Wijaya dan Aulia Wahyuning Tiyas. Analisis Pengaruh Kecukupan Modal. ISSN: 2302-4119 Analisis Pengaruh Kecukupan Modal. Likuditas. Risiko Kredit dan Efisiensi Biaya Terhadap Profitabilitas Bank Umum Erric Wijaya STIE Indonesia Banking School wijaya@ibs. Aulia Wahyuning Tiyas STIE Indonesia Banking School wtiyas@gmail. Abstract The national economy is experiencing a slowdown in the third quarter 2015, the bankAos performance also weakened with the economic downturn. In terms of profitability, the pressure bank earnings are also expected to continue. Banks are expected to still be experiencing a slowdown in profit growth. The purpose of this study is to examine, analyze and deduce the effect of capital adequacy ratio, liquidity ratio, credit risk and efficiency ratios ROA charges against Indonesian commercial banks that went public during the period 2011-2015. The study population is an Indonesia commercial bank which go public 2011-2015. The number of samples in this study were 40 banks with the dependent variable Return On Asset (ROA) as well as the independent variable Capital Adequacy Ratio (CAR). Loan to Deposit Ratio (LDR. Non Performing Loan (NPL) and Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO). The method used in this research is the Linear Regression Analysis and t test with significance level of 5% and processed using EViews 7. The results of this study indicate that the NPL of significant positive effect on ROA commercial banks to go public the period 2011-2015. BOPO significant negative effect. CAR and LDR no significant positive effect on commercial banks to go public ROA period 2011-2015. The results of this study have implications for the management, practitioners, and academic communities, namely the need to consider the relationship of NPL. ROA. CAR and LDR to ROA companies. Keywords: ROA. CAR. LDR. NPL and BOPO Abstrak Perekonomian nasional mengalami perlambatan pada kuartal ketiga 2015, kinerja bank juga melemah dengan krisis Dalam hal profitabilitas, pendapatan tekanan bank juga diperkirakan akan terus berlanjut. Bank diperkirakan masih akan mengalami perlambatan pertumbuhan laba. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji, menganalisis dan menyimpulkan pengaruh rasio kecukupan modal, rasio likuiditas, risiko kredit dan rasio efisiensi biaya ROA terhadap bank-bank komersial Indonesia yang go public selama periode 2011-2015. Populasi penelitian adalah bank komersial Indonesia yang go public 2011-2015. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 40 bank dengan variabel dependen Return on Asset (ROA) serta variabel independen Capital Adequacy Ratio (CAR). Loan to Deposit Ratio (LDR). Non Performing Loan (NPL) dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Linier dan uji t dengan taraf signifikansi 5% dan diolah menggunakan EViews 7. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa NPL berpengaruh positif signifikan terhadap ROA bank komersial untuk pergi publik periode 2011-2015 BOPO berpengaruh negatif signifikan CAR dan LDR tidak berpengaruh positif signifikan pada bank komersial untuk go public ROA periode 2011-2015. Hasil penelitian ini memiliki implikasi bagi manajemen, praktisi, dan komunitas akademis, yaitu perlu mempertimbangkan hubungan NPL. ROA. CAR, dan LDR kepada perusahaan ROA. Kata Kunci: ROA. CAR. LDR. NPL dan BOPO Pendahuluan Perekonomian nasional tengah mengalami pelambatan, dimana pada kuartal i 2015 pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 4,73%. Kinerja perbankan juga melemah seiring pelemahan ekonomi yang ditunjukkan dalam beberapa indikator. Di sisi profitabilitas, tekanan terhadap pundi-pundi laba bank juga diperkirakan masih akan berlanjut. Perbankan diperkirakan masih akan mengalami perlambatan pertumbuhan Pada data Statistik Perbankan yang dirilis OJK, bank-bank umum sepanjang semester pertama tahun ini mencatat laba sebesar Rp 50,84 triliun, turun 12,98% dibandingkan laba semester pertama tahun lalu sebesar Rp 58,43 triliun. Penurunan laba bersih tersebut terjadi pada seluruh kelompok bank, termasuk bank-bank BUMN. Namun. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menegaskan, kondisi perbankan masih kuat. Hal tersebut dapat dilihat dari rasio kecukupan permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan. Sebagaimana diketahui, ketentuan CAR di dalam standar Bank Of International Settlement (BIS) hanya 8%. Sedangkan CAR di perbankan Indonesia berada di posisi 20,1%. Loan to Deposit Ratio (LDR) pada posisi Juni 2015 sebesar 88,6% dan biaya operasional efisiensi perbankan relatif terjaga di kisaran 79%. Hal tersebut menunjukkan bahwa perbankan Indonesia cukup aman dan solid . com, 2. Bank memiliki peranan penting dalam perekonomian. Menurut Darmawi . bank juga berperan sebagai jantungnya perekonomian. Hal tersebut karena uang mengalir ke bank, kemudian oleh bank diedarkan kembali ke sistem perekonomian untuk menjalankan kegiatan perekonomian. Menurut Dwicahyo . dalam penelitiannya mengatakan, semakin berkemban- Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol. 2 No. 3 Desember 2016: 99-109 gnya suatu bank, tentunya diiringi oleh tantangan yang harus dihadapi oleh bank sebagai lembaga keuangan yang berasaskan kepercayaan . gent of trus. Salah satu tantangan dalam menghadapi persaingan yaitu kinerja