CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 1 | Agustus . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Edukasi Pengelolaan Obat Melalui Kegiatan Car Free Day: Membangun Masyarakat Cerdas Obat Untung Gunawan1. Yulius Evan Christian2. Sharon Susanto3. Rafael Putra Nata Niel Sitorus4. Shinta Amory5. Jeremy Edward Thung6 Kata Kunci: Edukasi obat Pengelolaan obat Pengabdian masyarakat Keywords : Medication education Medicine management Community service Corespondensi Author Program Studi Farmasi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Jakarta. Indonesia Email: yulius. christian@atmajaya. Article History Received: 26-04-2025. Reviewed: 22-05-2025. Accepted: 27-07-2025. Available Online: 15-08-2025. Published: 26-08-2025. Abstract. This community service activity aimed to enhance public understanding of proper medication management, including how to responsibly obtain, use, store, and dispose of medicines. The activity was conducted at the Car Free Day area in Jakarta through lectures, interactive discussions, distribution of educational s, and evaluations using pretest and postest assessments. A total of 81 participants with diverse ages and educational backgrounds took part in the program. The evaluation results showed improvement across all indicators, with the average score increasing from 53. 95% in the pretest to 93% in the postest. Statistical analysis using a paired t-test yielded a significant result with a p-value < 0. Direct education conducted in public spaces effectively increases public knowledge of medication It can be replicated in similar activities across other communities to promote safer and more rational medication practices. Abstrak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan obat yang benar, bertanggung jawab. Kegiatan dilaksanakan di area Car Free Day Jakarta melalui metode ceramah, diskusi interaktif, pembagian , serta evaluasi melalui pretest dan postest. Sebanyak 81 peserta mengikuti kegiatan ini dengan latar belakang usia dan pendidikan yang bervariasi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pada seluruh indikator secara keseluruhan, peningkatan rata-rata skor pre test dari 53,95% menjadi 85,93% saat post test dan uji statistik menggunakan paired T-test menunjukkan hasil signifikan dengan nilai p < 0,05. Kesimpulan dari kegiatan ini bahwa edukasi langsung yang dilakukan di ruang publik efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pengelolaan obat, serta dapat direplikasi pada kegiatan sejenis di lingkungan komunitas lain untuk Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 mendukung perilaku penggunaan obat yang lebih aman dan rasional. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author sesuai, hingga proses pembuangan obat kadaluarsa atau rusak agar tidak mencemari lingkungan (Buang et al. , 2. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa edukasi berbasis DAGUSIBU terbukti meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan obat. Misalnya, penelitian oleh Al Madurya et al. di Kabupaten Bantul menunjukkan terhadap DAGUSIBU dari 27,5% menjadi 52,5% setelah intervensi edukatif yang dilakukan oleh apoteker dengan bantuan media (Sari. Ardya C. Kusumawardhani, & Kesehatan, 2. Sementara itu, kegiatan edukasi DAGUSIBU yang dilakukan dengan pendekatan Home Pharmacy Care di Bekasi menunjukkan bahwa 72% responden memiliki pengetahuan yang baik tentang pengelolaan obat setelah mengikuti program, meskipun masih ditemukan tantangan terkait cara mendapatkan dan membuang obat yang benar (Astuti. Kuna. Monoarfa, & Gobel. Masalah penggunaan obat juga banyak ditemukan di Kegiatan DAGUSIBU di SMP Negeri 5 Sentani mengungkap