JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : TAFSIR HERMENEUTIK DAN FENOMENOLOGI DALAM AL-QURAN Achmad Zubairin STAI Asy-Syukriyyah alzuber82@gmail. Abstract: Al-Quran is the holy book of humanist Muslims. The entire content of the verse leads to humanizing humans, not the other way around. However, this noble goal has not been fully realized, it is allegedly by some circles because the methodology in the interpretation of the Qur'an still uses celestial language which is difficult to reason and apply. The interpreters of the Qur'an are still "preoccupied" with textual interpretations, even though if they borrow the humanities methodology, the interpreters will find a humanist interpretation, which is compatible with modern human values. Hermeneutics and Phenomenology are part of a humanist scientific methodology. Hermeneutics works by exploring the meaning behind the text of the scriptures, while phenomenology is an empirical method based on human phenomena with their reality. Both methods have a philosophical essence in their application, so that applying both methodologies in the study of the Qur'an is basically an effort to explore the deepest meaning of the Qur'an, which can usually be found in the interpretation of literary Keywords: Humanist Methodology. Hermeneutics. Phenomenology. PENDAHULUAN Perkembangan teori penafsiran Teks sangat dinamis, sejak dahulu sampai sekarang. Perdebatan didalamnya pun turut mewarnai dinamika ilmu interpretasi suatu teks. Mencermati disiplin ilmu interpretasi teks, perlu dieksplorasi lebih dalam lagi seputar metode yang Begitupula usaha untuk menerapkannya dalam kajian tafsir al-Quran pun semakin massif. Abdullah Saeed mengklasifikasikan kecenderungan tafsir Al-Quran kepada tiga: Tekstualis. Kontekstualis dan semi-Kontekstualis. Walaupun terjadi perbedaan pendapat di sebagian kalangan ulama, namun usaha mencari titik temu dari perbedaan itu harus diwujudkan. Sebagai langkah awal mengintegrasikan dua pendapat tersebut, perlu ditelusuri tentang hermeneutika sebagai disiplin ilmu penafsiran teks. Untuk mengatasi persoalan di atas. Aksin Wijaya menawarkan penggunaan teori interpretasi modern dalam menalar al-Qur'an, yakni: menelusuri pergumulan tafsir dan takwil, pergeseran paradigma tafsir, dan argumen penggunaan hermeneutika sebagai mitra tafsir. Abdullah Saeed. Interpreting to Qur`an. (New York: Routledge,2. Aksin Wijaya. AuHermeneutika Al-QurAoan: Memburu Pesan Manusiawi Dalam Al-QurAoan,Ay Ulumuna 15, no. : 207. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 35 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : PEMBAHASAN Hermeneutika Pengertian Untuk memahami Hermeneutik, menarik untuk ditelaah pendapatnya Palmer dalam mengklasifikasikan definisi hermeneutik sebagai berikut: Pertama, hermeneutik sebagai teori penafsiran Kitab Suci . xegesis of scriptur. , tokohnya J. Dannhauer's. Kedua, hermeneutik sebagai sebuah metode filologi. Tokohnya Ernesti pada 1761 M. Scheiemarcher. Frederich August Wolf dan Friedrich Ast pada abad 19 M. Ketiga, hermeneutik sebagai ilmu pemahaman linguistic . cience of linguistic understandin. , tokohnya Scheiemarcher. Keempat, hermeneutik sebagai pondasi ilmu kemanusiaan, tokohnya Wilhelm Dilthey. Kelima, hermeneutik sebagai pemahaman eksistensial . enomena das sei. , tokohnya Martin Heidegger dan Etmund Hesserl. Keenam, hermeneutik sebagai sistem