Article Hijab. Identitas, dan Religiusitas: Konstruksi Makna dan Praktik Keberagamaan Mahasiswi di Kampus Islam Agatha Lola Margareta1 & M Jadid Khadavi2 Institut Ahmad Dahlan. Probolinggo. Indonesia. email : agathalola74@gmail. Institut Ahmad Dahlan. Probolinggo. Indonesia. email : jadid. boyz@gmail. Abstract PERADABAN JOURNAL OF RELIGION AND SOCIETY Vol. Issue 2. July 2025 ISSN 2962-7958 Page : 140-154 DOI: https://doi. org/10. 59001/pjrs. Copyright A The Author. 2025 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. International License This study examines the relationship between hijab usage and religiosity among female students at the Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo. It aims to explore the correlation between wearing the hijab and various aspects of religious behavior, including worship practices, understanding of religious values, and social interactions. Employing a qualitative approach with a descriptive phenomenological design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and social media documentation involving students from various academic programs and hijab styles . quare hijab, pashmina, and khima. Informants were purposively selected based on their consistent hijab-wearing behavior, involvement in religious activities, and active presence on social media. The findings indicate that the hijab serves not only as a symbol of Islamic identity but also as an indicator of religiosity. Khimar users, typically from religious family backgrounds and pesantren education, demonstrated greater consistency in religious practices and understanding. In contrast, pashmina and square hijab users tended to be more responsive to social media trends while maintaining modesty. Religious educationAiparticularly within the Islamic Education DepartmentAi played a significant role in strengthening religious commitment and influencing the choice of shariAoa-compliant hijab styles. Social media also contributed to shaping Islamic identity through daAowah Agatha Lola Margareta & M Jadid Khadavi Hijab. Identitas, dan Religiusitas content and Muslim fashion trends. This study concludes that hijab style reflects a complex interaction between social norms, religious values, and individual Islamic identity is dynamically constructed through the internalization of values and the influence of socio-cultural environments. Keyword Female students, hijab, islamic identity, religiosity, social media Abstrak Penelitian ini mengkaji hubungan antara penggunaan hijab dan religiusitas dalam perilaku keberagamaan mahasiswi di Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo. Tujuannya adalah memahami korelasi antara pemakaian hijab dengan praktik ibadah, pemahaman nilai agama, dan interaksi sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi deskriptif, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi media sosial terhadap mahasiswi dari berbagai program studi dan gaya hijab . egi empat, pashmina, khima. Informan dipilih secara purposive berdasarkan konsistensi berhijab, keterlibatan keagamaan, dan aktivitas media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hijab berfungsi sebagai simbol identitas keislaman sekaligus indikator tingkat religiusitas. Pengguna khimar umumnya berasal dari latar keluarga religius dan pendidikan pesantren, menunjukkan konsistensi dalam ibadah dan pemahaman agama. Sementara itu, pengguna pashmina dan segi empat lebih adaptif terhadap tren media sosial namun tetap menjaga kesopanan. Pendidikan agama, khususnya di Prodi PAI, memperkuat komitmen beragama dan pemilihan hijab syarAoi, sedangkan media sosial membentuk identitas keislaman melalui konten dakwah dan fesyen Muslimah. Temuan ini menunjukkan bahwa gaya berhijab merupakan hasil interaksi kompleks antara norma sosial, nilai agama, dan agensi individu. Identitas keislaman dibentuk secara dinamis melalui proses internalisasi nilai dan pengaruh lingkungan sosial. Kata Kuci Hijab, identitas keislaman, mahasiswi, media sosial, religiusitas Pendahuluan Hijab, sebagai simbol identitas keislaman, telah mengalami transformasi signifikan menjadi elemen integral dalam dinamika fesyen muslim Perkembangan pesat industri fesyen muslim telah menggeser persepsi hijab dari sekadar kewajiban religius menjadi sarana ekspresi personal bagi perempuan muslim, terutama di kalangan mahasiswi. Fenomena ini teramati secara empiris di Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, di mana observasi menunjukkan prevalensi mahasiswi yang mengadopsi berbagai gaya hijab modern, meliputi model segi empat, pashmina, dan syarAoi yang tetap mempertahankan aspek estetika. Lebih dari