ETIKA GURU DALAM PENDIDIKAN ISLAM (Studi Komparasi Atas Pemikiran Imam Al-Ghazali Dengan Kh. Hasyim AsyAoar. Bahruddin Zaini1 Hidayatul Mudawamah2 Abstract The writing of this paper aims to describe the ethics of teachers in Islamic education, which involves the thoughts of Imam Al-Ghazali and KH. Hasyim Ash'ari. As for the background of this writing because at this time it is not uncommon for an educator to not have an ethics of wisdom and policy both for students and for themselves. many cases that arise in the educational environment that we often hear in electronic news or newspapers about the treatment of educators who do not reflect themselves as an educator. In addition, in the world of Islamic education now an educator is more likely to prioritize world happiness and put aside happiness in the afterlife. Therefore, the leaders of Imam Al-Ghazali and KH. Hasyim Asy'ari explained about some ethics that must be considered in Islamic education and must be reflected in an educator to improve Islamic Education in the future. This type of research is library research with 2 Prima data sources, namely the book Ihya 'Ulumuddin and the Book of Adab al-aliim wa al-Muta'llim. This research uses a historical approach. Data analysis techniques using comparative analysis. From the results of the research conducted concluded that: . according to Imam alGhazali a teacher must be compassionate to students, imitate the behavior of the Prophet Muhammad, as a guide, be open, practice knowledge. according to Khas Hasyim Asy'ari, a teacher must adhere to Allah, as an advisor or guide, implement Islamic law, take advantage of free time by worshiping and compiling papers, seeking the pleasure of Allah. the similarity of the vguru ethics of the two figures is, they have the same view that a teacher must be muraqabah to God, as a guide ,. The difference, in terms of holding the scientific mandate of God, according to Imam al-Ghazali must be the example of the Messenger of Allah, while according to Kh Hashim it is not permissible to obtain office, rank, wealth and popularity. And much From this research, there are some suggestions that can improve the concept of a teacher, that it is hoped that a teacher always becomes a role model for students, therefore a teacher must pay attention to their behaviors. So that the goal of Islamic education which is aspired can be achieved. Keywords: Ethics. Teachers. Islamic Education Dosen Tetap Program Studi PAI Fakultas tarbiyah INZAH Mahasiswa Prodi PAI PENDAHULUAN Pendidikan merupakan proses pengupayaan memanusiakan manusia. Dalam islam, manusia dijadikan AukhalifahAy atau wakil Allah dibumi ini untuk mengatur pelestarian dan pengembangan alam semesta di atas tata krama peradaban yang ditetapkan Allah dalam Al QurAoan sebagai AusunnatullahAy. 3 Salah satu yang membedakan manusia dengan binatang adalah Oleh karena itu, dunia pendidikan atau mencari ilmu itu penting bagi identitas manusia. KH. Hasyim AsyAari di dalam salah satu karyanya Adab al-AAlim wa al-Mutallim menyebutkan bahwasannya pendidikan itu penting sebagai sarana mencapai kemanusiaan, sehingga menyadari siapa sesungguhnya pencipta, untuk apa diciptakan. Pendidikan merupakan usaha membina dan membentuk pribadi siswa agar bertaqwa kepada Allah SWT, cinta kasih kepada orangtua dan sesamanya, dan pada tanah airnya, sebagai karunia yang diberikan Allah SWT. 5 Dalam pendidikan pada dasarnya adalah interaksi pendidik dan peserta didik. Pada intinya bertujuan untuk memberi pengetahuan, mengubah tingkah laku dan meningkatkan kualitas menjadi lebih baik merupakan proses kegiatan yang bertujuan untuk membentuk kedewasaan pada diri anak. Sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, maka dalam pelaksanaannya berada dalam suatu proses yang berkesinambungan dalam setiap jenis jenjang pendidikan. Semua itu berkaitan dalam suatu sistem pendidikan yang integral. Dan dikemas dalam suatu sistem yang saling berkaitan antara satu unsur dengan unsur lainnya. Guru atau dalam bahasa Arabnya adalah Mudarris atau biasa di panggil Ustadz, dalam pendidikan Islam seorang pendidik bukan hanya sekedar Transfer of Knowledge melainkan, untuk membentuk karakter-karakter peserta didiknya agar menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia demokratis, menjunjung tinggi hak asasi manusia. Maka ia juga harus bersedia mendidik, melatih, memberi teladan kepada peserta didik. Oleh karena itu, dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) maupun diluar KBM seorang Guru harus memiliki etika yang baik dan mulia, yang dalam pendidikan Islam Etika seorang Guru disini juga perlu untuk dibahas dan dipahami oleh semua para Guru maupun calon Guru. Dalam melaksanakan proses pembelajaran dalam pendidikan hendaknya pendidik dan peserta didik menyadari akan tugas dan kewajibannya masing-masing. Pendidik mempunyai hak dan kewajiban- kewajiban dalam mendidik dan mentransfer ilmunya kepada orang yang ada di sekelilingnya, memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga dan profesi yg telah di berikan oleh lembaga serta mempunyai etika dalam mengatur hak dan kewajibannya, yaitu bagaimana etika pendidik terhadap dirinya, rekan kerjanya, serta etika dalam menghadapi peserta didiknya. Begitu pula peserta didik, dia mempunyai hak dan kewajiban-kewajiban dalam mengolah proses belajar serta mempunyai etika dalam mengatur hak dan kewajibannya. Itu semua merupakan etika-etika yang dalam pendidikan agama Islam harus di ketahui dan di laksanakan oleh pendidik dan peserta didik. Membahas tentang etika guru dalam pendidikan islam maka tidak seharusnya kita meninggalkan tokoh muslim yang satu ini, yaitu Imam Al- Ghazali. Tentunya kita sudah tidak Muhammad As Said. Filsafat Pendidikan Islam (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2. ,10. Muhammad RifaAi. KH. Hasyim AsyAari Biografi Singkat 1871-1947 (Jogjakarta: Garasi, 2. , 75. Tatang S. Ilmu Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2. ,15. asing mendengar nama Imam Al Ghazali. Dalam dunia keilmuan. Al Ghazali mempunyai peran yang luar biasa, spesial dalam bidang tasawuf, tetapi juga tidak bisa terpisah dari keahliannya dalam berbagai ilmu, termasuk dalam bidang pendidikan. Sebagai buah kecermelangan pemikirannya, seluruh mata hampir tak pernah lepas mencermati tokoh ini, dari dulu hingga kini. 6 Praktek-praktek pendidikan maupun konsep-konsep pendidikannya telah banyak dimanfaatkan oleh para paedagog sampai saat ini. Pembahasan al-Ghazali tentang pendidikan meliputi tujuan pendidikan, metode belajar, metode mengajar, karakteristik dan kategorisasi keilmuan. Dalam pandangan alGhazali, pendidikan tidak semata-mata suatu proses yang dengannya guru menanamkan pengetahuan yang diserap oleh siswa, yang setelah proses itu masing-masing guru dan murid berjalan di jalan mereka yang berlainan. Lebih dari itu, ia adalah interaksi yang saling mempengaruhi dan menguntungkan antara guru dan murid dalam tataran sama, yang pertama mendapatkan jasa karena memberikan pendidikan dan yang terakhir mengolah dirinya dengan tambahan pengetahuan. Selain tokoh Al-Ghazali, di Indonesia sendiri ada satu tokoh yang pemikirannya mengenai Pendidikan Islam sangat luar biasa terutama dalam segi etika dalam pendidikan, beliau tak lain adalah seorang Kyai Haji Hasyim AsyAari, seorang ulama besar yang memberikan sumbangan pemikiran tentang akhlak yang harus dianut oleh para guru dalam mendidik dan mengajar anak didiknya. KH. Hasyim AsyAoari, tak disangsikan lagi, juga dikenal sebagai ulama pendidik yang tekun dan sangat peduli dengan nasib pendidikan umat serta berwawasan jauh ke depan. Melalui aktifitas pendidikan dipesantren Tebuirengnya, ia melancarkan serangkaian pembaruan pendidikannya sebagai upaya memberikan landasan dasar bagi modernisasi sistem kelembagaan pendidikan Islam Indonesia di awal abad ke-20, yang pengaruhnya sangat kuat mewarnai corak perkembangan dan sistem kelembagaan pendidikan Islam, khususnya pesantren, di tanah air bahkan hingga kini. Pemikiran beliau ini khususnya tertuang dalam kitabnya yang sangat fenomenal yaitu kitab Adab al AoAlim wa al MutaAoallim. Kitab ini merupakan kitab yang mengupas habis tentang akhlak guru maupun anak didik dalam menuntut ilmu. Pemikiran beliau ini menurut Penulis sangat patut untuk dikaji karena hal ini tentu akan sangat bermanfaat bagi para guru khususnya agar mereka dapat menjadi suri tauladan yang baik bagi anak didiknya. PEMBAHASAN Pendidikan Islam Pengertian Pendidikan Islam Asrorun NiAoam Sholeh. Reorientasi Pendidikan Islam Mengurai Relevansi Konsep al-Ghazali dalam Konteks Kekinian, (Jakarta: eLSAS, 2. , cet i, hal. Karel A. Steenbrink. Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3ES, 1. , 70. Dalam Mahrus AsAoad. Pembaruan Pendidikan Islam KH. Hasyim AsyAoari. Jurnal TSAQOFAH. Vol. 8 No. 1 April 2012, 107 Dilihat dari sudut etimologis, istilah pendidikan Islam terdiri atas dua kata, yakni AupendidikanAy dan AuIslamAy. Definisi pendidikan sering disebut dengan berbagai istilah, yakni al-tarbiyah, al-taAolim, al-taAodib, dan al-riyadhah. Tarbiyah Dalam al-QurAoan dan As-Sunnah tidak ditemukan beberapa istilah tarbiyah, namu terdapat beberapa istilah yang seakar dengannya, yaitu al-rabb, rabbayaani, murabbii, ribbiyun dan rabbaani. Akan tetapi, kata tarbiyah memiliki tiga akar kata dasar, yang semuanya memiliki arti yang hampir sama. TaAolim TaAolim meruapakan kata benda buatan . yang berasal dari Aoallama. Pendidikan tidak saja bertumpu pada domain kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik, sementara pengajaran . aAoli. lebih mengarah pada aspek kognitif TaAodib TaAodib lazimnya diterjemahkan dengan pendidikan sopan santun, tata kram, adab, budi pekerti, akhlak, moral dan etika. Ta. dib yang seakar dengan adab memiliki arti pendidikan peradaban atau kebudayaan. Artinya, orang berkependidikan adalah orang yang berperadaban, sebaliknya peradaban yang berkualitas dapat diraih melalui pendidikan. Riyaadah Riyadah secara bahasa diartikan dengan pengajaran dan pelatihan. Menurut alBastani, riyadah dalam konteks pendidikan berarti mendidik jiwa anak dengan akhlak yang mulia. Menurut al-Ghazali, kata riyadah dinisbatkan kepada anak, maka memiliki arti pelatihan atau pendidikan kepada anak. Dalam pendidikan anak, al-Ghazali lebih menekankan pada domain psikomotorik dengan cara Pelatihan memiliki arti pembiasaan dan masa kanak-kanak adalah masa yang paling cocok dengan metode pembiasaan. Imam Ghazali Biografi Imam Ghazali Al-Ghazali bernama lengkap Abu Hamid Muhammad ibnu Ahmad AlGhazali Al-Thusi. Ia dilahirkan pada tahun 450 H/ 1058 M di Ghazal. Thus, provinsi Khurasan. Republik Iran. Dengan demikian ia adalah keturunan Persia asli. Orang tuannya gemar mempelajari ilmu tasawuf, karenanya ia . rang tuany. hanya mau makan dari hasil usaha tangannya sendiri dari menenun wol. 11 Kata al-ghazali melekat kepadanya karena latar belakang profesi ayahnya sebagai ghazzal al shuff . emintal benang wol. , dan kata al-Ghazzali . engan dobel . merupakan nisbah dari pekerjaan ayahnya sebagai pemintal tenun. Heri Gunawan. Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. , 1. Abdul Mujib et, al. Ilmu Pendidikan Islam ( Jakarta: Kencana,2. , 20. Abdul Mujib et, al. Ilmu Pendidikan Islam ( Jakarta: Kencana,2. , 21. Sirajuddin Zar. Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya , (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2004 ), 155. Asrorun NiAoam Sholeh. Reorientasi Pendidikan Islam Mengurai Relevansi Konsep al-Ghazali dalam Konteks Kekinian, (Jakarta: eLSAS, 2. , 24. Al-Ghazali tumbuh dan berkembang dalam keluarga sederhana yang saleh. Ayahnya bernama Muhammad, seorang buta huruf yang kesehariannya sebagai penenun wol dengan penghasilan yang pas-pasan. Namun keterbatasannya tidak menyurutkan semangatnya untuk mengikuti berbagai pertemuan ilmiah dengan para ulama dan pemikir. Muhammad aktif berinteraksi dengan para intelektual muslim masanya hingga ia terobsesi memberikan pendidikan yang terbaik kepada kedua Dalam berbagai kesempatan Muhammad senantiasa berdoa agar kedua anaknya, al-Ghazali dan adiknya. Ahmad dikemudian hari menjadi ilmuwan dan tempat rujukan bagi masyarakat. Imam Ghazali adalah salah seorang pemikir besar Islam dan filsafat kemanusiaan, disamping sebagai salah seorang pribadi yang memiliki berbagai kejeniusan dan banyak karya. Sejak kecil al-Ghazali dikenal mencintai ilmu Ia kritis dalam menyikapi sesuatu dan mempunyai semangat belajar yang tinggi. Ia mampu menelisik persoalan hingga mencapai hakekatnya. Karya-karya Imam Ghazali Di antara karya-karyanya adalah sebagai berikut:15 IhyaAo Ulumu al-dhin . enghidupkan ilmu-ilmu agam. Minhaj al-Abidin . alan orang-orang yang beribada. Kimiya al-SaAoadah . imia kebahagiaa. Al-Munqidh min al-Dalal . enyelamat dari kesesata. Mishkat al-Anwar . umber cahay. Al-Qurbah