Literatur Review: Pengaruh Edukasi Terhadap Pencegahan HIV/AIDS Siti Rosilfa Marisa Anazma1. Indah Laily Hilmi2. Hadi Sudarjat3 1Program Studi Farmasi. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Singaperbangsa Karawang Author's Email Correspondence (*): Indah. laily@fikes. ABSTRAK HIV adalah virus yang dapat menyerang sistem imun, dapat menyebabkan penurunan fungsi kekebalan. Sedangkan AIDS adalah tahap akhir dari HIV, yang muncul ketika sistem imun tubuh mengalami kerusakan berat dari serangan virus tersebut. Tujuan penulisan untuk mengidentifikasi apakah edukasi dapat mempengaruhi sikap pencegahan dalam masyarakat, menentukan bentuk edukasi yang paling efektif dalam mempengaruhi perilaku individu terkait HIV/AIDS, serta menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan program edukasi tersebut. Metode yang digunakan adalah narrative review. Hasil yang didapatkan dari 10 artikel yang dikaji menunjukkan bahwa edukasi mengenai HIV/AIDS memberi efek perilaku dalam pencegahan penyakit HIV/AIDS. Kesimpulan dari penulisan ini adalah edukasi dapat meningkatkan sikap terkait pencegahan HIV/AIDS. Cara edukasi yang efektif meliputi penyuluhan tatap muka dan penggunaan media audiovisual. Keberhasilan program edukasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk relevansi konten dengan kebutuhan audiens, bahasa yang mudah dipahami, lingkungan sosial, dan dukungan dari pemerintah serta lembaga kesehatan. Kata Kunci: Pengaruh. Edukasi. Pencegahan. HIV/AIDS Published by: Article history : Tadulako University Received : 26 10 2024 Address: Received in revised form : 04 12 2024 Jl. Soekarno Hatta KM 9. Kota Palu. Sulawesi Tengah. Accepted : 13 12 2024 Indonesia. Available online : 31 12 2024 Phone: 6282290859075 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Email: preventifjournal. fkm@gmail. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 ABSTRACT HIV is a virus that can attack the immune system, causing a decrease in immune function. AIDS is the final stage of HIV, which occurs when the body's immune system is severely damaged by the virus. The purpose of this paper is to identify whether education can influence prevention attitudes in the community, determine the most effective form of education in influencing individual behavior related to HIV/AIDS, and analyze the various factors that influence the success of the education program. The method used was narrative review. The results obtained from the 10 articles reviewed show that education about HIV/AIDS has a behavioral effect on the prevention of HIV/AIDS. The conclusion of this paper is that education can improve attitudes related to HIV/AIDS Effective education methods include face-to-face counseling and the use of audiovisual media. The success of educational programs is influenced by several factors, including the relevance of the content to the needs of the audience, easy-to-understand language, social environment, and support from the government and health institutions. Keywords: Influence. Education. Prevention. HIV/AIDS PENDAHULUAN Penyakit menular yang sangat berbahaya yang dikenal sebagai HIV (Human Immunodeficiency Viru. dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrom. terus menjadi tantangan kesehatan masyarakat pada zaman modern. Virus yang dikenal sebagai HIV ini memiliki sasaran terhadap sistem imun tubuh, dan dapat menurunkan kekebalan tubuh. Tahap terakhir dari infeksi HIV, yang dikenal sebagai AIDS, terjadi ketika virus telah merusak sistem kekebalan tubuh secara serius. Menurut data WHO, 78% virus HIV pada tahun 2019 terjadi di wilayah Asia Pasifik. Diperkirakan terdapat 300. 