Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Oktober 2024: 234-241 REPRESENTASI BUDAYA MELALUI ANALISIS SEMIOTIKA PADA LAGU KUDA SUMEDANG Anggraeni Purnama Dewi*, dan Iqbal Abdul Rizal Departemen Linguistik. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Padjadjaran. Jatinangor Sumedang Email: anggraeni. purnama@unpad. iqbal17009@mail. *Email Korespondensi: anggraeni. purnama@unpad. ABSTRAK. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan makna yang terkandung dalam lagu Kuda Sumedang karya Mang Memed. Lagu Kuda Sumedang merupakan salah satu lagu daerah Jawa Barat yang diciptakan dalam bahasa Sunda. Melalui penelitian ini, pendalaman mengenai makna dalam lagu akan dikaji dengan penanda dan petanda dalam setiap liriknya. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pemaparan deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan semiotika Roland Barthes yang berfokus pada penanda dan petanda untuk memahami budaya. Objek dalam penelitian ini adalah lagu Kuda Sumedang karya Mang Memed yang terdiri atas empat bait, dan setiap bait terdiri atas empat larik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu Kuda Sumedang bermakna sebagai media pengenalan budaya kota Sumedang, yang salah satunya diwakili oleh seni Bangryng Kuda Rynggong. Selain itu, dalam lagu Kuda Sumedang dijelaskan setiap aspek-aspek pertunjukan seni Bangryng Kuda Rynggong mulai dari aspek fungsi, cara kesenian ditampilkan, dan suasana yang tergambar selama pertunjukan. Kata kunci: Lagu. Kuda Sumedang. Semiotika. Budaya CULTURAL REPRESENTATION THROUGH SEMIOTIC ANALYSIS IN THE SONG OF KUDA SUMEDANG Abstract: This article aims to explain the meaning contained in the song Kuda Sumedang by Mang Memed. The Kuda Sumedang Song is a West Javanese regional song written in Sundanese. Through this research, an in-depth understanding of the meaning of the song will be studied using the signifiers and signifieds in each lyric. The method used in this research is a qualitative method with descriptive presentation. The approach used is Roland Barthes' semiotic approach which focuses on signifiers and signifieds to understand the culture. The object of this research is the song of Kuda Sumedang by Mang Memed which consists of four stanzas, and each stanza consists of four lyrics. The results of the research show that the song of Kuda Sumedang is meaningful as a medium for introducing the culture of the city of Sumedang, one of which is represented by the performance of Bangryng Kuda Rynggong. Apart from that, the song Kuda Sumedang explains every aspect of the Bangryng Kuda Rynggong art performance starting from the functional aspects, the way the art is displayed, and the atmosphere depicted during the performance. Keywords: Song. Kuda Sumedang. Semiotics. Culture PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat kaya akan budaya. Tidak akan pernah habis menceritakan tentang budaya yang dimiliki Indonesia. Jika sebelumnya masyarakat dapat mengenal budaya suatu daerah melalui buku atau aktivitas membaca, maka saat ini telah banyak media yang lebih menarik dan praktis untuk digunakan sebagai cara mengenal dan memahami budaya suku bangsa yang ada di dunia, khususnya di Indonesia. Di era digitalisasi ini, musik menjadi salah satu media yang tidak hanya digunakan untuk menyalurkan hobi, bakat, rekreasi, ataupun hiburan, tetapi juga untuk mengenal dan memahami budaya suatu daerah dengan lebih Masyarakat semakin mudah untuk mengakses berbagai informasi terkait budaya, dan