C 8 Journal of Information System and Technology. Vol. 07 No. Maret 2026, pp. ISSN : 2775-0272 DOI : 10. 37253/joint. Contents list available at https://journal. (Journal of Information System and Technolog. journal homepage: https://journal. id/index. php/joint/ Implementasi Metode Human-Centered Design (HCD) dalam Transformasi Digital Layanan Adminduk: Redesign Layanan Berbasis WhatsApp ke Portal Terintegrasi (Studi Kasus: Disdukcapil Polewali Manda. Diny Anggriani Adnas1. Uswatun Hasanah2. Nur Jayanti Putri S3 1,2,3 Prodi Informatika. Fakultas Teknik. Universitas Sulawesi Barat. Jalan Prof. Dr. Baharuddin Lopa. Talumung. Banggae Timur. Kabupaten Majene. Sulawesi Barat. Kode Pos 91412 Email: diny. anggriani@unsulbar. id1, khazanahuswatun83@gmail. com2, nurjayantinurjayanti2@gmail. Abstract The digital transformation of population administration (Admindu. services in Polewali Mandar currently relies heavily on WhatsApp-based service innovations. While accessible, this model creates significant usability issues: unstructured service flows, lacks transparency in status tracking, and places a burden on both users and This research aims to redesign this chat-based service into an efficient, integrated service portal. The method used is Human-Centered Design (HCD). This process involves qualitative analysis to map the User Journey Map and identify critical pain points within the current WhatsApp service flow. These findings will form the basis for designing a high-fidelity prototype of a service portal. The expected outcome is a functional Adminduk portal prototype that demonstrates an intuitive guided flow and transparent status tracking features. This design offers a concrete solution for the digital transformation of Adminduk services to be more accountable and user-centered. Keywords: digital transformation, human-centered design (HCD), public services. UI/UX. Whatsapp Abstrak Transformasi digital layanan administrasi kependudukan (Admindu. di Polewali Mandar saat ini banyak bergantung pada inovasi layanan berbasis WhatsApp. Meskipun aksesibel, model ini menciptakan masalah usability yang signifikan: alur layanan tidak terstruktur, tidak ada transparansi pelacakan status, dan membebani pengguna serta operator. Penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang . layanan berbasis chat tersebut, menjadi sebuah portal layanan terintegrasi yang efisien. Metode yang digunakan adalah HumanCentered Design (HCD). Proses ini melibatkan analisis kualitatif untuk memetakan User Journey Map dan mengidentifikasi Pain Points kritis dari alur layanan WhatsApp saat ini. Temuan tersebut akan menjadi dasar untuk perancangan high-fidelity prototype sebuah portal layanan. Hasil yang diharapkan adalah sebuah prototipe portal Adminduk yang fungsional, yang mendemonstrasikan alur terpandu . uided flo. yang intuitif dan fitur pelacakan status yang transparan. Desain ini menawarkan solusi konkret untuk transformasi digital layanan Adminduk yang lebih akuntabel dan berpusat pada pengguna. Kata kunci: digital transformation, human-centered design (HCD), public services, ui/ux. WhatsApp Journal of Information System and Technology. Vol. 7 No. Maret 2026, pp. ISSN : 2775-0272 C 9 Copyright A Journal of Information System and Technology. All rights reserved PENDAHULUAN Transformasi digital telah menjadi sebuah tuntutan yang tidak terhindarkan bagi sektor publik di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pemerintah kini didorong untuk berevolusi, tidak hanya untuk efisiensi internal, tetapi juga untuk memenuhi ekspektasi masyarakat yang semakin tinggi (Digital Government in Peru. Publik modern mendambakan layanan pemerintah yang responsif, transparan, dan semudah menggunakan aplikasi komersial sehari-hari (Bannister & Connolly, 2. Dalam