Pengembangan Panduan Motivational Interviewing Untuk Menurunkan Kebiasaan Menyontek Peserta Didik SMA Surabaya PENGEMBANGAN PANDUAN MOTIVATIONAL INTERVIEWING UNTUK MENURUNKAN KEBIASAAN MENYONTEK PESERTA DIDIK SMA SURABAYA Nurul Chorita Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email : nurulchorita. 20178@mhs. Bambang Dibyo Wiyono Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email : bambangwiyono@unesa. Abstrak Tujuan penelitian dan pengembangan ini yaitu untuk menghasilkan panduan konseling motivational interviewing yang digunakan untuk membantu guru bimbingan konseling mengembangkan kompetensi yang dimiliki dalam menangani kebiasaan menyontek peserta didik. Penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan yang sesuai dengan Research and Develpoment (R&D). Terdapat sepuluh tahapan dalam penelitian Research and Develpoment (R&D) yang telah disampaikan oleh Brog & Gall, namun dalam penelitian ini hanya sampai pada tahap lima dikarenakan adanya keterbatasan waktu dan Lima tahapan itu diantaranya : 1. Pengumpulan informasi berupa kajian kepustakaan dan survei Melakukan perencanaan. Mengembangkan bentuk awal produk. Uji coba awal. Revisi produk. Berdasarkan hasil validasi ahli yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa buku panduan motivational interviewing untuk menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik memenuhi kritreria baik dan telah memenuhi kriteria akseptabilitas. Kata Kunci: Panduan, motivational interviewing, perilaku menyontek Abstract The purpose of this research and development is to produce a motivational interviewing counseling guide that is used to help guidance and counseling teachers develop their competencies in dealing with students' cheating This study uses development research that is in accordance with Research and Development (R&D). There are ten stages in the Research and Development (R&D) study that have been conveyed by Brog & Gall, but in this study it only reached stage five due to time and cost limitations. The five stages include: 1. Collecting information in the form of literature reviews and field surveys. Conducting planning. Developing the initial form of the Initial trial. Product revision. Based on the results of expert validation, it can be concluded that the motivational interviewing guidebook to reduce students' cheating habits meets good criteria and has met the acceptability criteria. Keywords: Guide, motivational interviewing, cheating behavior PENDAHULUAN Menurut (Sahroni, 2. pendidikan sangat penting dalam upaya mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Proses interaksi di dalam kelas antara guru dan siswa atau siswa dengan siswa atau siswa dengan lingkungan melibatkan tiga dimensi utama, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Proses perubahan perilaku yang bersifat permanen akibat pengalaman yang diperoleh dari interaksi tersebut dikenal sebagai belajar mandiri. Belajar merupakan suatu proses perubahan dalam diri seseorang yang diperoleh melalui pengetahuan dan pengalaman, serta berlangsung secara terus-menerus. Menurut (Wibow, 2. , hampir semua aspek yang keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, minat, dan sikap, dibentuk, diubah, dan berkembang melalui proses Oleh karena itu, belajar menjadi proses yang sangat krusial bagi setiap individu. Pemahaman yang mendalam tentang proses belajar ini sangat penting, terutama bagi para pengajar yang memiliki peran langsung dan signifikan dalam mendukung keberhasilan Lebih jauh lagi, belajar merupakan suatu proses internal yang dilalui setiap orang agar dapat berkembang menjadi individu yang hebat. Oleh karena itu, menurut sudut pandang di atas, pendidikan mencakup lebih dari sekedar keterampilan atau pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan Pengembangan Panduan Motivational Interviewing Untuk Menurunkan Kebiasaan Menyontek Peserta Didik SMA Surabaya pembelajaran yang berkaitan dengan literasi dan numerasi itu juga mencakup sikap yang diajarkan. Pendidikan di Indonesia diselenggarakan dengan berpedoman pada UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk kepribadian serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa (Indonesia et al. , 1. Dalam undang-undang tersebut, pendidikan diselenggarakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu, terampil, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dari sudut pandang pendekatan humanistik, belajar merupakan proses perkembangan individu untuk lebih bertanggung jawab. Pendidikan memiliki peran penting dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas, berbudi pekerti luhur, dan memiliki daya saing tinggi. Proses ini memerlukan tahapan yang panjang dan berkelanjutan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu upaya utama pemerintah untuk mencapainya adalah melalui pendidikan formal. (Purwoko, 2. Proses dan sikap yang dikembangkan disesuaikan dengan minat yang dimiliki individu serta kemampuan mereka untuk mewujudkan minat tersebut. Menurut (Setyaputri, 2. menjelaskan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil dari pengalaman. Perubahan ini mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Sifat perubahan yang permanen berarti tidak bersifat sementara dan bertahan dalam jangka waktu lama. Pengalaman yang dimaksud meliputi apa yang dialami individu, baik saat berinteraksi dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungan sekitar, yang menghasilkan Tanggung melaksanakan segala kewajiban belajar dengan usaha yang maksimal dan dapat menerima semua akibatnya (Wiyono. , 2. Individu yang bertanggung jawab mampu memenuhi tugas dan kebutuhan pribadinya sekaligus bertanggung jawab terhadap Jika karakter tanggung jawab siswa dalam belajar menurun, hal ini dapat memengaruhi seluruh aktivitas sekolahnya dan berdampak negatif pada proses belajarnya. Namun ada kalanya menerapkan pendidikan dalam praktik tidaklah mudah. Deighton ( Amelia et al. , 2. menyatakan bahwa "menyontek adalah upaya yang dilakukan individu untuk meraih kesuksesan dengan cara yang tidak jujur". Pendapat yang serupa diungkapkan oleh Sujana dan Wulan (Wulan, 2. , yang menyebutkan bahwa menyontek merupakan bentuk kecurangan dalam ujian dengan memanfaatkan informasi dari luar secara ilegal. Berdasarkan berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa menyontek adalah tindakan yang melanggar aturan yang dilakukan secara sengaja oleh siswa saat menyelesaikan tugas akademik. Tindakan ini dilakukan dengan cara yang tidak jujur dan curang untuk mencapai kesuksesan akademik dan menghindari Menurut Menurut (Lang 2. , menyontek dapat dipahami sebagai tindakan menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk mencapai keberhasilan akademik atau menghindari kegagalan. Secara umum, menyontek adalah usaha seseorang untuk meraih prestasi dengan cara yang tidak jujur. Banyak remaja, baik laki-laki maupun perempuan, sering merasa tidak yakin dengan jawaban mereka sendiri, sehingga mereka membuat contekan untuk dibawa saat ujian. Tak jarang, contekan tersebut juga dibagikan kepada teman-temannya. Menurut (Wantaritati et al. , 2. Menyontek adalah salah satu masalah yang sering terjadi dalam lingkungan pendidikan. Saat ini, perilaku menyontek tampaknya masih bisa ditoleransi dan sudah menjadi Namun jika norma ini dibiarkan terus menerus maka akan berdampak buruk pada peserta didik dan menghambat tercapainya tujuan pendidikan nasional. Norma menyontek memberikan dampak negatif bagi siswa, seperti membuat mereka