Volume 1 Received: 11 Agustus 2019 Nomor 1 Revised: 2 September 2019 Edisi Oktober 2019 Accepted: 10 September 2019 DETERMINAN PERILAKU PENGGUNAAN KONDOM DALAM UPAYA PENCEGAHAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV) PADA ANAK BUAH KAPAL (ABK) Ratna Sari Fitria1. Sori Muda Sarumpaet2. Peny Ariani2 1 Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat. Institut Kesehatan DELI HUSADA Deli Tua 2 Institut Kesehatan DELI HUSADA Deli Tua Email : rsf. umibashirah@gmail. Abstract The shipAs crew are a group at risk of HIV / AIDS. Behavior prevention of HIV transmission can be done by using condoms when conducting risky sexual activities on a regular basis. Based on reports in 2018 HIV sufferers in the city of Lhokseumawe were 76 cases, in Indonesia there were 301,959 cases of HIV, and according to UNAIDS there were 39. million cases of HIV sufferers. The purpose of this study was to analyze the determinants of condom use behavior in an effort to prevent Human Immunodeficiency Virus (HIV) the shipAs in Krueng Geukuh port in North Aceh Regency in 2019. This study used a cross sectional approach with a total sample of 100 respondents of the shipAs at the port of Kreung Geukuh North Aceh Regency by purpose sampling Data analysis using univariate, bivariate and multivariate with chi-square test using softwear SPSS 25. 0 for windows. The results showed that there was a significant correlation between psychosocial factors . = 0. knowledge factors . = 0. , individual perceptions . = 0. , age factors . = 0. educational factors . = 0. with behavior condom use in an effort to prevent Human Immunodeficiency Virus (HIV), and there was no correlation with risk sex status factors . = . and domicile factors . = 0. with condom use behavior in an effort to prevent Human Immunodeficiency Virus (HIV) Suggestions that researchers recommend are to further improve the behavior of prevention of HIV / AIDS transmission with the use of condoms and to be able to work together across sectors that related to the prevention of Sexual Transmited Diseas (STD. and HIV. Keywords: Ship crews (ABK). Immunodeficiency Virus (HIV) Condom Prevention of Human Pendahuluan Berdasarkan data United Nations Programme on HIV and AIDS (UNAIDS, 2. perkembangan dan penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi masalah epidemi dunia yaitu penyebaran terjadi cepat tanpa mengenal batas wilayah negara, bangsa dan benua terdapat 36,9 juta masyarakat berbagai negara hidup bersama HIV dan AIDS. Dari total penderita yang ada, 1,8 juta di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Selebihnya adalah orang dewasa, sejumlah 35,1 juta penderita. Masih bersumber dari data tersebut, penderita HIV/AIDS lebih banyak diderita oleh kaum wanita, yakni sebanyak 18,2 juta Sementara laki-laki sebanyak 16,9 juta penderita. Sayangnya, 25 persen di Volume 1 Received: 11 Agustus 2019 Nomor 1 Revised: 2 September 2019 Edisi Oktober 2019 Accepted: 10 September 2019 antaranya, sekitar 9,9 juta penderita, tidak mengetahui bahwa mereka terserang HIV atau bahkan mengidap AIDS. Data Kemenkes RI . di Indonesia jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301. 959 jiwa dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun. Estimasi pada tahun 2015 - 2020 menunjukan perkiraan sebanyak 630. 147 orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2015 dan 652. 349 pada tahun 2020, sedangkan perkiraan jumlah infeksi baru mengalami penurunan sebesar 53. 460 tahun 2015 menjadi 48. 