sekadar dimensi fesyen, tren berhijab ini memiliki implikasi substansial terhadap perilaku keberagamaan. Bagi sejumlah muslimah, hijab tidak hanya merepresentasikan aspek visual, melainkan juga merefleksikan manifestasi keimanan dalam implementasi ajaran agama. Nilai-nilai Islam diekspresikan dan dijaga melalui perhatian terhadap etika, kesopanan, dan kesadaran religius dalam interaksi sosial. Dengan demikian, hijab melampaui fungsi Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 140-154 sebagai atribut fesyen semata, menjadi representasi esensial dari keyakinan dan identitas muslimah (Hadikusuma et al. , 2. Melihat kompleksitas dan signifikansi fenomena ini, penting untuk mengkaji lebih dalam bagaimana aspek-aspek tersebut berinteraksi dalam konteks spesifik mahasiswa. Penelitian ini penting untuk menganalisis secara komprehensif hubungan antara fesyen hijab dan praktik keberagamaan mahasiswi. Studi ini akan mengeksplorasi sejauh mana mahasiswi menginternalisasi dan merefleksikan nilai-nilai religius dalam pilihan berbusana mereka, serta bagaimana aspek fesyen memengaruhi dimensi spiritualitas individu. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan wawasan mendalam mengenai dinamika pemaknaan hijab di kalangan mahasiswi dan implikasinya terhadap praktik keberagamaan yang mereka jalankan. Beberapa studi terdahulu telah menginvestigasi korelasi antara gaya hijab dan perilaku keberagamaan mahasiswi. Sebagai contoh, penelitian oleh Istikomah dan Hasanah . menunjukkan bahwa hijab tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban religius, melainkan juga sebagai simbol identitas diri yang berkontribusi pada peningkatan rasa percaya diri. Lebih lanjut, studi Nurhasan . di Universitas Sriwijaya menemukan bahwa mahasiswi mengenakan hijab didasari oleh beragam motivasi, termasuk faktor religius, pengaruh mata kuliah Pendidikan Agama Islam, serta tren Penelitian lain di STAI Muhammadiyah Kota Probolinggo (Yani et al. mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara kebiasaan dan motivasi pemakaian jilbab dengan perilaku Islami mahasiswi. Sementara itu, studi Tannisyafolia . di SMA Negeri 1 Sedayu mengungkap bahwa motivasi pemakaian jilbab lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti aturan sekolah dan tren mode, yang kemudian berdampak pada perilaku keagamaan siswi. Namun demikian, studi-studi tersebut umumnya masih membahas hijab dalam kaitan motivasi personal atau faktor religius semata, tanpa menyoroti secara mendalam keterkaitan antara tren hijab, pendidikan agama, dan peran media sosial sebagai bagian dari konstruksi identitas keberagamaan mahasiswi dalam konteks kontemporer. Belum banyak penelitian yang secara spesifik menelaah bagaimana tren berhijab memengaruhi perilaku keberagamaan, bagaimana mata kuliah atau lingkungan pendidikan agama di kampus membentuk pemahaman religius, serta bagaimana media sosial menjadi ruang baru pembentukan identitas Fenomena penggunaan model hijab di Indonesia menunjukkan keragaman gaya yang dinamis dan mengikuti perkembangan zaman. Beberapa model hijab populer di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswi, antara lain hijab segi empat, pashmina, hijab sport, turban, hijab instan, bergo, dan khimar. Dari berbagai model tersebut, terdapat kategorisasi hijab syarAoi dan non-syarAoi. Hijab syarAoi didefinisikan sebagai busana yang sesuai dengan tuntunan syariat Islam, yakni menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, menutupi dada, serta tidak ketat atau transparan. Agatha Lola Margareta & M Jadid Khadavi Hijab. Identitas, dan Religiusitas Sebaliknya, model hijab yang tidak memenuhi kriteria ini, seperti gaya yang dililitkan ke leher, tidak menutupi dada, atau memperlihatkan bagian leher, cenderung tidak termasuk dalam kategori hijab syarAoi. Di kalangan mahasiswi Institut Ahmad Dahlan (IAD), model hijab segi empat dan pashmina menjadi pilihan dominan. Kedua model ini dikenal karena fleksibilitas dan kemudahan kreasinya, memberikan keleluasaan dalam berekspresi. Namun, dalam praktiknya, penggunaan model hijab ini seringkali tidak sepenuhnya memenuhi standar hijab syarAoi, terutama ketika dikenakan dengan cara yang menonjolkan bentuk tubuh atau tidak menutup bagian dada secara sempurna. Menariknya, kecenderungan memilih model hijab segi empat dan pashmina ini juga berkorelasi dengan perilaku sosial mahasiswi di lingkungan kampus. Mahasiswi yang menggunakan kedua model hijab ini umumnya menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap lingkungan sekitar dan lebih aktif dalam berinteraksi serta bergaul di Hal ini mengindikasikan bahwa pilihan model hijab tidak