lesu dalam belajar, terbiasa berbohong, rela melakukan apa pun untuk mencapai tujuan, dan lain sebagainya. Dapat disimpulkan bahwa menyontek adalah suatu perbuatan tidak dapat dipercaya yang dilakukan oleh seseorang yang menggunakan penyalinan atau penggunaan catatan yang tidak diperbolehkan pada saat ujian untuk mendapatkan keuntungan akademik. Ada dua kategori perilaku menyontek, yaitu menyontek dengan cara sendiri dan menyontek dengan membantu orang lain. Menyontek secara mandiri umumnya disebabkan oleh tidak adanya persiapan untuk ujian atau tes. Tindakan seperti merasa cemas, mudah merasa tidak percaya diri serta rendahnya efikasi diri akademik seringkali mendorong seseorang untuk membuat salinan di kertas kecil yang dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk menyelesaikan ujian. Sementara itu, menyontek dengan bantuan orang lain adalah akibat dari kesiapan diri yang tidak ada pada beberapa individu yang berperan dalam ujian tersebut. Untuk mencapai keberhasilan, mengembangkan metode penipuan, termasuk dengan bantuan teman, baik secara individu maupun dalam kelompok. Pengembangan Panduan Motivational Interviewing Untuk Menurunkan Kebiasaan Menyontek Peserta Didik SMA Surabaya Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kecurangan jenis ini antara lain: Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek antara lain rendahnya efikasi diri akademik, kurang percaya diri, takut gagal, kurang sadarnya akan pentingnya pendidikan, pengaruh lingkungan dan teman sebaya yang mendukung perilaku tersebut, tekanan lingkungan dan persaingan yang ketat, ancaman kecurangan. kegagalan jika perilakunya tidak dipenuhi Sanksi yang diberikan berupa nilai minimal, mata pelajaran terlalu berat, dan kurangnya pengawasan guru. Dampak negatif dari menyontek antara lain : terhambatnya perkembangan kognitif, timbulnya ketergantungan terhadap orang lain, sulitnya guru menilai kemampuan siswa secara objektif, motivasi siswa yang menurun misalnya, terbatasnya pengembangan kreativitas, kurang percaya diri, siswa mudah menyerah, tumbuhnya menghalalkan segala cara (Setyaputri, 2. Menurut Musbikin guru bimbingan dan konseling dapat melakukan beberapa langkah untuk mengurangi kecurangan di kalangan siswanya, antara lain: memberikan layanan informasi kepada siswa mengenai dampak negatif dari menyontek, baik menyontek secara tradisional maupun menyontek secara kelompok tergantung pada berat ringannya perilaku menyontek tersebut, melalui layanan pembinaan kelompok, konseling kelompok atau konseling individu untuk meningkatkan efikasi diri akademik siswa. siswa meningkatkan rasa percaya diri agar memiliki motivasi belajar yang baik ketika menghadapi ujian. menumbuhkan kesiapan siswa dalam menghadapi kegagalan dan tidak menerima kegagalan ketika hasil ujian tidak memuaskan (Musbikin, n. Kecurangan bisa saja terjadi ketika siswa bersekolah di Sekolah Dasar (SD) kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Perguruan Tinggi (Sabar Prayogo, 1. Jika pihak yang berwenang tidak mengambil tindakan tegas, perilaku menyontek akan terus berlanjut dan berulang tanpa henti. Menyontek telah menjadi budaya tersendiri di kalangan siswa, bahkan sudah melekat kuat dan terinternalisasi dalam diri sebagian dari mereka. Dampak negatif perilaku menyontek bagi pelajar jika terus menerus berlangsung ialah hilangnya rasa percaya diri, hilangnya rasa tanggungjawab, berkurangnya daya kreativitas, tidak mengembangkan kemampuan setiap individu. Dalam konflik ini, pemanfaatan layanan responsif terhadap siswa oleh guru BK merupakan contoh salah satu tugasnya. Salah satu layanan yang diberikan untuk permasalahan menyontek dengan layanan kelompok mengunakan teknik Motivational Interviewing. Menurut buku Miller dan Rollnick (Rollnick, 2. Motivational Interviewing ialah metode kolaboratif yang berpusat pada orang untuk mengeksplorasi ambivalensi dan meningkatkan motivasi untuk berubah. Motivational Interviewing juga mengakui bahwa orang memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri, untuk memutuskan apakah mereka akan berubah atau tidak, sejauh mana, dan bagaimana mereka akan melakukannya. Menurut pendapat Hartono . Motivational Interviewing adalah alat yang berguna untuk membantu siswa mengatasi ambivalensi mereka dan menemukan motivasi internal yang mereka miliki sebelumnya. Konselor akan lebih terlayani dengan menasihati konseli agar lebih termotivasi untuk belajar. Motivational Interviewing didasari pada teori pendekatan humanistik dan berorientasi pada peristiwa saat ini dan masa depan daripada pengalaman atau masalah masa lalu. Menurut pendapat Nuryono . di indonesia, motivational interviewing ini juga populer disebut dengan wawancara melalui wawancara motivasi tersebut konselor mewawancarai konseli dengan cara yang peduli, tidak menghakimi, dan terbuka. Pendekatan ini juga berangkat dari pemahaman bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk tumbuh dan berkembang serta bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Faktanya, manusia memiliki kapasitas bawaan untuk pertumbuhan diri dan aktualisasi diri. Inti dari pendekatan humanistik adalah hubungan klien-konselor dan aliansi terapeutik. Konselor harus sepenuhnya memasuki dunia klien dan memperhatikan sudut pandang klien (Fatimah, 2. Teknik ini menempatkan konseli sebagai pusatnya dan memungkinkan individu untuk mengembangkan kemampuannya sendiri, yang diharapkan dapat menghasilkan perubahan perilaku yang lebih baik. Melalui proses wawancara, saya berharap siswa dapat merasa lebih santai. Hal ini juga memudahkan konselor atau tutor untuk memasuki dunia dan pengalaman siswa, sehingga memotivasi siswa untuk perlahan-lahan keinginannya untuk mengubah perilakunya. Konselor perlu fokus pada siswa untuk mencapai perubahan perilaku yang lebih baik dan mampu mengatasi ketidakseimbangannya sendiri (Fadlurahman, 2. Menurut pendapat peneliti Motivational Interviewing ialah salah satu teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan perhatian atau minat siswa guna memotivasi mereka. Hal ini terlihat dari karakteristik siswa yang masih kurang konsisten dalam Teknik motivational interviewing dapat mengatasi perilaku menyontek peserta didik karena Pengembangan Panduan Motivational Interviewing Untuk Menurunkan Kebiasaan Menyontek Peserta Didik SMA Surabaya pendekatan ini berfokus pada mendengarkan secara aktif dan menggali motivasi intrinsik siswa untuk Dengan teknik ini, guru atau fasilitator membantu siswa mengidentifikasi dan mengatasi ambivalensi mereka terhadap belajar, mendorong mereka untuk menemukan alasan pribadi yang kuat untuk berpartisipasi aktif dalam proses belajar. Melalui dialog yang empatik dan mendukung, siswa merasa lebih dihargai dan termotivasi, dan menemukan kembali semangat untuk belajar. Terdapat beberapa penelitian terkait fenomena kebiasaan menyontek di kalangan siswa. Kasus kecurangan akademik dalam dunia pendidikan salah satunya terjadi di SMAN A di Cilaza. Madrasah Ibtidaiyah B di Semarang. SMA C di Semarang, dan MA D di Jepara, dimana 93,5% dari 260 siswanya mengaku melakukan Perilaku kecurangan akademik. Saat ujian sekolah menengah. Hanya 14 siswa . ,5%) yang mengaku tidak pernah menyontek semasa SMA (Mushthofa et al. , 2. Kondisi serupa juga terjadi di SMAS Khadijah Surabaya khususnya kelas X yang menjadi populasi pada penelitian ini. Selanjutnya berdasarkan wawancara peneliti, bentuk dari perilaku menyontek yang dilakukan peserta didik di tempat penelitian pun beragam, diantaranya yaitu