Jurnal Surya Beton Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025 p-ISSN : 2302-5166, e-ISSN : 2776-1606 https://jurnal. id/index. php/suryabeton Analisis Risiko Kecelakaan Kerja dengan Metode HIRADC pada Pekerjaan Borepile Proyek Jalan Tol Yogyakarta-Bawen Musafaq Andi Wardana*. Larashati BAotari Setyaning. Eksi Widyananto Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Purworejo Email: musafaqandiwardana088@gmail. Abstrak. Proyek pembangunan jalan tol merupakan proyek pembangunan dengan risiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat angka kecelakaan kerja di Indonesia pada tahun 2024 241 kasus. Kecelakaan kerja juga tidak luput terjadi pada pekerjaan borepile yang merupakan pekerjaan inti pada proyek jalan tol. Diperlukan penelitian mendalam mengenai analisis keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerjaan borepile untuk mengurangi insiden kecelakaan kerja dan meningkatkan keselamatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko bahaya yang mungkin timbul, melakukan penilaian risiko dan menganalisis tindakan pengendalian risiko yang dibutuhkan. Metode HIRADC (Hazard Identification. Risk Assessement, and Determining Contro. digunakan untuk analisis data yang dikumpulkan melalui pengisian kuisioner oleh para responden yang terdiri dari 30 orang. Berdasarkan literatur terdahulu dan wawancara dengan responden, didapatkan 26 risiko pada pekerjaan borepile. Setelah dianalisis, dari 26 risiko tersebut ada 2 risiko dengan dengan tingkat risiko ekstrim . ,7 %), 8 risiko dengan tingkat risiko tinggi . ,77 %), 12 risiko dengan tingkat risiko sedang . ,15 %), dan 4 risiko dengan tingkat risiko rendah . ,38 %). Secara keseluruhan, pekerjaan borepile termasuk dalam pekerjaan dengan risiko sedang. Pengendalian risiko pada penelitian ini yaitu berupa substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administrasi, dan pemakaian APD (Alat Pelindung Dir. lengkap seperti helm safety, rompi safety, sarung tangan, dan sepatu safety. Kata Kunci : kecelakaan kerja. HIRADC, borepile Abstract. Highway construction projects are construction projects with a high risk of workplace accidents. The Ministry of Manpower recorded 462,241 workplace accidents in Indonesia in 2024. Work accidents also occur in borepile work, which is the core work in toll road projects. In-depth research on occupational safety and health analysis in borepile work is needed to reduce work accident incidents and improve work safety. This study aims to analyze the potential hazards, conduct a risk assessment, and analyze the necessary risk control measures. The HIRADC (Hazard Identification. Risk Assessment, and Determining Contro. method was used to analyze the data collected through questionnaires filled out by 30 respondents. Based on previous literature and interviews with respondents, 26 risks were identified in borepile work. After analysis, of the 26 risks, there were 2 risks with an extreme risk level . 7%), 8 risks with a high risk level . 77%), 12 risks with a moderate risk level . 15%), and 4 risks with a low risk level . 38%). Overall, borepile work is classified as a job with moderate risk. Risk control in this study took the form of substitution, engineering controls, administrative controls, and the use of complete PPE (Personal Protective Equipmen. such as safety helmets, safety vests, gloves, and safety shoes. Keywords: work accident. HIRADC, borepile Musafaq Andi Wardana dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025, . Pendahuluan Proyek pembangunan jalan tol merupakan proyek dengan risiko kecelakaan yang sangat tinggi. Menurut Peraturan Menteri PUPR No 10 Tahun 2021, kecelakaan konstruksi merupakan kejadian yang diakibatkan kecerobohan pada tahap pekerjaan konstruksi, karena tidak sesuai standar keamanan, keselamatan, dan kesehatan yang dapat mengakibatkan korban jiwa, waktu kerja dan harta benda. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat angka kecelakaan kerja di Indonesia pada tahun 2024 berjumlah 462. 241 kasus. Menurut Tarwaka . kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang jelas tidak dikehendaki dan sering kali tidak terduga semula yang dapat menimbulkan kerugian baik waktu, harta benda atau properti maupun korban jiwa yang terjadi di dalam suatu proses kerja industri atau yang berkaitan dengannya. Faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja pada proyek konstruksi pun beragam, mulai dari kelalaian manusia, yang mana hal ini disebabkan minimnya kedisiplinan tenaga kerja dalam mematuhi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K. maupun metode pelaksanaan konstruksi di lapangan belum memadai (Sugiyanto & Thoif, 2. Pembangunan Proyek Jalan Tol Yogyakarta-Bawen merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mana jalan tol Yogyakarta-Bawen adalah jalan tol yang terintegrasi dengan Tol Trans Jawa di sisi utara dan Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA. Kulon Progo di sisi selatan. Pada proyek ini terdapat pekerjaan borepile yang mempunyai potensi risiko cukup tinggi. Beberapa risiko utama termasuk kerusakan dinding penahan tanah, menabrak batu besar saat pengeboran, banjir, dan penggunaan alat berat yang bisa menyebabkan kecelakaan. Menurut Jannah . risiko adalah suatu keadaan yang tidak pasti yang dihadapi seseorang atau suatu perusahaan kontruksi yang dapat memberikan dampak merugikan atau hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana apakah terhadap waktu atau biaya. Risiko adalah kombinasi dari kemungkinan dan keparahan dari suatu kejadian (Ramli. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai analisis risiko kecelakaan kerja menggunakan metode HIRADC (Hazard Identification. Risk Assessment, and Determining Contro. pada pekerjaan Borepile Proyek Jalan Tol Yogyakarta-Bawen Paket 1 (Seksi . Menurut Ameliawati . HIRADC merupakan serangkaian proses mengidentifikasi bahaya yang dapat terjadi dalam aktivitas rutin ataupun non rutin di perusahaan kemudian melakukan penilaian risiko dari bahaya tersebut dan membuat program pengendalian bahaya agar dapat diminimalisir tingkat risikonya ke yang lebih rendah dengan tujuan mencegah terjadinya kecelakaan. Penelitian dengan topik risiko kecelakaan dengan metode HIRADC sudah banyak dilakukan sebelumnya. antaranya adalah penelitian Harahap . yang bertujuan untuk menganalisis risiko kecelakaan kerja pada Proyek Lanjutan Pembangunan Rumah Sakit Regional Langsa, penelitian Lensun . yang bertujuan menganalisis risiko kecelakaan kerja pada Proyek Pembangunan Jembatan dan Oprit Boulevard II, penelitian Jannah . yang bertujuan untuk menganalisis risiko kecelakaan kerja pada Proyek Pembangunan Menara X di Jakarta, dan penelitian Sadewa . yang bertujuan untuk menganalisis risiko kecelakaan kerja pada pekerjaan pilar jembatan. Sedangkan penelitian dengan topik kecelakaan kerja pada pekerjaan borepile juga sudah pernah dilakukan oleh Muntakiro . dengan metode Job Safety Analysis (JSA). Jika diamati, penelitian terdahulu belum ada yang membahas risiko kecelakaan kerja pada pekerjaan borepile dengan metode HIRADC, sehingga penelitian ini diharapkan dapat mengisi gap tersebut. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif di mana penggunaan angka menjadi mayoritas dimulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut serta penampilan serta hasilnya (Syahroni, 2. Penelitian dimulai dengan identifikasi risiko yang didapatkan dari literatur terdahulu dan wawancara. Setelah risiko teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah penilaian risiko yang terdiri dari penilaian probabilitas dan dampak. Penilaian probabilitas dan dampak menggunakan skala likert 1-5, di mana penjelasan dari skala likert tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Penilaian probabilitas dan dampak melalui kuisioner dilakukan oleh responden yang berjumlah 30 orang, di mana responden tersebut dipilih dengan teknik purposive sampling. Responden terdiri dari Health. Musafaq Andi Wardana dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025, . Safety and Environment (HSE) team leader. HSE supervisor. HSE officer, safetyman. Quality Control (QC), dan engineer dari kontraktor, konsultan dan owner yang terlibat pada proyek Jalan Tol Yogyakarta-Bawen Paket 1 Seksi Nilai Tabel 1. Penilaian Probabilitas dan Dampak Probabilitas Dampak Jarang terjadi Tidak signifikan Kadang terjadi Kecil Dapat terjadi Sedang Sering terjadi Tinggi Hampir pasti terjadi Bencana Langkah selanjutnya adalah menghitung severity index dari probabilitas dan dampak menggunakan persamaan 1 dan persamaan 2. Setelah nilai severity index dari probabilitas dan dampak didapatkan, nilai tersebut kemudian dicocokkan dengan tabel kategori probabilitas dan dampak seperti yang tampak pada tabel 2. ycIya . = ycIya . = Oc5 ycn=1 ycaycn ycuycn 5 Oc5 ycn=1 ycuycn Oc5 ycn=1 ycaycn ycuycn 5 Oc5 ycn=1 ycuycn Skala Tabel 2. Kategori Probabilitas dan Dampak Severity Index (%) Probabilitas O 20 Jarang terjadi 21 Ae 40 Kadang terjadi 41 Ae 60 Dapat terjadi 61 Ae 80 Sering terjadi 81 Ae 100 Hampir pasti terjadi Dampak Tidak signifikan Kecil Sedang Tinggi Bencana Setelah kategori dari probabilitas dan dampak didapatkan, langkah selanjutnya adalah menentukan level risiko. Level risiko dibagi menjadi empat yaitu rendah, sedang, tinggi dan ekstrim. Level risiko secara lebih jelas dapat dilihat pada tabel matriks probabilitas dan dampak seperti yang tertera pada tabel 3. Probabilitas Tabel 3. Matriks Probabilitas dan Dampak Dampak Hasil Penelitian Identifikasi Risiko Identifikasi risiko kecelakaan kerja dilakukan melalui tinjauan literatur terdahulu dan wawancara di lokasi Didapatkan 26 risiko pada pekerjaan borepile yang terbagi menjadi risiko pada pekerjaan persiapan, pekerjaan pengeboran, pekerjaan instalasi besi/pemasangan tulangan, pekerjaan pengecoran dan pengelolaan limbah pengecoran seperti yang tampak pada tabel 4 berikut ini: Musafaq Andi Wardana dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025, . No. Tabel 4. Identifikasi Risiko Variabel Risiko Pekerjaan Persiapan Pekerja tidak paham dengan tugas yang akan dikerjakan Permukaan tanah yang tidak rata menyebabkan alat terguling Jalan sekitar proyek mudah rusak dan kotor . erdebu saat kemarau dan berlumpur saat huja. memperlambat pergerakan pekerja dan alat berat Pekerjaan Pengeboran Pekerja terpeleset karena permukaan tanah licin dan tanah mudah longsor Alat Rotary Drilling Rig tidak seimbang Pekerja terjatuh kedalam lubang galian Pekerja tertimbun tanah akibat longsor pada lubang galian Pekerja terjepit atau tertimpa peralatan karena adanya batu besar yang tidak terduga Tergenangnya air lumpur yang menyebabkan area kerja becek Pekerjaan Instalasi Besi/Pemasangan Tulangan Tangan pekerja tertusuk, terjepit dan tergores kawat bendrat dan baja tulangan beton Pekerja tertimpa tulangan Pekerja tertimpa material Bore pile Pekerja terkena percikan api saat menyambungkan tulangan Pekerja tersengat arus listrik Pekerja terkena swing crane saat manuver Mesin pembangkit listrik rusak saat melakukan pengelasan tulangan menyebabkan luka bakar pada pekerja Pekerjaan Pengecoran Pekerja tertimpa pipa tremie Tangan pekerja terkena kunci pipa tremie pada saat pemasangan Pekerja terkena tumpahan pasta beton Pekerja tertabrak truk mixer Tangan pekerja tergores saat membuka pipa tremie