PERSEKUTUAN Mida Purba STKIP Widya Yuwana midapurba@widyayuwana. Abstract This article wants to explore the doctrin of Trinity by looking at the experience of the believers of the early church. Their encounter with God which they saw in Jesus himself and in Spirit provide the notion of the doktrin of Trinity. The very being of God who reveal Himself in Jesus dan in Spirit shows a harmonius relation among them and simultaniously shows a communion. This communion becomes model of the communion of the believers. The writer uses hermeneutic approach to analyze topic of discussion. Keywords: Trinity, communion, revelation, human nature. PENDAHULUAN Keuskupan Surabaya mencanangkan suatu pola pastoral, suatu Aucara bersamaAy yakni pola pastoral berbasis persekutuan. Mengapa memilih AuPola PersekutuanAy atau suatu cara bersama dalam hal menggembalakan umat Allah? Alasannya adalah karena Realitas Plural . eanekaragaman wuju. dari umat Katolik Keuskupan Surabaya. Realitas yang plural ini memicu, mendorong dan menantang para gembala untuk mewujudkan jati diri Gereja dalam pelaksanaan Keragaman itu meliputi: sebaran domisili umat, perbedaan sosial-latar belakang budaya, aneka kelompok yang tumbuh subur, tingkat pemahaman, unit-unit karya serta aneka mitra karya, dan aneka tahap jenjang Keadaan umat yang aneka wujud tersebut sedang berjalan di antara keanekaragaman arus masyarakat dan tantangan jaman . Inilah keadaan umat di Keuskupan Surabaya yang hendak digembalakan oleh para gembalanya. Demi cara penggembalaan yang sehat dalam cara yang telah ditentukan ini dan menumbuhkan kesejahteraan umat yang digembalakan kiranya baik menimba inspirasi dari pengalaman iman Gereja Perdana. Sejak awal. Gereja Perdana zaman para rasul. Gereja . memahami bahwa dirinya sebagai persekutuan. Persekutuan inilah yang merupakan hakekat Gereja. Mereka bersekutu. Cara hidup yang menghayati diri sebagai persekutuan tersebut dapat kita ketahui melalui Kisah Para Rasul Bab 2 dan 4. Di sana dikisahkan cara hidup jemaat Konsili Vatikan II, sejalan dengan ajaran para Bapa Gereja, menegaskan hakikat Gereja sebagai suatu kesatuan umat berasal dari kesatuan Allah Tritunggal (Ecclesia de Trinitat. : AuDemikianlah seluruh Gereja nampak sebagai Aoumat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh KudusAoAy (LG . II. PEMBAHASAN Trinitas Pernyataan di atas tentang Auhakikat Gereja sebagai suatu kesatuan umat berasal dari kesatuan Allah TritunggalAy adalah konsep yang sangat padat, mungkin tidak jelas dengan sendirnya saat membaca. Maka demi manfaat yang lebih besar kiranya perlu diuraikan agar arti yang terkandung di dalamnya dapat dimengerti dengan baik dan, selanjutnya dapat diapplikasikan dalam pola Doktrin Trinitas berasal dari pengalaman orang tentang Allah. Pada periode postbiblical, doktrin Trinitas muncul sebagai refleksi orang-orang Kristen tentang Allah yang menyatakan diri dalam Yesus dan dalam Roh Kudus. Orang-orang Kristen mengamati bahwa Yesus tak henti-hentinya berkhotbah tentang datangnya Kerajaan Allah. Tetapi tak hanya berkhotbah, melainkan serentak melalui segala sesuatu yang dia lakukan, perkataan dan perbuatannya dia mewujudkan Kerajaan itu. Orang mengalami kehadiran Yang Ilahi melalui Orang meyakini kehadiran Yang Ilahi melalui kata-kata yang diucapkan olehnya dan melalui segala sesuatu yang dia lakukan. Inilah keyakinan utama yang tumbuh dalam komunitas Kristen awali, sebagaimana tampak secara khusus dalam Injil sinoptik: Yesus dan wartanya tidak dapat dipisahkan. Setelah kebangkitan Yesus, keyakinan yang telah tumbuh ini, bukan pudar melainkan semakin kuat. Warta tentang Kerajaan Allah menyatu dengan perjumpaan komunitas Kristen awal dengan Yesus yang bangkit dan Rohnya. Pengertian mereka atas warta tentang Kerajaan Allah yang telah disampaikan oleh Yesus dan isi ibadat mereka menyediakan framework lahirnya formulasi Trinitarian. Perlahan-lahan melalui berbagai bentuk pengajaran dan