menyalin pekerjaan teman, membuat catatan kecil, browsing, membawa buku, berdiskusi dengan teman saat ujian, bahkan hingga berani memotret soal dan meminta bocoran serta jawaban soal dari kelas lain. Siswa yang menolak memberikan lembar contekan yang sempurna berisiko dikucilkan oleh teman-temannya. Sebenarnya pihak sekolah telah mengambil langkah-langkah untuk menghentikan dan mengatasi masalah ini, seperti memberikan soal dengan batas waktu, menegur siswa, mengeluarkan kertas jawaban dan ponsel dari siswa yang terdeteksi menyontek, melakukan docking nilai, dan masih banyak lagi. Namun hal ini kurang berhasil karena masih banyak siswa yang menyontek dengan berbagai cara. Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan peneliti adalah mengidentifikasi jenis layanan bimbingan dan konseling yang paling ideal dan praktis untuk membantu siswa di lokasi penelitian menghentikan kebiasaan menyontek. Meskipun terdapat berbagai layanan konseling yang tersedia, peneliti berkonsentrasi pada konseling indivindu karena konflik perlu diselesaikan melalui tindakan terapeutik. Didasarkan pada uraian di atas, maka muncul keinginan peneliti guna menemukan bentuk layanan BK yang tepat dan efektif mengurangi kebiasaan menyontek untuk peserta didik di tempat penelitian. Ada beberapa bentuk layanan BK yang dapat digunakan, namun peneliti memfokuskan untuk menggunakan layanan konseling indivindu dikarenakan permasalahan yang terjadi membutuhkan penanganan yang bersifat kuratif. Berdasarkan kajian dari penelitian layanan responsive yang bisa digunakan dalam rumusan masalah ini adalah dengan Motivational Interviewing karena ini berfokus pada perubahan perilaku peserta didik untuk perubahan yang lebih baik dan Motivational Interviewing telah terbukti menjadi garis depan, berbasis bukti, pendekatan intervensi yang sukses untuk memfasilitasi perubahan perilaku positif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan media berupa panduan motivational interviewing diharapkan dapat menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik SMAS Khadijah Surabaya. METODE Penelitian pengembangan yang sesuai dengan Reseacrh & Development (R&D) merupakan sebuah proses yang digunakan untuk mengembangkan suatu produk. Jenis penelitian yang digunakan sesuai dengan tujuan penelitian yaitu mengembangkan sebuah produk yang berupa panduan motivational interviewing untuk menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik. Terdapat sepuluh tahapan dalam penelitian Research & Development (R&D) yang telah disampaikan oleh Borg and Gall dalam Sugiyono . , namun dalam penelitian ini hanya sampai pada tahap lima dikarenakan adanya keterbatasan waktu serta biaya. Hal ini juga telah disesuaikan dengan tujuan penelitian yaitu untuk menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik SMA. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis kualitatitf dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif diperoleh dari masukan yang disampaikan oleh ahli terhadap produk panduan yang akan digunakan sebagai acuan perbaikan produk. Analisis kuantitatif diperoleh melalui hasil penilaian angket yang telah disebar kepada ahli. Rumus yang digunakan untuk menghitung analisis kuantitatif pada penelitian ini menggunakan rumus dari Suharsini . bentuk metode yang digunakan berupa prosentase. Keterangan: P = Hasil presentase x = Jumlah skor ahli xi = Jumlah skor total Pengembangan Panduan Motivational Interviewing Untuk Menurunkan Kebiasaan Menyontek Peserta Didik SMA Surabaya Perencanaan Setelah mendapatkan permasalahan yang terjadi di SMAS Khadijah Surabaya, peneliti perencanaan produk berupa buku panduan yang akan digunakan untuk membantu guru BK dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi melalui survei