salah satunya adalah melalui musik. Persaingan di antara lagu daerah dan lagu modern pun tidak bisa dihindarkan. Melalui media digital, rumah produksi bersaing ketat untuk menampilkan produk musiknya. Musik sebagai bagian dari aspek yang mengandung nilai budaya menggunakan penyesuaian bunyi dengan keindahan ritme (Fakri et al. , 2. Musik dan bahasa tidak dapat dipisahkan, karena setiap lirik dalam lagu daerah mengandung makna (Mannion et al. , 2. Begitupun bahasa dan budaya tidak dapat Bahasa adalah instrument pengetahuan, dengan bantuan bahasa, manusia sadar akan dunia dan budaya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahasa adalah alat budaya. Bahasa membentuk seseorang menentukan perilakunya, gaya hidup, pandangan, mentalitas, karakter bangsa dan ideologi. Bahasa Ae alat yang ampuh dan tangguh, yang di dalamnya melekat ide-ide, pandangan, model persepsi budaya dan Representasi Budaya Melalui Analisis Semiotika pada Lagu Kuda Sumedang (Anggraeni Purnama Dewi, dan Iqbal Abdul Riza. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 perilaku (Vereshchagin & Kostomarov, 1990: Mengenai Koentjaraningrat . menegaskan bahwa budaya merupakan suatu nilai yang bersifat umum. Dalam wujudnya, kebudayaan merupakan sesuatu yang kompleks antara gagasan, nilai, norma, dan peraturan (Koentjaraningrat, 1985:. Kebudayaan memuat aspek-aspek tersebut sebagai unsur di balik adanya suatu kebudayaan. Selain itu, kebudayaan juga merupakan suatu hal yang kompleks dari perilaku manusia. Budaya merupakan hasil intelektual manusia yang dijadikan alat untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidup setiap individu dalam kesehariannya (Purwasito, 2. Layaknya makan dan minum, budaya menjadi hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap individu. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Tubbs & Moss . yang mengungkapkan bahwa setiap individu secara sadar atau tidak sadar telah melakukan kegiatan budaya di berbagai aspek kehidupannya. Manusia tidak terlepas dari kegiatan sosial yang melibatkan suatu tradisi, keyakinan, nilai, norma yang kemudian dijadikan pedoman hidup dalam bermasyarakat (Ting-Toomey & Chung, 2. Berdasarkan pendapat ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa budaya dibutuhkan suatu individu untuk berkehidupan sosial. Budaya digunakan sebagai alat atau media untuk melakukan interaksi dengan sesama masyarakat. Kesenian merupakan salah satu bagian dari budaya masyarakat, dan lagu daerah menjadi media dalam menuangkan seni itu sendiri. Pascale . menegaskan bahwa lagu memiliki potensi untuk menyatukan dan menguatkan suatu komunitas, sehingga lagu memegang peranan yang penting dalam sebuah budaya. Tidak jarang masyarakat yang mendengarkannya akan menerima dan memahami pesan budaya melalui lagu tersebut. Lagu merupakan lantunan nada yang disusun berdasarkan lirik lagu yang ingin disampaikan oleh penyanyi (Wijaya & Jayanti. Dalam lagu yang berbahasa Sunda, tentu terkandung makna budaya Sunda di dalamnya. Lirik lagu merupakan salah satu bentuk media komunikasi (Lutfiana & Sari, 2. Sebuah lagu tidak dapat dipisahkan dari unsur emosi, sosial, dan budaya pengarang maupun penyanyinya, tidak terkecuali lagu daerah (Simbolon et al. Lagu daerah menggambarkan budaya dan nilai kultural suatu masyarakatnya. Salah satu lagu daerah yang lekat akan nilai budayanya adalah lagu Kuda Sumedang. Kuda Sumedang merupakan lagu daerah yang diciptakan oleh seniman Jawa Barat bernama Mang Memed. Lagu ini menceritakan tentang kesenian