Pengembangan Panduan Motivational Interviewing untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik dengan Keterampilan Berpikir Kritis Rendah PENGEMBANGAN PANDUAN MOTIVATIONAL INTERVIEWING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK DENGAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS RENDAH Della Agysta Putri Imanda Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya 20056@mhs. Bambang Dibyo Wiyono Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya bambangwiyono@unesa. Abstrak Motivasi belajar yang rendah pada peserta didik dapat mempengaruhi hasil belajar mereka. Berdasarkan hasil observasi di SMAN 2 Sidoarjo dan wawancara dengan guru BK di sekolah tersebut, ditemukan masalah terkait motivasi belajar yang rendah. Guru BK menyatakan bahwa penanganan motivasi belajar yang telah dilakukan kurang efektif. Untuk mengatasi masalah ini, buku panduan dianggap sebagai solusi yang sesuai untuk membantu guru BK. Buku panduan tersebut menjelaskan materi dan tahapan-tahapan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan buku panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas, menggunakan model pengembangan Borg and Gall yang terdiri dari sepuluh tahap penelitian, namun penelitian ini hanya mencapai tahap kelima, yaitu revisi produk. Hasil validasi dari uji ahli materi menunjukkan 90%. Dengan demikian, pengembangan panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas bagi guru BK memenuhi kriteria akseptabilitas. Kata Kunci: Panduan. Motivasi belajar, dan Motivational Interviewing. Abstract Low learning motivation among students can affect their learning outcomes. Based on observations at SMAN 2 Sidoarjo and interviews with the school's guidance counselors, issues related to low learning motivation were identified. The guidance counselors indicated that the interventions aimed at improving learning motivation had been ineffective. To address this issue, a guidebook was considered an appropriate solution to assist the guidance counselors. This guide explains the material and stages of Motivational Interviewing to enhance the learning motivation of senior high school students. This study aims to develop a Motivational Interviewing guidebook to improve the learning motivation of senior high school students, using the Borg and Gall development model consisting of ten research stages, although this study only reached the fifth stage, which is product revision. The validation results from material experts showed a score of 91. Thus, the development of the Motivational Interviewing guidebook to enhance the learning motivation of senior high school students for guidance counselors meets the criteria for Keywords: guide, learning motivation, and Motivational Interviewing. PENDAHULUAN motivasi belajar yang tinggi demi memaksimalkan pembelajaran yang didapatkan di sekolah. Adanya hubungan positif antara motivasi belajar dan hasil belajar suatu mata pelajaran menunjukkan bahwa motivasi belajar memiliki peran besar dalam pencapaian hasil belajar peserta didik (Muhammad, 2. Motivasi adalah dorongan atau kekuatan internal yang mendorong seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu (Muhammad, 2. Motivasi merupakan inti dari aspirasi dan pencapaian manusia. Oleh karena itu, motivasi sangat penting untuk berhasil dalam hal pendidikan dan tanpa adanya motivasi tidak ada yang Pendidikan berkontribusi secara signifikan pada perkembangan sosial dengan menyediakan lingkungan untuk interaksi interpersonal dan pembelajaran dinamika sosial, sebagaimana dibahas dalam studi (Wentzel, 2. Secara keseluruhan, kehadiran sekolah sangat penting tidak hanya untuk pembelajaran akademis tetapi juga untuk pertumbuhan pribadi, integrasi sosial, dan kesuksesan di berbagai bidang kehidupan. Sekolah sangat berperan penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran, namun peran peserta didik dalam pembelajaran merupakan yang utama. Peserta didik diharuskan memiliki Pengembangan Panduan Motivational Interviewing untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik dengan Keterampilan Berpikir Kritis Rendah mungkin tercapai, bukan hanya dalam pendidikan tetapi juga dalam kehidupan nyata. Untuk terus mencapai motivasi yang tinggi sangatlah