529 tahun 2020 (Survei Terpadu Biologis dan Perilaku Ae STBP). Data Dinkes Aceh . kasus HIV/AIDS di Aceh dilaporkan sebanyak 632 kasus, dengan daerah tertinggi di Kota Banda Aceh 127 kasus, disusul Kabupaten Aceh Utara 97 kasus. Tingginya angka kejadian di Aceh Utara didominasi oleh jalur penularan secara biseksual . ,61%), diikuti oleh homoseksual 23,25%, narkoba 6,6%, perinatal 4,4 %, heteroseksual 3. 3% dan transfusi darah 1,1%. Luthfia Ayu Azanella . pentingnya suatu negara Aumengenal epidemi merekaAy sebagai prasyarat untuk dapat menanggulangi HIV dengan sukses telah diterima secara luas dan jelas diakui oleh Indonesia, erat kaitannya dengan tujuan dari pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goal (SDG) adalah antara lain menghentikan Aaimedipe HIV/AIDS di dunia pada 2030. Menurut Faraz. , penggunaan pemakaian kondom di Indonesia baru 2,5%. sangat kecil jika dibandingkan dengan populasi Indonesia yang berjumlah kurang lebih 240 juta Salah satu penyebab rendahnya penggunaan kondom di masyarakat karena orang merasa kenikmatan dan sensasi saat berhubungan seks menjadi berkurang. Pada hasil penelitian olehSirait. M dan Sarumpaet. S . di 5 lokasi pelabuhan termasuk Belawan, ditemukan bahwa sebanyak 58% ABK berhubungan dengan Wanita Pekerja Seks (WPS) dalam setahun terakhir, dan 16% berhubungan dengan pasangan tidak tetapnya. Dari hubungan seksual dengan WPS dan pasangan tidak tetap tersebut hanya 8% yang menggunakan kondom sedangkan 57% lagi melakukan seks tanpa kondom. Pada penelitian oleh Hapsari. I . , yaitu mendapatkan hanya 55,6% menggunakan kondom saat melakukkan hubungan seks. Pada uji kuisener penelitian ini yang di lakukkan pada 40 orang ABK hanya 47,6% yaitu yang menggunakan kondom saat melakukan hubungan seks dengan yang bukan Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan desain crosectional. Dilaksanakan di pelabuhan Kreung Geukuh Kabupaten Aceh Utara dari bulan Desember 2018 - Mai 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah ABK yang bersedia mengikuti penelitian ini dan bisa berbahasa Indonesia. Besar sampel ditentukan den-gan rumus hypotesa estimasi proporsi yaitu sebanyak 100 ABK yang diambil secara purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data primer dengan alat bantu kuesioner dengan skala Volume 1 Received: 11 Agustus 2019 Nomor 1 Revised: 2 September 2019 Edisi Oktober 2019 Accepted: 10 September 2019 Metode analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji Chi-square pada tingkat kepercayaan 95% . <0,. dan dengan angka rasio prevalensi (Prevalence Ratio = PR), analisis multivariate metode Enter, dari perhitungan softwear SPSS versi 25 for window. Hasil Tabel 1 : Proporsi Variabel Indepnden dan Dependen Karakteristik Jumlah . Proporsi (%) Umur : Umur sangat produktif Umur produktif Pendidikan : Rendah (Tidak Sekolah . SD. SMP. SMA) Tinggi (Akademik. Perguruan Tingg. Domisili : Di wilayah Aceh Di luar wilayah Aceh Status hubungan seksual : Tidak pernah melakukan hubungan seks beresiko. Sudah pernah melakukan hubungan seks beresiko. Faktor Psikososial : Tinggi Rendah Pengetahuan : Tinggi Rendah Persepsi Induvidu : Merasa Tdak Merasa Perilaku Pengguna Kondom: Kurang Baik Baik Pada tabel 1, menunjukkan bahwasannya analisa univariat yaitu ABK berumur sangat produktif berjumlah 68%, mayoritas pendidkan rendah 68%, dan ABK yang berdomisili di luar wilayah Aceh 58%. ABK yang sudah pernah melakukan hubungan beresiko 15%. Pengetahuan tentang HIV pada ABK 86%, faktor psikososial