000 virus yang terdeteksi dengan 25% diantaranya rentang usia 15 hingga 24 tahun yang terkena virus HIV. Setelah Cina dan India. Negara Indonesia menjadi peringkat 3 di Asia Pasifik dengan pertumbuhan penularan HIV. Sebanyak 88. kasus baru virus HIV dilaporkan di Cina, 69. 000 di India, dan 46. 000 di Indonesia. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 Pada tahun 2023, sekitar 6,7 juta orang . engan kisaran antara 6,1 juta hingga 7,5 jut. yang hidup dengan HIV berada di wilayah Asia dan Pasifik, menjadikan wilayah ini sebagai pusat epidemi HIV terbesar di dunia setelah Afrika bagian timur dan selatan. Wilayah ini berkontribusi terhadap sekitar seperempat dari total infeksi HIV baru secara global setiap tahunnya . %). Di beberapa negara seperti Afghanistan . %). Bangladesh . %). Fiji . %). Indonesia . %). Republik Islam Iran . %). Mongolia . %). Pakistan . %), dan Filipina . %), kurang dari separuh jumlah orang dengan HIV yang diperkirakan sedang menjalani pengobatan. Dan beberapa tahun terakhir menunjukkan prevalensi HIV di antara populasi yang berada di penjara dan tempat tertutup lainnya mencapai sekitar 1,3% . erdasarkan laporan dari 70 negar. , hampir dua kali lipat dari estimasi prevalensi HIV global di kalangan orang dewasa usia 15-49 tahun, yang diperkirakan 0,7% . engan rentang 0,6%-0,8%) pada tahun 2023. Dengan cepatnya penyebaran HIV/AIDS, penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman. Meningkatnya kasus memerlukan strategi pencegahan dan pengobatan yang efektif melalui pendidikan kesehatan, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan menciptakan perilaku sehat untuk mencegah virus HIV/AIDS. Pendidikan kesehatan merupakan suatu pendidikan yang dapat menyampaikan informasi secara langsung. Pandangan terhadap pendidikan kesehatan meningkatkan keterlibatan dan membentuk pola pikir positif. Di Indonesia, pencegahan HIV/AIDS didukung oleh kebijakan nasional dan program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta memberikan perhatian khusus kepada kelompok berisiko tinggi. Upaya pencegahan terus meningkat, tetapi PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 terdapat tantangan utama yaitu dalam menjangkau masyarakat yang terkena dampak sosial, keuangan, dan kesejahteraan. Melihat penyebaran HIV/AIDS yang pesat dan kebutuhan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terhadap pencegahan, penulis ingin menyusun ringkasan mengenai AuPengaruh Edukasi Terhadap Pencegahan HIV/AIDSAy. Hingga saat ini, belum ada review komprehensif yang khusus membahas pengaruh edukasi terhadap pencegahan HIV/AIDS dengan fokus pada efektivitas berbagai metode edukasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. Meskipun sudah ada penelitian mengenai dampak atau manfaat edukasi HIV/AIDS secara umum, masih sedikit atau bahkan belum ada penelitian yang secara langsung menilai dan membandingkan efektivitas dari metode edukasi yang berbeda, seperti penyuluhan langsung, penyuluhan melalui media visual, atau program edukasi lainnya. Dengan adanya kesenjangan ini, peneliti dapat merancang studi komparatif yang dapat menguji metode mana yang efektif dalam konteks tertentu atau pada populasi tertentu, sehingga dapat memberikan rekomendasi lebih spesifik bagi program pencegahan HIV/AIDS yang optimal. Review ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah edukasi dapat mempengaruhi sikap pencegahan dalam masyarakat terhadap pencegahan HIV/AIDS. Secara lebih spesifik, review ini akan mengeksplorasi sejauh mana berbagai metode edukasi dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko penularan HIV/AIDS. Selain itu, review ini juga berfokus untuk melihat