Kuda Renggong yang berasal dari kota Sumedang. Jawa Barat. Setiap penggalan lirik ini mendeskripsikan kesenian Kuda Renggong. Dilansir dari laman Pikiran Rakyat Sumedang Raya, berikut lirik lagu Kuda Sumedang karya Mang Memed. Budaya Kota Sumedang Seni Bangryng Kuda Rynggong Paragi arak-arakan Ngahibur budak sunatan Kuda meunang ngadandanan Direrencyng dipayungan Sora tarompet jeung kendang Sinden ngawih ngahaleunang Nu ngaran igel-igelan Tepak kendang jaipongan Ngahibur budak sunatan Suka bungah gogonjakan Kuda moyeg siga-siga ngigel Ari bari kadang dicekel Kuda geus ngarti irama Ari nurutkeun mah yta nurutkeun moyygna jalma Terjemahan: Budaya Kota Sumedang Seni Bangreng Kuda Renggong Digunakan untuk pawai Menghibur anak khitanan Kuda sudah didandani Kuda meriah dipayungi Suara terompet dan gendang Sinden bernyanyi dengan merdu Yang namanya berjoged Pukulan gendang jaipongan Menghibur anak khitanan Bersenang-senang bersama Kuda heboh bisa berjoged Sambil dipegang talinya Kuda sudah paham irama Mengikuti hebohnya manusia Telah banyak kajian terdahulu yang membahas tentang semiotika pada lagu. Berikut ini adalah beberapa penelitian yang relevan dengan tema artikel ini. Penelitian pertama yang dijadikan rujukan dalam penulisan artikel ini adalah yang ditulis oleh Harnia . dengan Representasi Budaya Melalui Analisis Semiotika pada Lagu Kuda Sumedang (Anggraeni Purnama Dewi, dan Iqbal Abdul Riza. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 judul AuAnalisis Semiotika Makna Cinta pada Lirik Lagu AuTak Sekedar CintaAy Karya DnandaAy. Dalam artikelnya dipaparkan mengenai makna denotasi, konotasi, dan mitos mengenai makna AucintaAy yang terdapat pada lirik lagu tersebut. Makna denotasi dari lirik lagu AuTak Sekedar CintaAy adalah kekuatan cinta yang diharapkan oleh pencipta lagu tersebut dari pasangannya. Makna konotasi yang terkandung dalam lirik lagu tersebut yaitu keinginan pencipta lagu terhadap pasangannya agar menjaga cintanya dengan Adapun mitos yang terdapat dalam lirik lagu ini yaitu pencipta lagu ingin mengatakan bahwa dalam setiap hubungan yang dibangun dengan cinta pasti akan abadi walaupun kadang menyakitkan. Penelitian selanjutnya yang dijadikan rujukan adalah penelitian yang berjudul AuAnalisis Semiotika Roland Barthes pada Lirik Lagu AuAisyah Istri RasulullahAy Syakir DaulayAy yang ditulis oleh Nanda . Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa secara tersirat, gagasan yang dapat dikaitkan dengan penggunaan katakata penanda dalam lagu tersebut adalah perasaan, kebahagiaan, kedekatan, perhatian, kesepakatan, keandalan, kekuatan dan ketulusan cinta dari Rasulullah kepada istrinya. Junaidi . menegaskan bahwa kondisi masyarakat yang multikultural sangat memungkinkan setiap individu berinteraksi dengan banyak orang dengan beragam latar belakang, yang selanjutnya dikenal dengan komunikasi Oleh karena itu, dalam masyarakat yang multikultural lagu dapat menjadi media untuk mengetahui suatu kebudayaan tertentu. Hal ini berfungsi untuk mengetahui dan mengenali kesamaan dan perbedaan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut sejatinya merupakan sarana menambah wawasan intelektual dan relasi serta bukan alasan munculnya kesenjangan (Aw, 2. Suryani . berpendapat bahwa saat berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda budaya, maka dibutuhkan pengetahuan yang luas dan heterogen, sehingga dalam pengaplikasiannya diperlukan strategi yang sesuai dengan tujuan transmisi pesan agar menjadi efektif. Dengan demikian