Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 2 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. Di Kalangan Generasi Muda Hindu Di Bali Anak Agung Gde Oka Widana Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali. Indonesia agungwidana26@gmail. Abstract Causal Euphoria of Yajya Ritual is a term coined by the researcher himself that refers to the accumulation of various phenomena in the implementation of yajya by Hindus in Bali. The implementation of yajya in Bali in the modern era in a certain quantity and capacity tends to display its festive side, so that the value or main purpose of the implementation of yajya is doubtful. In addition, there are 3 specific problems that must be studied and evaluated in this research, including the concept of Causal Euphoria Ritual Yajya, then the causes of the emergence of Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. among the younger generation of Hindus in Bali, and solutions in overcoming Causal Euphoria Ritual Yajya Implementation (CERiY. among the younger generation of Hindus in Bali. Basically, the purpose of this research is to contribute thoughts to the dynamics of religious life, especially in the field of tradition and culture. Therefore, in the future, the implementation of yajya is not only focused on the systematics of implementation, but also understands its philosophical value. Given that this research is a type of Qualitative research, the data collection used literature and document recording The results of the analysis and evaluation show that Causal Euphoria of Yajya Ritual is a number of causes of the emergence of excessive excitement in a yajya The causes in question are largely due to several things, such as a low level of understanding of religious philosophy, a wrong religious perspective, and the unstoppable flow of modernization and globalization. Based on this analysis, it can be concluded that there needs to be an improvement in the field of Hindu religious education, especially regarding yajya in in-formal, formal, and non-formal environments that are not only centered on the theoretical aspects but also on the quality of educators or religious instructors and the deepening of yajya philosophy. Keywords: Causal. Euphoria. Yajya Abstrak Causal Euphoria Ritual Yajya merupakan istilah yang tercipta oleh peneliti sendiri yang mengacu pada hasil akumulasi dari beragam fenomena dalam pelaksanaan yajya oleh umat Hindu di Bali. Pelaksanaan yajya di Bali pada era modern dalam kuantitas dan kapasitas tertentu cenderung menampilkan sisi kemeriahannya, sehingga nilai atau tujuan utama dari pelaksanaan yajna tersebut diragukan ketercapaiannya. Selain itu, terdapat 3 permasalahan khusus yang wajib dikaji dan dievaluasi dalam penelitian ini, diantaranya konsep dari Causal Euphoria Ritual Yajya, lalu penyebab kemunculan Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. di kalangan generasi muda Hindu di Bali, dan solusi dalam mengatasi Causal Euphoria Ritual Pelaksanaan Yajya (CERiY. di kalangan generasi muda Hindu di Bali. Pada dasarnya tujuan dari penelitian ini ialah memberikan kontribusi pemikiran terhadap dinamika kehidupan beragama, khususnya dalam bidang tradisi dan budaya. Karenanya, kedepannya pelaksanaan yajya tidak hanya terfokus pada sistematika pelaksanaan, namun juga paham akan nilai filosofisnya. Mengingat bahwa penelitian ini merupakan jenis penelitian Kualitatif, maka dalam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pengumpulan datanya menggunakan teknik kepustakaan serta pencatatan dokumen. Hasil analisis dan evaluasi menunjukkan bahwa Causal Euphoria Ritual Yajya merupakan sejumlah penyebab dari munculnya kesemarakan yang berlebihan dalam sebuah pelaksanaan ritual yajya. Penyebab yang dimaksud secara garis besar dikarenakan oleh beberapa hal, seperti karena tingkat pemahaman filsafat agama yang rendah, cara pandang beragama yang keliru, dan arus modernisasi dan globalisasi yang tidak terbendung. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa perlu adanya suatu pembenahan pada bidang pendidikan agama Hindu, khususnya perihal yajya di lingkungan in-formal, formal, dan non-formal yang tidak hanya terpusat pada aspek teorinya semata namun juga pada kualitas pendidik atau penyuluh agamanya dan pendalaman filsafat yajya-nya. Kata Kunci: Causal. Euphoria. Yajya Pendahuluan Yajya secara fundamental merupakan cermin identitas diri bagi masyarakat Hindu di Bali pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Sederhananya, yajya berperan sebagai Identity of Faith atau identitas keimanan umat Hindu. Ibarat pohon kehidupan, eksistensi yajya seakan telah mengakar sangat kokoh ke dalam dasar sradha . umat beragama sehingga keberadaannya seakan menjadi organ utama yang demikian penting dan juga bernilai. Karenanya, tidak mengherankan jika di setiap jengkal tanah nusantara . hususnya di Bal. seakan totalitas ber-aroma yajya. Realita tersebut pulalah yang sejatinya menjadikan nusantara memiliki tambahan keunikan identitas di mata dunia, khususnya pada sektor pariwisata. Khusus untuk di Bali, yajya telah menjadi kewajiban dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, yang juga berefek sangat signifikan sebagai magnet estetis bagi dunia Eksistensi yajya sejatinya telah mendapatkan perhatian khusus sejak zaman kerajaan terdahulu. Bahkan yajya memperoleh posisi atau kedudukan sentral yang demikian penting . hsusnya di kalangan umat Hind. kaitannya dengan keberlangsungan kehidupan manusia di dunia. Hal tersebut dapat dibuktikan pada catatan-catatan kesusastraan Hindu kuno yang menerangkan secara substantif terkait eksistensi Tuhan yang diyakini menciptakan dunia beserta segenap isinya berdasarkan yajya. Atas dasar keyakinan tersebut maka terbangunlah pemahaman filosofis . bahwa keberlangsungan kehidupan di dunia tetap akan terjaga bila umat Hindu selaku hamba ciptaan-Nya melakukan yajya. Hanya dengan saling ber- yajya kehidupan di dunia ini dapat terus berlanjut (Wartayasa, 2. Sebagai penguat, hal tersebut dapat dilihat pada susastra Bhagawadgita, bab i, sloka 10 berikut: Sahayajnah prajah srishtva, paro vacha pajapatih, anema prasavish dhvam, esha yostvisha kamaduk Terjemahannya: Pada zaman dulu kala Prajapati (Tuhan Yang Maha Es. menciptakan manusia dengan yajya dan bersabda, dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamanduk . dari keinginanm. Pelaksanaan yajya di Bali tentunya tidak berjalan begitu saja namun eksistensinya berpedoman pada kesusastraan-kesusatraan suci yang telah dimiliki sejak awal dan telah menjadi acuan utama . serta acuan pembanding . ambahan atau pelengka. agar dalam pelaksanaannya di lapangan tidak keluar dari tatanan Dharma yang telah baku. Kesusastraan yang dimaksud seperti halnya kesusastraan Veda serta lontar-lontar klasik yang memuat mengenai kaidah tatanan yajya dan telah ada sejak lama. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa nyatanya perubahan memang kekal, demikian pula perubahan dalam tatanan pelaksanaan yajna, namun tetap perubahan yang ada wajib memiliki dasar https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pijakan yang jelas, agar perubahan yang terjadi tidak dijangkiti oleh arogansi pribadi, yang oleh orang Bali diistilahkan sebagai DDA atau Demen-Demen Ati. Namun seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi yang ada, pelaksanaan yajya pada era Generasi Z (Gen Z) cenderung mengalami pergeseran nilai yang demikian ekstrim. Yajya hanya dipandang sebagai sebuah euphoria dalam kerangka kemegahan atau kemeriahannya yang menggila namun minim nilai-nilai filosofis. Banyak masyarakat penyelenggara yajya itu sendiri yang belum paham terkait apa, bagaimana dan untuk apa yajya tersebut dilangsungkan. Padahal menurut Wijayananda . setiap pelaksanaan yajya yang tampak meriah tersebut yang juga memakai takaran standar upakara dalam skala kecil, menengah dan utama, hendaknya dibarengi dengan pemahaman akan makna yajya. Penggunaan sarana bebantenan juga hendaknya tetap harus mengacu pada sastra-sastra agama. Hal senada juga ditegaskan oleh Widana . yang menuturkan bahwa yajya dalam prosesnya tidak semata hanya pada masalah kuantitasnya saja namun mutlak harus memperhatikan sisi kualitasnya. Karena, kualitas dari yajya itu sendiri sangat menentukan apakah rutinitas ritual yajya tersebut dapat dinyatakan mencapai tujuan . idhaning do. atau justru dinyatakan hanya selesai pada tahap pelaksanannya . Kurangnya pemahaman akan makna yajya tersebut telah dibuktikan oleh Suardana. Suteja & Karuni . dalam penelitiannya yang menemukan fakta bahwa konsep yajya cenderung jarang dipahami oleh masyarakat secara mendalam, sehingga seringkali pelaksanaan yajya diselenggarakan atas dasar Gugon Tuwon yaitu mengikuti tradisi yang telah ada dan telah berjalan sejak lampau, namun sama sekali tidak memahami makna dan fungsinya. Kurangnya pemahaman masyarakat pada konsep yajya, menyebabkan pelaksanaan yajya cenderung menyimpang cukup jauh dari esensi dasar sebagai persembahan dengan keikhlasan hati guna memperoleh anugrah serta pahala. Dalam lingkup personal, banyak pelaksanaan yajya justru diselenggarakan hanya untuk menunjukkan stratifikasi strata sosial di masyarakat, sehingga penampilan menjadi prioritas utama dengan mengesampingkan sisi religiusitasnya. Pada akhirnya, pelaksanaan yajya cenderung hanya menonjolkan sisi seremonialnya saja dari pada nilainilai religiusnya ditambah dengan garapan dekorasi yang sangat prestisius dan mewah. Realita yang tidak dapat dihindari, bahwa dalam pelaksanaan yajya justru aktivitas Keteben jauh lebih besar dari pada Keluan yang artinya seremonial . jauh lebih besar dari pada religiusitasnya. Upacara yajya merupakan aktivitas agama, namun dalam proses persiapannya justru merupakan aktivitas