303 Fatimah Hasibuan, et. P-ISSN : 2502-8383 E-ISSN : 2808-3954 Vol. 10 No. 2 , 2025 AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-Fakultas Tarbiyah-UIJ DEVELOPMENT OF ISLAMIC EDUCATION TEACHING MATERIALS IN THE FIELD OF FIQH STUDIES IN PHASE B OF THE MERDEKA CURRICULUM AT SDN 0707 ALIAGA II HUTARAJA TINGGI DISTRICT PADANG LAWAS REGENCY Fatimah Hasibuan1. Zulhammi 2. Hamdan Hasibuan3 1,2,3 Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidempuan Email: fatimahhasibuan301@gmail. com1, zulhammi@uinsyuhada. id2, hamdanhasibuan258@gmail. Article Info Corresponding Author: Fatimah Hasibuan fatimahhasibuan301@gma Keywords: Teaching materials. Fiqh Phase B. Islamic Religious Education Kata kunci: Bahan ajar. Fiqih Fase B. Pendidikan Agama Islam Naskah. Diterima : 10 /07 /2025 Direvisi : 07 /09/ 2025 Disetujui : 15/09/ 2025 Abstract (Garamond . Teachers are examples and facilitators for students in the teaching and learning process to achieve optimal competence. Teachers should be able to adjust learning resources that are useful and can support education and the goals and teaching and learning processes, both in the form of resource persons, textbooks, magazines, and newspapers. In addition, one of the efforts that can be made by a teacher in guiding or teaching students to understand the material well is by using teaching materials. This study aims to . produce PAI Fiqh teaching materials in Phase B, . produce a design for PAI Fiqh teaching materials in Phase B that are feasible in terms of validity, practicality, and effectiveness. The research method used is development research with the ADDIE model . nalyze, design, development, implementation and evaluatio. The subjects of the study were PAI teachers at SD Negeri 0909 Aliaga. Data collection in this study used an interview list, and a test instrument for the feasibility of the guide material, a test instrument for the feasibility of the guide display and a test instrument for the usability of the guide. The research data were analyzed using descriptive analysis, qualitative analysis and nonparametric analysis with the Kendall's Coefficient (W) statistical test and the Wilcoxon Rank Test. The results of the research show that: . the teaching materials used by PAI teachers are appropriate in terms of content and material, . the teaching materials can be used by PAI teachers and can be implemented well with students, . the level of appropriateness of the material is in the very feasible category with the percentage is 88. 62%, and the display is in the very decent category with a percentage of 89. 28%, and the level of use of guidance by PAI teachers is in the good category with a percentage of 74. There was a significant increase in students' understanding results after PAI teachers used teaching materials that had been designed using the ADDIE model, so that these teaching materials could be said to be effective for PAI teachers to use in the teaching and learning process. Abstrak (Garamond 13 Guru adalah contoh dan fasilitator bagi peserta didik dalam proses belajar mengajar untuk mencapai kompetensi secara optimal. Guru hendakanya mampu menyesuaikan sumber belajar yang kiranya berguna serta dapat menunjang Pendidikan serta tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa narasumber, buku teks, majalah, maupun surat kabar. Selain itu salah satu Upaya yang dapat dilakukan seorang Guru dalam membimbingan atau mengajar peserta didik memahami materi dengan baik yaitu dengan menggunakan bahan ajar. Penelitian ini bertujuan . menghasilkan bahan ajar PAI Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. Fiqih pada Fase B, . menghasilkan desain bahan ajar PAI Fiqih pada Fase B yang layak ditinjau dari validitas, praktikalitas, dan efektivitas. Metode penelitian yang digunakan ialah penelitian pengembangan dengan model ADDIE . nalyze, design, development, implementation and evaluatio. Subyek penelitian Guru PAI yang berada di SD Negeri 0909 Aliaga. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan, daftar wawancara, dan instrumen uji kelayakan materi panduan, instrument uji kelayakan tampilan panduan dan instrument uji keterpakaian Data hasil penelitian dianalisis dengan analisis deskriptif, analisis kualitatif dan analisis nonparametrik dengan uji statistik Koefisien KendallAos (W) dan uji Wilcoxon Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . bahan ajar yang digunakan guru PAI layak dari isi dan materi, . bahan ajar daapat digunakan oleh guru PAI dan dapat dimplementasikan dengan baik kepada siswa, . tingkat kelayakan materi berada pada kategori sangat layak dengan persentase 88,62%, dan tampilan berada pada kategori sangat layak dengan persentase 89,28%, dan tingkat penggunaan panduan pada guru PAI berada pada kategori baik dengan persentasi 74,66%. Adanya peningkatan yang signifikan terhadap hasil pemahaman siswa setelah guru PAI menggunakan bahan ajar yang telah dirancang menggunakan model ADDIE, sehingga bahan ajar ini dapat dikatan efektif untuk digunakan guru PAI dalam proses belajar mengajar. PENDAHULUAN Guru adalah contoh dan fasilitator bagi peserta didik dalam proses belajar mengajar untuk mencapai kompetensi secara optimal. (Nurdin, 2. Guru hendakanya mampu menyesuaikan sumber belajar yang kiranya berguna serta dapat menunjang Pendidikan serta tujuan dan proses belajar mengajar, baik yang berupa narasumber, buku teks, majalah, maupun surat kabar. (Rosidah et al. , 2. Selain itu salah satu Upaya yang dapat dilakukan Guru dalam membimbingan atau mengajar peserta didik memahami materi dengan baik yaitu dengan menggunakan bahan ajar. Bahan ajar dalam konteks kurikulum merdeka telah disediakan dalam bentuk buku teks namun menurut Yunis Abidin, meskipun terdapat buku peserta didik yang telah disediakan maupun dimiliki peseta didik. Guru masih mengkreasi dan mengembangkan agar peserta didik tidak cenderung terpaku pada satu sumber bahan ajar saja karena hal ini bertentangan dengan tujuan kurikulum yaitu membentuk lulusan yang kreatif, kritis, dan multifresfektif. (Ida mutiawati, 2. Menciptakan pembelajaran yang berkualitas, diperlukan suatu inovasi pembelajaran. Inovasi pembelajaran merupakan suatu upaya perubahan yang bermanfaat atau pembenahan bagi pelaksanaan proses pembelajaran. Inovasi dalam proses pembelajaran adalah tanggung jawab besar bagi seorang guru. Dari hal ini, guru berusaha dengan maksimal dan kreatif untuk memberikan strategi-strategi atau sesuatu yang menarik bagi siswa. Suatu proses pembelajaran hendaknya bermakna bagi siswa, terintegrasi dan membuat siswa termotivasi dalam meraih hasil belajar yang baik dan berkarakter serta inovatif dalam proses pembelajarannya. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. Pembelajaran yang diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 memberikan pedoman dalam kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013 guru dituntut untuk menciptakan dan melakukan kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik, pembelajaran interaktif, dalam pembelajaran siswa aktif mencari. Pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan ilmiah/ scientific. Berdasarkan hal tersebut maka guru dituntut untuk dapat menggunakan bahan ajar untuk sekolah tingkat menengah. Dalam mengembangkan perangkat bahan ajar juga disusun cara pengemasan pengalaman belajar dan sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi siswa. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual akan menjadikan proses belajar lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian materi Pendidikan Agama Islam yang relevan akan membentuk konsep yang baik, sehingga anak memperoleh keutuhan pengetahuan dan pengaplikasian pengetahuan (Kaimuddin. , 2. Aspek kognitif meliputi tujuan belajar yang berhubungan dengan memanggil kembali pengetahuan dan pengembangan kemampuan intelektual dan keterampilan. Aspek afektif meliputi tujuan-tujuan belajar yang menjelaskan perubahan sikap, minat, nilai-nilai, dan pengembangan apresiasi serta penyesuaian. Pendidikan sangat erat kaitannya dengan perkembangan zaman, hal ini berfungsi untuk mempersiapkan manusia dimasa depan agar Hidup lebih baik, karena itu pendidikan dapat dipandang sebagai proses perubahan sosial yang Salah satu tujuan pendidikan adalah menyiapkan individu . alam memenuhi kebutuhan individualny. untuk dapat beradaptasi/menyesuaikan diri atau memenuhi tuntutan- tuntutan sosial wilayah tertentu . asional,regional, ataupun globa. yang senantiasa berubah. (Siswantara, 2. Dengan adanya Pendidikan diharapkan dapat meningkatkan sumber daya manusia yang Mutu pendidikan yang menjadi tujuan ini menyangkut dimensi proses dan hasil Oleh karena itu pendidik dalam memberikan materi ini selain memberikan pengajaran yang bersifat teori, harus pula memberikan contoh atau mengajak siswa secara langsung untuk menerapkan materi yang diajarkannya. Pada penelitian ini penulis telah melihat dan mengamati hasil belajar peserta didik khususnya mata pelajaran Agama Islam pada elemen fikih, hasil belajar peserta didik belum memenuhi kriteria ketuntasan tujuan pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum merdeka. Kondisi aktivitas belajar peserta didik rendah dan monoton, dikarenakan penyampaian materi