(Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. Vol. No. Desember 2025 . e-ISSN 2614-3135 p-ISSN 2615-739X https://w. id/e-journal/index. php/kurios Pluralisme hukum dalam Torah: Sheva mitzvot bAonei Noach dan taryag mitzvot Moshe dalam legislasi Yudaisme dan implikasinya bagi gereja perdana Bambang Noorsena Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara Correspondence: bnoorsena@gmail. DOI: https://doi. 30995/kur. Article History Submitted: Oct. 17, 2025 Reviewed: Nov. 20, 2025 Accepted: Dec. 29, 2025 Keywords: 613 laws of Moses. early church. legal pluralism. rabbinic legislation. sefer HaYovelim. seven laws for the descendants of Noah. Judaism. gereja perdana. legislasi rabinik. pluralisme hukum. tujuh hukum bagi keturunan Nuh. Yudaisme. 613 hukum Musa Copyright: A2025. Authors. License: Abstract: This study explores legal pluralism in the Torah, specifically the relationship between A( c ii co Asheva mitzvot bAonei Noach. the seven laws for Noah's descendant. and A( oe ii iAtaryag mitzvot Moshe. 613 laws of Mose. , as formulated in the rabbinic tradition. Through a historical-theological approach and textual analysis of the Mishnah. Talmud, and early church documents, this study maps how the distinction between laws that apply universally to humanity (Noahide law. and specifically to the people of Israel (Mosaic law. shapes the ethical framework of Judaism. Furthermore, this study traces how this pluralistic framework became the backdrop for early church debates in the first century regarding whether the Torah was binding on non-Jews. Findings show that the apostolic council in Jerusalem and early church writings understood themselves within a pluralistic Jewish legal landscape, not as a new system completely detached from its Jewish roots. This study has implications for a rereading of the relationship between Judaism and Christianity, as well as opening up space for contemporary theological dialogue. Abstrak: Kajian ini mengeksplorasi pluralisme hukum . egal pluralis. dalam Torah, khususnya relasi antara A( c ii co Asheva mitzvot bAonei Noach. tujuh hukum bagi keturunan Nu. dan A( oe ii iAtaryag mitzvot Moshe. 613 hukum Mus. , sebagaimana yang diformulasikan dalam tradisi Melalui pendekatan historis-teologis dan analisis tekstual terhadap Mishnah. Talmud, serta dokumen-dokumen gereja perdana, penelitian ini memetakan bagaimana diferensiasi hukum yang berlaku bagi umat manusia secara universal (Noahide law. dan bagi umat Israel secara khusus (Mosaic law. yang membentuk kerangka etik Yudaisme. Lebih jauh, studi ini menelusuri bagaimana kerangka pluralistik tersebut menjadi latar belakang perdebatan gereja perdana pada abad pertama mengenai apakah Torah mengikat orang-orang non-Yahudi? Temuan menunjukkan bahwa konsili apostolik di Yerusalem dan tulisan-tulisan gereja perdana memahami diri mereka dalam lanskap hukum Yahudi yang plural, bukan sebagai sistem baru yang sepenuhnya terlepas dari akar Yudaisme. Studi ini berimplikasi pada pembacaan ulang relasi antara Yudaisme dan Kekristenan, serta membuka ruang dialog teologis kontemporer. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 916 B. Noorsena. Pluralisme hukum dalam TorahA Pendahuluan Diskursus mengenai pluralisme hukum dalam tradisi biblika, khususnya studi PB, sering kali hanya dipahami secara simplistik sebagai perbedaan antara UAA uOIEOC . omo Mouseos. hukum Mus. dan UAA E AEE . omon tou Khristo. hukum Kristu. Padahal, kategorisasi tersebut, selain mengandung perbandingan yang tidak setaraAikarena hukum Musa merujuk pada hukum positif, sedangkan hukum Kristus merujuk pada hukum normatifAijuga, melalui penelusuran terhadap akar dan sumber-sumber Yudaisme, memperlihatkan adanya struktur hukum yang jauh lebih kompleks dan plural. Penelitian ini bertitik tolak dari kenyataan bahwa Yudaisme membedakan antara hukum universal yang berlaku bagi keturunan Nuh dan hukum Musa yang diberikan secara khusus kepada Israel. Pluralitas ini tidak hanya merupakan konsep etis, melainkan juga membentuk fondasi legislasi rabinik yang memengaruhi penafsiran hukum hingga masa gereja perdana. Kekristenan perdana mewarisi pluralisme hukum Yudaisme dan diaplikasikan sebagai panduan kehidupan masyarakat Israel selama berabad-abad. Pada era bait suci kedua, khususnya saat Eretz Israel (Tanah Israe. berada di bawah kekuasaan Romawi. Yesus dan para rasul-Nya hidup dalam suatu konteks keberagaman sistem hukum. Menurut Lawrence M. Friedman, pluralisme hukum merupakan keberadaan berbagai sistem hukum dalam satu masyarakat atau negara,1 serta mengacu pada situasi di mana dua atau lebih sistem hukum hidup berdampingan dalam ranah sosial yang sama, sehingga rangkaian hubungan sosial yang sama diatur oleh lebih dari satu badan hukum. 2 Adagium hukum A( coy E oy uOUiAshivAoim panim la-torah. 70 wajah Tora. ,3 dalam Talmud secara simbolis mewakili pluralisme hukum yang direfleksikan dari Torah, yang berlaku baik bagi Israel maupun bangsa-bangsa lain. Pluralisme hukum untuk dua masyarakat berbeda dalam satu wilayah, ini dikenal dengan Ao"eA A( ii iAtaryag mitzvot Moshe. 613 hukum Mus. bagi Israel, dan Noahide laws . ukum-hukum Nu. atau A( c ii co Asheva mitzvot bAonei Noach. tujuh hukum bagi anak-anak Nu. bagi bangsa-bangsa. Pemahaman pluralisme hukum dalam Torah penting untuk membaca teks-teks PB yang lahir dalam konteks Yahudi, agar terhindar dari dikotomi yang salah, yakni AuYudaisme legalistikAy dengan AuKekristenan kasih karunia. Ay Para sarjana Yahudi maupun Kristen, seperti Jacob Neusner. Sanders. Shaye J. Cohen, dan Daniel Boyarin, mengakui relasi antara keduanya dipengaruhi oleh banyak faktor. Jika mengacu pada Flavius Josephus tentang pembagian tiga Aoaliran politikAo pada masanya (Saduki. Eseni, dan Faris. Neusner menyebut keragaman Yahudi sebagai AuJudaisms,Ay yang menekankan perbedaannya masing-masing. 