Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Kesantunan Berbahasa Mahasiswi di Lingkungan Kampus IAI Imsya Indonesia Adeliani Ulfiyyah1. Amanda Zulmita Indra2 ,Nahdya Alya Afif a3. Ere Mardella Arbiani4 1,2,3,4 IAI IMSYA Indonesia elyah@gmail. com, ajhaamanda4@gmail. com, 3nahdyaalya@gmail. eremardellaarbiani@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, tingkat, dan praktik kesantunan berbahasa yang ditunjukkan oleh mahasiswi IAI IMSYA Indonesia dalam konteks komunikasi akademik dan sosial di lingkungan kampus. Fokus penelitian ini penting karena IAI IMSYA Indonesia merupakan kampus berbasis ajaran Islam yang menekankan nilai-nilai syarAoi dan etika komunikasi santun dalam seluruh aktivitas akademik. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara terstruktur. Subjek penelitian terdiri atas dosen dan mahasiswi semester 1Ae5 dari berbagai program studi yang dipilih melalui purposive sampling, yakni mereka yang dianggap memiliki pemahaman dan pengalaman terkait kesantunan berbahasa di lingkungan kampus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswi telah menerapkan kesantunan berbahasa, namun tingkat konsistensinya masih bervariasi. Berdasarkan penilaian dosen, sekitar 60Ae80% mahasiswi telah menggunakan bahasa yang santun, sedangkan 20Ae40% lainnya masih memerlukan pembinaan, terutama dalam pemilihan diksi, penyesuaian konteks formal, dan kecenderungan membawa gaya komunikasi sehari-hari ke ranah akademik. Kesantunan juga terlihat dari sikap, cara meminta izin, waktu menghubungi dosen, serta kemampuan mengendalikan emosi. Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman mahasiswi mengenai kesantunan dan praktiknya dalam situasi nyata. Faktor seperti keteladanan dosen, aturan kampus, pembiasaan komunikasi Islami, dan kesadaran pribadi berperan penting dalam membentuk budaya kesantunan. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat budaya komunikasi yang sesuai dengan visi kampus dan nilai-nilai syarAoi, sehingga tercipta lingkungan akademik yang santun dan Kata Kunci: Kesantunan Berbahasa. Mahasiswi. Nilai SyarAoi PENDAHULUAN Bahasa menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia yang digunakan sebagai alat Artinya bahasa telah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dalam kehidupan Marcel Danesi . menuturkan bahwa tanpa bahasa, tidak akan ada ilmu pengetahuan, agama, perdagangan, pemerintahan, sastra, filsafat, dan tidak akan ada sistem maupun kegiatan lain yang merupakan karakteristik manusia. Dalam berinteraksi manusia harus mengedepankan prinsip sopan santun. Hal ini diperlukan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa sebagai makhluk hidup, tentunya harus memiliki kesantunan. Prinsip kesantunan ini terjadi tidak hanya dalam bentuk bahasa, namun juga perilaku nonverbal. Kesantunan menghubungkan berbagai aspek struktur sosial kehidupan dalam perilaku juga bahasa. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Seperti yang dinyatakan pencetus awal teori kesantunan yaitu Lakoff . kesantunan didefinisikan sebagai Ausistem hubungan interpersonal yang dirancang untuk mempermudah interaksi dengan memperkecil potensi bagi terjadinya konflik dan konfrontasi yang selalu ada dalam semua pergaulan manusia. Ia mengajukan kaidah kesantunan yang melengkapi kaidah kejelasan yang dikemukakan Grice. Kaidah kesantunan tersebut awalnya dipilah menjadi tiga kaidah utama, yakni: . jangan menganggu. berikan opsi. buatlah pendengar merasa aman dan nyaman, bersikaplah ramah (Lakoff, 1. Aspek Kesantunan berbahasa sangat perlu diperhatikan dalam segala aspek sosial, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Kesantunan berbahasa dalam dunia pendidikan sangat berpengaruh karena, hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi dalam bertindak tutur. proses komunikasi mahasiswa dengan semua civitas akademika yang ada dalam sebuah kampus harus menjadi perhatian khusus, karena merupakan cerminan dari budaya bertindak tutur yang berlaku di kampus tersebut . alam Ade Jauhari, 2024 Halaman . Hal ini diperkuat dengan pendapat Oetomo . 