ila Allah Aoazza wa jalla . endekatkan diri kepada Allah yang Maha Mulia dan Maha Agun. 16 Pemikiran Imam Ghazali Tentang Konsep Etika Guru Dalam hal ini. Imam Ghazali menjelaskan etika atau tata krama yang harus dilaksanakan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, di dalam pendidikan Islam yang dituntut untuk memiliki etika adalah tidak hanya seorang murid, akan tetapi seorang guru juga sangat perlu memiliki etika agar proses pendidikan dapat membentuk pribadi manusia yang bermoral. Barangsiapa yang menjalankan tugas sebagai pendidik, maka ia harus mempelajari hal yang besar. Oleh sebab itu, hendaklah ia memelihara tatakrama dan tugas-tugasnya. 17 Seorang pengajar, harus memiliki adab dan tugas yang harus Dalam hal ini al-Ghazali merumuskan etika dalam kitab IhyaAo AoUlumu al-dhin sebagai berikut: : AO INI E EEOI AC CE I OI O OI AEOA eN OOANA Ibid. Abi AAolaa Al-Ghazali. Biografi Singkat Tokoh-tokoh Sufi. Mutiara Hikmah & Wejangannya, ( Kediri: Reka Ciptasalafi,2. , 102. Aula KhosiAoatin. Komparasi Pendidikan Islam Antara Imam Ghazali dengan Hasyim Asyari (Skripsi: STAIN Ponorogo,2. , 57. Ibid. Imam al-Ghazali. Ringkasan IhyaAo AoUlumuddin, (Jakarta: Sahara publishers, 2. Cet 20, 51. A IA: A EOOA EIOA. AEACEO EIEIOI OI OONI IO IONA:AEOOA EOEOA AOCO A E AEO NEE EON OEIN AE OE EO A EEI A A ONO II CC AIA:A EOOA EA. A I E O II IAA: AEOOA EEA A IA:A EOOA EIA. AEEOI I O EIEI I O EEC OC EOA A EOOAA. AEIEAE EEOI OIO I EOC AO IA EIEI EEOI EO ONA A I EIEI ECAA:A EOOA EA. AI OCA EIEI EO C ANINA:AEA A I OEOI EII IE EINA: A EOOA EIIA. AOIO I OECO EON EEO EEC NA Pertama, menunjukkan kasih sayang kepada murid dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Ausesungguhnya . asih sayan. -ku pada kalian laksana . asih sayan. seorang ayah kepada anakanaknyaAy. 18 Jika dicermati secara mendalam, guru adalah orang tua yang sebenarnya. Sebab ayah adalah penyebab lahirnya seseorang di kehidupan dunia ini, sedangkan guru adalah penyebab seseorang berada di kehidupan yang kekal . khirat-surg. Oleh karena itu, hak guru lebih diutamakan daripada hak kedua orang tua. Kedua, meneladani perilaku Rasulullah Saw yangtidak pernah meminta upah atas apa yang diajarkannya. Maka janganlah seorang pendidik meminta upah atas pelajaran yang diberikan kepada muridnya. 19 Allah berfirman : AE Ia a eO a aI eIEa eI U OE UEU eO UA Artinya : AuKami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula . terima kasih. Ay (QS. Al-Insan. Jikalau ia memiliki hak untuk menerima upah . atas mereka, maka terimalah pemberian itu dalam bentuk dikarenakan mereka menjadi penyebab dirinya dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan menanamkan ilmu dan iman dalam hati Ketiga, jangan menyimpan nasehat. seperti menasehati muridnya untuk tidak melakukan perlawanan demi suatu kedudukan sebelum sang murid memang berhak memperolehnya dan melarangnya untuk mempelajari ilmu tersembunyi sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang tampak. Keempat, menasehati sang murid untuk tidak berperilaku tercela. Namun hal ini jangan dilakukan secara terang-terangan, melainkan dengan cara menunjukkan Kelima, tidak mewajibkan pada murid agar mengikuti guru tertentu dan Dalam hali ini al-Ghazali melihat kebiasaan dari sebagian guru fiqh yang menjelekkan ilmu bahasa begitu sebaliknya, seorang guru yang Ibid. Ibid. Al-QurAoan 76:9 Imam al-Ghazali. Ringkasan IhyaAo AoUlumuddin, (Jakarta: Sahara publishers, 2. Cet 20, 52. Ibid. Imam al-Ghazali. Ringkasan IhyaAo AoUlumuddin, (Jakarta: Sahara publishers, 2. Cet 20, 52. bertanggung jawab pada satu pelajaran hendaklah memberikan pada murid untuk mempelajari pelajaran yang lain, tetapi bagi guru yang bertanggung jawab akan berbagi ilmu pengetahuan maka baginya adalah menjaga dan mengetahui murid setingkat demi setingkat 24. Keenam, memperlakukan murid sesuai dengan kesanggupannya yaitu memberikan pengetahuan sesuai pemahaman otak murid atau kadar pemahamannya. Pada murid boleh dikembangkan suatu ilmu apapun secara mendalam asalkan tingkat pemahaman sudah sampai padanya. Lebih lanjut, mengembangkan semua pengetahuan kepada murid secara mendalam apabila telah diketahui bahwa mereka telah dapat memahaminya sendiri. Memberikan mereka menurut ukuran akalnya dan menimbang mereka berdasarkan pemahamannya