adat. Untuk melaksanakan upacara yajya cenderung harus didukung oleh aktivitas adat. Menyatunya aktivitas agama dengan aktivitas adat tersebut terkadang menyebabkan proses pelaksanaan upacara yajya menjadi besar serta menghabiskan biaya yang terbilang cukup banyak. Kewajiban adat sering terlalu berlebihan, tidak efektif dan juga tidak efisien, tetapi umat tidak berani mengurangi karena cenderung takut terkena sanksi moral dari masyarakat. Bahkan menurut penelitian dari Pitana . , menyebutkan bahwa, akibat dari biaya yajya yang sangat mahal dikarenakan kewajiban adat yang berlebihan tersebut, banyak umat Hindu . hususnya generasi muda Hind. di Bali tidak bisa . ahkan tidak ma. melaksanakan yajya hingga bertahun-tahun lamanya. Ataupun jika umat terpaksa harus melaksanakan yajya tersebut tidak jarang umat harus menjual aset-aset produktif yang dimilikinya sehingga tentu saja berdampak negatif bagi kesejahteraan atau kondisi ekonomi dari keluarga penyelenggara yajya tersebut. Hal senada juga ditegaskan oleh Saridewi . yang menggambarkan jika umat Hindu di Bali di era modern ini cenderung terjebak oleh tradisi yang cenderung mempertontonkan kemegahan dari pelaksanaan yajya dengan biaya yang sangat tinggi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tanpa mengukur kemampuan ekonomi dari penyelengara yajya. Tidak jarang memang pelaksana yajya terpaksa harus berhutang ke berbagai pihak dan juga menjual harta-harta produktif yang dimilikinya. Persoalan lainnya juga adalah ketika mengacu pada realita kehidupan di lapangan, dimana secara mekanik konsep dari Tri Kerangka Dasar Agama Hindu memang telah bergerak. Namun, sepertinya seringkali pergerakannya selalu berhenti hanya di tingkat upacara . itual yajy. saja, dengan kecenderungan mengesampingkan tuntunan dan tuntutan susila, serta mengabaikan pendalaman dari aspek filosofis atau tattwa-nya. Konsekuensinya, ekspresi bhakti melalui praktik ritual . pacara-upakar. memang akan semakin bertambah kuat dan kokoh, namun dalam soal indoktrinisasi dan internalisasi tattwa . , apalagi menyangkut implementasi atau aktualisasi susila akan semakin terlihat melemah. Realita tersebut tentu saja sangat beresiko bagi aspek pemahaman pada generasi penerus yang dalam hal ini adalah generasi muda Hindu-nya. Dalam skala tertentu, degradasi pemahaman pada generasi muda Hindu mengenai yajya sangat mungkin untuk terjadi. Sangat bisa dan bahkan mudah untuk diramalkan dan juga digambarkan resiko terparah dari eksistensi yajya manakala generasi muda Hindu dalam melaksanakannya hanya berpatokan pada kemegahan dan kesemarakan pelaksanaannya, dengan kuantitas besaran biaya yang digunakan sebagai alat ukurnya. Manajemen biaya memang perlu untuk dipertimbangkan dalam perencanaan pelaksanaan sebuah yajya, namun manajemen biaya bukanlah titik poin utamanya. Apalagi jika dianalisis berdasarkan perspektif Teologi Kontemporer yang digaungkan oleh tokoh Karl Barth . , yang menyatakan bahwa apa yang terlihat dalam perilaku atau rutinitas keagamaan, dalam hal ini umat Hindu melalui aktivitas ritual . ternyata tidak sepenuhnya berpijak murni pada konsep ideal menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Kuasa, namun sudah bergeser dan berkembang berdasar empirisme pemikiran rasional yang tampak melalui interaksi dalam relasi antar manusia lewat ekspresi kemampuan modal. Artinya, manakala rutinitas bhakti dalam bentuk ritual dilaksanakan justru tersaji secara mencolok di depan mata terlihat bagaikan sebuah acara pementasan di panggung yajya. Akibatnya adalah segenap aktivitas yajya yang dilaksanakan oleh umat Hindu akan tampil dengan setting layaknya pentas konsumerisme di panggung ritual. Momentmoment aktivitas ritual yajya pun pada akhirnya berkembang menjadi event seremonial, berlangsung ala festival, seperti karnaval yang seringkali berbiaya kolosal. Umat pun tatkala terlibat langsung dalam prosesi ritual tersebut seakan bergerak dengan mindset seperti rekreasi, bahkan tidak jarang dalam prosesnya diselingi acara main judi dan tidak jarang ada pancingan birahi (Widana, 2. Menyadari fakta atau realita tersebut tentu memberikan gambaran situasi yang sangat mengkhawatirkan bagi keberadaan yajya di masa depan, terlebih persepsi tersebut telah mentradisi hingga ke anak-cucu. Karenanya perlu dilakukan kajian lebih awal dan mendasar yang menyasar generasi muda Hindu, dengan tujuan agar kekeliruan persepsi akan tradisi dan budaya keagamaan tidak berlanjut semakin jauh. Berdasarkan uraian tersebut di atas dan mengacu pada sebuah keyakinan bahwa terdapat banyak nilai-nilai pendidikan yang bisa diperoleh, maka dari itu menarik minat penulis untuk mengkaji serta mewujudkan teori baru guna mengkaji fenomena penyimpangan perspektif terhadap pelaksanaan yajya, khususnya di kalangan generasi muda kedalam teori Causal Euphoria Ritual Yajya atau (CERiY. Hal tersebut tentunya berdasarkan beragam pertimbangan, dimana generasi muda Hindu di era modern cenderung hanya pandai dalam berteori perihal yajya namun pemahaman filosofis terkait pemaknaan masih tergolong minim. Selain itu, fenomena https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH misconception dan misperception yang semakin mengkhawatirkan serta intens bermunculan terkait pemahaman aspek pembiayaan pelaksanaan yajya pada generasi muda Hindu juga menjadi fokus sasaran dari penelitian ini sehingga menjadi sebuah pertimbangan yang cukup beralasan untuk menciptakan sebuah teori baru yang dapat digunakan untuk mengevaluasi penyebab kesalahpahaman yang terjadi dalam setiap pelaksanaan yajya, khususnya bagi generasi muda. Penelitian ini tidak dalam kapasitas untuk mengkaji tingkat pemahaman sebelum . atau sesudah . diberikan pemahaman filosofis, namun justru untuk menghadirkan sebuah metode baru dalam mengkaji serta meluruskan perspektif yang selama ini cenderung keluar dari koridor, sehingga dapat digunakan untuk meluruskan kembali persepsi generasi muda Hindu mengenai pelaksanaan yajya di masyarakat. Metode Penelitian terkait Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. ini merupakan penelitian kualitatif, dengan pola analisis yang tentunya holistik serta mendalam. Sumber data utama yang menjadi penunjang terlaksananya penelitian ini adalah kumpulan data terkait fenomena-fenomena pelaksanaan yajya . hususnya fenomena misperception dan misconceptio. yang diselenggarakan oleh umat Hindu, khususnya yang diikuti atau mengikutsertakan generasi mudanya. Kumpulan data yang menjadi target analisis tersebut dikumpulkan melalui beberapa teknik atau langkah ilmiah, seperti pencatatan dokumen serta kepustakaan. Metode pencatatan dokumen dalam penelitian ini memaksimalkan peran fungsionalisme benda-benda atau catatan tertulis seperti bukubuku atau pustaka Hindu, lontar-lontar klasik, kumpulan artikel jurnal, majalah keagamaan dan budaya, media surat kabar, dokumen terkait serta media sosial atau platform digital. Tentunya data yang terkumpul dari beragam sumber data tersebut dianalisis lebih jauh dan mendalam dibantu oleh pendekatan hermeneutik dengan jalan membaca serta memfilterisasi atau mengevaluasi sehingga diperoleh sejumlah data penting dalam berbagai bentuk, diantaranya untaian kalimat, opini, ide-ide . , pesan-pesan, bahkan ideologi atau yang serupa dengan itu. Khusus untuk data yang dikumpulkan melalui metode kepustakaan dilaksanakan melalui beberapa tahapan mendasar, diantaranya mengkaji referensi, mencermati secara spesifik, menganalisis atau mengolah serta mengidentifikasi beragam informasi, makna serta segenap pengetahuan yang termuat dalam beragam sumber kepustakaan yang telah dikumpulkan, diantaranya hasil penelitian sejenis, data-data mengenai pelaksanaan yajya yang rutin dilaksanakan oleh generasi muda Hindu, buku-buku refrensi atau sumber bacaan untuk menopang proses penelitian. Penelitian ini dominan bermuara pada kajian makna terkait fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya atau (CERiY. sebagai fenomena sosial budaya yang terjadi pada generasi muda Hindu di Bali dan dominan analisisnya mengacu pada faktafakta tertulis, baik itu yang termuat dalam media cetak serta media sosial atau platform Hasil dan Pembahasan Konsep Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. Istilah Causal Euphoria Ritual Yajya pada dasarnya merupakan istilah baru dalam penelitian ini dan juga bagi penelitian-penelitian lainnya di Nusantara bahkan juga di Causal Euphoria Ritual Yajya tercipta oleh peneliti sendiri setelah mengkaji sejumlah fenomena ritual pelaksanaan yajya di Bali. Kaitannya dengan penelitian ini, istilah tersebut peneliti singkat menjadi CERiYa atau Causal Euphoria Ritual Yajya. Karenanya, istilah Causal Euphoria secara definitif belum memiliki definisi yang utuh, terkecuali definisi per-kata secara khusus mengacu pada data yang tertuang dalam kamus. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Realita tersebut tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi penelitian ini, karena berkesempatan untuk membangun sebuah metode dalam mengkaji sebab musabab yang terjadi, khususnya pada pelaksanaan yajya yang umum dilaksanakan oleh umat Hindu dan generasi penerusnya di Bali. Istilah Causalitas secara definitif berasal dari kata cause yang berasal dari bahasa Latin serta merupakan salah satu istilah yang berasal dari bahasa hukum Romawi, yang bermakna sebab, alasan, penyebab suatu sebab adalah penyebab dari sesuatu yang Causal juga diartikan sebagai sesuatu yang menghasilkan efek atau akibat, terkait dengan, atau melibatkan hubungan sebab-akibat, ada hubungan sebab akibat antara tindakan terdakwa dan cedera penggugat. Selain Causal terdapat juga istilah Causality yang juga diartikan sebagai suatu prinsip hubungan sebab akibat atau hubungan antara sebab dan juga akibat. Secara etimologi, istilah Kausalitas atau Causaliteit dinyatakan berasal dari kata dasar causa yang berarti sebab. Hal yang unik ialah, kata kausa dalam kamus hukum diartikan sebagai alasan atau dasar hukum atau suatu sebab yang dapat menimbulkan suatu kejadian (Nizar. Amiruddin & Sabardi, 2. Dalam dunia penelitian ilmiah, memang eksistensi dari istilah Causal tersebut justru seringkali diidentikkan dengan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan sebab-akibat antara variabel (Sugiyono, 2. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut diatas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa Causalitas merupakan suatu yang menyatakan tentang hubungan sebab dan akibat. Hal yang unik dari dari eksistensi konsep Causalitas yang secara sederhana juga diasosiasikan sebagai hukum sebab akibat sejatinya telah tersurat dalam ajaran agama Hindu, yaitu berasosiasi dengan konsep hukum Karma Phala. Kemenuh . dalam penelitiannya menegaskan bahwa. Karma Phala sebagai hukum sebab akibat memang merupakan salah satu bagian dari ajaran Panca Sradha yaitu lima dasar keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu dalam meyakini eksistensi Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Es. Atman atau roh leluhur. Karma Phala . ukum sebab akiba. Punarbawa . elahiran kembal. , dan Moksa . emanunggalan dengan Tuha. Bahkan menurut Adnyana . wejangan mengenai Karma Phala tersebut telah menjadi ajaran fundamental dalam kitab Slokantara. Hal tersebut dapat dilihat pada bait ke 68 yang berbunyi. Phala Ngaran Ika Phalaning Gawe Hala Hayu, yang berarti bahwa Karma Phala adalah hasil dari pada baik buruknya suatu perbuatan. Guna lebih meyakinkan kembali. Indrayasa . dalam kajian ilmiahnya yang membedah integrasi dari hukum Causalitas tersebut bahkan menggunakan acuan sastra pembanding dari kitab Dewi Bhagawata, sloka 1. 74 yang seolah ingin meyakinkan umat bahwa eksistensi dari hukum Causalitas itu nyata dan tertuang dalam konsep analisa logis dari sastra suci yang berbunyi: Akaranam katbam karyam. Samsaretra bhavisyasti. Terjemahannya: Mungkinkah . perbuatan tiada sebab . an akibatny. di dalam . ahir dan mat. Mengacu pada sloka tersebut sejatinya telah membuka tabir tersembunyi mengenai eksistensi teori atau hukum Causalitas tersebut. Artinya bahwa, teori Causalitas dimaksud memang sudah ada sejak lama, khususnya dalam ajaran Veda yang terkonsep kedalam teori hukum sebab-akibat . Kaitannya dengan pelaksanaan yajya, maka yang menjadi fokus dari teori atau hukum Causalitas dalam penelitian ini adalah fenomena euphoria-nya yang telah menjadi sorotan dunia. Dalam hal ini, diperlukan pengkajian yang mendalam terhadap eksistensi dari kemunculan fenomena euphoria yang berlebihan dalam pelaksanaan yajya, seperti apa bentuk dari https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH euphoria berlebihan dalam pelaksanaan yajya yang dimaksud, apa yang menyebabkan kemunculan fenomena euphoria berlebihan tersebut dalam pelaksanaan yajya, sejauh mana batasan dari kesemarakan . pelaksanaan yajya agar tidak berlebihan, serta dinamika status yang disematkan dalam yajya dengan euphoria yang berlebihan tersebut. Istilah Euphoria atau ada yang menyebutnya juga sebagai Euforia secara umum memang dimaknai sebagai perasaan yang senang dan juga bahagia, baik rohani maupun jasmani (Sudijana. Silaban. Bakir & Wahyu, 2. Euphoria juga memang dikenal sebagai perasaan gembira yang berlebihan, namun Euforia juga berkaitan dengan suatu penyakit tertentu. Secara harfiah, istilah Euphoria adalah kebahagiaan yang tergolong ekstrem dalam situasi tertentu, bahkan terkadang melebihi batas normal. Dalam ilmu psikologi, euphoria diartikan sebagai peningkatan suasana hati dan kebahagiaan yang tidak mencerminkan situasi empiris yang sebenarnya. Saat diri mengalami euphoria, maka diri akan mengalami suatu peningkatan perasaan bahagia yang hiperbolis dan sangat positif. Perasaan bahagia yang ditunjukkan pada kondisi tersebut dianggap hiperbolis, bahkan tidak wajar, jika dibandingkan dengan perasaan bahagia yang normal. Euphoria memungkinkan menjadi salah satu gejala dari sejumlah masalah kesehatan atau gangguan mental. Gejala euphoria secara awam dapat digunakan untuk menggambarkan perasaan sangat senang karena kondisi tertentu. Misalnya, kondisi perasaan karena mampu mencapai atau mewujudkan harapan besar yang memang sangat diinginkan. Personal dapat merasa sangat bahagia dan menggambarkan dirinya sebagai euphoria, namun euphoria juga dapat digambarkan sebagai perasaan gembira atau bahagia yang luar biasa, hiperbola, di luar batas normal, namun tanpa alasan yang valid. Kondisi tersebut bisa jadi merupakan gejala dari penyalahgunaan zat tertentu (Narkotika, dan yang sejenisny. atau bisa juga merupakan bagian dari asal mula kondisi kesehatan mental seseorang (Mimin, 2. Jadi dapat dipahami bahwa, istilah Euphoria atau Euforia merupakan suatu kondisi mental personal yang diliputi oleh perasaan yang bahagia, namun dalam konteks tertentu perasaan yang dimaksud cenderung ekstrem dan berlebihan serta memungkinkan keluar dari batas normal. Terkait dengan istilah ritual yajya tentu sudah menjadi hal yang umum didengar oleh khalayak umum, namun untuk memperjelas maka perlu kiranya juga disampaikan makna dari ritual yajna untuk menemukan benang merah atau keterkaitannya. Kata Yajya sesungguhnya berasal dari Bahasa Sanskerta, yaitu Yaj yang berarti korban. Dengan demikian yajya dapat diartikan korban suci dengan tulus ikhlas. Istilah yajya merupakan kata lain dari upacara atau ritual dalam agama Hindu (Pitriani, 2. Yajya pada dasarnya bisa dilihat dari 2 . kajian perspektif, yaitu Inti yajya secara material, adalah dasar-dasar dari yajya atau upacara yang dilaksanakan sesuai dengan filosofi . , etika . dan sarana . dari upacara yajya yang dilaksanakan. Sedangkan inti yajya secara spiritual, adalah pengorbanan yang setulusnya dari lubuk hati yang paling dalam, serta keikhlasan dan kejujuran yang sungguh-sungguh dari orang yang melaksanakan upacara yajya (Subagiasta, 2. Ritual itu sendiri merupakan teknik . ara, metod. membuat suatu adat kebiasaan menjadi suci. Ritual menciptakan serta memelihara adat sosial juga agama, karena ritual merupakan agama dalam tindakan. Menurut Susane Longer, ritual justru merupakan bentuk dari ungkapan yang bersifat logis dari pada yang bersifat psikologis, ritual memperlihatkan tatanan atas simbol-simbol yang diobjekkan, simbol-simbol tersebut memperlihatkan perilaku serta peranan dan bentuk pribadi para pemuja (Dhavamony, 1. Jadi tidak ada yang berbeda secara definitif antara ritual dengan yajya, fungsi kata ritual dalam hal ini adalah sebagai penegas. Istilah CERiYa apabila dikaji secara konsonan terdengar sangat mirip dengan istilah Ceria dalam kosa kata Bahasa Indonesia https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH yang secara definitif mengarah pada situasi atau kondisi yang penuh dengan kesemarakan dan kegembiraan (Departemen Pendidikan Nasional, 2. Namun dalam hal ini, istilah CERiYa yang dicetuskan pada penelitian ini lebih condong ke arah penyebab-penyebab dari munculnya kesemarakan yang berlebihan dalam sebuah pelaksanaan ritual yajya atau Causal Euphoria Ritual Yajya. Perlu digaris bawahi bahwa fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. intensitas kemunculannya sangat sering terjadi, namun seringkali tidak disadari kehadirannya dan seolah membudaya serta pada akhirnya belum ada yang mampu merangkumnya kedalam sebuah ruang analisis. Sekalipun eksistensinya disadari, namun dikarenakan karakter umat Hindu baik dewasa maupun generasi mudanya . hususnya di Bal. memang terkenal tidak terlalu suka memperpanjang suatu masalah, maka fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. seolah tidak terjamah. Karenanya menurut kajian dari Suardana et al. , . banyak pihak yang pada akhirnya akan mempertanyakan terkait identitas yajya yang sebenarnya, baik dari segi tujuan, manfaat, hingga ke sistematika pelaksanaannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut cenderung muncul manakala antara acauan yajya dengan realita implementasinya di lapangan cenderung kontradiktif. Sehingga oleh para pengamat di lapangan mulai terlihat berani berhipotesa di awal . anpa diteliti terlebih dahul. jika yajya merupakan bentuk euphoria dari umat Hindu . hususnya di Bal. dalam kuantitas yang beragam, dan cenderung menghabiskan biaya yang demikian besar. Hipotesis semacam itu dapat memunculkan pemahaman yang Sebagai contoh, pelaksanaan Tajen dan Tabuh Rah dalam yajya di Pura, keduanya seringkali disamakan pada hal keduanya memiliki fungsi dan makna yang Umat Hindu . hususnya generasi muda Hind. menganggap bahwa Tajen sama dengan Tabuh Rah dan merupakan rangkaian yajya yang harus dilaksanakan. Pemahaman yang keliru tersebut mengakibatkan pelaksanaan yajya tidak terhindar dari perjudian dan telah berlangsung lama, sehingga dianggap sebagai budaya atau tradisi yang perlu dilestarikan. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa agama dengan segala rutinitasnya pun tidak bisa terlepas dari situasi paradoksal, berada dalam suatu posisi yang sangat sulit dan rumit, karena disana terdapat keluhuran dan juga terdapat kebusukan yang begitu kabur batasnya (Sugiharto & Agus, 2. Secara historisasi, tidak mudah untuk menentukan waktu pasti dari kemunculan fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. Namun secara umum, fenomena tersebut sejatinya telah terjadi sejak lama, yaitu sejak modernisasi masuk kedalam kehidupan manusia. Hal senada juga disampaikan oleh Suami . dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa sejalan dengan perkembangan zaman dan teknologi serta perubahan dalam masyarakat, praktik yajya juga mengalami berbagai adaptasi dan perubahan di segala lini. Memang terdapat tantangan tersendiri dalam mempertahankan eksistensi serta relevansi dari ritual yajya tersebut dalam konteks modern, dimana nilai-nilai dan norma sosial mungkin telah berbeda dari masa lalu. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana yajya tetap berfungsi sesuai dengan aturan bakunya dalam kehidupan sosial dan spiritual umat, khususnya pada generasi muda Hindu. Jadi berdasarkan acuan beberapa sumber pustaka dan kajian ilmiah tersebut dapat diketahui dan dipahami bahwa, inti kajian dari fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. tentunya berpusat pada kemegahan dan kesemarakan pelaksanaan yajya yang cenderung berlebihan dan keluar dari koridor-koridor aturan . yang sudah Fenomena tersebut seakan menampilkan realita dari generasi muda Hindu di Bali yang telah terjebak oleh tradisi yang cenderung mengkonstruksi kemegahan dari prosesi ritual yang cenderung menghabiskan biaya yang tinggi, namun mengabaikan kemampuan pribadi. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Analisis Penyebab Kemunculan Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. Di Kalangan Generasi Muda Hindu Bali Secara adikodrati, memang betul eksistensi manusia lahir ke dunia membawa bekal identitas sebagai makhluk yang Tan Hana Wwang Swasta Ayu Nulus atau secara sederhananya adalah identitas pengakuan bagi personal sebagai makhluk yang sejatinya tidak sempurna. Karenanya, tidak mengherankan apabila dalam rutinitasnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia pernah dan akan tetap dalam sesekali langkah hidupnya menampilkan nilai minus (-) pada suatu sisi, sikap, perkataan bahkan pemikirannya, baik yang disengaja ataupun yang memang tidak disengaja. Namun, realita tersebut pada dasarnya bukanlah sebuah vonis yang harus membutakan atau bahkan membuntukan ruang gerak manusia dalam meningkatkan kualitas dirinya. Disinilah diperlukan peran dari sebuah teori yang bernama Mulatsarira atau Introspeksi Diri guna mengevaluasi setiap tindakan atau rutinitas yang dilakukan oleh setiap personal dalam hidupnya, termasuk dalam setiap rutinitas spiritualnya . ermasuk pada pelaksanaan yajya di Bal. Melalui teori Mulatsarira tersebutlah, umat diajak belajar untuk mencoba membedah serta mengevaluasi sebab-musabab dari kemunculan atau kehadiran nilai minus (-) dari setiap rutinitas keimanannya, termasuk dalam hal ini membedah sebab-musabab nilai minus (-) dari setiap rutinitas yajya yang intens dilaksanakan oleh generasi Hindu di masyarakat. Senada dengan hal tersebut, fenomen munculnya Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. di kalangan generasi muda Hindu di Bali tentu juga memiliki latar belakang penyebabnya yang sangat krusial dan penting untuk disembuhkan kembali, diantaranya: Tingkat Pemahaman Tattwa (Filsafa. Agama Rendah Sentilan hangat yang sejak dahulu melegenda tentang kebiasaan buruk dari generasi pembelajar . enerasi mud. dan pada akhirnya menjadi jargon dalam membangun dasar pemikiran yang kuat pada peserta didik adalah janganlah belajar setengah-setengah. Jargon tersebut pada awalnya terasa dan bahkan dianggap sebagai angin lalu oleh para generasi pembelajar. Maka tidak mengherankan jika para pendidik (Gur. selalu merasa kesal manakala siswanya sulit memahami materi pembelajaran secara utuh atau penuh. Demikian pula halnya dalam pendidikan agama Hindu, yang pada dasarnya telah dibekali dasar pembelajaran yang sangat apik, lengkap, saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, bahkan dapat dinyatakan sempurna yang terangkum dalam konsepsi pembelajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, yaitu pengetahuan atau pembelajaran berbasis upakara . itual atau yajy. , pembelajaran berbasis norma etika dan sopan santun . , dan yang paling penting adalah pengetahuan atau pembelajaran berbasis pemahaman yang mendalam dan holistik . Hal yang menjadi permasalahannya adalah manakala pendidikan agama hanya . ahkan selal. difokuskan pada 1 . aspek pemahaman saja, seperti halnya pengetahuan mengenai yajya yang dominan bahkan selalu hanya difokuskan pada aspek ritualistiknya semata, dan mengenyampingkan aspek nilai-nilai filosofisnya. Perlu dipahami bersama, salah satu penyebab kemunculan jargon nak mula keto atau memang demikian adanya, selain dikarenakan aspek mitologi tabu, juga dominan disebabkan oleh kurang atau terbatasnya pengetahuan filosofis . yang dimiliki oleh umat beragama itu sendiri, khususnya pada generasi mudanya. Istilah tattwa itu sendiri berasal dari kata tat yang berarti hakikat, kebenaran, kenyataan, dan kata twa berarti yang bersifat (Sura, 2. Jadi dalam hal ini, istilah tattwa bermakna yang bersifat kebenaran atau kebenaran mutlak. Menurut Astawa & Resi . dalam penelitiannya menyatakan bahwa tattwa dalam ajaran Hindu ialah pemerolehan jagat pikayunan dari para Maha Rsi atau Sang Maha bijaksana di zaman https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dahulu dalam membentangkan berbagai cara dalam memperoleh beragam ilmu Hindu dharma pada dasarnya telah mengajarkan cara dalam memperoleh ilmu pengetahuan fisika dan metafisika melalui 3 . Ketiga jalan tersebut cukup familiar dalam ajaran Hindu dan umumnya dikenal sebagai Tri Pramana, yaitu tiga jalan atau tiga cara dalam memperoleh suatu pengetahuan yang terdiri dari Pratyaksa Pramana . Anumana Pramana . dan Agama Pramana . empelajari sastra Hal tersebut membuktikan bahwa sejak zaman dahulu para Maha Rsi telah intens mempelajari ilmu pengetahuan, baik secara teoritis maupun secara filosofis . Pada berbagai lontar berbahasa Jawa Kuno, istilah tattwa menunjuk pada prinsipprinsip kebenaran yang tertinggi. Siwatattwa berbicara mengenai hakikat Siwa, dan dalam tattwa inilah terkandung dogma agama Hindu yang harus dipercaya tanpa perlu dipertanyakan lagi. Tattwa agama Hindu di Indonesia pada dasarnya merupakan hasil konstruksi dari ajaran filosofis yang terkandung dalam kitab suci Veda. Sad Darsana. Upanisad. Tantrayana. Shiwa Siddhanta, ke dalam ajaran Siwatattwa. Konsep Nirguna Brahman dalam Upanisad dan Adwaita Wedanta ditransformasikan menjadi konsep Paramasiwa yang juga bersifat Nirguna. Paramasiwa kemudian menjadi Sadasiwa yang memiliki empat kemahakuasaan (Cadu Shakt. , dan dalam penciptaan berevolusi kembali menjadi Siwa (Gunawijaya, 2. Jika melihat dari eksistensi sejumlah kesusastraan yang mendasari filsafat agama Hindu tersebut maka sudah seharusnya generasi muda Hindu mampu melihat atau memandang eksistensi agamanya dari dimensi filosofisnya, terutama dalam hal pelaksanaan yajya yang merupakan rutinitas mendasar dalam keseharian umat. Namun yang terjadi di lapangan justru terbalik, yajya seolah digiring ke arah ritual euphoria guna menaikkan citra kelas sosial di masyarakat. Puja . dalam penelitiannya menerangkan, bahwa euphoria ritual yang terjadi di Bali memang disebabkan oleh rendahnya pemahaman tattwa agama dari masyarakat Bali . hususnya generasi muda Hind. yang masih banyak belum memahami ajaran agama Hindu secara baik. Rendahnya pemahaman tattwa agama tersebut juga disebabkan oleh adanya hegemoni . ominasi kekuasaa. yang dilakukan oleh sekelompok orang tertentu yang merasa lebih atau paling berhak atas pengetahuan mengenai agama, khususnya aspek ritual yang sejak zaman Veda memang menjadi otoritas atau wewenang dari kaum Brahmana. Sehingga pelaksanaan ritual (Panca Yajy. di Bali di era modern serupa layaknya pelaksanaan ritual pada zaman Veda yakni apa kata Brahmana seakan umat tidak berani bertanya serta hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Brahmana dan juga tidak ingin tahu mengenai makna ritual yang dilakukan. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk kemunduran teologi ritual di Bali. Persepsi yang menyentil telah diutarakan oleh Utama . dalam kajiannya yang menyoroti realita di lapangan terkait semakin meningkatnya intensitas aktivitas ritual berlebihan oleh masyarakat Hindu yang sudah bergaya hidup postmodern, bahwa: Salah satu karakteristik keberagamaan masyarakat Hindu di Bali yang sangat mudah untuk diamati ialah tingginya intensitas ritual. Dalam keberagamaan masyarakat agraris hal ini sah-sah saja mengingat banyaknya waktu luang digunakan untuk mempersiapkan kepentingan ritual keagamaan. Situasinya kini berubah dari masyarakat agraris yang bersifat komunal bergerak menuju masyarakat industri yang cenderung bersifat individual. Persoalan saat ini adalah tingginya intensitas ritual keagamaan yang membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit, berhadapan dengan gaya hidup postmodern yang ditandai dengan semakin longgarnya peran kontrol lembaga-lembaga tradisional. Hal ini bisa terjadi karena masyarakat posmodern dikatakan sedang mengalami situasi kondisi yang disebut skizofrenia. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Perihal skizofrenia tersebut. Piliang . mengilustrasikannya sebagai sebuah dunia yang di dalamnya termuat gairah, hasrat serta kesenangan yang seolah mengalir tiada henti menuju arah yang disukai, tanpa bisa dikendalikan ego sehingga dunia realitas tersebut akhirnya dibentuk oleh dorongan-dorongan insting personal yang tidak terkendalikan lagi oleh ego. Citra serta tanda-tanda mengalir dengan kecepatan yang tinggi di dalam media, dan di dalamnya kegilaan, hingga sampai pada titik dimana ia tidak meninggalkan jejak makna apapun bagi peningkatan kehidupan personal yang bermakna. Manusia hanyut ke dalam kegilaan tanda, kegilaan prestise, kegilaan life style . aya hidu. , kegilaan trend, kegilaan tempo pergantiannya, tanpa sempat menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hutan rimba hasrat dan tanda tersebut menciptakan manusia-manusia dengan diri yang terbelah. Menurut kajian dari Rizki & Wardani . skizofrenia secara medis dominan dialami oleh individu saat memasuki usia muda atau produktif, umumnya pria pada usia 15 sampai 25 tahun, sedangkan wanita pada usia 25 sampai 35 tahun. Berdasarkan rentang usia tersebut maka dapat diketahui bahwa perilaku lost of control . epas kendal. atau yang memang berlebihan dalam hal apapun termasuk dalam hal beragama cenderung dominan dialami oleh generasi mudanya. Mengacu pada fakta gaya hidup postmodern dalam aktivitas ritual umat beragama yang memicu lahirnya kondisi skizofrenia tersebut cukup menarik jika dikaitkan juga dengan kemunduran tingkat pemahaman generasi muda Hindu terhadap tattwa agama ataupun tattwa yajya. Hal tersebut terjadi mengingat pelaksanaan ritual agama di era modern cenderung dominan menampilkan sisi euphoria party yang berlebihan dan kemegahannya saja tanpa meninggalkan jejak makna apapun bagi perkembangan kualitas keimanan umat. Sebagai penegas. Suyasa . dalam penelitiannya mencoba menggambarkan mengenai gaya hidup dan aktifitas ritual umat beragama yang lost of control . epas kendal. di zaman postmodern yang sejatinya dapat dilihat pada perwakilan bab IV, sloka X pada kesusastraan Nitisastra yang berbunyi. Pangdening kali murkaning jana wimoha matukar arebut kawiryawan. Tan wring ratnya makol lawan Bhatara wandawa, ripu kinayuh paksrayan. Dewa-drewya winasa dharma rinuruh kabuyutan inilan pada sepi. Wyattha ng sapatha su prasasti linrgur tekeping Widharma murka ring jagat Terjemahannya: Karena pengaruh jaman Kali, manusia menjadi kegila-gilaan, suka berkelahi, berebut kedudukan yang tinggi-tinggi. Mereka tidak mengenal dunianya sendiri, bergumul melawan saudara-saudaranya dan mencari perlindungan kepada musuh. Barang-barang suci dirusakkan, tempat-tempat suci dimusnakan, dan orang-orang dilarang masuk ke tempat suci, sehingga tempat itu menjadi sepi. Kutuk tidak berarti lagi, hak istimewa tidak berlaku semua itu karena perbuatan orang-orang angkara murka. Realita dari beberapa sumber ilmiah tersebut tentu saja harus mendapat perhatian khusus dari umat agama, karena jika hal tersebut dibiarkan begitu saja bukan tidak mungkin eksistensi agama di kalangan generasi muda Hindu tidak lagi menjadi jalan yang membebaskan namun justru terasa sebagai beban yang sangat menekan dan membelenggu, dan akhirnya akan ditinggalkan begitu saja terlebih bagi kalangan generasi muda Hindu yang secara ekonomi tergolong kurang mampu. Sangat mengerikan memang jika aspek agama hanya dipahami secara dangkal sebatas ritual dan mengenyampingkan aspek nilai tattwa-nya. Padahal memahami aspek tattwa agama apabila menggunakan analogi sebutir telur maka terungkap bahwa unsur tattwa yang sesungguhnya ialah kuning telur yang merupakan elemen inti . dari agama, realitanya tidak begitu kuat dalam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH menstimulus pemahaman atau pendalaman dari konsep-konsep ajaran, dan justru semakin lemah juga ketika masuk ke dalam tatanan perilaku berke-susila-an yang merupakan bagian putih telur sebagai elemen isi . Faktanya, yang justru terlihat aktif, kreatif serta produktif dan terus bergerak secara ekspresif, meskipun sejatinya masih berada pada tataran simbolik adalah komponen upacara . itual yajy. yang sebenarnya merupakan bagian kulit sebagai elemen materi atau kemasan praktik dari agama Hindu yang sarat simbol dan makna, meski belum tentu bersinergi dalam laksana (Widana, 2. Jadi berdasarkan acuan beberapa sumber pustaka dan kajian ilmiah tersebut dapat diketahui dan dipahami bahwa, tingkat pemahaman yang rendah terkait tattwa agama . memang merupakan penyebab . dari munculnya kekeliruan persepsi . dalam melaksanakan yajya tersebut. Jika dilihat dari manajemen struktur tattwa simbolik, dominan generasi muda Hindu di Bali hanya dan masih berada pada tataran permukaan dalam ber-yajya, sehingga pada akhirnya generasi muda Hindu hanya akan tahu dengan keberadaan yajya namun tidak paham makna yang terkandung dalam pelaksanaan yajya tersebut, padahal yang dibutuhkan dalam belajar dan mengimplementasikan ajaran agama . hususnya yajn. adalah pemahaman secara holistik dan mendalam. Cara Pandang Beragama Yang Keliru Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap umat beragama juga memiliki cara pandangnya tersendiri . ika tidak ingin disebut memiliki cara pandang yang berbed. Bahkan tidak jarang pula bahwa cara pandang yang beragam tersebut terkadang memunculkan sejumlah intrik dan juga gesekan yang cukup berbahaya. Bahkan menurut kajian dari Yasa . perdebatan yang menjurus pada pertikaian hingga ke pertumpahan darah seringkali terjadi dikarenakan perbedaan perspektif umat manakala mendiskusikan atau memperdebatkan agama. Egosentrisme yang terpancing muncul mengakibatkan diri personal merasa perlu serta merasa paling mampu dalam menjelaskan perihal ajaran agama. Sangat menyedihkan memang, karena eksistensi agama yang seharusnya hadir untuk membangun kebahagiaan dan kedamaian jiwa justru ternodai akibat cara pandang atau pola pikir manusia yang merasa paling paham dengan agama bahkan dengan Tuhannya. Menurut People & Bailey . cara pandang personal merupakan cara dari orang tersebut dalam mengartikan realita atau kenyataan serta peristiwa, termasuk dalam hal ini gambaran mengenai dirinya sendiri dan bagaimana orang tersebut berhubungan dengan dunia di sekitarnya. Definisi yang lebih luas juga dikemukaan oleh Ishii et al. , . yang menyatakan bahwa cara pandang merupakan orientasi dari budaya terhadap eksistensi dari Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, alam, pertanyaan tentang keberadaan sesuatu, alam dan kosmos, kehidupan, moral . dan alasan etis, penderitaan, kematian, serta isu filosofis lainnya yang mempengaruhi bagaimana anggotanya memandang dunia. Pentingnya menganalisis hubungan agama dengan cara pandang semakin terasa dalam konteks komunikasi lintas budaya, karena pada era globalisasi hal tersebut mampu mempertemukan orang dari berbagai latar belakang agama dalam suatu interaksi yang semakin intens. Secara teoritis, konteks hidup manusia terbentuk sedemikian rupa sehingga, masyarakat beragama tidak lagi saling berjauhan. Penganut agama telah melintasi batasbatas geografis dan budaya untuk bertemu serta hidup bersama. Perjumpaan antar agama tersebut tentu melibatkan perjumpaan antar cara pandang. Lewat pemahaman yang lebih mendalam tentang isi agama masing-masing, maka penganut agama akan semakin terbantu dalam hal memahami sikap, perilaku, serta tindakan yang diambil oleh orangorang yang ditemuinya sehari-hari (Braswell, 1. Namun yang menjadi masalah adalah manakala cara pandang beragama yang muncul dari para penganutnya yang masih https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH muda . enerasi mudany. telah keluar dari ketentuan bakunya. Berdasarkan pengamatan di lapangan, memang terlihat jelas bahwa agama sesungguhnya mengambil peranan penting dalam membentuk perspektif atau cara pandang seseorang, khususnya di kalangan generasi muda sebagai generasi penerusnya. Akan menjadi hal yang sangat positif apabila cara pandang yang terbentuk dari umat beragama yang masih muda tersebut juga positif, namun yang terjadi justru sebaliknya manakala cara pandang penganut agama dalam melihat agamanya cenderung keliru, ekstrim atau negatif. Individu yang cenderung rentan mengalami kesalahpahaman dalam cara pandang tersebut memang generasi mudanya. Kesalahpahaman cara pandang tersebut tersebut seringkali muncul dikarenakan perbedaan dalam menginterpretasi. Perbedaan dalam menginterpretasi tersebut dapat seringkali menimbulkan perdebatan yang sengit, sehingga seringkali pula menimbulkan atau memicu konflik sosial yang cenderung ekstrim. Konflik antar individu yang disebabkan oleh perbedaan cara pandang juga diistilahkan sebagai pertentangan pribadi (Triantoro, 2. Umumnya generasi muda dalam menganalisa fenomena kehidupan sosial bahkan budaya cenderung mengandalkan kebiasaan berprasangka. Hal tersebut tidak mengherankan, mengingat generasi muda dominan mengandalkan egonya dibandingkan dengan nalar dan kebijaksanaannya. Padahal menurut kajian dari Lubis & Luthfi . dampak dari prasangka yang tidak berdasar tersebut justru memicu timbulnya kesalahpahaman di masyarakat khususnya di kalangan generasi mudanya. Kesalahpahaman dalam cara pandang juga akan semakin ekstrim manakala terjadi dalam ruang beragama, karena sangat beresiko terjadi pengkaburan atau pemutarbalikkan makna yang sebenarnya dari ajaran agama tersebut . hususnya oleh generasi mudany. Demikian pula halnya bila terjadi dalam rutinitas beragama dalam ajaran Hindu. Sebagaimana halnya dalam konteks pelaksanaan yajya misalnya, esensi makna yang sebenarnya dari yajya tersebut akan jauh melenceng keluar dari jalurnya manakala cara pandang generasi muda Hindu juga keluar dari esensi bakunya. Yajya sepenuhnya dianggap sebagai party . yang dipenuhi dengan euphoria gelak tawa kegembiraan. Bahkan tidak jarang dalam pelaksanaan dari yajya tersebut diselingi atau disusupi oleh yajya yang cenderung ekstrim, seperti pesta minuman keras . uak, ara. dan yang Pada akhirnya hal tersebut menjadi kebiasaan yang membiasa dan lambat laun pun akan berubah menjadi tradisi yang membudaya. Cara pandang seperti itulah yang memang sedari awal harus diluruskan kembali, meskipun secara teoritis hal tersebut tidaklah mudah serta akan membutuhkan waktu yang Cara pandang yang ekstrim dan keliru tersebut juga seringkali disalahartikan dengan memaksakannya masuk dan seolah-olah selaras dengan teori sosial. Karenanya, pelaksanaan yajya yang memasukkan euphoria seolah dianggap sebagai yajya yang lebih baik merupakan cara pandang yang sangat membahayakan. Perspektif tersebut akan tetap ada jika tidak ada kemauan untuk merubah cara pandang tersebut. Karenanya tidak keliru jika sastra Nitisataka, sloka 2 juga menyindir bahwa para dewa-pun bahkan