penafsiran, tokohnya Paul Ricoeur. Dalam tradisi keilmuan islam sendiri. Hermeneutika memiliki kesamaan dengan ta`wil, prinsip interpretasi teks menggunakan ta`wil cenderung lebih kepada menggali makna dibalik teks . , prinsip yang sama digunakan dalam hermeneutika. Persamaan lainnya ialah bahwa keduanya merupakan seni menafsirkan teks, seorang penafsir memiliki keleluasaan untuk reinterpretasi teks berdasarkan kebutuhan konteks kekinian. Dalam hermeneutika, proses penafsiran makna hanya berfokus pada realitas empiris dan historis, bukan pada konsep atau teks. Orientasi hermeneutik adalah cara berpikir yang menyesuaikan dan mengikuti mobilitas manusia. Karena yang berlaku pada hermeneutika adalah subjektivitas penafsir, maka pola kerja komunal antara teks dan proposisi yang berlaku untuk ta'wil tidak berlaku untuk hermeneutika. Penerapan hermeneutika tidak terlalu memperhatikan subjek penafsir, tetapi lebih pada aspek kebahasaan, yang selanjutnya dikaitkan dengan aspek historis dalam membuat kesimpulan tentang pemahamannya. Akibatnya, hasil hermeneutika penuh dengan kepentingan pribadi dan rentan terhadap realitas daripada konsep dan teks. RifAoatul Khoiriah Malik. AuHermeneutika Al-QurAoan Dan Debat Tafsir Modern: Implementasinya Dengan Masa Kini,Ay AT-TURAS: Jurnal Studi Keislaman 6, no. : 56Ae76. Abdur Razzaq and Deden Mula Saputra. AuStudi Analisis Komparatif Antara TaAowil Dan Hermeneutika Dalam Penafsiran al-QurAoan,Ay Wardah 17, no. : 89Ae114. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 36 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Prinsip dan Konsep Dasar Dasar pemikiran penggunaan metode hermeneutika dalam studi al-Quran ada tiga argumentasi: pertama, memadukan tradisi berfikir keilmuan islamic studies dan religious studies, kedua, pergeseran paradigma . hifting paradig. , ketiga, al-Quran sebagai salih li kulli zaman wa makan. 5 Dari ketiga argumentasi ini, penulis merekomendasikan agar disiplin ilmu tafsir dan ulumul Qur`an perlu dikembangkan lagi menjadi sebuah disiplin ilmu Auyang kayaAy dari sisi metodoginya, walaupun harus mengadopsi disiplin keilmuan humaniora dalam Untuk lebih dalam lagi ketika merumuskan prinsip dan konsep dasar Hermeneutik, perlu dianalisa klasifikasi yang dilakukan Aksin Wijaya tentang Hermeneutik: Pertama, hermeneutika teoritis. Bentuk hermeneutika seperti ini menitikberatkan kajiannya pada problem "pemahaman", makna yang dikehendaki penggagas teks. Dikenal sebagai hermeneutika romantis yang bertujuan untuk "merekonstruksi makna". Kedua, hermeneutika Problem utamanya adalah bagaimana Autindakan memahami" itu sendiri. Gadamer mengacu pada sifat interpretasi daripada teori interpretasi. Gadamer memandang hermeneutikanya sebagai ontologi, bukan metodologi, berdasarkan konsep fenomenologis Heidegger tentang Dasein . ehadirannya di duni. Ketiga, hermeneutika kritis. Hermeneutika ini bertujuan untuk mengungkap kepentingan di balik teks, dengan tokohnya Habermas. menempatkan sesuatu yang berada di luar teks sebagai problem hermeneutiknya, yaitu dimensi ideologis penafsir dan teks. Berdasarkan klasifikasi ini, penulis berkesimpulan bahwa hermeneutika merupakan salahsatu seni menafsirkan teks, sehingga makna yang dihasilkan dari teks itu lebih presisi. Operasionalisasi dan Cara Kerja dalam Penafsiran Teks. Mengolah Teks Teks atau nash tidak selalu dipahami dalam bentuk aslinya, tetapi telah dilengkapi