Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 75-93 REPRESENTASI NILAI MORAL PADA FILM BUDI PEKERTI KARYA WREGAS BHANUTEJA (KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA) Melysa Putri Ayuningtyas1. Indah Puspitasari2 Universitas Hasyim AsyAoari. Tebuireng. Jombang Universitas Hasyim AsyAoari. Tebuireng. Jombang Jalan Irian Jaya No. Tebuireng. Cukir. Diwek. Jombang. Jawa Timur 61471 Email: melisaputri2244@gmail. com1 ,indahpuspitasariunhasy@gmail. Abstract Movies not only entertain the audience, but also function as a means of conveying the messages they contain. Therefore, there are currently a lot of conversations about domestically and internationally produced films. The development of this movie has become a hot topic of conversation in the community. One of the movies that is currently hitting the audience is the movie 'Budi Pekerti' by Wregas Bhanuteja. The film tells the story of a guidance and counseling teacher who uses his unique technique to guide his students. Until one day, the teacher suddenly becomes a hot topic on social media. This affects his career and family. This drama genre movie presents realistic nuanced stories that are currently popular. The purpose of this research is to find out the moral values contained in the movie "Budi Pekerti". This research uses a qualitative descriptive The results of the research on the Budi Pekerti movie obtained by researchers are knowing the forms of cyberbullying and five moral values in the movie "Budi Pekerti". The five moral values are: honesty, hard work, creativity, critical thinking, and environmental care. Based on these five moral values, it can be concluded that the Budi Pekerti film is an educational spectacle and can instill good moral values for teenagers in the future. Keywords: Moral Value. Representation. Budi Pekerti Movie Abstrak Film tidak hanya sekedar menghibur penontonnya, namun juga berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan yang dikandungnya. Oleh karena itu, saat ini banyak sekali perbincangan mengenai film-film produksi dalam negeri maupun internasional. Perkembangan film ini menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Salah satu film yang sedang hits di kalangan penonton saat ini yaitu AuBudi PekertiAy karya Wregas Bhanuteja. Film ini berkisah tentang seorang guru bimbingan dan konseling yang menggunakan teknik uniknya untuk membimbing murid-muridnya. Hingga suatu saat, guru itu tiba-tiba menjadi topik hangat di media sosial. Hal ini mempengaruhi karir dan Penelitian ini dilakukan guna mengetahui nilai-nilai moral yang terkandung dalam film AuBudi PekertiAy. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa deskriptif kualitatif. Penelitian ini memiliki hasil dari identifikasi film AuBudi PekertiAy berupa bentuk-bentuk Cyberbullying dan lima nilai moral dalam film AuBudi PekertiAy. Adapun lima nilai moral tersebut yaitu: jujur, kerja keras, kreatif, kritis, dan peduli lingkungan. Berdasarkan kelima nilai moral tersebut dapat disimpulakn bahwa film Budi Pekerti adalah sebuah tontonan yang mendidik dan dapat menanamkan nilai-nilai moral yang baik untuk anak remaja di masa yang akan mendatang. Kata kunci: Nilai Moral. Representasi. Film Budi Pekerti Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 Pendahuluan Karya Saat membuat karya, penulis didasari oleh keinginan untuk Karena masyarakat dan sebagainya (Alghifari, 2. Sapardi Djoko Damono . Pengertian kehidupan dalam hal ini mencakup hubunganhubungan antarmanusia yang seringkali mengubah keterkaitan antara seorang individu dengan individu yang lain pada masyarakat. Oleh karena