lapangan dan studi pustaka. Melalui studi pustaka, berdasarkan penelitian terdahulu motivational interviewing terbukti efektif menurunkan kebiasan menyontek dan motivational interviewing sekarang sudah menjadi intervensi populeer yang bisa digunakan oleh guru bimbingan dan konseling meskipun penelitian yang dipublikasikan masih terbatas tentang penggunaan motivational interviewing yang fokus pada peserta didik. Perencanaan ini juga termasuk dalam menentukan kriteria subjek uji coba dan isi dari panduan yang akan dikembangkan. Di dalam panduan berisi aspek teori, media, sasaran, serta tujuan. Tujuan dari adanya pengembangan buku panduan ini adalah untuk memberikan bantuan kepada guru bimbingan konseling di sekolah dalam memberikan layanan yang tepat dan efektif kepada peserta didik. Mengembangkan Bentul Awal Produk Materi yang telah disiapkan berisi perilaku menyontek dan motivational interviewing yang telah disusun dari beberapa sumber seperti jurnal penelitian dan buku. Materi perilaku menyontek meliputi pengertian, bentuk, faktor, dampak, dan cara mengatasi perilaku menyontek sumber buku Hadjar . Untuk materi motivational interviewing berisi pengertian, hakikat manusia, asumsi perilaku bermasalah, tahapan, dan teknik-teknik dalam motivational interviewing memperoleh materi melalui buku Mulawarman & Afriwilda . Penyusunan rencana pelaksaanaan layanan atau RPL dilakukan dengan mengamati hasil wawancara dan observasi yang dilaksanakan di SMAS Khadijah Surabaya. Tujuan penyusunan RPL adalah untuk dipergunakan oleh bapak/ibu guru bimbingan konseling dalam memberikan layanan konseling kelompok motivational interviewing. Tahap pertama dalam penyusunan panduan motivational interviewing yaitu dengan menyiapkan media dan desain pada perangkat yang digunakan untuk menyusun panduan motivational interviewing untuk menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik. Dalam pemilihan bahasa, ukuran panduan, penggunaan warna Berdasarkan rumus tersebut data yangdikumpulkan menggunakan angket kelayakan dengan skala penilaiain sebagai berikut : Tabel 1 Skor Penilaian Jawaban Skor Sangat Baik Baik Kurang Baik Tidak Untuk menentukan kriteria kevalidan menurut Suharsini . sebagai berikut : Tabel 2 Kriteria Kevalidan Presentase Kriteria 76% - 100% Sangat baik atau tidak revisi 51% - 75% Baik atau tidak revisi 26% - 50% Kurang baik atau revisi 0 Ae 25% Tidak baik atau revisi HASIL Berdasarkan model pemgembangan Borg & Gall dalam Sugiyono . terdapat sepuluh tahapan, tetapi pada penelitian ini menggunakan lima tahapan, yaitu : 1. Pengumpulan informasi berupa kajian kepustakaan dan survei lapangan. Melakukan Mengembangkan bentuk awal produk. Uji coba awal. Revisi produk. Hal tersebut dilakukan karena ada keterbatasan waktu dan biaya sehingga tahapan yang dilakukan hanya sampai di tahap 5 yaitu revisi produk. Pengumpulan Informasi Pengumpulan informasi merupakan tahap awal yang dilakukan pada 12 Agustus sampai 29 November memperoleh data melalui hasil wawancara bersama guru bimbingan konseling dan 3 peserta didik SMAS Khadijah Surabaya. Berdasarkan hasil pengamatan guru bimbingan dan konseling, laporan yang masuk mengenai peserta didik yang mempunyai kebiasaan menyontek yang tinggi. Dimana peserta didik yang mempunyai kebiasaan meyontek yang tinggi dengan ciri-ciri menyalin pekerjaan teman, membuat catatan kecil saat ujian dan membayar jasa orang lain untuk mengerjakan tugas. Selain itu pengumpulan informasi juga diperoleh melalui hasil analisis skala perilaku menyontek diberikan kepada peserta didik kelas X SMAS Khadijah Surabaya memperoleh sebanyak 16 dari 49 pesera didik yang memiliki kebiasaan menyontek yang tinggi. Pengembangan Panduan Motivational Interviewing Untuk Menurunkan Kebiasaan Menyontek