Cindy Khofifah1. Dwi Susilowati2. Nadi Hernadi Moorcy3 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan PENGARUH RASIO KEUANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN LABA PADA PERUSAHAAN SUBSEKTOR FARMASI YANG TERDAFTAR DI BEI Cindy Khofifah1. Dwi Susilowati2. Nadi Hernadi Moorcy3 Universitas Balikpapan1. Universitas Balikpapan2. Universitas Balikpapan3 pos-el: ckhofifah425@gmail. com1, dwi. susilowati@uniba-bpn. 2, nadi. moorcy@uniba-bpn. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Current Ratio. Debt to Equity Ratio. Total Asset Turnover dan Net Profit Margin baik secara simultan maupun secara parsial terhadap Pertumbuhan Laba. Data yang digunakan adalah sumber yang telah ada baik data internal maupun eksternal dan data dapat diakses melalui internet dan publikasi informasi. Data yang digunakan yaitu laporan keuangan perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020-2023. Metode analisis data menggunakan regresi linier berganda Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel Current Ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba. Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba. Total Asset Turnover berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Pertumbuhan laba. Net Profit Margin berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba. Kata Kunci: Current Ratio. Debt to Equity Ratio. Total Asset Turnover. Net Profit Margin ABSTRACT The purpose of this study is to find out the influence of Current Ratio. Debt to Equity Ratio. Total Asset Turnover and Net Profit Margin both simultaneously and partially to Profit Growth. The data used is existing sources, both internal and external data, and the data can be accessed through the internet and information publications. The data used is the financial statements of pharmaceutical companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the 20202023 period. The data analysis method uses multiple linear regression The results of the analysis show that the variable Current Ratio have a positive and significant effect on Profit Growth. Debt to Equity Ratio have a negative and insignificant effect on Profit Growth. Total Asset Turnover have a negative and significant effect on profit growth. Net Profit Margin have a negative and insignificant effect on Profit Growth. Keywords: Current Ratio. Debt to Equity Ratio. Total Asset Turnover. Net Profit Margin PENDAHULUAN Seiring berkembangnya perekonomian di Indonesia, persaingan bisnis semakin ketat, ini mendorong perusahaan untuk berinovasi dan mengelola kinerja dengan baik agar dapat bertahan dan meningkatkan laba secara Laba menjadi elemen penting dalam laporan keuangan, karena digunakan sebagai dasar perhitungan pajak, penilaian kinerja, kebijakan investasi, dan efisiensi Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 Laba perusahaan pada tahun yang akan datang tidak dapat dipastikan, tetapi dapat diprediksi (Ihram et al. , 2. Peningkatan kinerja yang baik, menarik minat investor, serta memberikan akses lebih besar pada sumber daya dan modal untuk memperluas operasi dan meningkatkan nilai perusahaan. Hal ini mencerminkan efektivitas manajemen dalam mengelola Cindy Khofifah1. Dwi Susilowati2. Nadi Hernadi Moorcy3 sumber daya secara efisien (Astuti et al. Subsektor farmasi merupakan salah perekonomian di Indonesia khususnya di bidang kesehatan. Perusahaan farmasi menghasilkan produk kesehatan yang memiliki banyak manfaat. membuat perusahaan subsektor farmasi bertahan hingga saat ini meskipun adanya persaingan dari perusahaan yang sejenis. Perusahaan subsektor farmasi memasok bahan obat-obatan dari bahan baku hingga produk yang bisa di konsumsi oleh kesehatannya (Setyowati & Retnani. Dalam mengalisa dan menilai kondisi keuangan perusahaan serta prospek perubahan labanya. Rasio keuangan dapat dijadikan alat memprediksi pertumbuhan laba di masa yang akan datang. Ini artinya informasi yang relatif berguna bagi pemakai laporan keuangan yang secara juga potensial berkepentingan pada suatu perusahaan. Terdapat beberapa jenis rasio keuangan terdiri dari rasio likuiditas (Current Rati. , rasio solvabilitas (Debt to Equity Rati. , rasio aktivitas (Total Asset Turnove. dan rasio profitabilitas (Net Profit Margi. Current Ratio . asio merupakan rasio untuk mengukur seberapa jauh aktiva lancar perusahaan bisa dipakai