JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. Meningkatkan Bahasa Ekspresif Anak melalui metode Bermain Peran pada Anak Usia 3-4 Tahun Farkhatin NiAomah1. Mushab Al Umairi2. Fitri Ayu Fatmawati3 farkhatinnimah242@gmail. com, alumairi. mushab@umg. fitriayufatmawati92@umg. Universitas Muhammadiyah Gresik. Jawa Timur. Indonesia ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi berdasarkan hasil observasi dan wawancara Guru sentra drama diperoleh bahwa di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI khususnya kelompok Patuh. Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan Model Kemmis dan Mc Taggart dalam 2 siklus. Sebanyak 16 anak menjadi subyek. Data dikumpulkan menggunakan observasi dan dokumentasi. Data kualitatif dianalisis menggunakan model Miles&Huberman dan data kuantitatif menggunakan analisis deskriptif. Kriteria keberhasilan tindakan sebesar 75%. Perbaikan pembelajaran ditunjukkan sebagai berikut: . diskusi pemeranan dan alur cerita baik. kegiatan recalling semakin interaktif . kosakata anak semakin banyak. penguatan bahasa anak semakin baik. interaksi dan komunikasi anak semakin baik. Hasil pratindakan menunjukkan 18,75% anak mencapai kriteria muncul sesuai harapan (MSH). Setelah siklus I, prosentase tersebut menjadi 50% dan akhir siklus II menjadi 62. 5% serta Muncul sangat baik (MSB) 12,5%. Dengan demikian, pembelajaran metode bermain peran yang dilaksanakan dengan benar telah meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak. Kata Kunci: Bahasa Ekspresif. Bermain Peran, dan Anak Usia 3-4 Tahun ABSTRACT This research was based on the results of observations and interviews with the drama center teacher. It was found that in KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI, especially the Patuh group. This Classroom Action Research uses the Kemmis and Mc Taggart Model in 2 cycles. A total of 16 children became subjects. Data was collected using observation and documentation. Qualitative data was analyzed using the Miles & Huberman model and quantitative data used descriptive analysis. The criterion for success of the action is 75%. Learning improvements are shown as follows: . good discussion of acting and storyline. recalling activities become more interactive . children's vocabulary increases. strengthening children's language is getting better. children's interactions and communication are getting better. Pre-action results showed that 18. 75% of children achieved the criteria for appearing as expected (MSH). After cycle I, the percentage became 50% and at the end of cycle II it 5% and appeared very good (MSB) 12. Thus, learning the role playing method that is carried out correctly has improved children's expressive language abilities. Keywords: Expressive Language. Role Playing, and Children Aged 3-4 Years JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. PENDAHULUAN Anak yang berada dalam tahap awal kehidupan adalah mereka yang berusia antara 0 hingga 8 tahun, sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Usia ini sering kali dikenal sebagai periode keemasan. Dalam tahap ini, anak-anak memiliki kehidupan dengan ciri-ciri yang sangat khas baik dari segi fisik, mental, sosial, maupun nilai Pendidikan yang diberikan pada anak-anak di usia ini lebih diarahkan untuk mengembangkan semua aspek kepribadian dan potensi mereka secara optimal. Beberapa aspek yang dikembangkan mencakup bahasa, emosional sosial, seni, nilai agama dan moral, serta kemampuan kognitif dan fisik (Indonesia, 2014. Salah satu aspek yang sangat signifikan dari enam aspek tersebut adalah aspek Bahasa. Bahasa berfungsi sebagai sarana komunikasi, baik melalui lisan, tulisan, maupun simbol dan lambang (Santrock, 2. Kemampuan berbahasa yang dimiliki anak prasekolah akan mengalami perkembangan yang cepat dan bervariasi (Morrison, 2. , sehingga penting untuk memberikan stimulasi bahasa bagi anak-anak usia dini secara optimal agar mereka memiliki persiapan yang baik di masa depan. Di lingkungan sekolah, tanggungjawab guru adalah untuk mendukung perkembangan