Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 1 Januari . : http://dx. org/10. 25157/jkg. HUBUNGAN ANTARA SCREENTIME DENGAN KEJADIAN KELELAHAN MATA DAN NYERI KEPALA PADA SISWA SMAN 3 SUMEDANG Renanda Futri Dewi A. Nunung Siti Sukaesih A. Imam Tri Sutrisno 3 Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Daerah Sumedang. Indonesia 1, 2, 3 (Article history: Submitted 2025-12-25. Accepted 2026-01-02. Published 2026-01-. ABSTRAK Peningkatan intensitas penggunaan perangkat digital pada remaja menyebabkan durasi screen time yang tinggi, berpotensi memicu keluhan fisik seperti kelelahan mata dan nyeri kepala. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara durasi screen time dengan kejadian kelelahan mata dan nyeri kepala pada siswa. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 279 siswa SMA Negeri 3 Sumedang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur mengenai durasi screen time dan tingkat kelelahan mata dan nyeri kepala, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman-rho. Rata-rata durasi screen time siswa mencapai 8,5 jam per hari, dan sebanyak 50,5% responden mengalami kelelahan mata. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan secara positif antara durasi screen time dengan kejadian kelelahan mata . =0,038. r=0,. Temuan ini menunjukkan bahwa durasi screen time yang tinggi berhubungan secara signifikan dengan kelelahan mata pada siswa. Secara klinis, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya edukasi mengenai pembatasan screen time dan penerapan istirahat mata teratur sebagai upaya promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan mata remaja. Kata Kunci: kelelahan mata, nyeri kepala, remaja, screen time ABSTRACT The increasing intensity of digital device use in adolescents leads to high screen time duration, potentially triggering physical complaints such as eye fatigue and headaches. This study aims to analyze the relationship between screen time duration and the incidence of eye fatigue and headaches in students. This quantitative study with a cross-sectional design involved 279 students of SMA Negeri 3 Sumedang. Data were collected using a structured questionnaire regarding screen time duration and levels of eye fatigue and headaches, then analyzed using the Spearman-rho correlation test. The average screen time duration of students 5 hours per day, and as many as 50. 5% of respondents experienced eye fatigue. The results of statistical tests showed a significant positive relationship between screen time duration and the incidence of eye fatigue . = 0. r = 0. These findings indicate that high screen time duration is significantly associated with eye fatigue in students. Clinically, the results of this study emphasize the importance of education about limiting screen time and implementing regular eye breaks as a promotive and preventive effort in maintaining adolescent eye health. Keywords: eye strain, headache, adolescents, screen time PENDAHULUAN Berdasarkan Data dari Badan Pusat Statistik . didapatkan bahwa perkembangan proporsi Keterampilan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) yang paling pesat terlihat pada penggunaan internet dalam rumah tangga usia remaja dan dewasa usia 15-24 tahun mencapai angka 95,41%. Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara dengan tingkat kecanduan gadget tertinggi di Alamat Korespondensi: Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia Email: renandafd23@upi. edu 1* dunia, dengan rata-rata penggunaan gadget mencapai 181 menit per hari (Yustanta et al. , 2. Perkembangan teknologi saat ini telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek Salah satu wujud kemajuan tersebut adalah hadirnya gadget yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti pekerjaan, pendidikan, dan lainnya (Hadi et al. , 2. Aplikasi seperti media sosial dan permainan digital eISSN: 2656-4122 Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 35 Ae 44 mendorong pengguna untuk berlama-lama menatap layar gadget karena memberikan kenyamanan dan daya tarik tersendiri (Kusumo et