4 Tanpa menyangkal eksistensi ketiga kelompok tersebut. Sanders lebih melihatnya sebagai AuCommon Judaism,Ay yaitu kaum Yahudi biasa yang hidup di bawah kekuasaan Roma, dan menekankan bagaimana bagi mereka Aubeing Jewish meant living in a certain wayAmore a way of life than a doctrinal system. Ay5 Sanders membantu kita terhindar dari pembacaan anakronistik sebagai aliran-aliran religi modern. Cohen melacak perkembangan istilah Yehadut (Yudaism. lebih 1 Lawrence M. Friedman. The Legal Systhem: A Social Science Perspective (New York: Russel Sage Foundation, 1. , 152. 2 Friedman, 157. 3 Midrash Bamidbar 13:15-16. Zohar II:99a. Allen S. Maller. "A Torah with 70 different faces. " Jewish Bible Quarterly 41. : 28-31. 4 Annette Yoshiko Reed. AuE. Sanders and His Impact on the Study of Second Temple Judaism,Ay Ancient Jew Review, 11 Maret 2024, https://w. com/read/2024/3/11/e-p-sanders-and-his-impact-onthe-study-of-second-temple-judaism. 5 E. Sanders. Judaism: Practise and Belief. 63 BCE-66 CE (London: SCM Press, 1. , 3. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 917 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 jauh ke masa sebelum periode Makabe, sebagai respons terhadap penajisan Bait Suci oleh penguasa Yunani. Antiokhus IV Epifanes . Ae164 SM). Pada mulanya, istilah ini lebih merujuk pada suatu entitas etnis, namun kemudian mengalami penajaman makna sebagai entitas keagamaan yang secara eksklusif membedakan gaya hidup Yahudi dari gaya hidup Yunani. Lebih jauh lagi. Boyarin membuktikan kata Augoyim,Ay yang semula juga digunakan dalam makna umum bangsa-bangsa, termasuk di dalamnya Israel, kemudian berkembang dalam konotasi negatif sebagai bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan. 7 Meskipun dalam perjalanan sejarah relasi antara orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain kerap berada dalam spektrum ketegangan, refleksi atas hubungan keduanya dalam mengatur kehidupan bersama tidak pernah terhenti dan senantiasa didasarkan pada Torah. Gereja menerima warisan historis ini dengan segala kompleksitas dan dinamikanya. Sebagaimana Saduki. Eseni, dan Farisi yang merefleksikan keyakinannya berdasarkan Torah yang sama. Kekristenan perdana yang disebut Aosekte orang NasraniAo (Kis. , yang meyakini Kristus sebagai kegenapan dari hukum Taurat (Rm. Seiring dengan berkembangnya keanggotaan gereja yang mencakup orangorang bukan Yahudi di Antiokhia (Kis. , pola relasi antara orang Yahudi dan bukan Yahudi kemudian dilembagakan dalam putusan Konsili Yerusalem. Putusan konsili mengindikasikan rujukan kepada hukum pra-Musa (Kis. 15:20, . , yang berlaku bagi bangsa-bangsa lain yang telah menjadi percaya (Kis. Gereja yang berdiri saat pencurahan Roh Kudus di Yerusalem, anggota mula-mula berasal dari kaum Yahudi, baik orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani oEE (Ellenisto. maupun orang-orang Ibrani oAIC (Ebraiou. Berbeda dengan yAC (Ellenes. orang-orang Yunan. , kata oEE (Ellenisto. , kata ini merujuk kepada komunitas Yahudi diaspora yang berbahasa Yunani, seiring dengan digunakannya bahasa Yunani-Koine secara berdampingan dengan bahasa Ibrani dan Aram sejak wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Aleksander Agung pada 332 SM. Warisan bahasa dan budaya Yunani Koine ini menimbulkan tantangan tersendiri dalam menilai sejauh mana intensitas dan kedalaman unsur Hellenisme dalam gereja perdana. Setelah perang Bar Kokhba . -135 SM),8 orang-orang Yahudi-Kristen turut terusir bersama komunitas Yahudi lainnya dari Yerusalem. Dalam perkembangan selanjutnya. Kekristenan-Yahudi secara bertahap mengalami kemunduran, sementara gereja non-Yahudi berkembang dan kemudian dikenal secara luas di dunia. Kebutaan historis akan akar Yudaisme ini telah melatarbelakangi lahirnya Mazhab Tybingen yang mempertentangkan antara Kekristenan-Hellenis Paulus dengan Kekristenan Yahudi Petrus. Kekristenan yang ada sekarang dianggapnya sebagai Aoagama Paulus,Ao karena anggapannya adalah bahwa Paulus telah menghapuskan Torah dari gereja perdana. Teori Pauline Christianity ini kemudian dikembangkan oleh para polemikus Muslim untuk menyerang Kekristenan. Sementara di lingkungan Kristen sendiri, yang selama ini membaca teksteks PB dari lensa modern yang terlepas dari akar Yahudi, telah melahirkan antipati kepada semua yang berbau Yahudi. Mengingat masih minimnya kajian tentang relasi antara hukum Nuh dan putusan Konsili Yerusalem, serta belum adanya penelitian yang membaca Kisah Para Rasul 15 dari perspektif pluralisme hukum, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur pluralisme hukum dalam Torah dan perkembangan formulasinya dalam legislasi rabinik, mengidentifikasi paralel historis-yuridis antara Tujuh Hukum Nuh dan kepuMark D. Nanos. AuA Torah-Observant Paul?: What Difference Could It Make for Christian/Jewish Relations Today?Ay paper presented to the Christian Scholars Group for Christian/Jewish Relations, (Boston, 2. , 45. 7 Daniel Boyarin. AuA Radicl Jew: Paul and the Politics and IdentityAy (Barkeley: University of California Press, 2. , 52. 8 Ernast Cary. Dio Cassius Roman History. Book LXI-LXX (Harvand: Harvard University Press, 1. , 69:12. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 918 B. Noorsena. Pluralisme hukum dalam TorahA tusan Konsili Apostolik Yerusalem, serta menunjukkan bagaimana pluralisme hukum, baik dalam kerangka Mosaic maupun Noahide, memengaruhi pola pelayanan gereja perdana. Penelitian ini secara metodologis menggunakan pendekatan kualitatif historis-teologis, yang terdiri dari analisis tekstual-kritis . extual analysi. , untuk menganalisis teks-teks Torah. Mishnah, dan Talmud dan Perjanjian Baru. historis-komparatif . istorical comparativ. untuk membandingkan antara sumber-sumber sejarah Yudaisme dengan keputusan gereja perdana, terutama literatur bapa-bapa gereja perdana. dan hermenetik-Kontekstual . ermenetic contextua. , yaitu menganalisis teks-teks PB dan konteksnya dalam horizon hukum Yahudi. Pluralisme Hukum dalam Torah dan Perkembangannya Pluralisme hukum berakar dalam narasi Torah itu sendiri, khususnya sebagaimana tercermin dalam pengaturan mengenai orang-orang asing atau pendatang yang menetap di wilayah Israel, di mana ketentuan hukum yang diberlakukan bagi mereka berbeda dari hukum yang berlaku bagi penduduk asli. Orang asing (AAu AAgerAy, jamak: AAu Ae uoyAgermA. adalah penduduk non-Israel