Pekerja terbentur concrete bucket Alat crane tidak seimbang pada saat pelepasan casing Pengelolaan Limbah Hasil Pengecoran Pekerja tergelincir saat melewati area sekitar saluran pembuangan hasil pengecoran yang mampet Pekerja terpapar bahan kimia yang terdapat pada limbah hasil pengecoran Pekerja terpeleset karena tercecernya lumpur/tanah di daerah pembuangan Sumber: (Satya, 2. (Pamungkas, 2. (Ramdani, 2. (Hidayat, 2. Observasi Penilaian Risiko Perhitungan Severity Index untuk probabilitas Perhitungan kemungkinan risiko yang terjadi dengan severity index dilakukan dengan mengambil contoh variabel risiko pada pekerjaan pengeboran yaitu pekerja terjepit atau tertimpa peralatan karena adanya batu besar yang tidak terduga. Dari 30 responden, 11 orang memilih jarang terjadi, 9 orang memilih kadang terjadi, 10 orang memilih dapat terjadi. Dari penilaian tersebut kemudian dimasukan ke dalam rumus severity index sebagai berikut: ycIya . = . ycu100% 30ycu5 ycIya . = 11 18 30 0 0 ycu100% = 39,3% Dari hasil SI untuk kemungkinan didapat nilai 39,3 % yaitu berarti jika dikonversikan ke kategori risiko maka pekerja Musafaq Andi Wardana dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025, . terjepit atau tertimpa peralatan karena adanya batu besar yang tidak terduga pada pekerjaan pengeboran memiliki kategori kadang terjadi dan memiliki skala nilai adalah 2 . Perhitungan Severity Index untuk dampak Untuk penilaian dampak risiko diambil contoh pada pekerjaan pengeboran yaitu pekerja terjepit atau tertimpa peralatan karena adanya batu besar yang tidak terduga. Dari 30 responden, 1 orang memilih tidak signifikan, 9 orang memilih kecil, 14 orang memilih sedang, 6 orang memilih tinggi. Dari penilaian tersebut kemudian dimasukan ke dalam rumus severity index sebagai berikut : ycIya . = . ycu100% 30ycu5 ycIya . = 1 18 42 24 0 ycu100% = 56,6% Dari hasil SI untuk dampak didapat nilai 56,6 % yaitu berarti jika dikonversikan ke dalam kategori risiko maka dampak pekerja terjepit atau tertimpa peralatan karena adanya batu besar yang tidak terduga pada pekerjaan pengeboran memiliki kategori sedang dengan skala nilai adalah 3 . Leveling Risiko Setelah didapatkan tingkat probabilitas dan dampak dari setiap risiko, maka poin tersebut diplotkan ke dalam matriks risiko dengan menggunakan rumus perkalian kemungkinan dan dampak. Plot tersebut akan menghasilkan level risiko, dari level rendah hingga ekstrim. Leveling risiko diambil contoh pada pekerjaan pengeboran yaitu pekerja terjepit atau tertimpa peralatan karena adanya batu besar yang tidak terduga memiliki tingkat probabilitas 2 . adang terjad. dan dampak 3 . kemudian dimasukkan ke dalam persamaan sebagai berikut : Tabel 5. Tingkat Risiko Identifikasi Bahaya Pekerjaan Persiapan Pekerja tidak paham dengan tugas yang akan dikerjakan Permukaan tanah yang tidak rata menyebabkan alat terguling Jalan sekitar proyek mudah rusak dan kotor erdebu saat kemarau dan berlumpur saat huja. memperlambat pergerakan pekerja dan alat berat Pekerjaan Pengeboran Pekerja terpeleset karena permukaan tanah licin dan tanah mudah longsor Alat Rotary Drilling Rig tidak seimbang Pekerja terjatuh kedalam lubang galian Pekerja tertimbun tanah akibat longsor pada lubang galian Pekerja terjepit atau tertimpa peralatan karena adanya batu besar yang tidak Tergenangnya air lumpur yang menyebabkan area kerja becek Pekerjaan Instalasi Besi/Pemasangan SI (P) % SI (I) % Skala (P) Skala (I) Nilai Risiko Tingkat Risiko Rendah Sedang 39,3 % Rendah 49,3 % Sedang 42,6 % 33,3 % 47,3% 73,3 % Tinggi Tinggi Ekstrim 39,3% 56,6% Sedang 32,6% Rendah Musafaq Andi Wardana dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025, . Identifikasi Bahaya Tulangan Tangan pekerja tertusuk, terjepit dan tergores kawat bendrat dan baja tulangan 