kesulitan untuk meluruskan cara pandang umat yang keliru . eskipun bukan orang bodo. dalam memahami ajaran agamanya. Hal tersebut dapat dilihat pada sloka berikut: Ajya sukhamArAdhyah sukhatamArAdhyate viueajyatah JyAnala vadur vidagdham brahmApi tam naram na rayjayati Terjemahannya: Orang bodoh dapat diajari dengan mudah, orang terpelajar paham hanya dengan sedikit diberi petunjuk, sedangkan orang yang memiliki sedikit pengetahuan merasa dirinya paling pandai sehingga Dewa Brahma pun tidak dapat https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Jadi berdasarkan acuan beberapa sumber pustaka dan kajian ilmiah tersebut dapat diketahui dan dipahami bahwa, kekeliruan ataupun kekakuan cara pandang . ersepi ataupun perspekti. dalam beragama pada generasi muda Hindu di Bali memiliki tingkat bahaya yang sangat tinggi. Hal tersebut dikarenakan cara pandang yang keliru terkait ajaran agama ataupun yajya sangat mungkin menyebabkan munculnya fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. di kalangan generasi muda Hindu yang lose of control atau lepas kendali. Perlu dipahami juga bahwa, kekeliruan cara pandang dalam beragama tersebut juga dapat memicu munculnya kesalahpahaman dan kesimpangsiuran yang berkelanjutan, dan bukan tidak mungkin akan menjadi kebiasaan yang membudaya, khususnya pada generasi muda Hindu di Bali. Arus Modernisasi dan Globalisasi Memang tidak dapat dipungkiri jika perubahan itu kekal adanya seiring dengan perjalanan waktu, dan perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada satu aspek saja, namun terjadi hampir di semua aspek kehidupan manusia. Bahkan juga terjadi pada aspek bidang tradisi dan juga budaya. Jika mengacu pada kaca mata umum, realita perubahan tersebut terasa dan bahkan dianggap wajar. Namun, jika melihat dari kaca mata eksistensi kebertahanan, maka realita perubahan tersebut memang cenderung beresiko . ika tidak ingin disebut membahayaka. Perubahan yang sering terjadi umumnya juga dibalut oleh wacana yang lebih halus agar perubahan yang dimaksud dapat diterima tanpa adanya gesekan yang ekstrim, karenanya tidak mengherankan jika perubahan tersebut lebih sering disebut dengan istilah modernisasi yang didalamnya juga terdapat perkembangan teknologi. Perlu dipahami bersama bahwa modernisasi dan juga globalisasi cenderung dapat mengubah perilaku manusia . hususnya generasi mud. menjadi serba cepat bahkan ada kecenderungan mengarah ke karakter pragmatis. Hal tersebut dikarenakan ilmu pengetahuan modern seolah menjanjikan kemudahan-kemudahan kepada umat manusia sehingga banyak umat yang pada akhirnya menginginkan hal yang serba cepat serta praktis. Realita tersebut juga berpengaruh atau berdampak pada pola pikir, sikap serta perilaku umat yang pada akhirnya berdampak juga pada adanya pergeseran peradaban manusia (Indiani. Winaja & Winantra, 2. Hal senada juga disampaikan oleh Raharjo. Budiastra & Suhardi . dalam penelitiannya yang menemukan fakta bahwa globalisasi sangat mempengaruhi kehidupan serta pola pikir umat manusia di dunia, termasuk di Indonesia. Arus globalisasi yang begitu cepat seakan memberikan pengaruh dan perubahan yang sangat besar pada kehidupan masyarakat, terutama di kalangan generasi muda, tanpa terkecuali juga berimbas pada generasi muda Hindu yang riskan untuk terpengaruh oleh arus globalisasi. Hal tersebut mengingat generasi muda Hindu memiliki pemikiran yang lebih terbuka dalam menerima beragam bentuk pembaruan. Tidak sedikit generasi muda Hindu yang justru memperoleh pengaruh negatif dari perubahan tersebut, sehingga sangat beresiko bagi generasi muda Hindu untuk kehilangan identitas kehinduannya. Namun hal yang tentunya lebih miris adalah manakala perubahan atau modernisasi tersebut justru lose of control atau lepas kendali. Maka tidak mengherankan jika situasional beragama menjadi demikian kacau. Jyoti . dalam bukunya yang berjudul Reformasi Ritual. Mentradisikan Agama bukan Mengagamakan Tradisi telah membuktikan dengan memberikan statemen bahwa, dominan penduduk di Bali cenderung beragama Hindu, ketika masih di dalam tatanan kehidupan agraris cenderung berjalan dengan baik bahkan agama Hindu terbukti kaya akan budaya-budaya dari kehidupan agraris tersebut. Namun tatkala Bali dilanda oleh pengaruh globalisasi dunia seperti halnya saat ini, serta terlihat masuk ke dalam era masyarakat industri . , maka banyak masalah-masalah yang bermunculan, khususnya yang terkait dengan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kehidupan sosial kemasyarakatan. Tentu saja hal tersebut berdampak sangat besar pada proses kehidupan beragama di Bali, khususnya tentu pada agama Hindu. Dalam hal ini termasuk munculnya beragam masalah yang terkait dengan upakara dan upacara keagamaan . yang terlihat semakin lama semakin besar. Menurut kajian dari Arjawa . , keberanian umat Hindu untuk memasukkan unsur-unsur modern ke dalam ritual yajya-ya, dapat dilihat dari konteks teori modernisasi baru. Hal yang perlu digaris bawahi adalah masuknya modernisasi yang diperkenalkan dari dunia Barat akan tetap memiliki kelemahan-kelemahan berupa efek negatif kepada masyarakat . hususnya pada generasi mudany. Misalnya penggunaan minyak sebagai bahan bakar tetap memiliki efek negatif berupa pencemaran udara. Karena itulah teori modernisasi kemudian dimodifikasi, yaitu teori modernisasi baru, mengingat modernisasi sering disebutkan sebagai anti-tradisi. Pengaruh modernisasi dan juga globalisasi dalam konteks kehidupan sosial masyarakat postmodern kontemporer termasuk yang mempengaruhi generasi muda Hindu telah menampakkan bentuknya dalam gaya hidup masa kini yang cenderung materialistis konsumeristik. Sejatinya konsumeristik merupakan manifestasi dari semangat kapitalisme yang menonjolkan pemanfaatan materi dalam bentuk modal. Menyadari realita tersebut, tidak mengherankan jika Rendra dalam Adlin . mensinyalir bahwa keberadaan agama, nilai-nilai sub-kultur dan tradisi ternyata sudah mulai dirusak oleh kapitalisme global, tentunya dengan filosofi uangnya. Perusakan tersebut cenderung melahirkan generasi penerus yang konsumerisme, narsisisme dan juga Realita dari perubahan basis ekonomi pun terasa semakin tumbuh dan menjalar pada gaya hidup masyarakat konsumerisme sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat modern yang sedari awal dikembangkan oleh idealism kapitalisme, yang diartikan sebagai masyarakat konsumtif dalam kemasan serba materi. Dalam bingkai konsumerisme tersebut personal berkonsumsi secara berlebihan atau tidak sepantasnya. Hal tersebut dilakukan secara sadar dan berkelanjutan karena sudah menjadi cara hidup (Rachel & Rangkuty, 2. Seperti halnya yang sedang melanda henerasi mudat Hindu saat ini di tengah sentuhan gaya hidup post modern. Dimana orientasi hidup mulai bergerak ke arah materi dan efisiensi serta utilitas Terlebih didukung juga oleh keinginan untuk menghirup serta menikmati era kebebasan, maka sifat dan juga karakter individualistik umat Hindu kontemporer dengan cepat beradaptasi sekaligus mengadopsi pola-pola gaya hidup materialistik dan konsumtif dalam melaksanakan kewajiban beragamanya, terutama dalam rutinitas ritual . Permasalahannya adalah dibalik fenomena rutinitas ritual . di era peradaban postmodern kontemporer yang kian sekuler juga membawa implikasi . berupa terjadinya dekonstruksi terhadap Tri Kerangka Agama Hindu yang seharusnya menekankan pada substansi . dan esensi . Namun, kenyataannya yang terjadi dan berkembang jutsru lebih mengutamakan aspek materinya . saja, baik dalam bentuk persembahan ritual maupun penampilan Realita tersebutlah yang diasosiasikan sebagai situasi modern, dimana paradigma utamanya adalah tubuh atau materi serta pikiran. Dari pengutamaan tubuh dan materi tersebutlah menghasilkan budaya konsumerisme. Sedangkan pengutamaan pikiran justru melahirkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Pada situasi semacam itu, roh . seakan tersisih, dan yang seolah dikedepankan ialah bagaimana bisa memiliki lebih banyak . o hav. , dan bukan tentang bagaimana menjadi orang yang lebih berkualitas serta lebih bermakna . o b. Roh (Jiw. yang lebih berurusan dengan menjadi tersebut, tidak memperoleh tempat. Meskipun pada akhirnya memperoleh tempat, namun ritual-ritual religius kekinian sudah bercampur baur dengan perayaan konsumerisme https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH (Adlin, 2. Hal yang lebih ekstrim lagi adalah situasional modernisasi dibidang tradisi dan budaya pada generasi muda cenderung akan memicu dampak negatif yang beresiko menyebabkan melunturnya tradisi dan juga budaya bangsa (Opietha, 2. Jadi berdasarkan acuan beberapa sumber pustaka dan kajian ilmiah tersebut dapat diketahui dan dipahami bahwa, arus modernisasi dan globalisasi juga telah memainkan perannya sebagai penyebab munculnya Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. di kalangan generasi muda Hindu di Bali. Realita tersebut harus diakui dengan lapang dada, karena mengingat arus modernisasi dan globalisasi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pertumbuhan dan juga perkembangan pada generasi muda Hindu. Selama ini arus modernisasi dan globalisasi di kalangan generasi muda Hindu di Bali tersebut cenderung dianggap sebagai hal yang biasa saja, karenanya tidak mengherankan jika pengaruhnya yang demikian kuat dan ekstrim seakan tidak terlacak dan dianggap wajar-wajar saja. Solusi Dalam Mengatasi Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. Di Kalangan Generasi Muda Hindu Bali Keyakinan bahwa tidak ada masalah tanpa solusi sejatinya menjadi dasar dari pengembangan penelitian ini. Demikian pula halnya terkait solusi dalam mengatasi masalah kemunculan fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. Di Kalangan Generasi Muda Hindu di Bali. Solusi yang dapat