bagaimana edukasi dapat mengubah sikap masyarakat terhadap langkah-langkah pencegahan HIV/AIDS. Review ini juga bertujuan untuk menentukan bentuk edukasi yang paling efektif dalam mempengaruhi perilaku individu terkait HIV/AIDS. Serta menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan program edukasi tersebut. Review ini penting karena dapat memberikan wawasan mengenai PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 seberapa efektif edukasi dalam membentuk sikap dan perilaku pencegahan HIV/AIDS di Hasil dari review ini dapat menjadi kontribusi penting dalam upaya meningkatkan efektivitas program edukasi dan memitigasi penyebaran HIV/AIDS, serta dapat memberikan panduan bagi penyelenggara program dan komunitas dalam merancang dan melaksanakan strategi edukasi yang lebih efisien. METODE Penulis menggunakan metode narrative review. Untuk melakukan review ini, pencarian literatur dilakukan melalui kualitatif berdasarkan kepustakaan salah satunya dengan Google Scholar yang merupakan salah satu platform untuk menemukan publikasi Pencarian dilakukan dengan menggunakan kombinasi kata kunci yaitu AupengaruhAy. AuedukasiAy. Aupencegahan HIV/AIDSAy, dan AuHIV/AIDSAy. Jumlah artikel yang ditemukan melalui pencarian awal adalah 9. 080 artikel, dengan 10 artikel yang akhirnya dimasukkan dalam review ini setelah proses seleksi. Setelah mengidentifikasi artikel yang relevan, penulis melakukan proses seleksi dengan menilai judul dan abstrak untuk memastikan kesesuaiannya dengan tujuan penelitian. Artikel yang lolos tahap ini kemudian diunduh dan ditelaah secara mendalam untuk menentukan kualitas dan relevansi yang lebih lanjut. Penulis membatasi pencarian pada publikasi yang diterbitkan antara tahun 2019 2024 untuk memastikan relevansi dan aktualitas data. Adapun kriteria inklusi yang penulis terapkan dalam proses pencarian literatur yang sesuai yaitu: . artikel berbahasa Indonesia, . artikel yang relevan dengan topik penelitian, . fokus pada edukasi atau pencegahan HIV/AIDS, dan . hanya mencakup penelitian yang diterbitkan antara tahun Sementara itu, kriteria eksklusi meliputi: . ketidaksesuaian antara judul dan PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 isi artikel, dan . artikel yang tidak membahas edukasi atau pencegahan HIV/AIDS. Setelah membaca judul dan abstrak, penulis menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi, lalu menyaring artikel dengan menelaah kualitasnya untuk memilih 10 artikel yang akan dianalisis tentang pengaruh edukasi dalam pencegahan HIV/AIDS. Pemilihan artikel dilakukan dengan pendekatan kualitatif tanpa alat penilaian formal, dengan menyusun kriteria penilaian yang mencakup kejelasan tujuan, metodologi, relevansi hasil, dan kesimpulan yang didukung data. Penulis melakukan evaluasi awal terhadap judul dan abstrak untuk menilai relevansi, mengeliminasi artikel yang tidak sesuai. Setelah mengunduh artikel, penulis menganalisis bagian metode, hasil, dan diskusi untuk memastikan penyajian informasi yang jelas dan relevansi dengan topik. Diagram alir di bawah ini menggambarkan proses pemilihan literatur yang dilakukan: PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 Screening Identification Literature selection process flow chart Hasil pencarian artikel berdasarkan database Google Scholar . = 9,. Pencarian jurnal rentang tahun 2019-2024 Hasil screening artikel berdasarkan database Google Scholar . = . Pencarian disesuaikan dengan judul artikel Hasil artikel spesifik berdasarkan Google Scholar . = . Disesuaikan dengan kriteria inklusi dan ekslusi Kriteria inklusi . = . Included Artikel yang sudah diekslusi . = . Artikel yang diteliti . = . PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 HASIL Edukasi Dapat Mempengaruhi Pencegahan HIV/AIDS Tabel 1 Hasil Analisis Penulis Sumakul Judul Hasil V. Edukasi Life Pada penelitian ini memiliki hasil yaitu Brigita K. Monica Skill Pada bertambahnya . Dalam terkait penyakit HIV/AIDS dan cara Remaja Pencegahan HIV/AIDS Dengan memberikan Di materi edukasi mengenai Life skill pada Smk Negeri 1 remaja dalam Pencegahan HIV/AIDS. Tomohon. Penelitian ini menggunakan pre-test dan post-test jawaban posttest meningkat pada semua pencegahan HIV/AIDS. Thome AL. Pengaruh Dengan menggunakan uji Wilcoxon. Edukasi Pencegahan pengetahuan remaja dapat dipengaruhi HIV-AIDS oleh pendidikan, terdapat angka value Terhadap kurang dari 0,05. Sebelum mendapatkan Pengetahuan Dan Remaja. Sikap siswa termasuk dalam kategori cukup. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 pendidikan, siswa mengalami kenaikan menjadi Ini HIV/AIDS. Faristiana AR. Upaya Oktafiana H. Penanggulangan Asset Based Community Development Widarto HS. Dan Pencegahan (ABCD). Akyunina Penyakit . Metode penelitian yang digunakan yaitu Melalui pemberian edukasi HIV/AIDS Bagi terhadap HIV/AIDS, dan dapat membuat Masyarakat Desa Bungkuk Di perilaku aware terhadap perbuatan yang akan dilakukan agar terhindar dari penyakit HIV/AIDS. Makatita . Pengaruh Hasil Penyuluhan Terhadap menunjukkan bahwa penyuluhan atau Perilaku Pencegahan HIV/AIDS berdampak pada siswa SMA N HIV/AIDS Pada 2 pre-test Seram Siswa SMA Di penyuluhan. Bagian post-test Barat. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 Setelah Khadijah Provinsi pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa Maluku. terkait pencegahan HIV/AIDS. Penyuluhan Hasil penelitian yang menunjukkan Mappeaty N. Nur Kesehatan Yang bahwa pengetahuan memiliki nilai pA. Indah . Memengaruhi value 0,001, sikap 0,002, dan tindakan Terhadap 0,001, menunjukkan adanya dampak Perilaku pendidikan kesehatan pada remaja di Pencegahan SMK N 1 Lembah Sorik Marapi terkait HIV/AIDS Pada perilaku pencegahan HIV/AIDS. Remaja Di Smk Negeri Lembah Sorik Marapi Kabupaten Mandailing Natal. Arafah. AG. Fatmah Edukasi Metode pre-test dan post-test digunakan Hasriwiani Menggunakan dalam penelitian ini, dan penggunaan HA. Media Audio materi audio-visual untuk mengajarkan Visual Terhadap perilaku pencegahan risiko HIV/AIDS. Perilaku Setelah pemberian edukasi, hasil yang Pencegahan didapatkan adalah adanya peningkatan Penularan PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 HIV/AIDS Warga Binaan. pencegahan HIV/AIDS. NiAomatuzzakiyah Edukasi Metode pre-test dan post-test digunakan . Pencegahan HIV/AIDS Pada memberikan Remaja. HIV/AIDS. Peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan tentang pencegahan HIV/AIDS pretest-posttest, dengan nilai p sebesar 0,004 <0,05. Witriyani. Dwi. Pengaruh LMP. Hasil penelitian ini mayoritas perilaku Penerapan pencegahan seks bebas remaja dinilai Edukasi Kesehatan Analisis statistik Wilcoxon Tentang menunjukkan nilai signifikan sebesar HIV/AIDS 0,000 . < 0,. Pada analisis data, yang Terhadap Perilaku Pencegahan berdampak pada perilaku remaja terkait HIV/AIDS Seks Bebas Pada pencegahan seks bebas. Remaja. Hutahaean MM. Program Metode yang digunakan yaitu pre-test Ginting L. Sinaga Peningkatan dan post-test. Dengan diuji statistic PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 RM. Harahap NA. Pengetahuan memperoleh nilai p-value sebesar 0,001. Sinaga Yang berarti adanya pengaruh edukasi . ND. Masyarakat Mengenai terhadap masyarakat dalam melakukan HIV/AIDS, upaya pencegahan HIV/AIDS. Stigma Dan Pencegahannya Dengan Penyuluhan