Karena pada dasarnya masyarakat akan cenderung memilih bank dengan kinerja yang lebih baik dengan alasan tingkat resiko yang lebih kecil. Menurut Sakul . dalam penelitiannya mengatakan, kinerja keuangan perbankan dapat dilihat dari beberapa indikator keuangan seperti kecukupan modal, kualitas aktiva produktif, manajemen resiko, dan efisiensi biaya. Lebih lanjut lagi dalam penelitiannya menyatakan bahwa profitabilitas merupakan indikator yang paling tepat untuk mengukur kinerja suatu bank. Terkait dengan profitabilitas atau keuntungan dalam sebuah usaha yang dijalankan, permodalan merupakan langkah awal dari kegiatan ekonomi. Menurut Peraturan Bank Indonesia nomor : 13/3/PBI/2011 tentang penetapan status dan tindak lanjut pengawasan bank, rasio kewajiban penyediaan modal minimum adalah sebesar 8%. Bank merupakan organisasi bisnis berbasis keuntungan. Namun, di samping memperoleh pendapatan yang besar, bank juga memiliki biaya yang selalu dikeluarkan secara rutin. Rasio BOPO (Biaya Operasional Pendapatan Operasiona. dapat digunakan dalam menggambarkan bagaimana tingkat efisiensi suatu bank dalam mengelola biaya terhadap pendapatan usahanya atau untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Kemampuan bank dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat tentunya harus diimbangi dengan banyaknya simpanan yang diperoleh bank. Bank tidak dapat berjalan dan berkembang tanpa adanya penerimaan uang dalam bentuk simpanan. Namun, bank juga tidak dapat memaksimalkan labanya hanya dengan menerima simpanan dari masyarakat. Hal ini tercermin pada rasio LDR (Loan to Deposit Rati. yang menggambarkan kemampuan suatu bank dalam mengendalikan simpanan dan pinjamannya. Bank dalam menjalankan operasinya tentu tak lepas dari berbagai risiko. Non Performing Loan (NPL) merupakan rasio keuangan yang berkaitan dengan risiko kredit. Risiko kredit adalah risiko dari kemungkinan terjadinya kerugian bank sebagai akibat dari tidak dilunasinya kembali kredit yang diberikan bank kepada debitur. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dangan judul AuAnalisis Pengaruh Kecukupan Modal. Likuiditas. Risiko Kredit dan Efisiensi Biaya Terhadap Profitabilitas Bank Umum Tinjauan Literatur Teori Sinyal Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya perusahaan memberikan sinyal-sinyal pada pengguna laporan keuangan. Sinyal yang diberikan dapat berupa good news maupun bad news. Sinyal good news dapat berupa kinerja bank umum yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sedangkan bad news dapat berupa kinerja yang semakin mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Jika perusahaan mengharapkan pertumbuhan yang tinggi di masa yang akan datang, maka dapat diketahui dari sinyal yang diberikan. Menurut Godfrey. Hodgson and S . mengatakan, manajer menggunakan akun-akun yang ISSN: 2302-4119 terdapat dalam laporan keuangan untuk memberikan sinyal yang dapat digunakan untu membangun ekspektasi dan intensi yang berorientasikan pada masa yang akan datang. Apabila manajer mengekspetasikan pertumbuhan perusahaan dalam jumlah besar pada masa yang akan datang, mereka akan berusahan memberikan sinyal tersebut kepada investor melalui laporan keuangan. Menurut Susilowati. Yeye dan Turyanto . teori sinyal menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan infomasi laporan keuangan pada pihak internal, mengemukakan bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan dan sinyal yang diberikan dapat juga dilakukan melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan, laporan apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik, maupun informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik dari pada perusahaan lain Analisis Laporan Keuangan Laporan keuangan . inancial statemen. merupakan ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Analisis laporan keuangan merupakan analisis mengenai kondisi keuangan suatu perusahaan yang melibatkan neraca dan laba-rugi suatu perusahaan/bank menurut Martono dan Harjito . Menurut Wild. John dan Subramanyam . mengatakan, analisis laporan keuangan . inancial statement analysi. adalah aplikasi dari alat dan teknik analisis untuk laporan keuangan bertujuan umum dan data-data yang berkaitan untuk menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat dalam analisis bisnis. Analisis laporan keuangan merupakan bagian yang tak terpisahkan dan bagian penting dari analisis bisnis yang lebih luas. Pengertian lain menurut Sakul . Laporan keuangan secara garis besar dibedakan menjadi 4 macam , yaitu laporan neraca, laporan laba Ae rugi, laporan perubahan modal dan laporan aliran kas. Dari keempat macam laporan tersebut dapat diringkas lagi menjadi 2 macam, yaitu laporan neraca dan laporan laba-rugi saja. Hal ini karena laporan perubahan modal dan laporan aliran kas pada akhirnya akan diikhtisarkan dalam laporan neraca dan atau laporan laba Ae rugi. Tersedia beberapa alat analisis untuk membantu pengguna dalam menganalisis laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan yang spesifik. Berikut lima alat penting untuk analisis keuangan menurut Subramanyam . Analisis laporan keuangan komparatif Analisis laporan keuangan komparatif dilakukan dengan cara menelaah neraca, laporan laba rugi, atau laporan arus kas yang berurutan dari satu periode ke periode