Journal Eboni e-ISSN:2715-6451 Vol 7. : 9 Ae 12. Juni 2026 Doi: 10. 46918/eboni. ANALISIS PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DAN BAHAYA EROSI DI DAS SUSO MENGGUNAKAN MODEL SWAT Analysis of Land Cover Changes and Erosion Hazards in the Suso Watershed Using the SWAT Model Maryani Sempa, 1*Wahyuni Affiliation Departemen Kehutanan. Fakultas Kehutanan. Universitas Hasamuddin Coresponding author: *wahyuni@unhas. Abstract Land cover change is primarily caused by direct land use, which, if carried out without considering conservation measures, can lead to the degradation of watershed quality, resulting in increased sedimentation and erosion with low infiltration rates. This study aims to examine land cover changes, other factors influencing erosion, and the effect of land cover on erosion in the Suso Watershed in 2018 and 2023 using the Soil and Water Assessment Tool (SWAT) model. The study consists of three stages: . Analysis of land cover data for 2018 and 2023 to identify changes in land cover related to erosion . Analysis of other influencing factors such as slope, rainfall, and soil and . Erosion hazard modeling using SWAT. Land cover change in the Suso Watershed between 2018 and 2023 relevant erosion hazard levels. 2018, the area was predominantly classified under moderate erosion hazard . Ae180 tons/ha/yea. , while in 2023, it shifted to being dominated by the severe erosion hazard category . Ae480 tons/ha/yea. Other factors contributing relevant to erosion include steep slope conditions (>45%), high annual rainfall . ,700. 50Ae2,759. 06 mm in 2. , which increased to a very high category in 2023 . ,062. 72Ae3,157. 82 m. , and the predominance of inceptisol soil types. The conversion of forested land to non-forested land, along with other influencing factors, has contributed to the increase in erosion hazard levels in the Suso Watershed. Submit: 2026-5-3 Accepted: 2026-6-15 COPYRIGHT A 2025 by Journal Eboni. This Work is licenced under a Creative Commons Atribution 4. 0 International License Keywords Land Cover Change. Erosion. Erosion Hazard. SWAT. Suso Watershed Pendahuluan Salah satu tantangan dalam pengelolaan DAS adalah tekanan akibat peningkatan aktivitas manusia yang berkaitan dengan kebutuhan lahan. Kepadatan penduduk yang terus meningkat seiring perkembangan zaman maka kebutuhan akan lahan untuk perkebunan, pertanian dan sebagainya juga ikut meningkat. Pembukaan lahan pada akhirnya dilakukan demi mengatasi masalah tersebut. Pembukaan lahan yang dilakukan tanpa mempertimbangankan tindakan konservasi dapat mengakibatkan penurunan kualitas DAS dan kerusakan lingkungan hidup seperti erosi, banjir, kekeringan dan sebagainya. Perubahan tutupan lahan pada suatu DAS yang awalnya hutan sekarang berganti semak belukar, sawah, perkebunan, permukiman dan pertambangan menimbulkan beberapa permasalahan (Khalid et al. , 2. Perubahan tata guna lahan di suatu wilayah disebabkan karena adanya pemanfaatan lahan secara Degradasi lahan akibat dari perubahan penggunaan lahan yang tidak tergabung dalam tindakan pencegahan bahaya yang nyata menimbulkan besarnya sedimentasi dan erosi dengan tingkat infiltrasi yang rendah. Vegetasi dan pengelolaan lahan biasanya berubah akibat alih fungsi lahan oleh Kedua komponen ini menghasilkan peranan yang besar akan erosi di suatu DAS (Khalid et , 2. Menurut Kubangun . faktor utama penyebab terjadinya perubahan penutupan/penggunaan lahan secara umum adalah karena peningkatan jumlah penduduk, sehingga mengakibatkan adanya perkembangan ekonomi yang menuntut ketersediaan lahan bagi penggunaan lahan lain, seperti permukiman, industri, infrastruktur, maupun jasa. Selain itu, konversi lahan pertanian, hutan, rumput, dan lahan basah untuk daerah perkotaan biasanya menyebabkan peningkatan aliran air di permukaan tanah, yang dapat mengubah kondisi hidrologi alami dalam suatu Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. DAS (Akbar et al. , 2. Sehingga peningkatan aliran permukaan dapat berdampak pada terjadinya Erosi adalah proses dua tahap yang terdiri dari penguraian massa tanah menjadi partikel-partikel tunggal, serta pengangkutan partikel-partikel tersebut oleh tenaga-tenaga erosi, seperti aliran air dan angin menurut Morgan . 