untuk memenuhi kewajiban lancarnya (Nurlia & Trifina, 2. Debt to Equity Ratio (DER) merupakan adalah rasio yang digunakan untuk mengetahui nilai liabilitas dengan Rasio ini digunakan untuk membandingkan antara seluruh liabilitas. termasuk liabilitas lancar dengan seluruh Rasio ini juga berguna untuk Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan mengetahui nilai perusahaan dengan kata lain modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang (Moorcy & Sudjinan. Total Asset Turnover (TATO) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran seluruh aset yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa total penjualan yang didapatkan dari setiap rupiah aset. Semakin tinggi nilai Total Asset Turnover maka semakin baik pula. Total Asset Turnover menunjukkan suatu perusahaan dalam mengelola aset yang dimiliki untuk menghasilkan penjualan. Net Profit Margin merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bersih dari penjualan yang dilakukan perusahaan. Rasio ini mencerminkan efisiensi seluruh bagian seperti produksi, personalia, pemasaran, dan keuangan yang ada dalam perusahaan (Moorcy & Sudjinan, 2. Penelitian ini dilakukan karena perusahaan subsektor farmasi merupakan salah satu sektor penting dalam berhubungan langsung dengan kebutuhan kesehatan masyarakat. Selain itu adanya perusahaan subsektor farmasi juga menjadi alasan penulis melakukan penelitian ini untuk memperkuat argumen H1: Current Ratio (CR) berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia H2: Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia H3: Total Asset Turnover (TATO) berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba Cindy Khofifah1. Dwi Susilowati2. Nadi Hernadi Moorcy3 pada perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia H4: Net Profit Margin (NPM) berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. METODE PENELITIAN Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berbentuk laporan-laporan keuangan dari perusahan subsektor farmasi berupa laporan tahunan dengan metode kuantitatif. Sumber data penelitian berupa laporan keuangan tahunan perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di BEI periode tahun 20202023 yang diperoleh dari situs id dan website masing masing bank. Populasi penelitian ini berjumlah 13 perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di BEI dan sampel penelitian ini sebanyak 9 perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di BEI. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan buku atau jurnal yang didalamnya terdapat referensi yang berhubungan dengan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinieritas Uji Multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Multikolinieritas dapat dilihat dari besaran VIF (Variance Inflation Facto. dan Tolerance. Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinieritas adalah nilai Tolerance O 0,10 atau sama dengan nilai VIF Ou 10 (Ghozali, 2. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Hasil Uji Multikolinieritas dapat dilihat pada tabel 1 Tabel 1. Hasil Uji Multikolinieritas Variabel Collinerarity Ket Statistic Tolerance VIP 0,450 2,221 Tidak Terjadi Multikolinieritas DER 0,785 1,274 Tidak Terjadi Multikolinieritas TATO 0,672 1,489 Tidak Terjadi Multikolinieritas NPM 0,670 1,493 Tidak Terjadi Multikolinieritas Sumber: data diolah, 2024 Sesuai Tabel 1 uji ini ialah variabel bebas VIF < 10 serta Tolerance < 1 atau Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 . Jika terjadi korelasi. dinamakan masalah pada autokorelasi (Ghozali, 2. Salah satu ukuran dalam menentukan ada tidaknya masalah pada autokorelasi dengan uji Durbin Wason (DW). Tabel 2 Hasil Uji Autokorelasi Durbin-Watson Constant CR. DER. TATO, NPM Durbin-Watson 2,198 Sumber: data diolah, 2024 Tabel 2 menunjukkan hasil pengolahan data dengan menggunakan Uji DurbinWatson, dimana nilai DW sebesar 2,198 Cindy Khofifah1. Dwi Susilowati2. Nadi Hernadi Moorcy3 dengan jumlah sampel . 36 dan k=4, maka diperoleh nilai du= 1,235. Sehingga diperoleh nilai 4-du= 2,764. Sehingga, menggunakan pengambilan keputusan jika du < d < 4-du yaitu hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pada model regresi tidak terjadi masalah autokorelasi baik positif dan negatif. Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika semua variabel bebas memiliki nilai Sig. lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel bebas tersebut tidak terjadi Heteroskedastisitas (Ghozali, 2. Tabel 3 Uji Heteroskedastisitas Variabel Sig. Kesimpulan CR (X. 0,534 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas DER 0,430 Tidak Terjadi (X. Heteroskedastisitas TATO 0,777 Tidak Terjadi (X. Heteroskedastisitas NPM 0,428 Tidak Terjadi (X. Heteroskedastisitas Sumber: data diolah, 2024 Sumber tabel 3 semua variabel bebas bernilai Sig > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua variabel bebas Analisis Linier Berganda Analisis linier berganda digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependennya. Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan analisis regresi linier berganda. Pengujian pada penelitian ini menggunakan regresi linier berganda dengan alat bantu SPSS 25 for windows. Analisis regresi linier berganda merupakan analisis untuk Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan mengetahui pengaruh dari variabel bebas (X) yang jumlahnya lebih dari satu terhadap variabel terikat (Y). Model analisis regresi berganda digunakan untuk menjelaskan hubungan dan seberapa besar pengaruh variabel-variabel bebas . terhadap variabel terikat . (Ghozali, 2. Tabel 4. Hasil Uji Regresi Linier Berganda Unstandardized Coefficients Variabel Sig. Std. Error . 234,626 12. 131,945 0,022 94,177 32,138 0,006 DER -0,732 11,967 0,952 TATO 528,655 15. 119,513 0,000 NPM -120,528 130,846 0,364 Sumber: data diolah, 2024 Berdasarkan Tabel 4 dijabarkan sebagai berikut. Nilai konstanta adalah 29. 234,626 artinya adalah jika variabel Current Ratio (CR). Debt to Equity Ratio (DER). Total Asset Turnover (TATO). Net Profit Margin (NPM) nilainya konstan atau tetap, maka Pertumbuhan Laba (Y) pada perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia akan mengalami kenaikan sebesar 29. 234,626. Current Ratio (X. terhadap Pertumbuhan Laba memiliki hubungan yang positif nilai koefisien regresinya yaitu sebesar 94,177 yang memiliki arti bahwa setiap perubahan kenaikan Current Ratio (X. sebesar satu satuan maka akan mempengaruhi kenaikan Pertumbuhan Laba (Y) sebesar 94,177 dan sebaliknya jika Current Ratio (X. mengalami penuruan sebesar 94,177 satu satuan maka akan menurunkan Pertumbuhan Laba sebesar 94,177 satu satuan. Debt to Equity Ratio (X. terhadap Pertumbuhan Laba memiliki hubungan yang negatif nilai koefisien regresinya yaitu sebesar 0,732 yang memiliki arti Cindy Khofifah1. Dwi Susilowati2. Nadi Hernadi Moorcy3 bahwa setiap perubahan penurunan Debt to Equity Ratio (X. sebesar satu satuan maka akan mempengaruhi kenaikan Pertumbuhan Laba (Y) sebesar 0,732 dan sebaliknya jika Debt to Equity Ratio (X. mengalami penurunan sebesar 0,732 satu Pertumbuhan Laba sebesar 0,732 satu . Total Asset Turnover (X. terhadap Pertumbuhan Laba memiliki hubungan yang negatif nilai koefisien regresinya yaitu sebesar 62. 528,655 yang memiliki arti bahwa setiap perubahan kenaikan Total Asset Turnover (X. sebesar satu satuan maka akan mempengaruhi kenaikan Pertumbuhan Laba (Y) sebesar 528,655 dan sebaliknya jika Total Asset Turnover (X. penurunan sebesar 62. 528,655 satu-satuan maka akan menurunkan Pertumbuhan Laba sebesar 62. 528,655 satu-satuan. Net Profit Margin (X. terhadap Pertumbuhan Laba memiliki hubungan yang negatif nilai koefisien regresinya yaitu sebesar 120,528 yang memiliki arti bahwa setiap perubahan kenaikan Net Profit Margin (X. sebesar satu satuan maka akan mempengaruhi kenaikan Pertumbuhan Laba (Y) sebesar 120,528 dan sebaliknya jika Net Profit Margin (X. mengalami penurunan sebesar 120,528 satu satuan maka akan menurunkan Pertumbuhan Laba sebesar 120,528 satu satuan. Uji Anova Koefisien Korelasi (R) Koefisien korelasi simultan (R) sebesar 0,608 atau 60,8% artinya memiliki hubungan yang kuat . ,60 Ae 0,. antara variabel bebas Current Ratio (X. Debt to Equity Ratio (X. Total Asset Turnover (X. Net Profit Margin (X. dengan variabel terikat yaitu Pertumbuhan Laba (Y). Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Koefisien Determinasi (R. Koefisien Determinasi (R. dengan nilai R Square sebesar 0,370 yang memiliki arti bahwa variabel bebas Current Ratio (X. Debt to Equity Ratio (X. Total Asset Turnover (X. Net Profit Margin (X. memberikan pengaruh terhadap Pertumbuhan Laba (Y) sebesar 37% sedangkan sisanya yaitu 63% dipengaruhi oleh variabel bebas lainnya yang tidak Uji Simultan (Uji F) Apabila nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis yang diajukan diterima atau dikatakan signifikan begitu sebaliknya apabila nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 maka hipotesis yang diajukan ditolak atau dikatakan tidak Pada penelitian ini Nilai Fhitung > Ftabel sebesar 4,547 > 2,68 dan nilai signifikan sebesar 0,005 < 0,05 yang memiliki arti bahwa semua variabel bebas Current Ratio (X. Debt to Equity Ratio (X. Total Asset Turnover (X. Net Profit Margin (X. , secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat Pertumbuhan Laba (Y) pada perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Uji Hipotesis Uji Parsial (Uji . Uji t merupakan pengujian koefisien regresi parsial individual yang digunakan untuk mengetahui apakah variabel . (Y) menggunakan software SPSS versi 25, dilakukan dengan dasar pengambilan keputusan berdasarkan pada penerimaan atau penolakan hipotesis. (Ghozali, 2. Tabel 5 Hasil Uji t Model 2,930 DER -0,016 2,039 TATO -4,136 NPM -0,921 Sumber: data diolah, 2024 Sig. 0,006 0,952 0,000 0,364 Cindy Khofifah1. Dwi Susilowati2. Nadi Hernadi Moorcy3 Current Ratio (X. terhadap Pertumbuhan Laba (Y) mempunyai hubungan yang positif dan signifikan karena nilai thitung > ttabel yaitu 2,930 > 2,039 dan nilai signifikansi 0,006 < 0,05, dan kontribusi variabel Current Ratio (X. terhadap Pertumbuhan Laba sebesar 0,466 dengan melihat r parsial, sehingga hasil ini menunjukkan bahwa variabel Current Ratio (X. berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba (Y). Berdasarkan hasil uji t yang telah dilakukan dapat dinyatakan bahwa hipotesis diterima, karena Current Ratio berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba (Y). Artinya semakin tinggi Current Ratio (CR) maka perusahaan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Investor cenderung melihat Current Ratio sebagai sinyal bahwa perusahaan memiliki likuiditas yang baik, sehingga bisa meningkatkan kepercayaan dan minat untuk membeli sahamnya, yang dapat mendorong harga saham naik. Dan sebaliknya semakin rendah Current Ratio menunjukkan risiko likuiditas, dimana perusahaan mungkin kesulitan membayar kewajiban jangka Sehingga menunjukkan bahwa Current Ratio (X. tidak berdampak pada Pertumbuhan Laba (Y). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Hajering & Muslim, 2. yang menyatakan bahwa Current Ratio mempunyai arah hubungan yang positif dan berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba. Namun hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Decerly, 2. , (Bahari & Setyawan, 2. dan (Lesmana et al. yang menyatakan bahwa Current Ratio mempunyai arah hubungan yang negatif dan tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba. Debt to Equity Ratio (X. terhadap Pertumbuhan Laba (Y) mempunyai hubungan yang negatif dan tidak Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan signifikan karena nilai thitung < ttabel yaitu -0,061 < 2,039 dan nilai signifikansi 0,952 > 0,05, dan kontribusi variabel Debt to Equity Ratio (X. terhadap Pertumbuhan Laba sebesar -0,011 dengan Sehingga menunjukkan bahwa variabel Debt to Equity Ratio (X. tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Berdasarkan hasil uji t yang telah dilakukan dapat dinyatakan bahwa hipotesis ditolak karena Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba (Y). Sehingga ini menunjukkan bahwa variabel Debt to Equity Ratio (X. tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Berdasarkan hasil uji t yang telah dilakukan dapat dinyatakan bahwa hipotesis diterima, karena Debt to Equity Ratio berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba (Y). Korelasi negatif antara Debt to Equity Ratio dan Pertumbuhan Laba memiliki arah yang tidak sejalan. Semakin meningkat nilai Debt to Equity Ratio berarti semakin banyak liabilitas yang harus dibayarkan kepada kreditur. Meningkatnya nilai liabilitas akan mengakibatkan laba yang semakin menurun, hal tersebut menggambarkan bahwa perusahaan tidak bisa menutupi liabilitasnya dengan ekuitas yang dimiliki dan hal tersebut tidak bisa meningkatkan perolehan labanya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Decerly, 2. dan (Lesmana et al. , 2. yang menyatakan bahwa Debt to Equity Ratio mempunyai arah hubungan yang negatif dan berpengaruh tidak signifikan