digunakan sejatinya tidak harus solusi yang bersifat high class, karena menggunakan solusi yang bersifat fundamental pun dapat Berikut adalah beberapa solusi mendasar . yang dapat digunakan sebagai pijakan mendasar dalam mengatasi fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. tersebut, diantaranya. Memperdalam Ajaran Agama Hindu Jargon atau wacana yang menegaskan agar diri semakin memperdalam ajaran agama tentu sudah sangat sering terdengar di lapangan. Hampir di semua agama menegaskan agar umatnya . hususnya generasi penerusny. memperdalam ilmu agamanya guna meningkatkan kualitas dirinya. Namun yang menjadi masalah adalah masih banyak umat yang salah paham dalam mengartikan implementasi dari memperdalam ajaran agama tersebut. Realita tersebut dapat dilihat dari banyaknya umat yang menempatkan agama hanya sebagai identitas diri semata, namun perilakunya dapat dikatakan jauh dari kata sesuai dengan filsafat dari ajaran agamanya masing-masing. Padahal dalam konteks implementatif, memperdalam ajaran agama tidak hanya sekedar agar umat beragama memiliki pengetahuan umum tentang agama, namun lebih daripada itu adalah agar umat beragama juga sampai pada taraf mengadakan refleksi atau mampu bercermin dan mengevaluasi, terkait mengapa diri harus menganut agama, dan bagaimana filosofisnya (Permata, 2. Secara implementatif, memperdalam ajaran agama, khususnya agama Hindu perihal yajya bagi generasi muda Hindu di Bali sejatinya dapat dilakukan dengan banyak hal, seperti membaca literatur agama, mengikuti dialog antaragama atau dialog keagamaan, dan juga menghadiri acara-acara atau upacara Beberapa jalan tersebut dapat dikatakan sebagai Langkah Alternatif Fundamental yang implementasinya terbilang sederhana namun uniknya adalah tidak banyak umat yang bersedia melaksanakannya. Meskipun demikian, bukan berarti Langkah Alternatif Fundamental tersebut dapat ditinggalkan begitu saja. Justru langkah-langkah mendasar . tersebutlah yang sejatinya harus sudah sangat dikuasai oleh umat beragama, terlebih dalam pelaksanaan yajya. Generasi muda Hindu sepatutnya bersyukur, mengingat jenis dan tingkatan yajya dalam keyakinan Hindu di Bali sangat beragam, karena realita tersebut membuktikan bahwa konsep keanekaragaman sudah ada sejak awal dalam rutinitas keagamaan Hindu. Hal pertama yang dapat dilakukan oleh https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH generasi muda Hindu di Bali untuk memperdalam ajaran agama perihal yajya tentunya adalah dengan membaca literatur-literatur keagamaan yang sarat akan nilai-nilai tattwa . , sarat akan nilai-nilai etika, dan juga sarat akan nilai-nilai implementatif tata laksana yang patut dari pelaksanaan yajya. Menurut Subadiyono . kemampuan mengonstruksi makna dalam membaca literatur merupakan sesuatu yang sangat penting bagi siapa saja . ermasuk generasi mud. yang ingin meraih peningkatan serta keberhasilan. Membaca literatur yang baik bukanlah sekedar membaca hanya untuk berhadapan dengan teks bagian awal hingga akhir lalu lupa informasi atau bahkan tidak memahami yang dibaca, melainkan membaca yang dapat mengonstruksi makna kembali bahkan dapat memperluas makna. Hal senada juga disampaikan oleh Seng . yang menegaskan bahwa membaca literatur merupakan sebuah proses dalam mengenali, menginterpretasikan, dan mempersepsikan. Pemahaman bacaan itu sendiri merupakan kesanggupan dalam memahami makna bahan tertulis dan mencakup kesadaran strategi menuju untuk mengerti. Hal mendasar kedua yang juga dapat dilakukan oleh generasi muda Hindu di Bali dalam memperdalam ajaran agama Hindu perihal yajya adalah dengan rutin mengikuti dialog-dialog Salah satunya adalah rutin menghadiri dan mendengarkan Dharma Wacana ataupun sosialisasi keagamaan, khususnya yang sarat dengan makna filosofis dari yajya itu sendiri. Dharma Wacana merupakan aktifitas dialog dan sosialisasi keagamaan yang sudah sangat dikenal oleh umat Hindu, khususnya di Bali. Wacana secara definitif berarti ucapan atau tutur kata, jadi dalam hal ini istilah Dharma Wacana diartikan sebagai tutur kata atau ceramah mengenai perihal ajaran Dharma atau ajaran agama Hindu. Pada periode yang lalu Dharma Wacana pernah disebut sebagai Upanisada, namun istilah tersebut dianggap terlalu tinggi karena istilah Upanisada secara fundamental merupakan wejangan dari guru rohani kepada siswanya tentang Rahasyajnana atau pengetahuan rahasia (Wirawan, 2. Dari Dharma Wacana tersebutlah generasi muda Hindu akan memperoleh pemahaman yang sebenarnya mengenai ajaran agama, khususnya terkait hikmah filosofis dari pelaksanaan yajya dan aturan yang benar mengenai proses atau tata cara pelaksanaan yajya. Hal mendasar ketiga yang bisa dilakukan oleh generasi muda Hindu di Bali dalam memperdalam ajaran agama perihal yajya ialah dengan aktif menghadiri acara atau upacara keagamaan, seperti Piodalan atau yang sejenisnya. Di Bali, sejatinya telah ada konsep yang mendorong aspek keaktifan umat dalam menghadiri acara atau upacara Konsep dimaksud tertuang dengan sangat jelas dalam konsep Ngayah yang telah mentradisi dan membudaya di kalangan umat Hindu di Bali. Menurut kajian dari Arafat et al. , . yang mencoba menganalisis eksistensi kebudayaan Bali menyatakan bahwa tradisi Ngayah merupakan kearifan lokal masyarakat dimana didalamnya terjadi komunikasi budaya lokal. Umat dalam menjalankan tradisi Ngayah tersebut patuh terhadap hukum adat, mulai dari disiplin terhadap suara Kulkul . yang merupakan simbolisasi penanda waktu . dimulainya pelaksanaan Ngayah hingga ke pembuatan sarana upakara yang sesuai dengan pedoman sastra dan aturan adat istiadat setempat, yang disertai dengan keikhlasan hati untuk mengikuti dan menjalani setiap rangkaian upacara dalam tradisi Ngayah tersebut. Selain mematuhi hukum adat, tradisi Ngayah juga berperan sebagai wadah komunikasi bagi umat guna membangun komunikasi yang baik, sehingga bisa saling mengenal, belajar bersosialisasi, menjalin keakraban, membangun etika dan sopan santun dalam berbicara serta mengenal karakter masyarakat. Melalui kepatuhan dalam menjalankan tradisi Ngayah tersebutlah sejatinya secara langsung maupun tidak langsung akan memperkuat keimanan generasi muda Hindu, karena dalam pelaksanaannya akan ditemui beragam struktur dan arsitektur simbolis yang menstimulus https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH umat dalam mengetahui makna religius yang terkandung didalamnya. Jadi berdasarkan acuan beberapa sumber pustaka dan kajian ilmiah tersebut dapat diketahui dan dipahami bahwa, solusi awal yang dapat digunakan sebagai pijakan mendasar dalam mengatasi fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. pada generasi muda Hindu di Bali adalah dengan jalan memperdalam ajaran agama Hindu, melalui beberapa langkah fundamental . , seperti . Intens membaca literatur-literatur keagamaan Hindu yang secara khusus memuat ajaran, arahan serta tuntunan mengenai yajya, . Intens atau rutin mengikuti dialog-dialog antaragama, guna menambah wawasan keagamaan khususnya mengenai yajna, dan . Rajin menghadiri acara-acara keagamaan yang menghadirkan beragam konsep dan bentuk implementasi riil dari pelaksanaan yajya itu sendiri, termasuk di dalamnya tata cara . ata laksana atau tekni. , dan juga tata etika . ata tertib atau atura. dalam melaksanakan yajya. Memaksimalkan Kualitas Penyuluh Agama Hindu Eksistensi penyuluh agama secara umum dalam dimensi kuantitas sejatinya sudah sangat banyak. Namun fakta tersebut akan berbanding terbalik manakala melihat kuantitas jumlah penyuluh yang memang betul-betul serius dan bersedia aktif untuk turun ke lapangan melakukan penyuluhan agama ke masyarakat. Padahal menurut data Kementrian Agama yang ter-publish pada portal Satu Data Kementrian Agama RI menyebutkan bahwa pada tahun 2022 saja jumlah penyuluh Agama Hindu di Bali mencapai 645 orang (PNS 65 orang & Non-PNS 580 oran. yang telah tersebar keseluruh daerah di Bali (Tim Penyusun, 2. Berdasarkan data tersebut seharusnya Bali tidak kesulitan dalam menyampaikan serta menanamkan ajaran agama yang benar kepada generasi muda Hindu sesuai dengan kaidah-kaidah ajaran kesusastraan suci. Dalam hal ini, faktor kualitas dari penyuluh agama itu sendiri sangatlah menentukan. Terkait dengan proses pelaksanaan penyuluhan, khususnya mengenai ajaran agama Hindu itu sendiri, sejatinya terdapat beberapa metode yang dapat digunakan sebagai bentuk pendekatan atau metode pembinaan bagi generasi muda Hindu di Bali yang disebut metode Sad Dharma, diantaranya. Dharma Wacana. Dharma Tula. Dharma Gita. Dharma Yatra. Dharma Santih, dan Dharma Sadhana. Menurut kajian dari Putri . strategi pendidikan agama Hindu yang berbasis Sad Dharma tersebut dirasa begitu kompleks dan dapat dijadikan prinsip serta pedoman bagi para pendidik di lapangan, karena prinsip dari ajaran Sad Dharma tersebut tidak hanya mengedepankan teori namun juga ke praktek. Sad Dharma secara umum memang dikenal sebagai 6 . yang dicapai untuk penanaman nilai-nilai agama Hindu ke dalam kepribadian seseorang untuk memperkuat aspek sradha dan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Was. Karenanya, penguasaan dan penerapan metode berbasis Sad Dharma secara profesional oleh para penyuluh agama mutlak adanya. Agar implementasi Sad Dharma tersebut dapat terimplementasi secara maksimal, tentu para penyuluh agama Hindu di Bali minimal harus mampu memanajemen diri agar bisa menjadi seorang pembicara atau penyuluh yang baik. Menurut Carnegie & Esenwein . dalam bukunya berjudul Buku Sakti Public Speaking memberikan beberapa langkah fundamental untuk menjadi seorang pembicara yang baik . ermasuk dalam hal ini menjadi penyuluh agama yang berkualita. , yaitu . Percaya diri di hadapan audiensi, . Hindari kemonotonan dengan berusaha luwes dan kreatif dalam menyampaikan