2: . kesantunan adalah sikap hormat dan beradap dalam perilaku, santun dalam tutur kata, budi bahasa dan kelakuan yang baik sesuai dengan adat istiadat dan budaya setempat yang harus kita lakukan Kesantunan mencerminkan perilaku diri sendiri, karena santun memiliki arti hormat, takzim dan tertib menurut adat . alam Nur Yulisarni, 2. Maka dari itu wajib kita lakukan setiap bertemu orang lain sebagai wujud kita dalam menghargai orang lain. Oleh karena itu, tuturan mahasiswa memegang peranan sentral dalam menjaga citra sebuah perguruan tinggi dan merupakan kunci untuk sebuah perguruan tinggi mendapatkan kehormatan ditengah-tengah masyarakat. Melihat tuturan mahasiswa ini, maka mahasiswa terutama mahasiswa keagamaan dan jurusan tarbiyah harus mampu menggunakan bahasa yang baik, benar dan santun. Seorang mahasiswa yang lahir dari jurusan keagamaan dan tarbiyah akan menjadi sorotan pada setiap tutur kata yang diucapkan . alam Ade Jauhari, 2024:. Kaidah Kesantunan berlaku pada suatu kelompok menjadi hal yang sangat wajib dilaksanakan oleh mahasiswa, baik di lingkungan kampus maupun lingkungan masyarakat . alam Ade Jauhari, 2024:. Menurut pendapat Mustari . santun adalah sifat yang halus dan baik hati dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya kesemua orang. Kesantunan bisa mengorbankan diri sendiri demi masyarakat atau orang lain. Demikian karena setiap orang itu sudah mempunyai aturan yang solid, yang setiap kita hanya kebagian untuk ikut saja . alam Nur Yulisarni, 2. Hal ini secara tidak langsung memaksa mahasiswa untuk memahami dan melaksanakan wujud-wujud maksim kesantunan berbahasa yang berlaku pada situasi sosial budaya yang dihadapi. Strategi-strategi dalam mengwujudkan kesantunan berbahasa sangat harus dipertimbangkan mahasiswa, guna terciptanya interaksi komunikasi yang berjalan dengan baik. Pemilihan penggunaan kata dan kalimat dalam bertindak tutur menjadi hal yang wajib untuk diperhatikan oleh mahasiswa. Pendapat ini diperkuat dengan alasan bahwa orang-orang terdidik seperti dosen dan mahasiswa mestinya mampu membangun budaya santun dalam berinteraksi (Jazeri. M dan Madayani. S, 2. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Utami yang menjelaskan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 bahwa penutur harus menggunakan bahasa yang bisa dipahami lawan tutur ketika berkomunikasi (Utami, 2. alam Ade Jauhari, 2024:. Penelitian terhadap kesantunan berbahasa mahasiswa di Institut Agama Islam Imsya Indonesia terletak pada upaya mempertahankan budaya tutur santun yang merupakan identitas sekaligus kewajiban mahasiswa di perguruan tinggi keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat penggunaan tuturan mahasiswa yang mematuhi prinsip kesantunan berbahasa dan strategi yang digunakan mahasiswa dalam merealisasikan kesantunan berbahasa . alam Ade Jauhari, 2024:. Akhir-akhir ini banyak remaja yang berbahasa sudah jauh dari kesantunan. Hal ini disebabkan bahasa remaja hasil campur aduk berbagai bahasa dan berbagai perubahan. Sangat minim kepekaan remaja masa kini terhadap kesantunan berbahasa. Malahan menurut mereka menjadi sesuatu yang tidak gaul jika berbahasa sopan terhadap orang yang lebih tua. Bahkan cenderung tidak memiliki kesantunan didalam setiap berbahasa yang mereka lontarkan. Cenderung mereka menyamaratakan yang lebih tua, bahasa yang mereka gunakan tidak sesantun dengan orang yang lebih tua. Terlebih remaja yang tinggal pada suatu perumahan akan lebih cepat mengikutri gaya bahasa yang terkeren mereka dapat dan mengaplikasikannya dalam bahasa sehari-hari. alam Almunawar, 2. Lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam yang dihuni mahasiswa dari latar belakang sosial dan budaya yang beragam menuntut adanya kesantunan