mukjizat yang dibuat oleh Yesus untuk mewujudkan Kerajaan Allah, mereka mengalami sebuah undangan untuk masuk ke dalam anugerah relasi dengan Allah melalui Kristus yang bangkit. Mereka merasa diundang untuk masuk ke dalam anugerah relasi dengan Allah. Terjadi pertobatan, dari sebuah keadaan yang berada di luar anugerah relasi dengan Allah ke sebuah keadaan berada di dalam anugerah relasi dengan Allah yang menyatakan diri-Nya yang sesungguhnya dalam Yesus dan dalam Roh Kudus. Masuk ke dalam anugerah relasi dengan Allah adalah pengalaman yang paradox. dari satu sisi sebagai keputusan karena mengikutsertakan sebuah sikap berserah dari pihak mereka, dan dari sisi lain sebagai pemberian karena mengalami bahwa sikap berserah ini hanya mungkin karena dikuatkan oleh Roh Allah, yang selalu hadir di antara mereka. Efek dari pengalaman pertobatan ini adalah rasa syukur. Bersyukur karena berada dalam relasi dengan Allah, hidup dalam kesatuan dengan Allah, yang diungkapkan dalam liturgi. Struktur doa liturgi mereka memperlihatkan struktur pengalaman rahmat orang-orang Kristen awal. Melalui penguatan Roh Kudus, orang beriman menyampaikan pujian kepada Allah dengan perantaraan Kristus. Ciri reciprocal dari persekutuan manusia dengan Allah memperlihatkan unsur yang bergerak secara dinamis: Allah memberi anugerah dan orang-orang yang percaya, manusia menyampaikan pujian. Di meja perjamuan Yesuslah ciri reciprocal ini nyata. roti dan anggur serta pemberian diri komunitas yang sedang berdoa dipersembahkan kepada Allah dan ditransformasikan bagi komunitas. Ciri persatuan dari doa liturgi memperlihatkan 2 hal: vertikal dan horizontal dari Pola doa liturgi ini menyediakan struktur awal dari doktrin refleksi tentang Allah. Gereja Kristen awal tumbuh dalam keyakinan bahwa Allah menyatakan diri-Nya yang sesungguhnya dalam diri Yesus dan dalam Roh Kudus. Yang tersingkap dalam Yesus dan dalam Roh, tidak lain dan tidak bukan hanyalah diri Allah yang sesungguhnya yang menjadi dasar Deus pro nobis. Allah untuk Allah tidak dipenuhi dengan diri-Nya sendiri atau Ilahi yang introvert, yang membosankan dan yang tidak tertarik dengan cinta dan lalu datang untuk terlibat dengan dunia yang dicipta oleh-Nya. Bukan demikian! Sebaliknya, karya Kristus dan Roh memperlihatkan diri Allah sebagai Allah yang ada untuk yang lain . being-for-other. Maka setiap tindakan Allah adalah wujud dari diri-Nya yang dinamis: memberi hidup dan merangkul seluruh realitas ke dalam kesatuan dengan-Nya. Dengan pengalaman yang demikian. Kerajaan Allah, yang diwartakan oleh Yesus dan terwujud dalam dirinya, perlahanlahan dijadikan tema doktrin Trinitas sebagai formula dari ekspressi dari hidup Ilahi dalam kesatuan (Richard R. Gaillardetz 1993: 418-. Hidup dalam Persekutuan Allah yang ada sebagai Aubeing-in-communionAy, adalah Allah yang menopang semua ciptaan dalam hidup persekutuan. Artinya, semua ciptaan tergantung kepada Allah, dalam perbuatan Allah yang kreatif dalam mewujudkan diri-Nya dan dalam relasi yang harmonis dengan manusia. Tapi bagaimanapun, untuk manusia, hidup dalam persekutuan ini, mempunyai bentuk yang personal. Melibatkan kapasitasnya sebagai manusia secara penuh, aktif dan bersifat reciprocal, timbal balik dalam hidup persekutuan. Sebagai ciptaan yang unik dalam gambar dan rupa Allah, pada dasarnya kita juga adalah orang yang berada dalam persekutuan. Setiap orang Kristen dipanggil untuk mengaktualisasikan diri dalam persekutuan dengan berpola pada kesatuan harmonis antara Allah Bapa. Yesus dan Roh. Sebagai pribadi, relasi dengan Allah sebagai persekutuan bukan relasi yang berciri manipulasi, dominasi atau subordinasi, demikian juga manusia dipanggil untuk menolak semua jenis relasi ini dan mengaktualisasikan dirinya dengan cara berelasi dengan orang lain yang secara fundamental bersifat timbal-balik, dan saling memberi hidup . Michael Downey 1997: 40- . Mungkin secara konseptual kita ingin membedakan dua hal ini: persekutuan dengan Allah dan persekutuan satu sama lain. Akan tetapi secara konkrit model persekutuan Kristen periode awal, menampilkan 2 dimensi yang berbeda ini sebagai orientasi yang sama secara fundamental. Tradisi biblis mengaffirmasi hal ini. Jesus menekankan keunggulan dan ketidakterpisahan dari dua perintah utama yaitu mencintai Allah dan mencintai sesama (Mark 12:28-34. Luk 10:25-28. Mat 22:34-. Injil Mateus menyampaikan kisah tentang pengadilan yang terakhir. Dalam kisah ini. Jesus menunjukkan bahwa kemurahan hati dan belas kasihan yang diperbuat untuk seseorang adalah juga perbuatan yang dilakukan untuk Jesus sendiri (Mat 25:31-. Dari tradisi biblis yang terkait dengan komunitas Yohanes, kita menemukan keyakinan berikut ini: mencintai Allah dan mencintai sesama tidak dapat dipisahkan. Aubarangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Jikalau seorang berkata: AuAku mengasihi AllahAy, tapi ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnyaAy . John 4:8, . Tradisi biblis ini menegaskan hubungan integral antara persatuan dengan Allah dan persatuan dengan sesama. Doktrin Trinitas adalah sebuah keyakinan tentang adanya Allah sebagai "being-in-communion", ada dalam kesatuan yang harmonis. Dalam iman Kristen, manusia dicipta secitra dengan Allah. Karena itu dipanggil untuk ambil bagian dalam hidup Allah dengan memasuki relasi yang intim dengan-Nya. Hal ini adalah hal yang sentral. Undangan kesatuan dengan Allah tidak dapat dipisahkan dengan undangan kesatuan dengan sesama. Dalam tradisi vinsensian keyakinan seperti ini amat kentara. Berulang kali dalam pelbagai kesempatan. St. Vinsensius mengulang hal ini. Kesatuan dengan Allah terjadi dalam kesatuan dengan sesama, khususnya mereka yang Kata St. Vinsensius: orang miskin bagaikan coin yang memiliki 2 wajah. wajah manusia dan wajah Allah. Dan baginya hal itu bukan methapor. Dalam diri manusia dia berjumpa dengan Allah (Doherty. 1993: 790-. Lex Agendi Lex Essendi Pola pastoral berbasis persekutuan yang sedang berlangsung di keuskupan Surabaya mengutip pepatah Latin hal berikut ini. Lex agendi lex essendi . ata perilaku hendaknya mengikuti hakekat jati diriny. mengajarkan, bahwa tata gerak dan kelola penggembalaan yang direncanakan di keuskupan Surabaya hendaknya setia mengikuti hakekat jati diri Gereja sebagai communio . Bagaimana cara melaksanakan hal ini dengan baik? Martin Buber, seorang filsuf, mengatakan bahwa terminologi persekutuan menamakan sebuah gerakan dasar atau oritentasi ke luar, dan bukan kepada diri sendiri. Tertuju kepada orang Hal ini mengandaikan unsur melupakan diri, bukan unsur penolakan diri. Sifat alamiah dari orientasi ini menjadi jelas bila kita melihat perbedaan antara sebuah dialog dan gosip. Dalam gosip orang lebih didominasi oleh keprihatinannya dan penilaiannya atas diri orang lain. Hal yang menonjol di sini ialah orang selalu berpusat pada dirinya dan hanya sedikit saja terlibat atau peduli dengan patner bicaranya. Pada umumnya gosip ditandai dengan unsur kekhawatiran, pendapat pribadi dan kepentingan. Bisa saja dalam gosip tersebut orang ingin memperoleh informasi atau pendapat, tetapi keterlibatan yang fundamental dari diri sendiri terhadap patner bicara hampir tidak ada. Sebaliknya, dalam dialog yang otentik, selalu muncul aspek melupakan diri. Orang sepenuhnya hadir untuk patner dalam dialog itu dan mendengarkan hal-hal yang diungkapkan tentang dirinya dalam dialog itu. Dalam suasana dialog itu, relasi yang terjadi di antara mereka menjadi pusat. Perbedaan pokok antara gosip dan dialog terletak pada kualitas relasi yang diciptakan. Relasi yang ada dalam dialog yang otentik inilah yang persis dituntut dalam sebuah persekutuan. Relasi yang ditandai dengan sikap melupakan diri dan menaruh perhatian sepenuhnya kepada yang lain. Salah satu refleksi yang sangat dalam mengenai sifat relasi manusia yang dijelaskan dengan cara yang berbeda dan pentingnya hidup dalam persekutuan