Peserta Didik SMA Surabaya sudah disesuaikan dengan isi dari panduan dan peserta didik kelas X. Uji Coba Awal Setelah pembuatan modul diselesaikan maka modul akan di uji coba awal yang dilakukan melalui uji validasi menggunakan angket akseptabilitas. Uji validasi dilakukan kepada ahli materi, ahli media yang memperoleh hasil sebagai berikut : PEMBAHASAN Buku panduan motivational interviewing merupakan sebuah produk yang dikembangkan berdasarkan hasil analisis kebutuhan peserta didik di SMAS Khadijah Surabaya. Didapatkan melalui hasil wawancara dengan guru BK yang dilakukan pada bulan Agustus 2024, diketahui ada peserta didik yang memiliki kebiasaan menyontek yang tinggi. Berdasarkan penelitian di atas terbukti bahwa indivindu yang mempunyai kebiasan menyontek yang tinggi meyebabkan siswa menjadi tidak semangat untuk belajar, kepercayaan diri yang rendah, terjadinya penundaan mengerjaan tugas, mudah menyerah, mempunyai sikap yang tidak jujur. Hal ini juga senada dengan (Hari, 2. dan faktor internal yang mempengaruhi perilaku menyontek antara lain rendahnya rasa percaya diri, keterbatasan dalam kemampuan akademik, pengelolaan waktu yang buruk, dan kecenderungan untuk menunda-nunda. Sementara itu, faktor eksternal meliputi tekanan dari teman sebaya, dorongan dari orang tua, kebijakan akademik yang tidak jelas, serta kurangnya ketegasan dari pengajar terhadap siswa yang terlibat dalam tindakan menyontek. Peneliti juga melakukan penyebaran skala perilaku menyontek yang disebar kepada 49 peserta didik SMAS Khadijah Surabaya. Dari hasil penyebaran skala perilaku menyontek, terdapat 15 peserta didik termasuk pada kategori tinggi. Selama ini upaya yang telah dilakukan oleh guru bimbingan konseling untuk mengatasi masalah perilaku menyontek belum memperoleh hasil yang maksimal, yaitu dengan melakukan pemanggilan kepada siswa kemudian dilakukan asesmen dengan bertanya apa yang membuat perilaku menyontek terjadi, kemudian guru bimbingan dan konseling memberikan saran dan Hal ini terbukti kurang efektif, sehingga diperlukan layanan khusus untuk bisa menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik. Layanan teknik motivational interviewing konseling mengemukakan yang berfokus pada indivindu untuk menggali dan mengatasi ambivalensi dan merubah perilaku sendiri. Hal ini senada dengan pendapat Miller & Moyers, . Motivational interviewing merupakan teknik konseling yang fokus pada individu yang dapat membantu, meningkatkan, serta mengatasi masalah perilaku untuk dapat diubah kearah yang lebih positif. Tabel 3 Hasil penilaian oleh ahli materi Aspek Skor Presentase Kategori Kegunaan 93,75% Sangat Kelayakan Sangat Ketepatan Sangat Kepatutan Sangat Rata-rata 93,4375% Sangat Tabel 4 Hasil penilaian oleh ahli madia Aspek Skor Presentase Kategori Kegunaan Sangat Kelayakan Sangat Ketepatan Sangat Kepatutan Sangat Rata-rata 97,5% Sangat Dari hasil validasi ahli materi memperoleh persentase sebesar 93,4375%, dan hasil validasi media memperoleh persentase 97,5%. Maka untuk buku panduan motivational interviewing untuk menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik mendapatkan predikat sangat baik. Revisi Produk Adapun masukan dan tanggapan untuk buku panduan motivational interviewing untuk menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik yang diasampaikan oleh ahli materi dan ahli media yaitu: 1. Tambahkan skala perilaku menyontek dan lembar pengamatan di bagian lampiran, 2. Ukuran font pada halaman sampul terlalu besar, 3. Desain sampul belakang sebaiknya disesuaikan kembali. Pengembangan Panduan Motivational Interviewing Untuk Menurunkan Kebiasaan Menyontek Peserta Didik SMA Surabaya Selain itu Della dan Wiyono, . Motivational Interviewing memungkinkan konseli, baik yang datang