anak. Kemampuan komunikasi anak dibedakan menjadi dua kategori, yaitu bahasa reseptif dan bahasa ekspresif (Otto, 2. Bahasa reseptif berhubungan dengan pemahaman terhadap kata-kata atau simbol, sedangkan bahasa ekspresif lebih fokus pada pengolahan suara dalam berbicara (Otto, 2. Menurut Clara dan Stern, perkembangan bahasa dapat dibagi menjadi empat fase yang berbeda, yaitu: . penggunaan kata tunggal pada usia satu tahun hingga satu tahun enam bulan. fase penamaan antara umur satu setengah hingga dua tahun. fase kalimat sederhana yang terjadi pada usia dua tahun hingga dua tahun enam bulan. fase kalimat kompleks mulai dari usia dua tahun enam bulan dan seterusnya (Zulkifli, 2. Setiap anak akan mengalami keempat fase ini sesuai dengan tahap perkembangan dan rentang usia mereka. Dengan demikian, setiap anak akan mampu berkomunikasi dengan efektif. Berikutnya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional menetapkan Standar Pencapaian Perkembangan Anak (STTPA) yang lebih aplikatif digunakan sebagai acuan di Lembaga PAUD melalui peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. Berdasarkan peraturan tersebut, capaian perkembangan anak usia 3-4 tahun pada dimensi mengungkapkan bahasa ekspresif terdiri dari: . kemampuan memahami dan merespons . memiliki kosakata yang luas . ekitar 900-1. 000 kata. mulai mampu berbicara dengan kalimat yang lebih kompleks. menggunakan bahasa secara efektif untuk (Indonesia, 2014. Kemudian, capaian perkembangan anak tersebut dalam proses pembelajaran diturunkan ke dalam Capaian Pembelajaran. Berdasarkan Kurikulum Merdeka, standar capaian perkembangan bahasa anak usia 3-4 tahun, khususnya pada kemampuan bahasa ekspresif ditunjukkan dengan pencapaian Sub Capaian Pembelajaran 3. 1 yang terdiri dari pemahaman atas bahasa ekspresif atau Murid mengenali dan memahami berbagai informasi, mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara lisan, tulisan, atau menggunakan berbagai media serta membangun percakapan, menunjukkan minat, dan berpartisipasi dalam kegiatan JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. pramembaca dengan beberapa Tujuan pembelajaran. Beberapa Tujuan pembelajaran tersebut: . Mengenali, menyimak, dan memahami berbagai informasi. Murid mampu mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara lisan, tulisan, atau menggunakan berbagai . Murid dapat menunjukkan minat, kegemaran, dan berpartisipasi dalam kegiatan dan alur Tujuan Pembelajaran diantaranya: . Murid bersedia memberikan perhatian terhadap pesan yang disampaikan. Murid mengikuti rangkaian instruksi sederhana dengan atau tanpa bantuan visual. Murid menyampaikan perasaan dan pikirannya menggunakan gestur. Murid menyampaikan perasaan dan pikirannya menggunakan kalimat sederhana. Bermain Peran adalah Sebuah Teknik untuk Meningkatkan Keterampilan Bahasa Ekspresif Anak di atas, mencakup: . mengulang 3-4 kata untuk komunikasi. memiliki kemampuan merespons dengan tepat ketika diajak berkomunikasi. bisa menjawab pertanyaan dengan benar. suka melihat buku cerita. mampu menyatakan keinginan. mengenali berbagai bunyi dalam bahasa . itme, volume, nada, dan kat. dapat berbicara dengan jelas dan lengkap (Tim, 2. Salah satu lembaga yang menerapkan kurikulum merdeka dengan Alur Tujuan Pembelajaran yang dikembangkan oleh tim kurikulum di lingkungan KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI Gresik. Berdasarkan data hasil asesmen awal guru pada bulan Juli sampai bulan September 2025 di kelompok Patuh usia 3-4 tahun di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI kemampuan bahasa ekspresif anak dalam hal mengungkapkan pendapat Mulai Muncul. Hal tersebut ditunjukkan ada beberapa anak yang awalnya diam kemudian menunjukkan peningkatan dalam mengungkapkan kata dan mengungkapkan pendapat ketika kegiatan apersepsi, menjawab pertanyaan sesuai pertanyaan dan mengulang kalimat Ditemukan sebanyak 6 dari 16 anak anak dikelompok Patuh kemampuan bahasa ekspresifnya Mulai Muncul. Kemudian, pada bulan November 2025 guru dan peneliti melakukan evaluasi reflektif