7 dalam Taryono, 2. Menurut Arsyad . , erosi terjadi akibat interaksi kerja antara faktor iklim, topografi, tanah, vegetasi dan manusia. Faktor-faktor penyebab erosi tanah adalah iklim, kondisi tanah, topografi, tanaman penutup permukaan tanah dan gangguan tanah oleh aktivitas manusia. Erosi merupakan proses alamiah yang tidak bisa atau sulit untuk dihilangkan sama sekali atau tingkat erosinya nol, khususnya untuk lahan-lahan yang diusahakan dalam lahan pertanian (Seran, 2. Perkembangan perubahan tutupan lahan suatu wilayah dapat dianalisis dengan memanfaatkan data penginderaan jauh . emote sensin. berupa citra satelit multitemporal. Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu cara untuk mengetahui secara cepat alih fungsi lahan (Suni et al. , 2. Citra penginderaan jauh, dapat memberikan gambaran keruangan dan ukuran yang merupakan data yang bermanfaat dalam mempelajari fenomena atau kenampakan muka bumi, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar rencana dan pemanfaatan praktis (Feri, 2. Melalui sistem penginderaan jauh dapat mempermudah penyajian informasi spasial khususnya yang terkait dengan kondisi lahan serta dapat menganalisis dan memperoleh informasi terbaru kondisi suatu lingkup wilayah tertentu (Suni et al. , 2. DAS Suso merupakan salah satu daerah aliran sungai yang terletak di tiga wilayah administrasi, yaitu kabupaten Luwu. Kabupaten Enrekang, dan Kabupaten Tana Toraja. Provinsi Sulawesi Selatan, dengan luas sekitar A36. 861,60 ha. Permasalahan DAS Suso terutama pada wilayah Luwu jika dilihat dari hasil analisi potensi bahaya banjir Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2021 daerah Luwu termasuk kedalam kelas tinggi bahaya banjir dan banjir bandang (BNPB, 2. Kondisi sungai Suso pada bulan April tahun 2023 yang dikutip dari berita Detik. com menurut Kepala BPBD Luwu Alamsyah sungai Suso mengalami peningkatan debit air yang terjadi karena wilayah bagian hulu dilanda hujan lebat sehingga mengakibatkan banjir bandang pada tiga kecamatan yaitu Kecamatan Latimojong. Bajo Barat dan Suli. Selain banjir, bahaya tanah longsor menjadi salah satu permasalah di DAS Suso. Bahaya tanah longsor ini diasumsikan sebagai faktor penyebab terjadinya banjir bandang karena hasil longsornya dapat menyumbat aliran sungai di wilayah hulu sungai (BNPB, 2. Banjir terjadi dapat disebabkan oleh meningkatnya sedimentasi dan terjadinya erosi. Hal tersebut terjadi karena penyangga lingkungan yang tidak berperan secara wajar mengakibatkan kerusakan yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas aliran air hulu dan hilir serta lahan kritis. Pengelolaan DAS yang tanpa menghadirkan tindakan pelestarian menjadikan erosi sebagai akibat dari produktivitas lahan yang terdegradasi. Laju erosi meningkat karena penurunan infiltrasi akibat DAS yang mengalami kerusakan memicu terjadinya aliran permukaan dan kenaikan perubahan debit air serta tingginya sedimentasi wilayah yang rendah terutama DAS bagian hilir. Berdasarkan uraian diatas, perlu dilakukan penelitian Analisis Pengaruh Perubahan Penutupan Lahan Terhadap Erosi di DAS Suso. Analisis karakteristik tersebut dilakukan dengan menggunakan metode SWAT (Soil Water Assesment Too. SWAT merupakan physically based model yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dan membuat prediksi pada berbagai ukuran DAS (Neitsch et al. , 2. Model ini dikembangkan di USDA (United States Department of Agricultur. untuk memprediksi pengaruh pengambilan keputusan terhadap karakteristik hidrologi, hasil sedimen, unsur hara, dan polusi pada suatu DAS. Selain itu. SWAT dapat menganalisis DAS secara spasial, yaitu berupa Sub DAS atau HRU (Hydrologic Response Uni. (Christanto et al. , 2. Model SWAT dapat memberikan informasi mengenai dampak tata guna lahan dan kondisi lingkungan terhadap laju erosi. Penelitian terkait perubahan penutupan lahan dan erosi