itu, sudah jelas bahwa karya sastra merupakan media yang memuat ungkapan-ungkapan untuk menggambarkan kehidupan manusia dan dunia batin seseorang (Leliana et al. , 2. Memahami karya sastra pada hakikatnya berarti memahami dunia yang mengungkapkan berbagai aspek fenomena kehidupan, sebagai dunia fiksi yang memiliki sistem nilai otonomnya sendiri (Tiara, 2. Ada juga hubungan unik dalam memandang karya sastra. Standar nilai sering kali digunakan sebagai kriteria untuk mengevaluasi realitas objektif, namun memerlukan penyesuaian unik ketika mengevaluasi karya sastra. Bentuk suatu karya sastra adalah lukisan kepribadian makhluk yang diantaranya meliputi pengalaman, pemikiran, gagasan, nafsu, keyakinan, gambaran kehidupan yang meningkatkan daya tarik melalui sarana kebahasaan dan diungkapkan dalam bentuk tulisan. Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 Sosiologi Sastra seringkali mengungkap usaha-usaha setiap manusia ketika imajinasi, emosi, dan intuisi. Berdasarkan pemikiran tersebut jelaslah usaha-usaha (Endaswara, -. Dari mencerminkan peristiwa sosial. Sosiologi sastra membedakan film Budi Pekerti isi, tujuan, dan aspek terkandung pada karya sastra dan berkesinambungan dengan persoalan Tidak secara keseluruhan kajian sosiologi sastra mengkaji karya Namun, ketertarikan kajian sosiologi sastra hanya pada muatan unsur sastra, yaitu unsur sosiokultural yang terkandung dalam karya Film adalah suatau karya keindahan yang mengandung beberapa unsur di dalamnya yang memenuhi kebutuhan rohaniyah. ketika membuat sebuah film, tahapan-tahapan atau proses pemikiran berupa pencarian gagasan atau ide pada cerita harus ada. Saat ini, tahap-tahap teknis seperti keahlian seni untuk mentransformasikan pemikiran, pendapat, dan sebuah kisah diangkat menjadi film siap diperontonkan kepada masyarakat. Sosiologi sastra sangat erat kaitannya dengan masyarakat dan karya sastranya menjadi bahan pembahasan (Rovida et al. , 2. Sosiologi sastra dapat dipelajari dari tiga sudut pandang. Salah satunya dari sudut pandang karya sastra yang berarti penulis mengidentifikasi teks sastra Kedua, dianalisis dari sudut pandang biologis, yaitu oleh peneliti dari sudut Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 2, 2024 Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 pandang penulis. Perspektif ini mengacu pada realitas pengarang serta yang melatarbelakangi realitas sosial budayanya. Ketiga, ada penulis yang terhadap teks sastra. Mengingat film merupakan sebuah seni, maka tidak dapat dipungkiri bahwa film mengandung arti yang dalam dari seniman dan disampaikan kepada penikmat film. Film berdasarkan kisah, gambar, unsur atau bahasa, musik bahkan fotografi dikemas sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil dan kualitas film terbaik (Nur Ainun Nadhira, 2. Film yang efektif memberikan nilai/pesan moral dan sifat-sifat seperti pada film Budi Pekerti. Film ini berkisah tentang nilai-nilai penting dalam beretika, perbuatan baik, dan refleksi diri. Beberapa masyarakat dan kumpulan sosial tidak hanya memberikan pengalaman saja, melainkan berkreasi lewat perantara bahasa dan saling memberi arti penting terhadap pengalamannya lewat alat Representasi tahap-tahap pemaknaan sosial melewati suatu sistem yang tersedia seperti percakapan, (Ronanti Sebuah rancangan representasi dapat berbeda, dan konsep representasi yang ada selalu memiliki makna dan perspektif baru. Oleh karena itu, film seringkali mempunyai suatu hikmah yang akan diungkapkan pengarangnya kepada penikmat karyanya, baik secara tersirat maupun tersurat. Moralitas pada pengarang, terhadap penilaian pengarang tertentu, pandangannya terhadap penilaian kebaikan, dan ini merupakan hal-hal yan ingin disampaikan oleh pengarang untuk pembacanya. Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 Nilai Nilai adalah suatu bentuk atau ciri-ciri yang memiliki manfaat bagi nilai-nilai yang dijalankan dalam masyarakat. Nilai-nilai tidak pernah terpisah dari pikiran dan tindakan masyarakat. mereka selalu saling Kepribadian adalah pokok kehidupan yang pertama. Baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial (Rismayanti et al. Nilai-nilai tersebut meliputi nilai kejujuran, nilai kasih sayang, nilai keadilan, dan nilai tanggung jawab. Cyberbullying adalah suatu bentuk penindasan atau penganiayaan yang sengaja dilakukan dan terus-menerus melalui media sosial berupa pesan teks. Film Budi Pekerti menunjukkan bahwa masyarakat dengan mudah mempercayai sesuatu yang yang mereka lihat, mereka dengan mudah memberikan komentar dan pendapat jahat, dan betapa kejamnya pendapat-pendapat tentang penilaian sepiha tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya di media sosial (Lindri, 2. Dalam film ini memiliki unsur yang kritis dan memaksa penontonnya untuk berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Tidak semua siswa yang ada di sekolah itu bisa menerima materi pembelajaran yang diberikan, maka sebagai guru menggunakan teknik pengajaran yang sesuai, tidak hanya pengetehauan yang diajarkan di sekolah saja, melainkan dengan keterampilan setiap Film Budi Pekerti ini meminta kita menyelam lebih dalam tentang nilai untuk membantu pecinta film agar paham kenapa moralitas itu sangat Film memiliki keterampilan dalam mendidik juga Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 2, 2024 Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 gagasan serta yingkah laku penontonnya. Dalam film moral, amanatamanat yang disampaikan seringkali disusun secara rapi. Pembuat film Film membawa suatu perubahan pada realitas sosial. Tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi dapat memberikan perspektif baru tentang nilai-nilai tata krama yang dapat dilaksanakan di realitas atau kehidupan sehari-hari. Film Budi Pekerti ini berhasil memberikan inspirasi kepada penontonnya untuk lebih memiliki sikap perhatian, empati, dan bertanggung jawab. Film ini memiliki daya tarik tersendiri untuk dianalisis sebab di dalamnya terkandung banyak nilai-nilai moral yang diambil dan diterapkan Penelitian menambah pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai yang berlaku, salah satunya nilai moral. Bukan hanya kepada pembaca, peneliti juga mendapat pengetahuan lebih dari penelitian ini. Penelitian ini sangat penting karena mengungkap nilai-nilai moral pada film Budi Pekerti dan juga reaksi kita dalam menanggapi cyberbullying yang tengah marak di media sosial. Penelitian sebelumnya yang dirujuk dari AuRepresentasi Nilai Moral pada Film yang Berjudul Bebas (Kajian Sosiologi Sastr. Ay. Penelitian yyang digunakan sebagai rujukan yaitu meneliti tentang nilai moral baik dan nilai moral buruk. Perbedaan penelitian ini dibanding dengan penelitian terdahulu yaitu terdapat pada perincian nilai moral yang terdapat pada film serta mengetahui bentuk-bentuk cyberbullying. Metode Penelitian Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 Penelitian Penelitian jenis ini berguna untuk membuat deskripsi secara rapi dan tersusun terkait fakta-fakta dan kejadian-kejadian dari objek yang dianalisis (Budi. Tujuan menjabarkan dan menyajikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam film AuBudi PekertiAy yang disutradarai oleh Wregas Bhanuteja. Pengumpulan data-data dalam artikel