konteks ini, layanan Administrasi Kependudukan (Admindu. memegang peranan Sebagai "data induk" warga negara, kelancaran layanan Adminduk . eperti KTP. KK, dan Akta Lahi. adalah fondasi bagi akses ke layanan esensial lainnya, mulai dari kesehatan hingga perbankan (Undang Undang No 24 Tahun 2. Untuk merespons tuntutan kecepatan dalam penyampaian layanan publik, banyak instansi pemerintah daerah, termasuk Dinas Dukcapil, melakukan langkah inovatif dengan mengadopsi teknologi komunikasi yang dapat diakses oleh masyarakat, seperti WhatsApp. Penggunaan WhatsApp sebagai "pintu layanan" menciptakan solusi yang dapat meningkatkan aksesibilitas bagi warga. Namun, perlu dicatat bahwa ketergantungan pada layanan berbasis chat manual menunjukkan bahwa ini bukan transformasi digital yang sesungguhnya. Transformasi digital seharusnya melibatkan perubahan fundamental dalam cara layanan dipikirkan, dirancang, dan disampaikan, bukan hanya mengganti metode tradisional dengan teknologi yang lebih baru (Indama, 2022. Setyawan, 2. Masalahnya, model layanan berbasis WA ini menciptakan serangkaian "rasa sakit" . ain point. baru bagi pengguna. Penelitian di bidang Human-Computer Interaction (HCI) dan eGovernment telah lama membuktikan bahwa adopsi layanan digital seringkali gagal bukan karena teknologinya, melainkan karena pengalaman pengguna (UX) yang buruk (Scholta et al. , 2. Di sinilah letak kesenjangan penelitian . esearch ga. yang ingin dijawab oleh paper ini. Studi-studi sebelumnya umumnya terbagi menjadi dua kubu: . yang mengevaluasi usability portal e-Government yang sudah ada dan kompleks (Lyzara et al. , 2. , atau . yang meneliti pemanfaatan WhatsApp sebatas pada deskripsi implementasi atau mengukur kepuasan penggunanya (Nurmiati, 2. Masih sangat sedikit penelitian yang menjembatani keduanya: yaitu, studi yang menganalisis proses transisi dari layanan "digital semu" (WA) ke sebuah portal terintegrasi, dan menggunakan keluhan di sistem lama (WA) sebagai dasar perancangan sistem baru. Kebaruan . penelitian ini adalah penerapan metode Human-Centered Design (HCD) secara utuh untuk membedah masalah layanan WA, lalu merancang ulang . sebuah solusi portal yang benar-benar berpusat pada manusia. Fenomena ini terlihat jelas di Disdukcapil Kabupaten Polewali Mandar. Observasi awal menunjukkan bahwa ketergantungan pada layanan WA menciptakan tiga masalah utama bagi warga: . Kebingungan, alur chat yang tidak terstruktur membuat warga bingung . Kecemasan, tidak adanya transparansi status . pakah chat sudah dibaca? kapan selesai?) menciptakan "kotak hitam" yang membuat cemas. Beban ganda, baik bagi warga . arus proaktif bertany. maupun petugas . eban kerja manual membalas chat yang repetiti. (Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil, n. Karena masalahnya berpusat pada "manusia" . ebingungan, kecemasa. , maka solusinya pun harus berpusat pada manusia. Penelitian ini menggunakan Human-Centered Design (HCD) (Putu et al. , 2. sebagai metodologi untuk menerjemahkan keluhan implisit dan pain points tersebut menjadi fitur desain yang konkret. Human-Centered Design (HCD) merupakan pendekatan desain iteratif yang berfokus pada pemahaman mendalam terhadap pengguna, konteks, dan kebutuhan mereka sebelum menghasilkan solusi (ISO 9241-210:2019 Ergonomics of Human-System Interaction Ai Part 210: Human-Centred Design for Interactive Systems, n. Solusi utamanya adalah mengubah alur chat yang kacau menjadi Alur Terpandu (Guided Flo. yang intuitif, dan mengganti WA dengan Fitur Pelacakan Status (Trackin. yang Implementasi Metode Human-Centered Design (HCD) dalam Transformasi Digital Layanan Adminduk: Redesign Layanan Berbasis WhatsApp ke Portal Terintegrasi (Studi Kasus: Disdukcapil Polewali Manda. (Diny Anggriani Adnas1. Uswatun Hasanah2. Nur Jayanti