SIPISSANGNGI Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. lppm-unasman. id/index. php/sipissangngi SIPISSANGNGI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. ISSN. : 2775-2054 INTEGRASI NILAI PANCASILA DALAM PENDIDIKAN INFORMAL: MEMBANGUN LITERASI KEWARGANEGARAAN BERBASIS KELUARGA Article history Received: 03 Mei 2026 Revised: 07 Mei 2026 Accepted: 08 Mei 2026 DOI: 10. 35329/jp. 1*Ahmad Zam Zam, 1Malkan, 2Nasrul, 1Tamrin Talebe 1Pascasarjana UIN Datokarama. Palu. Indonesia, 2SMK Yadika. Palu. Indonesia *Corresponding author ahmadzamzam1046@gmail. Abstrak Pendidikan informal dalam keluarga merupakan unit terkecil dalam persemaian nilai Pancasila yang sering terabaikan dalam diskursus penguatan ideologi formal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan informal keluarga guna membangun literasi kewarganegaraan yang kokoh di tengah tantangan arus digitalisasi. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) melalui tahapan koordinasi, seminar edukasi, dan pendampingan . kelompok kecil terhadap orang tua. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara, yang dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman dan penerapan literasi kewarganegaraan keluarga, dengan kenaikan rata-rata persentase pemahaman pada seluruh sila Pancasila . % pada aspek religiusitas dan 92% pada aspek keadila. Perubahan paling menonjol terlihat pada aspek musyawarah, di mana terjadi pergeseran pola asuh dari otoriter menjadi demokratis. Disimpulkan bahwa strategi pembiasaan harian lebih efektif dibandingkan pendekatan teoretis dalam mentransformasi perilaku keluarga. Kegiatan ini merekomendasikan perlunya sinergi berkelanjutan antara pendidikan keluarga dan institusi formal untuk menjaga ketahanan ideologi generasi muda. Kata kunci: keluarga. literasi kewarganegaraan. pendidikan informal Gambar 1. Proses wawancara dengan salah satu kepala rumah tangga Volume 6. Nomor 2. Juni . | eISSN: 2775-2054 Ahmad Zam Zam, dkk. / Integrasi Nilai Pancasila dalam Pendidikan Informal : MembangunA PENDAHULUAN Keluarga merupakan fondasi utama dalam struktur sosial masyarakat yang berfungsi sebagai madrasah pertama bagi setiap individu. Dalam lingkup ini, proses transmisi nilai, karakter, dan etika berlangsung secara fundamental sebelum seorang anak bersentuhan dengan lembaga pendidikan formal. Pendidikan informal yang terjadi di rumah bersifat alami, berlangsung melalui keteladanan orang tua serta interaksi harian yang konsisten, sehingga memiliki daya tekan yang kuat dalam membentuk kepribadian dasar seseorang. Di era kontemporer, tantangan dalam pendidikan keluarga semakin kompleks seiring dengan masifnya arus digitalisasi. Teknologi informasi yang tanpa batas membawa berbagai ideologi transnasional dan budaya global yang sering kali bertolak belakang dengan kepribadian bangsa (Rahmadillah et al. , 2. Jika tidak diantisipasi, derasnya informasi digital ini berpotensi menggerus pemahaman ideologi Pancasila pada generasi muda, mengingat mereka adalah kelompok yang paling rentan terpapar konten tanpa filter di dunia maya. Beberapa penelitian terbaru menegaskan bahwa keluarga tetap menjadi aktor utama dalam pembentukan karakter dan kesadaran kewargaan anak di era digital. Studi berjudul Peran Keluarga dalam Pembentukan Karakter di Era Digital (Triansyah et al. , 2. menunjukkan bahwa keluarga memainkan peran krusial dalam memfilter arus informasi, menanamkan nilai moral, dan membuka komunikasi terbuka sehingga anak dapat menghadapi tantangan dunia digital secara lebih adaptif dan bertanggung jawab. Kajian lain berjudul Peran Keluarga dalam Membentuk Kesadaran Moral melalui Pendidikan Kewarganegaraan (Fadilah et al. , 2. menegaskan bahwa pendidikan informal di rumah menjadi ruang penting untuk membangun kesadaran moral dan sikap kewargaan yang berbasis nilai demokrasi, toleransi, dan keadilan sosial. Fenomena memudarnya nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda terlihat dari menurunnya rasa toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial. Hal ini menunjukkan bahwa literasi kewarganegaraan belum sepenuhnya terinternalisasi dengan baik (Hasibuan. Oleh karena itu, diperlukan benteng pertahanan yang kuat melalui literasi kewarganegaraan yang dimulai dari rumah, agar setiap individu memiliki filter mental yang kokoh dalam menyaring pengaruh eksternal yang negatif. Penelitian Pengembangan Literasi Budaya dan Kewargaan di Keluarga menegaskan bahwa keluarga menjadi garda terdepan dalam mempertahankan identitas nasional anak di tengah masuknya budaya asing dan global, sehingga perlu adanya strategi sistematis untuk membangun literasi budaya dan kewargaan di lingkungan rumah (Putri et al. , 2. Pancasila sebagai way of life bangsa Indonesia tidak seharusnya hanya dipelajari di bangku sekolah secara teoretis. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, mulai dari religiusitas hingga keadilan sosial, harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari hari (Alfina et al. , 2. Keluarga memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi hafalan, tetapi menjadi perilaku yang menetap dalam diri anak melalui praktik pendidikan informal. Penelitian Integrasi Nilai nilai Pancasila dalam Pendidikan Karakter di Sekolah menemukan bahwa efektivitas internalisasi nilai Pancasila meningkat ketika terjadi kolaborasi kuat antara sekolah, masyarakat, dan keluarga, sehingga penguatan Pancasila tidak boleh hanya berhenti di lingkaran formal (Rahayu et al. , 2. Literasi kewarganegaraan berbasis keluarga menjadi kunci untuk melahirkan warga negara yang cerdas dan berkarakter . mart and good citize. Literasi ini tidak hanya mencakup pengetahuan tentang tata negara, tetapi lebih pada kesadaran kolektif untuk hidup berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi, menghargai perbedaan, dan memiliki semangat nasionalisme yang tinggi yang tumbuh dari cinta terhadap keluarga (Arthaningsih et al. , 2. Kegiatan pengabdian masyarakat ini hadir untuk menjawab kekosongan peran tersebut. Diperlukan sebuah upaya kolaboratif untuk mengedukasi para orang tua agar memiliki kompetensi dalam menanamkan nilai-nilai luhur bangsa. Tanpa Volume 6. Nomor 2. Juni . | eISSN: 2775-2054 Ahmad Zam Zam, dkk. / Integrasi Nilai Pancasila dalam Pendidikan Informal : MembangunA pembekalan yang cukup, orang tua akan kesulitan menghadapi konflik nilai yang dialami anak di era disrupsi informasi seperti saat ini. Secara keseluruhan, pendahuluan ini menegaskan bahwa pembangunan literasi kewarganegaraan yang kokoh harus berakar pada pendidikan informal di keluarga. Dengan mengintegrasikan nilai Pancasila secara konsisten, keluarga tidak hanya mencetak individu yang pintar secara akademik, tetapi juga warga negara yang memegang teguh identitas Inilah tujuan utama dari kegiatan pengabdian ini: memberdayakan keluarga sebagai garda terdepan dalam menjaga ideologi bangsa, sebagaimana diingatkan pula oleh berbagai penelitian terbaru yang menempatkan keluarga sebagai aktor sentral dalam pembentukan karakter dan kesadaran kewarganegaraan di tengah arus digitalisasi METODE Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) sebagai strategi utama untuk memastikan keterlibatan aktif subjek pengabdian(Utami et al. , 2. Pendekatan ini dipilih agar para orang tua tidak hanya menjadi objek penerima informasi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang terlibat langsung dalam mengidentifikasi masalah dan merumuskan solusi terkait penanaman nilai Pancasila di rumah. Tahapan kegiatan dilaksanakan secara sistematis dan berjenjang, dimulai dengan proses koordinasi dan perizinan bersama pemerintah setempat untuk memastikan dukungan administratif dan sosial. Setelah persiapan matang, kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan seminar edukasi sebagai wadah penyampaian landasan teoretis mengenai literasi kewarganegaraan. Subjek dan sasaran dalam pengabdian ini adalah masyarakat umum secara luas, dengan fokus prioritas pada para orang tua yang bertempat tinggal di wilayah sasaran Pemilihan orang tua sebagai sasaran utama didasari pada peran krusial mereka sebagai pendidik pertama dalam sistem pendidikan informal. Teknik pelaksanaan pengabdian dilakukan melalui kombinasi metode diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussio. dan simulasi interaksi berbasis nilai (Nugraheni & Astuti, 2. Dalam sesi diskusi, para peserta diajak untuk berbagi pengalaman mengenai tantangan mendidik anak di era digital, sementara sesi simulasi digunakan untuk melatih orang tua dalam mempraktikkan cara berkomunikasi yang mencerminkan butir-butir Pancasila. Penggunaan metode simulasi ini bertujuan agar panduan praktis yang diberikan