dengan keadaan, emosi, pandangan dunia, dan interaksi dengan orang lain. Misalnya, ayat-ayat perang, ayat-ayat jihad, dan ayat-ayat lain yang bernada "keras" tidak selalu memiliki arti yang persis seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur'an. Rumusan maknanya beralih ke orientasi yang Asep Setiawan. AuHermeneutika Al-QurAoan AoMazhab YogyaAo(Telaah Atas Teori MaAona>-Cum-Maghza> Dalam Penafsiran A l-QurAoan,Ay Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-QurAoan Dan Hadis 17, no. : 67Ae94. Aksin Wijaya. Arah Baru Studi Ulumul Qur`an (Jogyakarta: IRCiSod, 2. , 179. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 37 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : lebih global, termasuk perjuangan melawan ketidakadilan, jihad kemiskinan, dan perlindungan Makna-makna tersebut merupakan produk perluasan makna yang dibawa oleh hermeneutika dan/atau semiotika. Proses diturunkannya al-Quran, tidak hanya teksnya saja tapi juga konteksnya, prinsip ini perlu difahami oleh para penafsir Al-Quran, sehingga penafsir yang menafsirkan suatu ayat hanya secara teks nya saja tanpa melihat konteks suatu ayat, tidak akan mampu memaknai ayat tersebut secara komprehensif. Dalam penafsiran al-Quran, dengan beragam coraknya, distingsi dari sisi fungsi antara tafsir corak bahasa dengan corak-corak tafsir lainnya, ketika corak tafsir sains misalnya ingin membuktikan al-Quran dari sisi saintifiknya, corak tafsir bahasa justru mengeksplorasi makna yang terdalam dari suatu ayat, untuk kemudian diolah sehingga dapat digunakan sesuai kebutuhan corak tafsir yang lainnya. Memahami Konteks Kontekstualiasi al-Quran adalah menempatkan makna al-Quran sesuai dengan kondisi zamannya, atau dalam bahasa lainnya menafsirkan al-Quran sesuai dengan kondisi zamannya. Logika yang digunakan penafsir klasik tentu akan berbeda dengan logika penafsir modern, hal tersebut tentu berimplikasi pada hasil penafsiran masing-masing penafsir. Disinilah urgensi reinterpretasi al-Quran perlu direalisasikan, tentu saja tetap harus memperhatikan rambu-rampu penafsiran atau kaidah-kaidah tafsir Al-Quran yang sudah baku. Secara teknis, hermeneutika bekerja melalui tiga langkah metodis. Pertama: Menurut fase bahasa/wahyu asli . bad ke-7 M), dan melalui berbagai sub-tahap, studi linguistik/lughawi . itur linguisti. , yaitu. erbandingan istilah yang sama dalam berbagai ayat Al-Qur'a. pengamatan makna ayat pasca-wahyu . ost Qur'ani. yang berkembang. Analisis sintagmatik dan paradigmatik dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, memungkinkan terjalinnya hubungan. l-munasaba. analisis intratekstualitas. Analisis yang didasarkan pada sumber selain teks Al-Qur'an, seperti hadits, puisi arab jahili, dan teks israiliyat . umber Yahudi dan Nasran. atau komunitas lain yang hidup pada masa pewahyuan Al-Qur'an. Kedua: Kajian historis makro dan mikro. Ketiga: kajian maghza . ignifikansi pesan Allah di balik. teks ayat-ayat Al-Qur'a. Tahap ini menggabungkan langkah pertama dan kedua Mudhofir Abdullah. AuKesejarahan Al-QurAoan Dan Hermeneutika,Ay JOURNAL OF QURAoAN AND HADITH STUDIES 3, no. : 57Ae77. Hatib Rachmawan. AuHermeneutika Al-QurAoan Kontekstual: Metode Menafsirkan Al-QurAoan Abdullah Saeed,Ay Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies 9, no. : 148Ae61. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 38 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : untuk menghasilkan maghzah ayat-ayat Al-Qur'an pada saat diturunkannya, yang kemudian dinegosiasikan atau didialogkan dengan mempertimbangkan situasi saat ini. 9 Cara kerja hermeneutic sebagaimana teori Sahiron diatas, menitikberatkan kepada upaya mengeksplorasi makna terdalam dari suatu kata dalam ayat Al-Quran atau yang disebut Maghza, karena AlGhazali sendiri menyimpulkan bahwa dalam Al-Quran terdiri dari 7 lapis makna didalamnya, 10 disinilah dibutuhkan piranti/metode tambahan untuk menemukan 7 lapis makna tersebut, bahkan sampai yang paling dalam sekalipun. Ada dua prinsip dalam memahami konteks. Pertama, penelusuran konteks sosio-historis, diantaranya seputar: Iklim spiritual, sosial, ekonomi, politik, dan hukum. norma, hukum, adat istiadat, tata krama, adat . , dan nilai-nilai yang berlaku di daerah, khususnya di Hijaz. tempat tinggal, pakaian, dan makanan. hubungan sosial, termasuk struktur keluarga, hierarki sosial, larangan, dan upacara. karakteristik fisik, peristiwa, sikap, dan orang-orang dan bagaimana mereka menanggapi panggilan Tuhan. Kedua, bahasa budaya, bahwa baik AlQur'an dan Nabi memulai kisah mereka di Hijaz. Nabi pada kenyataannya tidak memadamkan semua aspek budaya yang ada pada saat itu. Untuk menyampaikan pesan-pesannya. Al-Qur'an telah mengambil simbol-simbol Hijaz, analogi, frase, dan terminologi. 11 Melalui langkah tersebut, seorang penafsir dituntut merealisasikan teori double movement . eori gerakan gand. nya Fazlurrahman, yaitu dengan cara kembali ke masa lalu . untuk kemudian kembali ke waktu sekarang dengan membawa sisi-sisi historitas yang memiliki nilai-nilai berharga sambil menyesuaikannya dengan perkembangan dan tuntutan zaman sekarang. Kontekstualisasi Secara umum, memaknai al-Quran berdasarkan konteksnya berlaku untuk seluruh ayat dalam al-Quran. Namun kontekstualisasi ayat al-Quran, salahsatunya dapat dilihat pada diskursus hukum. Teori gerak ganda merupakan teori hermeneutis yang dikembangkan oleh Fazlur Rahman. Dengan pandangan ini, pemahaman suatu persoalan hukum didasarkan pada pesan universal di balik nalar partikular yang merupakan tuntutan agama, daripada nalar individual itu sendiri. Dengan kata lain, yang dilihat bukan sekadar ciri hukum yang spesifik, tetapi juga aspek ideal moral yang melandasi tujuan awal ayat hukum itu. Abdul Muiz Amir dan Gufran Hamzah. Dinamika dan Terapan Metodologi Tafsir kontekstual. Jurnal Al-Izzah : 8. Al-Ghazali. Jawahir Al-Qur`an. Lien Iffah NafAoatu Fina. Interpretasi Kontekstual Abdullah Saeed: Sebuah Penyempurnaan terhadap Gagasan Tafsir Fazlur Rahman. Jurnal Hermeneutik: 75. Sibawaihi. Hermeneutika Al-Qur`an Fazlurrahman (Bandung: Jalasutra, 2. , 74. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 39 P-ISSN : E-ISSN : DOI : JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 Sedangkan Abdullah Saeed, secara tegas berfokus pada ayat-ayat yang memiliki muatan etik hukum, seperti ayat-ayat tentang iman kepada Allah. Nabi, dan kehidupan setelah mati, aturan dalam pernikahan, perceraian, dan warisan, apa yang diperintahkan dan dilarang, perintah puasa, jihad, dan hudud. , larangan mencuri, hubungan dengan non muslim, perintah etika, hubungan antar agama, dan pemerintahan. Dua model kontekstualisasi makna Al-Quran yang ditawarkan diatas, sebenarnya mengkombinasikan pemahaman tekstual ayat beserta konteks diturunkannya ayat maupun konteks