berbahasa sebagai sarana memperkuat toleransi dan mencegah konflik. Melalui penelitian ini, dapat dipahami peran bahasa dalam membangun komunikasi yang harmonis dan menghindari penggunaan bahasa yang tidak etis. Kesantunan berbahasa menjadi faktor strategis dalam membentuk atmosfer akademik yang kondusif serta menunjang efektivitas pembelajaran. Karena tingginya urgensi pemahaman serta pelaksanaan kesantunan berbahasa di lingkungan pendidikan tinggi, peneliti memandang perlu untuk menganalisis bentuk-bentuk kesantunan berbahasa yang ditunjukkan mahasiswa di kampus Institut Imsya Indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kesantunan berbahasa di kalangan mahasiswi di lingkungan Kampus Institut Imsya Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, yang bertujuan untuk memahami fenomena kesantunan berbahasa secara mendalam melalui pengamatan dan wawancara. Penelitian ini melibatkan beberapa tahapan yang dimulai dari pemilihan subjek hingga analisis data yang diperoleh. Subjek penelitian terdiri dari dosen dan mahasiswi yang aktif berkuliah di Institut Imsya Indonesia. Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling, yaitu memilih subjek yang dianggap memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait kesantunan berbahasa dalam konteks akademik dan sosial di kampus. Proses pengambilan data dilakukan dengan wawancara terstruktur. Wawancara adalah proses yang penting dalam melaksanakan suatu penelitian khusunya dalam penelitian yang bersifat kualitatif. Umumnya pewawancara semestinya mendapatkan kerja sama yang baik dari subjek kajian . (Newman,W. Lawrence, 2. Peneliti menggunakan wawancara terstruktur yaitu teknik pengumpulan data dengan pedoman pertanyaan yang telah disusun sebelumnya sehingga Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 setiap responden mendapatkan pertanyaan yang sama. Hal ini memungkinkan proses pengumpulan data berlangsung secara sistematis dan Peneliti menggunakan kuesioner yang telah disusun sebelumnya, berisi serangkaian pertanyaan yang disesuaikan dengan tujuan penelitian seperti yang dituturkan oleh Sugiyono . Creswell . juga menjelaskan bahwa wawancara terstruktur menggunakan daftar pertanyaan baku yang ditujukan kepada seluruh partisipan guna menjaga keseragaman dan mempermudah proses analisis data. Oleh karena itu, teknik ini dipilih untuk memperoleh informasi yang relevan dan dapat dibandingkan antar-partisipan. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data lebih mendalam terkait persepsi mahasiswi tentang kesantunan berbahasa. Wawancara dilaksanakan secara semiterstruktur, di mana peneliti menyediakan beberapa pertanyaan panduan namun tetap memberikan ruang bagi responden untuk berbagi pengalaman dan pandangan mereka secara bebas. Pertanyaan yang diajukan mencakup pemahaman responden mengenai kesantunan berbahasa, contoh-contoh situasi di mana mereka merasa perlu menjaga kesantunan, dan pandangan mereka terhadap penggunaan bahasa yang dianggap sopan atau tidak sopan di dalam konteks kampus. Menurut Sugiyono . , responden adalah individu yang memberikan jawaban atau informasi terkait pertanyaan penelitian yang diajukan oleh peneliti. Dalam konteks penelitian ini, responden merujuk pada mahasiswi yang memberikan pandangan, pengalaman, dan pemahaman mereka mengenai kesantunan berbahasa di lingkungan Selama proses wawancara, peneliti mencatat jawaban responden dan merekam percakapan dengan izin mereka, untuk memastikan akurasi data yang dikumpulkan. Setelah wawancara selesai, data verbal ditranskrip dan dianalisis menggunakan teknik analisis Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa, serta memahami bagaimana konteks sosial dan budaya mempengaruhi perilaku berbahasa mahasiswi. Miles. Huberman & Saldana . Dalam menganalisis data, peneliti juga memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kesantunan berbahasa, seperti latar belakang