Putri S. Journal of Information System and Technology. Vol. 7 No. Maret 2026, pp. ISSN : 2775-0272 Oleh karena itu, penelitian ini memiliki dua tujuan utama: Menganalisis usability gap dan memetakan user journey pada layanan Adminduk berbasis WA di Polewali Mandar Mengembangkan high-fidelity prototype portal layanan Adminduk terintegrasi sebagai solusi desain berbasis HCD. C 10 (Admindu. , membutuhkan sistem yang tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga mudah digunakan dan sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat. HCD dalam penelitian ini mengacu pada standar ISO 9241-210:2019, yang terdiri dari empat tahapan iteratif, yaitu: Hasilnya bukan sekadar prototipe aplikasi, melainkan sebuah "cetak biru" . yang tervalidasi bagi Pemkab Polman untuk berevolusi ke tahap transformasi digital yang lebih matang, efisien, dan manusiawi. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil (Disdukcapi. Kabupaten Polewali Mandar. Provinsi Sulawesi Barat. Lokasi ini dipilih karena instansi tersebut telah menerapkan layanan Adminduk berbasis WhatsApp sebagai inovasi digital utama, namun masih menghadapi sejumlah kendala dari sisi keterpaduan sistem dan pengalaman pengguna. Subjek penelitian terdiri atas dua kelompok Pengguna eksternal, yaitu masyarakat yang telah menggunakan layanan Adminduk berbasis WhatsApp untuk berbagai jenis permohonan, seperti pembuatan KTP, kartu keluarga, akta kelahiran, dan akta kematian. Pengguna internal, yaitu petugas dan operator Disdukcapil yang berperan dalam pengelolaan serta pemrosesan layanan melalui sistem tersebut. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive sampling, dengan kriteria bahwa partisipan Adminduk berbasis WhatsApp. Hasil interaksi terhadap kedua kelompok subjek inilah yang menjadi dasar dalam proses penerapan HCD pada tahap-tahap berikutnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Human-Centered Design (HCD) yang berfokus pada keterlibatan aktif pengguna dalam proses perancangan solusi digital. Pendekatan ini dinilai paling sesuai untuk menjawab tantangan transformasi digital pada layanan administrasi Gambar 1. Tahap HCD Understand and Specify the Context of Use Tahap memahami secara mendalam bagaimana layanan Adminduk berbasis WhatsApp digunakan oleh masyarakat dan petugas Disdukcapil, termasuk konteks penggunaan, hambatan, serta persepsi mereka terhadap efektivitas layanan digital saat ini. Data dikumpulkan melalui wawancara yang difokuskan pada pengalaman pengguna eksternal dan internal dalam mengakses layanan berbasis chat. Daftar pertanyaan dibagi menjadi dua, khusus untuk petugas dan untuk masyarakat. Pertanyaan untuk user masyarakat diklasifikasikan menjadi 4 topik Pengalaman menggunakan layanan adminduk berbasis WhatsApp Kendala penggunaan layanan Persepsi terhadap efisiensi dan kepuasan Harapan dan saran untuk layanan digital yang lebih baik. Pertanyaan diklasifikasikan dengan topik berikut: Proses dan pengalaman mengelola layanan WhatsApp Kendala teknis dan operasional Evaluasi dan kepuasan terhadap sistem saat ini Harapan terhadap sistem layanan digital Implementasi Metode Human-Centered Design (HCD) dalam Transformasi Digital Layanan Adminduk: Redesign Layanan Berbasis WhatsApp ke Portal Terintegrasi (Studi Kasus: Disdukcapil Polewali Manda. (Diny Anggriani Adnas1. Uswatun Hasanah2. Nur Jayanti Putri S. Journal of Information System and Technology. Vol. 7 No. Maret 2026, pp. ISSN : 2775-0272 Specify User Requirements Tahap kedua berfokus pada proses penentuan kebutuhan pengguna dan sistem, yang diperoleh dari temuan hasil tahap Analisis konteks dan pain points pengguna dikonversi menjadi kebutuhan fungsional dan non-fungsional yang akan memandu proses desain. Data dikumpulkan melalui wawancara lanjutan dengan perwakilan pengguna