berikutnya. Analisis ini meliputi penelaahan saldo tiap-tiap akun dari tahun ke tahun atau selama beberapa tahun. Analisis laporan keuangan komparatif disebut juga analisis horizontal karena kita menelaah laporan komparatif kita menganalisis saldo akun dengan analisis dari kiri ke kanan . tau kanan ke kir. Analisis laporan keuangan common-size Analisis laporan keuangan common-size disebut Wijaya dan Aulia Wahyuning Tiyas. Analisis Pengaruh Kecukupan Modal. ISSN: 2302-4119 Gambar 1. Kerangka Pemikiran Sumber: Pengelolaan Penulis . juga analisis vertikal karena evaluasi pos dari atas ke bawah . tau bawah keata. Pengetahuan atas proporsi kelompok atau sub kelompok yang membentuk suatu pos tertentu bermanfaat bagi analisis laporan keuangan. Secara khusus, dalam analisis neraca, total aset . ewajiban ditambah ekuita. biasa dinyatakan sebagai 100 persen. Analisis Rasio Analisis rasio merupakan salah satu analisis yang paling banyak digunakan. Rasio merupakan alat untuk menyediakan pandangan terhadap kondisi yang Analisis rasio dapat mengungkapkan hubungan penting dan menjadi dasar perbandingan dalam menemukan kondisi dan tren yang sulit untuk di deteksi dengan mempelajari masing-masing komponen yang membentuk rasio. Analisis rasio dapat diterapkan pada tiga area penting analisis laporan keuangan : Analisis Kredit (Risik. Likuiditas. Untuk mengevaluasi kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek. Struktur modal dan solvabilitas. Untuk menilai kemampuan memenuhi kewajiban jangka panjang. Analisis Profitabilitas Tingkat pengembalian dan investasi . eturn on investment-ROI). Untuk menilai kompensasi keuangan kepada penyedia pendanaan ekuitas dan Kinerja operasi. Untuk mengevaluasi margin laba dan aktivitas operasi. Pemanfaatan aset . sset utilizatio. Untuk menilai efektifitas dan intensitas aset dalam menghasilkan penjualan, disebut pula perputaran . Valuasi, digunakan untuk mengestimasi nilai intrinsic perusahaan . Analisis Arus Kas Analisis arus kas . ash flow analysi. terutama digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi sumber dan penggunaan dana. Analisis arus kas menyediakan pandangan tentang bagaimana perusahaan memperoleh pendanaannya dan menggunakan sumber dayanya. Tujuan laporan arus kas adalah menyediakan informasi arus kas masuk dan arus kas keluar untuk satu periode. Laporan tersebut juga membedakan sumber dan penggunaan arus kas dengan memisahkan arus kas menjadi aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Valuasi Valuasi merupakan hasil penting dari berbagai jenis analisis bisnis dan laporan keuangan. Valuasi biasanya mengacu pada estimasi nilai instrinsik sebuah perusahaan atau sahamnya. Dasar valuasi adalah nilai sekarang yang menyatakan bahwa nilai utang atau efek ekuitas sama dengan seluruh hasil yang diharapkan dari efek dimasa depan yang didiskontokan ke saat ini dengan menggunakan tingkat diskonto yang tepat. Dengan demikian untukmenilai sebuah efek, invetor memerlukan dua buah informasi: . hasil yang diharapkan dimasa depan sepanjang umur efek, dan . tingkat diskonto. Kinerja Keuangan Return On Asset Menurut Sakul . ROA merupakan salah satu cara perusahaan mengukur profitabilitas. Menurut Prasnanugraha . ROA merupakan kemampuan dari modal yang diinvestasikan ke dalam seluruh aktiva perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Menurut SE BI No. 3/30/DPNP/2001 . Desember 2. dapat dirumuskan sebagai berikut: Capital Adequacy Ratio Menurut Nusantara . CAR merupakan rasio permodalan yang menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha dan menampung risiko kerugian dana yang diakibatkan oleh kegiatan operasi bank. Menurut SE BI No. 13/24/DPNP/2011 . Oktober 2. , perumusan CAR adalah sebagai berikut : Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol. 2 No. 3 Desember 2016: 99-109 Loan to Deposit Ratio Menurut Nusantara . rasio likuiditas yang lazim digunakan dalam dunia perbankan terutama diukur dari Loan to Deposit Ratio (LDR). Menurut Puspitasari . LDR digunakan untuk mengukur kemampuan bank tersebut apakah mampu membayar hutang-hutangnya dan membayar kembali kepada deposannya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan. Formula yang dirumuskan oleh Bank Indonesia melalui Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP/2004 tanggal 31 Mei 2004 tentang Sistem penilaian Kesehatan Bank Umum adalah sebagai berikut: Non Performing Loan Rasio keuangan yang digunakan sebagai proksi terhadap nilai suatu risiko kredit adalah Non Performing Loan (NPL). Menurut Mahardian . Non Performing Loan (NPL) merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank. NPL adalah debitur atau kelompok debitur yang masuk dalam golongan 3, 4, 5 dari 5 golongan kredit yaitu debitur yang kurang lancar, diragukan dan macet. Menurut surat edaran BI No. 3/30/DPNP tanggal l4 Desember 2001 Lampiran 14. NPL dirumuskan sebagai berikut : Biaya Operasional Pendapatan Operasional Menurut Luh Eprima Dewi . BOPO merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi kemampuan bank dalam melakukan kegiatan Berdasarkan SE BI No. 3/30/DPNP . Desember 2. BOPO dapat dirumuskan sebagai berikut: Pengaruh Antar Variabel Pengaruh CAR terhadap ROA Menurut Dendawijaya . Capital Adequacy Ratio adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberika. Berdasarkan ketentuan bank