hanya mencerminkan pemahaman keagamaan, tetapi juga berpengaruh terhadap ekspresi diri dan adaptasi dalam kehidupan sosial di kampus. Meskipun telah banyak penelitian terkait, pendekatan yang mengintegrasikan aspek fesyen hijab, pendidikan agama, dan media sosial dalam konstruksi identitas keberagamaan masih minim. Oleh karena itu, penelitian ini secara khusus menyoroti keberagaman mahasiswi melalui tiga aspek utama: relasi antara tren hijab dan keberagamaan, pengaruh pendidikan agama, serta peran media sosial dalam membentuk identitas Relasi antara tren hijab dan keberagaman menunjukkan adanya heterogenitas religiusitas di kalangan mahasiswi, di mana gaya berhijab antara hijab modis dan hijab syarAoi tidak sekadar pilihan estetika, tetapi mencerminkan tingkat pemahaman, keimanan, praktik keagamaan, serta nilai-nilai Islam yang diyakini. Pengaruh pendidikan agama terlihat dari temuan awal bahwa mayoritas mahasiswi IAD yang menggunakan hijab syarAoi berasal dari latar belakang pesantren atau program studi Pendidikan Agama Islam (PAI), yang secara kultural dan institusional mendorong bentuk berbusana yang dianggap lebih konservatif. Hal ini menegaskan bahwa lingkungan akademik berperan dalam membentuk preferensi gaya berbusana religius. Faktor lain yang memengaruhi keputusan dalam memilih gaya hijab mencakup pemahaman agama, tekanan sosial, tren mode, atau kombinasi dari berbagai aspek tersebut (Nobisa, 2. Selain itu, media sosial juga berperan penting dalam membentuk identitas keislaman mahasiswa, khususnya dalam membingkai cara berpikir, memahami ajaran agama, dan mengekspresikannya melalui pilihan berpakaian. Tren hijab modis yang tersebar luas di platform digital turut memengaruhi persepsi citra muslimah ideal, yang seringkali berada pada persimpangan antara nilai religiusitas dan tuntutan sosial-budaya kontemporer (Barizi. Rohmah. Kholish, & Hikmah, 2. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam bagaimana relasi antara tren hijab dan perilaku keberagamaan terbentuk, menganalisis preferensi hijab dan ekspresi religiusitas, serta Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 140-154 menjelaskan peran media sosial dalam membentuk identitas keislaman mahasiswi di lingkungan akademik Institut Ahmad Dahlan Probolinggo. Kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai interaksi kompleks antara fesyen, agama, dan teknologi di kalangan mahasiswi, serta berkontribusi pada pengembangan literatur terkait identitas muslimah kontemporer. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif untuk menggali secara mendalam pengalaman subjektif mahasiswi dalam memaknai hijab sebagai bagian dari identitas keislaman dan ekspresi keberagamaan. Pendekatan fenomenologi dipilih karena fokus utama penelitian ini adalah memahami makna yang muncul dari pengalaman sehari-hari subjek, terutama dalam hal praktik berhijab dan perilaku keagamaannya di lingkungan kampus. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama. Pertama, wawancara mendalam . ndepth intervie. dilakukan terhadap 6 mahasiswi Institut Ahmad Dahlan Probolinggo dari berbagai program studi dan dengan gaya hijab yang berbeda yaitu hijab segi empat, pashmina, dan khimar. Informan dipilih secara purposive dengan kriteria tertentu, seperti konsistensi dalam berhijab, keterlibatan dalam kegiatan keagamaan, serta aktif di media sosial. Kedua, dilakukan observasi partisipatif selama beberapa minggu untuk mengamati perilaku keberagamaan informan, seperti rutinitas ibadah, kehadiran di kegiatan keagamaan, serta cara berinteraksi dalam lingkungan kampus. Ketiga, dokumentasi dikumpulkan dari unggahan media sosial informan (Instagram. TikTo. serta dokumentasi kegiatan keagamaan kampus yang berkaitan, untuk memperkaya data dan memperkuat triangulasi. Analisis data menggunakan pendekatan interpretatif dengan metode analisis tematik dan fenomenologi. Analisis tematik bertujuan untuk mengidentifikasi polapola tertentu dalam narasi dan pengalaman mahasiswi mengenai hijab dan religiusitas mereka, sementara pendekatan fenomenologi digunakan untuk memahami pengalaman subjektif mereka dalam berhijab serta bagaimana hal tersebut memengaruhi pemaknaan mereka terhadap ajaran agama (Faizin et al. , 2. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai peran hijab dalam kehidupan mahasiswi, baik sebagai tren fesyen maupun sebagai bagian dari identitas keislaman. Hasil dan Pembahasan Representasi Religiusitas Melalui Model Hijab Hijab tidak hanya berfungsi sebagai penutup aurat, tetapi juga menjadi salah satu simbol ekspresi religiusitas dan identitas sosial bagi perempuan Muslim, termasuk di kalangan mahasiswa. Dalam konteks mahasiswa Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo, terlihat kecenderungan dalam pemilihan model hijab yang digunakan sehari-hari. Dari enam model hijab yang umum digunakan di Indonesia seperti segi empat, pashmina, khimar. Agatha Lola Margareta & M Jadid Khadavi Hijab. Identitas, dan Religiusitas bergo, hijab instan, dan hijab sport, mahasiswi IAD cenderung lebih banyak memilih model segi empat dan pashmina. Sementara itu, penggunaan model khimar, bergo, instan, dan sport juga ditemukan, namun jumlahnya relatif sedikit dan dapat dikatakan hanya sebagian kecil mahasiswi yang Pilihan model hijab tidak hanya mencerminkan preferensi fesyen, tetapi juga berkaitan erat dengan religiusitas serta pola pergaulan dan tingkah laku sosial mahasiswi. Mahasiswi yang memilih hijab dengan cara pemakaian yang lebih syarAoi, seperti khimar atau bergo, cenderung menunjukkan sikap yang lebih konservatif dalam pergaulan dan lebih berhati-hati dalam interaksi sosial. Sebaliknya, penggunaan pashmina atau segi empat yang lebih fleksibel dalam gaya, sering kali dikaitkan dengan sikap sosial yang lebih terbuka namun tetap dalam koridor nilai-nilai Islam (MasAoud & Widodo, 2. Oleh karena itu, pemilihan model hijab dapat menjadi indikator awal dalam memahami sejauh mana religiusitas dan pola sosial mahasiswi di lingkungan kampus keagamaan seperti IAD Probolinggo. Pandangan personal mengenai relasi hijab dan keberagamaan diperkuat oleh pengalaman mahasiswi di IAD. Sinta, seorang mahasiswi IAD, menyatakan bahwa penggunaan hijab merupakan kewajiban agama dan bagian dari latar belakang keluarga yang religius. Ia juga menegaskan bahwa hijab berfungsi sebagai pengingat untuk menjaga batasan interaksi sosialAiterutama dengan lawan jenisAidan sebagai motivasi untuk menjalankan ibadah sunah. Selain itu, pilihan berbusana syarAoi ini turut memengaruhi keimanan dan dorongan untuk menghindari perilaku yang tidak sesuai syariat, sekaligus menjadi cerminan gaya hidup yang cenderung lebih membatasi aktivitas di luar rumah kecuali untuk keperluan esensial. Penggunaan hijab model khimar ini mengindikasikan proses internalisasi nilai-nilai religius yang kuat dalam lingkungan keluarganya. Sebagai individu yang tumbuh dalam keluarga yang religius, keputusan Sinta untuk berhijab bukan sekadar mengikuti tren atau tuntutan eksternal, melainkan merupakan bagian integral dari keyakinan yang telah tertanam sejak dini. Dalam konteks psikologi sosial, fenomena ini dapat dijelaskan melalui mekanisme internalisasi, yakni proses ketika individu menerima dan menghayati nilai-nilai dari lingkungannya sebagai bagian dari sistem kepercayaannya sendiri. Nilai-nilai keislaman yang diterapkan dalam keluarganya, seperti kewajiban berpakaian syarAoi, pembatasan interaksi dengan lawan jenis, serta penyediaan ruang tamu terpisah, membentuk kerangka berpikir dan sikap yang konsisten dalam kehidupan Sinta seharihari. Pada tahap awal, mungkin terdapat unsur konformitas, yaitu penyesuaian terhadap norma keluarga demi penerimaan sosial. Namun, seiring waktu, tekanan sosial ini berkembang menjadi kesadaran pribadi yang mendalam. Sinta tidak hanya memakai hijab karena kewajiban agama, tetapi juga merasakan dampaknya terhadap keimanannya, seperti dorongan untuk melakukan ibadah sunah dan menjaga sikap di ruang sosial. Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 140-154 Tekanan keluarga yang awalnya bersifat normatif justru bertransformasi menjadi motivasi spiritual yang positif, karena disertai dengan dukungan moral, konsistensi nilai, dan teladan yang ditunjukkan oleh lingkungan terdekat (Munawati, 2. Dengan demikian, pilihan Sinta mengenakan khimar bukan hanya cerminan dari kepatuhan lahiriah, melainkan simbol dari identitas keagamaan yang terbangun melalui proses psikologis yang mendalam dan penuh makna. Pemilihan hijab model khimar sering kali mengindikasikan identitas religius yang kuat. Model hijab ini menjadi bagian dari gaya hidup Islami yang terimplementasi tidak hanya dalam berpakaian, tetapi juga dalam kebiasaan ibadah, interaksi sosial, dan aktivitas sehari-hari. Preferensi terhadap khimar sebagai pilihan utama dalam berhijab menandakan adanya kesadaran religius yang tinggi serta dorongan spiritual yang kuat dalam menjalani kehidupan (Rahman & Syafiq, 2. Hal ini memperkuat argumen bahwa model hijab dapat menjadi indikator signifikan dalam memahami dimensi religiusitas mahasiswi, khususnya dalam lingkungan perguruan tinggi Islam seperti IAD Probolinggo. Sinta merupakan representasi dari kelompok mahasiswi yang memandang hijab tidak hanya sebagai kewajiban syariat, tetapi juga sebagai