yang dilakukan oleh guru dilakukan secara monoton tanpa penggunaan media yang sesuai, dan contoh- contoh materi pelajaran yang diberikan guru masih kurang menarik perhatian peserta didik. Hal ini dibuktikan dari hasil observasi belajar peserta didik, hasil penilaian yang diperoleh peserta didik masih banyak yang berada di bawah rata-rata yaitu 70. Nilai terendah peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah 65, dan nilai peserta didik tertinggi adalah 75. Sedangkan nilai rata-rata peserta didik pada semester ganjil adalah 69. Menggunakan pengembangan bahan ajar Pendidikan Agama Islam elemen fiqih pada fase B kurikulum Merdeka yakni siswa kelas 3 dan 4 sekolah dasar atau sederajat yang diharapkan dapat mendorong peserta didik dalam proses belajar. Berdasarkan masalah diatas, penulis tertarik untuk Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. melakukan penelitian yang berjudul AuPengembangan Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam Bidang Studi Fiqih pada Fase B Kurikulum Merdeka di SDN 0707 Aliaga II Kec. Hutaraja Tinggi Kab. Padang Lawas. METODE PENELITIAN Metode Penelitian menggunakan penelitian pengembangan . esearch & developmen. Jenis penelitian ini merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengembangkan atau memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam Pendidikan dan pembelajaran. (Sugiyono, 2. Prosedur pengembangan model ADDIE dapat dilihat pada gambar berikut. Diagram model ADDIE pada Gambar 1 di atas menunjukkan proses pengembangan yang terus berlanjut. Antara tahapan-tahapan tersebut memiliki keterkaitan namun, tidak menutup kemungkinan pengembangan selanjutnya di waktu yang akan datang jika produk yang dihasilkan perlu pengembangan lebih lanjut. Rangkaian kegiatan pengembangan bahan ajar PAI bidang studi Fiqih pada fase B Kurikulum Merdeka seperti pada Gambar 1 yang dikemukakan dijelaskan sebagai (Fiantika, 2. Dalam penelitian ini, sumber data utama pengembangan merupakan kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti menggunakan dokumen dan lainnya. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari : . tenaga ahli yang akan melakukan uji kelayakan terhadap materi bahan ajar dan tampilannya, . sasaran pemakaian produk, yaitu Guru Pendidikan Agama Islam untuk memberikan penilaian dalam uji ketepakaian dari produk yang telah dirancang. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini disesuaikan dengan karakteristik data dan sumber data penelitian. Adapun instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan angket. menggunakan angket terbuka dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada responden untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan pandangan dan kemampuan Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. masing-masing. Oleh sebab itu, responden dapat menuliskan komentar dan saran untuk perbaikan produk penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Pengembangan bahan ajar merupakan salah satu aspek penting dalam proses pembelajaran yang efektif dan bermakna, khususnya dalam bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan fokus studi Fiqih pada fase B Kurikulum Merdeka. Bahan ajar berfungsi sebagai media pembelajaran yang membantu guru dalam menyampaikan materi sekaligus memudahkan siswa dalam memahami isi Pada Kurikulum Merdeka, pengembangan bahan ajar harus menyesuaikan dengan prinsip pembelajaran yang menekankan kemandirian, kontekstualitas, dan penguatan karakter peserta didik. Menurut teori pembelajaran modern, bahan ajar tidak sekadar kumpulan materi, tetapi harus dirancang secara sistematis agar mampu menciptakan pengalaman belajar yang menyeluruh. Dalam konteks Fiqih, bahan ajar hendaknya memfasilitasi pemahaman siswa terhadap hukum-hukum ibadah dan muamalah yang aplikatif dan sesuai dengan umur, yakni fase B yang biasanya meliputi SD. Oleh karena itu, komponen bahan ajar harus disusun dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dilengkapi dengan ilustrasi atau media pendukung yang menarik. Prinsip pengembangan bahan ajar yang relevan dalam Kurikulum Merdeka adalah kesesuaian dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik, kesederhanaan isi, serta integrasi nilai-nilai keislaman dan Profil Pelajar Pancasila. Pengembangan ini mengacu pada pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran dengan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata dan pengalaman sehari-hari agar dapat meningkatkan pemahaman konsep Fiqih secara mendalam. Selain itu, model pengembangan bahan ajar umumnya mengikuti langkah-langkah sistematis seperti identifikasi kebutuhan