Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Penanganan Penyakit Rematik Terhadap Tingkat Pengetahuan Lansia The Effect of Health Education on Rheumatic Disease Management on the Knowledge Level of the Elderly Intan Azzuhra1. Nanda Fitria2*. Agusri1. Abrar3. Desna Maulinda1 Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe Program Porfesi Ners STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe Program Studi D-i Keperawatan STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe *Email: nandafitria. mkep@gmail. ABSTRAK Proses penuaan menyebabkan lansia rentan mengalami penyakit degeneratif, salah satunya rematik. Rendahnya pengetahuan tentang penanganan rematik menjadi faktor pemicu kekambuhan. Pendidikan kesehatan merupakan intervensi penting untuk meningkatkan pemahaman lansia terkait penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan lansia tentang penanganan penyakit rematik Desain penelitian menggunakan quasi experiment dengan one group pretestAeposttest. Jumlah sampel sebanyak 50 lansia yang dipilih dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi, lalu dianalisis dengan uji Paired Sample T-Test. Hasil menunjukkan sebelum intervensi 50% responden memiliki pengetahuan kurang, sedangkan setelah intervensi 66% responden memiliki pengetahuan baik. Uji t menunjukkan nilai p = 0,000 (<0,. , artinya terdapat pengaruh signifikan pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan lansia. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan edukasi kesehatan secara rutin di masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran lansia mengenai penanganan Kata Kunci : Pendidikan kesehatan. Rematik. Lansia. Pengetahuan ABSTRACT The aging process makes the elderly susceptible to various degenerative diseases, one of which is rheumatism. Low knowledge about rheumatism management is one of the triggers for disease recurrence. Health education is an important intervention to improve the elderly's understanding of this disease. This study aims to determine the effect of health education on rheumatism management on the knowledge level of the elderly This research used a Quasi-experimental design with a one-group pretest and posttest design. The sample in this study consisted of 50 elderly people with rheumatism, selected using total sampling technique. Data were collected Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 using a knowledge questionnaire before and after the health education intervention and analyzed using the Paired Sample T-Test. The results showed that before health education was provided, the majority of the elderly had a poor level of knowledge . %). After health education was provided, there was an increase in the knowledge level of the elderly . %). The Paired Sample T-Test results showed a p-value = 0. 000 (< 0. , which means there is a significant effect of health education on the knowledge level of the elderly. It is hoped that health education on rheumatism management can be carried out continuously in the community to improve understanding, especially among the elderly, about the importance of implementing a healthy lifestyle. Keywords : Health education. Rheumatism. Knowledge level. Elderly PENDAHULUAN Proses penuaan terjadi secara alami yang tidak dapat dihindari, yang berlangsung secara terus-menerus, dan berkelanjutan. Setiap individu pasti akan mengalami proses menua, yang merupakan tahap akhir dalam kehidupan. Pada tahap ini, seseorang akan mengalami banyak penurunan kesehatan, yang terjadi secara bertahap hingga tidak lagi mampu menjalankan aktivitas sehari-hari (Iskandar, 2. Reumatik merupakan penyakit inflamasi yang bersifat sistemik, progresif, cenderung kronis, yang bersifat menyerang berbagai sistem organ (Agusri, 2. Komplikasi menimbulkan kegagalan organ bahkan kematian atau mengakibatkan masalah seperti rasa nyeri, keadaan mudah lelah, perubahan citra diri, serta resiko tinggi akan terjadinya cidera. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2022, jumlah kasus rematik mencapai 356. 369 kasus penduduk di dunia atau sekitar 23% penduduk dunia yang menderita penyakit rematik, terdapat 5-10% berusia 5-20 tahun dan 21% berusia 55 tahun (Hayati et al. , 2. Menurut (Riskesdas, 2. Jumlah penderita rematik di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 7,30%. Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian RI . prevalensi penderita rematik mengalami kenaikan pada tahun 2020 yaitu menjadi 24,7 %. Selanjutnya pada tahun 2022 jumlah kasus rematik berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia . meningkat menjadi 23. Terdapat tiga provinsi jumlah penderita rematik yaitu Provinsi Aceh . ,3%). Bengkulu . ,7%) serta Papua . ,4%). Data ini menegaskan perlunya program nasional yang terfokus pada pencegahan melalui edukasi masyarakat, promosi gaya hidup sehat, dan peningkatan kapasitas layanan kesehatan primer. Pada tingkat regional, di Provinsi Aceh menunjukkan prevalensi penyakit rematik berdasarkan diagnosis dokter tertinggi di Aceh yaitu sebesar 13,3%. Prevalensi yang didiagnosa dokter lebih tinggi perempuan . ,5%) dibanding dengan laki-laki 6,1%. (Kemenkes RI, 2. Pengetahuan lansia yang baik dalam mengatasi kekambuhan penyakit rematik berdampak terhadap status kesehatan lansia yang lebih baik, begitu juga sebaliknya. Pengetahuan merupakan salah satu faktor untuk terbentuknya sikap positif. Pembentukan sikap membutuhkan proses yang panjang sehingga ada dampak dari perubahan pengetahuannya. Faktor yang mempengaruhi sikap bisa bersumber dari Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 dalam individu sendiri yaitu selektivitas serta faktor dari luar yaitu media komunikasi yang di perlukan dalam menyampaikan sikap (Nurkholik, 2. Pendidikan kesehatan dirancang untuk membantu individu dan komunitas meningkatkan kesehatan melalui peningkatan pengetahuan yang dapat memengaruhi sikap dan perilaku mereka. Dalam pendidikan kesehatan, terdapat berbagai metode untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat umum. Metode yang sering digunakan meliputi seminar, leaflet, dan presentasi menggunakan PowerPoint (Purnama. , 2. Berdasarkan fenomena diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian tentang penyakit rematik pada lansia dengan judul AuPengaruh pendidikan kesehatan tentang penanganan penyakit rematik terhadap tingkat pengetahuan lansia Ay. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi lansia dan semua stakeholder terkait dalam upaya pengelolaan penyakit tidak menular rematik METODE Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan one group pretestAeposttest. Populasi penelitian adalah seluruh lansia penderita rematik di Gampong Dayah Mesjid sebanyak 50 orang, yang sekaligus dijadikan sampel dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach Alpha = 0,. Intervensi berupa pendidikan kesehatan menggunakan metode ceramah, leaflet, dan flipchart. Analisis data dilakukan dengan uji Paired Sample T-Test pada tingkat signifikansi 0,05. HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Responden . Demografi Frekuensi Persentase Usia 60-74 tahun . Jenis Kelamin Perempuan Laki Ae laki Pendidikan SMP SMA Pekerjaan Petani IRT Wiraswasta Jumlah Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Berdasarkan tabel di atas bahwa seluruh responden dalam penelitian ini berusia 60-74 tahun . , dengan jumlah 50 responden . %) dari total responden, sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak . %), untuk tingkat tamatan pendidikan rata-rata SMP yaitu sebanyak . %) dan sebagian besar responden berprofesi sebagai petani yaitu sebanyak . %). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Lansia Sebelum Pendidikan Kesehatan . No. Pretest Frekuensi Persentase Tingkat pengetahuan baik . %-100%) Tingkat pengetahuan cukup . %-75%) Tingkat pengetahuan kurang (<56%) Total Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa sebelum di berikan pendidikan kesehatan tentang penanganan rematik masih banyak responden yang memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 22 orang . dan pengetahuan kurang sebanyak 25 orang . 0 %). Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Lansia Sesudah Pendidikan Kesehatan . No. Postest Pengetahuan baik . %-100%) Pengetahuan cukup . %-75%) Pengetahuan kurang (<56%) Total Frekuensi Persentase Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang penanganan rematik tingkat pengetahuan responden baik sebanyak 33 orang . 