secara terpaksa atau sukarela, untuk menemukan alasan internal mereka sendiri untuk melakukan perubahan. Pendekatan ini memberikan ruang bagi dorongan untuk berubah muncul dari dalam diri konseli. Pengembangan produk berupa buku panduan motivational interviewing untuk menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik berisi beberapa bagian, yaitu : . Panduan umum, yang berisi rasional, isi materi, teori, dan tujuan. Panduan pelaksanaan konseling, yang dimulai dari pra-konseling, sesi 1, sesi 2, sesi 3, sesi 4, pasca konseling yang dilengkapi dengan tahapan dan LKPD. Rencana pelaksanaan layanan (RPL). Bentuk fisik buku panduan ini berupa bahan cetak menggunakan kertas berukuran A5. Dimana ukuran tersebut merupakan ukuran yang praktis untuk yang bisa dibawa kemana saja. Salah satu faktor keberhasilan lainnya adalah dengan pemberian konseling indivindu dengan teknik menurunkan kebiasaan menyontek tiap subjek. Adapun salah satu yang menunjang keberhasilan keberhasilan lainnya yaitu peran dari konselor. Kinerja konselor juga mempengaruhi keberhasilan dalam pelaksanaan Konselor memberikan treatment tentunya perlu memperhatikan kebutuhan peserta didik dengan melakukan asesmen terlebih dahulu serta memiliki pengetahuan terkait layanan konseling yang efektif digunakan untuk membantu menyelesaikan permasalahan. Nursalim . mengungkapkan bahwa seorang konselor perlu keterampilan baik pada interpersonal, membuat dan memecahkan masalah, serta mampu memahami tentang pertumbuhan dan perkembangan manusia. Hal tersebut sesuai dengan Wiyono et al. terkait kinerja memperhatikam beberapa indikator, yaitu konselor memiliki pengetahuan terkait layanan konseling yang efektif dan melakukan asesmen untuk mengetahui kebutuhan konseli sehingga dapat merancang dan melaksanakan layanan yang akan diberikan kepada peserta didik. PENUTUP Simpulan Dari hasil validasi ahli materi memperoleh persentase sebesar 93,4375%, dan hasil validasi media memperoleh persentase 97,5%. Maka dapat dikatakan bahwa buku panduan motivational interviewing untuk menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik mendapatkan predikat sangat baik dan telah memenuhi kriteria akseptabilitas Saran Terselesaikannya penelitian mengenai pengembangan Panduan motivational interviewing untuk menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik sehingga dapat dijadikan dasar pemberian saran sebagai berikut : Guru BK Panduan motivational interviewing memberikan informasi mengenai tahapan konseling kelompok melalui penerapan teknik motivational interviewing untuk menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan telah teruji maka guru bimbingan konseling dapat menggunakan panduan untuk pemberian layanan konseling pada peserta didik yang memiliki kebiasaan menyontek yang tinggi. Peneliti Selanjutnya Penelitian mendapatkan predikat sangat baik sehingga memenuhi kriteria akseptabilitas. Penelitian menjadi bahan referensi maupun sumber informasi untuk penelitian selanjutnyamengenai motivational interviewing untuk meningkatkan motivasi berprestasi korban bullying. Dalam penelitian ini terdapat kendala dimana hanya sampai pada tahap 5 yaitu revisi produk yang disebabkan keterbatasan waktu dan biaya. Penelitian selanjutnya diharapkan bisa melanjutkan sampai tahap uji lapangan untuk mengetahui efektivitas dari produk panduan motivational interviewing untuk menurunkan kebiasaan menyontek peserta didik. Pengembangan Panduan Motivational Interviewing Untuk Menurunkan Kebiasaan Menyontek Peserta Didik SMA Surabaya Science, 7. , 1Ae8. http://link. com/10. 1007/s00232-01497019http://link. com/10. 1007/s00232014-9700xhttp://dx. org/10. 1016/j. 17http://linkinghub. com/retrieve/p ii/S1090780708003674http://w. gov/pubmed/1191 DAFTAR PUSTAKA