benteng diri dan identitas keimanan yang memengaruhi seluruh aspek kehidupannya. Di sisi lain, pandangan yang berbeda mengenai model hijab dan kaitannya dengan religiusitas dikemukakan oleh Septi. Septi menyatakan bahwa religiusitasnya berkembang setelah masuk pondok pesantren, yang didasari oleh keinginan personal alih-alih dorongan eksternal. AuDulu, alasan awal saya memakai hijab karena saya tahu bahwa berhijab adalah kewajiban bagi perempuan muslim, sebagai perintah dari agama,Ay ungkapnya. tidak melihat adanya hubungan langsung antara penggunaan hijab dengan praktik ibadah lain, berargumen. AuSoalnya, masa harus nunggu berhijab dulu baru ibadah lainnya jalan? Bagi saya, itu dua hal yang berbeda. Ay Oleh karena itu, ia merasa berhijab tidak secara otomatis memengaruhi ibadah Meskipun demikian. Septi menegaskan pentingnya menjaga batasan dalam interaksi sosial. Ia konsisten mengenakan hijab di hadapan laki-laki non-mahram, termasuk teman laki-laki di lingkungan pertemanan. Namun, ia juga mengindikasikan adanya kelonggaran dalam pemakaian hijab di hadapan keluarga dekat. Septi merasa bahwa berhijab meningkatkan kesadaran diri, mendorongnya untuk menjaga sikap karena. Aukalau saya bersikap tidak baik, yang akan dinilai buruk itu bukan hanya saya tapi juga hijab yang saya kenakan. Ay Hal ini menunjukkan bahwa bagi Septi, hijab berfungsi sebagai pengingat etika dan dorongan untuk berhati-hati dalam bersikap di ruang publik. Pernyataan ini menunjukkan adanya pendekatan keberagamaan yang reflektif dan rasional, di mana hijab dan ibadah diposisikan sebagai dua kewajiban yang berdiri sendiri, tidak saling tergantung. Berbeda dengan individu yang menginternalisasi nilai religius karena pengaruh keluarga atau Agatha Lola Margareta & M Jadid Khadavi Hijab. Identitas, dan Religiusitas lingkungan. Septi memulai proses keberagamaannya secara otonom setelah masuk pondok pesantren. Dalam perspektif psikologi kognitif, pandangan ini mencerminkan proses cognitive differentiation, yakni kemampuan seseorang untuk memilah konsep-konsep keagamaan berdasarkan fungsi dan makna yang berbeda (MasAoud & Widodo, 2. Bagi Septi, berhijab adalah bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah dalam aspek sosial dan penampilan, sementara ibadah lainnya seperti salat dan membaca Al-QurAoan merupakan bentuk penghambaan spiritual yang tidak bersyarat pada atribut lahiriah. Sikap ini juga menunjukkan adanya reflective religious thinking, di mana ajaran agama tidak diterima begitu saja, tetapi ditafsirkan melalui pertimbangan logis dan pengalaman pribadi (Malik, 2. Pernyataannya. Aumasa harus nunggu berhijab dulu baru ibadah lainnya jalan,Ay mencerminkan pemikiran kritis terhadap kecenderungan masyarakat yang mengaitkan hijab secara langsung dengan religiusitas. Meskipun demikian. Septi tetap menyadari bahwa hijab memiliki nilai simbolik yang dapat memengaruhi persepsi sosial, sehingga ia berusaha menjaga sikap agar tidak mencoreng citra hijab. Kesadaran ini merupakan bagian dari proses metakognitif, di mana individu tidak hanya berpikir, tetapi juga menilai bagaimana pikirannya memengaruhi perilaku social (Agustina & Jannah, 2. Dengan demikian, pilihan Septi untuk menggunakan hijab model pashmina merupakan wujud dari keberagamaan yang lahir dari proses berpikir yang mendalam, logis, dan bertanggung jawab, bukan semata karena doktrin atau tekanan eksternal. Ini menunjukkan bahwa dalam konteks modern, religiusitas mahasiswi tidak bisa dipahami hanya dari simbol luar seperti hijab, tetapi harus dilihat dari proses kognitif dan spiritual yang melatarbelakanginya. Pemilihan model hijab oleh Sinta dan Septi dapat dianalisis secara lebih mendalam menggunakan Theory of Planned Behavior (Ajze. , yang menjelaskan bahwa niat berperilaku terbentuk oleh tiga faktor utama: attitude toward behavior, subjective norms, dan perceived behavioral Dalam kasus Sinta, keputusan untuk mengenakan hijab model khimar mencerminkan dominasi subjective norms, yaitu tekanan sosial dari lingkungan terdekat khususnya keluarga religius yang secara konsisten menanamkan nilai-nilai berpakaian syarAoi, pembatasan pergaulan dengan lawan jenis, serta aturan sosial yang ketat dalam interaksi sehari-hari. Pilihan berperilaku tersebut lebih didorong oleh harapan dan norma keluarga daripada refleksi pribadi. Sebaliknya. Septi yang memilih hijab model pashmina lebih menunjukkan dominasi faktor attitude toward behavior, yaitu keyakinan personal terhadap makna dan fungsi hijab. Septi memisahkan secara tegas antara hijab sebagai kewajiban simbolik dan ibadah lainnya sebagai praktik spiritual yang tidak bergantung pada atribut Penilaian rasional Septi terhadap kewajiban agama menunjukkan bahwa niatnya untuk berhijab dibentuk oleh evaluasi internal, bukan tekanan eksternal. Meskipun Septi juga menyadari dampak sosial dari hijab dan menjaga sikap karena merasa mewakili citra hijab itu sendiri, namun pendorong utama tindakannya berasal dari pemahaman dan kesadaran diri. Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 140-154 Dengan demikian, teori ini mengonfirmasi bahwa perilaku keberagamaan mahasiswi IAD, khususnya dalam pilihan model hijab, merupakan hasil interaksi kompleks antara norma sosial dan proses psikologis individual. Menurut hasil observasi di lapangan, gaya berhijab mahasiswi menunjukkan adanya keberagaman dalam cara mereka mengekspresikan identitas keagamaan. Sebagian mahasiswi memilih gaya berhijab yang syarAoi dengan pakaian longgar dan menutup seluruh aurat sesuai ketentuan agama, sementara sebagian lainnya menggabungkan hijab dengan tren fesyen modern yang lebih kasual namun tetap menutup aurat. Variasi ini mencerminkan perbedaan latar belakang, tingkat pemahaman agama, serta pengaruh lingkungan sosial yang turut membentuk cara mahasiswa dalam memaknai hijab, baik sebagai kewajiban agama maupun sebagai bagian dari identitas diri (Prayanti et al. , 2. Implikasi Trend Hijab Terhadap Perilaku Keberagamaan Berhijab seringkali menjadi titik awal bagi mahasiswi untuk memperkuat komitmen beragama, termasuk mendorong mereka untuk lebih taat dalam menjalankan ibadah. Dalam banyak kasus, keputusan untuk mengenakan hijab disertai dengan kesadaran spiritual yang meningkat, sehingga mendorong perubahan positif dalam pola hidup, seperti lebih rajin sholat, menjaga tutur kata, serta memperhatikan pergaulan dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Selain perubahan pribadi, hijab juga memengaruhi interaksi sosial. sebagian mahasiswi merasa lebih dihormati dan dihargai, namun ada pula yang merasa dibatasi dalam pergaulan karena adanya stereotip atau stigma tertentu (Maulidah et al. , 2. Meski begitu, mempertahankan hijab dan nilai religiusitas bukanlah hal yang mudah. Tantangan yang sering dihadapi antara lain tekanan dari lingkungan yang kurang mendukung, anggapan negatif terhadap hijab, hingga godaan tren fesyen yang tidak selalu sejalan dengan prinsip agama. Selain itu, konsistensi dalam menjaga niat dan perilaku sesuai dengan nilai hijab juga menjadi ujian tersendiri di tengah kehidupan kampus yang Oleh karena itu, kekuatan keyakinan dan dukungan lingkungan yang positif sangat penting untuk membantu mahasiswi tetap teguh dalam memilih jalan hidup yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Bagi sebagian mahasiswi, hijab bukan sekedar penutup kepala, tetapi menjadi simbol ketaatan dan identitas diri sebagai muslimah. Namun, pemaknaan terhadap hijab dan hubungannya dengan religiusitas tidaklah tunggal (Tsurayya, 2. Ada berbagai pandangan yang berkembang dikalangan mahasiswi, tergantung pada latar belakang pemahaman, pengalaman, dan lingkungan social mereka. Beberapa mahasiswi yang memilih mengenakan gaya hijab syarAoi meyakini bahwa hijab adalah perintah mutlak dari allah dan bentuk nyata dari keimanan. Bagi mereka, berhijab sesuai tuntunan syariat adalah langkah awal dalam menunjukkan ketaatan dan keseriusan dalam menjalani ajaran islam. Namun di sisi lain, terdapat pula mahasisiwi yang menggunakan gaya hijab modern yang tetap menjaga prinsip menutup aurat namun dengan sentuhan mode dan Agatha Lola Margareta & M Jadid Khadavi Hijab. Identitas, dan Religiusitas estetika yang lebih fleksibel. Mereka pun memaknai hijab sebagai bagian dari identitas religious, meskipun tampilannya berbeda dengan gaya hijab syarAoi (Ristinova, 2. Di luar bentuk hijab yang dikenakan, muncul kesadaran bahwa keimanan atau religiusitas seseorang tidak bisa hanya diukur dari cara Mahasiswi menyadari bahwa banyak orang yang berhijab syar i belum memiliki religiusitas yang tinggi sementara yang mengenakan hijab modern juga belum tentu religiusitasnya rendah. Sehingga model tren hijab saat ini tidak menjamin sepenuhnya menunjukkan religiusitas secara utuh. Tabel 1. Tren Hijab dan Perilaku Keberagamaan Tren Hijab Aspek Pashmina Beribadah Sikap Sosial Bergaul Bermedia Sosial Segiempat Beribadah Sikap Sosial Bergaul Bermedia Sosial Khimar Beribadah Sikap Sosial Bergaul Bermedia Sosial Perilaku Beragaama Yang Tampak Tertib dalam salat, mengikuti kajian keislaman secara Ramah, terbuka, sopan dalam berinteraksi. Aktif bergaul, fleksibel dalam pergaulan campuran Aktif membagikan konten positif, modis namun tetap Konsisten beribadah, mengikuti kegiatan keagamaan rutin. Sopan, menghargai orang