al. , 2. Selain penggunaan gadget juga menimbulkan berbagai dampak negatif pada aspek kesehatan, budaya, sosial, dan ekonomi (Sanjaya et al. , 2. Pemakaian perangkat digital secara berlebihan dapat menimbulkan efek negatif, khususnya pada kesehatan mata, yang dikenal sebagai kelelahan Kondisi ini banyak dialami oleh individu yang terlalu lama menatap layar perangkat digital dan dapat memicu berbagai keluhan seperti mata kering, pandangan kabur, sakit kepala, hingga ketegangan otot di sekitar mata (Kusumo et al. Berbagai penelitian telah banyak dilakukan untuk mengkaji dampak screen time terhadap kejadian astenopia pada remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Buyung et al. menunjukkan adanya hubungan antara durasi penggunaan gadget dengan kejadian mata lelah (Buyung et al. , 2. Sejalan dengan penelitian lain oleh Liana et al. menunjukkan hubungan yang bermakna antara penggunaan gadget dengan kejadian kelelahan mata (Liana et al. , 2. Posisi kepala yang menetap terlalu lama saat menggunakan perangkat digital dapat memicu nyeri Ketegangan otot leher dan kepala yang berlebihan meningkatkan aktivitas nosiseptif serta memicu pelepasan neurotransmitter, menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah, berkurangnya aliran darah, dan penumpukan metabolit yang akhirnya menimbulkan nyeri (Sanjaya et al. , 2. Penelitian terkait screen time dan nyeri kepala telah banyak dilakukan. Sanjaya et al. menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara durasi perkuliahan daring dengan nyeri Penelitian lain juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi maupun posisi penggunaan smartphone dengan keluhan nyeri kepala tipe tension type headache (Rabbani et al. , 2. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik . di provinsi Jawa Barat akses internet paling banyak digunakan saat kegiatan sekolah dengan persentase 85,76%. Jenjang pendidikan yang paling banyak saat mengakses internet yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan persentase 35,72% kelompok usia 16-18 tahun (BPS, 2. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik . , jumlah Sekolah Menengah Atas di Daerah Sumedang yaitu sebanyak 29 sekolah. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan. SMA Negeri 3 Sumedang merupakan salah satu sekolah dengan jumlah siswa terbanyak di wilayah Sumedang, sehingga menjadi lokasi yang representatif untuk menggambarkan pola screen time dan keluhan kesehatan terkait pada remaja. Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji dampak screen time terhadap kelelahan mata pada remaja, bukti mengenai keterkaitannya dengan nyeri kepala, khususnya pada populasi siswa SMA di Indonesia masih terbatas dan menunjukkan hasil yang inkonsisten. Selain itu, sebagian besar penelitian hanya berfokus pada satu keluhan kesehatan, sehingga kajian yang menganalisis hubungan screen time dengan kelelahan mata dan nyeri kepala secara simultan pada remaja SMA masih jarang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk memperjelas hubungan antara durasi screen time dengan kejadian kelelahan mata dan nyeri kepala pada siswa SMAN 3 Sumedang. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Atas Negeri X di Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional melalui metode cross-sectional, di mana pengukuran variabel independen berupa screen time dan variabel dependen yaitu kelelahan mata serta nyeri Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 3 Sumedang yang aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran 2025 301 siswa dari kelas X. XI, dan XII. Adapun kriteria untuk subjek penelitian ini yang menjadi syarat sebagai sampel penelitian. Untuk kriteria inklusi diantaranya ialah tercatat sebagai siswa SMAN 3 Sumedang, siswa yang bersedia menjadi responden, dan siswa yang menggunakan komputer/laptop dan ponsel layar sentuh dalam satu bulan terakhir. Adapun kriteria eksklusi yaitu siswa yang mengalami kelainan mata dan menolak menjadi responden. Berdasarkan jumlah populasi, penentuan sampel dilakukan menggunakan tabel Stephen Isaac dan William B. Michael dengan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat kesalahan 5%, sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 279 siswa yang dijadikan responden. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling melalui pengundian kelas pada masing-masing angkatan menggunakan aplikasi Wheels of Names, di mana seluruh kelas dari kelas X. XI, dan XII dimasukkan untuk dipilih secara acak. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui instrumen berupa kuesioner, formulir pencatatan screen time, dan informed consent. Data demografi diperoleh dari kuesioner yang berisi informasi dasar responden seperti usia, jenis kelamin, dan kelas. Untuk mengukur durasi screen time, digunakan Questionnaire for Screen Time of Adolescents (QueST) yang mencakup tiga aspek Dewi. Sukaesih. , & Sutrisno. / Hubungan Antara Screentime dengan Kejadian Kelelahan Mata dan Nyeri Kepala pada Siswa SMAN 3 Sumedang yaitu, menonton video, bermain game, serta media sosial dengan rumus perhitungan rata-rata mingguan yaitu . creen time weekday y 5 screen time weekend y . /7 dengan kategori rendah <240 menit/hari dan tinggi >240 menit/hari. Pada penelitian sebelumnya, kuesioner QueST telah diuji dan menunjukkan validitas isi yang baik, artinya setiap pertanyaan relevan dan jelas dalam mengukur screen time remaja (CVI tinggi: 94-98%). Untuk reliabilitas, diukur dengan korelasi intrakelas . , yang hasilnya berada pada tingkat cukup hingga baik . orelasi intrakelas hingga 0,. (Knebel et al. , 2. Pengukuran kelelahan mata dilakukan dengan Visual Fatigue Index (VFI) yang terdiri dari 22 pertanyaan yang menggambarkan berbagai Berdasarkan pernyataan Putri . skoring pada kuesioner VFI dilakukan dengan memberikan skor pada setiap item sebagai berikut: AoTidak PernahAo diberi skor 1. AoKadang-kadangAo diberi skor 2. AoSeringAo diberi skor 3, dan AoSelaluAo diberi skor 4. Total skor minimal yang dapat diperoleh adalah 22 . dan total skor maksimal adalah 88 . Jika nilai VFI = total skor / 88 dengan interpretasi Ou0,4 menandakan adanya kelelahan mata dan <0,4 tidak mengalami. Kuesioner VFI ini pertama kali dikembangkan oleh Rajabi-Vardanjani et al. , . dengan mempertimbangkan validitas konstruk dan Kemudian dimodifikasi oleh Martha Arizona melalui proses penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Kuesioner terdiri atas 22 butir pertanyaan yang telah diuji validitas dan reliabilitas pada penelitian sebelumnya dan menunjukkan nilai CronbachAos alpha sebesar 0,75 (Yanti et al. , 2. Sedangkan untuk nyeri kepala diukur menggunakan Headache Impact Test-6 (HIT-. dengan enam pertanyaan yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan dampak nyeri kepala terhadap aktivitas sehari-hari pasien (Rendas-Baum et al. , 2. Skoring pada kuesioner HIT-6 diberikan dengan ketentuan bahwa setiap jawaban memiliki nilai, yaitu 'Tidak pernah' bernilai 6 poin, 'Jarang' bernilai 8 poin, 'Kadang-kadang' bernilai 10 poin, 'Sering' bernilai 11 poin, dan 'Sangat sering/Selalu' bernilai 13 poin. Skor akhir diperoleh dari penjumlahan sederhana keenam item dan berkisar antara 36 sampai 78, dengan skor yang lebih tinggi mencerminkan dampak yang lebih Empat kategori keparahan dampak sakit kepala adalah dampak ringan atau tidak ada . atau kuran. , dampak sedang . Ae. , dampak substansial . Ae. , dan dampak berat . Ae. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik dengan aplikasi JASP (Jeffrey's Amazing Statistics Progra. dengan tingkat signifikansi 95%. Proses pengolahan data dalam penelitian ini meliputi beberapa tahapan. Peneliti memeriksa data yang telah terkumpul untuk memastikan kejelasan, keterbacaan, konsistensi, serta kelengkapannya. Tujuan dari proses ini adalah untuk menilai apakah data yang diperoleh berpotensi menimbulkan masalah konseptual maupun teknis pada saat analisis dilakukan. Dalam penelitian ini, variabel independen adalah screen time, sedangkan variabel dependen adalah kelelahan mata dan nyeri kepala Hasil analisis univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi, persentase, serta ukuran statistik deskriptif seperti nilai