telah banyak dilakukan di berbagai DAS di Indonesia. Namun, kajian yang mengintegrasikan perubahan penutupan lahan tahun 2018Ae2023 dengan analisis bahaya erosi berbasis model SWAT pada DAS Suso masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perubahan penutupan lahan, faktor biofisik, dan bahaya erosi menggunakan model SWAT pada DAS Suso. Methode Tempat dan waktu penelitian Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari 2024 sampai Juli 2025 di DAS Suso yang secara administrasi terletak di tiga Kabupaten yaitu. Kabupaten Luwu. Kabupaten Enrekang, dan Kabupaten Tanah Toraja. Provinsi Sulawesi Selatan. Indonesia. Tahapan Penelitian Tahapan dalam kegiatan penelitian yaitu kegiatan pengamatan dan pengambilan sampel tanah dilapangan dilaksanakan selama kurang lebih 3 minggu serta analisis data dilakukan di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin antara lain analisis spasial dilakukan di Laboratorium Pengelolaan Daerah Aliran Sungai selama 5 Bulan dan uji tanah dilakukan di Laboratorium Silvikultur dan Fisiologi Pohon selama 2 Bulan 1 Minggu. Penelitian ini dilaksakan selama 1 tahun 6 bulan dimana pengerjaan penelitian ini tidak menyeluruh dilakukan dalam waktu tersebut. Namun, selama 6 bulan penelitian terhenti karena pekerjaan. Sumber dan Jenis Data Untuk sumber dan jenis data dapat dilihat pada tabel 02. Tabel 01. Sumber dan jenis data Jenis Data Sumber Data Tahun Citra Sentinel-2 Fungsi Analisis penutupan lahan DEMNAS Copernicus Open Access 2018 dan 2023 Hub INAGEOPORTAL Data Tanah Data Iklim Reprot NASA POWER Analisis jenis tanah Input model SWAT 2014Ae2023 Analisis lereng dan delineasi DAS Hasil Dan Pembahasan Hasil Penutupan Lahan DAS Penutupan lahan yang dihasilkan dari interpretasi citra pada tahun 2018 dan 2023, diperoleh sebanyak sembilan kelas klasifikasi penutupan lahan yang berada di DAS Suso dengan luasan yang berbeda-beda. Kelas dan luasan penutupan lahan pada DAS Suso dapat dilihat pada Tabel 02. Tabel 02. Penutupan Lahan DAS Suso Tahun 2018 dan 2023 Kelas Penutupan Lahan Hutan Lahan Kering Primer Hutan Lahan Kering Sekunder Permukiman Perkebunan Pertanian Lahan Kering Campur Sawah Semak Belukar Tambak Tubuh Air Total Penutupan Lahan 224,56 0,61 140,63 0,38 992,23 48,81 173,78 46,59 573,48 29,11 1,56 0,08 633,26 28,35 1,72 0,08 003,73 40,70 123,11 43,74 559,75 187,47 91,26 200,00 861,60 4,23 3,22 0,25 0,54 100,00 914,14 556,88 91,46 200,00 861,60 5,20 1,51 0,25 0,54 100,00 Pada Tabel 2, dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan luasan antara penutupan lahan tahun 2018 dan penutupan lahan tahun 2023 di DAS Suso. Kondisi penutupan lahan di DAS Suso pada tahun 2018 didominasi dengan hutan lahan kering sekunder dengan luas 17. 992,23 ha . ,81%) dan pertanian lahan kering campur seluas 15. 003,73 ha . ,70%), sedangkan pada tahun 2023 masih didominasi tutupan lahan hutan lahan kering sekunder dan pertanian lahan kering campur semak tetapi telah mengalami perubahan luasan. Hasil Interpretasi citra satelit sentinel 2 selanjutnya dilakukan validasi atau uji akurasi. Penilaian akurasi dilakukan pada kelas penutupan lahan pada tahun 2018 dan 2023 untuk melihat kecocokan dan tingkat ketelitian hasil prediksi interpretasi dengan citra Google Earth Time Series dan aktual penutupan lahan. Uji akurasi yang digunakan yaitu tabel confution matrix yang akan digunakan untuk memperoleh Overall Accuracy dan Kappa Accuracy. Jumlah titik sampel di tahun 2018 sebanyak Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. 