Indonesia, bank yang dinyatakan termasuk bank yang sehat harus memiliki CAR paling sedikit 8% dari ATMR. Hal ini didasarkan pada ketentuan yang ditetapkan oleh BIS (Bank for International Settlement. Semakin besar CAR maka keuntungan bank juga semakin besar (ROA). Dengan kata lain semakin kecil risiko suatu bank maka semakin besar keuntungan yang diperoleh Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian terdahulu seperti Descrita R. G Sakul . melakukan penelitian pada bank swasta periode 2006-2010, menghasilkan bahwa CAR memiliki pengaruh positif terhadap ROA. Kemampuan permodalan bank dalam menjaga kemungkinan timbulnya risiko kerugian kegiatan usahanya berpengaruh terhadap tingkat pendapatan atau earning yang dihasilkan oleh bank tersebut, yang pada ISSN: 2302-4119 akhirnya akan mempengaruhi kinerja keuangan bank Ahmad Buyung Nusantara . melakukan penelitian pada bank go public dan bank non go public periode 2005-2007, menghasilkan bahwa CAR memiliki pengaruh positif terhadap ROA. Kecukupan modal bank mencerminkan modal sendiri perusahaan, semakin besar kecukupan modal bank maka semakin besar ROA, karena dengan modal yang besar, manajemen bank sangat leluasa dalam menempatkan dananya kedalam aktivitas investasi yang menguntungkan. Terkait dengan teori sinyal, pengaruh CAR terhadap ROA adalah CAR dapat memberikan sinyal good news bagi pengguna laporan keuangan apabila rasio CAR sesuai atau lebih besar dari ketentuan yang telah Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin besar CAR maka keuntungan (ROA) yang diperoleh perusahaan semakin besar dan kinerja perusahaan mengalami peningkatan. CAR juga dapat memberikan sinyal bad news bagi pengguna laporan keuangan apabila rasio CAR kurang dari ketentuan yang telah ditetapkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin kecil CAR maka keuntungan (ROA) yang diperoleh perusahaan semakin rendah dan kinerja perusahaan mengalami penurunan. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis pertama sebagai berikut : Ho: Tidak terdapat pengaruh positif CAR terhadap ROA pada bank umum Ha: Terdapat pengaruh positif CAR terhadap ROA pada bank umum Pengaruh LDR terhadap ROA LDR merupakan ukuran likuiditas yang mengukur besarnya dana yang ditempatkan dalam bentuk kredit yang berasal dari dana yang dikumpulkan oleh bank . erutama dana masyaraka. Semakin tinggi LDR menunjukkan semakin baik kondisi likuiditas bank, sebaliknya semakin rendah LDR menunjukkan kurangnya efektifitas bank dalam menyalurkan kredit. Semakin tinggi LDR maka semakin tinggi dana yang disalurkan ke dana pihak ketiga. Dengan penyaluran dana pihak ketiga yang besar maka pendapatan bank (ROA) akan semakin meningkat. maka LDR berpengaruh positif terhadap ROA. Pernyataan tersebut didukung oleh peneliti terdahulu seperti Descrita R. G Sakul . melakukan penelitian pada bank swasta periode 2006-2010, menghasilkan bahwa LDR berpengaruh positif terhadap ROA. Semakin tinggi dana yang disalurkan maka ROA akan meningkat. Ahmad Buyung Nusantara . melakukan penelitian pada bank go public dan bank non go public periode 2005-2007, menghasilkan bahwa LDR memiliki pengaruh positif terhadap ROA. Semakin tinggi LDR maka kredit yang disalurkan semakin banyak dan ROA dapat meningkat. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis kedua sebagai berikut : Ho : Tidak terdapat pengaruh positif LDR terhadap ROA pada bank umum Ha : Terdapat pengaruh positif LDR terhadap ROA pada bank umum Pengaruh NPL terhadap ROA NPL merupakan rasio yang dipergunakan untuk Wijaya dan Aulia Wahyuning Tiyas. Analisis Pengaruh Kecukupan Modal. mengukur kemampuan bank dalam mengukur risiko kegagalan pengembalian kredit oleh debitur. NPL mencerminkan risiko kredit. Semakin kecil NPL semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank. Bank dalam memberikan kredit harus melakukan analisis terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali Setelah kredit diberikan, bank wajib melakukan pemantauan terhadap penggunaan kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajibannya. Bank melakukan peninjauan, penilaian dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil risiko Rasio NPL merupakan salah satu pengukur dari rasio usaha bank yang menunjukkan besarnya risiko kredit bermasalah yang ada pada suatu bank. Semakin rendah NPL maka ROA semakin meningkat. Sebaliknya, jika NPL meningkat maka ROA akan menurun. Oleh karena itu NPL berpengaruh negatif terhadap ROA. Pernyataan tersebut juga didukung oleh peneliti terdahulu seperti Descrita R. G Sakul . melakukan penelitian pada bank swasta periode 2006-2010, menghasilkan bahwa NPL berpengaruh negatif terhadap ROA. Semakin banyaknya kredit bermasalah membuat bank tidak berani meningkatkan penyaluran kreditnya apalagi bila dana pihak ketiga tidak dapat dicapai secara optimal maka dapat mengganggu likuiditas suatu bank. Oleh karena itu, semakin besar kredit bermasalah yang dicerminkan dengan nilai NPL, semakin kecil kredit yang dapat disalurkan bank pada masyarakat mengingat risiko kredit yang timbul. Luh Eprima Dewi. Nyoman Trisna Herawati dan Luh Gede Erni Sulindrawati . melakukan penelitian pada bank umum swasta nasional devisa dan non devisa periode 2009-2013, menghasilkan bahwa NPL berpengaruh negatif terhadap ROA. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis ketiga sebagai berikut : Ho : Tidak terdapat pengaruh negatif NPL terhadap ROA pada bank umum Ha : Terdapat pengaruh negatif NPL terhadap ROA pada bank umum ISSN: 2302-4119 Pengaruh BOPO terhadap ROA Rasio BOPO menunjukkan efisiensi bank dalam menjalankan usaha pokoknya, terutama kredit, dimana sampai saat ini pendapatan bank-bank di Indonesia masih didominasi oleh pendapatan bunga kredit. Semakin kecil BOPO menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktivitas usahanya. Semakin tinggi biaya pendapatan maka bank menjadi tidak efisien sehingga ROA makin kecil. Dengan kata lain BOPO berhubungan negatif dengan kinerja bank sehingga diprediksikan juga berpengaruh negatif terhadap ROA. Menurut Puspitasari . setiap peningkatan biaya operasional akan berakibat pada berkurangnya laba sebelum pajak yang pada akhirnya akan menurunkan laba atau profitabilitas (ROA) bank yang bersangkutan. Pernyataan tersebut juga didukung oleh peneliti sebelumnya seperti Ahmad Buyung Nusantara . melakukan penelitian pada bank go public dan bank non go public periode 2005-2007, menghasilkan bahwa BOPO memiliki pengaruh negatif terhadap ROA. BOPO yang kecil menunjukkan bahwa biaya operasional bank lebih kecil dari pendapatan operasionalnya sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa manajemen bank sangat efisien dalam menjalankan aktivitas operasionalnya. Luh Eprima Dewi. Nyoman Trisna Herawati dan Luh Gede Erni Sulindrawati . melakukan penelitian pada bank umum swasta nasional devisa dan non devisa periode 2009-2013, menghasilkan bahwa BOPO berpengaruh negatif terhadap ROA. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jika BOPO meningkat yang berarti efisiensi menurun, maka Return on Asset yang diperoleh bank akan menurun. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis keempat sebagai berikut : Ho : Tidak terdapat pengaruh negatif BOPO terhadap ROA pada bank umum Ha : Terdapat pengaruh negatif BOPO terhadap ROA pada bank umum Metode Penelitian Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Gambar 1. Rerangka Pemikiran Sumber: Olahan penulis Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol. 2 No. 3 Desember 2016: 99-109 ISSN: 2302-4119 bank umum di Indonesia yang go public pada periode 2011-2015, yaitu sebanyak 41 bank. Dari seluruh bank yang menjadi populasi dari penelitian kemudian dipilih kembali dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu sebanyak 40 bank. = Bank Umum Konvensional go public = Periode tahun = Kesalahan Residual . Metode Pengumpulan Data Pada penelitian ini, pengumpulan teori penelitian dengan menggunakan metode Penelitian Kepustakaan (Library Researc. , yaitu informasi dan teori terkait penelitian diperoleh berdasarkan buku, jurnal akuntansi, skripsi, tesis dan website atau situs berita perkembangan perekonomian. Sedangkan pengumpulan data penelitian menggunakan metode dokumentasi, yaitu dengan memperolehinformasi Laporan Keuangan Tahunan yang dipublikasikan secara resmi oleh situs Bursa Efek Indonesia. Hasil dan Pembahasan Analisis Hasil Penelitian Statistik Deskriptif Berdasarkan Tabel 1, rata-rata ROA menunjukkan nilai 0,016668 atau 1,6668% yang artinya besar rata-rata ROA keseluruhan sebesar 1,6668% . Hal tersebut mencerminkan bahwa ROA berada di atas standar terbaik menurut Bank Indonesia yaitu sebesar 1,5%. Variable lain, yaitu CAR menunjukkan nilai rata-rata sebesar 0,195391 atau 19,5391% yang berarti rasio CAR berada di atas ketentuan Bank Indonesia yaitu sebesar 8%. Begitu juga rata-rata LDR menunjukkan nilai 0,823884 atau 82,3884% yang berarti rasio LDR berada di atas ketentuan Bank Indonesia yang berkisar 78% sampai Nilai tengah LDR sebesar 0,842950. Rata-rata NPL sebesar 0,021421 atau 2,1421% yang berarti rasio NPL sudah sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia yaitu dibawah 5%. Terakhir, rata-rata BOPO menunjukkan nilai 0,853862 atau 85,3862% yang berarti rasio BOPO sudah sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia yaitu sebesar 93,5% atau dibawah 100%. Tipe. Jenis dan Sumber Data Tipe data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder. Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data panel. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Laporan Keuangan Tahunan (Annual Repor. periode 2011-2015 yang diterbitkan oleh bank dalam website Bursa Efek Indonesia. Metode Analisis Data Metode analisis yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah dengan memakai metode analisis regresi linier berganda . ultiple linier regression metho. untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai hubungan antara variabel satu dengan variabel yang Dalam hal ini untuk variabel dependen adalah profitabilitas perbankan yang diukur dengan ROA dan variabel independen Capital Adequacy Ratio. Loan to Deposit Ratio. Non Performing Loan dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen maka model regresi linier berganda yang digunakan dirumuskan sebagai berikut: = 1CARi,t 2LDR i,t 3NPL i,t 4BOPOi,t ei,t Keterangan : ROA (Y) 1, 2, 3, 4 CAR LDR NPL BOPO = Return On Assets = Intercept /Konstanta = Koefisien Regresi = Capital Adequacy Ratio = Loan Deposit Ratio = Non Performing Loan = Biaya Operasional Pendapa tan Operasional Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. ROA Sumber: Olahan Penulis