pembelajaran dengan hasil sebagai berikut: Pembelajaran yang menstimulasi kemampuan bahasa anak baik, kegiatan yang variatif sehingga membuat anak Pemberian pijakan sebelum main berjalan dengan baik. Akan tetapi ada beberapa anak yang masih belum mau mengungkapkan kata dan pelafalan kata belum jelas dan lengkap serta ada yang masih malu belum mau mengungkapkan ekspresinya. Ada berbagai metode dalam mengembangkan bahasa ekspresif diantaraya metode bercerita dan bermain peran. Metode bercerita menggunakan media boneka tangan Mucca mampu meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak (Anggalia & Karmila, 2. Selain itu media gambar seri juga dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada anak usia dini (Aprinawati, 2. Menceritakan kembali cerita juga dapat mengembangkan kemampuan bahasa anak (Fauziddin, 2. Menurut penelitian metode bermain peran dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak(Amri, 2017. Musi & Winata, 2017. Putri, 2018. Widiyati & Saputri, 2016. Yurike & Sofia, 2. Bermain peran adalah aktivitas di mana individu mengambil suatu karakter, sehingga memperoleh pemahaman dan perspektif yang akurat mengenai sebuah kejadian yang akan memberikan manfat bagi anak dalam hidupnya (Siregar, 2. Bermain peran merupakan JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. salah satu metode yang telah diterapkan di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI menurut hasil reflesi guru dan peneliti, metode tersebut dilakukan secara optimal sesuai dengan tahapan yang semestinya. Menurut Shaftel dan Shaftel, terdapat delapan langkah dalam proses pembelajaran bermain peran, yaitu: . memberikan penjelasan mengenai aturan permainan. menciptakan lingkungan yang dapat memotivasi anak untuk bermain peran. menentukan peran yang akan dimainkan. merencanakan tahapan bermain peran. melaksanakan pemeranan. melakukan diskusi. menyimpulkan (Haenilah. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan pelaksanaan tindakan metode bermain peran dalam meningkatkan bahasa ekspresif dan menggambarkan adanya peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak usia 3-4 tahun di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI. METODE PENELITIAN (TIME NEW ROMAN. BOLD. FONT 12. SPASI 1. Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan Taggart dan dilakukan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus telah dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan, sehingga total ada 4 kali pertemuan. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pengamatan yang dilakukan guru dalam kegiatan belajar yang berupa tindakan yang secara sengaja dimunculkan dan terjadi dalam kelas (Arikunto et ,2. Berikut ini desain pelaksanaan tindakan pada setiap siklus. Table. Desain Pelaksanaan Tindakan Kelas Bermain Peran Siklus Pertemuan Tindakan Bermain Peran Makro Topik/Sub Topik Media & Sumber Belajar Tanaman yang kurma tiruan, meja, timbangan ada dalam Al buah, sendok, tas belanja. QurAoan . olahan kurma tiruan dan uang Tanaman yang Miniatur Pohon dan buah ada dalam Al delima, galah dan keranjang QurAoan . Bermain Peran Makro Tanaman yang ada dalam Al QurAoan . Miniatur tanah dan tanaman bawang, cangkul, gembor, tiruan benih bawang dan Benda-benda . atahari, bulan, bintang Kostum properti bulan dan JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. Berdasarkan desain di atas, maka dapat dilihat bahwa tindakan dilaksanakan dengan metode bermain peran makro serta variasi bantuan media dan sumber belajar yang digunakan sebagai properti selama bermain peran. Penelitian tindakan ini dilakukan dengan kolaborasi antara guru dengan peneliti. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok Patuh yang berjumlah 16 anak. Penelitian dilaksanakan sebulan di KB Islam Tunas Bakti 4 YPBWI pada tahun ajaran 2025-2026. Data dikumpulkan menggunakan menggunakan Teknik observasi dan dokumentasi. Kemudian, data kualitatif dianalisis menggunakan model Miles & Hubberman, sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan analisis deskriptif . dengan kriteria keberhasilan tindakan yang disepakati bersama kolaborator sebesar 75%. HASIL DAN PEMBAHASAN (TIME NEW ROMAN. BOLD. FONT 12. SPASI 1. Aktivitas Bahasa Ekspresif Pada siklus I belum banyak anak yang aktif menunjukan kemampuan bahasa ekspresifnya, hanya 8 dari 16 anak yang mampu berinteraksi dan berkomunikasi ketika bermain peran ataupun kegiatan recalling. Dalam melakukan kegiatan bermain peran interaksi dan komunikasi anak kurang berjalan dengan baik disebabkan kosakata anak yang terbatas dan pelafalan yang belum lengkap dan jelas serta malu untuk mengungkapkan ekspresinya. Demikian juga ketika recalling, interaksi dan komunikasi masih dibantu dan anak mulai muncul dengan kosakata terbatas menjawab dengan kata perkata belum lengkap. Perbedaan aktivitas bahasa ekspresif anak sebelum tindakan dan setelah tindakan pada siklus I yaitu sebelum dilakukan tindakan pada saat apersepsi, anak belum mampu menjawab pertanyaan dengan jawaban yang tepat dan belum mampu mengulang kalimat sederhana dengan benar. Pada siklus II, interaksi dan komunikasi hampir semua anak berjalan dengan baik selama kegiatan bermain peran. Anak-anak mampu menggunakan propertinya untuk bermain peran makro, menirukan percakapan yang dicontohkan guru dengan teman sesuai peran dan alur cerita yang telah diberikan saat pijakan sebelum main. Eksplorasi alat permainan untuk bermain peran memberikan anak kesempatan untuk meningkatkan kemampuan berbicara mereka (Riswanti, 2. Alat bermain itu berfungsi sebagai aset untuk anak dalam kegiatan bermain peran, yang membantu kemampuan anak dalam menjalankan aktivitas peran secara (Wahyuni & Priyatni, 2012. Yurike & Sofia, 2. Media dapat berupa wayang, mobil-mobilan, boneka tangan, boneka jari. Boneka tangan dapat menjadi alat bantu bercerita yang meningkatkan keterampilan berbicara anak (Suradinata & Maharani, 2. Kegiatan recalling telah dilakukan guru berjalan dengan baik, tampak adanya interaksi dan komunikasi antara anak dengan guru melalui percakapan. Percakapan yang dilakukan anak dengan temannya atau anak dengan guru merupakan sarana untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak (Khoiriyah & Rachman, 2. Anak mampu mengulang kalimat sederhana dengan benar, menjawab pertanyaan sesuai dengan pertanyaan yang diberikan dan mampu mengutarakan pendapatnya dengan baik. Proses Pelaksanaan Pembelajaran dengan Metode Bermain Peran sebelum tindakan dan setelah siklus I mulai ada perubahan pada kemampuan bahasa ekspresif anak. Pada siklus I guru telah melakukan pijakan sebelum main dengan jelas, menjelaskan aturan main selama main peran, memberikan kesempatan anak memilih peran yang disukai. Media yang digunakan guru menarik dan JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. anak tertarik untuk memainkannya. Akan tetapi, pada saat kegiatan bermain peran masih ada anak yang masih malu-malu untuk mengungkapkan ekspresinya serta pelafalan kata yang belum jelas dan lengkap. Guru juga masih memberikan bantuan ke anak dalam recalling, guru dalam pemberian penguatan bahasa masih kurang optimal. Hal-hal tersebut menjadi poin penting dalam refleksi sebagai bahan perbaikan pada siklus II. Tindakan yang dilakukan guru pada siklus I Guru masih memberikan bantuan ke anak dalam recalling, guru dalam pemberian penguatan bahasa masih kurang optimal serta kemampuan bahasa ekspresif anak belum lengkap dan jelas dalam pelafalannya. Pada siklus II, selama proses proses pelaksanaan bermain peran menunjukkan bahwa guru telah melakukan upaya dalam melaksanakan delapan tahapan metode bermain peran sehingga berjalan dengan baik dan benar. Tahapan tersebut telah sesuai dengan tahapan bermain peran menurut Shaftel & Shaftel (Haenilah, 2. Proses pembelajaran yang pada siklus I masih belum optimal telah diperbaiki oleh guru pada siklus II. Guru telah menyediakan media pembelajaran yang menarik bagi anak. Media yang digunakan dalam pembelajaran bagi anak usia dini adalah alat bantu untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan topik/sub topik yang telah ditetapkan, dimana media