penting karena motivasi adalah kekuatan yang mendorong peserta didik untuk menghadapi semua situasi sulit dan penuh tantangan (Gopalan dkk. ,2. kelompok hingga konseling individu dengan pemberian materi terkait motivasi belajar. Berdasarkan keterangan dari guru BK SMAN 2 Sidoarjo, usaha yang dilakukan oleh guru BK sudah cukup banyak, namun masih kurang menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini terjadi salah satunya dikarenakan muatan peserta didik yang terlalu banyak saat kegiatan Bimbingan dan Konseling, sehingga layanan yang diberikan kurang optimal dan peserta didik tidak begitu fokus dalam menerima layanan Bimbingan dan Konseling. Sehingga dibutuhkan layanan yang lebih efektif untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik dengan keterampilan berpikir kritis yang rendah. Motivasi dan proses pembelajaran merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Belajar menurut (Suardi, 2. dapat diartikan sebagai keseluruhan proses perubahan dalam diri individu yang meliputi pemahaman, keterampilan, dan perilaku sebagai hasil dari pengalaman yang dialami. Artinya, dengan belajar, seseorang dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Adanya motivasi belajar yang tinggi membuat peserta didik belajar dengan lebih giat, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik tersebut. Peserta didik yang memiliki tingkat motivasi belajar yang tinggi akan menunjukkan keberanian untuk bersaing, menerima umpan balik dengan baik, merasa tanggung jawab, dan memiliki dorongan kuat untuk mencapai tujuan. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat (Mawarsih, 2. bahwa motivasi belajar yang dimiliki peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar akan membantu peserta didik dalam meningkatkan prestasi belajarnya, prestasi belajar dapat diraih hanya jika peserta didik memiliki keinginan untuk belajar. Berdasarkan analisis hasil penelitian (Sarwanto et al. , 2. pada 29 peserta didik dan 3 guru di Sekolah Menengah di Malaysia, hanya 10% dari peserta didik yang memperoleh skor di atas kriteria kelulusan minimum dari sekolah, dan rata-rata kelas hanya mencapai 50 dari 100. Skor pada setiap indikator keterampilan berpikir kritis dari yang tertinggi hingga terendah, secara berturut-turut, adalah inferensi dengan rata-rata 70, analisis dengan rata-rata 63, interpretasi dengan rata-rata 56, dan penjelasan dengan rata-rata 50. Keterampilan berpikir kritis sangat penting, tapi pada kenyataannya, di lapangan, keterampilan berpikir kritis peserta didik SMA di Indonesia masih belum mencapai Pernyataan ini dibuktikan oleh (Karim & Normaya, n. ) dengan hasil studi Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) selama empat tahun terhadap peserta didik SMA dengan soal-soal tingkat kognitif tinggi menunjukkan bahwa peserta didik di Indonesia secara konsisten berada di peringkat bawah dalam hal kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan panduan Motivational Interviewing guna meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas, dengan target menghasilkan produk yang valid. Menurut (Hitchcock & Hitchcock, 2. proses berpikir secara kritis melibatkan identifikasi dan analisis masalah, klarifikasi makna, pengumpulan bukti, menilai bukti, informasi relevan lainnya, dan membuat penilaian Pemikiran kritis adalah salah satu tujuan utama pendidikan karena belajar berpikir secara kritis peserta didik menyelesaikan ketidakjelasan dan menerima atau beradaptasi dengan perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang terusmenerus. Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, guru pasti banyak menemukan macam-macam karakter peserta didik. Tidak hanya peserta didik yang rajin, tentu banyak ditemukan peserta didik yang malas, pintar, nakal, peserta didik dengan motivasi belajar yang tingi hingga yang rendah. Dalam lingkungan sekolah, masalahmasalah peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar sangat umum ditemui. Salah satu contoh masalah belajar yang umum ditemui di sekolah yaitu motivasi belajar dan keterampilan berpikir kritis peserta didik yang rendah. METODE Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang diadaptasi dari model pengembangan Borg & Gall . Penelitian ini dilakukan hingga tahap