bahwa mayoritas siswa belum pengelolaan obat, sehingga sosialisasi dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, dan pelatihan pengecekan obat melalui website resmi BPOM (Saputri. Hakim, & Mustaqimah, 2. Hal serupa juga ditemukan dalam kegiatan di Desa Komangaan, di mana metode diskusi pemahaman dan kebutuhan masyarakat dalam mengelola obat yang baik dan benar. Hasilnya DAGUSIBU setelah dilakukan pretest dan postest (Yanti. Rohenti. Okzelia, & Shoaliha. Edukasi berbasis DAGUSIBU juga dapat dikaitkan dengan edukasi penyakit PENDAHULUAN Penggunaan obat yang aman dan rasional merupakan aspek fundamental dalam upaya mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Di Indonesia, praktik swamedikasi atau pengobatan sendiri masih menjadi pilihan utama sebagian besar masyarakat dalam menangani keluhan kesehatan ringan. Fenomena ini tidak hanya terjadi karena alasan efisiensi waktu dan biaya, tetapi juga dipengaruhi oleh kemudahan akses terhadap obat di pasaran serta kurangnya literasi masyarakat dalam memilih dan menggunakan obat dengan benar (Sagala, 2. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, lebih dari 35% rumah tangga di Indonesia menyimpan obat di rumah tanpa petunjuk pemakaian yang jelas, dan sekitar 28% masyarakat membeli obat tanpa resep dokter, termasuk antibiotik (Mewer. Mahulauw. Ibrahim, & Nurhidayah. Kondisi pemahaman mengenai pengelolaan obat yang benar dan menimbulkan risiko kesalahan penggunaan obat . edication erro. yang berdampak pada peningkatan morbiditas dan resistensi obat (Pitasari. Sebagai permasalahan tersebut. Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) memperkenalkan gerakan DAGUSIBU, singkatan dari Dapatkan. Gunakan. Simpan, dan Buang Obat dengan Benar. Program ini telah menjadi bagian dari strategi nasional dalam meningkatkan literasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMa. yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan RI sejak tahun 2015 (Khonsa. Mawaddah, & Setiawati, 2. Melalui DAGUSIBU, masyarakat diajak untuk memahami tahapan penting dalam pengelolaan obat, mulai dari pemilihan dan perolehan obat yang tepat, cara penggunaan sesuai aturan, penyimpanan di tempat yang Gunawan, et al. Edukasi Pengelolaan Obat Melalui Kegiatan. Misalnya, kegiatan yang dilakukan oleh Saputri et al. di Banjarmasin mengaitkan prinsip DAGUSIBU dengan tata laksana penyakit tukak peptik. Banyak mengonsumsi obat maag tanpa petunjuk ketidakefektifan terapi dan membahayakan Melalui edukasi DAGUSIBU, pemahaman tentang pengelolaan obat menjadi lebih baik dan berdampak pada peningkatan kualitas hidup pasien (Al. Fildzah, & Rheza, 2. Melihat DAGUSIBU pelaksanaan kegiatan ini di kawasan Car Free Day (CFD) Sudirman Jakarta menjadi sangat CFD sebagai ruang publik terbuka yang diakses oleh ribuan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi menjadi wahana efektif dalam menjangkau segmen masyarakat yang lebih luas. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode ceramah, pembagian , diskusi interaktif, serta evaluasi berbasis pretest dan postest. Selain memberikan edukasi langsung, kegiatan ini juga bertujuan membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya peran apoteker sebagai tenaga kesehatan yang kompeten dalam pengelolaan obat. Edukasi ini tidak hanya mencakup aspek teknis penggunaan obat, tetapi juga nilai lingkungan, etika, dan tanggung jawab sosial terhadap obat yang tidak digunakan lagi. Mempertimbangkan berbagai hasil penelitian dan pengalaman lapangan, kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga membentuk perilaku yang lebih bertanggung jawab dalam penggunaan obat. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. poin ke-3, yaitu Good Health and Well-being, dan memperkuat peran institusi pendidikan serta profesi apoteker dalam pembangunan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. masyarakat mengenai pengelolaan obat secara benar dan bertanggung jawab melalui prinsip DAGUSIBU, yang merupakan singkatan dari Dapatkan. Gunakan. Simpan, dan Buang obat dengan benar. Tabel 1 : Karakteristik demografis responden (Arrang & Christian, 2. Nama Beri tanda centang (O. Laki-laki Jenis Kelamin Perempuan Jakarta Bogor Depok Domisili Tangerang Bekasi Lainnya SMP SMA Pendidikan Lainnya 15 - 20 Tahun 21 - 25 Tahun 26 Ae 30 Tahun Usia 31 Ae 35 Tahun 36 Ae 40 Tahun >40 Tahun Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 17 November 2024, berlokasi di area Car Free Day (CFD) sepanjang Jalan Jenderal Sudirman. Jakarta Pusat, dengan titik pusat kegiatan berada di kawasan Bundaran Hotel Indonesia. Peserta masyarakat umum yang hadir dan terlibat aktif dalam proses edukasi. Sebanyak 81 orang mengikuti rangkaian kegiatan secara penuh, yang mencakup penyuluhan, diskusi, serta pengisian kuesioner evaluatif. Rentang usia peserta berkisar antara 15 hingga lebih dari 40 tahun, dengan tingkat pendidikan bervariasi, didominasi oleh lulusan SMA sederajat dan sarjana strata satu. Pelaksanaan kegiatan ini diawali dengan tahapan persiapan yang mencakup perencanaan teknis, penyusunan materi edukatif terkait prinsip DAGUSIBU, serta desain media promosi seperti brosur. Selain itu, dilakukan pula pelatihan internal terhadap mahasiswa farmasi yang akan bertindak sebagai edukator METODE Pengabdian kepada masyarakat ini partisipatif, yaitu metode pelaksanaan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 penyampaian materi dan penggunaan alat Pada hari pelaksanaan dilanjutkan masyarakat melalui pendekatan interaktif. Setiap peserta diminta untuk mengisi pretest sebelum diberikan edukasi, dan postest sesudah sesi edukasi selesai. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan prinsip DAGUSIBU, contoh-contoh penggunaan obat yang tepat, hingga cara membuang obat kadaluarsa secara ramah lingkungan. Selain edukasi kelompok, dilakukan pula sesi pendampingan personal dalam bentuk diskusi atau konseling singkat bagi peserta yang memiliki pertanyaan atau kasus spesifik terkait penggunaan obat. Peserta mengonsultasikan masalah yang mereka hadapi dalam penggunaan obat di rumah Proses edukasi dilakukan secara informal dan terbuka, guna menciptakan Setelah seluruh rangkaian edukasi selesai, tim pelaksana melakukan tahap Evaluasi mengumpulkan dan mengkodekan seluruh lembar pretest dan postest yang telah diisi oleh peserta. Kegiatan ini diakhiri dengan proses dokumentasi berupa pengambilan foto kegiatan, pencatatan narasi pelaksanaan, serta pengumpulan data untuk penyusunan Keberhasilan kegiatan ini diukur secara kuantitatif melalui instrumen pretest dan postest, berupa kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan seputar prinsip DAGUSIBU. Indikator yang dinilai meliputi pemahaman tentang cara mendapatkan obat yang aman dan legal, penggunaan obat sesuai aturan pakai, penyimpanan yang tepat, serta tata cara pembuangan obat yang benar. Validitas data dijaga dengan pengawasan langsung oleh tim pelaksana saat pengisian dan dengan memastikan bahwa hanya peserta yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang datanya diikutkan dalam analisis. Melalui pendekatan ini, diperoleh data berbasis bukti . vidence-base. yang menjadi dasar penilaian efektivitas program edukasi DAGUSIBU yang dilaksanakan (Christian & Arrang. Gambar 1: Tahapan pelaksanaan kegiatan DAGUSIBU Gambar 2: Brosur DAGUSIBU Gunawan, et al. Edukasi Pengelolaan Obat