pendidikan, lingkungan sosial, dan pengalaman interaksi di kegiatan kampus. Menurut Moleong . Semua data yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara kemudian disandingkan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang karakteristik dan tantangan dalam kesantunan berbahasa di kalangan mahasiswi. Seluruh prosedur penelitian ini dilakukan dengan mempertimbangkan etika Dengan metode yang telah dijelaskan di atas, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran yang jelas dan signifikan mengenai kesantunan berbahasa di kalangan mahasiswi di Institut Imsya Indonesia. Dengan demikian, rancangan metode penelitian ini disusun untuk memastikan bahwa proses pengumpulan dan analisis data terkait kesantunan berbahasa mahasiswi di lingkungan Kampus Institut Imsya Indonesia berlangsung secara sistematis, objektif, dan sesuai kaidah ilmiah. Pendekatan kualitatif, teknik pemilihan responden secara purposive, serta penggunaan observasi dan wawancara sebagai instrumen utama diharapkan dapat Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 menjamin keterandalan dan kedalaman data yang diperoleh. Seluruh prosedur penelitian dilaksanakan berdasarkan asas ketelitian metodologis dan etika penelitian sehingga hasil analisis nantinya memiliki dasar empiris yang kuat serta relevan dalam menggambarkan fenomena kesantunan berbahasa di lingkungan kampus. HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan Penelitian ini mengkaji kesantunan berbahasa mahasiswi di lingkungan kampus Institut Imsya Indonesia. Analisis data menunjukkan variasi strategi kesantunan yang digunakan, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti konteks interaksi, status sosial, dan tingkat keakraban antar individu. Tabel 1. Pencatatan dan Pengelompokan Data Defenisi Kesantunan Berbahasa Karakteristik Mahasiswa Santun Penilaian terhadap Mahasiswa IAI IMSYA Upaya Menjaga Kesantunan Peran Kampus dalam Kesantunan Pesan untuk Komunikasi Efektif Kesopanan dalam berkomunikasi Penyesuaian bahasa dengan lawan bicara Bahasa sebagai cerminan akhlak dan Nada bicara lembut Sapaan sopan Tidak menyela Bahasa rapi dan jelas Diskusi tenang dan beradab Umumnya sudah sopan Dipengaruhi lingkungan syar`i Masih ada mahasiswa yang terlalu santai saat bicara dengan dosen Membiasakan bahasa baik Tidak memakai singkatan saat komunikasi Menghindari kata kasar Menahan emosi Menghargai pendapat orang lain Keteladanan civitas akademika Menciptakan lingkungan komunikasi yang saling menghargai Pentingnya kesadaran internal mahasiswa Adab sebagai cerminan akhlak islami Bahasa sopan, lengkap, dan jelas Penulisan rapi dalam pesan Etika tanda baca Mendengar sebelum berbicara Klasifikasi Data Aspek Linguistik: Pemilihan kata sopan, penggunaan sapaan formal, bahasa rapi tidak Aspek Pragmatik/Etika Interaksi: Tidak menyela, nada suara tidak tinggi, menunggu giliran bicara, mendengar sebelum merespons. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Aspek Nilai Syar`i: Berbahasa lembut sebagai adab islami, menghindari candaan berlebihan, menahan emosi, menghargai sesama sebagai bentuk akhlak Aspek Sosial : Keteladanan dosen dan senior, lingkungan kampus yang mendukung budaya sopan, kebutuhan adanya kesadaran pribadi. Aspek Efektivitas Komunikasi: Kejelasan pesan, penulisan yang baik dalam pesan tertulis, penggunaan tanda baca yang tepat. Responden menilai bahwa kesantunan berbahasa bukan hanya terkait kata-kata, tetapi juga sikap dan penerapan norma akademik serta syiar Islam. Mahasiswa umumnya sudah menerapkan kesantunan, namun belum konsisten dan membutuhkan pembinaan lebih Ciri utama mahasiswa santun mencakup pengolahan bahasa . dan pengendalian sikap komunikasi . on-verba. Kampus perlu menyediakan pedoman komunikasi, pembiasaan, dan sanksi jika Dalam penelitian ini, kami mengkaji fenomena kesantunan berbahasa di lingkungan kampus Institut Imysa Indonesia, dengan tujuan untuk memahami