maka capaian atau tujuan dari komunikasi dapat diraih secara maksimal. Oleh karena itu, lagu dapat menjadi media atau jembatan dalam komunikasi antar budaya. Makna dalam lagu ini dapat dibedah dengan menggunakan tanda dan penandanya. Adapun kaitan antara lagu dengan komunikasi adalah adanya ketersampaian makna atau pesan yang ingin disampaikan oleh pencipta lagu kepada Hal tersebut didasarkan pada definisi komunikasi yang utama, yaitu adanya pengaruh yang terjadi antara komunikator dengan penerima, yaitu dengan cara memengaruhi impresi auditori pendengar (Amalia et al. , 2. Sejalan dengan gagasan Noviana & Saifudin . yang menegaskan bahwa dalam pemaknaan suatu karya sastra baik itu lirik lagu, puisi, atau sajak pilihan, maka metode yang tepat adalah dengan menggunakan pendekatan semiotika yang mengandalkan tanda dalam karya Penanda . dan petanda . merupakan komponen pembentuk setiap sistem tanda, dan keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan. Hal ini dapat dianalogikan sebagai sebuah rel yang berdampingan sekaligus menjadi lintasan kereta di atasnya. Penanda . adalah aspek fisik atau berupa materi dari sebuah tanda seperti. kata, gambar, suara, objek, atau tanda. Adapun petanda . adalah aspek mental atau konsep dari aspek materi (Mudjiyanto & Nur. Hidayat . mengungkapkan bahwa bentuk petanda dapat berupa ide, interpretasi, atau gagasan yang mendekati sebuah tanda. Aspek terpenting dalam menginterpretasikan sebuah tanda adalah hasil kesepakatan bersama dan sifatnya bebas (Sari, 2. Ferdinand De Saussure dalam Key & Noble . menegaskan bahwa semiotika merupakan ilmu yang mempelajari struktur, jenis, tipologi, serta relasi tanda. Sejalan dengan gagasan Saussure. Barthes dalam Kurniawan Sobur . menegaskan bahwa memaknai objek dalam sebuah komunikasi tidak hanya mengenai informasi, melainkan juga fokus pada suatu tanda yang merujuk pada sebuah makna. Hal ini yang menjadikan semiotika menjadi cara lebih mudah untuk memahami dan memaknai sebuah lagu. Struktur tanda selain sebagai sebuah kajian semiotika tingkat dua, bahasa semiotika juga digunakan sebagai sarana komunikasi. Dalam studi komunikasi, semiotika diartikan sebagai studi tentang tanda dan cara kerjanya atau Adapun tanda atau kode-kode yang terorganisir dan merepresentasikan kehidupan sosial budaya masyarakat yang ada merupakan salah satu lingkup kerja studi semiotika (Fiske. Berdasarkan paparan pada latar belakang di atas, dan berangkat dari penelitian sebelumnya, maka penelitian ini mengangkat judul AuRepresentasi Budaya Melalui Analisis Semiotika pada Lagu Kuda SumedangAy. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami Representasi Budaya Melalui Analisis Semiotika pada Lagu Kuda Sumedang (Anggraeni Purnama Dewi, dan Iqbal Abdul Riza. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 nilai budaya yang terkandung dalam lagu tersebut dengan menggunakan pendekatan semiotika. Teori utama yang digunakan adalah teori Roland Barthes yang didukung oleh teori semiotika Ferdinand De Saussure. Teori tersebut dipilih karena dapat mengorelasikan aspek indrawi dan aspek mental, sehingga proses berpikir dari analisis objek penelitian menjadi satu kesatuan utuh dan saling berkelindan. Lirik lagu, gambar atau suara sebagai aspek penanda . dan pemaknaan dari aspek tersebut sebagai petanda . , kemudian diidentifikasi dengan mengaitkan pada unsur-unsur kebudayaan, sehingga dapat ditarik kesimpulan atas temuan data di lapangan mengenai bagaimana pesan budaya pada lagu Kuda Sumedang. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika. Metode kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alami, yang mana peneliti adalah instrument kunci (Moleong, 2007: . Peneliti bertindak sebagai salah satu instrumen penelitian yang melakukan observasi langsung pada lagu Kuda Sumedang, mengingat aspek realita tidak mampu terdefinisi dengan sendirinya (Mulyadi, 2. Fokus pada penelitian ini adalah nilai-nilai budaya tentang kesenian dengan data primernya berupa lagu yang berjudul Kuda Sumedang dan didukung oleh data sekunder berupa artikel, kajian ilmiah, dan dokumen yang memiliki korelasi dengan objek penelitian. Tahapan-tahapan penelitian ini observasi, klasifikasi, dan analisis data. Pengumpulan data kajian ini memakai teknik observasi pada lirik lagu Kuda Sumedang pada kanal YouTube Madrotter. Data yang ada, yaitu berupa lagu berbahasa Sunda berjudul Kuda Sumedang, pertama-tama diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Setelah itu data dianalisis dengan menggunakan teori semiotika yang mengupas dan mendeskripsikan terkait signifier dan signified pada setiap larik lagu. Menurut Amalia et. semiotika dalam sastra bukan merupakan suatu aliran, tetapi merupakan suatu sistem yang mempelajari bahasa alami dalam sastra, termasuk dalam lagu yang menjadi objek penelitian ini. Teknik penyajian hasil analisis data menggunakan teknik informal, yaitu teknik perumusan dengan menggunakan kata-kata. Peneliti akan menjelaskan secara terperinci hasil dari analisis data. Peneliti mendeskripsikan berupa kalimat, bukan berupa angka-angka. Data yang dideskripsikan dan dijabarkan merupakan hasil dari analisis semiotika pada lirik lagu Kuda Sumedang. HASIL DAN PEMBAHASAN Meskipun banyak kanal YouTube yang menayangkan lagu Kuda Sumedang, namun dalam audio recording yang dipandang merupakan versi asli adalah yang berasal dari kanal YouTube Madrotter. Jumlah tayangan dalam kanal Madrotter kurang lebih 4000 penayangan untuk unggahan lagu Kuda Sumedang. Adapun versi lainnya yang banyak ditonton adalah versi dari kanal Fannysabilla Official yaitu 6,5 juta penayangan. Iringan musik yang digunakan dalam video yang ditayangkan pada kanal Madrotter terdengar lebih tradisional dibanding dengan versi dari Fannysabilla Official yang lebih modern. Meskipun demikian, lirik dalam lagu Kuda Sumedang di antara kedua video tersebut tetap sama. Analisis data dalam lagu akan dilakukan dengan pembedahan penanda dan petanda. Untuk memudahkan pemahaman, maka penyajian data dibuat dalam bentuk tabel. Tabel 1. Representasi Budaya pada Bait Pertama Aspek Penanda Budaya Kota Sumedang Seni Bangryng Kuda Ryngong Paragi arak-arakan Ngahibur budak sunatan Terjemahan: Budaya Kota Sumedang Seni Bangreng Kuda Renggong Digunakan untuk pawai Menghibur anak khitanan Aspek Petanda Bait pertama pada lagu Kuda Sumedang yang terdiri atas 4 larik, menjelaskan tentang suatu kesenian bernama Seni Bangryng Kuda Rynggong yang berasal dari Kota Sumedang. Selain itu, pada bait pertama juga dijelaskan fungsi dari Seni Bangryng Kuda Rynggong, yaitu untuk menghibur anak pengantin sunat atau anak yang baru Terkait petanda dari bait pertama, maka tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan budaya Kota Sumedang. Kuda Renggong merupakan salah satu pertunjukan tradisional rakyat yang sangat populer dan berasal dari Kabupaten Sumedang. Menurut tuturan beberapa seniman. Kuda Renggong muncul pertama kali dari Desa Cikurubuk. Kecamatan Buahdua. Kabupaten Sumedang. Bahkan kesenian Kuda Renggong telah didaftarkan di Balai Pelestarian Budaya Provinsi Jawa Barat sebagai kesenian unggulan dari Kabupaten Sumedang yang wajib dilestarikan (Gustianingrum & Affandi, 2016: Representasi Budaya Melalui Analisis Semiotika pada Lagu Kuda Sumedang (Anggraeni Purnama Dewi, dan Iqbal Abdul Riza. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Kuda Renggong bukan hanya sekadar kesenian tradisional yang sangat menarik untuk Lebih dalam dari itu, kesenian tersebut memiliki makna budaya yang sangat dalam, khususnya bagi masyarakat Kota Sumedang. Kata renggong dapat juga disebut dengan kata ronggeng, yang dalam Bahasa Sunda berarti kamonesan atau dalam Bahasa Indonesia berarti Dikatakan demikian karena kuda dalam kesenian tersebut berjalan mengikuti irama musik, khususnya pukulan kendang. Tentu saja kuda ini telah melalui proses pelatihan. Arak-arakan dengan menggunakan Kuda Renggong ini biasanya dipakai sebagai media tunggangan anak sunat. Berkaitan dengan budaya, upacara ritual ini merupakan tradisi yang terus menerus dipertahankan karena didalamnya terdapat pranata-pranata kemasyarakatan yang berguna bagi tata sosial daerah tersebut. Ditinjau dari semiotika, proses komunikasi terjadi melalui media sebagai pendukung dalam Kuda Renggong yang berupa musik, tarian, kostum anak khitan, kostum kuda, dan keaktraktifan para pendukungnya sebagai acuan penjelas dan pelurus maksud pesan (Ruswandi, 2017: . Dengan penampilan Kuda Renggong secara utuh, maka maksud yang ingin disampaikan oleh pencipta lagu berjudul Kuda Sumedang adalah, bahwa kesenian tersebut merupakan kekayaan budaya Kota Sumedang yang diwariskan secara turun temurun dan harus tetap dilestarikan. Tabel 02. Representasi Budaya pada Bait ke Dua Aspek Penanda Kuda meunang ngadandanan Direrencyng dipayungan Sora tarompyt jeung kendang Sinden ngawih ngahaleunang Terjemahan: Kuda sudah didandani Kuda meriah dipayungi Suara terompet dan gendang Sinden bernyanyi dengan Aspek Petanda Bait ke dua menjelaskan aspek dalam Seni Bangryng Kuda Rynggong. Dalam bait tersebut dijelaskan bahwa kuda dalam Seni Bangryng Kuda Rynggong dihias atau Kata rencyng pada larik ke 2 yang dapat dimaknai dengan kata meriah dalam Bahasa Indonesia, menggambarkan bahwa kuda yang digunakan dalam Seni Bangryng Kuda Rynggong berpenampilan cantik dan semarak dengan atribut pelengkapnya. Selain itu, kuda juga Bait ke dua menjelaskan bahwa dalam Seni Bangryng Kuda Rynggong digunakan alat musik tarompyt atau terompet dan kendang atau Selain itu, dalam kesenian Seni Bangryng Kuda Rynggong terdapat Sinden yang bernyanyi dengan merdu diiringi alat musik tarompyt dan Makna budaya yang ada pada bait ini adalah, bahwa masyarakat Sumedang senantiasa berjalan beriringan mengikuti aturan yang berlaku. Memaknai lirik pada bait ke dua dari lagu di atas sangatlah kental dengan nilai budaya, lebih tepatnya nilai estetika. Dalam kesenian Kuda Renggong memang terdapat keindahan yang diperlihatkan melalui pakaian yang dipakai oleh Kuda Renggong yang meriah, termasuk juga anak yang menungganginya, pemain musik, serta penari pengiringnya. Tidak hanya indah dipandang sebagai pertunjukan. Kuda Renggong memilki filosofi makna yang beragam, mulai dari makna spiritual, interaksi, teatrikal atau pertunjukan, hingga makna universal yang dianggap sebagai simbol kepahlawanan. Kuda Renggong terlihat teatrikal karena posisi kuda yang tampak berwibawa dan memesona. Atraksi ini merupakan sajian yang langka karena tidak semua Kuda Renggong mampu melakukannya. Hal ini