dari kedua kelompok . asyarakat dan operato. Kegiatan ini bertujuan untuk memvalidasi hasil temuan sebelumnya serta menetapkan prioritas kebutuhan sistem digital baru, seperti transparansi pelacakan status layanan, panduan interaktif, dan kemudahan akses Instrumen formulir identifikasi kebutuhan pengguna (User Requirement Tabl. , serta catatan notulen diskusi. Data hasil diskusi dianalisis menggunakan sintesis tematik untuk mengelompokkan kebutuhan berdasarkan kategori fungsional dan nonfungsional, menggunakan metode MoSCoW Analysis (Must Have. Should Have. Could Have. WonAot Hav. Tahap ini menghasilkan dokumen kebutuhan pengguna dan sistem yang menjadi dasar dalam proses desain antarmuka dan alur interaksi portal layanan Adminduk. Produce Design Solutions Tahap perancangan solusi desain yang berbasis pada hasil kebutuhan pengguna dari tahap Peneliti merancang portal layanan Adminduk terintegrasi yang berorientasi pada kemudahan navigasi dan transparansi proses. Perancangan dilakukan secara bertahap, dimulai dari low-fidelity wireframe hingga high-fidelity prototype Instrumen penelitian yang digunakan mencakup tools desain Figma. Hasil dari tahap ini berupa rancangan high-fidelity prototype portal layanan Adminduk yang menampilkan fitur utama seperti alur layanan terpandu . uided flo. , sistem pelacakan status . racking syste. , serta antarmuka yang intuitif dan mudah dipahami pengguna. Evaluate the Designs Tahap mengevaluasi efektivitas, efisiensi, dan tingkat kepuasan pengguna terhadap prototipe yang telah dikembangkan. Evaluasi C 11 dilakukan melalui usability testing, di mana pengguna diminta menyelesaikan sejumlah skenario tugas . ask scenari. yang mewakili dokumen, memeriksa status pengajuan, dan mengunduh hasil layanan. Setelah uji coba, responden mengisi kuesioner System Usability Scale (SUS) guna memberikan penilaian kuantitatif terhadap penggunaan sistem. Instrumen yang digunakan meliputi task scenario sheet dan kuesioner SUS. Data hasil pengujian dianalisis menggunakan dua pendekatan: Analisis Kuantitatif, meliputi perhitungan skor SUS. Analisis Kualitatif, meliputi interpretasi komentar pengguna untuk memahami pengalaman subjektif mereka terhadap rancangan portal. Output dari tahap ini adalah laporan hasil usability testing yang berisi skor SUS, insight kualitatif pengguna, dan rekomendasi pengembangan sistem selanjutnya. Usability testing terdiri dari kuesioner ini terdiri dari 10 pernyataan standar, dengan skala Likert 1Ae5 . = Sangat Tidak Setuju, 5 = Sangat Setuj. HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini membahas hasil dari penerapan metode Human-Centered Design (HCD) dalam perancangan dan evaluasi portal layanan administrasi kependudukan (Admindu. di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapi. Kabupaten Polewali Mandar. Seluruh tahapan penelitian mengacu pada empat fase utama HCD (Understand Context. Specify Requirements. Produce Design Solutions, dan Evaluate Desig. Setiap tahapan menghasilkan data empiris dan temuan yang dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif, guna menggambarkan efektivitas pendekatan HCD dalam menciptakan sistem layanan publik yang berpusat pada Understand and Specify the Context of Use Dari hasil wawancara 15 responden dan observasi lapangan, diperoleh empat pola Implementasi Metode Human-Centered Design (HCD) dalam Transformasi Digital Layanan Adminduk: Redesign Layanan Berbasis WhatsApp ke Portal Terintegrasi (Studi Kasus: Disdukcapil Polewali Manda. (Diny Anggriani Adnas1. Uswatun Hasanah2. Nur Jayanti Putri S. C 12 Journal of Information System and Technology. Vol. 7 No. Maret 2026, pp. ISSN : 2775-0272 Tabel 1. Pola Hasil Wawancara Implikasi Aspek Temuan Utama Desain Pengalaman Akses mudah. Perlu sistem Pengguna tetapi proses tidak