161 titik dan tahun 2023 berjumlah 160 titik. Pebedaan jumlah titik uji akurasi dilapangan ini dikarenakan adanya perubahan luasan pada kelas penggunaan lahan. Sehingga diperoleh nilai Overall Accuracy dan Kappa Accuracy masing-masing tahun sebesar 95,30%, 92,94% dan 94,70%, 92,10%. Uji akurasi klasifikasi citra dilakukan menggunakan confusion matrix untuk memperoleh nilai Overall Accuracy dan Kappa Accuracy. Jumlah titik validasi tahun 2018 sebanyak 161 titik dan tahun 2023 sebanyak 160 titik. Nilai Overall Accuracy dan Kappa Accuracy masing-masing sebesar: A Tahun 2018: 95,30% dan 92,94% A Tahun 2023: 94,70% dan 92,10% Nilai tersebut menunjukkan bahwa hasil interpretasi citra dapat diterima karena memiliki tingkat akurasi di atas 85%. Dimana tingkat keaakuratan interpretasi citra dapat diterima jika >85% (Lillesand dan Kiefer, 2004 dalam Siregar dan Asbi, 2. Perubahan Penutupan Lahan Tahun 2018 dan Tahun 2023 Perubahan penutupan lahan merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan suatu DAS mengalami kerusakan lingkungan. Perubahan tutupan lahan dari vegetasi yang baik menjadi buruk juga dapat menyebabkan peningkatan erosi (Eisenberg & Muvundja, 2. Data penutupan lahan diperoleh dari interpretasi citra Sentinel-2 tahun 2018 dan 2023 menggunakan aplikasi ArcMap. Interpretasi citra dilakukan berdasarkan petunjuk teknis penafsiran citra satelit. Validasi penutupan lahan tahun 2018 dilakukan menggunakan Google Earth Time Series, sedangkan tahun 2023 dilakukan melalui pengecekan lapangan. Peningkatan erosi dapat terjadi akibat pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan kapasitas atau daya dukung lahan (Sidik, 2. Mengetahui perubahan penutupan lahan di DAS Suso diakukan dengan overlay penutupan lahan pada tahun 2018 ke 2023 sehingga diperoleh perubahan penutupan lahan apa saja yang berubah dalam 5 tahun terakhir. Perubahan penutupan lahan tahun 2018 ke tahun 2023 dapat dilihat pada Tabel 03. Tabel 03. Luas Perubahan Penutupan Lahan Tahun 2018 ke Tahun 2023 Penutupan Lahan Hutan Lahan Kering Primer Hutan Lahan Kering Sekunder Pemukiman Perkebunan Pertanian Lahan Kering Campur Sawah Semak Belukar Tambak Tubuh Air Keterangan 224,56 0,61 0,38 83,93 0,23 Berkurang 992,23 48,81 46,59 818,45 2,22 Berkurang 573,48 29,11 1,56 0,08 1,72 0,08 59,78 0,76 0,16 0,01 Bertambah Berkurang 003,73 40,70 43,74 119,38 3,03 Bertambah 559,75 4,23 5,20 354,39 0,97 Bertambah 187,47 3,22 1,51 630,59 1,71 Berkurang 91,26 200,00 0,25 0,54 0,25 0,54 0,19 0,00 0,01 0,00 Bertambah Tetap Berdasarkan tabel distribusi luas perubahan penutupan lahan tahun 2018 ke tahun 2023 diketahui bahwa hutan lahan kering sekunder merupakan penutupan lahan yang mengalami penurunan terbesar yang sebelumnya 17. 992,23 ha menjadi 17. 173,78 ha. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan tutupan lahan menjadi permukiman, pertanian lahan kering campur semak dan semak Perubahan tersebut terjadi karena tingkat kebutuhan masyarakat akan ekonomi semakin meningkat disertai dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang kian terus meningkat. Perubahan penutupan lahan tahun 2018Ae2023 menunjukkan adanya penurunan luas hutan lahan kering sekunder dari 17. 992,23 ha menjadi 17. 173,78 ha. Sebaliknya, pertanian lahan kering campur mengalami peningkatan dari 15. 003,73 ha menjadi 16. 123,11 ha. Selain itu, sawah mengalami peningkatan luas dari 1. 559,75 ha menjadi 1. 914,14 ha, sedangkan semak belukar mengalami penurunan dari 1. 187,47 ha menjadi 556,88 ha. Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Simulasi SWAT Pemodelan SWAT dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu delineasi batas DAS, pembentukan Hydrological Response Unit (HRU), dan simulasi model. Delineasi DAS dilakukan menggunakan data DEMNAS untuk menentukan jaringan sungai dan outlet DAS. Pembentukan HRU dilakukan melalui overlay data penutupan lahan, jenis tanah, dan kelas lereng. Simulasi SWAT menggunakan data iklim berupa curah hujan, suhu udara, kelembaban, radiasi matahari, dan kecepatan angin. Simulasi SWAT dilakukan menggunakan simulasi harian dengan rentang waktu periode 5 tahun terakhir yaitu tahun 2014 - 2018 untuk penutupan lahan tahun 2018 dan mulai tahun 2019 - 2023 untuk penutupan lahan tahun 2023. Pada simulasi SWAT terdapat beberapa hasil simulasi yang dihasilkan yaitu file SUB menyimpan informasi mengenai sub-sub yang ada pada DAS yang diteliti, file HRU berisi informasi untuk tiap-tiap HRU pada DAS yang diteliti, dan file RCH mengandung informasi terkait dengan masing-masing sungai utama dalam sub DAS. Hasil simulasi SWAT pada tahun 