bagaimana mahasiswa berinteraksi dalam konteks akademik dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesantunan berbahasa mahasiswi di lingkungan kampus IAI IMSYA Indonesia. Analisis data menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa mahasiswi tercermin dalam berbagai aspek interaksi, baik formal maupun informal, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, jabatan, dan relasi sosial. Pendapat ini merujuk pada teori kesantunan Brown & Levinson . Dari beberapa responden ada dosen dan mahasiswi dari semester 1-5 dari berbagai prodi yang diwawancarai oleh peneliti maka, responden menilai bahwa kesantunan berbahasa bukan hanya terkait kata-kata, tetapi juga sikap dan penerapan norma akademik serta syiar Islam. Faktor lain seperti batasan interaksi laki-laki dan perempuan, waktu komunikasi kepada dosen, serta kepatuhan terhadap norma kampus syarAoi juga memengaruhi kualitas kesantunan berbahasa. Oleh karena itu, dibutuhkan pembiasaan etika komunikasi, peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik, penegakan aturan kampus, serta kesadaran pribadi mahasiswa untuk terus memperbaiki cara berkomunikasi agar sesuai dengan nilai-nilai akademik dan etika syarAoi. Mengacu pada prinsip-prinsip kesantunan berbahasa yang diuraikan oleh Leech . dan dihubungkan dengan konsep linguistik umum yang dijelaskan oleh Chaer . , kami menemukan beberapa pola perilaku linguistik yang mencerminkan nilai-nilai kesantunan di antara mahasiswi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswi di lingkungan kampus cenderung mematuhi prinsip-prinsip kesantunan berbahasa, terutama dalam konteks interaksi formal dan informal. Dalam komunikasi di kelas, misalnya, tampak adanya penggunaan ungkapan yang sopan seperti "Permisi. Bapak/Ibu," ketika mengajukan Hal ini menunjukkan penghargaan terhadap otoritas pengajar dan keinginan untuk menjaga suasana akademik yang kondusif. Dalam kajian ini, prinsip Leech mengenai "taktik kesopanan" diadopsi secara konsisten oleh mahasiswi, karena mereka berusaha menangkal potensi konflik dan menciptakan komunikasi yang harmonis (Leech, 1. Selanjutnya, dalam interaksi sosial di luar kelas, kami mengamati bahwa mahasiswi juga menerapkan kesantunan berbahasa melalui pemilihan kata dan ekspresi. Misalnya. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 penggunaan kalimat ajakan yang disertai ungkapan terima kasih, seperti "Makasih ya udah ngingetin jadwal kelas, yuk jalan bareng keruangan". Dapat dipahami bahwa sikap saling menghargai ini merupakan refleksi dari nilai-nilai pendidikan karakter yang diteorikan oleh Gunawan . , yang menggarisbawahi pentingnya sikap positif dalam interaksi sosial. Diskusi lebih mendalam mengenai kesantunan berbahasa ini menunjukkan bahwa mahasiswi tidak hanya memperhatikan tata cara berbicara yang sopan, tetapi juga mengadaptasi ungkapan berdasarkan konteks percakapan. Misalnya, dalam situasi formal, mereka lebih cenderung menggunakan bentuk bahasa baku, sementara dalam situasi santai, bahasa yang digunakan bisa lebih fleksibel. Hal ini sejalan dengan pandangan Chaer . mengenai variabel situasi yang memengaruhi penggunaan bahasa. Kesadaran situasi ini mencerminkan kemampuan adaptasi mahasiswi dalam menjalani interaksi yang baik dalam lingkungan kampus. Sementara itu, interaksi antara mahasiswi juga memperlihatkan adanya pertimbangan terhadap perasaan teman bicara. Dalam konteks ini, ungkapan permohonan maaf yang disampaikan secara tulus jika terjadi kesalahan pengucapan atau ketidaksengajaan dalam percakapan pun sering kali ditemukan. Hal ini menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa bukan hanya tentang kepatuhan terhadap aturan, melainkan juga tentang empati dan pemahaman terhadap orang lain. Di sisi lain, kami juga menemukan bahwa penggunaan gaya bahasa tertentu, seperti bahasa gaul, di kalangan mahasiswi masih dihargai selama konteks dan situasi