Kesehatan Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Susanti . BAD. Pengaruh Video Dampak penayangan video edukasi Edukasi tentang HIV/AIDS pada narapidana di Terhadap Lapas Pengetahuan pemahaman mereka dengan hasil nilai Pencegahan . <0,. HIV/AIDS Yogyakarta Di penelitian. Dengan demikian, dapat Lapas dikatakan bahwa video edukasi terkait Yogyakarta. penyakit HIV/AIDS di Lapas Yogyakarta mengakibatkan terjadinya peningkatan PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 kesadaran akan pencegahan HIV/AIDS. PEMBAHASAN Dari jurnal yang telah dikaji diatas yang membahas tentang pengaruh edukasi terhadap pencegahan HIV/AIDS secara umum menunjukkan hasil yang sangat konsisten dan signifikan. Melalui edukasi, baik dalam bentuk penyuluhan langsung, maupun pemaparan melalui media audio-visual, terbukti bermanfaat dalam meningkatkan sikap dalam pencegahan HIV/AIDS di antara banyak kelompok masyarakat. Secara umum, hasil dari penelitian-penelitian ini mengindikasikan bahwa edukasi yang diberikan dengan cara terstruktur dan terukur mampu meningkatkan pengetahuan peserta tentang HIV/AIDS secara signifikan. Sebagian besar penelitian menggunakan uji statistik seperti uji Wilcoxon untuk mengukur perbedaan sebelum dan setelah pemberian materi edukasi. Dari hasil uji tersebut, mayoritas dari penelitian memiliki nilai p-value tidak melebihi 0,05, yang menunjukkan perbedaan yang mencolok antara sebelum dan sesudah Sikap peserta yang sebelumnya hanya berada di kategori "cukup", setelah diberikan intervensi edukasi meningkat ke kategori "baik". Hal ini menunjukkan bahwa edukasi menjadi instrumen penting dalam penyebaran informasi yang dapat merubah tingkat pencegahan penyakit HIV/AIDS. Dari keseluruhan artikel terdapat 2 metode yang digunakan, yaitu yang pertama dengan metode penyuluhan tatap muka. Penelitian dengan metode edukasi tatap muka yang dilakukan di sekolah dan desa, menunjukkan hasil yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap pencegahan HIV/AIDS. Edukasi tatap muka memungkinkan interaksi langsung antara fasilitator dan peserta, sehingga memfasilitasi diskusi, tanyaPREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 jawab, dan pemahaman yang lebih mendalam. Di sekolah, penelitian oleh Sumakul et al. Thome . Makatita . Khadijah et al. NiAomatuzzakiyah . , dan Witriyani & Dwi . menunjukkan bahwa pendekatan tatap muka mampu meningkatkan pengetahuan siswa sekaligus mendorong perilaku pencegahan HIV/AIDS. Interaksi langsung ini sangat efektif dalam memfasilitasi perubahan sikap dan perilaku Penelitian di desa yang dilakukan oleh Faristiana et al. dan Hutahaean et al. juga menunjukkan bahwa metode tatap muka memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran warga desa tentang pencegahan HIV/AIDS. Dengan edukasi tatap muka, warga dapat menerima informasi secara langsung, sehingga mempermudah pemahaman dan membantu mengubah perilaku mereka dalam pencegahan penyakit HIV/AIDS. Lalu yang kedua, penelitian yang menggunakan media audio visual . oleh Arafah et al . dan Susanti . yang digunakan untuk menyampaikan edukasi juga dapat mempengaruhi sikap dalam pencegahan. Dalam penelitian ini, penggunaan media audio-visual terbukti dapat meningkatkan efektivitas edukasi kepada warga. Penyampaian informasi melalui video atau media visual lainnya memberikan dampak yang lebih besar pada peserta, khususnya dalam mengubah sikap dan perilaku mereka. Penelitian yang dilakukan oleh Susanti . di lingkungan penjara, terbukti meningkatkan pengetahuan dan kesadaran narapidana akan pentingnya pencegahan HIV/AIDS. Walaupun audio-visual menyampaikan informasi secara interaktif dan mudah dipahami, sehingga efektif dalam mengubah