0 %). PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden berada dalam rentang usia 60Ae74 tahun yang termasuk dalam kategori lansia, sehingga frekuensi dan persentase pada kelompok umur lain tidak tercantum. Semakin bertambahnya usia pada seseorang maka, sesesorang tersebut akan kehilangan massa tulang. Lansia cenderung mengalami penurunan fungsi muskuloskeletal. Usia >50 tahun akan memiliki persentase lebih besar terhadap kejadian rematik, hal ini terjadi karena adanya proses penuaan yang dapat menurunkan fungsi tubuh. Salah satunya muncul masalah pada sistem muskuloskeletal atau gangguan pada sendi (Novianty, 2. Terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan terjadinya kekambuhan rematik pada lansia yaitu kurangnya pengetahuan penderita terkait bagaimana cara penanganan yang baik terhadap nyeri sendi, aktivitas, dan pola makan. Keadaan inilah menjelaskan bahwa kurangnya pengetahuan masyarakat Indonesia khususnya penderita untuk mengenal lebih dalam lagi mengenai penyakit rematik (Soniati, 2. Hasil penelitian ini menunjukan tingkat pengetahuan lansia sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang penanganan rematik yaitu mayoritas responden dengan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 25 orang . %), dan Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 sesudah dilakukan pendidikan menunjukan mayoritas berada pada kategori tingkat pengetahuan baik sebanyak 33 responden . 0%). Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai sumber seperti, media poster, kerabat dekat, media massa, media elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, dan sebagainya. Pengetahuan dapat membentuk keyakinan tertentu, sehingga seseorang berperilaku sesuai dengan keyakinan tersebut (Widiyawati & Nikmah. Pengetahuan dan penerimaan memiliki korelasi signifikan dengan kepatuhan pengobatan di kalangan individu (Andala, at all, 2. Pengetahuan diperoleh setelah individu melakukan penginderaan terhadap objek tertentu, yang melibatkan panca indera manusia: penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Nurmala, 2. Pengetahuan dapat diperoleh dengan berbagai cara inisiatif sendiri atau orang lain, jadi pengetahuan itu memang mencakup akan ingatan yang pernah dipelajari, baik langsung maupun tidak Pengetahuan mengenai penyakit rematik misalnya, lansia mengetahui tentang cara mengontrol akan timbulnya kekambuhan penyakit rematik (Meiranda. Sesuai dengan penelitian oleh Septiani . , bahwa tingkat pengetahuan responden yang baik menghasilkan perilaku dan sikap yang baik dalam menghadapi penyakit rematik, misalnya dengan menjaga gerak, beban yang di angkat, menjauhi makanan yang mengandung tinggi purin seperti jeroan, daging dan kacangkacangan, dan memeriksakan diri ke puskesmas atau dokter secara rutin. Penelitian oleh Nurkholik . menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 12 orang . ,5%) dan sebagian besar responden memiliki sikap unfavorable . idak mendukun. sebanyak 41 orang . ,1%) dalam mengatasi kekambuhan rematik. Terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan sikap lansia dalam mengatasi kekambuhan penyakit rematik di Kelurahan Linggasari Kecamatan Ciamis Tahun 2021 karena nilai > Avalue . ,05=0,. Penulis berasumsi tingkat pengetahuan sangat dipengaruhi oleh pengalaman seseorang terhadap bagaimana penanganan pada saat kambuhnya rematik, serta kurangnya penderita dalam mendapatkan informasi terkait cara penanganan penyakit rematik. Selain itu, peneliti juga menilai bahwa penggunaan media dalam penyampaian informasi kesehatan sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman lansia, karena media tersebut memudahkan penyampaian materi secara visual dan menarik. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang penanganan penyakit rematik terhadap tingkat pengetahuan lansia di Gampong Dayah Mesjid. Kecamatan Kutablang. Kabupaten Bireuen. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulan ada peningkatan pengetahuan lansia sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan di Gampong Cot Keutapang Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen DAFTAR PUSTAKA