yang berada di antara kaum Israel. Torah menekankan perlakuan terhadap orang asing dengan baik dan adil. Mereka tidak boleh ditindas, karena Israel sendiri pernah menjadi orang asing di tanah Mesir (Kel. , dan harus mengasihi mereka seperti Israel mengasihi diri sendiri (Im. 19:33-34. Ul. Orang-orang asing dibagi dalam 2 kategori, yaitu AieA . er ha-saAoar. orang asing yang tidak meneta. dan A( A i Ager ha-gar. orang asing yang meneta. Dan di antara orang-orang asing yang menetap. Auger ha-garAy dibagi dalam 2 klasifikasi, yaitu A( e icAger toshav. orang asing yang mengikuti agamanya sendir. dan A( A eAgeir tsedeq. orang asing yang masuk agama Yahud. Secara prinsip, semua orang asing diperlakukan sama dengan penduduk Israel. Dalam hukum etis dan moral yang universal, baik warga Israel maupun warga asing diberlakukan hukum setara berlandaskan keadilan dan kebenaran (Im. 24:22. Bil. , yakni dilarang membunuh, mencuri, dan berbohong (Im. 24:22. Bil. wajib mengikuti hukum kebersihan (Im. dan melindungi orang miskin dan lemah (Kel. 22:21-24. Im. 19:33-. Untuk orang asing yang menetap diwajibkan menghormati hari Sabat dan hari-hari raya Israel (Kel. 20:10. Im. , serta wajib mempersembahkan korban api-apian (Bil. 15:15-. , namun tidak diwajibkan mengikuti hukum sunat (Kel. 12:48-. , dan tidak berlaku hukum makanan (Im. 11:1-47. Ul. 14:3-. Mereka boleh makan daging binatang yang disembelih tidak sesuai dengan hukum Yahudi, dan orang Israel boleh menjualnya kepada mereka (Ul. Ketika tanah Israel jatuh ke tangan asing (Yunani dan Rom. , tantangan masyarakat yang plural membutuhkan legislasi hukum yang lebih kompleks. Menurut Neusner, dalam menghadapi berbagai tantangan baru yang tidak seluruhnya tertulis dalam Torah, tradisi lisan Torah menjadi rujukan yang penting. Melalui prinsip AuEin chadasah ba-TorahAy . idak ada yang baru dalam Taura. , yang mengajarkan bahwa segalanya sudah ada dalam Torah, dikembangkan konsep keadilan dan kebijaksanaan Tuhan mencakup juga bagi kaum non-Yahudi. 9 Relasi Yahudi dan bukan Yahudi tidak selalu berjalan ideal. Pada masa pra-Makkabe. Sirakh 10:19 mencatat relasi ideal Yahudi atau bukan Yahudi: AuBangsa yang dihormati adalah mereka yang takut akan Tuhan, dan bangsa yang dicela adalah mereka yang melanggar hukum. Ay Relasi buruk mereka terjadi pada masa Makkabe, meskipun posisi non-Yahudi tetapi diakomodasi: AuTorah nilmedah be shivAoim panimAy (Torah dipelajari dengan 70 waja. Angka 70 merupakan Jacob Neusner. The Theology of Oral Torah Revealing the Justice of God, (McGill-QueenAos University Press, 1. , 376. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 919 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 simbol 70 bangsa-bangsa keturunan Nuh dalam Kejadian 10, untuk memberi ruang bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Hukum Musa yang Terdiri dari 613 Mitzvot Sejak abad i M, berdasarkan khotbah Rabbi Simlai. Talmud menjabarkan hukum Musa dalam A( oe iiATaryag Mitzvot. 613 atura. Menurut Makkot 23b, dari bentuk formulasi hukumnya, 613 aturan ini dibagi ke dalam 2 bagian: A( iU AiAmitzvot asheh. aturan yang berisi perinta. terdiri 365 perintah dan A( iU u a AiAMitzvot Lo TaAoasheh. aturan yang berisi laranga. terdiri dari 248 larangan. Ditegaskan 613 mitzvot ini hanya mengikat Israel dan tidak berlaku bagi bangsa-bangsa lain, namun apabila non-Yahudi ingin menjalankannya, mereka harus masuk perjanjian melalui konversi yang disebut A( A eAger tzedeq. orang asing yang sale. Selanjutnya, berdasarkan Ul. 6:20 mitzvot Musa dalam 3 kategori: . AAu EiooyAmisphatim,Ay merupakan perintah yang jelas, misalnya: AuJangan membunuh,Ay AuJangan berzinah,Ay atau aturan universal yang berlaku bagi semua bangsa. AAu AeAedot,Ay yaitu perintah dalam bentuk memorial yang hanya berlaku bagi Israel. Misalnya, larangan memakan daging yang menutupi pangkal paha (Kej. , larangan memasak daging bersama susu induknya (Kel. 23:19, Kel. 34:26. Ul. AAu NooyAchukim,Ay merupakan perintah khusus tanpa alasan rasional, yaitu aturan makanan yang halal dan haram (Im. Perintah yang berisi aturan makanan ini kini lebih dikenal sebagai AAu AAkashrut,Ay yang mengatur makanan mana yang diklasifikasi AAuiciAkosherAy dan mana yang AAu u a AAlo-kosher,Ay11 yang juga hanya berlaku bagi orang Yahudi. Tujuh Hukum bagi Keturunan Nuh Istilah "Noahide Laws," khususnya klasifikasinya dalam tujuh perintah, tidak dijumpai secara eksplisit dalam Torah dan kitab-kitab PL lain. Formulasi hukum Nuh mengacu kepada perjanjian Tuhan dengan Nuh dalam Kej. 9:1-16. Rujukan tertua tentang hukum Nuh dijumpai dalam A( ioicuoyASefer HaYovelim. Book of Jubilee. dari abad i SM,12 yang salah satu fragmennya ditemukan di Laut Mati (Dead Sea Scroll. 13 Menurut Literatur ekstra-kanonik ini, pasca-Air Bah Tuhan mengadakan perjanjian dengan Nuh, yang harus diajarkan kepada semua anakanaknya segala perintah, ketetapan, dan hukum: A( ui eAle-Aoasot tsedeq. menjalankan keadila. A( uui c iiyAle-kshot bashar ervatem. menutupi ketelanjangan merek. A( uco a ciayAle-barekh et boram. mengagungkan Pencipta merek. A( uuce a iac ia iayAle-keved et ha-av we et ha-am. menghormati ayah dan ibu merek. A( uaiic ao a iiAle-ahuv ish et raAoahu. saling megasihi sesam merek. 10 Larangan makan daging yang menutupi pangkal paha untuk mengingat kisah Yakub yang namanya diubah menjadi Israel dalam pergulatan AutheofaniAy-nya dengan Malaikat (Kej. , dan pesan di balik larangan dalam Kel. 23:19 agar Israel tidak serupa dengan bangsa lain yang memakai simbol ini untuk memuja dewi Stanislav Segert. AuAn Ugarit Text Related to the Fertility Cult (KTU L. Ao, dalam http://w. 11 Ungkapan AiA c A( Atahor. dan A( Aonatame. adalah klasifikasi syarat korban, maknanya tidak sama dengan halal-haram dalam Islam. 12 Michael Segal. The Book of Jubilees: Rewritten Bible. Redaction. Ideology and Theology, (Leiden-Boston: Brill, 2. , 35 . 