menjadi ciri khas dari kesenian Kuda Renggong Sumedang. Kostum yang dipakai oleh kuda berbeda dengan kostum yang dikenakan oleh orang yang menungganginya, namun warnanya telah disesuaikan oleh pemilik atau penyelenggara suatu acara tersebut. Selain itu juga kuda biasanya mengenakan mahkota dan rompi dengan motif pernak-pernik. Kuda juga menggunakan umbul-umbul dengan warna mencolok yang membedakan antara kuda utama dan kuda pendamping pada saat arak-arakan, termasuk pada acara khitanan. Makna budaya yang muncul pada bait ini adalah, bahwa masyarakat Sumedang senantiasa berjalan beriringan mengikuti aturan yang berlaku. Dengan situasi demikian, maka kehidupan akan terasa indah penuh warna. Tabel 03. Representasi Budaya pada Bait ke Tiga Aspek Penanda Nu ngarak igel-igelan Tepak kendang Jaipongan Ngahibur budak sunatan Suka bungah gogonjakan Terjemahan: Representasi Budaya Melalui Analisis Semiotika pada Lagu Kuda Sumedang (Anggraeni Purnama Dewi, dan Iqbal Abdul Riza. Aspek Petanda Bait ke tiga menjelaskan Seni Bangryng Kuda Rynggong dalam Kesenian Seni Bangryng Kuda Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Yang mengiringi sambil berjoged Pukulan gendang jaipongan Menghibur anak khitanan Bersenang-senang bersama Rynggong akan di arak atau diikuti oleh orang-orang sambil igel-igelan yang berarti sambil berjoged. Pengiring kuda ini akan berjoged tepak kendang jaipongan yang berarti berjoged Pengiring ini akan mengiringi Kuda untuk menghibur pengantin sunat dengan bersuka Bait ini memiliki makna bahwa hidup baik suka maupun duka, akan kebahagiaan bagi setiap individu di Hal ini menjadi warisan budaya kota Sumedang yang Pada acara khitanan dengan arak-arakan Kuda Renggong, para penari menunjukkan gerakan tarian Jaipongan yang sangat indah untuk menghibur anak yang dikhitan. Jaipongan sendiri merupakan salah satu tarian khas Sunda yang sangat populer. Gerakan tarian benar-benar mengikuti irama dari pukulan gendang sebagai alat musik utama yang digunakannya. Selain para pengarak, kuda juga ikut menari dalam kegiatan Kuda-kuda ini juga dilatih untuk beratraksi bersama sang pawang. Beragam pose menawan yang juga membahayakan, dapat dilakukan oleh kuda-kuda itu. Para kuda pertunjukan ini mampu berinteraksi dan bekerjasama dengan manusia yang menjadikan kesenian ini begitu indah dan mempesona. Kerjasama pada tarian ini dapat dimaknai sebagai bentuk kebersamaan masyarakat Sumedang. Mereka memiliki nilai budaya berupa gotong royong di antara warganya, dan sudah terbiasa untuk saling membantu dalam urusan kemasyarakatan. Bait ini juga memiliki makna bahwa hidup dalam kebersamaan, baik suka maupun duka, akan membawa kebahagiaan bagi setiap individu di Selain itu, nilai kekompakkan dan ketertiban tercermin dalam pertunjukkan kesenian yang berjalan lancar. Hal ini dapat dimaknai sebagai kebersamaan yang harus terus dijaga oleh masyarakat Sumedang sebagai warisan leluhur. Tabel 04. Representasi Budaya pada Bait ke Empat Aspek Penanda Kuda moyyg bisa ngigel Bari patali dicepeng Kuda geus ngarti irama Nurutkeun moyykna jalma Terjemahan: Kuda heboh bisa berjoged Sambil dipegang talinya Kuda sudah paham irama Mengikuti hebohnya manusia Aspek Petanda Bait ke empat menyatakan bahwa kuda moyyg bisa ngigel yang berarti kuda heboh bisa Selama kuda menari, talinya akan Selanjutnya, dalam bait ke empat ini digambarkan bahwa kuda seolah sudah mengerti irama musik, yang hal ini dapat dilihat dari gerakannya mengikuti hiruk pikuk atau hebohnya orang pada saat menari. Hal