dapat diinternalisasi dengan lebih mudah oleh para peserta. Terakhir, teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif untuk mengevaluasi efektivitas program yang telah dijalankan. Data yang dikumpulkan melalui observasi dan wawancara diolah untuk menggambarkan secara detail perubahan perilaku serta peningkatan pemahaman sasaran, baik sebelum maupun sesudah kegiatan Analisis ini difokuskan pada upaya mendeskripsikan makna dari setiap perubahan yang terjadi tanpa menyebutkan ulang data mentah secara berulang, sehingga memberikan gambaran nyata mengenai capaian luaran pengabdian (Zainuddin et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa integrasi nilai Pancasila paling efektif dilakukan melalui pembiasaan harian. Berikut adalah ringkasan tingkat pemahaman orang tua terhadap butir Pancasila sebelum dan sesudah pendampingan. Tabel 1. Capaian Peningkatan Pemahaman Literasi Kewarganegaraan Keluarga Nilai Pancasila Capaian Sebelum (%) Capaian Sesudah (%) Ketuhanan (Religiusita. Kemanusiaan (Empat. Persatuan (Gotong Royon. Volume 6. Nomor 2. Juni . | eISSN: 2775-2054 Ahmad Zam Zam, dkk. / Integrasi Nilai Pancasila dalam Pendidikan Informal : MembangunA Nilai Pancasila Kerakyatan (Musyawara. Keadilan (Berbag. Capaian Sebelum (%) Capaian Sesudah (%) Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini secara umum menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai Pancasila dalam lingkup pendidikan informal keluarga merupakan proses yang dinamis dan berkelanjutan. Berdasarkan data yang dihimpun selama masa pendampingan, terlihat adanya transformasi signifikan dalam pola interaksi antara orang tua dan anak yang lebih mencerminkan identitas nasional. Penekanan pada pembiasaan harian terbukti menjadi strategi yang jauh lebih efektif dibandingkan sekadar memberikan ceramah teoretis mengenai ideologi negara. Data yang disajikan dalam hasil penelitian ini bukan berupa data mentah, melainkan data yang sudah diolah untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai tingkat pemahaman sasaran. Melalui Tabel 1, terlihat adanya kenaikan persentase yang merata pada seluruh butir Pancasila, yang mencerminkan keberhasilan program dalam meningkatkan literasi kewarganegaraan berbasis keluarga. Pada sila pertama. Ketuhanan (Religiusita. , capaian pemahaman orang tua meningkat dari 65% menjadi 90%. Peningkatan ini menandakan bahwa keluarga mulai menyadari bahwa nilai ketuhanan tidak hanya terbatas pada ritual ibadah, tetapi juga pada pembentukan karakter jujur dan penuh kasih di dalam rumah. Orang tua mulai membiasakan diskusi mengenai nilai-nilai kejujuran sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, yang merupakan fondasi moral bagi anak. Sila kedua. Kemanusiaan (Empat. , menunjukkan lonjakan yang signifikan dari 50% menjadi 85%. Para orang tua mulai mempraktikkan sikap saling menghargai dan melatih empati anak melalui kegiatan sederhana, seperti membantu anggota keluarga yang kesulitan atau berbagi tugas domestik secara setara, sehingga menumbuhkan kepekaan sosial sejak dini. Peningkatan pada sila ketiga. Persatuan (Gotong Royon. , dari 55% menjadi 88% menunjukkan bahwa kesadaran akan kolektivitas mulai tumbuh kuat di lingkungan rumah. Gotong royong yang biasanya hanya dipandang sebagai kerja bakti di masyarakat, kini diinternalisasi dalam bentuk kerja sama tim di dalam keluarga. Hal ini menciptakan ikatan emosional yang kuat antara anggota keluarga, yang secara makro berkontribusi pada stabilitas sosial bangsa. Aspek yang paling menarik untuk dibahas adalah sila keempat. Kerakyatan (Musyawara. , yang awalnya berada pada angka terendah yaitu 40% dan meningkat menjadi 75%. Data awal ini mengonfirmasi bahwa pola asuh di wilayah sasaran cenderung bersifat otoriter, di mana orang tua mendominasi seluruh proses pengambilan keputusan tanpa mendengar aspirasi anak. Rendahnya literasi kewarganegaraan dalam hal demokrasi di rumah menjadi hambatan utama dalam melahirkan generasi yang kritis. Pembahasan mendalam atas capaian sila keempat ini menunjukkan bahwa intervensi melalui sesi coaching kelompok kecil sangat berperan dalam meruntuhkan ego orang tua. Setelah pendampingan, terjadi pergeseran paradigma di mana anak-anak mulai dilibatkan dalam diskusi sederhana, seperti menentukan menu makanan atau rencana akhir pekan. Pelibatan ini merupakan inti