minimum, maksimum, ratarata . , dan simpangan baku . tandard deviatio. untuk memberikan gambaran yang lebih Sebelum dilakukan analisis bivariat, dilakukan uji normalitas data menggunakan uji ShapiroAeWilk. Hasil uji menunjukkan bahwa data screen time, kelelahan mata, dan nyeri kepala memiliki nilai p < 0,05, sehingga data tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu, analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan uji non-parametrik Spearman Rho, yang sesuai untuk data berskala ordinal yang tidak berdistribusi Uji ini digunakan untuk menentukan arah hubungan . ositif atau negati. dan kekuatan hubungan . emah, sedang, atau kua. antara variabel bebas . creen tim. dengan variabel terikat . elelahan mata dan nyeri kepal. Tingkat signifikansi yang digunakan adalah = 0,05, dengan kriteria pengambilan keputusan: apabila pvalue < 0,05 maka terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel dan sebaliknya. Penelitian ini telah mendapatkan surat layak etik dari Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi dengan nomor surat No:022/KEPK/FITKesUnjani/X/2025. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Responden Kelas XII Total Usia 16 Tahun 17 Tahun 18 Tahun Total Jenis Kelamin Laki-Laki Frekuensi Persentase (%) Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 35 Ae 44 Perempuan Total Variabel . Screen Time Kelelaha n Mata Nyeri Kepala Mean Std. Minima Maksim Media Berdasarkan tabel 1, menunjukkan bahwa distribusi kelas relatif seimbang dengan Kelas X memiliki frekuensi tertinggi dengan jumlah 97 responden . ,8%), sedangkan siswa kelas XI dan XII masing-masing berjumlah 91 responden . ,6%). Jika dilihat dari segi usia, responden didominasi oleh usia 16 tahun dengan 158 responden . ,6%), diikuti usia 17 tahun sebanyak 96 responden . ,4%) dan usia 18 tahun sebanyak 25 responden . ,0%). Berdasarkan jenis kelamin, responden perempuan lebih banyak yaitu 188 responden ( 67,4%), sedangkan laki-laki sebanyak 91 responden . ,6%). Pada variabel Screen Time, diperoleh nilai rata-rata sebesar 513,2 menit dengan standar deviasi 284,4 menit, nilai minimum 37 menit, maksimum 363 menit, dan median 453 menit. Temuan ini menunjukkan bahwa durasi penggunaan layar pada siswa tergolong tinggi. Pada variabel Kelelahan Mata, nilai rata-rata yang diperoleh adalah 0,416 dengan standar deviasi 0,096, nilai minimum 0,261, maksimum 0,989, dan median 0,409. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kelelahan mata. Sementara itu, pada variabel Nyeri Kepala, nilai rata-rata tercatat sebesar 51,92 dengan standar deviasi 8,943, nilai minimum 36, maksimum 76, dan median 52. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat nyeri kepala yang dialami siswa berada pada kategori Screen Time Tabel 2 Distribusi Screen Time Responden Jenis Kelamin Screen Laki-laki Perempuan Time . Total Kelelahan Mata Tabel 3 Distribusi Frekuensi Kelelahan Mata Jenis Kelamin Kelelahan Mata Mengalami Tidak Mengalami Laki-laki . Perempuan . Total Berdasarkan tabel 3, hasil penelitian terhadap 279 siswa di SMAN 3 Sumedang menunjukkan bahwa dari total 279 responden, sebanyak 141 responden . ,5%) termasuk dalam kategori mengalami kelelahan mata, sedangkan 138 responden . ,5%) termasuk kategori tidak mengalami kelelahan mata. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, sebanyak 42 laki-laki . ,2%) dan 99 perempuan . ,7%) mengalami kelelahan mata, sementara 49 laki-laki . ,8%) dan 89 perempuan . ,3%) tidak mengalaminya. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa proporsi perempuan yang mengalami kelelahan mata sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yang mengindikasikan bahwa perempuan cenderung lebih rentan mengalami gejala kelelahan mata akibat aktivitas visual atau penggunaan perangkat digital yang Nyeri Kepala Tabel 4 Distribusi Frekuensi Dampak Nyeri Kepala Jenis Kelamin Rendah Tinggi Berdasarkan tabel 2, diketahui bahwa intensitas screen time dari total 279 responden menunjukkan bahwa mayoritas, yaitu 76,34% siswa, memiliki durasi screen time yang tergolong tinggi (>240 menit per har. Berdasarkan jenis kelamin, ditemukan perbedaan yang signifikan dalam proporsi kategori waktu layar. dari total 127 responden laki-laki, hampir 70% . ,29%) berada dalam kategori waktu layar tinggi, sementara 30,71% sisanya tergolong rendah. Proporsi yang lebih ekstrem terlihat pada kelompok perempuan, di mana dari total 152 responden, sebanyak 82,24% memiliki waktu layar tinggi, dan hanya 17,76% yang tergolong rendah. data ini mengindikasikan bahwa baik siswa laki-laki maupun perempuan di SMAN 3 Sumedang memiliki kecenderungan kuat untuk menghabiskan waktu layar di atas batas yang disarankan, dengan proporsi waktu layar tinggi pada siswa perempuan sedikit lebih dominan dibandingkan siswa laki-laki. Nyeri Kepala Dampak Ringan Dampak Sedang Dampak Substansial Dampak Buruk Total Laki-laki . Perempuan . Berdasarkan tabel 4, menunjukkan bahwa sebagian besar responden, baik laki-laki maupun Dewi. Sukaesih. , & Sutrisno. / Hubungan Antara Screentime dengan Kejadian Kelelahan Mata dan Nyeri Kepala pada Siswa SMAN 3 Sumedang perempuan, mengalami nyeri kepala pada tingkat dampak sedang, yaitu sebanyak 108 responden . ,7%) yang terdiri atas 35 laki-laki . ,5%) dan 73 perempuan . ,8%). Kategori berikutnya adalah dampak substansial dengan 70 responden . ,1%), terdiri dari 22 laki-laki . ,2%) dan 48 perempuan . ,5%). Sementara itu, kategori dampak ringan dialami oleh 69 responden . ,7%) dan dampak buruk merupakan yang paling sedikit, yaitu 32 responden . ,5%). Secara umum, hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mengalami nyeri kepala pada tingkat sedang hingga substansial, dengan perbedaan proporsi antara lakilaki dan perempuan yang relatif kecil, sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat nyeri kepala pada kedua jenis kelamin relatif seimbang Hubungan Antara Screen Time dengan Kejadian Kelelahan Mata dan Nyeri Kepala Pada Siswa SMAN 3 Sumedang Tabel 5 Hasil Analisis Hubungan Antara Screen Time dengan Kejadian Kelelahan Mata dan Nyeri Kepala Pada Siswa SMAN 3 Sumedang Variabel Screen Time Spearman-rho p-value Kelelahan Mata Nyeri Kepala 0,004 Hasil uji Spearman-rho menunjukkan adanya hubungan bermakna antara screen time dan kelelahan mata . = 0,. dengan korelasi positif lemah . = 0,. Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan signifikan antara screen time dan nyeri kepala . = 0,. dengan korelasi sangat lemah . = 0,. Pembahasan Tingkat Screen Time Pada Siswa SMAN 3 Sumedang Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata durasi screen time siswa SMA Negeri 3 Sumedang adalah 513 menit per hari atau sekitar 8,5 jam per hari, dengan nilai minimum 37 menit dan maksimum 363 menit. Sebagian besar siswa . ,6%) tergolong memiliki screen time tinggi (>240 menit per har. Durasi ini telah melampaui batas waktu yang direkomendasikan oleh beberapa penelitian di Indonesia. Menurut Rohman et al. , batas aman screen time bagi remaja adalah maksimal 4 jam per hari. Penggunaan perangkat digital yang melebihi batas tersebut dapat meningkatkan risiko kelelahan mata, gangguan tidur, serta menurunkan kemampuan konsentrasi belajar. Penelitian ini sejalan dengan hasil Wulandari dan Oktaviani . yang menemukan bahwa 76% siswa SMA di Bandung memiliki screen time lebih dari 4 jam per hari untuk keperluan akademik dan hiburan. Penelitian Syilvani et al. juga menunjukkan bahwa remaja dengan durasi screen time lebih dari 4 jam cenderung mengalami gangguan pola tidur dan peningkatan stres belajar. Penelitian yang dilakukan oleh Hasanah et al. menunjukkan bahwa aktivitas paling dominan dalam penggunaan smartphone adalah mengakses media sosial sebesar 87,1%. Temuan ini sejalan dengan hasil survei Yahoo TNS Mobile Index Indonesia . yang mengungkapkan bahwa media sosial merupakan aplikasi yang paling sering digunakan oleh pengguna smartphone di Indonesia. Hasil serupa juga ditemukan pada penelitian ini, di mana aplikasi yang paling sering digunakan adalah media sosial sebesar 149 responden . ,40%), diikuti oleh aktivitas menonton video atau film . ,40%) dan bermain game online . ,68%). Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMAN 3 Sumedang memiliki kebiasaan screen time yang tinggi dan melampaui batas aman. Hal ini perlu menjadi perhatian agar penggunaan perangkat digital tetap seimbang antara kebutuhan belajar, hiburan, dan waktu istirahat. Kejadian Kelelahan Mata Pada Siswa SMAN 3 Sumedang Berdasarkan hasil penelitian menggunakan kuesioner Visual Fatigue Index (VFI), diketahui bahwa sekitar setengah dari responden mengalami kelelahan mata akibat penggunaan perangkat digital yang terlalu Proporsi antara responden yang mengalami kelelahan mata dan yang tidak mengalami cenderung seimbang. Secara keseluruhan, sebanyak 141 responden . ,5%) dikategorikan mengalami kelelahan mata dengan skor >0,4. Sementara itu, 138 responden lainnya . ,5%) berada dalam kategori tidak mengalami kelelahan mata dengan <0,4. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusmayanti . mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keluhan penglihatan pada remaja di SMA Katolik Cendrawasih Makassar menunjukkan bahwa kebiasaan menonton televisi . erkait durasi, jarak pandang, dan posisi tubu. , penggunaan gawai . eliputi intensitas pencahayaan, lama penggunaan, jarak, serta posisi meliha. , serta kebiasaan membaca dalam posisi berbaring. Gabungan berbagai faktor tersebut terbukti Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 35 Ae 44 memiliki hubungan yang signifikan dengan timbulnya keluhan visual, seperti mata merah, kelelahan mata, mata berair, sensasi perih, penglihatan kabur, penglihatan ganda, serta gejala sistemik seperti sakit kepala, yang pada beberapa kasus juga disertai mual dan pusing (Buyung et al. Berdasarkan pernyataan Meutia . , ketika seseorang menggunakan gawai, fokus pandangan cenderung tertuju pada satu objek dalam jangka waktu lama. Kondisi ini dapat menyebabkan ketegangan pada otot mata serta penurunan frekuensi kedipan per menit, yang pada akhirnya memicu kekeringan pada mata (Djajanti et al. Oleh karena itu, siswa disarankan untuk mengatur waktu istirahat selama belajar menggunakan perangkat digital, serta menerapkan prinsip 20-20-20 . etiap 20 menit melihat layar, istirahat 20 detik, melihat objek sejauh 20 kak. untuk menjaga kesehatan mata Tingkat Nyeri Kepala Pada Siswa SMAN 3 Sumedang Berdasarkan data penelitian mengenai dampak nyeri kepala yang melibatkan 279 responden, ditemukan bahwa kategori dampak sedang merupakan kelompok yang paling dominan. Secara keseluruhan, sebanyak 108 responden . ,7%) berada pada kategori dampak sedang dengan rentang skor 50-55. Kelompok terbesar berikutnya adalah kategori dampak substansial sebanyak 70 orang . ,1%), diikuti oleh kategori dampak ringan sebanyak 69 orang . ,7%), dan kategori dampak buruk menjadi yang terkecil dengan jumlah 32 orang . ,5%). Nyeri kepala dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti stres belajar, gangguan tidur, postur tubuh yang salah, dan kelelahan mata akibat penggunaan perangkat digital berlebih (Steiner et , 2. Durasi penggunaan gawai yang paling sering ditemukan adalah 3Ae5 jam per hari. Pemakaian dengan durasi tersebut membuat pengguna mempertahankan posisi tubuh terlalu lama, sehingga otot leher menanggung beban Kondisi ini meningkatkan tekanan pada otot leher, yang kemudian dapat berdampak pada bahu dan kepala, dan akhirnya menimbulkan keluhan nyeri di area tersebut (Hardianty et al. Dengan demikian, hasil penelitian tersebut memperkuat bahwa penggunaan perangkat digital yang melebihi batas 4 jam per hari dapat memicu keluhan fisik berupa nyeri kepala, terutama bila tidak diimbangi dengan istirahat dan postur tubuh yang baik saat menggunakan perangkat digital. Analisis Hubungan Antara Screen Time dan Kelelahan Mata Berdasarkan tabel 4. Berdasarkan tabel 4. hasil uji korelasi spearman-rho menunjukkan nilai r = 0,124 dengan p = 0,038 . < 0,. , yang berarti terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara screen time dan kelelahan mata pada siswa SMA Negeri 3 Sumedang. Hubungan yang positif menunjukkan bahwa semakin lama durasi screen time, semakin tinggi pula tingkat kelelahan mata yang dialami. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pantiana et al. , . dengan jumlah sampel sebanyak 145 siswa di SMA Negeri 3 Jakarta yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan gadget dengan kelelahan mata pada remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Buyung et al. juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan gadget dengan kejadian kelelahan mata pada remaja di SMAN 1 Garut. Penggunaan gadget dalam waktu lama dengan frekuensi kedipan mata yang rendah dapat menyebabkan mata kering akibat peningkatan penguapan air mata. Kondisi ini mengurangi suplai nutrisi dan oksigen ke mata serta memicu kelelahan mata akibat kerja otot siliaris yang berlebihan saat memfokuskan pandangan pada jarak dekat (Chandra et al. , 2. Berdasarkan pernyataan Tulangow . , ketika seseorang memusatkan pandangan pada objek yang berada dekat dalam waktu lama, otot siliaris harus terus berkontraksi untuk menyesuaikan kelengkungan lensa agar cahaya dapat difokuskan tepat pada retina. Kontraksi yang terjadi tanpa istirahat ini menyebabkan otot siliaris menjadi tegang dan menghasilkan asam laktat akibat proses metabolisme anaerob pada otot akomodasi (Rasyid et al. , 2. Secara patofisiologis, kelelahan otot siliaris berakomodasi secara normal. Akibatnya, lensa sulit menyesuaikan fokus, dan timbul ketegangan pada sistem penglihatan. Kondisi ini menyebabkan kelelahan mata, dengan gejala seperti penglihatan kabur, rasa berat atau nyeri di sekitar mata, sakit kepala, serta penurunan kemampuan fokus (Putu et , 2. Oleh karena itu, durasi penggunaan layar . creen tim. yang terlalu lama dapat memicu kelelahan mata melalui peningkatan kerja otot siliaris dan gangguan proses akomodasi. Siswa disarankan untuk membatasi waktu menatap layar, menjaga jarak pandang minimal 30 cm, dan memperhatikan pencahayaan yang cukup saat Dewi. Sukaesih. , & Sutrisno. / Hubungan Antara Screentime dengan Kejadian Kelelahan Mata dan Nyeri Kepala pada Siswa SMAN 3 Sumedang menggunakan perangkat digital agar kesehatan mata tetap terjaga. Analisis Hubungan Antara Screen Time dan Nyeri Kepala Berdasarkan tabel 5, hasil uji korelasi spearman-rho menunjukkan r = 0,004 dengan p = 0,949 . > 0,. , yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara screen time dan nyeri kepala pada siswa SMAN 3 Sumedang. Hal ini menunjukkan bahwa durasi penggunaan layar tidak secara langsung menyebabkan nyeri kepala, namun dapat menjadi faktor pendukung bersama faktor lain seperti stres, kurang tidur, dan postur tubuh yang salah memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap timbulnya nyeri kepala dibanding dengan durasi penggunaan layar . creen tim. Meskipun secara teori mempertahankan posisi kepala selama penggunaan layar dalam waktu lama dapat menyebabkan ketegangan pada otot mata dan leher. Saat seseorang menatap layar terusmenerus tanpa jeda, otot siliaris dan otot-otot di sekitar mata harus bekerja terus-menerus untuk menjaga fokus. Kondisi ini menyebabkan kelelahan otot . uscle fatigu. dan gangguan pada sistem saraf yang mengatur rasa nyeri di kepala. Aktivasi berulang pada sistem saraf trigeminus dapat menimbulkan nyeri kepala tipe tegang . ension type headach. atau bahkan migrain (Roy et al. , 2. Namun pada penelitian ini peneliti hanya berfokus pada durasi penggunaan smartphone . creen tim. tanpa meninjau lebih jauh mengenai aspek Hal ini menyebabkan peneliti tidak dapat memantau secara pasti apakah responden berada dalam posisi statis yang menetap selama durasi penggunaan perangkat tersebut. Dari hasil analisis penelitian, peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan antara durasi screen time dengan kejadian nyeri kepala. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Hasanah et al. , . yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara screen time dengan kejadian migrain. Selain itu, penelitian lain juga menunjukkan bahwa hubungan antara durasi penggunaan layar dan nyeri kepala tipe tension-type headache (TTH) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,865 . > 0,. , yang berarti tidak terdapat korelasi antara kedua variabel Nilai koefisien korelasi sebesar 0,014 menunjukkan bahwa kekuatan hubungan antar keduanya tergolong sangat lemah. Dengan demikian, durasi penggunaan smartphone yang semakin tinggi tidak berkaitan langsung dengan meningkatnya risiko mengalami TTH. Berdasarkan hasil tersebut, dapat diasumsikan bahwa faktor- faktor lain, seperti stres, kualitas tidur, serta postur tubuh, memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap kejadian nyeri kepala (Triramadhani et al. Secara umum, nyeri kepala berdampak pada penurunan konsentrasi, gangguan aktivitas seharihari, serta menurunkan produktivitas belajar. Individu dengan nyeri kepala berulang juga cenderung mengalami penurunan kualitas tidur, kelelahan, hingga masalah psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi (Steiner et al. , 2. Penggunaan perangkat digital dengan durasi >240 menit per hari terutama jika dilakukan secara terusmenerus tanpa jeda istirahat tetap berpotensi memperburuk gejala nyeri kepala. Guna menghindari gangguan kesehatan jangka panjang, sangat disarankan bagi pengguna untuk membatasi waktu paparan layar sesuai dengan standar rekomendasi kesehatan yang berlaku. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Pertama, penelitian menggunakan desain cross-sectional, sehingga hanya menggambarkan hubungan antar variabel pada satu waktu tertentu dan belum dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat antara durasi screen time dengan kelelahan mata maupun nyeri Kedua, pengumpulan data melalui kuesioner dapat menimbulkan bias subjektif, karena jawaban responden mungkin tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya, terutama terkait durasi penggunaan layar dan gejala yang Selain itu, penelitian ini belum mempertimbangkan faktor-faktor lain yang pencahayaan ruangan, jarak pandang, posisi tubuh saat menggunakan perangkat, serta waktu istirahat Faktor-faktor ini dapat berkontribusi terhadap munculnya kelelahan mata dan nyeri kepala, namun tidak diukur secara langsung dalam penelitian. Meskipun penelitian ini hanya dilakukan di SMAN 3 Sumedang, sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah dengan jumlah siswa terbanyak di Kabupaten Sumedang, sehingga hasil penelitian ini menggambarkan kondisi remaja SMA di wilayah Implikasi Keperawatan Hasil penelitian ini memiliki makna penting dalam bidang keperawatan, khususnya dalam upaya promotif dan preventif untuk menjaga kesehatan mata remaja di era digital. Perawat dapat memberikan edukasi kesehatan digital kepada Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 35 Ae 44 siswa, guru, dan orang tua mengenai pentingnya membatasi durasi screen time tidak lebih dari 4 jam per hari serta menerapkan aturan 20-20-20 . etiap 20 menit melihat layar, istirahat 20 detik, dan melihat objek sejauh 20 kak. Selain itu, perawat sekolah perlu melakukan skrining atau pemeriksaan dini terhadap gejala kelelahan mata dan nyeri kepala pada siswa yang sering menggunakan perangkat Penelitian ini mendasari program kesehatan sekolah mengenai edukasi ergonomi digital dan pola hidup sehat saat menggunakan gawai. Perawat berperan penting dalam mencegah gangguan mata serta nyeri otot akibat durasi screen time yang SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMAN 3 Sumedang memiliki durasi screen time yang tinggi, sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan mata. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara durasi screen time dengan kejadian kelelahan mata pada siswa SMA Negeri 3 Sumedang, namun kekuatan hubungan tersebut tergolong lemah. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara durasi screen time dengan kejadian nyeri kepala. Mengingat desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional, hubungan yang ditemukan bersifat asosiatif dan tidak dapat diinterpretasikan sebagai hubungan kausal. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh perawat sekolah sebagai dasar dalam merancang kegiatan edukasi dan skrining sederhana terkait penggunaan perangkat digital yang sehat serta pencegahan kelelahan mata pada siswa. DAFTAR PUSTAKA