Melalui Kegiatan. Tabel 2 : Hasil demografis responden Nama Beri tanda centang (O. Jumlah Laki-laki Jenis Kelamin Perempuan Jakarta Bogor Depok Domisili Tangerang Bekasi Lainnya SMP SMA Pendidikan Lainnya 15 Ae 20 Tahun 21 - 25 Tahun 26 Ae 30 Tahun Usia 31 Ae 35 Tahun 36 Ae 40 Tahun >40 Tahun Persentase (%) masyarakat umum. Dalam hal pendidikan, mayoritas responden merupakan lulusan Strata satu . dan Sekolah Menengah Atas . , diikuti oleh Strata dua . dan SMP . Hanya terdapat 2 orang dengan tingkat pendidikan SD dan 4 lainnya dari latar pendidikan lain. Tingginya dengan pendidikan menengah dan tinggi mengindikasikan bahwa kegiatan ini diminati oleh masyarakat berpendidikan, yang mungkin memiliki kesadaran lebih awal terhadap isu pengelolaan obat, namun tetap membutuhkan penguatan informasi yang benar dan terverifikasi. Berdasarkan usia, kelompok 21Ae25 tahun mendominasi jumlah responden . , diikuti oleh kelompok >40 tahun . dan 26Ae30 tahun . Kelompok usia muda ini . Ae30 tahu. secara total menyumbang lebih dari 50% dari seluruh peserta, yang menggambarkan tingginya keterlibatan generasi produktif dan digital native dalam kegiatan berbasis edukasi Sementara itu, partisipasi dari kelompok usia lanjut tetap penting karena HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data kegiatan edukasi pengelolaan obat yang dilaksanakan di area Car Free Day Jakarta diikuti oleh total 81 responden dengan latar belakang demografis yang beragam. Berdasarkan jenis kelamin, mayoritas peserta adalah perempuan . , sementara laki-laki berjumlah 33 Dominasi peserta perempuan dalam kegiatan edukatif seperti ini umumnya dikaitkan dengan tingginya keterlibatan perempuan, terutama ibu rumah tangga dan kalangan pekerja, dalam urusan kesehatan Dilihat dari domisili, responden paling banyak berasal dari wilayah Jakarta . , yang memang merupakan lokasi utama pelaksanaan kegiatan. Namun, terdapat pula partisipasi dari wilayah penyangga seperti Depok . Tangerang . , dan Bogor . , yang menunjukkan bahwa kegiatan ini berhasil menjangkau masyarakat lintas kota melalui pendekatan ruang publik yang Sebanyak 9 responden berasal dari wilayah lainnya, menandakan bahwa promosi kegiatan cukup efektif untuk menarik Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 kelompok ini rentan terhadap masalah pengelolaan obat dan sering menjadi pengguna obat jangka panjang. Secara keseluruhan, data karakteristik ini menunjukkan bahwa kegiatan edukasi pengelolaan obat berhasil menjangkau peserta dari berbagai kelompok usia, pendidikan, dan domisili, dengan keterwakilan yang cukup Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang dilakukan di ruang publik seperti Car Free Day memiliki daya tarik tersendiri dan dapat menjadi model efektif untuk edukasi kesehatan di masyarakat luas. meningkat menjadi 70 peserta . ,93%). Masyarakat sering kali tidak menyadari risiko pembelian obat dari sumber tidak resmi, seperti toko kelontong atau pedagang daring tanpa izin. (Nurmalik, 2. Pemahaman peserta terhadap makna DAGUSIBU peningkatan yang paling signifikan. Sebelum edukasi dilaksanakan, hanya sebagian kecil peserta yang mampu mengidentifikasi bahwa DAGUSIBU merupakan kepanjangan dari AuDapatkan. Gunakan. Simpan, dan Buang obat dengan benar. Ay Setelah sesi edukatif berlangsung, mayoritas peserta menunjukkan Hal mengindikasikan bahwa istilah tersebut belum dikenal luas oleh masyarakat umum. Melalui pendekatan ceramah langsung, diskusi interaktif, dan penggunaan yang informatif, peserta dapat dengan mudah memahami konsep dasar dari program nasional ini (Sembiring. Hartati, & Julaiha, 2. Pada aspek pembelian obat, peserta mengenai pentingnya memperoleh obat dari fasilitas