sehingga akan mendatangkan keselamatan dan juga kemanfaatan. Ketujuh, kerja sama dengan murid di dalam membahas dan menjelaskan masalah yaitu memberikan pengertian kepada murid yang dangkal akalnya tentang ilmu pengetahuan yang dasar pula, tidak membuat kebingungan bagi murid. Membuka pintu pembahasan tentang suatu pengetahuan bagi mereka yang telah mampu memahami pengetahuan dengan sendirinya. Kedelapan, seorang guru harus mengamalkan ilmunya. Yaitu perbuatannya harus mencerminkan terhadap perkataannya bahkan ilmu yang dimiliki. Dalam hal ini orang berilmu lebih berdosa atas perbuatan maksiat daripada orang yang bodoh. Karena mereka akan menyesatkan banyak orang yang telah mengikutinya. Hasyim AsyAoari Biografi Hasyim AsyAoari Nama lengkap KH. HasyimAsyAoari adalah Muhammad Hasyim AsyAoari ibn AoAbd al-Wahid ibn AoAbd al-Halim-yang mempunyai gelar Pangeran Bona- ibn AoAbd al-Rahman- yang dikenal dengan Jaka Tingkir. Sultan Hadiwijoyo- ibn AoAbdullah ibn AoAbd al-AoAziz ibn Abd al-Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden AoAin alYaqin. Hasyim AsyAoari adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara yaitu NafiAoah. Ahmad Saleh. Radiah. Hassan. Anis. Fatanah. Maimunah. Maksum. Nahrawi, dan Adnan. Sampai usia lima tahun, dia diasuh oleh orang tua dan kakeknya di pesantren Gedang. Ketika ayahnya mendirikan pesantren baru di Keras pada tahun 1876. Hasyim ikut diboyong ke desa yang berda di sebelah selatan Jombang tersebut. Pada saat Hasyim telah memasuki usia 13 tahun, dia sudah mengganti ayahnya untuk mengajar di pesantren tersebut. Aula KhosiAoatin. Komparasi Pendidikan Islam Antara Imam Ghazali dengan Hasyim Asyari (Skripsi: STAIN Ponorogo,2. , 63 Ibid. Ibid. , 64 Ibid. Suwendi. Konsep Kependidikan KH. Hasyim AsyAoari, (Ciputat. Lekdis, 2. , 13. Syamsun NiAoam. Wasiat Tarekat Hadratus Syaikh Hasyim AsyAoari, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , 90. Di Mekkah Hasyim belajar fikih, tauhid tafsir, tasawuf, dan Aoilm alah. Dari semua itu tampaknya ia lebih tertarik pada ilmu Hadis, khususnya kumpulan Shahih Bukhari dan Muslim. Hal ini beralasan, karena sebagian besar santri telah mempelajari fikih dengan baik di Jawa, sementara di Mekkah mereka perlu mempelajari ilmu Hadis di samping al-QurAoan beserta tafsirnya, sehingga mereka dapat menyempurnakan pemahaman mereka tentang fikih. Karya-karya Hasyim AsyAoari Adapun karya-karya Kiai Hasyim yang berhasil di dokumentasikan, terutama oleh cucunya, almarhum Isham Hadziq, adalah sebagai berikut: 31 Al-Tibyan fi al-Nahy Aoan MuqathaAoat al-arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan. Kitab ini selesai ditulis pada hari Senin, 20 Syawal 1260 H, dan diterbitkan oleh Maktabah al-Turats al-Islami. Pesantren Tebuireng. Secara umum, buku ini berisi pentingnya membangun persaudaraan di tengah perbedaan serta bahaya memutus tali persaudaraan. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li JamAoiyyat Nahdlatul Ulama. Karangan ini berisi pemikran pemikiran dasar NU, terdiri dari ayat-ayat Al-QurAoan, hadis, dan pesan-pesan penting yang melandasi berdirinya organisasi Muslim terbesar di dunia itu. Buku ini sangat penting dalam rangka memberikan fundamen yang kuat perihal paham keagamaan yang akan dijadikan pijakan utama. Risalah fi TaAokid al-Akhdzi bi Madzhab al-AAoimmah al-ArbaAoah. Karangan ini berisi pentingnya berpedoman kepda empat imam madzhab, yaitu Imam Syafii. Imam Malik. Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmadbin Hanbal. Mawaidz. Karangan ini berisi nasihat bagaiman menyelesaikan masalah yang muncul di tengah ummat akibat hilangnya kebersamaan dalam membangun Karangan ini pernah disiarkan dalam Kongres XI Nahdlatu Ulama pada 1935, yang diselenggarakan di Bandung. Karya ini juga diterjemahkan oleh Prof. Buya Hamka dalam majalah Panji Masyarakat Nomor 5 tanggal 15 Agustrus 1959. ArbaAoina haditsan TataAoallaqu bi MabadiAo JamAoiyyat Nahdlatul Ulama. Karya ini berisi 40 hadits yang mesti dipedomani oleh Nahdlatul Ulama. Hadis-hadis itu berisi pesan untuk meningkatkan ketgakwaan dan kebersamaan dalam hidup, yang harus menjadi fondasi kuat bagi setiap ummat dalam mengarungi kehgidupan yang begitu sarat tantangan. Al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin. Kitab ini