lain, mudah menyesuaikan Bergaul secara terbuka namun menjaga etika. Mengikuti tren dengan batasan nilai keagamaan. Sangat taat, memprioritaskan waktu ibadah, menjaga Menjaga jarak, interaksi seperlunya, sopan dan santun. Tertutup, bergaul dengan sesama jenis, membatasi interaksi lawan jenis. Minim eksistensi, jarang unggah foto, selektif dalam menggunakan media social. Dengan demikian, hijab tetap dipandang sebagai simbol penting dalam religiusitas seorang muslimah, tetapi bukan satu-satunya tolak ukur keimanan. Mahasiswi memandang bahwa keimanan adalah perkara yang kompleks dan personal, mencakup keyakinan, amal ibadah, akhlak. Maka, berhijab baik itu syarAoi, modern, maupun kombinasi keduanya harus dimaknai sebagai bagian dari proses spiritual, bukan satu-satunya indikator Persepsi mahasiswi terhadap hijab menunjukkan bahwa mereka menghargai keragaman model berhijab, namun juga menyadari bahwa keimanan tidak bisa dinilai dari tampilan luar semata. Hanya allah yang benar-benar mengetahui isi hati dan tingkat keimanan seseorang. Pengaruh Pendidikan Agama terhadap Pilihan dan Pemaknaan Hijab Menurut teori sosialisasi religius, individu menginternalisasi nilainilai keagamaan melalui proses interaksi dengan lingkungan, termasuk keluarga, institusi pendidikan, dan komunitas social (Cornwall et al. , 1. Dalam konteks ini, mahasiswi yang berasal dari latar belakang pesantren atau mendapatkan pendidikan agama yang kuat cenderung mengalami proses sosialisasi yang lebih mendalam terhadap nilai-nilai syariat. Hal ini menjelaskan kecenderungan mereka dalam memilih hijab model khimar. Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 140-154 jilbab panjang, dan pakaian longgar yang sesuai dengan prinsip aurat secara Hijab bagi mereka bukan hanya atribut fisik, tetapi bagian dari komitmen spiritual yang telah ditanamkan sejak dini dan diperkuat melalui pembelajaran agama secara terus-menerus. Sementara itu. Pierre Bourdieu melalui konsep habitus menjelaskan bahwa preferensi individu terhadap tindakan sosial tertentu termasuk cara berpakaian dibentuk oleh struktur sosial tempat mereka dibesarkan dan dibentuk (Bourdieu, 2. Mahasiswi Prodi PAI di IAD, misalnya, hidup dalam Auruang akademikAy yang sarat dengan nilai-nilai religius: penggunaan salam islami, tata cara berpakaian yang seragam, hingga pola interaksi sosial yang menjunjung kesopanan. Semua ini menciptakan habitus keislaman konservatif yang secara tidak langsung membentuk perilaku dan pilihan visual keagamaan mahasiswi. Habitus tersebut menjadikan gaya hijab syarAoi sebagai pilihan yang AualamiAy dan dianggap benar, karena didukung dan direproduksi secara kolektif oleh lingkungan. Selain itu, teori identity salience dari Sheldon Stryker juga relevan untuk memperkuat analisis ini. Teori ini menyatakan bahwa identitas yang paling sering diaktifkan dalam interaksi sosial akan menjadi identitas yang paling dominan dalam membentuk perilaku (Stryker & Burke, 2. Dalam konteks ini, identitas keislaman mahasiswi Prodi PAI menjadi sangat menonjol karena sering diaktifkan dalam berbagai kegiatan akademik, ibadah bersama, maupun interaksi sosial. Ketika identitas keislaman menjadi pusat dari representasi diri mereka, maka pilihan hijab syarAoi muncul sebagai ekspresi logis dari identitas yang telah diprioritaskan dan Dengan demikian, pemilihan gaya berhijab oleh mahasiswi IAD bukanlah pilihan individual semata, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara sosialisasi religius, struktur institusional, dan internalisasi nilainilai agama yang terlembaga dalam habitus akademik (Wicaksono, 2. Pendidikan agama tidak hanya menjadi sarana pembelajaran kognitif, tetapi juga menjadi mekanisme kultural dan simbolik yang secara signifikan memengaruhi bentuk ekspresi keislaman baik secara visual . maupun sosial . Peran Media Sosial dalam Membentuk Identitas Keislaman Dalam konteks perkembangan media sosial, pembentukan identitas keislaman mahasiswi tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kuat konten digital yang hadir melalui platform seperti Instagram. TikTok, dan YouTube. Media sosial menjadi arena utama pembentukan dan ekspresi identitas diri, termasuk dalam hal penampilan religious (Dasuki, 2. Mahasiswi yang mengenakan hijab model pashmina atau segi empat cenderung menampilkan identitas keislaman yang lebih fleksibel, kreatif, dan dialogis. Mereka banyak terinspirasi dari fesyen influencer Muslimah, tutorial hijab kekinian, serta konten dakwah visual yang dikemas secara modern dan estetis. Identitas keislaman mereka dibentuk dalam ranah yang memungkinkan negosiasi antara nilai-nilai agama dan tren visual