dari literasi kewarganegaraan, yaitu menanamkan kesadaran akan hak berpendapat sejak usia dini di lingkungan pendidikan informal. Sila kelima. Keadilan (Berbag. , juga mengalami peningkatan pesat dari 60% menjadi Nilai ini ditekankan melalui praktik pembagian sumber daya di rumah secara adil dan Orang tua mulai memahami bahwa keadilan bukan berarti menyamaratakan segalanya, melainkan memberikan sesuatu sesuai dengan kebutuhan setiap anggota Hal ini sangat penting untuk mencegah rasa cemburu antar-saudara dan menumbuhkan rasa aman dalam keluarga. Hasil ini juga mencerminkan capaian luaran pengabdian yang berupa terciptanya lingkungan rumah yang lebih harmonis dan demokratis sesuai dengan napas Pancasila. Volume 6. Nomor 2. Juni . | eISSN: 2775-2054 Ahmad Zam Zam, dkk. / Integrasi Nilai Pancasila dalam Pendidikan Informal : MembangunA Deskripsi dan interpretasi dampak kegiatan ini menunjukkan bahwa orang tua kini memiliki kompetensi baru dalam menghadapi konflik nilai yang mungkin dibawa anak dari lingkungan luar. Keluarga tidak lagi menjadi tempat yang kaku, melainkan menjadi ruang diskusi yang sehat bagi perkembangan karakter anak. Pelaksanaan kegiatan yang berjalan sesuai tahapan mulai dari sosialisasi hingga simulasi menjadi kunci utama keberhasilan ini. Analisis data menunjukkan bahwa perubahan perilaku yang paling menetap terjadi ketika orang tua merasa dilibatkan secara aktif dalam merumuskan solusi atas masalah mereka sendiri. Hal ini membuktikan keunggulan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang diterapkan dalam pengabdian ini. Tantangan arus digitalisasi yang dibahas di bagian pendahuluan terbukti dapat dimitigasi dengan penguatan literasi di tingkat mikro ini. Dengan filter ideologi yang kuat dari rumah, anak-anak memiliki ketahanan terhadap budaya global yang destruktif. Keluarga kini berfungsi sebagai laboratorium kecil Pancasila yang aktif menyaring pengaruh eksternal secara kritis. Interaksi yang konsisten antara tim pengabdi dan sasaran memastikan bahwa panduan praktis yang diberikan benar-benar dapat diimplementasikan. Simulasi interaksi berbasis nilai memberikan pengalaman langsung kepada orang tua tentang bagaimana cara merespons pertanyaan kritis anak mengenai nilai kebangsaan. Hal ini mengurangi kecemasan orang tua dalam menghadapi tantangan pola asuh di era disrupsi informasi. Sebagai penutup, keberhasilan integrasi nilai Pancasila ini harus dipandang sebagai langkah awal. Literasi kewarganegaraan berbasis keluarga membutuhkan komitmen jangka panjang agar tidak berhenti saat program pengabdian selesai. Sinergi antara pendidikan formal di sekolah dan pendidikan informal di rumah tetap menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan karakter bangsa. Secara teoretis, capaian ini mendukung pandangan bahwa unit sosial terkecil memiliki daya tekan paling kuat dalam pembentukan identitas nasional. Dengan meningkatnya pemahaman literasi kewarganegaraan di tingkat keluarga, diharapkan akan muncul efek domino bagi lingkungan masyarakat yang lebih luas. Hal ini sesuai dengan cita-cita pembangunan bangsa yang berakar pada kedaulatan moral dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. SIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan, tulisan di atas menunjukkan bahwa integrasi nilainilai Pancasila dalam pendidikan informal keluarga efektif meningkatkan literasi kewarganegaraan orang tua secara signifikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan persentase pemahaman pada seluruh sila, terutama pada aspek keadilan, religiusitas, dan gotong royong. Strategi pembiasaan harian terbukti lebih berhasil dibandingkan pendekatan teoretis, karena mampu mendorong perubahan nyata dalam pola interaksi keluarga. Transformasi yang terjadi tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan perilaku, ditandai dengan munculnya praktik nilai seperti empati, musyawarah, dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan paling menonjol terlihat pada sila kerakyatan . , di mana terjadi pergeseran pola asuh dari otoriter menuju lebih demokratis dengan melibatkan anak dalam pengambilan keputusan. Keberhasilan ini juga didukung oleh pendekatan partisipatif yang melibatkan orang tua secara aktif dalam proses pendampingan, sehingga solusi yang dihasilkan lebih kontekstual dan mudah diterapkan. DAFTAR PUSTAKA