13 J. Amanda McGuire, "Sacred Times: The Book of Jubilees at Qumran," Papers 2, (Michigan: Andrews University, 2. https://digitalcommons. edu/cgi/viewcontent. cgi?article=1003&context=papers KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 920 B. Noorsena. Pluralisme hukum dalam TorahA A( ui a ioiy uu nioy ioiai iuu iiuiAle-shmor et nishotehem me-kal zanonim we tomaAoah u-me kal awola. menjaga jiwanya dari segala bentuk perzinahan, kenajisan dan semua kejahata. Hukum pra-Musa ini diformulasikan dalam A( c ii co ASheva Mitzvot BAonei Nocah. ketujuh perintah bagi keturunan Nu. , seperti dirumuskan dalam Mishneh Torah 6:1. Sifre Devarim 343:6, dan Talmud Sanhedrin 56a: A( oAdinin. penyelenggaraan mahkamah yang adi. A( iAy c ABirkat HaShem. menista Tuha. A( cUei niAAvodah zarah. penyembahan berhal. A( eoAo oUAGilui 'Arayot. percabulan, imoralitas seksua. A( ouA oyASefiqut Damim. penumpahan dara. A( AnuAgezel. mencuri, merampo. A( Aac ioAEver min ha-chay. memakan daging binatang yang mati diceki. Menurut Rabbi Moshe ben Maimon . 8-1204 M), setiap orang non-Yahudi yang menaati ketujuh hukum ini disebut A( e icAger toshav. orang asing yang bai. atau Aoeo aii iiuyA . hasedei umat ha-Aoalam. kaum saleh dari bangsa-bangsa lai. , dan mereka mendapatkan bagian dalam Auolam habaAy . unia yang akan datan. Paralel Historis-Yuridis Tujuh Hukum Nuh dan Konsili Apostolik Yerusalem Konteks yang melatarbelakangi Konsili Rasuli Yerusalem pada tahun 49 M adalah karena beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara Kristen non-Yahudi: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan" (Kis. Yudea adalah pusat gereja berlatar belakang Yahudi yang disebut A" ioyANotzrim" (Nasran. , sebutan bagi para pengikut Yesus dari Nasaret dalam AuBirkat Ha-Minim,Ay16 sementara mereka menyebut dirinya pengikut jalan Tuhan (Kis. 9:2. Kompleksitas warisan gereja ini mengemuka ketika E yOAO AEAOC . on Nazoraion aireseos. sekte orang Nasran. ini semakin memperluas jangkauan misi mereka kepada bangsa-bangsa non-Yahudi di Anthiokia, di mana murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen (Kis. 11:26. AEEsC AuKhristianousA. Lebih jauh, masalahnya berawal dari banyaknya orang Farisi yang menjadi pengikut Kristus, dan mereka memaksakan paradigma lama, yang lebih jauh bisa dilacak dari masa pra-Kristen, ketika orang-orang Farisi melakukan proselitisasi kaum Edom, salah satunya Klan Antipater, ayah Herodes Agung, kira-kira abad ke-2 SM. Mat. 23:15 mencatat kritik keras Yesus karena motif bisnis Farisi untuk menarik pundi-pundi kekayaan Edom, demi pertarungan politis mereka melawan Saduki. Padahal pemaksaan A( o ouiABAorit Milah. Perjanjian Khita. bagi non-Yahudi jelas-jelas bertentangan dengan prinsip pluralisme hukum dalam Torah. Dalam klasifikasi hukum Yahudi, sunat termasuk A( AeAedot. hukum peringata. yang Teks Ibrani AuBook of Jubilees VIIAy, lengkapnya: A a uu iA,Acoicu i ioy iiaou i ]uue[ a co coiA A uaiic ao a ii iuiA,A iuco a ciay iuuce a iac ia iayA,A ui e iuui c iiyA,Ai a oe ia io ioe ccoiA Aa ioiy uu nioy ioiai iuu iiuiA. https://w. org/Book_of_Jubilees. 1-2?lang=bi 15 Teks asli Traktat Sanhedrin 56a: ,AouA oyA A AA,A oAo oUA,A cUei niA,A Ac iAyA,A c U oAA Ao Ae o oA:AOA A A iAac ioA,A ieAnuA, dikutip dari w. Istilah AAu iAyABirkat HaShemAy . emberkati YHWH/TUHAN) adalah eufemisme dari AAu uu iyAqilelat HaShemAy . enista YHWH/TUHAN). 16 Fr. Frederic Manns. OFM. John and Jamnia. How the Break Occurred Between Jews and Christians c. 80100 AD (Jerusalem: Fransiscan Printing Press, 2. , 25-26. Cf. Fr. Bellarmino Baggati. OFM. The Church of the Circumcission. History of Archeology of the Judaeo-Christians (Jerusalem: Fransiscan Printing Press, 1. , 85. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 921 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 hanya berlaku bagi Yahudi. Begitu juga A( AAkashrut. aturan makana. yang dipaksakan kepada orang-orang Kristen non-Yahudi di Galatia juga bertabrakan dengan hukum Musa, karena termasuk klasifikasi A( NooyAchukkim. hukum khusu. yang hanya berlaku bagi Yahudi. Terlepas dari istilah AuNoahide LawsAy yang masih menjadi kontroversi di kalangan Kristen, tetapi bila dicermati putusan Konsili Yerusalem, sebenarnya itu adalah penekanan kembali hukum pra-Musa bagi bangsa-bangsa non-Yahudi. Kisah Para Rasul 15:19-21, 29, dan 21:25 merujuk kembali pada Noahide Laws agar menjauhkan diri dari makanan persembahan berhala, percabulan, daging binatang yang mati dicekik, dan darah. Keempat hukum ini secara eksplisit paralel dengan traktat Sanhedrin 56a, yaitu larangan A( cUei niAavodah zarah. penyembahan berhal. A( eoAo oUAgilui 'arayot. percabulan, imoralitas seksua. A( Aac ioAever min ha-chay. makan daging binatang yang mati diceki. , dan A( ouA oyAsefiqut damim. penumpahan dara. Selain keempat putusan yang secara eksplisit merujuk pada Hukum Nuh, perlu dicermati juga ungkapan Aoberbalik kepada AllahAo (Kis. dan Aoberbuat baikAo (Kis. , yang sebanding dengan formulasi hukum sebagai AokonsideransAo dan juga sejajar dengan aturan hukum pra-Musa. Ungkapan Aumenimbulkan kesulitan bagi bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada AllahAy (Kis. paralel dengan A( uu iyAqilelat HaShem. menista Tuha. , dan ungkapan: AuJikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baikAy (Kis. paralel dengan A( AnuAgezel. jangan mencuri, jangan merampo. Apabila dibandingkan dengan formulasi hukum modern, konsiderans terdiri dari Aumengingat,Ay yaitu landasan yuridis putusan undangundang, dan Aumenimbang,Ay yang berupa pertimbangan etis-filosofis dan sosiologis lahirnya putusan hukum. Bukti-bukti identifikasi Kisah Para Rasul 15 dengan Hukum-hukum Nuh bisa kita telusuri dari tulisan para bapa gereja terawal. Meskipun tidak merinci isinya. St. Irenaeus dari Lyons . -202 M), dalam AH i. 11:8, menyebut Perjanjian Nuh di antara empat perjanjian Tuhan. Karena alasan inilah ada empat perjanjian () utama yang diberikan kepada umat manusia, yaitu perjanjian dengan Adam sebelum air bah. perjanjian Nuh setelah air bah. pemberian Torah kepada Musa. dan yang memperbarui manusia dan merangkumnya dalam diri-Nya sendiri melalui Injil, mengangkat dan menopang manusia di atas sayap-Nya menuju kerajaan surgawi. 