ini meliputi foto, kata-kata dan kalimat dari film AuBudi PekertiAy nilai-nilai Wregas Bhanuteja, pemahaman tentang pentingnya moralitas. Penelitian ini menggunakan Pencarian data-data dalam penelitian ini dilakukan dengan usaha menonton film dan mendengarkan secara seksama untuk memahami setiap dialog dalam film tersebut, kemudian masukkan data dengan tepat. Hasil Penelitian dan Pembahasan Era saat ini semua orang pastinya terhubung dengan adanya Dengan mengakses media sosial manapun dan menerima informasi terkini (Amalia Rossiana et al. , 2. Seperti pada film Budi Pekerti, dimana di dalamnya memuat kemajuan teknologi yang semakin canggih hingga membuat suatu permasalahan dalam ruang lingkup kecil menjadikan permasalahan besar. Berikut ini beberapa cyberbullying yang terjadi pada film Budi Pekerti: Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 2, 2024 Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 Gambar 1: Adegan pertama Pada cuplikan film berupa gambar 1 di atas merupakan salah satu adegan di Film Budi Pekerti, dimana Bu Prani sedang menegur bapakbapak pembeli kue puthu melegenda milik Mbok Rahayu yang menerobos Pada gambar di atas. Bu Prani adu mulut dengan seorang laki-laki yang memakai kaos bergambar elang saat mereka mengantri membeli kue puthu di pasar. Ketika situasinya semakin memanasnya, penjual Puthu berniat untuk mendahulukan Bu Prani karena tidak ingin jika keributan semakin besari. Para pembeli yang berada disana tidak tinggal diam, mereka merekam keributan yang sedang terjadi. Pada rekaman video tersebut. Bu Prani yang akan mengucapkan. AuAh SuweAy dalam Bahasa Jawa yang memiliki arti Auah lamaAy, yang ternyata video rekamannya tidak tuntas sampai akhir dan hanya terdengar AuAh SuAAy yang memiliki kesan mengumpat dalam bahasa Jawa. Awal mula kehidupan Bu Prani di uji dari masalah ini. Niat Bu Prani sangat mulia karena menegur seseorang yang ingin menyerobot antrian dengan alibi telah menitipkan nomor antrean kepada pembeli lain yang katanya itu adalah saudaranya. Namun masalah ucapan Bu Prani yang Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 Gambar 2: Adegan kedua Pada gambar 2 di atas merupakan potongan film Budi Pekerti yang mana adegan Bu Prani saat memarahi bapak-bapak yang menyerobot antrean dan di rekam oleh pembeli lainnya. Dimana video yang sengaja direkam oleh pembeli disana terkenal yang sudah ditonton 100. 000 orang Video memperlihatkan guru BK melakukan perilaku tidak pantas dan tidak mencerminkan sebagai guru BK. Meski situasi asli video tersebut tidak sama dengan yang terlihat dalam video, akan tetapi beritanya sudah semakin membesar dan semakin banyak cerita yang hilang. Seperti pesanpesan yang diberikan oleh masyarakat yang tidak sesuai dengan kejadian Orang-orang yang berpikir panjang dalam menerima informasi pun langsung memberi hujatan kepada Bu Prani hingga sampai ke keluarganya dengan tidak sopan. Dengan adanya video viral itu dan hujatan orangorang yang merasa benar, kian membuat pelik keluarga Bu Prani. Putra dan putri Bu Prani yaitu Tita yang memiliki bisnis pakaian bekas dan Muklas yang merupakan pembuat konten di media sosial juga banyak menerima ejekan. Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 2, 2024 Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 Gambar 3: Adegan ketiga Pada gambar 3 diatas menunjukkan adegan pada film Budi Pekerti, dimana video yang sengaja di rekam oleh pembeli ku puthu dibuat menjadi video remix, meme, parodi, dan bahan candaan lainnya. Pada potongan gambar tersebut, terlihat bahwa video bersitegang Bu Prani dengan bapak-bapak pembeli puthu telah dijadika video remix, meme, dan parodi oleh pembuat konten di media sosial. Dalam hal ini, pihak sekolah Prani tersebut dan menjadikan ancaman sekolahannya karena nama baik sekolahannya ikut tercoreng. Meskipun pihak sekolah bekerja sama untuk mendiskusikan masalah ini, karena banyak yang mengetahui bahwa Bu Prani merupakan sosok guru yang teladan dan memberi contoh yang baik kepada muridnya. Dengan hal ini. Prani meluruskan kejadian yang membuat bersitegang. Dalam hal ini, sekolah sebagai lembaga pendidikan hendaknya tidak hanya melihat situasi dari satu sudut saja, namun harus mengambil keputusan yang lebih Sekolah dapat memberi contoh dengan melakukan analisis objektif sebelum mengambil keputusan sepihak. Jika memang benar terjadi pelanggaran, maka sudah seharusnya memberikan sanksi yang setimpal kepada Bu Prani, dan jika tidak ditemukan pelanggaran maka pihak sekolah akan melindungi stafnya dengan memberikan pernyataan kepada masyarakat supaya membantu memperbaiki nama Bu Prani serta keluarganya yang sudah tercoreng. Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 Gambar 4: Adegan keempat Pada film pada adegan ketika Bu Prani dan puta putrinya menyelesaikan masalah yang menimpa keluarganya tanpa sepengetahuan sang ayah. Pada cuplikan diatas, terlihat jika suami Bu Prani yang bernama Didit menderita bipolar atau depresi. Maka Prani dan anak-anaknya menuntaskan masalah yang datang tana sepengetahuan ayah, sebab dikhawatirkan jika sang ayah saat mengetahui masalah ini rasa cemas dan depresi semakin parah dan tidak terkendali. Film tersebut juga menunjukkan bahwa sutradara Wregas berupaya untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan mental yang banyak diderita oleh orang-orang di sekitar kita saat ini. Kesehatan mental pada saat ini tidak perlu lagi disembunyikan karena sempat mendapat stigma dari masyarakat. Jika seseorang sakit jiwa, maka ia dianggap gila. Padahal, kesehatan mental seseorang bukanlah suatu keadaan yang mudah. Ada banyak tingkat keparahan yang berbeda, dan seperti penyakit fisik lainnya, penyakit ini dapat ditangani dengan tepat oleh dokter. Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 2, 2024 Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 Gambar 5: Adegan kelima Pada cuplikan film pada gambar kelima di atas terlihat bahwa Muklas mengucapkan. AuSalah atau benar itu cuma perkara siapa yang paling banyak ngomongAy. Mencari sesuatu yang baik saat ini menjadi hal sulit diantara banyaknya informasi yang terus muncul tak terkendali. Orang-orang dalm menggunakan media sosial pada saat ini tidak lagi peduli dengan kebenaran dalam sebuah penjelasan. Sekalipun tidak jelas sumber atau kebenarannya, informasi yang diungkapkan banyak orang pada akhirnya akan menjadi sebuah fakta yang diterima masyarakat. Mereka tidak peduli dengan dampaknya, dan ketika ada sesuatu yang dianggap sensasional dan menarik untuk dibicarakan, orang berbondong-bondong meliputnya. Seringkali diungkapkan dalam cerita-cerita yang menggunakan bahasa kasar, melanggar batasan etika, atau memuat ungkapanungkapan yang merendahkan nilai-nilai atau umat SARA. Dari beberapa potongan adegan diatas, kita jadi tahu bahwa bentuk cyberbullying ini benar-benar nyata. Persoalan ini tidak hanya terjadi pada film saja, melainkan dalam kehidupan nyata. Pada dasarnya, cerita yang diangkat menjadi sebuah film merupakan bagian-bagian kecil dari persoalan yang ada di lingkungan sekitar. Dengan adanya beberapa masalah di atas, sebagai masyarakat yang baik dan bijaksan, tidak seharusnya kita menuduh orang tanpa melihat bukti secara utuh. Kalaupun belum melihat bukti nyatanya, kita