resmi seperti apotek dan puskesmas. Sebelum edukasi, masih terdapat peserta yang menganggap bahwa membeli obat dari penjual tanpa izin dapat dibenarkan demi alasan harga yang lebih murah. Edukasi berhasil meluruskan persepsi tersebut dengan menekankan risiko obat palsu, kualitas yang tidak terjamin, serta potensi bahaya kesehatan akibat konsumsi obat ilegal (Khonsa et al. Kesadaran peserta untuk memeriksa label dan legalitas obat seperti nomor registrasi BPOM juga meningkat secara Banyak peserta awalnya belum memahami pentingnya membaca informasi yang tercantum pada kemasan obat. Setelah diberikan penjelasan mengenai perbedaan obat resmi dan tidak resmi, peserta menjadi lebih berhati-hati dan memahami bahwa pengecekan label adalah bagian penting dari pengelolaan obat yang aman. Dalam peningkatan pengetahuan juga terlihat pada pemahaman tentang pentingnya mengikuti aturan dan dosis yang tertera. Edukasi berhasil mengubah anggapan sebagian peserta yang sebelumnya merasa bebas menggunakan Gambar 3: Hasil pretest dan posttest peserta Salah satu temuan paling mencolok adalah peningkatan pemahaman terhadap arti dari DAGUSIBU. Pada pretest, hanya 14 orang . ,28%) yang mampu menjelaskan makna DAGUSIBU dengan benar. Setelah edukasi, jumlah ini meningkat tajam menjadi . ,95%). Kenaikan menunjukkan bahwa istilah DAGUSIBU sebelumnya, namun pendekatan penyuluhan langsung mampu mempercepat pemahaman Peningkatan serupa dilaporkan oleh Verawaty et al. , yang menunjukkan bahwa SMA pengetahuan signifikan setelah diberikan edukasi dengan metode ceramah dan diskusi (Verawaty et al. , 2. Hal ini memperkuat DAGUSIBU melalui media langsung di ruang publik. Pengetahuan masyarakat mengenai Pada pretest, hanya 44 peserta . ,95%) DAGUSIBU. Setelah edukasi, angka ini Gunawan, et al. Edukasi Pengelolaan Obat Melalui Kegiatan. Penjelasan mengenai risiko overdosis, efek samping, serta resistensi terutama pada penggunaan antibiotik mendorong peserta untuk lebih disiplin dan bertanggung jawab (Sugiarti. Hisran. Muin. Rusdi, & Sofiyetti. Terkait memperkuat pemahaman bahwa tempat yang panas dan lembab dapat merusak kualitas Sebelumnya, sebagian besar peserta memang sudah memahami aspek ini, namun edukasi memberikan penjelasan tambahan mengenai bagaimana faktor lingkungan dapat memengaruhi stabilitas sediaan obat, serta tempat yang ideal untuk penyimpanan, seperti lemari tertutup dan sejuk (Avrila et al. Isu pembuangan obat menjadi salah satu topik dengan peningkatan paling Sebelum edukasi, hanya sedikit peserta yang mengetahui bahwa membuang Setelah mendapatkan informasi mengenai dampak limbah farmasi terhadap tanah, air, dan ekosistem, sebagian besar peserta menjadi lebih sadar akan pentingnya menghancurkan obat sebelum dibuang, atau kesehatan (Wahyuni, 2. Lebih lanjut, pentingnya mengetahui prosedur pembuangan yang benar juga mendapatkan perhatian yang lebih besar pasca edukasi. Edukator menekankan bahwa selain alasan lingkungan, pengetahuan ini penyalahgunaan obat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, termasuk anak-anak atau hewan peliharaan yang secara tidak sengaja bisa mengakses obat sisa (Dagusibu. Masyarakat. Cinta. Kecamatan, & Sei, 2. Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter masih merupakan kebiasaan yang Namun setelah penjelasan mendalam mengenai resistensi antimikroba pengobatan jangka panjang, peserta mulai memahami bahwa penggunaan antibiotik harus berdasarkan diagnosis dan resep tenaga medis yang kompeten. Pemahaman peserta juga meningkat dalam hal pentingnya mengetahui cara penggunaan obat dengan tepat. Edukasi bahwa kesalahan pemberian obat, baik sebelum atau sesudah makan, serta interaksi obat dengan makanan, bisa memengaruhi hasil pengobatan. Peserta mengakui bahwa informasi praktis ini sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari (Widya Wulandari, 2. Terakhir, literasi terkait masa berlaku obat juga meningkat. Sebagian besar peserta sebelumnya hanya mengandalkan tanggal kedaluwarsa tanpa memahami konsekuensi dari penggunaan obat setelah waktu tersebut. Penjelasan mengenai arti kode pada kemasan, serta pentingnya tidak menggunakan obat yang sudah melewati batas simpan, memperluas wawasan peserta tentang aspek keamanan obat. Secara keseluruhan, peningkatan pada setiap aspek evaluasi membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang dilakukan sangat Kegiatan ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membentuk sikap kritis dan tanggung jawab dalam pengelolaan obat sehari-hari. Edukasi publik seperti ini terbukti mampu menjangkau masyarakat luas dan memberikan dampak positif yang konkret dalam meningkatkan literasi kesehatan. Menguji efektivitas kegiatan edukasi terhadap peningkatan pemahaman peserta, dilakukan uji statistik terhadap data pretest Hasil menunjukkan bahwa data pretest memiliki nilai signifikansi sebesar 0,141 dan posttest sebesar 0,421. Kedua nilai tersebut berada di atas batas signifikansi 0,05, yang berarti data terdistribusi normal. Dengan demikian, analisis dapat dilanjutkan menggunakan uji Selanjutnya, dilakukan untuk mengetahui apakah varian data pretest dan postest bersifat homogen. Nilai signifikansi pada uji homogenitas adalah 0,054, yang juga berada di atas 0,05. Ini mengindikasikan bahwa data memiliki varians yang homogen, sehingga syarat untuk melakukan uji T terpenuhi. Uji T kemudian dilakukan untuk melihat perbedaan skor sebelum dan sesudah Hasil uji T menunjukkan nilai signifikansi kurang dari 0,05, yang berarti terdapat perbedaan yang secara statistik signifikan antara hasil pretest dan postest. Ini DAGUSIBU memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pengetahuan peserta. Berdasarkan seluruh hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa metode edukasi Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi ceramah, brosur, diskusi langsung, dan preposttest terbukti efektif secara signifikan dalam meningkatkan literasi pengelolaan obat di kalangan masyarakat, dengan distribusi data yang normal, varians homogen, dan perbedaan hasil yang bermakna secara statistik, maka kegiatan ini tidak hanya efektif secara observasional, tetapi juga valid dari sisi analisis kuantitatif. & Badaruddin. Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Dagusibu Obat di Kampung Margoyudan Kota Surakarta. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, 6. , 452Ae465. Buang. Adriana. Prayitno. Firmansyah. Temarwut. Hafid, , & Aris. Penyuluhan Dagusibu dan Pemeriksaan Status Kesehatan Masyarakat di Kelurahan Bontolebang. Kabupaten Takalar. GLOBAL ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3. , 1Ae8. https://doi. org/10. 51577/globalabdima SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan edukasi DAGUSIBU efektif menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan benar. Seluruh indikator pretest dan postest menunjukkan peningkatan yang Uji T menunjukkan perbedaan yang bermakna . < 0,. Edukasi melalui ceramah, brosur, dan diskusi interaktif terbukti berhasil membentuk kesadaran dan sikap yang lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan obat, serta layak untuk diterapkan secara berkelanjutan di komunitas Christian. , & Arrang. Optimalisasi Penggunaan Obat yang Rasional : Implementasi DAGUSIBU. CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 7. , 657Ae665. Dagusibu. Masyarakat. Cinta. Kecamatan. , & Sei. Penyuluhan