11 Pekerja tertimpa tulangan 12 Pekerja tertimpa material Bore Pile 13 Pekerja terkena percikan api saat menyambungkan tulangan Pekerja tersengat arus listrik Pekerja terkena swing crane saat manuver Mesin pembangkit listrik rusak saat melakukan pengelasan tulangan menyebabkan luka bakar pada pekerja Pekerjaan Pengecoran 17 Pekerja tertimpa pipa tremie 18 Tangan pekerja terkena kunci pipa tremie pada saat pemasangan 19 Pekerja terkena tumpahan pasta beton 20 Pekerja tertabrak truk mixer 21 Tangan pekerja tergores saat membuka pipa tremie 22 Pekerja terbentur concrete bucket 23 Alat crane tidak seimbang pada saat pelepasan casing Pengelolaan Limbah Hasil Pengecoran 24 Pekerja tergelincir saat melewati area sekitar saluran pembuangan hasil pengecoran yang 25 Pekerja terpapar bahan kimia yang terdapat pada limbah hasil pengecoran 26 Pekerja terpeleset karena tercecernya lumpur/tanah di daerah pembuangan Sumber: Analisis Data SI (P) % SI (I) % Skala (P) Skala (I) Nilai Risiko Tingkat Risiko 39,3 % Sedang 74,6 % 68,6 % Tinggi Tinggi Sedang 34,6 % 34,6 % 38,6% 77,3 % Tinggi Tinggi Sedang 53,3 % Sedang Rendah 50,6% 30,6% 35,3% 84,6% 37,3 % Sedang Ekstrim Sedang 30,6 % 27,3 % 48,6 % 62,6 % Sedang Tinggi 47,3 % Tinggi 50,6 % Sedang 57,3 % 36,6 % Sedang Tabel 6. Risiko Pekerjaan Borepile pada Matriks Probabilitas dan Dampak Dampak Probabilitas 2, 8, 10, 6, 11, 12, 1, 3, 9, 18 13, 16, 17, 14, 15, 23 22, 25 4, 19, 21, 5, 24 Sumber: Analisis Data Secara keseluruhan pekerjaan Bore Pile memiliki level risiko sedang. Pada pekerjaan Bore pile terdapat 26 variabel risiko yang mana 2 variabel risiko memiliki tingkat risiko ekstrim dengan presentase 7,7 %, 8 variabel risiko memiliki tingkat risiko tinggi dengan presentase 30,77 %, 12 variabel risiko memiliki tingkat risiko sedang dengan presentase 46,15%, dan 4 variabel risiko memiliki tingkat risiko rendah dengan presentase 15,38 %. Untuk melihat lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 7 sebagai berikut : Musafaq Andi Wardana dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025, . Tabel 7. Presentase Tingkat Risiko Tingkat Risiko Jumlah Variabel 1 Ekstrim 2 Tinggi 3 Sedang 4 Rendah Jumlah Sumber: Analisis Data Presentase (%) 7,7 % 30,77 % 46,15 % 15,38 % Pengendalian Risiko Pengendalian risiko pada penelitian ini yaitu berdasarkan gambar 1 hirarki pengendalian risiko yaitu eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, dan APD (Alat Pelindung Dir. yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangan. Gambar 1. Hirarki Pengendalian Risiko Sumber : Ramli, 2013 Pada penelitian ini didapatkan 26 variabel risiko bahaya dengan cara pengendalian yang bervariasi. Berikut ini merupakan tindakan pengendalian pada masing-masing risiko : Pengendalian risiko dengan cara substitusi berupa lakukan perbaikan atau penggantian material tulangan jika diperlukan, pastikan tulangan terpasang dengan benar sesuai standar. Pengendalian risiko dengan cara rekayasa teknik berupa merencanakan rute pergerakan alat-alat dalam proyek, pastikan tidak ada genangan air dengan memperhatikan sistem drainase untuk mengalirkan air hujan di area proyek, pemasangan dinding penahan . etaining wal. , penggunaan bentonite untuk stabilitas tanah, melakukan perbaikan, lakukan kalibrasi ulang pada sistem hidraulik dan sistem counterweight, desain crane dan alat angkut dengan pengaman tambahan agar material, gunakan metode khusus seperti peledakan yang terkontrol, , menentukan radius pergerakan jangkauan ayunan crane, membungkus kabel yang melintang di jalan dengan pipa kemudian ditimbun menggunakan tanah, menghitung berat beban casing dan kapasitas daya angkat crane, gunakan alat bantu khusus untuk memotong atau membengkokan kawat bendrat agar tidak kontak langsung dengan tangan, merencanakan