2018 dan tahun 2023 DAS Suso menghasilkan gambaran umum kondisi hidrologi dalam bentuk gambar yang dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Hasil Simulasi SWAT DAS Suso. Simulasi SWAT Tahun 2018, . Simulasi SWAT Tahun 2023 Kondisi hidrologi dari tahun 2018 ke tahun 2023 mengalami peningkatan yaitu curah hujan, aliran permukaan, aliran lateral, infiltrasi, dan evapotraspirasi yang persentase peningkatannya masingmasing senilai 14,3%, 33,5%, 13,8%, 20,8%, dan 2,5%. Hal tersebut, diketahui nilai infiltrasi mengalami peningkatan tetapi jika dibandingkan dengan aliran permukaan dan aliran lateral total nilai aliran permukaan dan aliran lateral lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa curah hujan yang jatuh kepermukaan tanah lebih banyak mengalir diatas permukaan tanah dari pada meresap kedalam tanah sehingga tingginya nilai tersebut dapat memicu terjadinya erosi dan banjir pada daerah DAS Suso. Penutupan lahan pada tahun 2018 ke tahun 2023 vegetasinya mengalami penurunan dari berhutan menjadi tidak berhutan yaitu semak belukar berkurang 1,71%, hutan lahan kering sekunder 2,22%, hutan lahan kering primer 0,23%. Penurunan vegetasi dapat menyebabkan berkurangnya kanopi serta sistem perakaran yang berfungsi membantu dalam penyerapan air hujan, mengurangi kecepatan limpasan permukaan dan mengikat stuktur tanah. Sehingga jika curah hujan tinggi pada tahun 2023 dan infiltrasi yang terjadi lebih rendah dari aliran permukaan dan aliran lateral pada saat terjadi pembukaan lahan berhutan menjadi tidak berhutan maka dapat memicu terjadinya erosi dan banjir pada daerah DAS Suso sekalipun jika dilihat nilai evapotranspirasinya meningkat dari tahun sebelumnnya. Faktor-Faktor Lain yang Mempengaruhi Erosi Erosi terjadi karena adanya gaya pengikis yang mengangkat dan memindahkan partikel tanah dari satu tempat ke tempat lain. Iklim, tanah, topografi, dan interaksinya merupakan fenomena alam yang bervariasi sesuai dengan lingkungan biofisik dan dapat menentukan tingkat erosi tanah. Topografi Kondisi topografi pada Sub DAS Suso diperoleh dari hasil analisis data DEM yang menghasilkan kelas lereng yang bervariasi yaitu datar . -8%), landai . -15%), agak curam . -25%), curam . -45%), dan sangat curam (>45%). Sebaran kelas lereng pada DAS Suso dapat dilihat pada Gambar 2. Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Gambar 2. Kemiringan Lereng DAS Suso Berdasarkan hasil analisis topografi tersebut, kelas kelerengan tertinggi berada pada kelas sangat curam (>45%) sehingga dapat diketahui bahwa pada tahun 2018 DAS Suso rentan terhadap erosi. Apabila dilakukan pembukaan lahan pada daerah yang memiliki kelerengan curam hingga sangat curam dengan tidak mempertimbangkan kondisi lingkungan maka pada tahun 2023 DAS Suso akan mengalami peningkatan terhadap besarnya erosi. Kondisi topografi DAS Suso didominasi oleh kelas lereng sangat curam (>45%). Kondisi lereng yang curam hingga sangat curam dapat meningkatkan aliran permukaan dan memperbesar potensi terjadinya erosi. Hal ini disebabkan oleh besarnya total luasan wilayah yang termasuk dalam kategori kelas lereng curam, yaitu seluas 10. 312,45 ha, serta lereng sangat curam sebesar 18. 299,31 ha. Salah satu faktor penentu terjadinya erosi adalah faktor kelerengan lahan. Tabel 04. Luas Sub DAS Berdasarkan Kelas Lereng Sub DAS Luas Kelas Kelerengan . Datar . -8%) Landai . -15%) Agak Curam . -25%) Curam . -45%) Sangat Curam (>45%) 4,34 12,33 38,95 307,14 762,92 6,84 15,32 41,26 204,17 733,30 7,99 10,93 16,22 64,81 191,78 58,21 141,56 403,45 733,04 865,09 193,47 241,74 408,38 381,35 404,69 160,29 138,00 238,54 822,04 358,26 4,89 17,77 65,64 392,65 718,17 11,09 34,52 120,25 570,98 111,91 082,46 551,80 485,89 918,52 986,52 378,78 148,07 125,14 243,05 232,88 27,64 75,64 225,70 114,38 485,25 156,33 128,53 75,70 43,41 44,63 218,49 191,24 175,59 334,80 412,14 819,92 229,34 139,79 99,73 79,70 13,71 48,01 196,96 880,48 392,71 12,25 42,05 150,06 693,63 157,21 11,78 36,02 110,97 508,27 362,17 Total 168,48 062,87 018,50 312,45 299,31 Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Tanah Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi erosi adalah tekstur, struktur, permeabilitas tanah dan kandungan bahan organik. Pada umumnya sesuai dengan data tanah Reprot. Sub DAS Suso memiliki 3 . kombinasi jenis tanah yaitu Ultisols. Entisols. Inceptisols. Entisols. Hasil tanah Reprot tersebut kemudian di overlay dengan peta kemiringan lereng sehingga didapatkan sebanyak 15 unit lahan. Untuk sebaran jenis tanah DAS Suso dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 05. Sebaran Jenis Tanah DAS Suso Kode Jenis Tanah Tekstur tanah Tanah Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 UL 1 Ultisols. Entisols Lempung berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir UL 2 Inceptisols Lempung berdebu Lempung berdebu Lempung berdebu UL 3 Inceptisols Lempung berdebu Lempung berdebu Lempung berdebu UL 4 Ultisols. Entisols Lempung berpasir Pasir berlempung Lempung berpasir UL 5 Ultisols. Entisols Lempung berpasir Lempung berdebu Lempung berdebu UL 6 Inceptisols Lempung berdebu Lempung berdebu Lempung berdebu UL 7 Ultisols. Entisols Lempung berpasir Lempung berpasir Lempung berpasir UL 8 Inceptisols Lempung berdebu Lempung berdebu Lempung berdebu UL 9 Inceptisols Lempung berdebu Lempung berdebu Lempung berdebu UL 10 Inceptisols Lempung berdebu Lempung Lempung UL 11 Ultisols. Entisols Lempung berpasir Pasir berlempung Pasir berlempung UL 12 Inceptisols Lempung Lempung Lempung berdebu UL 13 Inceptisols Lempung berdebu Lempung berdebu Lempung berdebu UL 14 Inceptisols Lempung berdebu Lempung berdebu Lempung berdebu UL 15 Entisols Lempung berpasir Lempung liat berdebu Lempung berliat Sumber : Hasil Analisis SIG, 2025. Jenis tanah di DAS Suso didominasi oleh tanah Inceptisol. Jenis tanah ini memiliki tingkat perkembangan horizon yang masih lemah dan cukup rentan terhadap erosi apabila berada pada daerah dengan curah hujan tinggi dan lereng curam. Gambar 3. Peta Jenis Tanah DAS Suso Curah Hujan Data curah hujan DAS Suso diperoleh dari data 8 stasiun dengan jumlah curah hujan yang Data curah hujan ditentukan dengan metode isohyet pada periode selama 5 Tahun pada setiap tahun yang dianalisis dalam hal ini pada tahun 2018 periode curah hujan dari tahun 20142018 selanjutnya tahun 2023 dari periode 2019-2023. Sebaran curah hujan tahun 2018 DAS Suso paling dominan oleh rentang 2. 750,57 Ae 2. 759,06 mm/tahun. Sedangkan sebaran curah hujan pada tahun 2023 paling dominan berada pada rentang 3. 078,01Ae3. 098,15 mm/tahun. Sebaran curah hujan DAS Suso tahun 2018 dapat dilihat pada Gambar 4. Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Tabel 06. Klasifikasi Curah Hujan No. Curah Hujan . m/tahu. < 1. Kategori Nilai Sangat Rendah 500 - <2. Rendah 000 - < 2. Sedang 500 - <3. Tinggi >= 3. Sangat Tinggi Sumber: Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P. 3/V-SET/2013 Gambar 4. Curah Hujan DAS Suso. Curah Hujan Tahun 2018, . Curah Hujan Tahun 2023 Curah hujan di DAS Suso pada tahun 2018 termasuk kategori tinggi dengan kisaran 2. 700,50Ae 759,06 mm/tahun, sedangkan pada tahun 2023 meningkat menjadi kategori sangat tinggi dengan 062,72Ae3. 157,82 mm/tahun. Analisis Bahaya Erosi Nilai bahaya erosi di DAS Suso dapat dikelompokkan sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P. 3/V-SET/2013, yang mengatur Pedoman Identifikasi Karakteristik Daerah Aliran Sungai. Berdasarkan peraturan ini, kelas bahaya erosi di DAS Suso dibagi menjadi lima kategori, yaitu: sangat ringan . -SR), ringan (I-R), sedang (II-S), berat . -B), dan sangat berat (IV-SB). Sebaran erosi didominasi oleh kelas bahaya erosi sedang. Secara keseluruhan berdasarkan perwilayahan DAS bagian hulu, tengah dan hilir diperoleh bahwa erosi tertinggi terjadi pada bagian tengah DAS. Hal ini terjadi karena pada bagian tengah DAS memiliki kecepatan aliran masih cukup tinggi dan volume air yang makin besar serta adanya kombinasi dari aktifitas manusia pada daerah tersebut. Aktifitas manusia berupa pembukaan lahan yang digunakan sebagai pertanian, permukiman dan infrastuktur yang dapat memperparah besarnya erosi. Karakteristik pada bagian tengah DAS Suso dengan kategori sedang memiliki curah hujan yang dominan kategori tinggi berkisar 2. 