Keefektifan Aceptance and Comitment Therapy Untuk Meningkatkan Penerimaan Diri Santriwati Dari Divorce Parent MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet KEEFEKTIFAN ACCEPTANCE AND COMMITMENT THERAPY UNTUK MENINGKATKAN PENERIMAAN DIRI SANTRIWATI DARI DIVORCE PARENT MTS 02 PP AMANATUL UMMAH PACET Ahmad Felix Syahmi Nabil Universitas Negeri Surabaya 21067@mhs. Dr. Ari Khusumadewi. Pd. ,M. Universitas Negeri Surabaya arikhusumadewi@unesa. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) untuk meningkatkan penerimaan diri santriwati dari divorce parent MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet. Peristiwa pahit yang dialami oleh seorang anak pasca perceraian orang tua nya belum tentu bisa diterima dengan baik Tujuan utama Acceptance and Commitment Therapy (ACT) ialah meningkatkan fleksibilitas psikologis individu. Makna dari fleksibilitas ialah ketika individu tidak menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan atau diinginkan. Pendekatan ACT dengan konseling individu digunakan sebagai perlakuan untuk meningkatkan penerimaan diri santriwati dari divorce parent. Metode penelitian menggunakan pre experimental one group pre-test post-test design. Analisis penelitian ini menggunakan uji parametrik uji t paired sample t test dimana terdapat perbedaan mean antara pre test yakni 32,20 dan post test yakni 52,20 dan Sig . -taile. menunjukkan hasil 0,02 < 0,05 Maka H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga Terdapat perbedaan mean pada kelompok eksperimen sesudah pemberian konseling ACT untuk meningkatkan penerimaan diri santriwati dari Divorce Parent sehingga ACT bisa dijadikan sebagai salah satu referensi bagi guru bimbingan dan konseling untuk meningkatkan penerimaan diri santriwati dari divorce parent. Kata Kunci: Santriwati. Penerimaan Diri. Acceptance and Commitment Therapy (ACT) Abstract This study aims to examine the effectiveness of Acceptance and Commitment Therapy (ACT) to improve the self-acceptance of santriwati from divorce parents MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet. The bitter events experienced by a child after the divorce of his parents are not necessarily well accepted. The main purpose of Acceptance and Commitment Therapy (ACT) is to increase individual psychological flexibility. The meaning of flexibility is when individuals do not avoid unpleasant or desirable things. The ACT approach with individual counseling is used as a treatment to increase the self-acceptance of female students from divorce parents. The research method used a pre experimental one group pre-test post-test design. The analysis of this study uses a parametric test paired sample t test where there is a mean difference between the pre test which is 32. 20 and the post test which is 52. 20 and Sig . -taile. shows the results of 0. 02 <0. 05 So H0 is rejected and Ha is accepted, so there is a mean difference in the experimental group after the provision of ACT counseling to increase the self-acceptance of female students from divorce parents so that ACT can be used as a reference for guidance and counseling teachers to increase the self-acceptance of female students from divorce parents. Keywords: Female Student. Self Acceptance. Acceptance and Commitment Therapy (ACT) menunjukkan kenaikan jumlah dari tahun ke tahun (News, 2. Peristiwa pahit yang dialami oleh seorang anak pasca perceraian orang tua nya belum tentu bisa diterima dengan baik. Seperti penelitian yang dilakukan oleh (Fahrurrazi & Casmini, 2. dengan subjek penelitian berinisal MP yang mengalami perubahan drastic antara sebelum dan sesudah orang tuanya bercerai. MP merasa belum bisa menerima peristiwa yang ia alami sehingga perlu dilakukan konseling untuk mengatasi penerimaan diri MP. Penerimaan diri merupakan salah satu aspek PENDAHULUAN Perceraian tidak hanya mengakhiri hubungan romantis antara pasangan suami istri, tetapi juga dapat mempengaruhi anak-anak mereka, termasuk yang sudah Stahl . dalam (Jalal et al. , 2. menjelaskan bahwa remaja sering menghadapi berbagai masalah ketika orang tua mereka bercerai. Berdasarkan data Mahkamah Agung (MA) tahun 2017 terdapat 510 pasangan bercerai, meningkat sepanjang 2018 menjadi 444. 