PENELITIAN ASLI MEMBANGUN GENERASI BERKARAKTER: STRATEGI PENDIDIKAN KARAKTER DI LINGKUNGAN ORGANISASI EKSTERNAL MAHASISWA Muhammad Fadli . Taruli Marito Silalahi . Winny Sunfriska Limbong . Grace Cyntia Tarihoran4. Robertius Waruwu5. Renaldo6 1,2. 3,4,5,6 Fakultas Ilmu Pendidikan. Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Sari Mutiara Indonesia. Medan. Sumatera Utara Info Artikel Riwayat Artikel: Diterima: 14 Juni 2025 Direvisi: 18 Juni 2025 Diterima: 26 Juni 2025 Diterbitkan: 09 Juli 2025 Kata kunci: Pendidikan Karakter. Organisasi Eksternal Mahasiswa. Kaderisasi. Integritas. Pengabdian Masyarakat. Penulis Korespondensi: Muhammad Fadli Email: alfarabim51@gmail. Abstrak Pendidikan karakter merupakan elemen fundamental dalam membentuk sumber daya manusia yang bermoral, cerdas, dan berdaya saing. Di tengah tantangan globalisasi dan krisis moral generasi muda, organisasi kemahasiswaan eksternal hadir sebagai wahana strategis dalam mendukung pendidikan karakter melalui sistem kaderisasi yang terstruktur. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan dan memperkuat peran organisasi eksternal mahasiswa dalam proses pembentukan karakter generasi muda, khususnya pada nilai-nilai tanggung jawab, kepemimpinan, integritas, dan cinta tanah air. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk seminar, diskusi kelompok terarah, dan pelatihan soft skill yang melibatkan mahasiswa dari HMI. PMII. GMKI. GMNI, dan organisasi lainnya. Hasil kegiatan pentingnya organisasi sebagai ruang pembinaan Terdapat peningkatan pemahaman, partisipasi aktif, serta kesadaran akan peran organisasi dalam membentuk pribadi yang kritis, inklusif, dan berintegritas. Oleh karena itu, sinergi antara kampus dan organisasi eksternal perlu diperkuat melalui kebijakan inklusif, ruang kolaborasi, dan pendampingan berkelanjutan agar strategi pendidikan karakter dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. Jurnal ABDIMAS Mutiara (JAM) e-ISSN: 2722-7758 Vol. No. 02 Juni, 2025 (P158-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM DOI: https://10. 51544/jam. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi : Sistem Informasi Fakutas Sains dan Teknologi Informasi Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Pendidikan karakter ialah pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang sempurna. Dengan kuatnya arus Globalisasi dan moderenisasi, generasi mengalami tantangan yang tidak muda, malah semakin kompleks. Salah satunya masuknya paham-paham yang bertentangan dengan ideologi bangsa, menurunya moral generasi muda, dan hilangnya rasa kepedulian terhadap lingkungan dan sosial yang yang berada disekitarnya (Zamroni, 2. Oleh karena itu, pendidikan formal idealnya dilengkapi dengan pendidikan informal yang mampu membentuk karakter generasi muda agar lebih bertanggung jawab, disiplin, jujur, dan memiliki kecintaan terhadap tanah air. Pendidikan informal ini sebaiknya dilaksanakan oleh lembaga-lembaga yang terintegrasi dengan institusi formal, salah satunya adalah organisasi kemahasiswaan. Organisasi mahasiswa merupakan wadah yang strategis dalam pembentukan karakter, karena selain menjadi ruang aktualisasi diri, organisasi ini juga berfungsi sebagai laboratorium nilai, etika, moral, dan kepemimpinan (Fadli, 2. Di kalangan mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, baik internal maupun eksternal, merupakan wadah yang strategis dalam pembentukan karakter. Secara khusus, organisasi mahasiswa eksternal memiliki sistem kaderisasi yang lebih terstruktur dan terarah melalui jenjang pelatihan yang jelas. Melalui proses pelatihan tersebut, nilai-nilai karakter, intelektual, dan kepemimpinan dapat ditanamkan secara konsisten dan sejalan dengan ideologi bangsa, yaitu Pancasila. Tak sedikit tokohtokoh besar bangsa yang lahir dari rahim organisasi mahasiswa eksternal. Beberapa di