ABK 56%, persepsi induvidu merasa terhadap penularan HIV 63%, namun perilaku ABK dalam penggunaan kondom kurang baik hanya 12%. Volume 1 Received: 11 Agustus 2019 Nomor 1 Revised: 2 September 2019 Edisi Oktober 2019 Accepted: 10 September 2019 Tabel 2 : Hasil Uji Bivariat Pada tabel 2, analisa bivariat pada uji chi square menunjukkan bahwa dari 7 variabel yang di teliti ada 5 variabel yang tidak ada hubungan signifikan dengan perilaku penggunaan kondom yaitu umur . = 0,. , pendidikan . = 0,. , domisili . = 0,. , status hubungan seks . = 0,. , pengetahuan. = 0,. Pada 2 variabel yang ada hubungan signifikan dengan perilaku penggunaan kondom yaitu persepsi induvidu . =0,. yaitu perhitungan risk estimate di peroleh dari Rp = 5,108 dengan 95 % Cl1,475-17,689 artinya persepsi induvidu berisiko tertular rendah 5,1 kali perkiraan kemungkinan memiliki perilaku penggunaan kondom beresiko di bandingkan dengan yang persepsi beresiko tertular tinggi dan faktor psikososial ( p = 0,. yaitu Perhitungan risk estimate di peroleh dari Rp = 5,108 dengan 95 % Cl1,75-17,689 artinya psikososial rendah 3,8 kali perkiraan kemungkinan memiliki perilaku penggunaan kondom beresiko di bandingkan dengan yang persepsi beresiko tertular tinggi. Volume 1 Received: 11 Agustus 2019 Nomor 1 Revised: 2 September 2019 Edisi Oktober 2019 Accepted: 10 September 2019 Tabel 3. Hasil seleksi akhir analisa multivariat Variabel Wald Sig. 95% CI Lower Upper Persepsi 1,853 0,722 6,588 0,010 6,378 1,550-26,248 Psikososial 1,504 0,727 4,278 0,039 4,499 1,082-18,705 Constant 0,509 0,464 1,202 0,273 1,663 Pada tabel 3, dari analisa multivariat pada hasil regresi logistik berganda menunjukkan bahwa yang paling dominan pertama adalah persepsi Individual mengenai HIV/AIDS . , kedua adalah faktor psikososial . Pembahasan Dari 100 ABK di jumpai, secara psikososial rendah . %) dan tinggi . %) responden mengetahui bahwasannya ABK harus setia pada pasangannya, hal ini harus di tindaklanjuti dengan melakukan tes di laboratorium untuk mengetahui HIV jika merasa melakukan seks beresiko maka selalu menyediakan dan memakai kondom pada saat berhubungan seksual yang beresiko. Faktor psikososial sering terjadi cukup memperhatinkan hal ini di sebabkan karena penyakit ini identik dengan akibat dari perilaku Ae perilaku tidak bermoral seperti seks bebas yaitu gonta ganti pasangan pada ABK. Teori Green . menyatakan bahwa hal terpenting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan perubahan perilaku. Dalam teori ini Green mengidentifikasi tiga faktor yang mempengaruhi perilaku. Perilaku berisiko pada kasus penularan HIV/AIDS masing-masing memiliki tipe pengaruh berbeda-beda yaitu faktor predisposisi yang terwujud dalam demografi, persepsi dan gaya hidup. Faktor pemungkin yang terwujud dalam ketersediaan fasilitas-fasilitas yang berisiko seperti hotel, tempat karaoke dan tempat hiburan lainnya, kurangnya pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan yang berisiko, serta mudahnya akses terhadap media informasi saat ini. Faktor pendorong seperti teman maupun pasangan. Volume 1 Received: 11 Agustus 2019 Nomor 1 Revised: 2 September 2019 Edisi Oktober 2019 Accepted: 10 September 2019 Perilaku dapat diartikan suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan atau stimulus dari luar objek tersebut. Pencegahan HIV/AIDS terlihat bahwa secara keseluruhan bahwa responden masih ada yang percaya pada mitos-mitos bahwa HIV dapat menular melalui berciuman, gigitan nyamuk dan menggunakan toilet