358 dan meningkat kembali menjadi 480,618 pada tahun 2019. Data tersebut Keefektifan Aceptance and Comitment Therapy Untuk Meningkatkan Penerimaan Diri Santriwati Dari Divorce Parent MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet psychological well being yaitu individu bisa dikatakan memiliki tingkat penerimaan diri yang tinggi saat bisa menerima segala kekurangan dan pengalaman hidup nya sehingga ia mencintai dirinya seutuhnya. Tingkat penerimaan diri yang rendah bisa membuat individu merasa insecure atau kurang bisa mencintai dirinya (Agustina & Naqiyah, 2. Kondisi pengasuhan dengan orang tua Tunggal menjadi salah satu alasan orang tua mengirim anak nya ke pondok pesantren hal tersebut terjadi dikarenakan orang tua belum bisa memberikan waktu atau usaha untuk mengarahkan dan mendidik anaknya (Solechah et , 2. Menurut M. Arifin pondok pesantren adalah Lembaga Pendidikan berbasis islam dimana santri mendapatkan Pendidikan dibawah naungan beberapa kyai yang memiliki karakteristik masing-masing dan berada di lingkungan asrama . serta mendapat pengakuan dari masyarakat (Kariyanto, 2. Penelitan ini bertujuan untuk menguji keefektifan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) untuk meningkatkan penerimaan diri santriwati dari Divorce Parent di pesantren yang berada di Jawa Timur tepatnya MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet. Mojokerto. Ketika melakukan survey awal di MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet peneliti memiliki ketertarikan untuk mencari data lebih lanjut. Hal tersebut dikarenakan, guru menyebutkan bahwa pondok pesantren tersebut belum memiliki guru Bimbingan dan Konseling. Guru BK memiliki peran krusial untuk membantu individu memenuhi tugas perkembanganya terutama pada usia remaja yang perlu didampingi. Menurut wali kelas, masalah yang paling urgent pada saat wawancara ialah pelanggaran yang dilakukan oleh santriwati dari Divorce Parent. Penyebaran instrument psychological well being juga dilakukan sebagai asesmen awal kepada kelas 8 yang berjumlah dua kelas dari 4 kelas dengan total sampel 47 santriwati. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa aspek penerimaan diri memiliki skor yang paling rendah. Berdasarkan wawancara dengan 5 santriwati dari divorce parent Secara garis besar permasalahan J. N, dan S berada di penerimaan diri. Dimana mereka masih belum bisa menerima perceraian yang dilakukan oleh orang tua nya dan ada keinginan agar keluarga nya kembali harmonis sebelum orang tua nya bercerai. Akibat dari perceraian orang tua nya ada yang membuat dirinya berpikir dirinya tidak beruntung saat ada kegiatan AusowanAy, melihat orang tua teman-teman nya utuh dan terlihat harmonis. Santriwati juga ada yang berpikir bahwa tinggal Bersama Ayah/Ibu tiri nya membuat dirinya tidak nyaman. Permasalahan tersebut bisa muncul akibat dari tingkat penerimaan diri yang rendah. Menurut putri dalam (Sandhita & Khusumadewi, 2. Tingkat penerimaan diri yang rendah bisa mengakibatkan individu merasa Salah satu pendekatan konseling yang efektif untuk meningkatkan penerimaan diri terutama pada remaja dari divorce parent ialah Acceptance and Commitment Therapy (ACT). ACT dikembangkan dari aliran Cognitive Behavior Therapy (CBT) gelombang ketiga yang dikenalkan pada tahun 1999 oleh Staven Hayes. Kirk Stroshal, dan Kelly Wilson (S. Hayes et al. , 2006. Tujuan utama ACT ialah meningkatkan fleksibilitas psikologis individu. Makna dari fleksibilitas ialah ketika individu tidak menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan atau diinginkan (Bach et al. , 2. Seperti individu yang memiliki kecemasan saat bekerja, fokus dari ACT bukan untuk menurunkan Tingkat kecemasan nya tetapi lebih berfokus bagaimana individu bersedia bekerja dengan kecemasan. Dimana setelah intervensi dilakukan, tingkat kecemasan tersebut akan semakin menurun seiring dengan berjalanya waktu. Keefektifan Acceptance and Commitment Therapy bisa dilihat melalui penelitian yang pernah Seperti penelitian yang dilakukan (Utami, 2. menunjukkan bahwa teknik konseling ACT terbukti efektif untuk meningkatkan