Penentuan Model Regresi Data Panel Sebelum melakukan analisis regresi, peneliti terlebih dahulu menentukan jenis regresi yang digunakan pada data panel penelitian yang bertujuan untuk memilih model estimasi regresi data panel. Prosedur dalam menentukan jenis estimasi regresi yang akan digunakan yaitu pertama dengan melakukan Uji Chow untuk memilih model regresi antara common effect atau fixed effect dengan ketentuan: Ho : Menggunakan model Common Effect Ha : Menggunakan model Fixed Effect Jika tingkat probabilitas lebih besar dari 0. maka menggunakan common effect dan pengujian berhenti di Uji Chow. Namun apabila probability kurang 05 maka pengujian dilanjutkan ke Uji Hausman. Berdasarkan tabel 2 dengan membandingkan antara probabilitas Cross Section Chi-Square dengan tingkat signifikansi sebesar 0. %), menunjukkan nilai Cross Section Chi-Square kurang dari tingkat signifikansi . 0000 < 0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan dilakukan uji selanjutnya yaitu Uji Hausman. Uji Hausman dilakukan untuk menentukan apa- Tabel 1. Statistik Deskriptif CAR LDR NPL BOPO Wijaya dan Aulia Wahyuning Tiyas. Analisis Pengaruh Kecukupan Modal. ISSN: 2302-4119 Tabel 2. Hasil Uji Chow Redundant Fixed Effects Tests Equation: Untitled Test cross-section fixed effects Effects Test StatisticAA Cross-section F Cross-section Chi-square 141. Prob. Tabel 3. Hasil Uji Hausman Correlated Random Effects - Hausman Test Equation: Untitled Test cross-section random effects Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. Prob. Cross-section random kah data yang digunakan menggunakan Fixed Effect atau Random Effect. Apabila nilai probabilitas lebih 05 maka dapat disimpulkan model yang terpilih dalam penelitian ini adalah model random effect dengan Ho : Menggunakan model Random Effect Ha : Menggunakan model Fixed Effect Ketentuan yang diambil dalam Uji Hausman dilakukan dengan memperhatikan nilai probabilitas cross-section random. Berdasarkan tabel 3 dilihat dari nilai probabilitas cross section random lebih besar dari 05, maka Ho diterima dan dapat diambil kesimpulan bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Random Effect. Pengujian Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh untuk penelitian ini memiliki distribusi yang normal atau tidak. Data terdistribusi normal jika probabilitas lebih dari 0. Dengan hipotesis yang akan diuji menurut Winarno . Ho = Residual data berdistribusi normal Ha = Residual data tidak berdistribusi normal Berdasarkan tabel uji normalitas, didapatkan hasil probabilitas yang lebih dari 0. 05 atau 5% yaitu sebesar 0. 071904, maka Ho diterima yaitu data terdistribusi normal. Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah terdapat korelasi linier antara variabel inde- penden dengan menggunakan correlation matrix table, didapatkan hasil dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil dari koefisien antar variabel dalam penelitian adalah kurang dari 0. 8 maka dapat disimpulkan bahwa antar variabel independen di dalam penelitian ini tidak ada unsur multikolinearitas. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk melihat hubungan antara residual satu observasi dengan residual observasi lainnya. Menurut Winarno . apabila d berada diantara 1,54 dan 2,46, maka tidak ada autokorelasi. Berdasarkan pengujian didapatkan hasil nilai Durbin Watson sebesar 1,610380 sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho dari uji autokorelasi diterima dan terbebas dari masalah autokorelasi karena berada pada batas 1,54 Ae 2,46. Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah di dalam persamaan model regresi terjadi ketidaksamaan varian atau tidak konstan dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Pada penelitian ini uji hetero menggunakan treatmentcross section weightedmenurut Pustakasari . dan Baltagi . sehingga dapat dipastikan penelitian ini tidak memiliki masalah heteroskedastisitas setelah dilakukan treatment. Hasil Regresi Linier Berganda Adapun hasil persamaan regresi linier berganda sebagai berikut: = 0. 001628CAR 0. 000248LDR 033305NPL - 0. 109878BOPO Tabel 4. Correlation Matrix Table CAR LDR NPL BOPO CAR LDR NPL BOPO Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol. 2 No. 3 Desember 2016: 99-109 ISSN: 2302-4119 Tabel 5. Pengujian Autokorelasi Dublin Watson Ada Daerah Autokorelasi diragukan Tidak ada Autokorelasi Daerah Ada diragukan Autokorelasi Positif Negatif Ho ditolak Ho ditolak Ho diterima Persamaan regresi linier berganda di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut: Koefisien konstanta sebesar 0,109265 artinya jika variabel CAR. LDR. NPL dan BOPO berniai konstan, maka rata-rata nilai ROA bank umum konvensional yang go public periode 2011-2015 adalah sebesar 0,109265. Koefisien regresi untuk Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 0,001628. Artinya bahwa setiap kenaikan CAR sebesar 1% dengan asumsi variabel independen lainnya tetap, maka rata-rata ROA mengalami peningkatan sebesar 0,001628 satuan selama periode 2011-2015. Koefisien Loan to Deposit Ratio (LDR) sebsesar 0,000248. Artinya bahwa setiap kenaikan LDR sebesar 1% dengan asumsi variabel lainnya tetap, maka rata-rata ROA akan mengalami peningkatan sebesar 0,000248 satuan selama periode 2011-2015. Koefisien Non Performing Loan (NPL) sebesar 0,033305. Artinya