bersama. Hasil ini sesuai dengan teori HBM yang menjelaskan bahwa pengetahuan tentang suatu penyakit berpengaruh terhadap perilaku. Pengetahuan HIV/AIDS mempengaruhi persepsi seseorang terhadap penyakit, sehingga bila pengetahuan tentang HIV/AIDS makin baik. PSK dan pasangan seksualnya akan lebih mudah menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Lawrence W Green dalam teorinya juga mengungkapkan bahwa secara umum perilaku seseorang dilandasi oleh latar belakangnya, termasuk pengetahuan mengenai HIV/AIDS. Seseorang yang berpengetahuan tentang HIV/AIDS lebih baik akan mempunyai tingkat pemahaman dan kesadaran tentang HIV/AIDS lebih baik dan akan mempunyai perilaku seksual yang aman yang terhidar dari infeksi HIV. HIV akan menularkan kepada ABK dan pasangan ABK jika ABK tidak setia pada pasangan ABK, atau ABK tidak memakai kondom jika melakukan seks beresiko,pesepsi ini terbentuk pada responden ABK pada penelitian ini, aplagi mengingat biaya pengobatannya yang mahal dan tidak bisa di sembuhkan serta di kucilkan oleh saudara dan teman teman, rasa malu dan kehilangan masa depan para ABK, proporsi yang di hasilkan faktor persepsi perasaan induvidual beresiko tertular merasa . %) dan tidak merasa . %) terhadap perilaku penggunaan Faktor-faktor yang berhubungan dengan Tindakan penggunaan kondom pada ABK dapat dilihat dengan menggunakan pendekatan Health Belief Model (HBM). HBM ini memfokuskan kepada persepsi subjektif seseorang, antara lain : persepsi seseorang terhadap risiko tertular penyakit . erceived susceptibilit. , dalam hal ini HIV/AIDS. persepsi seseorang terhadap keseriusan suatu penyakit baik medis maupun sosial, seperti kematian, dikucilkan dari teman dan keluarga (Perceived persepsi positif terhadap perilaku pencegahan . erceived benefi. negatif terhadap perilaku pencegahan . erceived barrier. dan persepsi terhadap kemampuan diri sendiri untuk melakukan perilaku pencegahan . erceivedself efficac. , yaitu perilaku penggunaan kondom. Dalam konsep HBM, persepsi seseorang dipengaruhi oleh faktor sosiodemografi. Semakin individu mempersepsikan bahwa penyakit yang dialami semakin memburuk, mereka akan merasakan hal tersebut sebagai ancaman dan mengambil tindakan preventif. Hasil ini sejalan dengan teori Rosenstock dalam HBM yang menyatakan bahwa persepsi keseriusan HIV/AIDS akan mempengaruhi seseorang dalam melakukan tindakan pencegahan. Kesimpulan Pada analisa uji chi square penelitian tidak ada hubungan yang signifikan umur . = 0,. , pendidikan . = 0,. , domisili . = 0,. , status hubungan seksual berisiko . = 0,. , pengetahuan . = 0,. dengan perilaku penggunaan Volume 1 Received: 11 Agustus 2019 Nomor 1 Revised: 2 September 2019 Edisi Oktober 2019 Accepted: 10 September 2019 Hanya ada hubungan signifikan persepsi induvidu beresiko tertular HIV . = 0,. dan psikososial ( p = 0,. dengan perilaku penggunaan kondom. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang determinan perilaku penggunaan kondom dalam upaya pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada anak buah kapal (ABK) di pelabuhan Krueng Geukuh Kabupaten Aceh Utara tahun 2019 maka dapat disimpulkan bahwa dari hasil tabel nilai Rp pada setiap variabel X atau independen maka diperoleh variabel yang paling besar hubungannya terhadap variabel dependen atau perilaku pengguna kondom yaitu persepsi individual mengenai HIV /AIDS. Urutan nilai Rp dari yang terbesar pertama adalah persepsi Individual mengenai HIV/AIDS . , kedua adalah faktor psikososial . Daftar Pustaka