merupakan seruan agar setiap muslim mencintai Rasulullah SAW dengan cara mengirimkan shalawat setiap saat dan mengikuti segala ajarannya. Selain itu, kitab ini juga berisi biografi Rasulullah SAW dan akhlaknya yang begitu mulia. Al-Tanbihat al-Wajibat liman YashnaAo al-Mawlid bi al-Munkarat. Kitab ini berisi peringatan tentang hal-hal yang harus diperhatikan saat merayakan Maulid Nabi. Kita tahu bahwa tradisi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW meruapakan salah satu tradisi yang khas kalangan Muslim tradisional. Karena Ibid. Ibid. , 96. itu, agar perayaan berjalan dengan baik, sebagaimana tujuan utama dibalik perayaan tersebut, kitab ini dapat dijadikan rujukan. Kitab ini selesai ditulis pada tanggal 14 RabiAoul Tsani 1355, yang diterbitkan pertama kali oleh Maktabah alTurats al-Islami. Tebuireng. Risalah Ahl al-Sunnah wa al-JamaAoah fi hadits al-mawta waSyuruth al-SaAoah wa Bayani Mafhum al-Sunnah wa al-BidAoah. Kitab ini merupakan salah satu karya penting karena di dalamnya diberikan distingsi paradigmatis antara sunnah dan bidAoah. Yang terpenting dalam kitab ini. Kiai Hasyim menjelaskan dengan hakikat paham Ahlussunnah wal jamaah. Kitab ini juga menjelaskan tanda-tanda akhir zaman. Ziyadat TaAoliqat Aoala Mandzumah Syaikh AoAbdullah bin Yasin al-Fasuruani. Kitab ini berisi perdebatan antara Kiai Hasyim dan Syaikh Abdullah bin Yasin. DhawAoil Misbah fi Bayan Ahkam al-nikah. Kitab ini berisi hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan, mulai dari aspek hukum, syarat, rukun, hingga hak-hak dalam pernikahan. Al-Dzurrah al-Muntasyirah fi MasaAoil TisAoa Asyarah. Kitab ini berisi 19 masalah tentang kajian wali dan thariqah. Ada 19 masalah yang dibahas dalam buku ini. Al-Risalah fi al-AoAqaid. Kitab ini ditulis dalam bahasa jawa, berisi masalahmasalah yang berkaitan dengan tauhid. Al-Risalah fi al-Tasawuf. Kitab ini juga ditulis dalam bahasa jawa, berisi masalah tasawuf. Kitab ini dicetak dalam satu buku dengan kitab al-Risalah fi al-AoAqaid. Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim fi ma Yahtaju Ilayh al-MutaAoallim fi Ahwal TaAolimihi wa ma Yatawaqqafu Aoalayhi al-MuAoallim fi Maqamati TaAolimihi. Kitab ini berisi hal-hal yang harus di pedomani oleh seorang pelajar dan pengajar sehingga proses belajar-mengajar berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang didinginkan dalam dunia pendidikan. Kitab ini merupakan resume dari kitab Adab al-MuAoallim karya Syaikh Muhammad bin Sahnun . M). TaAolim al-MutaAoallim fi Thariqat al-TaAoallum karya Burhanuddin al-Zarnuji, dan Tadzkirat al-Syaml wa al-Mutakallim fi Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim karya Syaikh Ibnu Jamaah. Tidak bisa diragukan, kiai Hasyim adalah sosok yang sangat istimewa, yang perjalanan hidupnya dihabiskan untyuk beribadah, mencari ilmu, dan mengabdi bagi kemuliaan hidup. Pemikiran Hasyim AsyAoari Tentang Konsep Etika Guru Hasyim AsyAoari menjelaskan etika yang harus dimiliki oleh guru dan murid dalam proses pembelajaran. Dengan memiliki etika, seseorang akan menjadi pribadi yang bermoral dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Menurut Hasyim AsyAoari ada beberapa etika yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah sebagai berikut: Etika Guru Terhadap Diri Sendiri Ada dua puluh etika guru terhadap diri sendiri, yaitu: Ibid, : AAO e EEI AO C IAN OAON OI A A I OEIA,A I OE I OAON EOA,AI OEI IC NEE EO AO E OEEIOA ,AEEOIA A I OEOI OOEN AO ION EOA,A I OE I EO NEE EOA,AI OE I EOA e A I E OE EIN EI OOE N EO A,ANEE EOA A eI E OIA,AE EIoNA A IA,A O I IO EIE A,A OEC EN AO EIOA,AeI EIO EIOA A I OAA,A I OCOI O N EIIA,AO A E ECOIA,AIO ENI OI OA e A I OIE EI IEI A,AEO EIIO EOA A I ON IN I A,AE ECA e ANN II A . AE EC EOA A I OE EAIOAA,A I AA,AI OI EA E O EEI OEIEA Bersikap muraqabah, merasa diawasi oleh Allah Swt di manapun dan . Bersikap khawf dan khasyah kepada Allah dalam seluruh gerak, diam, perkataan maupun perbuatan. Bersikap sakinah tenang. Bersikap wiraAoi, menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, apalagi haram. Bersikap tawaduAo, rendah hati. Bersikap KhushuAo, takut kepada Allah Swt. Bersikap tawakal, yaitu menggantungkan seluruh urusannya kepada Allah Swt. Tidak menjadikan ilmu sebagai tangga atau batu loncatan untuk meraih tujuan-tujuan