setiap kenaikan NPL sebesar 1% dengan asumsi variabel lainnya tetap, maka rata-rata ROA akan meningkat sebesar 0,033305 satuan selama periode 2011-2015. Koefisien Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) sebesar -0,109878. Artinya jika BOPO mengalami peningkatan sebesar 1% dengan asumsi variabel independen lainnya konstan, maka akan mengakibatkan penurunan terhadap ROA rata-rata sebesar 0,109878 selama periode 2011-2015. tidak digunakan dalam model penelitian ini. Uji Hipotesis (Parsia. Uji parsial atau uji t pada suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel independen yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR). Loan to Deposit Ratio (LDR). Non Performing Loan (NPL) dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap variabel dependen yaitu Return On Asset (ROA) pada suatu model regresi. Kesimpulan yang dihasilkan dari uji t tersebut dapat dilihat pada Tabel 6. Pembahasan Hasil Penelitian Pengaruh Capital Adequacy Ratio (X. terhadap Return On Asset (Y) Capital Adequacy Ratio (CAR) digunakan untuk melihat seberapa besar kecukupan modal yang dimiliki untuk menunjang aktiva dan menutupi risiko bank. Berdasarkan hasil koefisien regresi sebesar 0. berarti CAR mempunyai nilai positif tetapi dengan probabilitas sebesar 0. 5005 yang lebih besar dari tingkat signifikansi sebesar 0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh CAR terhadap ROA tidak signifikan. Hasil koefisien positif menunjukkan bahwa semakin besar CAR maka ROA yang diperoleh bank akan semakin besar karena semakin tinggi kemampuan permodalan bank dalam menjaga kemungkinan timbulnya risiko kerugian kegiatan usahanya, begitu juga hal sebaliknya yaitu semakin rendah CAR maka Koefisien Determinasi (Adjusted akan semakin menurun profitabilitas bank. Sesuai SE Berdasarkan hasil regresi berganda penelitian, 13/24/DPNP/2011. CAR merupakan perbandingan ankoefisien determinasi (Adjusted R-Square. adalah se- tara modal dengan ATMR. Bank Indonesia menetapkan besar 0,953873 atau 95,3873%. Hal ini menunjukkan CAR sebesar 8% pada PBI Nomor: 14/18/PBI/2012 debahwa variabel independen Capital Adequacy Ratio ngan tujuan untuk memperbaiki kemampuan bank untuk (CAR). Loan to Deposit Ratio (LDR). Non Performing menghasilkan pendapatan. Loan (NPL) dan Biaya Operasional Pendapatan OperKondisi CAR pada bank umum go public periasional (BOPO) mampu menjelaskan pengaruh kepada ode 2011-2015 sebesar 0,195391 atau 19,5391% yang Return On Asset (ROA) sebesar 95,3873%. Sisanya ya- berarti rasio CAR sangat baik karena berada di atas itu sebesar 4,6127% dijelaskan oleh variabel lain yang ketentuan Bank Indonesia yaitu sebesar 8%. KondiTabel 6. Uji Partial t Variabel CAR LDR NPL BOPO Prob. Sig. Keputusan Ditolak Ditolak Diterima Diterima Wijaya dan Aulia Wahyuning Tiyas. Analisis Pengaruh Kecukupan Modal. si tersebut menjelaskan bahwa bank tidak sepenuhnya mengoptimalkan modal yang tersedia untuk kegiatan yang menghasilkan keuntungan dikarenakan harus menghitung juga kemungkinan adanya peningkatan pada ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Resik. Hal tersebut menyebabkan CAR menjadi faktor yang tidak berpengaruh tehadap profitabilitas ROA. Pernyataan hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya oleh Eng . Agustriningrum . Zulfikar . Sianturi . dan Fatimah . bahwa pengaruh CAR terhadap ROA adalah positif tidak signifikan. Pengaruh Loan to Deposit Ratio (X. terhadap Return On Asset(Y) Pengaruh Loan to Deposit Ratio terhadap Return On Asset menunjukkan hasil tidak berpengaruh positif. Hal tersebut sesuai dengan koefisien regresi sebesar 000248 dan probabilitas sebesar 0. 8869 yang lebih besar dari tingkat signifikansi sebesar 0. Koefisien yang bertanda positif menunjukkan bahwa semakin tinggi LDR maka akan semakin meningkat profitabilitas bank, begitu juga hal sebaliknya yaitu jika semakin rendah LDR maka akan semakin menurun profitabilitas bank. Sesuai PBI Nomor: 12/19/PBI/2010 dan PBI No. 15/15/ PBI/2013 batas LDR berkisar 78%-92%. Rata-rata LDR dalam penelitian adalah 0,823884 atau 82,3884% yang berarti rasio LDR masih berada dalam batas ketentuan Bank Indonesia. LDR merupakan kemampuan bank dalam hal LDR juga sebagai kemampuan bank untuk membayar kembali penarikan dana yang dilakukan oleh deposan dengan mengandalkan pengembalian kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Namun, dalam perhitungan LDR untuk komponen total kredit yang digunakan termasuk kredit bermasalah, sehingga dapat menyebabkan potensi penurunan keuntungan bagi bank jika kredit bermasalah semakin meningkat. Kondisi tersebut menyebabkan LDR tidak berpengaruh terhadap profitabilitas bank. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya oleh Sianturi . Sakul . dan Prasnanugraha . bahwa pengaruh LDR terhadap ROA yaitu positif tidak signifikan. ISSN: 2302-4119 umum konvensional go public periode 2011-2015 masih dalam batas maksimum yang ditetapkan Bank Indonesia. Bank dapat menjalankan operasinya denganbaik jika mempunyai NPL dibawah 5%. Oleh karena itu kenaikan NPL tidak mengakibatkan menurunnya ROA karena nilai Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) masih dapat masih dapat menutupi kredit bermasalah. Sesuai dengan SE BI No. 3/30/DPNP/2001 bahwa NPL merupakan rasio kredit bermasalah dengan total NPL yang baik adalah NPL yang memiliki nilai dibawah 5%. Semakin kecil NPL semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung bank. Bank dengan NPL yang tinggi akan memperbesar biaya baik pencadangan aktiva produktif maupun biaya lainnya, sehingga berpotensi terhadap kerugian bank. Hal tersebut menunjukkan bahwa NPL berpengaruh terhadap ROA. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya yaitu Oktiana . dan Prasnanugraha . bahwa NPL berpengaruh positif signifikan terhadap ROA. Pengaruh Biaya Operasional Pendapatan Operasional (X. terhadap Return On Asset(Y) Pengaruh Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Return On Asset (ROA) menunjukkan hasil berpengaruh negatif. Hal tersebut sesuai dengan hasil koefisien regresi sebesar -0. dan probabilitas sebesar 0. 0000 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi yaitu 0. BOPO merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Koefisien negatif menunjukkan bahwa variabel BOPO berpengaruh negatif terhadap ROA. Hal ini menjelaskan bahwa dengan meningkatnya BOPO pada bank menandakan perusahaan lebih banyak mengeluarkan biaya operasional dalam menghasilkan keuntungan. Kondisi ini juga menandakan bahwa perusahaan yang menghasilkan keuntungan besar tidak efisisen dalam melakukan operasionalnya sehingga BOPO berpengaruh negatif terhadap ROA. Pengaruh BOPO terhadap ROA juga tercermin dalam pengelolaan aktivitas operasional bank yang efisien, yaitu dengan memperkecil biaya operasional bank akan sangat mempengaruhi tingkat profitabilitas bank yang tercermin dalam ROA sebagai indikator yang mencerminkan efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan keseluruhan aktiva yang Maka BOPO terhadap ROA berpengaruh signifikan. Hasil penelitian ini juga didukung dengan hasil penelitian terdahulu yaitu oleh Sianturi . Nusantara . Mahardian . Dewi . Oktiana . dan Prasnanugraha . bahwa BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA. Pengaruh Non Performing Loan (X. terhadap Return On Asset(Y) Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Asset (ROA) menunjukkan pengaruh positif. Hal tersebut sesuai dengan hasil koefsien regresi sebesar 033305 dan probabilitas sebesar 0. 0321 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi sebesar 0. NPL menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengukur risiko kegagalan pengembalian kredit oleh debitur. Sesuai Lampiran I SE No. 13/24/DPNP/2011, NPL merupakan kredit bermasalah yaitu kredit kepada 5. Kesimpulan dan Saran pihak ketiga bukan bank yang tergolong kurang lancar. Kesimpulan diragukan dan macet dibandingkan dengan total kredit Berdasarkan analisis penelitian, maka dapat dikepada pihak ketiga bukan bank. Bank Indonesia men- tarik kesimpulan sebagai berikut : etapkan melalui PBI nomor 15/2/PBI/2013 yaitu batas Non Performing Loan (NPL) terhadap Return On maksimum NPL sebesar 5%. Rata-rata NPL dalam peAsset (ROA) memiliki pengaruh positif. Pengaruh nelitian ini adalah 0,021421 atau 2,1421% yang berarti Non Performing Loan (NPL) terhadap Return On rasio NPL sudah sesuai dengan ketentuan. Asset (ROA) positif, yaitu kenaikan NPL tidak Dari hasil penelitian bahwa koefisien bernilai mengakibatkan menurunnya ROA karena rata-rapositif, hal ini terjadi karena rata-rata nilai NPL bank ta nilai NPL bank umum konvensional go public Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol. 2 No. 3 Desember 2016: 99-109 periode 2011-2015 masih dalam batas maksimum yang ditetapkan Bank Indonesia. NPL juga memiliki pengaruh terhadap ROA. Hal tersebut dikarenakan bahwa semakin kecil NPL maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung bank dan profitabilitas bank dapat meningkat. Bank dengan NPL yang tinggi akan memperbesar biaya baik pencadangan aktiva produktif maupun biaya lainnya, sehingga berpotensi terhadap kerugian bank. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Return On Asset (ROA) memiliki pengaruh negatif. Pengaruh BOPO terhadap ROA negatif, yaitu jika BOPO tinggi maka bank kurang efisien dalam kegiatan operasionalnya dan ROA akan menurun begitu juga sebaliknya. BOPO juga memiliki pengaruh terhadap ROA. Hal tersebut karena dengan memperkecil biaya operasional bank akan sangat mempengaruhi tingkat profitabilitas bank yang tercermin dalam ROA sebagai indikator yang mencerminkan efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan keseluruhan aktiva yang dimiliki. Capital Adequacy Ratio (CAR) dengan Return On Asset (ROA) tidak berpengaruh positif. CAR terhadap ROA positif, yaitu jika CAR meningkat maka ROA juga kan meningkat dan sebaliknya. Namun. CAR tidak memiliki pengaruh terhadap ROA. Hal tersebut karena bank tidak sepenuhnya mengoptimalkan modal yang tersedia untuk kegiatan yang menghasilkan keuntungan dikarenakan harus menghitung juga kemungkinan adanya peningkatan pada Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Loan to Deposit Rasio (LDR) dengan Return on Asset (ROA) tidak berpengaruh positif. LDR terhadap ROA positif, yaitu jika LDR meningkat maka ROA juga akan meningkat dan sebaliknya. Namun. LDR tidak memiliki pengaruh terhadap ROA. Hal tersebut karena dalamperhitungan LDR untuk komponen total kredit yang digunakan termasuk kredit bermasalah, sehingga dapat menyebabkan potensi penurunan profitabilitas bank jika kredit bermasalah semakin meningkat. Saran