kelima, yaitu tahap Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas, dengan harapan produk yang dihasilkan memenuhi kriteria validitas. Data yang dikumpulkan dianalisis secara statistik menggunakan teknik yang sesuai. Peneliti akan menjelaskan prosedur yang harus diikuti dalam pembuatan produk yang akan dikembangkan. Berikut adalah tahapan-tahapan yang dilakukan oleh Di SMAN 2 Sidoarjo sendiri, terdapat jam mata pelaran BK selama 1 jam pelajaran setiap minggunya. Usaha untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik pun sudah dilakukan oleh tim BK melalui bimbingan kelas besar, bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, konseling Pengembangan Panduan Motivational Interviewing untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik dengan Keterampilan Berpikir Kritis Rendah Analisis Produk Langkah awal yang dilakukan dalam pengembangan panduan ini untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik SMA adalah dengan menganalisis kebutuhan yang dilakukan dengan studi kepustakaan atau literatur dan survei lapangan. Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan menelusuri sumber-sumber tulisan yang pernah dibuat sebelumnya. Ini melibatkan kajian teoritis, referensi, dan literatur ilmiah yang berkaitan dengan budaya, nilai, dan norma yang berkembang dalam situasi sosial yang sedang diteliti . Survei lapangan adalah proses pengumpulan data yang dilakukan secara langsung di lokasi yang akan Tim survei mengunjungi wilayah tersebut untuk mengumpulkan informasi langsung dari Contoh tujuan survei lapangan meliputi memetakan jumlah penduduk, mengidentifikasi potensi risiko bencana, atau memetakan infrastruktur yang ada. Sebelum survei lapangan, tim perlu melakukan persiapan matang, termasuk menentukan area yang akan disurvei, mengumpulkan informasi awal, dan merencanakan rute survei yang efisien. Semoga penjelasan ini membantu. Validasi Ahli Tahap uji ahli ini dilakukan untuk menilai kelayakan dan kualitas panduan Motivational Interviewing yang dikembangkan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa SMA. Pelaksanaan uji ahli dilakukan dengan memberikan draft panduan tersebut kepada para ahli untuk dinilai berdasarkan aspek penilaian dan kelayakan, serta disertai kolom komentar dan saran. Hasil analisis dari uji ahli akan digunakan sebagai masukan untuk merevisi produk. Eu x x 100% Eu xi Keterangan : = Hasil presentase Eu x = jumlah skor ahli Eu xi = jumlah skor total Tabel 1. Kriteria Kevalidan Presentase Kriteria 76% - 100% Sangat baik atau tidak revisi 51% - 75% Baik atau tidak revisi 26% - 50% Kurang baik atau revisi 0 - 25% Tidak baik atau revisi Perencanaan Dari analisis produk dan survei lapangan yang telah dilakukan, ditemukan bahwa motivasi belajar siswa kelas Vi B di SMAN 2 Sidoarjo cenderung rendah. Studi literatur menunjukkan bahwa Motivational Interviewing dapat membantu meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti merencanakan untuk membantu guru BK mengatasi masalah ini dengan mengembangkan "panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas". HASIL Penelitian ini merupakan upaya untuk mengembangkan panduan Motivational Interviewing yang bertujuan meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas, khususnya untuk guru BK. Peneliti mengikuti teori pengembangan (Borg & Gall, 2. yang mencakup lima tahap, yaitu: . pengumpulan data. pengembangan produk awal. uji coba awal. revisi Peneliti memilih untuk berfokus pada tahap kelima karena ada keterbatasan waktu dalam mengembangkan produk ini. Pengembangan Produk Awal Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil need assessment dan teori yang didapat dari studi kepustakaan, dapat disimpulkan bahwa panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa SMA dapat digunakan sebagai alat bantu bagi guru BK dalam mengatasi masalah belajar siswa. Pada tahap ini, peneliti merancang produk yang akan dikembangkan berupa panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa SMA. Selanjutnya, tujuan dari panduan tersebut dirumuskan, dan bahanbahan sebagai materi dikumpulkan agar dapat melengkapi isi serta keefektifan penggunaan panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa SMA. Pengumpulan Data Pada tahap pengumpulan