memungkinkan. Misalnya, saat bercanda atau berbagi cerita keseharian, penggunaan bahasa gaul dapat menciptakan kedekatan atau intimasi antara sesama teman. Namun, saat berinteraksi dengan dosen atau tamu undangan, mereka dengan sepenuh hati beralih ke bahasa yang lebih formal. Ketepatan ini menunjukkan tingkat inteligensi sosial yang tinggi sebeagai hasil dari pendidikan yang mereka terima (Arikunto, 2. Kesantunan berbahasa merupakan sebuah pilar fundamental dalam interaksi akademik, berfungsi bukan hanya sebagai etika, melainkan juga sebagai strategi komunikasi yang esensial untuk menjaga harmoni sosial. Pandangan universal dari Brown dan Levinson . yang menyatakan bahwa "politeness is the universal strategy to maintain face in communication" menunjukkan bahwa setiap tindakan tutur selalu melibatkan upaya menjaga kehormatan diri dan mitra tutur. Dengan demikian, berbahasa santun merupakan mekanisme vital untuk meminimalkan potensi konflik, sebagaimana ditegaskan Yule . , yang mendefinisikannya sebagai "a system of interpersonal relations designed to facilitate interactionAy. Dalam kajian pragmatik, konsep kesantunan diperkuat oleh Leech . , yang berfokus pada upaya "minimize the expression of impolite beliefs and maximize the expression of polite beliefsAy. Prinsip ini kemudian diperluas menjadi enam maksim komprehensif (Fahmi, 2. , yang secara lengkap menjadi pedoman bertutur. Maksim-maksim ini, mulai dari Kebijaksanaan . engurangi kerugian orang lai. hingga Simpati . emperbesar simpati antar piha. , adalah tolok ukur ideal dalam praktik komunikasi. Wawancara di lingkungan IAI IMSYA Indonesia menunjukkan bahwa mahasiswa telah memiliki kesadaran berbahasa yang baik, terlihat dari penggunaan ungkapan seperti terima kasih dan permohonan maaf. Namun, penelitian ini juga mencatat bahwa penerapan norma kesantunan, terutama yang berkaitan dengan sikap nonverbal dan kesesuaian konteks, belum sepenuhnya konsisten. Faktor-faktor seperti Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 batas-batasan interaksi, kepatuhan terhadap norma syar'i, dan pembiasaan etika komunikasi, semuanya turut memengaruhi kualitas kesantunan berbahasa. Ini menunjukkan relevansi saran Leech . mengenai perlunya pedoman, pembiasaan, dan sanksi agar kesantunan menjadi budaya yang berakar. Kualitas kesantunan sangat dipengaruhi oleh gaya bahasa atau style. Menurut Keraf . , gaya bahasa adalah cara seseorang mengolah bahasa yang mencerminkan jiwa dan kepribadiannya. Dalam tradisi retorika. Aristoteles menekankan pentingnya kejelasan ("the virtue of style is to be clear"), sebab komunikasi yang kabur atau berbelit-belit berpotensi menciptakan ketidaksopanan Gaya bahasa yang baik harus berdiri di atas tiga pilar: kejujuran, sopan santun, dan daya tarik. Sopan santun dalam berbahasa, misalnya, tercermin dari kejelasan dan kesingkatan, sebuah prinsip yang sejalan dengan Maksim Kualitas dan Maksim Pelaksanaan Grice . Demikian pula, pemilihan gaya bahasa yang sesuai menjadi penentu tingkat kesantunan. Menggunakan gaya percakapan yang terlalu santai dalam forum akademik formal dapat dianggap tidak santun karena mengurangi penghormatan terhadap audiens dan situasi. Hasil wawancara di kampus memperkuat relevansi teori ini dengan menemukan beberapa pola komunikasi mahasiswa. Pertama, mahasiswa cenderung mampu beradaptasi dengan Dalam situasi formal, mereka menggunakan bahasa baku, sementara di interaksi santai, bahasa yang digunakan lebih fleksibel. Hal ini sesuai dengan pandangan Chaer . mengenai variabel situasi. Namun, ketidaksesuaian pun masih ditemukan. Misalnya, adanya sapaan terlalu santai kepada dosen yang melanggar unsur penghormatan formal, suatu fenomena yang dikaitkan dengan positive politeness strategy Brown dan Levinson yang terlalu mengedepankan keakraban. Kedua, mencatat adanya ketidaksantunan terselubung atau implisit. Tindakan seperti memotong pembicaraan, menggunakan nada