terhadap Pertumbuhan laba. Namun tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Santoso et al. , 2. yang menyatakan bahwa Debt to Equity Ratio mempunyai arah hubungan yang positif dan Pertumbuhan laba. Total Asset Turnover (X. terhadap Pertumbuhan Laba (Y) mempunyai Cindy Khofifah1. Dwi Susilowati2. Nadi Hernadi Moorcy3 hubungan yang negatif dan signifikan karena nilai thitung < ttabel yaitu -4,136 < 2,039 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 dengan nilai korelasi . sebesar 0,000 hal tersebut menunjukkan bahwa Total Asset Turnover (X. hubungan yang negatif dan berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba (Y) pada perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan hasil uji t yang telah dilakukan dapat dinyatakan bahwa hipotesis diterima karena Total Asset Turnover Pertumbuhan Laba (Y). Korelasi negatif antara Total Asset Turnover terhadap Pertumbuhan Laba memiliki arah yang tidak sejalan. Pada saat nilai Total Asset Turnover menurun maka nilai Pertumbuhan Laba juga akan mengalami penurunan. Total Asset Turnover perusahaan dalam mengelola asset yang dimiliki dalam menghasilkan penjualan. Semakin tinggi nilai Total Asset Turnover maka perusahaan mampu memperoleh penjualan dari setiap asset yang dimiliki dengan demikian perusahaan bisa dianggap mampu dalam meningkatkan keuntungan di setiap periodenya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Santoso et al. , 2. dan (Decerly, 2. yang menyatakan bahwa Total Asset Turnover mempunyai arah hubungan yang negatif dan Pertumbuhan Laba. Net Profit Margin (X. terhadap Pertumbuhan Laba (Y) mempunyai hubungan yang negatif dan tidak signifikan karena nilai thitung < ttabel yaitu -0,921 < 2,039 dan nilai signifikansi 0,364 > 0,05 dengan nilai korelasi . sebesar 0,364 hal tersebut menunjukkan bahwa Net Profit Margin (X. mempunyai arah hubungan yang negatif dan berpengaruh tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba (Y) pada perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 1. Juni 2025 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Efek Indonesia. Berdasarkan hasil uji t yang telah dilakukan dapat dinyatakan bahwa hipotesis ditolak karena Net Profit margin tidak berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba (Y). Korelasi negatif antara Net Profit Margin dan Pertumbuhan Laba memiliki arah yang tidak sejalan. Pada saat ini nilai Net Profit Margin menurun maka nilai Pertumbuhan Laba juga akan menurun. Net Profit Margin mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih dari penjualan yang telah dilakukan oleh perusahaan. Semakin tinggi nilai Net Profit Margin, maka semakin tinggi pula nilai laba bersih yang penjualannya. Hal tersebut memiliki arti bahwa perusahaan bisa menghasilkan laba bersih yang tinggi dan berpengaruh juga dalam peningkatan nilai Pertumbuhan Laba. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Bahari & Setyawan, 2. yang menyatakan Net Profit Margin mempunyai arah hubungan yang negatif dan berpengaruh tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba. Namun tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Hajering & Muslim, 2. yang menyatakan Net Profit Margin mempunyai arah hubungan yang positif dan berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya dalam penelitian ini mengenai pengaruh rasio keuangan terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Maka dari itu penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan hasil uji Current Ratio yang dilakukan menjelaskan bahwa Current Ratio berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada Cindy Khofifah1. Dwi Susilowati2. Nadi Hernadi Moorcy3 Perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan hasil uji Debt to Equity Ratio yang dilakukan menjelaskan bahwa Debt to Equity Ratio berpengaruh tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada Perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan hasil uji Total Asset Turnover yang dilakukan menjelaskan bahwa Total Asset Turnover berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada Perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan hasil uji Net Profit Margin yang dilakukan menjelaskan bahwa Net Profit Margin signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada Perusahaan subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. DAFTAR PUSTAKA