yang paling banyak dipelajari oleh mereka adalah kebudayaan suku Jawa dan Batak. Hasil-hasil pertanyaan kuesioner tersebut menerangkan bahwa pengetahuan mengenai kebudayaan sudah dimiliki oleh hampir seluruh populasi. Hal ini dapat dilihat bahwa sebanyak 58 Franciscus Dicha Sidabutar. Chontina Siahaan (Studi Eksistensi Komunikasi Antarbudaya dalam Komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti Keraton: Journal of History Education and Culture Vol. No. Desember 2021, pp. ISSN 2685-9114 . , 2686-0082 . seminaris telah memahami dengan benar mengenai komunikasi antarbudaya. Tidak hanya mengerti, namun mereka juga dapat mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya ini sangat membantu terjadinya proses pertukaran budaya, terlebih di dalam komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti. Biarpun demikian, masih terdapat sekelompok kecil yang belum mengenal akan komunikasi antarbudaya ini. Sekelompok kecil ini perlu mendapatkan pengetahuan khusus mengenai pentingnya komunikasi antarbudaya. Pengetahuan khusus tersebut dapat diberlakukan pada Seminari Menengah Wacana Bhakti melalui cara langsung maupun tidak langsung. Salah satu cara langsung yang dapat diberlakukan adalah dengan mengadakan pembelajaran formal di kelas yang mengajarkan mengenai kebudayaankebudayaan lain. Dapat pula diberlakukan cara yang tidak langsung, seperti misalkan dengan diberlakukannya peraturan berbicara dengan bahasa daerah pada waktu tertentu, atau bahkan bisa diberlakukannya jam khusus untuk sharing mengenai apa yang diketahui mereka akan kebudayaannya masing-masing. Dengan berbagai cara ini, maka eksistensi komunikasi antarbudaya pada komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti dapat berjalan lebih efektif. Ucapan Terimakasih Peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada komunitas Seminari Menengah Wacana Bhakti yang dengan rela hati mengisi kuesioner yang peneliti sediakan. Terimakasih juga peneliti haturkan kepada Romo Adrianus Andi Gunardi selaku Rektor Seminari Menengah Wacana Bhakti yang memberi izin untuk menyebar kuesioner guna melakukan penelitian di tempatnya berkarya. References