penerimaan diri konseli dengan orang tua yang bercerai, hal tersebut didukung dengan adanya peluapan emosi, pikiran, dan perasaan yang selama ini ditahan oleh konseli. Peningkatan penerimaan diri berdampak positif pada tumbuhnya motivasi konseli untuk membantu ibunya membiayai adikadiknya. Penelitian yang dilakukan oleh (Basereh, 2. menunjukkan bahwa ACT terbukti efektif untuk meningkatkan self compassion atau menyenangkan dalam diri pada Wanita yang akan Penelitian lain yang dilakukan oleh (Ardhani & Nawangsih, 2. kepada korban kekerasan seksual menunjukkan hasil yang efektif. Dimana konseli bisa menerima pengalaman pahit yang dialaminya. Dampak positif lain yang dirasakan konseli ialah penurunan kecemasan yang sebelumnya ia miliki. Berdasarkan penelitian (Soroush et al. , 2. menunjukkan bahwa ACT bisa Keefektifan Aceptance and Comitment Therapy Untuk Meningkatkan Penerimaan Diri Santriwati Dari Divorce Parent MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet meningkatkan psycologiccal well being seorang anak dari keluarga bercerai. Dari beberapa pertimbangan diatas, maka meningkatkan penerimaan diri santriwati MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet menggunakan teknik konseling Acceptance and Commitment Therapy (ACT). Sehingga tujuan penelitian ini ialah untuk Keefektifan Teknik ACT meningkatkan penerimaan diri santriwati dari Divorce Parent di MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet. Mojokerto. METODE Penelitian Adapun peneliti menggunakan desain penelitian pre-experimental dengan one group pretest Ae posttest untuk mengetahui perbandingan skor penerimaan diri santriwati dari Divorce Parent sebelum dan sesudah diberikan perlakuan menggunakan teknik konseling Acceptance and Commitment Therapy (ACT). Penelitian ini menggunakan eksperimen one group pre-test post-test, yaitu pemberian perlakuan pada kelompok eksperimen tanpa adanya kelompok pembanding. Dimana kelompok eksperimen diberikan perlakuan acceptance and commitment therapy (ACT). Pengaruh perlakuan yang diberikan dapat dilihat dengan cara membandingkan hasil pre-test post-test kelompok Perlakuan berhubungan positif apabila hasil post-test kelompok eksperimen memiliki hasil yang lebih tinggi daripada hasil pre-test kelompok eksperimen. Subjek penelitian ini, yaitu santriwati kelas Vi dan IX MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet pada tahun Pelajaran 2023/2024 yang memiliki penerimaan diri rendah dan berasal dari orang tua bercerai yang ditentukan melalui skala penerimaan diri yang sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan nilai CrobachAos Alpha 0,91 sehingga dinyatakan reliabel . Kemudian, subjek penelitian hanya menjadi satu kelompok tanpa kelompok pembanding, yaitu kelompok eksperimen dengan one group pretest-postest. Kelompok eksperimen diberikan pre test kemudian pelaksanaan intervensi akan dilakukan sebanyak 5 sesi, post test diberikan pada sesi yang HASIL Berdasarkan hasil perhitungan pengkategorian skor, dapat dinyatakan bahwa subjek dikategorikan memiliki hasil kategori sangat rendah jika memiliki skor dengan rentang 18 Ae 31, kategori Rendah . kor 32 Ae . , kategori Sedang . kor 41 Ae . , kategori Tinggi . kor 50 Ae . , kategori Sangat Tinggi . kor 59 Ae . Berdasarkan hasil analisis skala penerimaan diri yang sudah dilakukan pada 29 santriwati dari divorce parent menunjukkan hasil sebagai berikut 2 santriwati termasuk dalam kategori sangat rendah, 3 Santriwati termasuk dalam kategori rendah, 10 Santriwati termasuk dalam kategori sedang, 7 Santriwati termasuk dalam kategori tinggi, dan 7 santriwati termasuk dalam kategori sangat tinggi. Subjek penelitian yang memenuhi kriteria yaitu subjek yang masuk kedalam kategori sangat rendah dan rendah dengan jumlah total 5 santriwati yakni sebagai berikut : Tabel 1. 1 Hasil Pre Test Inisial AFH AZV Skor Kategori RENDAH RENDAH RENDAH SANGAT RENDAH SANGAT RENDAH Setelah pre-test sudah dilakukan dan perlakuan sudah diberikan, maka langkah berikutnya ialah Post-Test. Post-test diberikan kepada 5 subjek penelitian. Berikut merupakan rincian data hasil post-test. Hasil post test menunjukkan penerimaan diri setelah diberikan perlakuan kepada subjek dari 2 Subjek berada di kategori sangat rendah dan 3 subjek kategori rendah menjadi 2 subjek kategori sedang, 2 subjek kategori tinggi dan 1 subjek kategori sangat tinggi. Berikut adalah tabel perbandingan hasil pre test dan post test. Tabel 1. 