17 Dalam kaitannya dengan tidak ada kewajiban sunat bagi bangsa-bangsa lain. St. Irenaeus merujuk Abraham yang dipilih sebelum ia disunat dan tanpa merayakan Sabat. Lot yang diselamatkan tanpa disunat dan memelihara Sabat. Henokh yang menyenangkan Tuhan meskipun tidak disunat, begitu juga dengan Nuh, yang menyenangkan Tuhan meskipun tidak disunat dan menerima bahtera, terpeliharanya dunia kedua dari ras manusia (AH. IV,16:. St. Agistinus dari Hippo . -430 M) lebih eksplisit menyebut adanya aturan yang diperintahkan di zaman kuno kepada Nuh sendiri setelah banjir besar, sambil mengutip Kisah Para Rasul 15:29 yang mewajibkan bangsa-bangsa lain untuk menjauhi percabulan, dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari binatang yang mati dicekik (CF xII, 19 Tanpa menyebut nama Hukum-hukum Nuh. Didache ( 90 M) memberikan panduan hukum-hukum moral yang paralel sebagai penuntun jemaat. 20 Jadi, kekristenan awal adalah Alexander Robert & James Donaldson. Ante Nicene-Fathers. Volume I (Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1. , 428. 18 Robert dan Donaldson, 481. 19 Schaff. 20 Panduan etis lebih rinci dari prinsip-prinsip yang sama dalam hukum Nuh, dalam Didache diperdalam dengan prinsip AAu A oe uOU iAasu seyag la-TorahAy . embuat pagar menglilingi Tora. , yang juga diajarkan Yesus KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 922 B. Noorsena. Pluralisme hukum dalam TorahA gerakan yang berada dalam orbit hukum Yahudi, namun menata ulang kategori-kategori tersebut melalui pendekatan kristologisnya. Pluralisme Hukum Yahudi dan Pengaruhnya pada Pola Pelayanan Gereja Perdana Pluralisme Hukum Negara-Hukum Rakyat dan Pluralisme Intern-Hukum Yahudi Mengacu pada John Griffiths bahwa dalam pluralisme hukum terdapat lebih dari satu aturan hukum dalam suatu lingkaran sosial. selain sistem hukum negara . tate la. , hidup pula sistem hukum rakyat . olk la. atau hukum agama . eligious la. 21 Dalam konteks Yudaisme era Bait Suci Kedua, terjadi 3 model pluralisme hukum, yaitu pluralisme hukum negara dengan hukum agama. pluralisme internal hukum agama yang diterapkan dalam lingkungan Yahudi. dan pluralisme internal hukum Yahudi yang berlaku bagi komunitas Yahudi maupun bangsabangsa non-Yahudi. Pluralisme hukum negara dan hukum rakyat, direfleksikan melalui prinsip Aeoa euua A( eoaAdina dAoMalkhuta dina. hukum negara adalah hukum kita jug. 22 Keberagaman hukum ini muncul seiring dengan kondisi Israel pada periode tersebut yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Talmud Bavli. Baba Kama 113a, menyebut. Aubahkan apabila hukum negara itu bertentangan dengan hukum kita. Ay Dalam penerapan praktisnya, umat Yahudi tetap diwajibkan membayar pajak, meskipun negara menggunakannya untuk membangun kuil berhala, dengan alasan bahwa Aupajak merupakan kewajiban sipil, bukan bentuk penyembahan berhala secara langsungAy (Avodah Zarah 16. Meskipun prinsip tersebut baru dirumuskan secara sistematis pada periode kemudian. Yesus telah menerapkannya dalam isu perpajakan dengan menyatakan. AuBerikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi milik AllahAy (Mat. Paulus selanjutnya menegaskan kewajiban ketaatan kepada pemerintah sebagai hamba Allah, sekaligus menetapkan batasannya, yakni bahwa otoritas negara berfungsi Auuntuk membalaskan murka Allah kepada mereka yang berbuat jahatAy (Rm. 13:1Ae. Pluralisme hukum yang diterapkan di lingkungan intern Yahudi direfleksikan dalam prinsip A( coy E oy uOUiAShivAoim panim La-Torah. 70 wajah Tora. Penerapan prinsip ini, misalnya, tercermin dalam perbedaan pendapat hukum antara Rabbi Hillel dan Rabbi Shammai. keduanya boleh dipilih karena A( ecAo a^ioy oyAbe eilu ve-eilu divrei Elohim hayim. itu dan itu semua firman Allah yang hidu. 23 Sabda Yesus bahwa Musa mengizinkan perceraian karena kekerasan hati orang-orang Israel (Mat. dapat dibaca dalam terang perbedaan pendapat hukum antara dua rabi terkemuka tersebut, yang sama-sama mengizinkan perceraian, tetapi dengan kriteria yang berbeda: Hillel dengan alasan yang lebih luas, dan Shammai dengan syarat yang lebih ketat, yakni Aukecuali karena zinahAy . Yesus tidak secara eksplisit berpi- (Mat. 5:17-. AuAsu seyag laTorahAy adalah disiplin rohani prefentif, bukan sekedar agar seorang tidak berbuat jahat, tetapi mencegah sebelum itu terjadi. Tentang AAu cUei n iAAvodah ZarahAy. Didache 3:4 menasehatkan agar anak-anak Tuhan menjauhi praktek ilmu gaib, astrologi untuk kepentingkan diri sendiri, segala bentuk ilmu hitam, dan larangan bergabung dengan mereka, sebab semua perbuatan itu mengarah kepada penyembahan https://4marksofthechurch. com/the-didache/ 21 John Griffiths. AuWhat Is Legal Pluralism?Ay The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law 18, no. 1Ae55. 22 Talmud Bavli. Nedarim 28a dan Gittin 10b. https://w. org/topics/dina-dmalchutadina?sort=Relevance&tab=sources 23 Talmud Yershalmi. Berakot 1:4 dan Talmud Bavli. Evin (Yeramo. https://voices. org/sheets/52853. 4?lang=bi KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 923 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 hak pada Hillel maupun Shammai, melainkan mengarahkan diskursus kepada prinsip teologis yang lebih mendasar, bahwa Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan untuk menjadi satu daging (Mat. 19:4Ae. Dengan demikian, perbedaan kedua pandangan hukum tersebut diakui memiliki validitas kontekstual, namun ditegaskan kembali bahwa pemahaman tentang perceraian harus ditinjau dalam terang kebenaran ilahi yang menempatkan pernikahan dalam kerangka moral yang lebih tinggi. Pluralisme Intern-Hukum Yahudi yang berlaku bagi Yahudi dan bagi bangsa-bangsa lain, dijumpai dalam prinsip A( c i ucoy aiiASheva Mitzvot le-ShivAoim umot. 7 Hukum untuk 70 bangsa-bangs. Disamping 613 Hukum Musa, legislasi Yudaisme juga memberlakukan Tujuh Hukum Nuh bagi bangsa-bangsa lain. Angka 70 simbolis untuk seluruh umat manusia, berdasarkan 70 daftar bangsa-bangsa dalam Kejadian 10 yang semua menyebar dari keturunan Nuh melalui 3 putranya, yaitu Sem. Ham, dan Yafet. Formulasi Noahide Laws dalam legislasi Yudaisme ini dapat dikategorikan sebagai pengembangan hukum inklusif, karena mengakui lebih dari satu sistem hukum yang berbeda dan berupaya menemukan kesamaan dan kesepakatan