duniawi. Tidak boleh mengagung-agungkan para pecinta dunia, sebaliknya harus mengagungkan ilmu dan tidak menghina ilmu. Bersikap Zuhud terhadap dunia dan bersikap qanaah atas apa yang diberi oleh Allah Swt. Tidak memilih profesi yang dinilai hina menurut syariAoat maupun istiadat. Menghindari hal-hal atau perilaku-perilaku yang dapat menyebabkan tuduhan buruk orang lain. Melaksanakan syariAoat Islam dan hukum-hukum zhahir, seperti shalat berjamaah di masjid. Menegakkan sunnah-sunnah, dan memadamkan bidAoah-bidAoah. Menegakkan urusan agama dan kemaslahatan ummat. Memelihara sunnah-sunnah sharAoiyyah, baik perkataan seperti rutin membaca al-QurAoan, maupun perbuatan seperti puasa. Bergaul di tengah masyarakat dengan akhlak-akhlak terpuji. Menyucikan diri dari akhlak Aeakhlak terpuji . Selalu semangat untuk menambah ilmu dan amal dengan sungguh-sungguh dan ijtihad. Tidak malu untuk belajar kepada siapa saja, walaupun statusnya lebih rendah darinya, baik dari segi jabatan, nasab maupun usia. Rajin untuk menyusun karya-karya tulis yang didasari oleh atas penguasaan yang bagus terhadap apa yang dia tulis tersebut. Etika Guru Ketika dan Akan Mengajar Ada dua belas etika guru ketika dan akan mengajar: AAO EEI AO ONA A I EEI I O IE N ON II E OE OOIAA A OAE EON OEI EOA,A II ON EA. Ao OOE eIA A OOCI EO EO AO EOA,A OE EIO EOIA. AEOIA A E OAA. A EO CI EA AEAA. AC O II E NEEA A O E EOIA. A OAOI IEN I EEA. AAON A EO C EA A E I EIA,A EOE AO II O AO NA. AI AO ENO EII A A o EO INA,AOEINA . Mensucikan diri dari hadats dan kotoran serta memakai wewangian dan pakaian yang bagus. Berdoa ketika keluar rumah . Mengucap salam ketika masuk kedalam kelas . Pada waktu mengajar, mengambil tempat duduk yang strategis . Memulai pelajaran dengan membaca ayat al-QurAoan . Mendahulukan materi-materi yang penting . Tidak mengeraskan atau melirihkan suara pada saat mengajar . Menjauhkan diri dari bergurau dan banyak tertawa . Menasehati dan menegur dengan baik apabila terdapat anak didik yang . Memperhatikan masing-masing kemampuan murid dalam mengajar dan tidak terlalu lama, menciptakan ketenangan dalam ruangan belajar . Bersikap terbuka terhadap berbagai macam persoalan-persoalan yang . Memberi kesempatan kepada peserta didik yang datangnya ketinggalan dan mengulangi penjelasannya agar tahu apa yang dimaksud 34 Etika Guru Terhadap Murid Muhammad Hasyim AsyAoari. Adab al-Alim wa al-MutaAoallim fi ma Yahtaj Ilayhi al-MutaAoallim fi Ahwal taAoallum ma Yatawaqqaf Aoalayh al-MutaAoallim fi maqamat al-TaAolim, (Jombang: Pondok Tebuireng,). Ibid. , 71. Ada empat belas etika guru terhadap murid, yaitu: AAO c EEI I EIN OAON IO II cEA A I E OII I EOI EEA. AeI OCA EOINI ONONI ON NEE EOA A I OI EN NOE E EC AO EOINA,AI O EEN I O EIANA AI OA EO EOIN OANOIN E NN OCO EIIO II O EA e A I OE II EE AO A. AE OIEN O E ON ANA AEOC A A EE EE AO EAOE AOC I OCON ENA. AEIAO A AI E ON e AOE NI EO IN AO IO OIA A I O N EO O IA. AI OO ENI OOE NI O OOI IA A I OO EEI AOA. AOIE N NI II A EEI OI EA A EEA. AIAE EE OI CEO NI OI NIA A IA. AO IE IO EEC I E E IN OI OEN OII OEC NA A IA. AOO I EE OEE I E CI I O EON II COC NEEA AO EE II EE E OI EAE I AON OIN OOCON OOION eA e AA AEI EONA Membagusi niat mengajar, berniat meraih ridha Allah Swt dan yang selaras dengannya, seperti menyebarkan ilmu. Membantu pelajar dari awal hingga akhir belajar, mulai meluruskan niat pelajar, memotivasi pelajar hingga menanamkan akhlak terpuji pada diri . Bergaul dengan pelajar dengan penuh kasih sayang dan bersabar atas perilaku pelajar yang tidak baik, sambil berusaha memperbaiki perilaku pelajar tersebut. Memudahkan pelajar dalam memahami dan menguasai ilmu. Mengajar dengan penuh semangat dan cakap, dalam konteks saat ini, bagian ini termasuk kompetensi pedagogik, yaitu keahlian mengajar. Rajin menguji hafalan dan pehaman pelajar. Memilihkan mata pelajaran yang sesuai dengan kemampuan pelajar. Sehingga pelajar tidak sampai mempelajari mata pelajaran yang melebihi . Bersikap demokratis, yaitu memberi perlakuan yang sama kepada semua pelajar, tanpa bersikap pilih kasih, kecuali ada alasan khusus. Mengawasi . perilaku pelajar. Apabila pelajar melakukan perilaku yang tidak terpuji, maka pendidik perlu memperbaikinya dengan cara-cara yang halus hingga cara-cara yang tegas. Menjaga keharmonisan hubungan