tersebut lebih dapat mengoptimalkan pemberdayaan seluruh indera anak selama bermain peran. Anak lebih mudah mengerti materi yang disampaikan guru dengan Proses pembelajaran yang melibatkan banyak indra (Saurina, 2. Penggunaan media sebagai alat dalam mendukung pelaksanaan proses belajar dengan metode bermain peran dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa siswa lebih termotivasi untuk berpartisipasi secara aktif dan alat tersebut merangsang imajinasi mereka. Keterlibatan aktif ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk menuangkan imajinasinya ke dalam bentuk cerita dan interaksi yang tercermin dalam bahasa mereka. Sebuah studi menyatakan bahwa anak-anak yang menerima stimulasi melalui media akan memiliki kosakata yang lebih kaya serta mengalami perkembangan yang lebih baik dalam kemampuan fondasi dan pemahaman cerita dibandingkan dengan anak-anak yang tidak menerima stimulasi dari media (Rahmawati et al. Selain itu, guru telah melaksanakan transisi dengan sangat baik. Mereka melakukan recalling tanpa memberikan bantuan, dan anak-anak telah mampu menceritakan apa yang telah mereka mainkan serta mengekspresikan perasaan mereka selama permainan peran. Selanjutnya, guru memperkuat penggunaan bahasa melalui pengulangan dan mendampingi anak yang mengalami kesulitan dalam menyampaikan perasaan, ide, dan pemikiran. Kegiatan penarikan kembali ini juga memberikan peluang bagi anak untuk berinteraksi dengan guru menggunakan komunikasi verbal. Kemampuan awal anak-anak dalam mengekspresikan diri mereka dengan efektif dalam interaksi dan komunikasi dengan orang lain dapat berkontribusi pada pengembangan hubungan sosial yang lebih baik. (Girard et al. , 2. Peningkatan Kemampuan Bahasa Ekspresif Peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak pada pratindakan ke siklus I mengalami sedikit peningkatan. Hasil perkembangan pratindakan ada 6 anak dan di siklus I ada 8 anak dari 16 anak. Ada peningkatan yang signifikan setelah dilakukan perbaikan pada siklus II. Terdapat 10 anak dari 16 anak pada kriteria Muncul Sesuai Harapan dan 2 anak yang Muncul Sangat Baik. Prosentase peningkatan tersebut secara bertahap dapat dicermati sebagai berikut. Peningkatan kemampuan bahasa ekspresif pada siklus I dapat dibandingkan JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. dengan kemampuan bahasa ekspresif anak ketika pratindakan. Kemampuan bahasa ekspresif sebelum tindakan mencapai 18,75 % dalam kriteria muncul sesuai harapan dan 37,5% dengan kriteria mulai muncul dari 16 anak yang diteliti. Adapun perbandingan peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak sebelum tindakan dan siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Kriteria Capaian Sebelum Tindakan Siklus 1 Frekuensi Presentae Frekuensi Prosentase MSB MSH 18,75% 37,5% 37,5% 31,25% 12,5% TOTAL Pada tabel di atas tampak adanya peningkatan yang signifikan setelah dilakukan tindakan pada siklus I. Sebelum dilakukan tindakan, belum ada anak yang masuk kategori Muncul Sangat Baik (MSB), terdapat 5 anak . ,75%) yang berada pada kriteria Muncul Sesuai Harapan (MSH), dan 6 anak . ,25%) berada pada kriteria Mulai Muncul (MM), dan 5 anak . ,25%) berada pada kriteria Belum Muncul (BM). Kemudian setelah tindakan siklus I, kemampuan bahasa ekspresif anak meningkat. Sebanyak 8 anak . %) yang berada pada kriteria (MSH), 6 anak . ,25%) pada kriteria BM ada 2 anak Masih belum Muncul. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ada kenaikan jumlah anak yang berada pada kategori MSH Peningkatan ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya di mana penggunaan metode bermain peran dapat membantu meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif, seperti keterampilan berbicara atau berkomunikasi secara lisan (Inten, 2017. Putri. Susanti, 2. Bermain Peran: Sebuah Metode untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Ekspresif Anak DOI: 10. 31004/obsesi. 