2 Perbandingan Hasil Pre Test dan Post Test Inisial AFH AZV Pre Test Post Selisih Keterangan Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat Setelah Normalitas menggunakan uji Shapiro Wilk untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data pre-test dan post-test > 0,05 sehingga data berdistribusi normal. Tabel 1. 3 Hasil Uji Normalitas Keefektifan Aceptance and Comitment Therapy Untuk Meningkatkan Penerimaan Diri Santriwati Dari Divorce Parent MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet Setelah diuji Normalitas berikutnya ialah Uji homogenitas untuk mengetahui apakah data pre test dan post test berasal dari populasi yang sama. Berikut adalah hasil uji homogenitas yang sudah dilakukan. Tabel 1. 4 Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variances Data Levene Statistic Sig. Uji hipotesis menggunakan uji parametrik karena data berdistribusi normal dan homogen, salah satu uji parametrik yang digunakan untuk mengetahui keefektifan perlakuan yang diberikan kepada subjek dengan membandingkan dua data yaitu pre test dan post test ialah uji paired sample t test. Berikut merupakan hasil uji paired sample t test. Tabel 1. 5 Uji Paired sample t Test Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan mean pada kelompok eksperimen sesudah pemberian konseling ACT untuk meningkatkan penerimaan diri santriwati dari divorce parent. PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan ACT untuk meningkatkan penerimaan diri santriwati dari divorce parent. Perlakuan diberikan kepada santriwati dengan skor pre test penerimaan diri yang rendah. Setelah menentukan subjek penelitian, perlakuan dengan konseling individu pendekatan acceptance and commitment therapy dilaksanakan selama lima sesi. Setelah selesi maka untuk mengetahui perbedaan skor antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan subjek diberikan post test. Ketika data berdistribusi normal dan homogen, uji hipotesis bisa menggunakan salah satu uji parametrik yaitu uji-t paired sample t test. Melihat hasil uji hipotesis yang dilakukan Sig . -taile. menunjukkan hasil 0,02 < 0,05 sehingga dapat ditarik kesimpulan H0 ditolak dan Ha Hasil tersebut didukung dengan adanya peningkatan skor pada hasil post test pada kelima subjek dan perubahan setelah diberikan perlakuan, hal tersebut bisa dilihat dari subjek AFH mengalami peningkatan skor sebanyak 16 poin dari 38 menjadi 54. Subjek AFH bisa menerima hal positif dan negatif yang ada pada dirinya. Subjek K sebanyak 8 poin dari 38 menjadi 46. Subjek K berpikir bahwa menangis bukan suatu masalah ketika ada situasi yang tidak menyenangkan dan melihat hal positif yang ia miliki seperti ibu yang baik. Subjek AA sebanyak 20 poin dari 29 menjadi 49. Subjek AA mulai bisa menerima kondisi keluarga yang ia miliki dan bersyukur memiliki ibu dan teman yang baik. Subjek AZV sebanyak 40 poin dari 20 menjadi 60. Subjek sudah tidak menangis ketika bercerita atau mengingat kondisi keluarganya dan belajar untuk tidak membandingkan keluarganya dengan Subjek KP sebanyak 16 dari 36 menjadi 56. Subjek KP memiliki pandangan yang lebih luas terhadap dirinya, dan belajar menerima diri nya baik hal positif dan Konseling individu dengan ACT efektif untuk meningkatkan penerimaan diri santriwati dari divorce Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Utami, 2. dimana ACT efektif untuk meningkatkan self acceptance remaja yang orang tua nya bercerai, selain itu ACT juga efektif untuk meningkatkan psychological well being remaja dari keluarga bercerai (Soroush et al. , 2. ACT merupakan pendekatan yang dikenalkan oleh steven hayes dan masih satu payung dari pendekatan Cognitive Behavior Therapy (CBT) tepatnya di gelombang ke-3. ACT berfokus untuk mengubah hubungan antara individu dengan pikiran nya sehingga bisa membantu individu melakukan tindakan sesuai nilai yang ia tentukan (Moran et al. , 