pelacakan Teknis Dokumen sering Diperlukan salah format dan panduan dan menumpuk di chat validasi file Operasional Petugas Dibutuhkan kewalahan dengan dashboard pesan manual Data & Tidak ada Harus Keamanan sistem cloudbased Specify User Requirements Tahap menerjemahkan hasil analisis tahap 1 menjadi daftar kebutuhan pengguna . ser need. dan kebutuhan sistem . ystem Tabel 2. Daftar Kebutuhan Pengguna (User Need. User Need Deskripsi Prioritas Melacak status Pengguna Must Have tahapan proses harus bertanya ke admin Mendapatkan Pengguna Must Have hasil layanan melalui sistem Panduan Pengguna Should Have pengunggahan memerlukan dokumen yang petunjuk dan batasan ukuran file agar tidak salah format Alur layanan Pengguna Must Have yang mudah ingin sistem langkah demi Transparansi Akses layanan yang cepat dan Dukungan dan bantuan digital Pengguna urutan layanan dan estimasi waktu proses Pengguna proses digital yang efisien, data pribadi Pengguna ingin ada pusat bantuan (FAQ, chatbo. untuk Could Have Must Have Could Have Produce Design Solution Alur Sistem Gambar 2. Alur Sistem untuk Masyarakat Implementasi Metode Human-Centered Design (HCD) dalam Transformasi Digital Layanan Adminduk: Redesign Layanan Berbasis WhatsApp ke Portal Terintegrasi (Studi Kasus: Disdukcapil Polewali Manda. (Diny Anggriani Adnas1. Uswatun Hasanah2. Nur Jayanti Putri S. Journal of Information System and Technology. Vol. 7 No. Maret 2026, pp. ISSN : 2775-0272 C 13 Gambar 4. Halaman Utama Gambar 3. Alur Sistem untuk Petugas Tampilan Struktur Halaman untuk Masyarakat . Halaman Utama Tujuan: Titik masuk utama pengguna. Gambar 5. Halaman Pilih Jenis Layanan Implementasi Metode Human-Centered Design (HCD) dalam Transformasi Digital Layanan Adminduk: Redesign Layanan Berbasis WhatsApp ke Portal Terintegrasi (Studi Kasus: Disdukcapil Polewali Manda. (Diny Anggriani Adnas1. Uswatun Hasanah2. Nur Jayanti Putri S. Journal of Information System and Technology. Vol. 7 No. Maret 2026, pp. ISSN : 2775-0272 Gambar 6. Halaman Formulir Pengajuan Gambar 8. Halaman Pelacakan Status Gambar 7. Halaman Konfirmasi & Nomor Tiket Gambar 9. Halaman Panduan dan Bantuan C 14 Implementasi Metode Human-Centered Design (HCD) dalam Transformasi Digital Layanan Adminduk: Redesign Layanan Berbasis WhatsApp ke Portal Terintegrasi (Studi Kasus: Disdukcapil Polewali Manda. (Diny Anggriani Adnas1. Uswatun Hasanah2. Nur Jayanti Putri S. C 15 Journal of Information System and Technology. Vol. 7 No. Maret 2026, pp. ISSN : 2775-0272 Gambar 10. Halaman Profil & Riwayat Layanan Evaluate the Design Evaluasi dilakukan menggunakan System Usability Scale (SUS) (Brooke, 1. , yang mengukur persepsi pengguna terhadap Sebanyak 15 responden . pengguna eksternal dan 5 interna. diminta mencoba prototipe portal dan mengisi 10 item pernyataan SUS dengan skala Likert 1Ae5. Tabel 3. Hasil Kuisioner Pernyataan Mean Catatan Saya merasa akan Sebagian besar menggunakan portal layanan ini lengkap dan mudah diakses. Portal ini terlalu Beberapa digunakan . awam butuh adaptasi awal. Portal ini mudah Alur terpandu . uided flo. Saya memerlukan Panduan dianggap jelas oleh pengguna. Fitur-fitur portal ini Integrasi menu terintegrasi dengan dinilai efisien oleh operator Terdapat Konsistensi inkonsistensi dalam terjaga, minor portal ini . feedback pada warna tombol. Sebagian orang akan cepat menggunakan portal Portal ini sangat merepotkan untuk digunakan . Responden Saya menggunakan portal Saya mempelajari banyak hal sebelum dapat menggunakan portal ini dengan efektif . Pengguna navigasi ringan dan cepat User merasa Pengguna baru Tabel 4. Skor Responden Total SUS Score Responden Skor . Ae . R10 R11 R12 R13 R14 R15 Rata-rata Tabel 5. Hasil Statistik Aspek Nilai Jumlah Responden Rata-rata SUS Score Median SUS Score Rentang Skor 70 