kontemporer. Hal ini sejalan Agatha Lola Margareta & M Jadid Khadavi Hijab. Identitas, dan Religiusitas dengan Multidimensional Model of Religious Identity, yang mengidentifikasi jenis identitas religius dialogis sebagai identitas yang terbuka terhadap interaksi dengan nilai-nilai budaya modern, tanpa meninggalkan prinsip dasar ajaran agama (MacDonald, 2. Bagi kelompok ini, hijab bukan hanya simbol ketaatan, tetapi juga sarana ekspresi diri yang dipengaruhi oleh perkembangan zaman dan teknologi. Sebaliknya, penggunaan khimar oleh sebagian mahasiswi menunjukkan pola identitas yang berbeda, yakni identitas religius eksklusivis. Dalam model multidimensional ini, identitas eksklusivis ditandai dengan orientasi keagamaan yang tekstual, normatif, dan mengedepankan ketaatan mutlak terhadap aturan syariat. Bagi pengguna khimar, hijab bukan sekadar penutup aurat atau simbol keislaman, melainkan bentuk konkret dari ibadah dan loyalitas penuh terhadap ajaran agama (Endiana et al. , 2. Meskipun sebagian dari mereka juga aktif di media sosial, penggunaan platform tersebut tidak secara signifikan memengaruhi gaya berbusana atau ekspresi keislaman mereka. Mereka cenderung mengonsumsi konten secara selektif, berfokus pada dakwah dan edukasi Islam, serta tidak mengikuti tren visual yang terus berubah. Dalam hal ini, media sosial tidak menjadi ruang negosiasi identitas, melainkan dikelola dengan kesadaran religius yang tinggi. Identitas mereka dibentuk lebih dari internalisasi nilai agama yang bersifat konstan, bukan representasi visual yang cair di media sosial. Dengan demikian, perbedaan dalam pemilihan model hijab di kalangan mahasiswi juga mencerminkan perbedaan bentuk identitas religius, di mana media sosial memainkan peran penting bagi sebagian individu dalam membentuk identitas yang komunikatif dan adaptif, namun tidak secara universal memengaruhi semua kelompok dengan cara yang Identitas keislaman tampil sebagai sesuatu yang dinamis, baik dalam bentuk eksklusivis yang teguh pada prinsip, maupun dalam bentuk dialogis yang terbuka terhadap perubahan dan simbol-simbol budaya kontemporer (Asnawi & Sulaiman, 2. Kesimpulan Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara preferensi model hijab dengan tingkat religiusitas mahasiswi Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo, serta mengeksplorasi faktor-faktor yang berkontribusi pada konstruksi identitas keislaman, meliputi peran pendidikan agama dan media Temuan penelitian menunjukkan bahwa hijab tidak hanya berfungsi sebagai bentuk pakaian, melainkan juga sebagai ekspresi spiritualitas dan identitas keislaman. Variasi model hijab, seperti pashmina, segi empat, dan khimar, merepresentasikan perbedaan tingkat internalisasi nilai-nilai Mahasiswi yang memilih hijab syarAoi, khususnya khimar, umumnya berasal dari latar belakang keluarga religius dan memiliki riwayat pendidikan pesantren, yang selaras dengan konsistensi dalam perilaku keberagamaan Sebaliknya, pengguna model pashmina atau segi empat cenderung lebih adaptif terhadap tren visual media sosial, namun tetap berpegang pada nilai-nilai kesopanan. Lebih lanjut, pendidikan agama di lingkungan Peradaban Journal Religion and Society 4. 2025 : 140-154 Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAD terbukti signifikan dalam memperkuat komitmen keagamaan dan mendorong pilihan hijab syarAoi. Selain itu, penggunaan media sosial teridentifikasi turut membentuk identitas keislaman mahasiswi, terutama melalui paparan konten dakwah dan fesyen Muslimah. Temuan ini mengindikasikan bahwa pilihan gaya berhijab dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara norma subjektif, kontrol personal, dan disposisi sosial yang terinternalisasi. Dengan demikian, identitas keislaman dibentuk secara dinamis melalui dorongan internal, struktur sosial, dan agensi individu. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Lingkup partisipan terbatas pada satu institusi pendidikan tinggi dan belum mencakup latar belakang demografis yang lebih luas. Selain itu, dimensi religiusitas yang diamati masih bersifat kualitatif dan belum sepenuhnya mencakup aspek afektif serta ritualistik secara terukur. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas objek kajian ke berbagai perguruan tinggi dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam, serta mengintegrasikan pendekatan kuantitatif untuk mengukur hubungan antara gaya berhijab dan dimensi religiusitas secara lebih komprehensif. Riset mendalam mengenai interaksi antara media sosial dan pembentukan identitas keagamaan pada generasi muda Muslimah juga merupakan area potensial untuk eksplorasi lebih Daftar Pustaka