tinggi saat berdiskusi, atau melontarkan sarkasme di grup daring, semuanya merupakan bentuk Ancaman terhadap Muka (Face-Threatening Acts/FTA). Tindakan ini secara langsung mengancam kebebasan bertindak . egative fac. lawan tutur, meskipun mungkin tidak Terakhir, ditemukan bahwa dosen yang menggunakan gaya menengah . oderate styl. , yang menurut Aristoteles merupakan gaya ideal karena "neither pompous nor overly simple," cenderung lebih disukai dan mampu menciptakan suasana akademik yang berwibawa namun tetap komunikatif. Pada akhirnya, kesantunan berbahasa di lingkungan kampus tidak hanya menjadi indikator kepribadian, tetapi juga penentu kualitas iklim intelektual. Bahasa yang santun menciptakan lingkungan diskusi yang sehat, hubungan dosenAemahasiswa yang produktif, dan meminimalkan konflik interpersonal. Hal ini menegaskan kembali pandangan Leech . bahwa "politeness is the oil that lubricates the wheels of social interactionAy. Oleh karena itu, kesantunan berbahasa yang berlandaskan pada prinsip pragmatik Leech dan didukung oleh pemilihan gaya bahasa yang tepat harus menjadi budaya yang diinternalisasi dan dipraktikkan secara konsisten oleh seluruh civitas akademika, demi terciptanya peradaban ilmiah yang harmonis dan saling menghargai. Kesantunan berbahasa mahasiswa IAI IMSYA Indonesia, baik dalam konsistensi berbahasa secara verbal maupun dalam menjaga adab nonverbal, merupakan cerminan jati diri akademik yang luhur. Dalam ruang-ruang nonformal, nilai- Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 nilai syariat dan norma kampus menjadi kompas yang menuntun perilaku komunikasi. Melalui aturan yang jelas, bimbingan yang berkelanjutan, serta teladan para dosen, kampus tidak hanya membentuk kemampuan berbahasa, tetapi juga membina karakter. Pada akhirnya, upaya menjaga kesantunan adalah sebuah tanggung jawab kolektif untuk mewujudkan lingkungan akademik yang ramah, beradab, dan saling menghargai. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa mahasiswi di lingkungan Institut Imsya Indonesia merupakan praktik komunikasi yang dipengaruhi oleh tiga aspek utama: bahasa, sikap, dan nilai-nilai syarAoi. Hasil analisis mengungkapkan bahwa mahasiswi secara umum telah menerapkan strategi kesantunan, baik dalam konteks formal maupun informal, melalui penggunaan pilihan kata yang sopan, sapaan yang tepat, nada bicara rendah, serta kemampuan menyesuaikan gaya bahasa sesuai situasi dan lawan tutur. Secara verbal, mahasiswi menunjukkan kemampuan memilih bentuk bahasa yang sesuai, misalnya penggunaan bahasa baku ketika berinteraksi dengan dosen dan bahasa yang lebih fleksibel ketika berkomunikasi dengan teman sebaya. Secara nonverbal, sikap seperti tidak menyela, menunggu giliran berbicara, serta menunjukkan empati dalam percakapan menjadi indikator penting kesantunan yang konsisten ditemukan. Meski demikian, penelitian juga menemukan ketidakkonsistenan, terutama pada konteks tertentu seperti penggunaan gaya bahasa yang terlalu santai kepada dosen, interaksi yang kurang memperhatikan batasan syarAoi, serta beberapa bentuk ketidaksantunan implisit seperti memotong pembicaraan atau menggunakan nada tinggi. Faktor-faktor seperti lingkungan kampus, keteladanan dosen, pembiasaan etika komunikasi, dan norma syariat terbukti berpengaruh signifikan terhadap kualitas kesantunan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kesantunan berbahasa mahasiswi IAI IMSYA Indonesia merupakan hasil interaksi antara kompetensi linguistik, kepekaan pragmatik, dan internalisasi nilai-nilai islami. Untuk menjaga dan meningkatkan kualitas tersebut, diperlukan pedoman komunikasi yang jelas, pembiasaan berkelanjutan, serta komitmen kolektif seluruh civitas akademika. Upaya ini tidak hanya membangun budaya komunikasi yang beradab, tetapi juga memperkuat karakter akademik dan religius mahasiswi sebagai cerminan kepribadian yang santun dan berakhlak. DAFTAR PUSTAKA