data, peneliti memperoleh informasi mengenai kebutuhan peserta didik yang sesuai dengan studi kepustakaan dan survei lapangan. Survei lapangan dilakukan pada bulan Mei 2024 di SMAN 2 Sidoarjo, didukung dengan hasil wawancara bersama guru BK pada tanggal 2 Mei 2024. Selama proses pembelajaran daring, ditemukan bahwa banyak peserta didik yang belum memahami materi yang diajarkan oleh guru mata pelajaran, bahkan ketika pembelajaran sudah kembali dilakukan secara tatap muka sepenuhnya. Wawancara juga dilakukan dengan guru mata pelajaran IPA yang mengungkapkan Pengembangan Panduan Motivational Interviewing untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik dengan Keterampilan Berpikir Kritis Rendah bahwa banyak peserta didik tidak memahami materi yang sudah dijelaskan sebelumnya. kelas X SMA Negeri 2 Sidoarjo dengan keterampilan berpikir kritis rendah. Hasil dari survei lapangan menunjukkan bahwa siswa SMAN 2 Sidoarjo memiliki tingkat motivasi belajar yang rendah, dan sekolah belum mengambil langkah konkret untuk meningkatkan motivasi belajar mereka. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya media yang dapat membantu dalam mengembangkan kompetensi konselor di sekolah. Khusumadewi et al. menjelaskan bahwa pengembangan panduan merupakan pedoman untuk membantu konselor dalam meningkatkan kompetensi Tabel 2. Hasil Penelitian oleh Ahli Materi Kategori Presentase Kriteria Kegunaan Sangat baik Kelayakan Sangat baik Ketepatan Sangat baik Kepatutan Sangat baik Rata-rata Sangat baik Berdasarkan tabel di atas, hasil menunjukkan bahwa persentase dari uji ahli materi mencapai 90%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas telah memenuhi kriteria validitas dengan predikat sangat baik dan layak untuk uji coba lapangan dengan revisi sesuai saran yang diberikan. Perencanaan Tahap perencanaan adalah upaya untuk merencanakan pengembangan produk berdasarkan hasil pengumpulan data yang telah diperoleh. Dalam perencanaan ini, juga dilakukan penentuan kriteria produk yang sesuai dengan tujuan pengembangan produk. Produk ini dirancang untuk digunakan oleh guru BK atau konselor di sekolah agar dapat diterapkan dalam memberikan layanan kepada peserta didik. Revisi Pproduk Berdasarkan hasil penilaian para ahli, diperoleh masukan dan saran untuk penyempurnaan produk, yang meliputi: . memperhatikan kualitas bahan. penggunaan kaidah bahasa yang benar. komposisi tata letak. ukuran yang lebih efisien dan efektif. Pengembangan Produk Awal Tahap ketiga adalah terbentuknya produk awal. Panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas berisi elemen-elemen yang dapat membantu guru BK atau konselor dalam memberikan layanan kepada siswa dengan motivasi berprestasi rendah menggunakan teknik Motivational Interviewing. Panduan ini mencakup: Panduan Umum: Rationale . engertian Motivational Interviewing, tujuan konseling, sasaran konseling, tempat dan karakter subjek, peran konselor dan konseli, serta jadwal pelaksanaan konselin. Panduan Pelaksanaan Konseling (Meliputi pra-konseling, sesi pertama, sesi kedua, sesi ketiga, dan pasca-konselin. , dan Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL). Uji Coba Awal Uji coba awal pada penelitian ini meliputi dari uji ahli Tidak melakukan uji calon pengguna dikarenakan adanya keterbatasan waktu. Berikut merupakan hasil uji PEMBAHASAN Motivational Interviewing (MI) berkembang dari pendekatan berpusat pada konseli (Client-Centered Therap. oleh Carl Rogers. Motivational Interviewing (MI) bersifat direktif, yang dirancang untuk membangkitkan perubahan perilaku dengan membantu konseli mengeksplorasi dan menyelesaikan ambivalensi. Ini dikembangkan oleh William R. Miller dan Stephen Rollnick pada awal tahun 1980- an. Pada awalnya teori ini dikembangkan untuk membantu pasien dengan gangguan penggunaan narkoba, namun seiring berjalannya waktu, teori ini juga dikembangkan dan digunakan dalam perawatan kesehatan, rehabilitasi, kesehatan masyarakat, pekerjaan sosial, kedokteran gigi, koreksi, pelatihan, dan Seperti karya Rogers 70 tahun yang lalu. MI dimulai sebagai pendekatan yang mengamati praktik klinis untuk mengembangkan dan menguji hipotesis tentang apa yang benar-benar mendorong perubahan (Miller & Moyers, 2. Tujuan pengisian