anatara pendidik dengan pelajar. Memberi bantuan kepada pelajar, sehingga pelajar bisa fokus belajar. Pendidik memperhatikan kehadiran atau absensi pelajar. Pendidik berusaha mencari kabar pelajar maupun orang-orang yang memiliki hubungan erat dengan pelajar tersebut. Menampilkan sikap tawadhuAo . endah hat. kepada pelajar. Pendidik tampil di depan pelajar dengan tutur kata yang ramah, mimik muka yang cerah dan sikap kasih sayang. Komparatif Pemikiran Imam Ghazali dan Hasyim AsyAoari tentang Konsep Etika Guru dalam Pendidikan Islam Salah satu unsur penting dari proses kependidikan adalah guru. Di pundak guru terletak tanggung jawab yang amat besar dalam upaya mengantarkan murid ke arah tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Guru bukan hanya terbatas pada orang-orang yang bertugas di sekolah tetapi semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan anak mulai sejak alam kandungan hingga ia dewasa, bahkan sampai meninggal dunia. 36 Oleh karenaitu, pekerjaan guru adalah pekerjaan yang tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Selain itu, pekerjaan guru merupakan pekerjaan yang sungguh mulia. Ia bertanggung jawab tidak hanya menjadikan para muridnya pandai di bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga bermoral baik dalam kehidupan. Dengan demikian, seorang guru harus memperhatikan tata krama atau etika dalam melaksanakan tugasnya, karena selain orang tua, guru juga sangat menentukan keberhasilan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Selain menyangkut keberhasilannya dalam menjalankan profesi keguruannya, tetapi juga tanggung jawabnya di hadapan Allah Swt kelak. Dalam hal ini tokoh pendidikan Islam yaitu Imam AlGhazzali dan Kh. Hasyim AsyAoari memiliki kesamaan dan perbedaan dalam pemikirannya mengenai etika guru. KESIMPULAN Konsep etika guru menurut Imam Ghazali yaitu seorang guru harus bersikap kasih sayang kepada murid, meneladani perilaku Rasulullah Saw, sebagai pembimbing dan penasehat bagi murid, mempertimbangkan kemampuan intelektual murid, bekerja sama dalamn memecahkan masalah, bersikap terbuka, mengamalkan ilmu. Konsep etika guru menurut Kh Hasyim AsyAoari adalah berkaitan dengan etika guru : yaitu seorang guru harus muraqabah kepada Allah. , sebagai penasehat dan pembimbing, melaksanakan syariaat Islam, memanfaatkan waktu luang untuk ibadah dan menyusun karya tulis, tidak menjadikan ilmu sebagai media untuk mencari tujuan duniawi, mendahulukan materi yang penting, mencintai murid seperti mencintai diri sendiri, memperbaiki niat untuk mencari ridha Allah. Ibid. , 80. Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis. Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2. , 42. Ahmad Muhaimin Azzer. Menjadi Guru Favorit, ( Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , 13. Persamaan konsep etika guru Imam Ghazali dan Kh Hasyim AsyAoari, mereka mempunyai pandangan yang hampir sama diantaranya adalah seorang guru harus muraqabah kepada Allah, sebagai penasehat dan pembimbing bagi murid, bersikap terbuka terhadap segala hal, dan memperhatikan kemampuan intelektual murid. Perbedaan konsep etika guru menurut Imam Ghazali dan Kh Hasyim AsyAoari, dalam perbedaan anatara kedua tokoh ini diantaranya adalah seorang guru dalam memegang amanah ilmiah Allah, menurut Imam Ghazali harus mencontoh perilaku Rasulullah dan menurut Kh Hasyim AsyAoari tidak boleh untuk memperoleh jabatan, pangkat, harta, popularitas, pujian ataupun keunggulan daripada yang lain. Dalam memanfaatkan waktu luang, menurut Imam Ghazali guru hendaknya menjadi pembimbing dan penasehat, dan menurut Kh Hasyim AsyAoari digunakan untuk beribadah dan menyusun karya tulis. Dalam menyampaikan pelajaran, menurut Imam Ghazali menyampaikan pelajaran yang disukai dan menurut Kh Hasyim AsyAoari menyampaikan pelajaran yang penting terlebih Dalam mencintai murid, menurut Imam Ghazali dengan memeperlakukan murid seperti anak sendiri dengan kasih sayang dan menurut Kh Hasyim AsyAoari mencintai murid seperti mencintai diri sendiri dan anak sendiri dengan kasih sayang. Dalam niat mengajar, menurut Imam Ghazali untuk mencari ridha Allah dan menurut Kh Hasyim AsyAoari selain mencari ridha Allah yaitu menjalankan syariat Islam, mengamalkan ilmu, dan memberantas kebatilan. DAFTAR PUSTAKA