tidak bias seenaknya menjatuhkan orang dan menghakimi bahwa orang itu salah. Belum Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 tentu apa yang kita lihat itu benar apa adanya. Bias saja dalam video yang beredar itu sudah menjadi campur tangan orang lain. Mental kekuatannya berbeda-beda. Sebagai masyarakat yang kritis dan peduli terhadap lingkungan, sebaiknya tidak mudah untuk menghujat orang lain. Perbuatan seperti itu tidak memiliki manfaat dalam kehidupan. Tidak hanya fokus pada bentuk cyberbullying, penelitian ini juga mengidentifikasi nilai-nilai moral yang terkandung di dalam film Budi Pekerti. Penulis menemukan lima nilai moral yaitu pada nilai moral jujur, kerja keras, kreatif, kritis, dan peduli lingkungan (Maraknya et al. , 2. Adapun penjabaran lima nilai moral yang terkandung dalam film Budi Pekerti adalah sebagai berikut: Nilai Moral Jujur AuBapak-bapak yang pakai kaos gambar elang itu yang sebetulnya tak marahi, bukan ibu Rahayu. Ngawur itu. Ay Pada Prani mengenai video yang viral di media sosial tentang ucapan dari Bu Prani yang di edit dengan oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga menimbulkan kesalah pahaman. Penonton video viral itu pun langsung percaya dengan potongan video viral Bu Prani yang seolah mengumpati penjual putu yaitu Bu Rahayu. Padahal yang sebenarnya. Bu Prani tengah memarahi bapak-bapak yang memakai kaos gambar elang yang seenknya menyerobot antrian dengan cara titip ke orang yang berada di antrian yang lebih dulu. Bu Prani sudah mengatakan dengan sebenarnya apa yang terjadi lewat video klarifikasi namun banyak penonton yang belum percaya dengan ungkapan Bu Prani. Nilai Moral Kerja keras Melalui beratnya ekonomi keluarga yang sedang menurun akibat pandemi, seluruh anggota keluarga dari bu Prani akhirnya terjun Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 2, 2024 Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 semua untuk mencari pundi-pundi rupiah. Seperti anak pertama Bu Prani, yaitu Tita, yang memilih membuka bisnis thrift shopping Muklas, sebagai seorang influencer. Lalu Bu Prani akhirnya mendapatkan kesempatan untuk membantu ekonomi keluarga dengan jalan dicalonkan sebagai wakil kepala sekolah di tempatnya mengajar. Berdasarkan kutipan di atas menunjukkan bahwa keluarga Bu Prani memiliki sifat pekerja keras dan tidak gampang menyerah. Karena kondisi wabah covid-19, dimana banyak pekerjaan yang dikorbankan. Prani Mereka mengemis untuk meminta bantuan kepada orang lain. Selagi mereka masih bisa melakukan dan menjalankan pekerjaan, mereka akan Mengingat Prani sembarang orang. Dengan sangat tulus Bu Prani dan anak-anaknya berusaha dan bangkit dari keadaan ekonomi yang tidak stabil. Kreatif AuKarena kamu mengatai-ngatai Ningsih dengan kata-kata ini, dia sudah tidak masuk sekolah 3 hari. Ibu mau kamu untuk re-flek-si. Kata-kata ini terngiangngiang di kepala Ningsih terus menerus. Putar rekaman ini . ata-kata yang diucapkannya pada Ningsi. di kecambah praktikum biologi. Seminggu lagi beritahu ibu. Adakah perbedaan dari kecambah yang kamu bodoh-bodohi ini dengan yang tidak?Ay Pada percakapan di atas. Bu Prani memberikan hukuman kepada muridnya atas kesalahan yang terjadi. Hukuman tersebut disebut Dimana Bu Prani memberikan pengajaran yang unik dalam menegur supaya muridnya tidak terus mengulang kesalahan yang Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 Prani refleksi yang kreatif, dan itu membuat penonton tertarik dengan cara Bu Prani dalam mendidik muridnya. Sebagai guru dan menjadi panutan. Bu Prani ketika menghukum muridnya tidak memarahi atau pun membentak karena telah membuat