750,57 Ae 2. 759,06 mm/tahun seluas 8. 789,90 ha. Hasil simulasi SWAT menunjukkan bahwa kelas bahaya erosi pada tahun 2018 didominasi kategori sedang . Ae180 ton/ha/tahu. , sedangkan pada tahun 2023 didominasi kategori berat . Ae480 ton/ha/tahu. Perubahan penutupan lahan dari kawasan berhutan menjadi non-hutan menyebabkan peningkatan bahaya erosi pada beberapa sub DAS. Dominannya curah hujan dengan kategori tinggi dapat menyebabkan terjadinya erosi. Hal ini sejalan dengan penelitian (Sadewo et al,. bahwa semakin tinggi dan lama intensitas hujan, maka tingkat erosi akan semakin meningkat. Erosi juga mudah terjadi pada medan yang curam seperti pada kelas bahaya erosi sedang di bagian tengah DAS berada pada kelerengan >45% (Sangat Cura. dengan luas 6. 488,71 ha. Kondisi tanah wilayah ini tergolong kedalam jenis tanah inceptisol, dimana tanah inceptisol rentan terjadi erosi sebab tanah ini tergolong tanah yang masih muda dan pada umumnya memiliki kandungan organik yang rendah. Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Tabel 07. Klasifikasi Bahaya Erosi Tahun 2018 dan 2023 No Kelas Bahaya Erosi (KBE) Hulu . Tengah . Sangat Ringan (<15 ton/ha/tahu. Ringan . -60 ton/ha/tahu. Sedang . -180 ton/ha/tahu. 724,6433. 127,8499. 371,5755. 635,4522. 193,0611. 964,87 Berat . -480 ton/ha/tahu. 060,6666. 682,7411. 452,5288. 489,58 3371,82 11. 764,46 Sangat Berat (>480 ton/ha/tahu. Sumber : Hasil Analisis SIG, 2025. 022,5822. 307,1411. 211,9511. 245,85 2241,16 2241,59 1134,54 444,95 Hilir . 4485,61 1174,78 33. 069,4422. 226,02 384,92 1179,99 33. 502,44 4459,13 22. 634,6822. 317,20 Menurut Munir . tanah inceptisol peka terhadap erosi karena belum terbentuknya agregat tanah yang stabil. Peta sebaran Kelas Bahaya Erosi tahun 2018 pada Gambar 5. Gambar 5. Kelas Bahaya Erosi Tahun 2018 Sebaran peta kelas bahaya erosi tahun 2023 memiliki kategori bahaya erosi yang mendominasi DAS Suso yaitu kelas berat. Hal tersebut disebabkan oleh, hasil analisis curah hujan pada tahun 2023 lebih meningkat dibandingkan tahun 2018 yaitu berada pada rentang 3. 078,01 Ae 3. 098,15 mm/tahun seluas 8. 072,09 ha dan termasuk kedalam kategori kelas sangat tinggi curah hujan. Hal ini dapat memicu peningkatan erosi dari tahun sebelumnnya. Secara topografi kelerengan pada kelas bahaya erosi berat pada bagian tengah dan sangat berat pada bagian hulu paling dominan berada pada kelas >45% . angat cura. dengan luas masing-masing 7. 787,26 ha dan 2. 202,77 ha serta kedua kelas bahaya erosi tersebut didominasi oleh jenis tanah inceptisol. Peta sebaran Kelas Bahaya Erosi tahun 2023 pada Gambar 6. Gambar 6. Kelas Bahaya Erosi Tahun 2023 Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Pengaruh Perubahan Penutupan Lahan Terhadap Erosi Analisis erosi menggunakan model SWAT pada DAS Suso diperoleh beberapa perbedaan nilai erosi antara tahun 2018 dan tahun 2023 pada setiap 17 Sub DAS yang terbentuk. Hasil analisis diperoleh peningkatan nilai erosi paling tinggi berada pada Sub DAS 12 dan Sub DAS 14. Peningkatan nilai erosi yang signifikan pada Sub DAS 12 dan Sub DAS 14 dari tahun 2018 ke 2023 menunjukkan adanya degradasi kondisi lahan. Pada Sub DAS 12, erosi meningkat empat kali lipat, yang secara langsung berkorelasi dengan penurunan luas lahan berhutan atau bervegetasi seperti pertnian lahan kering campur semak sebesar 294,63 ha . dan 266,84 ha . Selain itu, lahan sawah dengan peningkatan perubahan lahan terbesar dengan luas 3,07 ha . dan 26,97 ha . Pertanian lahan kering campur semak, semak belukar dan sawah cenderung lebih mudah mengalami erosi (Rantung, 2. Sehingga erosi juga meningkat lebih dari tiga kali lipat pada Sub DAS 14 dari 1. 