Ae 87. Interpretasi Good to Excellent Tingkat Reliabilitas OO 0. angat reliabe. imulasi Cronbac. Rata-rata skor SUS yang diperoleh adalah 80,25, dengan rentang skor antara 70 hingga 87,5. Berdasarkan q11panduan interpretasi oleh (Bangor et al. , 2. , skor tersebut termasuk dalam kategori AuGood to ExcellentAy, yang menandakan bahwa prototipe portal layanan Implementasi Metode Human-Centered Design (HCD) dalam Transformasi Digital Layanan Adminduk: Redesign Layanan Berbasis WhatsApp ke Portal Terintegrasi (Studi Kasus: Disdukcapil Polewali Manda. (Diny Anggriani Adnas1. Uswatun Hasanah2. Nur Jayanti Putri S. Journal of Information System and Technology. Vol. 7 No. Maret 2026, pp. ISSN : 2775-0272 Adminduk memiliki tingkat usability yang Hasil ini menunjukkan bahwa pengguna menilai sistem: Mudah ditunjukkan oleh nilai tinggi pada item 3 (AuPortal ini mudah digunakanA. dan item 7 (AuSebagian besar orang akan cepat belajar menggunakan portal iniA. Efisien dan terintegrasi, sebagaimana terlihat pada skor item 5 (AuFitur portal ini terintegrasi dengan baikA. dengan rata-rata 4,2. Memberikan rasa percaya diri, karena pengguna merasa nyaman dan aman dalam mengakses layanan . C 16 Hasil evaluasi menggunakan metode System Usability Scale (SUS) menunjukkan skor ratarata 80,25, yang menempatkan sistem dalam kategori Good to Excellent. Skor tinggi ini membuktikan bahwa rancangan sistem memiliki tingkat usability yang sangat baik, mudah pengalaman pengguna secara signifikan. Secara keseluruhan, penerapan HCD terbukti efektif menciptakan solusi layanan publik yang inklusif dan akuntabel, sekaligus menjadi model transformasi digital birokrasi yang berfokus pada nilai kemanusiaan dan keberlanjutan di tingkat daerah. SARAN Beberapa catatan minor muncul dari item negatif, seperti kebutuhan adaptasi awal bagi pengguna baru . dan sedikit kebingungan pada kontras warna tombol . asil wawancara tambaha. Secara keseluruhan, nilai SUS sebesar 80,25 mengindikasikan bahwa portal layanan Adminduk terintegrasi dinilai memiliki tingkat usability yang sangat baik dan dapat diimplementasikan sebagai solusi digital yang efisien, mudah diakses, dan berpusat pada Temuan ini juga konsisten dengan prinsip Human-Centered Design (HCD), di mana sistem yang dikembangkan mampu memenuhi kebutuhan pengguna melalui proses iteratif dan berbasis umpan balik langsung dari masyarakat dan operator layanan. IV. KESIMPULAN Penelitian pendekatan Human-Centered Design (HCD) dalam mentransformasi layanan administrasi kependudukan di Disdukcapil Kabupaten Polewali Mandar, dari sistem berbasis WhatsApp yang tidak terstruktur menjadi portal digital yang terintegrasi. Melalui empat tahapan HCDAimulai dari pemahaman konteks hingga desain solusiAipenelitian ini mengidentifikasi kebutuhan krusial seperti transparansi status, panduan alur yang jelas bagi masyarakat, serta dashboard monitoring dan integrasi data bagi Prototipe yang dihasilkan mencakup fitur sistem pelacakan, notifikasi otomatis, dan penyimpanan berbasis cloud yang dirancang secara iteratif untuk memastikan efisiensi dan keandalan operasional. Disdukcapil Kabupaten Polewali Mandar disarankan segera merealisasikan prototipe ini menjadi sistem operasional penuh dengan dukungan infrastruktur server dan integrasi API yang stabil. Diperlukan sosialisasi masif dan penyediaan panduan visual . ideo/infografi. untuk membantu masyarakat bertransisi dari layanan WhatsApp ke portal digital baru. Perlu dilakukan pelatihan teknis bagi petugas internal dalam mengelola dashboard dan sistem cloud agar alur kerja tetap efisien dan Disarankan melakukan audit usability secara pasca-implementasi mendeteksi kendala baru dan menjaga performa layanan. Peneliti selanjutnya dapat mengintegrasikan teknologi AI, seperti chatbot cerdas. VI. REFERENSI