kesalahan. Namun. Bu Prani memberikan pengajaran yang unik dan berkesinambungan dengan mata pelajaran anak SMP. Nilai Moral Kritis AuJadi kita membiarkan dia di DO begitu? Kita biarkan dia jadi preman? Bunuh orang, masuk penjara?Ay Pada kutipan percakapan di atas. Bu Prani memberikan pemikiran menimpa salah satu muridnya dulu yang bernama Gora. Dalam masalah yang serius ini. Bu Prani tidak ingin membuat keputusan yang gegabah sehingga membuat muridnya terjerat dengan tindak Bu Prani hanya tidak ingin jika muridnya salah arah dan membirakan begitu saja. Bu Prani tidak ingin masa depan muridnya terancam karena setiap murid pasti memiliki suatu impian yang mereka inginkan di masa depan. Jadi. Bu Prani tidak membiarkan muridnya menyesal dengan kesalahan yang diperbuat pada saat kini hingga merugikan masa depannya. Peduli lingkungan AuBapak jangan mengada-ada, saya lihat dengan mata sendiri loh. Bapak datang 15 menit yang lalu toh? Sementara mas ini sudah datang sebelum sayaAy Pada percakapan menunjukkan bahwa Bu Prani merupakan seorang Prani membiarkan pembeli yang baru datang menyerobot antrean dengan menitipkan pesanan kepada pembeli yang datang lebih awal. Sikap ini Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 2, 2024 Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 dinilai sangat baik karena dengan begitu, dapat meminimalisir praktik kecurangan yang ada dalam masyarakat. Jika sikap ini diteruskan dan untuk menegur kebiasaan buruk pada masyarakat, lalu uang akan menjadi solusinya. Simpulan Di dunia sekarang ini, media sosial menjadi wadah interaksi antar manusia. Kode Etik juga bersifat mengikat. Belakangan ini berbagai permasalahan sosial dan kriminalitas terjadi akibat konflik media sosial. Masalah ini membawa bukti sesungguhnya etika harus terus diperjuangkan, baik dalam realitas social ataupun dunia maya. Film AuBudi Pekerti'' ini salah satu pecapaian anak negeri ini yang patut mendapat pengakuan. Berdurasi kurang dari dua jam, film ini menampilkan prestasi membanggakan generasi muda Indonesia di kancah internasional. Film yang penuh arti yang mendalam dan menghangatkan hati para penonton film Budi Pekerti. Film ini menunjukkan kepada kita bahwa sikap tidak bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial bisa berdampak besar pada diri kita sendiri, orang terdekat, bahkan orang yang tidak kita kenal. Oleh karena itu, seluruh pengguna teknologi khususnya media sosial mempunyai kewajiban untuk bersikap bijak dan berhati-hati dalam memperhatikan urusan dan kewajiban masing-masing sehingga lahirlah perkembangan teknologi yang positif dan bermanfaat. Film Budi Pekerti karya Wregas Bhanuteja mengandung lima nilai moral. Salah satunya adalah kejujuran, kerja keras, kreativitas, kritik, dan penghargaan terhadap lingkungan. Film ini mempunyai pesan moral yang berguna dalam Melalui film ini, kita dapat mengajarkan kepada remaja akan pentingnya moralitas dalam kehidupan sosialnya untuk mencegah hal-hal negatif terjadi pada dirinya di kemudian hari. Lebih lanjut tujuan dari penelitian ini adalah meskipun budaya Indonesia dilandasi oleh sikap saling menghormati dan menghargai sopan santun terhadap satu sama lain, namun di era sekarang ini remaja terlalu peka Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 terhadap lingkungan sekitar moralitas, karena sering kali ada kurangnya minat Asmaraloka: Jurnal Bidang Pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia Vol. No. 2, 2024 Asmaraloka: Jurnal Bidang pendidikan. Linguistik, dan Sastra Indonesia PRINTED ISSN: 3025-4647 ONLINE ISSN: 3025-4191 Vol. No. 2, 2024 Page: 1-19 Daftar Pustaka