pemahaman saat ini. yang oleh Gus dur dan Quraisy Shihab disebut dengan Aumembumikan Al-QuranAy. Ayat-ayat al-Quran seakan-akan selalu mampu berdialog dengan setiap dimensi ruang dan waktu, kapan dan dimanapun. Al-Quran seakan-akan AuhidupAy berinteraksi dengan kehidupan, atau yang sering dikenal dengan AuLiving Qur`anAy. Fenomenologi Pengertian Fenomenologi adalah gerakan filsafat yang dipelopori oleh Edmund Husserl . Fenomenologi adalah salah satu arus pemikiran yang paling berpengaruh pada abad ke20. Sebut saja para filsuf seperti Ernst Cassirer . McTaggart . Frege . Dilthey . Kierkegaard . ilsafat Derrida . , semuanya sedikit banyak mendapat pengaruh dari fenomenologi. Adapun Phenomenological research method ialah metodologi penelitian yang berada dalam ranah pengalaman manusia . Riset fenomenologi meminati meaning, jangkauannya ada pada platform Verstehen (Understandin. , interprestasinya harus lolos prosedur ilmiah interpritif hermeneutika, perspektifnya memiliki fokus pada world view subjek . ukan penelit. , verifikasi dan triangulasinya ada pada testimoni subjek, bukan semata-mata peristiwa-peristiwa dengan platform serumpun atau serupa, karena bahasa pengalaman dipertaruhkan demi otentisitas subyektif manusianya, otentisitas temuannya berdimensi kesadaran subyektif manusia, dampak produk melampaui batas-batas pengalaman pribadi . alaupun berasal dari landasan subyektifita. pengalaman, dan ilmunya hanya mengatasi rasio yang signifikan atau kurang signifikan. Sheyla Nichlatus Sovia. AuInterpretasi Kontekstual (Studi Pemikiran Hermeneutika Al-QurAoan Abdullah Saee. ,Ay Dialogia: Jurnal Studi Islam Dan Sosial 13, no. : 39. Donny Gahral Adian. Pengantar Fenomenologi (Depok: Penerbit Kukusan, 2. , 4. Farid dkk. Fenomenologi Dalam Penelitian Ilmu Sosial (Jakarta: Prenadamedia, 2. , 5. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 40 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Fenomenologi Hermeneutik memiliki konsep yang sama dengan fenomenologi persepsi, kajian ini dikaitkan dengan Martin Heidegger yang dihubungkan dengan karyanya dalam philosophical hermeneutics. Karya dari Martin ini dikenal dengan "interpretasi keberadaan". Martin tertarik pada sensasi alami yang tak terhindarkan dari hanya ada di dunia. Baginya, realitas sesuatu adalah pengalaman alamiah yang dibentuk oleh penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, oleh karena itu sesuatu yang nyata adalah apa yang dialami melalui penggunaan bahasa dalam konteksnya. Prinsip dasar Dalam Being and Time. Heidegger mengatakan: "As understanding. Dasein projects its Being upon possibilities. " Pada intinya, hidup adalah serangkaian pilihan. Manusia memanifestasikan kemungkinan kemungkinan tersebut. Manusia selalu terjebak antara kemungkinan sesuatu yang terwujud dan kemungkinan sesuatu yang tidak terwujud. Dia tidak sebaliknya, ia menjadi penjaganya. Manusia bukanlah penguasa dari apa yang ada. sebaliknya, dia adalah gembala dan pelindungnya. Menurut Heidegger, kita harus mulai dengan Ada yang dapat mempertanyakan Ada untuk memahami Ada. Tidak setiap Mengada memiliki wewenang untuk menanyakan tentang Ada. Dasein adalah satu-satunya yang mampu melakukannya. "Itu di sana," kata Dasein. Itu ada di sana untuk menunjukkan waktu dan pengusiran unik umat manusia, atau fakta, fakta bahwa manusia telah ada di dunia dan pertanyaan yang tidak berguna tentang asal usul