Dagusibu Bagi Masyarakat Desa Cinta Rakyat Kecamatan Percut Sei Tuan. Health Community Service ( HCS ), 2. DAFTAR RUJUKAN Khonsa. Mawaddah. , & Setiawati. Edukasi DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan, dan Buan. Obat dengan Benar pada Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Wonosobo. Journal Transformation of Mandalika, 3. , 59Ae66. Al. Fildzah. , & Rheza. Pengaruh Pemberian Edukasi Apoteker Terhadap Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang DAGUSIBU di Kabupaten Bantul. Jurnal Indonesia Sehat: Healthy Indonesian Journal, 2. , 22Ae29. Mewer. Mahulauw. Ibrahim, , & Nurhidayah. Dagusibu Sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Desa Waimital Kec . Kairatu Terkait Penggunaan Dan Pengelolaan Obat Yang Rasional Menggunakan Metode CBIA. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN), 5. , 3373Ae3378. Arrang. , & Christian. Edukasi Multivitamin dengan Metode Ceramah pada Masyarakat Desa Banjarsari . Kecamatan Pangalengan . Bandung Education on Multivitamins through The Lecture Method in The Banjarsari Village Community . Pangalengan District . Bandung. , 84Ae94. Astuti. Kuna. Monoarfa. , & Gobel. Sosialisasi Gerakan Keluarga Sadar Obat : Dagusibu Di Desa Komangaan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN), 4. , 2401Ae2406. Nurmalik. Socialization of the Drug Awareness Family Movement: DAGUSIBU to PKK Members in Pandeyan Village. Boyolali Regency. Central Java. Journal Pegabdian Teknologi Tepat Guna, 5. , 10Ae16. Avrila. Mursiany. Umboro. Tinggi. Kesehatan. Qamarul. Pitasari. Edukasi dan Gunawan, et al. Edukasi Pengelolaan Obat Melalui Kegiatan. Sosialisasi DAGUSIBU di SMP Negeri 5 Sentani. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa, 1. , 3604Ae3608. https://doi. org/10. 59837/jpmba. Sugiarti. Hisran. Muin. Rusdi. , & Sofiyetti. Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Dagusibu Obat di RT 15 Kelurahan Solok Sipin Jambi. Nursing Care and Health Technology Journal (NCHAT), 9Ae14. https://doi. org/10. 56742/nchat. Sagala. Penyuluhan Dagusibu (Dapatkan. Gunakan. Simpan. Dan Buan. Obat Dengan Benar Pada Pasien Di RS Swasta Kabupaten Tangerang. Jurnal Pengabdian Kolaborasi Dan Inovasi IPTEKS, 1280Ae1285. https://doi. org/10. 59407/jpki2. Verawaty. Dewi. Salim. Taslim. Selonni. , & Manurung. Pengaruh Edukasi Dagusibu Terhadap Tingkat Pengetahuan Siswa Beberapa Sekolah Menengah Atas Di Kota Padang. Jurnal ASTA, 4. , 111Ae119. https://doi. org/10. 33759/asta. Saputri. Hakim. , & Mustaqimah, . Edukasi dagusibu obat tukak peptik di Kelurahan Mantuil Kota Banjarmasin. Ruang Cendekia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2. , 194Ae https://doi. org/10. 55904/ruangcendeki Wahyuni. Edukasi Metode Dagusibu Dalam Pengelolaan Obat Swamedikasi Pada Kelompok Ibu Rumah Tangga. Health Community Service, 1. , 51Ae55. https://doi. org/10. 47709/hcs. Widya Wulandari. Perbandingan Tingkat Pengetahuan Dagusibu Mahasiswa/I di Universitas Negeri di Nusa Tenggara Barat. Journal of Innovation Research and Knowledge, 4. , 489Ae496. Sari. Ardya C. Kusumawardhani, , & Kesehatan. Pelayanan Kefarmasian Dalam Pengelolaan Obat (Dagusib. Sebagai Upaya Edukasi Kepada Warga Mojosongo. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 182. , 182Ae186. Yanti. Rohenti. Okzelia. , & Shoaliha. Edukasi Dapatkan. Gunakan. Simpan Buang (DAGUSIBU) Obat pada Masyarakat Secara Home Pharmacy Care. Idea Pengabdian Masyarakat, 4. , 150Ae156. Sembiring. Hartati. , & Julaiha. Profil Pengetahuan tentang DAGUSIBU Obat pada Mahasiswa di Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang. Jurnal Kesehatan, 14. , 230Ae234. https://doi. org/10. 26630/jk.