di antara mereka berlandaskan prinsip keadilan. Paulus. Torah dan Legalisme Yahudi dalam Penerapan Pluralisme Hukum Paulus hanya bisa dibaca dalam konteks Yudaisme pada abad pertama Masehi dengan segala Bertitik tolak dari dalil AuKristus adalah Penggenap TorahAy (Rm. , bagi Paulus Torah itu kudus (Rm. , tidak dibatalkan oleh iman (Rm. , dan status Israel sebagai umat Perjanjian tidak pernah batal (Rm. 11:1-. Meskipun relasi antara Yahudi dengan Torah dan bangsa-bangsa lain dengan iman kepada Kristus telah diuraikan rinci dalam Roma Namun dalam praktiknya menimbulkan ketegangan. Pembacan tulisan Paulus, secara antinomistik, telah menghasilkan gambaran tentang ayat-ayat yang saling kontradiktif. Diskursus yang tidak tuntas mengenai apakah Torah dibatalkan atau tidak (Ef. 2:14-15. Rm. sunat masih diperlukan atau tidak (Kis. 16:1-3. Gal. , dan hukum kashrut dalam Torah (Im. Kis. 11:1-18. Gal. 2:11-. masih berlaku atau tidak, kini malah merambat ke ranah polemik Kristen-Islam. Upaya mengembalikan pembacaan Paulus kepada akar-akar Yahudinya justru membuka ruang bagi perkembangan dialog YahudiAeKristen. Jauh sebelum munculnya Mazhab Tybingen, yang menafsirkan Paulus terutama dalam kerangka Hellenisme. Rabbi Jacob Emden . 7Ae1776 M) telah melihat bahwa Paulus dalam pelayanannya kepada bangsa-bangsa nonYahudi mengacu pada hukum Nuh (Rm. Emden menekankan bahwa, penegasan Paulus dalam Galatia 5:3 justru sejalan dengan Yoma 85b: AuAbarangsiapa menyunatkan dirinya, ia wajib melakukan seluruh mitzvot TarahAy. 24 Paulus melarang menyunatkan Titus, karena Titus orang Yunani terikat Hukum Nuh dan tidak ada kewajiban untuk sunat (Gal. Timotius disunatkan karena ibunya seorang Yahudi (Kis. Sebagai seorang rabi Yahudi. Emden bahkan menyatakan bahwa AuYesus dari Nazaret dan Paulus membangun iman bagi bangsa-bangsa non-Yahudi bukan dengan memperkenalkan iman yang baru, melainkan dengan mengembalikan Tujuh Hukum Nuh yang telah dilupakan. Ay25 Pemikiran Emden dilupakan selama beberapa generasi, sampai akhirnya dikembangkan dalam AuNew Perspective on Paul,Ay khususnya melalui E. Sanders, yang meruntuhkan pembacaan Paulus yang didominasi tafsiran antinomisme. Sanders membalikkan argumentasi Tubingen: Paulus harus dilihat dari Yudaisme pada masanya di mana iman dibangun di atas Yoma 85b, http://w. Antony Hylton. AuPaul the Scholar: Rabbi Jacob Emdens InsightAy. The International Journal. Volome 4. No. March 2015, 6-7. 25 Yoma 85b. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 924 B. Noorsena. Pluralisme hukum dalam TorahA Aucovenantal nominismAy . itzvot Perjanjia. ketimbang kalkulasi perbuatan dan pahala,26 meskipun melihat kritik Paulus terhadap Yudaisme sekedar Aukarena Yudaisme bukanlah Kekristenan. Ay Dunn menolak argumentasi Sanders, sebab sebenarnya kritik Paulus tidak ditujukan kepada Torah, tetapi kepada hukum perintah sebagai penanda batas etnis, khususnya soal sunat dan persekutuan meja makan. 27 Selanjutnya, kritik kepada agama Yahudi tidak merujuk Yudaisme sejati dengan keyakinan kepada Tuhan dan keselamatan, sebab kata IOEAA (Ioudaism. (Gal. 1:13-. lebih merujuk gaya militan keagamaan Yahudi. Dari hasil penelitian penulis, pluralisme hukum pada zaman rasuli yang menyangkut konsep dan kendala-kendala penegakannya paling jelas digambarkan dalam Efesus 2:11-22. Paulus menyinggung relasi antara Aoorang-orang bukan Yahudi menurut dagingAo atau Aoorangorang tidak bersunatAo dengan Aosunat yang dilakukan tangan manusiaAo (Ef. Aoyang jauhAo dengan Aoyang dekat,Ao Aoorang asing dan pendatangAo dengan Aokewargaan IsraelAo (Ef. 2:11, 13, . Deskripsi ini jelas menggemakan polarisasi yang salah satunya akibat pluralisme hukum yang tidak dijalankannya dengan semestinya. Situasi yang dihadapi Paulus di Efesus ini menjadi potret buram, yang disebut Griffiths. AuApluralisme hukum, di mana beberapa sistem hukum berfungsi secara bersamaan dalam satu entitas geografis, kohabitasi hukum resmi yang berstandar agama dan adat istiadat, yang bisa mengakibatkan yurisdiksi tumpang tindih dan interpretasi hak yang kontradiktif. Ay29 Sebab idealnya, relasi keduanya yang terikat oleh hukum yang berlaku bagi masingmasing akan melahirkan perdamaian, tetapi nyatanya menimbulkan tembok pemisah yang saling membenci dan memandang rendah yang lain, atau dalam relasi tidak setara. Namun, dengan kematian Kristus sebagai puncak kasih terbesar, kebencian antarkelompok Dalam makna ini kita bisa memahami teks Efesus 2:14-15 yang ternyata tidak bertentangan dengan Roma 3:31 dan 10:4. 30 Jadi, yang dibatalkan dengan kematian Kristus bukan Torah, tetapi Auhukum ketentuan dalam bentuk regulasi,Ay yaitu A( NooyAchukim. dan A( AeAedot. hukum memoria. , yang mestinya hanya berlaku bagi Yahudi tetapi diperintahkan bagi bukan YahudiAy (Kis. Tumpang tindihnya aturan yang dipaksakan ini berakibat menjadi tembok pemisah dan Namun wafat Kristus, puncak pengorbanan kasih terbesar-Nya, mengalahkan kebencian sehingga E UAA E aE a UAAE EAEC . on nomon ton entolon en dogmasi kathargesas. hukum ketentuan dalam bentuk regulasi-regulasi menjadi batal atau tidak ada efe. Kata EAEC AukarargesasAy berasal dari kata EAO . menghapuskan, menghancurkan, membatalkan, membuat tidak efekti. Makna Autidak efektifAy bisa ditelusuri dari akar kata E . down to a point, turun ke titi. , aAO 26 E. Sanders. Paul and Palestinian Judaism: A Comparison of Patterns of Religion. (Minneapolis: Fortress Press, 1. 27 James D. Dune. AuThe New Perspective: Whence. What and WhitherAy, dalam The New Perspetive on Paul: Collected Essays (Tubingen: Mohr Siebeck, 2. , 28. 28 Mar D. Nanos. AuA Torah-Observant Paul?: What DifferenceCould It Make for Christian Jewish Relations. May 9, 2025, 16. 