materi, . Efisiensi melalui aksentuasi dan subordinasi, yaitu dengan penekan aksen pada kata-kata yang dianggap penting dan disertai contoh, . Efisiensi melalui intonasi, . Efisiensi melalui perubahan tempo, . Memberikan jeda dalam pembicaraan, . Berkonsentrasi pada saat memberikan materi, . Tingkatkan perasaan dan antusiasme yang dapat memengaruhi orang lain, . Upayakan kefasihan melalui kesiapan umum, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan saat dipadu padankan dengan profesi penyuluh agama Hindu itu sendiri masih terasa belum begitu kuat. Hal tersebut mengingat bahwa profesi penyuluh agama Hindu memiliki tanggungjawab yang jauh lebih besar karena merupakan juru terang atau penerang keagamaan. Tanggungjawab tersebut menuntut seorang penyuluh agama wajib memiliki kecakapan etika dan susila dalam perilakunya. Menurut Vedanti . dalam penelitiannya menyebutkan bahwa hal yang paling mendasar dalam menentukan etika dan susila yang benar ialah dengan berlandaskan pada wiweka, yaitu kemampuan manusia untuk membedakan perbuatan baik dan buruk. Melalui wiweka tersebut seorang penyuluh agama Hindu yang baik diharapkan mampu memilah segala hal yang baik untuk dilakukan dan segala hal yang buruk untuk dihindari. Sehingga, peran penyuluh agama Hindu menjadi lebih optimal di dalam masyarakat. Karena selain sebagai pemberi informasi, kehadiran penyuluh agama Hindu juga berperan sebagai contoh . uri taulada. bagi kader-kader generasi muda Hindu. Jadi berdasarkan acuan beberapa sumber pustaka dan kajian ilmiah tersebut dapat diketahui dan dipahami bahwa, solusi berikutnya yang dapat digunakan sebagai pijakan mendasar dalam mengatasi munculnya fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. pada generasi muda Hindu di Bali adalah dengan jalan memaksimalkan kualitas dari para penyuluh agama Hindu, melalui beberapa langkah teoritis fundamental . yaitu Sad Dharma (Dharma Wacana. Dharma Tula. Dharma Gita. Dharma Yatra. Dharma Santih, dan juga Dharma Sadhan. yang disertai dengan peningkatan kualitas etika dan juga susila berlandaskan pada wiweka atau kemampuan daya pembeda yang wajib diasah melalui jalan ilmu pengetahuan. Memperluas Pengetahuan Tattwa (Filsafa. Yajya Sebagaimana yang telah disampaikan pada sub-bab awal pada bagian penyebab kemunculan Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. di kalangan generasi muda Hindu Bali bahwa umat beragama . hususnya umat Hind. masih berada pada zona teoritis dalam mempelajari ajaran agama, sehingga tidak mengherankan jika fenomena-fenomena kesalahpahaman dalam beragama masih terus muncul di lapangan. Berdasarkan fakta tersebut bisa dilihat bahwa ada hal yang memang terlupakan oleh sebagian umat beragama dalam mengampu agamanya. Ketika ditelusuri, lagi-lagi diperoleh fakta yang cukup mengkhawatirkan, dimana masih banyak umat Hindu . hususnya generasi muda Hind. yang beragama secara teoritis, beragama secara gugon tuwon dan yang lebih parah lagi yaitu beragama KTP. Hal tersebut acapkali terjadi dikarenakan umat Hindu selalu ingin berhenti belajar hanya sampai pada tataran teoritis semata, padahal agama tidak cukup hanya dipelajari dalam ruang teoritis saja, namun wajib dipelajari dalam tataran filosofis . Ibaratnya, selama ini umat terkesan hanya diajak untuk menghitung berapa . jumlah bintang di langit namun jarang . ahkan tidak perna. diajak untuk mencari tahu mengapa bintang harus diciptakan . Menyadari realita tersebut tidak mengherankan jika banyak sekali bermunculan fenomena-fenomena misperception hingga ke mabuk agama. Karenanya perlu ada pembenahan kembali, terlebih dalam hal pemaknaan aspek keimanan . dan sosialbudaya agar tidak menyimpang dari makna dan tujuan yang sebenarnya. Perlu dipahami bersama bahwa yajya merupakan visualisasi dari tattwa itu sendiri dalam ajaran agama Hindu. Yajya merupakan segala pengorbanan yang dipersembahkan dengan dasar niatan yang tulus dan ikhlas . kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Parahyanga. , kepada sesama manusia (Pawonga. dan juga kepada alam semesta (Palemaha. itu Ketiga hal tersebut disebut dengan Tri Hita Karana agar tercapai kehidupan yang harmoni atau Sejahtera. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Adapun dasar-dasar hukum dari tattwa yajya itu sendiri terdapat dalam kesusastraan suci Hindu yang paling mendasar, seperti . Kitab Manawa Dharmasastra, bab VI, sloka 35 yang menjelaskan tentang Tri Rna . iga hutang manusi. Dewa Rna . utang manusia kepada Sang Hyang Widhi Wasa beserta para dewa sebagai manifestasi atau sinar suci-Ny. Resi Rna . utang manusia kepada para Agamawan atau para Rsi yang memberikan ilmu pengetahuan & teknologi serta ilmu agama atau spiritual, pencerahan bathi. , dan yang terakhir adalah Pitra Rna . utang manusia kepada orang tua, leluhur, juga para tetua atau penglingsir yang telah menurunkan dan membesarkan manusia (Pitriani, 2. Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa filsafat dalam keyakinan Hindu disebut dengan tattwa, jadi tattwa yajya pada keyakinan umat Hindu di Bali adalah Siwa Tattwa. Adapun ajaran Siwa Tattwa tersebut sejatinya terjabarkan dalam konsep Panca Sraddha, yaitu 5 . sistem keyakinan . eimanan atau kepercayaa. agama Hindu yang lebih tepat dikategorikan sebagai tattwa. Upacara atau ritual di Bali yang dikenal dengan istilah yajya setiap saat dilaksanakan di Bali. Mulai dari Yajya Sesa hingga ke Tawur Agung (Untara, 2. Di dalam Siwa Tattwa tersebut, eksistensi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dipersonifikasikan sebagai Ida Bhatara Siwa. Dalam Lontar Jnana Siddhanta telah dinyatakan bahwa Ida Bhatara Siwa adalah Hyang Esa yang bermanifestasi menjadi Bhatara-Bhatari. Di Bali, pelaksanaan yajya terkesan dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar timbul getaran-getaran spiritual dalam diri. Secara filosofis . , unsur-unsur dalam melaksanakan yajya terdiri dari beberapa hal, yaitu Karya . danya perbuatan atau actio. Sreya . etulusan hati atau lascary. Budhi (Kesadaran yang mendala. , serta Bhakti . Secara umum, sejatinya yajya telah sangat dikenal dalam 5 . konteks tujuan atau sering disebut dengan Panca Yajya. Hal tersebut dapat dilihat dalam kitab Manawadharmasastra, bab i, sloka 70 yang menyatakan bahwa: Adyapanam brahma yajnah pitr yajnastu tarpanam homo daivo balibhaurto nryajnoAotithi pujanam Terjemahannya: Mengajar dan belajar adalah yajya bagi Brahmana, upacara menghaturkan tarpana dan air adalah kurban untuk para leluhur, upacara minyak susu adalah kurban untuk para Dewa, upacara bali adalah kurban untuk bhuta, dan penerimaan tamu dengan ramah adalah kurban untuk manusia (Pudja & Sudharta, 2. Perlu juga dipahami secara mendalam bahwa, terdapat 3 . unsur yang harus harmonis dalam pelaksanaan yajya itu sendiri. Ketiga unsur dimaksud sering disebut dengan Tri Manggalaning Yajna, yaitu . Sang Yajamana yaitu orang atau masyarakat yang menyelenggarakan Yajya, . Sang Widya atau Pancagra adalah Ahli Banten atau Sarati dan asistennya, serta . Sang Sadhaka ialah yang muput . atau Sulinggih (Pandita. Pendeta. Pedanda. Mangk. Ketiga unsur mendasar tersebut perlu dipahami dengan baik oleh generasi muda Hindu agar pelaksanaan yajya juga dapat dimaknai dengan benar (Pitriani, 2. Yajya merupakan korban suci yang tulus ikhlas, yang dalam pelaksanaannya tidak harus mewah, dan menghabiskan banyak uang. Yajya memiliki tingkatannya sendiri, tergantung dari yang melaksanakan yajya menginginkan yajya yang bagaimana dan tergantung juga dari kemampuan dalam melaksanakan yajya (Suadnyana, 2. Jadi berdasarkan acuan beberapa sumber pustaka dan kajian ilmiah tersebut dapat diketahui dan dipahami bahwa, solusi atau alternatif penting dan mutlak yang dapat digunakan sebagai pijakan mendasar dalam mengatasi munculnya fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. pada generasi muda Hindu di Bali adalah dengan jalan memperluas https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pengetahuan filosofis atau tattwa dari yajya itu sendiri. Hal ini sangat penting agar umat tidak hanya berputar-putar pada aspek ritual semata dan minim pengetahuan mengenai makna simbolik yang tersurat didalamnya. Padahal, pemahaman akan makna yajya merupakan inti utama dalam mengimplementasikan ajaran agama sepenuhnya dalam diri masing-masing umat. Dengan menguasai tattwa yajya maka agama tidak akan lagi melahirkan teori implementatif yang gugon tuwon, namun justru akan melahirkan naluri kebijaksanaan yang sejati dan bernilai tinggi, sehingga totalitas kehidupan dalam beragama dapat dipahami seutuhnya. Melalui tattwa, tidak akan ada lagi pembenaran dalam yajya, namun justru kebenaran hakiki yang akan terlaksana. Kesimpulan Berdasarkan kajian yang mendalam terkait kemunculan fenomena Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. di kalangan generasi muda Hindu di Bali maka dapat disimpulkan bahwa CERiYa (Causal Euphoria Ritual Yajy. merupakan fenomena misperception keimanan yang cukup mengkhawatirkan yang terjadi di kalangan generasi muda Hindu di Bali karena menampilkan fenomena kesemarakan yang berlebihan dalam sebuah pelaksanaan ritual Yajya. Setelah dianalisis, kemunculan Causal Euphoria Ritual Yajya (CERiY. di kalangan generasi muda Hindu Bali dikarenakan oleh beberapa hal mendasar, seperti . Tingkat pemahaman tattwa . agama yang masih rendah, . Cara pandang beragama yang keliru, dan . Arus modernisasi dan globalisasi. Adapun solusi atau langkah-langkah yang dapat diambil dalam mengatasi fenomena Causal Euphoria Ritual Pelaksanaan Yajya (CERiY. tersebut sekaligus untuk melestarikan eksistensi dari pelaksanaan yajya di kalangan generasi muda Hindu Bali, diantaranya . Memperdalam ajaran Agama Hindu, . Memaksimalkan kualitas penyuluh Agama Hindu, dan . Memperluas pengetahuan tattwa . Daftar Pustaka