validasi ahli dalam AuPengembangan Media Panduan Teknik Motivational Interviewing Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik dengan Keterampilan Berpikir Kritis RendahAy untuk mengetahui pendapat dari ahli terhadap kualitas media berupa Panduan dalam upaya meningkatkan motivasi belajar peserta didik Tujuan dari konseling Motivational Interviewing (MI) (Miller & Rollnick, 2. adalah mengupayakan peningkatan motivasi intrinsik dan keterlibatan individu terhadap perilakunya. Melalui proses konseling, diharapkan konseli dapat menginternalisasi motivasi intrinsik untuk mengubah perilaku mereka dengan Pengembangan Panduan Motivational Interviewing untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik dengan Keterampilan Berpikir Kritis Rendah mengubah tuntutan eksternal menjadi nilai atau tujuan Wawancara motivasi bertujuan agar konselor dapat merangsang munculnya verbalisasi tentang perubahan . hange tal. dari konseli, sehingga perubahan yang terjadi berasal dari dorongan internal konseli dan bukan karena tekanan dari luar. motivasi belajar para siswa SMA bagi beberapa pihak terkait, diantaranya: Bagi Guru BK atau Konselor. Panduan ini merupakan salah satu aternatif dalam meningkatkan kompetensi Konselor dalam meningkatkan motivasi belajar siswa SMA, tetapi Guru BK atau Konselor juga diharapkan tidak terlalu bergantung dan tetap memberikan tindak lanjut mengenai alternative lain dalam menangani permasalahan serupa. Bagi Siswa SMA. Siswa SMA diharapkan dapat menggunakan media ini dengan baik dan benar dalam pengawasan dan bimbingan dari Konselor, serta peserta didik juga diharapkan untuk dapat menangani masalah mengenai peningkatan motivasi . Bagi Peneliti Seanjutnya. Peneliti seanjutnya diharapkan dapat lebih mengembangkan dan memberi pembaruan terkait materi ataupun tampilan media sesuai dengan keperluan agar dapat lebih bermanfaat di masa mendatang Motivational Interviewing memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan pendekatan lain. Pendekatan ini terfokus pada motivasi, tujuan, dan solusi spesifik individu, sehingga jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional yang lebih berfokus pada masalah, sesi konseling memerlukan waktu yang lebih efisien. Sementara pendekatan lain mungkin menekankan aspekaspek seperti kognitif, sosial, atau pribadi, konseling Motivational Interviewing dianggap lebih cocok untuk menangani individu yang kesulitan mengontrol perilaku (King et al. , 2. Lebih lanjut. MI memungkinkan konseli, baik yang datang secara terpaksa atau sukarela, untuk menemukan alasan internal mereka sendiri untuk melakukan perubahan. Pendekatan ini memberikan ruang bagi dorongan untuk berubah muncul dari dalam diri DAFTAR PUSTAKA Borg. R, & Gall. Eductional Research an Introduction, 8th Ed. Princeton. : Recording for Panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas dikembangkan untuk membantu guru BK dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Diharapkan dengan adanya bahan ini, guru BK atau konselor dapat memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain itu, pengembangan panduan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru BK di sekolah. the Blind & Dyslexic. Gopalan. Bakar. Zulkifli. Alwi. , & Mat. A Review Of The Motivation Theories In Learning. Aip Conference Proceedings, 1891. Hitchcock. , & Hitchcock. Critical Thinking PENUTUP As An Educational Ideal. On Reasoning And Simpulan Buku panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas telah memenuhi kriteria akseptabilitas. Kriteria ini mencakup uji validasi media dan uji validasi materi. Dari hasil uji validasi materi, diperoleh hasil sebesar 91,25%. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa panduan Motivational Interviewing untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas bagi guru BK memenuhi kriteria akseptabilitas dengan predikat sangat baik tanpa revisi. Argument: Essays In Informal Logic And On Critical Thinking, 477Ae497. Karim. , & Normaya. (N. Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Dalam Pembelajaran Dalam Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Model Jucama Di sekolah menengah atas. EDUMAT: Jurnal Pendidikan Matematika, 3. King. Delfabbro. Griffiths. , & Gradisar. Saran