29 Griffiths. AuWhat Is Legal Pluralism?Ay 30 Teks asli: E iNA, a EN EA aE E UAA E aE a UAAE EAEC. A EC s e a cIE AC i EAOA A AA. AuSebab dengan matinya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahteraAy (TB). Cf. AuHe made of no effect the law consisting of commands and expressed in regulations, so that He might create in Himself one new man from the two, resulting in peaceAy. https://w. com/bible/1713/EPH. CSB KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 925 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 . , turun ke suatu titik menjadi tidak efektif, sebanding dengan istilah hukum modern Aubatal demi hukum,Ay31 karena tidak sesuai dengan tujuannya semula. Salkinson-GinsburgAos Hebrew New Testament (SGH) menerjemahkan frasa ini dengan mengembalikan konteks Yahudi: A( aU iNoy OUiAet mitzvot ha-chuqim ba-Torah. aturan huqim dari Tora. ,32 yaitu aturan khusus kashrut atau makanan yang kosher dan lo-kosher (Im. yang hanya berlaku bagi Yahudi. Juga. DelitzschAos Hebrew New Testament (DH) menerjemahkan a A OU i i eAnUAoiAe. torat ha-mitzvot be gezirotehem. Taurat dari ketentuan-ketentuan dengan gezirot-nya. 33 Kata AAu AnAgezerahAy . amak: AAu eAnUAAgezirotA. dijumpai juga dalam Alkitab, maknanya Auputusan,Ay AudekritAy (Dan. 2:5. 2:9. Jadi, yang AodibatalkanAo atau lebih tepatnya Aoyang menjadi batalAo adalah putusan-putusan hasil yurisprudensi dari penafsiran Torah, yang dipaksakan kepada kaum non-Yahudi, khususnya hukum khitan dan aturan-aturan makanan yang dari dahulu sampai sekarang memang tidak berlaku bagi mereka. Dalam kaitan dengan pluralisme hukum. Griffiths mengidentifikasi beberapa masalah, antara lain: konflik antar sistem hukum, karena adanya beberapa sistem hukum yang berbeda mengakibatkan Auconflict of lawsAy. ketidakpastian hukum, karena ketidakjelasan sistem hukum manakah yang berlaku dalam kasus tertentu. ketidakadilan, karena sistem hukum yang berbeda bisa memiliki standar dan prosedur yang berbeda pula. Untuk menyelesaikan masalah ini, solusinya antara lain pengintegrasian sistem hukum yang berbeda ke dalam satu sistem hukum yang lebih luas cakupannya, koordinasi dan kerja sama antar sistem hukum yang berbeda untuk menyelesaikan konflik demi lebih terjaminnya kepastian hukum, serta pengembangan hukum inklusif untuk mengakomodasi kebutuhan dan nilai-nilai masyarakat yang berbeda. Tumpang tindihnya aturan antara hukum Musa bagi Yahudi dan hukum Nuh bagi nonYahudi di Efesus menyebabkan Auconflict of law,Ay dan solusinya harus dikembalikan pada batas-batas berlakunya masing-masing hukum bagi dua pihak yang berseteru. Dalam alur legislasi yang sebangun. Gal. 2:8 menyebut Petrus Aurasul bagi orang-orang bersunatAy dan Paulus Aurasul bagi orang-orang tidak bersunat. Ay Pola ini dilanjutkan pada masa pascarasuli. Sebelum melanjutkan misinya ke Roma. Petrus menahbiskan dua uskup untuk Antiokhia, yaitu St. Evodius bagi jemaat Kristen non-Yahudi dan St. Ignatius bagi jemaat berlatarbelakang Yahudi. 35 Ketika St. Evodius menyerahkan kepemimpinan gerejawi kepada St. Ignatius, sejak sa- 31 Istilah EAO AukatargeoAy dalam Ef. 2:15 sebanding dengan ustilah hukum modern Aubatal demi hukumAy . iod ipso yure, van rechswege niete. Perjanjian sah apabila ada 4 syarat: subjektif . Kesepakatan para . Kecakapan, dan syarat objektif: . suatu hal tertentu dan . sebab yang halal. AuSuatu hal tertentuAy di sini . Pasal 1332-1333 Burgerlijk Wetboek/BW) memenuhi syarat perdata, sedangkan Ausebab yang halalAy (Pasal 1337 BW) artinya Ausesuai hukum yang berlaku, tidak melanggar kesusilaan dan tidak melanggar ketertiban umum. 32 Ef. 2:15. SGH: AiA AuA uUy>occU ii aiAaoci iaU iNoy OUi i oy uaoae e U iAcn a A AuSebab di dalam diri-Nya sebagai manusia. Ia telah membatalkan perseteruan dan aturan-aturan chuqim dalam Taurat, sehingga telah menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru dalam diri-Nya dan dengan demikian Ia telah mengadakan damai sejahtera bagi kitaAy. Ha-BAorit Ha-Chasdasah-The New Testament (London: The Society for Distributing Hebrew Scriptures, 1. , 383. 33 Ha-BAorit Ha-Chadasah Al-AoAhd al-Jadid - The New Testament in Hebrew and Arabic (England: The Society for Distributing Hebrew Scriptures, 1. , 399. 34 John Griffiths. AuWhat Is Legal Pluralism?Ay The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law 18, no. 1Ae55, https://doi. org/10. 1080/07329113. 35 Mor Ignatius Zakka I Iwas. Kanisat Anthakiyyat As-Suryaniyyat: 'Abara AI-'Ushur (Damascus: Al Mathran Yuhanna Ibrahim, 1. , 4-9. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 926 B. Noorsena. Pluralisme hukum dalam TorahA at itu dikenal istilah AA A AAEE aE . ian again katholiken kai apostoliken ekklesian. satu gereja yang kudus, am, dan rasul. Fakta ini membuktikan bahwa Gereja perdana mengenal kategori-kategori hukum dalam pelayanannya, yang berlaku untuk Israel dan untuk bangsa-bangsa lain. Apabila ada nonYahudi yang percaya kepada Kristus, mereka tidak diharuskan terlebih dahulu konversi penuh ke Yudaisme dengan disunat (AAu A eAger tsedeqA. , melainkan cukup dalam posisi Ae icA Auger toshavAy atau A( oeo aii iiuyAchaseddei Aoumot ha-olam. umat bangsa-bangsa yang sale. Mereka yang terikat Hukum Nuh langsung diterima menjadi anggota gereja. Nanos membuktikan pula, keragaman aturan hukum tetap berlaku sekalipun keduanya sudah menjadi pengikut Mesias. AuPartisipasi setara dalam Mesias bukanlah penghapusan identitas. Orang Yahudi tetap orang Yahudi dan orang non-Yahudi tetaplah orang non-Yahudi, dengan satu indikator utama perbedaan adalah relasinya dengan Torah. Ay37 Keselamatan, pembenaran, intimasi dan aksesibilitas kepada Tuhan, antara kedua umat yang percaya kepada Yesus, semuanya setara. Tidak ada keharusan bagi orang Yahudi meninggalkan Yudaisme untuk menjadi non-Yahudi, dan non-Yahudi tidak perlu konfersi ke Yudaisme dengan segala kewajiban menjalankan mitzvot Torah. Pluralisme Hukum dalam Dialog Teologis Terlepas dari kontroversi penamaan, formulasi, dan penegakannya. Noahide Laws telah diakui secara kongres Amerika Serikat, bersama Presiden George Bush, melalui Hukum Publik 10214, diakui AuAmerika Serikat didirikan berdasarkan Tujuh Hukum Nuh, dan hukum-hukum ini telah menjadi landasan masyarakat sejak awal peradaban. Ay Hukum Nuh mendasari berdirinya peradaban, dan melemahnya prinsip-prinsip ini baru-baru ini mengancam tatanan masyarakat yang beradab, dan karena relevansi dalam rangka mendidik warga negara Amerika Serikat dan generasi mendatang. Hukum Publik juga menetapkan 26 Maret 1991 sebagai Hari Pendidikan