2. Salah satu kegunaan pendekatan ACT ialah meningkatkan penerimaan diri. Menurut Hurlock, penerimaan diri merupakan kemampuan individu untuk menerima diri nya tanpa ada penolakan atau perasaan gelisah (Tunnisa, 2. Penerimaan diri juga bisa diartikan sebagai kesediaan individu untuk menerima segala aspek dirinya, baik itu kekurangan, kelebihan atau pengalaman masa lalu nya (Fitri, 2. Subjek penelitian ini memiliki penerimaan diri yang rendah mulai dari subjek AFH yang memiliki pikiran Perempuan, membandingkan keluarganya dengan temanya, dan merasa dirinya kurang beruntung. Subjek K membandingkan keluarga milik nya dan merasa iri dengan keluarga temanya. Subjek AA membandingkan keluarga nya dengan keluarga temanya yang masih utuh dan merasa dirinya kurang beruntung. Subjek AZV membandingkan keluarganya dengan keluarga temanya Keefektifan Aceptance and Comitment Therapy Untuk Meningkatkan Penerimaan Diri Santriwati Dari Divorce Parent MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet dan merasa dirinya tidak beruntung. Subjek KP terkadang membandingkan keluarga yang dimiliki dengan keluarga Remaja dari orang tua yang bercerai kurang mendapat dukungan, apresiasi, dan kasih sayang dari orang tua sehingga perceraian orang tua bisa menjadi salah satu faktor penerimaan diri yang rendah (Tiara Putri et al. Pendekatan ACT bisa membantu individu untuk meningkatkan fleksibilitas psikologis sehingga ketika individu dihadapkan dengan suatu hal yang tidak menyenangkan atau diluar kendali seperti perceraian orang tua, individu lebih bisa merespon dengan baik (Bach et al. , 2. ACT terbukti menunjukkan hasil yang lebih signifikan daripada Hope therapy dalam meningkatkan penerimaan diri pasien leukimia (Abow et al. , 2. ACT masih masuk dalam aliran pendekatan kognitif. Pendekatan Cognitive Behavioral Therapy menunjukkan hasil yang efektif dalam meningkatkan penerimaan diri remaja yang berada di panti asuhan (Pramono & Astuti, 2. Hal ini membuktikan ACT dan pendekatan kognitif secara umum efektif untuk meningkatkan penerimaan diri. Melalui uji hipotesis penelitian yang sudah dilakukan dan didukung dengan penelitian terdahulu, maka ACT terbukti bisa digunakan untuk meningkatkan penerimaan diri pada seorang remaja dari orang tua bercerai. Keterbatasan penelitian ini terdapat pada tidak adanya ruang BK atau konseling, sehingga proses konseling membuat konseli kurang nyaman saat ada yang lewat atau mendengar konseli saat bercerita. PENUTUP Sehingga peneliti bisa mempertimbangkan untuk meneliti dengan konsep atau variabel yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA Abow. Razak. Abulkassim. Adnan. Rahi. , & Fadhil. Comparing the Effectiveness of Acceptance and Commitment Therapy and Hope Therapy on Pain Anxiety and Self-Acceptance in Patients with Leukemia. International Journal of Body. Mind & Culture. Agustina. , & Naqiyah. Studi Kasus Penerimaan Diri Rendah Siswa Kelas Vi Smpn 1 Sukodono. Jurnal BK UNESA, 11, 525Ae539. Ardhani. , & Nawangsih. Pengaruh Acceptance and Commitment Therapy (ACT) terhadap Penurunan Kecemasan pada Perempuan Korban Kekerasan Seksual. PHILANTHROPY: Journal Psychology, 4. , https://doi. org/10. 26623/philanthropy. Bach. Moran. , & Patricia A. Bach. ACT in Practice: Case Conceptualization in Acceptance Commitment Therapy. http://gen. ec/book/index. php?md5=c0889df 722dbe153de05d3a60b60e473\nhttp://books. com/books?id=6wQi-PcH9loC&pgis=1 Basereh. The Effect of Acceptance and Commitment-based Therapy on Self-Compassion . Quality of Life and Marital Commitment of Women Who Filed for Divorce. , 4Ae12. Fahrurrazi. , & Casmini. Bimbingan Penerimaan Diri Remaja Broken Home. ENLIGHTEN (Jurnal Bimbingan Dan Konseling Isla. , 3. , 142Ae152. https://doi. org/10. 32505/enlighten. Simpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan di MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet. Hasil pre test dan post test subjek penelitian mengalami peningkatan didukung dengan perubahan subjek. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendekatan ACT efektif dalam meningkatkan penerimaan diri santriwati dari dicvorce parent di MTS 02 PP Amanatul Ummah Pacet. Saran