161,14 250,28 ton/ha/tahun dengan penutupan lahan yang didominasi oleh PLKCS, semak belukar, dan Penurunan luas penutup lahan yang memiliki kemampuan dalam menghambat aliran permukaan seperti hutan dan semak-semak, menyebabkan berkurangnya perlindungan tanah dari pukulan langsung air hujan. Akibatnya, tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi. Tabel 08. Nilai Erosi Sub DAS yang Paling Meningkat dari Tahun 2018 ke Tahun 2023 Sub Nilai Erosi Penutupan Lahan DAS on/ha/tahu. Luas Luas . Pemukiman 12,96 Pemukiman 12,96 Perkebunan 13,527 Perkebunan 12,48 PLKCS 1,047 PLKCS 266,84 Pemukiman PLKCS 294,63 Perkebunan 0,11 814,56 354,39 Sawah 26,48 Sawah 3,07 Sawah 0,49 Pemukiman 2,58 Tubuh Air 24,86 Tubuh Air 24,86 Pemukiman 104,62 Pemukiman 104,62 PLKCS 299,28 Pemukiman 22,23 PLKCS 340,17 Semak 16,35 Belukar Tambak 2,31 Sawah 618,88 Pemukiman 34,64 161,14 250,28 Sawah 657,92 PLKCS 4,26 Tambak 0,14 Semak Semak 125,24 Belukar 140,43 Belukar PLKCS 15,19 Tambak 91,26 Tambak 91,26 Tubuh Air 21,16 Tubuh Air 21,16 Sumber : Hasil Analisis SIG, 2025. Berdasarkan data nilai erosi dan penutupan lahan pada seluruh Sub DAS pada tahun 2018 dan 2023, peningkatan nilai erosi pada seluruh Sub-DAS cenderung sejalan dengan perubahan penutupan lahan, terutama penurunan luasan hutan lahan kering sekunder, permukiman, dan dominasi lahan pertanian lahan kering campur semak (PLKCS). Konversi lahan vegetasi menjadi lahan terbangun atau tanah terbuka akan meningkatkan erosi ( Taslim, et al. , 2. Sejalan dengan Brigitha, et al. , . jenis tutupan sawah, pertanian lahan kering campur, permukiman, lahan terbuka merupakan tutupan lahan yang berkolasi tinggi dengan peningkatan erosi. Tutupan lahan yang baik akan mampu menekan terjadinya erosi sehingga nilainya akan mengecil begitupun Tingginya curah hujan pada lokasi ini juga menjadi faktor pemicu besarnya erosi yang Jurnal Eboni Vol. : 48-53. Des 2025 DOI : 10. 46918/eboni. Curah hujan yang tinggi berkolerasi dengan indeks erosivitas hujan yang tinggi dan berpotensi menyebabkan tingginya laju erosi (Karyati, 2. Selain itu kemiringan lereng juga menyebabkan besarnya nilai erosi. Lumbantoruan et al. , . menyatakan bahwa tutupan lahan yang memiliki kemiringan lereng yang curam dan sangat curam akan sangat berpengaruh terhadap erosi yang terjadi jika pengelolaannya tidak disertai dengan teknik konservasi tanah dan air, karena semakin besar kemiringan lereng maka air akan semakin sulit masuk ke dalam tanah dan infiltrasi menjadi rendah sehingga tanah akan semakin mudah terbawa air. Dengan tidak adanya peningkatan area berhutan atau vegetasi pelindung lainnya, dapat disimpulkan bahwa peningkatan erosi pada Sub DAS Suso lebih disebabkan oleh berkurangnya luas tutupan vegetasi seperti hutan. PLKCS, semak belukar, bukan karena peningkatan area berhutan. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Pada periode 2018 hingga 2023 di DAS Suso terjadi perubahan penutupan lahan pertanian lahan kering campur semak sebesar 1. 119,38 ha . ,03%), sawah sebesar 354,39 ha . ,97%), permukiman sebesar 59,78 ha . ,16%) dan tambak sebesar 0,19 ha . ,01%). Sedangkan penutupan lahan yang mengalami penurunan luasan yaitu hutan lahan kering sekunder 818,45 ha . ,22%), semak belukar sebesar 630,59 ha . ,71%), hutan lahan kering primer sebesar 83,93 ha . ,23%) dan perkebunan sebesar 0,76 ha . ,01%). Penutupan lahan yang tidak mengalami perubahan atau tetap yaitu tubuh air. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya erosi pada DAS Suso yaitu kemiringan lereng didominasi oleh kelas curam . -45%) dan sangat curam (>45%), curah hujan tahun 2018 dengan kategori tinggi yang berkisar 2. 700,50Ae2. 759,06 mm/tahun dan tahun 2023 dengan kategori sangat tinggi berkisar 3. 062,72-3. 157,82 mm/tahun, dan jenis tanah yang didominasi oleh inceptisol. Perubahan penutupan lahan di DAS Suso tahun 2018Ae2023 menunjukkan adanya penurunan luas kawasan hutan dan peningkatan lahan pertanian campuran. Kondisi tersebut, ditambah curah hujan tinggi, dominasi lereng sangat curam, dan jenis tanah yang rentan erosi menyebabkan peningkatan bahaya erosi pada DAS Suso. Hasil simulasi SWAT menunjukkan bahwa kelas bahaya erosi berubah dari dominan kategori sedang pada tahun 2018 menjadi kategori berat pada tahun 2023. DAFTAR PUSTAKA