AS. Meskipun dasar-dasar formulasi Hukum Nuh berasal dari Alkitab dan sejarah keberdampingan panjang Yahudi dan Kristen, namun masih banyak umat Kristen menolak formulasinya. Salah satu alasan keberatan itu, yang paling sensitif, adalah A( cUei niAabodah zarah. penyembahan berhal. , karena kekhawatiran kalau prinsip ini dibenturkan dengan ajaran Trinitas. Penolakan lain didasarkan pada alasan soteriologis, bahwa mereka yang menerima Tujuh Hukum Nuh disebut umat bangsa-bangsa yang saleh dan akan mendapat bagian di dunia yang akan datang,39 padahal dalam Konsili Yerusalem masih ditambahkan bahwa keselamatan itu karena kasih karunia Tuhan Yesus Kristus (Kis. Keberatan ini sebenarnya sudah terjawab dengan diterimanya Hukum-hukum Nuh dalam Kongres AS, buktinya tidak pernah ada hegemoni tafsir yang dipaksakan kepada penganut Kristen. Memang ada rabbi-rabbi tertentu yang memandang Trinitas sebagai A( OAAshittuf. menyekutukan Tuha. Tetapi ada rabbi yang lebih moderat yang menilai Trinitas hanya salah satu bentuk ekpresi dari monotheisme. Begitu juga syarat keselamatan oleh kasih kerunia Yesus tidak kontradiksi dengan Hukum 36 WCC Publications. Confessing the One Faith. Faith and Order. Paper No. 153 (Geneva: World Council of Churches, 1. , 10-11. 37 Nanos. AuA Torah-Observant Paul?,Ay 38 AuPenegasan ini bunyinya: AuCongress recognizes the Historical Tradition of Ethical Values and principles which are the basis of civilized society and upon which our great Nation was founded A these ethical values and principles that have been the bedrock of society from the dawn of civilization, when they were known as the Seven Noahide Laws". https://w. gov/content/pkg/STATUTE-105/pdf/STATUTE-105-Pg44. 39 Maimonides. Hilkhot Melakhim, translated by Brauner. Reuven, 8:11-14. https://w. org/Deuteronomy. 11?lang=bi&aliyot=0 KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 927 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 Nuh, karena norma-norma etis universal tanpa memandang agama ini, juga tidak dimaksudkan untuk terlalu jauh menilai keyakinan lainnya. Sedangkan, kekhawatiran akan terjadinya tumpang tindihnya regulasi dalam pluralisme hukum yang bernuansa agama dan adat istiadat, seperti disebutkan J. Griffiths, bisa dipahami kalau Tujuh Hukum Nuh diberlakukan menjadi hukum positif, yaitu undang-undang dengan formulasi delik . dengan sanksinya. Kendatipun Hukum Nuh dijadikan hukum positif, penegakan hukumnya juga dilakukan oleh non-Yahudi sendiri. Makna Ausejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kotaAy (Kis. yang ditegaskan dalam kaitannya dengan rekomendasi kepada Hukum Nuh (Kis. , merujuk kepada AudininAy . ahkamah yang adi. Tosefta AoAvodah Zarah 9:4 menyebutkan: Au ieoo uoe uy oau iio uiioc coA A( eoo cooi ui uo co iio uiioc co eoo co uiyAmengenai dinin atau mahkamah pengadilan, seperti Israel wajib mendirikan mahkamah pengadilan di tiap-tiap kota. anak-anak Nuh juga wajib mendirikan mahkamah pengadilan di kotanya masing-masin. Seiring dengan berkembangnya dialog teologis antara Yahudi dan Kristen, pemahaman tentang pluralisme hukum yang berakar pada teks-teks Torah itu sendiri, memberikan kontribusi penting bagi gereja dalam menelusuri kembali akar-akar Yudaismenya. Proses ini mendorong terbangunnya kesalingpahaman antara Audua saudara satu TorahAy yang selama hampir dua milenium terpisah oleh sejarah. Dalam kunjungannya ke Yerusalem pada 21 Maret 2000. Paus Yohanes Paulus II berdoa di Tembok Ratapan dan memohon pengampunan atas konflik-konflik masa lalu yang berpuncak pada peristiwa Shoah (Holocaus. Pada kesempatan yang sama, ia menegaskan kembali posisi teologis Yahudi sebagai umat perjanjian, yang darinya gereja membawa nama Allah kepada bangsa-bangsa. 41 Relasi Israel dan bangsa-bangsa semakin diperdalam dengan ditandatanganinya deklarasi rabbi-rabbi ortodoks berjudul AuTo Do The Will of Our Father in Heaven: Toward a Partnership between Jew and Christian,Ay 3 Desember 2015, menyebut bahwa Yesus telah membawa kebaikan ganda bagi bangsa-bangsa, yaitu penguatan Torah Musa dan penanaman nilai-nilai moral melalui Tujuh Hukum Nuh. Kesimpulan Secara internal. Torah memuat aturan hukum yang pluralistik, yaitu hukum yanag berlaku bagi Israel dan hukum yang berlaku baagi bangsa-bangsa. Yudaisme sebelum Kekristenan, seperti tampak pada Sefer HaYovelim, yang mengembangkan Noahide Laws sebagai etika universal bagi bangsa-bangsa non-Israel, tanpa membedakan agama atau keyakinan. Membaca Paulus dalam konteks ini akan menjadi lebih jelas. Paulus tidak pernah membatalkan Torah (Rm. , yang Aumenjadi batalAy dalam Ef. 2:15 adalah Auaturan-aturan Chukim dan EdotAy yang seharusnya hanya berlaku bagi orang Yahudi, melalui regulasi-regulasi yang penerapannya dipaksakan kepada non-Yahudi. Karena itu, pluralism hukum ini menjadi dasar dialog Yahudi dan Kristen, seperti telah dirintis Rabbi Yacob Emden sejak abad XVi, dan kemudian disambut oleh para teolog Kristiani. Hasil penelitian ini bisa dijadikan kerangka baru untuk membaca teks-teks Kisah Para Rasul 15:1-32. Roma 9Ae11. Efesus 2:11-22 dalam konteks yang tepat. Dengan demikian pentingnya kajian teologis yang lebih mendalam, kajian komparatif antara hukum kanonik Gereja Tosefta AoAvodah Zarah 9:4, bisa diaksesAy https://w. org/Tosefta_Avodah_Zarah. 4?lang=bi https://w. org/en/news/this-week-in-jewish-history--pope-john-paul-ii-makesfirst-ever-pontifical-visit-to-israel 42 AuTo Do The will of our Father in Heaven: Toward a Pathnership between Jew and ChristianAy. Teks lengkap deklarasi dapat dibaca dalam https://w. us/dialogika-resources/documents-andstatements/jewish/orthodox-2015dec4 KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 928 B. Noorsena. Pluralisme hukum dalam TorahA perdana dengan legislasi rabinik pada era TanaAoit mendesak diperlukan. Meskipun istilah Noahide Laws lebih dikenal di kalangan Yudaisme, namun sumber-sumber patristik awal mengenal unsur-unsur hukum ini, khususnya St. Irenaeus yang menyebutnya Perjanjian Nuh. Unsur-unsur hukum Nuh yang disebut dalam Mishnah, yang ternyata juga diuraikan dalam Didache, perlu dikaji lebih lanjut. Referensi