antaranya meliputi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan lainnya (Fadli et al. , 2. Keunggulan organisasi mahasiswa eksternal tidak hanya terletak pada struktur pelatihan yang sistematis, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai kebangsaan dan keberpihakan terhadap isu-isu Melalui berbagai kegiatan seperti diskusi kebangsaan, pelatihan kepemimpinan, advokasi sosial, dan aksi kemanusiaan, mahasiswa dibentuk menjadi pribadi yang kritis, peka terhadap persoalan sosial, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib bangsa. Hal ini menjadi ruang yang sangat penting dalam membentuk karakter pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berintegritas secara moral dan sosial (Justin, 2. Lebih dari itu, organisasi eksternal mahasiswa juga memberikan ruang aktualisasi diri yang luas bagi anggotanya untuk mengembangkan potensi dalam berbagai bidang. Baik dalam hal kepemimpinan, komunikasi publik, penulisan ilmiah, hingga pengelolaan program, semua menjadi bagian dari proses pembelajaran yang berharga. Pengalaman ini tidak hanya membentuk kompetensi teknis, tetapi juga memperkuat sikap tanggung jawab, kerjasama, dan etos kerja yang tinggi. Nilai-nilai ini penting untuk dibangun sejak dini agar mahasiswa mampu menghadapi tantangan global dengan tetap berpijak pada identitas nasional (Nurtanto & Munandar, 2. Organisasi seperti HMI. PMII. GMKI, dan GMNI tidak hanya menawarkan ideologi dasar sebagai landasan berpikir, tetapi juga menginternalisasikan semangat kebangsaan dalam setiap proses Proses ini tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh senior dan alumni yang menjadi mentor serta teladan dalam pembinaan karakter. Interaksi lintas generasi ini turut memperkaya pemahaman mahasiswa tentang pentingnya nilai historis, moralitas, serta keberlanjutan perjuangan dalam menjaga nilai-nilai Pancasila di tengah arus globalisasi yang kian kompetitif (Basri & Dwiningrum, 2. Selain membentuk individu yang berkarakter, keberadaan organisasi eksternal juga memperkuat kehidupan demokrasi kampus. Dalam dinamika organisasi, mahasiswa diajarkan untuk menyampaikan pendapat secara santun, berdebat dengan argumen yang rasional, serta menghargai perbedaan pandangan. Proses ini menjadi miniatur demokrasi yang membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang toleran, terbuka, dan mampu menghargai keberagaman. Hal ini sangat relevan dalam konteks Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, yang memerlukan generasi muda berjiwa inklusif dan memiliki kepedulian terhadap kohesi sosial(Dimyati, 2. Dengan berbagai peran strategis yang dimilikinya, organisasi eksternal mahasiswa sejatinya menjadi mitra penting dalam proses pendidikan karakter bangsa. Keberadaannya bukan hanya sebagai pelengkap aktivitas kampus, tetapi sebagai bagian integral dari proses pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan tinggi untuk mendukung keberlangsungan dan pengembangan organisasi eksternal secara positif, termasuk dalam memberikan ruang, pengakuan, dan kolaborasi yang sehat demi mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tangguh secara moral, dan berdaya saing secara global. Adapun tujuan pengabdian masyarakat ini lakukan untuk mensosialisasikan, menerapkan, dan memperkuat peran Strategi pendiddikan karakter di Lingkungan Organisasi Ekternal Mahasiswa untuk menciptakan generasi bangsa yang cerdas, beretika dan cinta tanah air. Metode Pengabdian Masyarakat ini dilakukan dengan menagadakan seminar sosialisasi dengan tema Ai Membangun Generasi Berkarakter dengan Srategi Pendidikan Karakter di Lingkungan Organasasi Eksternal MahasiwaAn. Adapun lokasi sosialisasi dilakukan di Seketariat Himpunan Mahasiwa Islam FIS UNIMED. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 11 Juni 2025. Adapun pelakasanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini terdiri dari tiga dosen dan tiga mahasiswa PGSD semester dua. Dengan target peserta merupakan kader-kader organisasi eksternal mahasiswa yakni PMII. HMI. GMKI. GMNI dan lainnya. Pada tahap pelakasanaan, kegiatan sosialisasi dilakukan di seketeraiat Himpunan Mahasiswa Islam FIS UNIMED melalui seminar interaktif yang di pandu oleh kader HMI FIS UNIMED. Mahasiswa yang mengikuti organisasi eksternal kampus diberikan penjelaskan mengenai pendidikan karakter, dan strategi pembentukan karakter. Hal ini juga dilanjutkan dengan diskusi intens dengan cara menjawab pertanyaan mereka sembari menggali pehaman mahasasiwa. Hasil Dan Pembahasan Kegiatan pengabdian masyarakat ini telah dilaksanakan dalam bentuk seminar sosialisasi, diskusi kelompok terarah (FGD), dan pelatihan soft skill yang melibatkan mahasiswa dari berbagai organisasi eksternal, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Peserta yang mengikuti kegiatan ini secara umum menunjukkan antusiasme dan keterlibatan aktif dalam setiap sesi yang Hasil pengamatan dan evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa peserta telah memiliki pemahaman awal mengenai pentingnya pembentukan karakter, namun belum semuanya menyadari bahwa organisasi eksternal dapat menjadi sarana strategis untuk penguatan karakter tersebut. Dalam sesi diskusi dan pelatihan, ditemukan bahwa organisasi eksternal mahasiswa memiliki struktur kaderisasi yang mampu membentuk karakter secara sistematis. Program-program seperti Latihan Kader. Basic Training. Intermediate Training, hingga diskusi ideologis dan advokasi sosial menjadi arena penggemblengan nilai. Nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab, keberanian, kedisiplinan, kepemimpinan, solidaritas, serta cinta tanah air muncul secara organik dalam proses Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang mahasiswa terhadap peran organisasi eksternalAibukan hanya sebagai tempat berhimpun, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter nonformal yang membentuk mentalitas kepemimpinan dan kepedulian sosial. Pembahasan dalam kelompok juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif di organisasi eksternal cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri lebih tinggi dan kemampuan komunikasi yang lebih baik dibandingkan mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi. Hal ini mengindikasikan bahwa keterlibatan dalam organisasi turut memperkaya aspek soft skill mahasiswa, yang pada gilirannya mendukung pembentukan karakter secara menyeluruh. Dalam konteks ini, pembentukan karakter tidak dipahami sebatas pembelajaran nilai secara teoritis, tetapi justru terinternalisasi melalui pengalaman langsung dalam kegiatan organisasi, baik dalam suasana formal maupun Kegiatan ini juga menunjukkan pentingnya sinergi antara pendidikan formal di kampus dan pendidikan informal di organisasi eksternal. Banyak mahasiswa merasa bahwa materi-materi perkuliahan yang bersifat akademik tidak cukup untuk membekali mereka menghadapi tantangan di Di sinilah organisasi mahasiswa hadir sebagai pelengkap yang mengasah dimensi afektif dan psikomotorik mahasiswa. Oleh karena itu, perlu ada dukungan dan pengakuan dari institusi pendidikan tinggi terhadap keberadaan organisasi eksternal sebagai mitra dalam pembinaan karakter mahasiswa. Secara keseluruhan, hasil dari pengabdian masyarakat ini mempertegas bahwa pendidikan karakter melalui organisasi eksternal merupakan strategi efektif untuk membentuk mahasiswa yang berdaya saing, berintegritas, dan memiliki orientasi kebangsaan. Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa lingkungan informal seperti organisasi mahasiswa dapat memperkuat nilai-nilai etika, moral, dan nasionalisme di kalangan pemuda (Nurtanto & Munandar, 2. Evaluasi Dan Monitoring Ormawa Eksternal Oleh sebab itu, penguatan kapasitas organisasi eksternal serta kolaborasi aktif dengan pihak kampus perlu terus didorong agar proses pembentukan karakter generasi muda dapat berlangsung secara optimal dan berkesinambungan. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui kebijakan kampus yang lebih inklusif terhadap aktivitas organisasi mahasiswa, penyediaan ruang pembelajaran yang kondusif, serta pendampingan dari civitas akademika sebagai mitra pembinaan. Selain itu, diperlukan pula mekanisme evaluasi dan monitoring secara berkala terhadap aktivitas organisasi mahasiswa eksternal guna memastikan bahwa nilai-nilai karakter yang ditanamkan tetap sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan nasional dan ideologi bangsa. Penguatan nilai-nilai kebangsaan, integritas, dan tanggung jawab sosial harus menjadi pilar utama dalam setiap program kaderisasi yang dijalankan organisasi. Tidak kalah penting, mahasiswa sebagai aktor utama dalam organisasi juga harus memiliki kesadaran dan komitmen untuk terus belajar, merefleksikan nilai, dan menjadikan organisasi sebagai wadah pembentukan diri yang konstruktif. Proses pembentukan karakter idealnya bukan hanya menjadi hasil dari struktur organisasi semata, tetapi juga dari dorongan internal untuk tumbuh menjadi pribadi yang bermakna bagi masyarakat dan bangsa. Dengan upaya yang terintegrasi antara mahasiswa, organisasi, dan kampus, pendidikan karakter berbasis organisasi eksternal tidak hanya akan mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga melahirkan generasi pemimpin yang berakar kuat pada nilai-nilai luhur bangsa. Inilah langkah konkret menuju terwujudnya generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat, visioner, dan berorientasi pada kemaslahatan publik. Kesimpulan Pendidikan karakter merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul, bermoral, dan berdaya saing. Di tengah tantangan globalisasi yang kompleksAiseperti masuknya paham-paham yang bertentangan dengan ideologi bangsa serta merosotnya moral dan kepedulian sosial generasi mudaAidiperlukan pendekatan pendidikan yang menyeluruh. Pendidikan karakter tidak cukup hanya ditanamkan melalui jalur formal di bangku kuliah, melainkan perlu diperkuat melalui pendidikan informal, salah satunya melalui keterlibatan aktif mahasiswa dalam organisasi eksternal kampus. Organisasi mahasiswa eksternal terbukti menjadi wahana strategis dalam pembentukan karakter, karena memadukan proses kaderisasi yang sistematis, pengalaman kepemimpinan, serta internalisasi nilai-nilai kebangsaan dan sosial. Melalui pelatihan berjenjang, diskusi ideologis, dan aksi sosial, mahasiswa tidak hanya mengembangkan soft skill dan kompetensi teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab, etika, dan cinta tanah air. Organisasi seperti HMI. PMII. GMKI, dan GMNI bahkan telah mencetak tokoh-tokoh besar bangsa yang memiliki integritas tinggi dan jiwa kepemimpinan yang kuat. Kegiatan sosialisasi dalam pengabdian masyarakat ini mempertegas bahwa organisasi eksternal dapat menjadi sarana efektif dalam strategi pendidikan karakter. Antusiasme peserta, peningkatan pemahaman, serta kesadaran terhadap pentingnya pembinaan karakter melalui organisasi menunjukkan bahwa pendekatan ini relevan dan berdampak nyata. Namun, keberhasilan pembentukan karakter secara optimal memerlukan sinergi antara mahasiswa, organisasi, dan institusi pendidikan tinggi. Kampus perlu memberikan ruang, pengakuan, serta pendampingan bagi organisasi eksternal sebagai mitra dalam membina generasi muda. Ucapan Terimakasih Kami tim pengabdian masyarakat mengucapkan terimakasih kepada pihak Himpunan Mahasiswa Islam FIS UNIMED yang sudah mau menjadi bagian dari panitia dan juga menyediakan tempat sosiaslisasi di Seketariat HMI FIS UNIMED. Karena dengan berjalanannya pengabdian ini kami sudah melaksanakan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Referensi