rute pergerakan alat dalam proyek, menghindari sambungan tremie sistem ulir tanpa pengaman tambahan, limbah cair dari pengecoran harus diolah melalui instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) sebelum dibuang, dan menyiapkan area pembuangan yang layak, saat mengangkut lumpur pastikan wadahnya tertutup rapat untuk mencegah lumpur yang tercecer. Pengendalian risiko dengan cara administrasi berupa pemasangan safety line, pemasangan rubber cone pada tempat-tempat yang berbahaya, pemasangan lampu rotary pada waktu malam hari untuk menerangi Musafaq Andi Wardana dkk. Jurnal Surya Beton. Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025, . akses di area kerja, melaksanakan tool box meeting sebelum melakukan pekerjaan untuk menjelaskan tugas yang akan dikerjakan dan risiko yang mungkin akan dihadapi, menyiram jalan pada saat musim kemarau agar tidak berdebu, pemasangan railing pengaman, pemasangan rambu-rambu peringatan untuk memberikan peringatan mengenai bahaya di sekitar area kerja, mengadakan pelatiham kerja, merencanakan rute pergerakan alat dalam proyek dan memastikan ada pengawasan yang cukup di area kerja, meletakan alat ditempat yang aman agar tidak menjatuhinya ketika ada getaran yang keras saat terkena batu besar, melakukan pemeliharaan dan pemeriksaan secara rutin pada alat yang digunakan, memastikan material yang digunakan disusun dengan rapi dan aman, melakukan pemeliharaan dan pemeriksaan secara rutin pada alat yang digunakan, memastikan material yang digunakan disusun dengan rapi dan aman, periksa posisi crane, pastikan berat casing sesuai dengan kapasitas angkat crane, dan membersihkan saluran secara rutin, serta membuat drainase. Pengendalian risiko dengan cara APD (Alat Pelindung Dir. berupa pekerja memakai alat pelindung jatuh dengan cara memakai alat pelindung kepala dengan cara menggunakan helm safety untuk melindungi kepala dari benturan atau jatuhnya material pada semua pekerjaan. Pekerja memakai alat pelindung badan berupa rompi safety untuk melindungi bagian tubuh khususnya bagian dada dari pecikan benda cair, padat, radiasi sinar dan panas serta untuk meningkatkan visibilitas pekerja di area kerja. Pekerja memakai pelindung tangan berupa sarung tangan untuk melindungi bagian jari dari bahan kimia, panas, atau benda tajam dan memakai pelindung kaki berupa sepatu safety untuk melindungi bagian telapak kaki, tumit atau betis dari benda panas, cair, kejatuhan benda, tertusuk benda tajam dan memasang safety line untuk memberi tanda area yang berbahaya atau area terlarang serta memberikan peringatan kepada pekerja untuk tidak memasuki area tersebut. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan sebanyak 26 risiko kecelakaan kerja pada pekerjaan borepile yang terbagi menjadi risiko kecelakaan pada pekerjaan persiapan, pekerjaan pengeboran, pekerjaan instalasi besi/pemasangan tulangan, pekerjaan pengecoran, dan pengelolaan limbah hasil pengecoran. Dari 26 risiko tersebut, diperoleh 2 risiko dengan tingkat risiko ekstrim . ,7 %), 8 risiko dengan tingkat risiko tinggi . ,77 %), 12 risiko dengan tingkat risiko sedang . ,15%), dan 4 risiko dengan tingkat risiko rendah . ,38 %). Pengendalian risiko yang dilakukan pada penelitian ini yaitu berupa substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administrasi, dan pemakaian APD (Alat Pelindung Dir. Untuk penelitian selanjutnya dapat membandingkan metode HIRADC dengan metode lain seperti HAZOP (Hazard and Operability Stud. Selain itu penelitian bisa dilanjutkan dengan objek lain seperti pekerjaan pier head, pekerjaan abutment, pekerjaan pile cap, maupun pekerjaan galian dan timbunan. Penelitian selanjutnya juga dapat menambahkan biaya contingency . yang diperlukan untuk mengantisipasi kecelakaan kerja. Daftar Pustaka