perilaku para narapidana. Hasil serupa dalam meningkatkan pengetahuan dan tingkah laku siswa tentang pencegahan HIV/AIDS telah ditunjukkan oleh hasil penelitian yang diimplementasikan di PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 sekolah-sekolah. Pada penelitian yang dilakukan di desa juga memiliki hasil yang serupa yaitu dengan adanya edukasi dapat membuat perilaku pencegahan bagi warga desa. Sedangkan di lembaga pemasyarakatan, penggunaan video edukasi juga mampu meningkatkan pengetahuan para narapidana, dan dapat membantu mereka lebih sadar akan pencegahan HIV/AIDS, meskipun berada dalam lingkungan yang lebih terbatas. Pernyataan ini di dukung oleh literatur yang mengatakan bahwa, pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pemahaman dan perilaku dalam pencegahan HIV/AIDS. Secara keseluruhan, baik metode tatap muka maupun media audio-visual . memiliki keunggulan masing-masing dalam edukasi pencegahan HIV/AIDS. Metode tatap muka terbukti sangat efektif dalam lingkungan yang memungkinkan interaksi langsung, seperti di sekolah dan komunitas desa, karena memfasilitasi diskusi dan memperdalam Sementara itu, media audio-visual lebih cocok diterapkan di lingkungan terbatas atau audiens yang lebih pasif, misalnya narapidana, serta efektif bagi remaja yang lebih terbiasa dengan teknologi visual. Dengan sifatnya yang bisa diulang, media ini memberi kemudahan bagi peserta untuk mengakses informasi secara mandiri. Perbandingan antara metode tatap muka dan media audio-visual ini menunjukkan bahwa kedua metode tersebut dapat dioptimalkan sesuai dengan konteks dan kebutuhan audiens, dengan hasil yang secara keseluruhan efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap pencegahan terhadap HIV/AIDS. Instrumen penting dalam memerangi pencegahan dan penyebaran HIV/AIDS adalah pendidikan yang berkualitas tinggi dan efisien, terutama di kalangan remaja yang rentan terhadap perilaku berisiko. Apabila program edukasi yang dilakukan secara terstruktur, menggunakan metode yang tepat, dan disesuaikan dengan kelompok sasaran akan memiliki dampak positif dalam mengurangi angka penularan HIV/AIDS di masyarakat. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 Terdapat 2 . bentuk edukasi yang efektif dalam mempengaruhi perilaku individu terhadap HIV/AIDS yaitu media audiovisual dimana penelitian menunjukkan bahwa penyampaian materi edukasi melalui media audiovisual . eperti video atau animas. lebih memiliki efek yang efektif. Audiovisual lebih mudah dipahami, menarik minat, dan membantu memperjelas informasi, terutama bagi remaja, dan populasi yang berada di lingkungan yang lebih terbatas, seperti di lembaga pemasyarakatan. Serta, penyuluhan tatap muka seperti yang dilakukan di sekolah, desa, atau komunitas, memberikan kesempatan interaksi langsung antara penyuluh dan peserta. Metode ini efektif karena peserta bisa langsung bertanya, berdiskusi, dan mendapat klarifikasi yang mereka Terdapat 4 . faktor yang menjadi acuan keberhasilan pada program edukasi yaitu yang pertama, konten edukasi yang relevan dan tepat sasaran dari konten tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan program dan sejauh mana materi edukasi relevan dengan kebutuhan audiens. Misalnya, dalam penelitian yang dilakukan di desa oleh Faristiana et al. dan Hutahaean et al. , konten edukasi disesuaikan dengan konteks lokal yang dihadapi oleh masyarakat desa. Edukasi di desa ini berfokus pada pembongkaran mitos dan pemahaman tidak benar yang masih melekat terkait HIV/AIDS, yang menjadi salah satu hambatan utama dalam pencegahan. Demikian juga, pada penelitian yang dilakukan di sekolah, seperti pada Sumakul et al. dan Thome . , konten yang relevan dengan kehidupan remaja berhasil meningkatkan pemahaman siswa. Remaja yang berisiko sering kali membutuhkan informasi yang dapat dikaitkan dengan situasi sehari-hari mereka, sehingga mereka dapat lebih memahami pentingnya pencegahan HIV/AIDS. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 Yang kedua, bahasa yang mudah dipahami dengan penggunaan bahasa yang sesuai dengan tingkat pendidikan dan bahasa sehari-hari masyarakat setempat sangat penting. Jika materi edukasi menggunakan bahasa teknis yang sulit dipahami, pesan tidak akan sampai dengan baik. Sebaliknya, jika menggunakan bahasa yang sederhana dan familiar, masyarakat lebih memahami dan menerapkan informasi yang diberikan. Misalnya, penelitian oleh Susanti . , penggunaan bahasa sederhana dan visualisasi melalui media audio-visual, seperti video, terbukti sangat membantu dalam memudahkan narapidana memahami informasi yang disampaikan. Lalu, dalam penelitian di sekolahsekolah, bahasa yang digunakan dalam edukasi juga telah disesuaikan agar lebih mudah dipahami siswa. Bahasa yang sederhana dan langsung mampu menjembatani kesenjangan pemahaman dan membantu peserta menyerap informasi lebih efektif. Yang ketiga, lingkungan sosial dan norma budaya masyarakat juga berperan penting. Di lingkungan yang masih memiliki stigma tinggi terhadap HIV/AIDS, program edukasi perlu upaya yang lebih besar. Oleh karena itu, selain memberikan informasi, program juga harus berusaha mengubah stigma sosial terkait HIV/AIDS agar pesan pencegahan lebih dapat dipahami. Misalnya, pada penelitian di desa oleh Hutahaean et al. menunjukkan bahwa masyarakat yang memiliki stigma sosial tinggi terkait HIV/AIDS membutuhkan pendekatan edukasi yang berbeda. Pada penelitian ini, selain memberi informasi tentang HIV/AIDS, edukasi juga mencakup upaya untuk mengurangi stigma melalui pemahaman yang lebih dalam tentang penyakit tersebut. Dalam studi ini, aspek sosial dan budaya diperhitungkan untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan tidak hanya dimengerti, tetapi juga diterima secara positif oleh masyarakat setempat. Dan yang keempat, dukungan dari pemerintah dan lembaga kesehatan, dengan adanya dukungan dapat mempengaruhi program terkait hal pendanaan, sumber daya, dan PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 3 penyuluhan berkelanjutan akan lebih efektif dalam perubahan perilaku di masyarakat. Dukungan ini penting untuk memastikan program edukasi dapat terus berjalan dengan baik dan konsisten. Seperti pada penelitian oleh Khadijah et al. , menyatakan bahwa pemerintah diharapkan dapat memberikan dukungan pada guru dalam pencegahan HIV/AIDS dan memberikan pelatihan tentang mengajar HIV/AIDS. Maka dari itu, dukungan pemerintah ini penting, untuk mengurangi tingkat penularan dan adanya tindakan pencegahan penyakit HIV/AIDS. KESIMPULAN DAN SARAN Dari 10 . penelitian dapat disimpulkan bahwa edukasi dapat meningkatkan sikap masyarakat terkait pencegahan HIV/AIDS. Adapun cara edukasi yang efektif meliputi penyuluhan tatap muka dan penggunaan media audiovisual, yang terbukti lebih menarik dan mudah dipahami, terutama bagi remaja, warga, dan populasi di lingkungan terbatas. Keberhasilan program edukasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk relevansi konten dengan kebutuhan audiens, bahasa yang mudah dipahami, lingkungan sosial, dan dukungan dari pemerintah serta lembaga Kesehatan. Dengan mempertimbangkan faktorfaktor ini dan menyusun program yang sesuai dengan kelompok sasaran, edukasi dapat menjadi alat yang efektif dalam upaya pencegahan maupun mengurangi penularan HIV/AIDS di masyarakat. DAFTAR PUSTAKA