509 66 | Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5. , 2021. Akan tetapi, pada siklus I ini belum ada satupun yang berada pada kriteria BSB. Pada dasarnya anak- anak sudah memiliki perkembangan meskipun banyak yang belum sesuai dengan harapan. Hal tersebut diindikasikan karena proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan anak masih mengalami beberapa kekurangan. Ketika recalling, guru masih banyak memberi bantuan menjawab sehingga kurang interaktif. Pemberian penguatan bahasa oleh guru kepada anak masih kurang optimal. Melalui data peningkatkan pada siklus I, dapat dianalisis perbandingannya dengan kriteria keberhasilan tindakan. Melalui hasil perbandingan antara capaian kemampuan Bahasa ekspresif anak pada siklus I yaitu 37,5% pada kriteria BSH dengan kriteria keberhasilan tindakan sebesar 50%, maka dapat disimpulkan bahwa setelah melalui siklus I ini tindakan belum cukup berhasil melampau kriteria Oleh sebab itu, peneliti menggunakan hasil refleksi proses pelaksanaan metode bermain peran pada siklus I sebagai dasar dalam memperbaiki rencana tindakan dan JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. tindakan pada siklus II. Peningkatan kemampuan bahasa ekspresif pada siklus II dapat dibandingkan dengan siklus I. Kemampuan bahasa ekspresif anak setelah dilakukan tindakan pada siklus II mengalami peningkatan. Adapun perbandingan peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini Kriteria Capaian Siklus I Siklus II Frekuensi Presentae Frekuensi Prosentase MSB 12,5% MSH 37,5% 12,5% 6,25% TOTAL Melalui tabel di atas dapat dicermati bahwa kemampuan bahasa ekspresif anak pada siklus I menuju siklus II mengalami peningkatan. Sebagaimana yang telah disajikan sebelumnya bahwa hasil siklus I mulai mencapai kriteria keberhasilan tindakan, maka berlanjut pada siklus II dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I dan dilakukan perbaikan tindakan pada siklus II. Perbaikan proses pembelajaran melalui upaya perbaikan tindakan dari siklus I ke siklus II menunjukkan hasil yang baik pada akhir siklus II. Pada siklus I belum ada satu pun anak yang mencapai kriteria Muncul Sangat Baik (MSB), yang artinya kemampuan anak melampaui kemampuan yang diharapkan. Tapi pada siklus II, kondisi tersebut berbeda. Terdapat 2 anak . ,5%) yang awalnya pada kriteria MSH meningkat menjadi MSB. Kemudian pada siklus I masih ada 8 anak . %) yang berada pada kriteria MSH di siklus II meningkat menjadi 62. 5% dan ada 3 anak yang masih Mulai Muncul serta satu anak yang belum muncul kemampuannya. Peningkatan prosentase capaian anak pada kriteria MSH, yaitu sebanyak 10 anak . ,5%) dan sebanyak 2 anak yang kriteria Muncul Sangat Baik (MSB) . Berdasarkan temuan hasil di atas, metode bermain peran yang dilaksanakan dengan baik dan benar mampu meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak. Berikut ini grafik yang menggambarkan peningkatan kemampuan Bahasa ekpresif anak secara keseluruhan dari mulai pratindakan, siklus I, dan siklus II. JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. Grafik perbandingan pra tindakan, siklus I. Siklus II jumlah anak MSB MSH BM : BELUM MUNCUL MM : MULAI MUNCUL MSH : MUNCUL SESUAI HARAPAN MSB : MUNCUL SANGAT BAIK Pra Tindakan Siklus I Siklus II KESIMPULAN (TIME NEW ROMAN. BOLD. FONT 12. SPASI 1. Peningkatan kemampuan bahasa ekspresif anak berjalan seiring dengan peningkatan pelaksanaan proses pembelajaran dengan menerapkan metode bermain peran dengan tahapan yang baik dan benar. Peningkatan yang terlihat pada setiap siklus menunjukkan bahwa metode bermain peran yang digunakan efektif untuk meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak. Metode bermain peran yang digunakan yaitu bermain peran makro yang menggunakan alat permainan yang sesungguhnya mampu membantu anak dalam kemampuan berbahasa ekspresif anak usia 3-4 tahun. Dokumentasi Bermain peran Tanaman yang ada dalam Al Bermain peran Tanaman yang ada dalam Al QurAoan . QurAoan . JTIEE : Journal of Teaching in Elementary Education P-ISSN : 2620-665X. E-ISSN : 2599-2716 | Vol. 9 No. Bermain peran Tanaman yang ada dalam Al Bermain peran benda langit ciptaan Allah QurAoan . awang merah ) DAFTAR PUSTAKA