mereka. Dasein memiliki kemampuan untuk menantang Ada karena memiliki hubungan dengan keberadaan, yaitu terbuka terhadap wahyu Ada. Cara kerja Fenomenologi Fenomenologi berawal dari sebuah pandangan tentang Rasio dalam sistem kerja, mereka cenderung memilah realitas yang ditangkap, sehingga esensi agama tidak dapat ditangkap oleh mereka. Rasio dimulai dengan premis dan berlanjut ke kesimpulan. Di satu sisi, ada nilai-nilai agama yang Autak terkatakanAy tetapi hanya bisa diserap. di sisi lain, ada nilai-nilai agama yang AuunspeakableAy tapi hanya bisa diserap. Michael Jibrael Rorong. Fenomenologi (Jogyakarta: Deepublish, 2. , 75. Poespoprodjo. Interpretasi: Beberapa Catatan Pendekatan Filsafatinya (Bandung: Remaja Karya, 1. Hardiman. Heidegger, 49. Husain Insawan. AuPENDEKATAN FENOMENOLOGIS DALAM STUDI ISLAM Oleh,Ay , 9. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 41 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : Peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitankaitannya terhadap orang-orang dalam situasi-situasi tertentu. tidak melihat jumlah kemunculan peristiwa itu, dan tidak pula melihat hasil pengamatan dan pemahaman peneliti terhadap fenomena itu. Mungkin saja peneliti menangkap bahwa seorang pelaku sedang berada dalam posisi yang bersahabat dengan orang lain, namun catatan peristiwa di balik fenomena "baik" yang ditangkap melalui pengamatan peneliti sangat mungkin sarat akan perjuangan untuk menjatuhkan dan menguasai orang tersebut. Dalam studi Islam, ada dua bentuk fenomenologi, yakni fenomenologi esensial dan fenomenologi konkrit. Fenomenologi esensial melihat Islam dari segi esensi agama, sumber agama, dan prinsip-prinsip agama yang mutlak dan universal yang melampaui geografi dan Islam ditangkap secara holistik-total dan langsung dengan menggunakan intuisi-iman dalam fenomenologi dasar. Sedangkan fenomenologi kongkrit dapat ditemukan dalam kajian sejarah peradaban dan pemikiran Islam, yang diorganisasikan ke dalam madzhab dan firqahfirqah. KESIMPULAN Setiap disiplin ilmu akan selalu beradaptasi dengan konteks zamannya, sehingga mampu berkembang atau dikembangkan, termasuk disiplin ilmu tafsir al-Quran. Secara historis, ilmu tafsir pun mengalami hal yang sama, dari tafsir klasik . eriode Nabi SAW dan sahaba. sampai tafsir modern . eriode moder. Namun disadari bahwa perkembangan tersebut, membutuhkan piranti/metodologi yang mumpuni dan sudah teruji. Hermeneutika dan fenomenologi termasuk salahsatu metode ilmiyah yang empiris. Tetapi tetap perlu lebih banyak lagi uji kompetensi dan kelayakan untuk diterapkan kepada kitab suci al-Quran, disamping bahwa dalam tradisi keilmuan islam, hal-hal teologi masih sangat sulit untuk dipisahkan dengan metodologi itu sendiri, sehingga menerapkan hermeneutika untuk al-Quran masih mendapatkan banyak pertentangan dari umat islam itu sendiri, walaupun hermeneutika adalah sebenarnya berkenaan dengan metodologi bukan teologi. Dialektika dan dinamika yang terjadi pada disiplin ilmu tafsir akan mentransformasikan ilmu tafsir menjadi disiplin ilmu yang lebih humanis, karena metodologi yang digunakan merupakan salah satu rumpun ilmu humaniora. Farid dkk. Fenomenologi Dalam Penelitian Ilmu Sosial, 106. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 | 42 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 1 | Nomor 1 | Januari - Juni 2022 P-ISSN : E-ISSN : DOI : DAFTAR PUSTAKA