untuk eksistensi manusia yang otentik, ditemukan dalam pemikiran Martin Buber. Dalam karya klasiknya AuI and ThouAy Buber mengatakan, tidak ada lagi AuIAy yang otonom, terpisah dari satu atau dua Aukata-kataAy atau AurelasiAy yaitu I-It atau I-You. Relasi I-It adalah relasi yang berjarak dan terpisah. Misalnya, relasi saya dengan meja atau laptop atau pakaian. Manusia mengatur dan memanfaatkannya. Kita mempunyai kebutuhan penting untuk mengaturnya dan membuat AusesuatuAy dari barang yang tersedia untuk dimanfaatkan dan dimanipulasi. Dalam dirinya, tidak ada yang salah dalam relasi jenis ini. dan sesungguhnya, hal itu esensial untuk eksistensi manusia. Pada saat yang sama, manusia dipanggil ke relasi yang lebih dalam dengan dunia sekitar, yang disebut Buber dengan relasi I-You. Relasi ini ditandai kedekatan, kesegaran, ambil bagian, ikut serta dan bersifat timbalbalik. Dalam relasi ini ada sebuah gerakan untuk ke luar dari ego menuju sebuah keterbukaan. Tidak memanfaatkan atau memanipulasi keikutsertaan dengan orang lain. Buber membedakan penguatan ego yang ditandai dengan jarak, terpisah dari jenis relasi I-it dan penguatan orang didasari oleh relasi yang segar dan bersifat timbal balik dari jenis relasi I-Thou. Ego muncul dengan menempatkan dirinya terpisah dari ego yang lain. Sebaliknya, orang tampil dengan menjalin relasi dengan orang lain. Dalam perjumpaan relasi I-You, partisipasi atau keterlibatan inilah yang disebut Buber dengan Auan actualityAy, yang merupakan hal yang utama. Siapa saja yang ada dalam relasi, ambil bagian dalam actuality. itu bukan hanya bagian dari dia juga bukan hanya di luar dia. Semua actuality adalah aktivitas. Dimana tidak ada keterlibatan, di sana tidak ada actuality. Dimana ada sikap mengambil sesuatu untuk diri sendiri . elf-appropriat. , di sana tidak ada actuality. Semakin langsung menyentuh orang lain, semakin sempurnalah keterlibatan seseorang. AuIAy menjadi aktual melalui Makin sempurna keterlibatan, makin menjadi aktual AuIAy. Dalam methapor dialog, relasi itu sendiri adalah hal yang utama. Relasi I-You bertolak belakang dengan relasi AuI-ItAy. AuIAy tidak pernah memiliki AuyouAy karena AuyouAy bukan objek melainkan subyek yang lain. Dalam perjalan hidup kita terombang ambing di antara dua relasi ini. Pemikiran Buber menolong memahami kesatuan hidup Trinitarian. Kesatuan hidup Trinitarian yang beroritentasi ke luar, dan bukan kepada diri Secara fundamental tertuju kepada yang lain. Melupakan diri, seperti sebuah dialog yang otentik. Doktrin Trinity, menegaskan proses menjadi sebuah komunitas . direalisasikan dalam hidup di dalam persekutuan, relasi I-You dari Buber. Menolak keadaan dimana yang satu menempatkan dirinya melawan yang lain. Alasannya adalah bentuk relasi seperti ini terbuka pada dominasi, manipulasi dan subordinasi. Munculnya pemikiran Buber tentang relasi AuI-YouAy bertalian erat dengan apa yang telah diesbut dengan hidup dalam persekutuan. Sebagaimana dalam relasi AoI-YouAy , hidup dalam persekutuan harus ditandai dengan saling, timbal-balik, inclusive dan menghidupkan dan bukan dengan egoisme, exclusivisme, dominasi, manipulasi atau subordinasi (Richard R. Gaillardetz 1993: 423-. KESIMPULAN Para gembala dari keuskupan Surabaya ingin menuntun umatnya yang plural: budaya yang berbeda, tempat yang berjauhan, aneka kelompok tumbuh dengan subur dst. Para gembala ingin menanamkan semangat persekutuan dalam realitas plural ini. Fondasi dan model yang solid dari persekutuan itu adalah kesatuan hidup Trinitarian yang beroritentasi ke luar, dan bukan kepada diri Memiliki sikap yang secara fundamental tertuju kepada yang lain dalam semua kalangan, baik hirarki maupun umat. Melupakan diri, seperti yang terjadi dalam sebuah dialog yang otentik. Dengan cara inilah terjadi persekutuan yang Tentu hal ini adalah sebuah proses yang berlangsung terus menerus dan selalu ada dalam godaan untuk terarah pada diri sendiri. DAFTAR PUSTAKA