ini merupakan simbol norma sosial yang berlaku di masyarakat Sunda sebagai aturan yang dipatuhi Petanda dari lirik lagu Kuda Sumedang pada bait ke empat ini menggambarkan tentang kuda yang dapat menari seperti manusia dengan mengikuti irama musiknya. Ketika menari, kuda ini tetap dalam pengawasan pawangnya agar tidak menimbulkan kekacauan di antara penonton, yaitu dengan cara dipegang tali Kuda seolah mengerti irama musik yang mengantarkannya pada gerakan tari yang harmonis mengikuti gerakan penari lainnya. Makna budaya dari bait ke empat ini adalah, adanya norma sosial pada kehidupan masyarakat Sunda, khususnya di kota Sumedang sebagai bentuk aturan yang harus ditaati oleh masyarakatnya agar tercipta kehidupan yang harmonis dan sejahtera. Berdasarkan analisis penanda dan petanda pada keempat bait lagu Kuda Sumedang, maka secara umum tergambar tentang Seni Bangryng Kuda Renggong. Pemaparan dalam lagu ini dimulai dari penjelasan tentang fungsi dan cara penampilan disajikan dari kesenian ini. Kedua aspek ini dijelaskan dengan rinci dalam lagu Kuda Sumedang yang membuat pendengar mengetahui kesenian Seni Bangryng Kuda Renggong. Hidayat . menjelaskan bahwa musik sebagai media yang efektif menyampaikan pesan dan lirik lagu merupakan ekspresi atas pengalaman seseorang dengan aspek indrawi. Representasi Budaya Melalui Analisis Semiotika pada Lagu Kuda Sumedang (Anggraeni Purnama Dewi, dan Iqbal Abdul Riza. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 baik melihat maupun mendengar. Sejalan dengan gagasan tersebut, lagu Kuda Sumedang mengajak pendengarnya untuk mengetahui informasi mengenai Seni Bangryng Kuda Renggong. Melalui lagu Kuda Sumedang digambarkan bahwa kuda yang digunakan dalam Seni Bangryng Kuda Renggong bukan kuda biasa. Kuda dalam Seni Bangryng Kuda Renggong merupakan kuda yang sudah dilatih sehingga bisa mengatur langkahnya seolah berjoged mengikuti alunan musik gendang dan terompet. Berjogednya kuda ini seirama dengan musik dan kemeriahan orang-orang yang mengiringinya. Selain itu, dalam Kuda Sumedang juga dijelaskan bahwa kuda dalam Seni Bangryng Kuda Renggong akan didandani agar nampak lebih cantik dan semarak. Kuda Sumedang juga menjelaskan bahwa Seni Bangryng Kuda Renggong biasa digunakan untuk hiburan, lebih tepatnya hiburan untuk pengantin sunat. Kemeriahan dalam kesenian Seni Bangryng Kuda Renggong juga digambarkan dalam lagu Kuda Sumedang. Aw. Implementasi Teori Komunikasi Sosial Budaya Dalam Pembangunan Integrasi Bangsa. Informasi, 45. , 65Ae SIMPULAN Key. , & Noble. An Analysis of Ferdinand de SaussureAos Course in General Linguistics. Macat Library. Kuda Sumedang merupakan lagu yang dengan jelas menginformasikan terkait Seni Bangryng Kuda Renggong. Hal ini dapat dilihat dari setiap kata dalam lirik lagu tersebut. Informasi yang disampaikan mulai dari cara penampilan, fungsi, dan musik pengiring dalam Seni Bangryng Kuda Renggong. Selain itu. Kuda Sumedang sebagai lagu daerah dapat digunakan sebagai cara seseorang yang berasal dari luar Jawa Barat agar mengetahui Seni Bangryng Kuda Renggong, yang dengan demikian maka secara otomatis dapat mengenal dan memahami budaya asal daerah lagu itu tercipta, dalam hal ini budaya Sunda yang diwakili oleh Kota Sumedang. Masyarakat menjadi lebih paham akan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yang sarat dengan budaya kota Sumedang. Meskipun menggunakan bahasa Sunda, namun kosakata yang digunakan mudah dipahami sehingga memudahkan pendengar memahami makna lagu. DAFTAR PUSTAKA