peserta didik, penyusunan desain awal bahan ajar, validasi oleh ahli materi dan media, serta uji coba lapangan. Validasi menjadi tahap penting untuk menjamin bahan ajar yang dikembangkan efektif dan dapat digunakan secara optimal dalam proses pembelajaran di Uji coba lapangan juga memberikan feedback langsung dari pengguna, yaitu guru dan siswa, sehingga bahan ajar dapat diperbaiki sesuai hasil evaluasi. (Alwi. Rahmawati, 2. Penggunaan multimedia dan teknologi dalam pengembangan bahan ajar Fiqih pada fase B juga sangat dianjurkan. Media pembelajaran berbasis multimedia interaktif terbukti mampu menarik perhatian siswa, menumbuhkan motivasi belajar, dan mendukung pembelajaran mandiri sesuai dengan filosofi Kurikulum Merdeka. Hal ini sangat penting mengingat karakteristik siswa fase B yang cenderung aktif dan kreatif sehingga membutuhkan pendekatan pembelajaran yang dinamis dan inovatif. (Ida mutiawati, 2. Selanjutnya, pengembangan bahan ajar Fiqih harus mempertimbangkan pula aspek evaluasi dan refleksi sebagai bagian dari pembelajaran yang berkelanjutan. Evaluasi autentik yang terintegrasi dalam bahan ajar memungkinkan guru untuk mengukur keberhasilan pembelajaran secara komprehensif, meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Sementara itu, refleksi Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. memberi kesempatan bagi siswa untuk menilai dan memahami proses belajar yang telah (Ibrahim, 2. Pengembangan bahan ajar Pendidikan Agama Islam bidang studi Fiqih pada fase B Kurikulum Merdeka harus mengedepankan pendekatan yang kontekstual, relevan dengan kebutuhan peserta didik, dan terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman serta Profil Pelajar Pancasila. Bahan ajar yang dikembangkan secara sistematis dan didukung media inovatif akan berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa. (Wahyudin et al. , 2. Hasil Tahap Analisis (Analyz. Pada tahap pertama ini, dilakukan kajian permasalahan di lapangan dengan cara analisis dilakukan berdasarkan kajian pustaka dan kajian permasalahan di lapangan dengan cara mewawancarai 5 orang guru Pendidikan Agama Islam Hasil dari wawancara kepada 5 orang guru yanga dilakukan di sekolah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan siswa tenatng puasa, shalat Idain dan shalat jumAoat merupakan pilihan yang paling banyak dipilih oleh guru. Berdasarkan kajian teori serta hasil dari wawancara di atas, dirancang topik-topik materi modul yang kemudian dijadikan sebagai bahan untuk melakukan studi kebutuhan . eed assessmen. kepada siswa. Tahap Desain (Desig. Berdasarkan hasil temuan yang dipaparkan pada tahap analisis terkait dengan need assesment di sekolah dengan cara wawancara kepada guru Pendidikan Agama Islam Berdasarkan hasil need assessment yang telah dilakukan, kemudian didiskusikan bersama pembimbing, dari proses tersebutdiperoleh beberapa rekomendasi berkenaan dengan materi yang akan dimasukkan dalam rancangan modul bahan ajar fikih pada fase B. Adapun judul panduan sebagai produk penelitian ini yaitu Aumodul bahan ajar fikih pada fase B. Ay. Topik-topik yang dipilih merupakan hasil wawancara need asessment kepada 5 orang guru. Topik tersebut kemudian dikembangkan dan dijadikan materi modul bahan ajar fikih pada fase B. Tahap Pengembangan (Developmen. Tahap pengembangan . digunakan untuk menjawab tujuan penelitian 3 yaitu tingkat validitas panduan layanan bimbingan kelompok yang dapat digunakan oleh Guru . Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan pengembangan dengan cara membuat panduan berdasarkan hasil tahap analisis dan tahap desain. Tahap pengembangan ini dilakukan melalui dua jenis kegiatan yaitu pengembangan produk penelitian dan revisi produk, dengan uraian sebagai berikut. Berdasarkan tahap analisis dan tahap desain yang telah dilakukan, maka dikembangkan produk penelitian berupa panduan layanan bimbingan kelompok dengan memuat materi-materi seperti yang telah dipaparkan pada tahap analisis dan desain. Peneliti mengembangkan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data dari panduan yang dirancang. Instrumen yang digunakan bertujuan untuk mengetahui validasi modul dari para ahli. Berdasarkan tabel di atas, maka dapat Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. diketahui bahwa secara keseluruhan penilaian para ahli terhadap materi panduan dalam kategori sangat layak dengan persentase 77,17% dan dapat dipaiak dengan beberapa perbaikan. Artinya, para ahli memberi penilaian yang positif terhadap panduan yang telah dirancang dan perlu perbaikan. Selanjutnya untuk mengetahui hasil penelitian ahli berkenaan dengan produk yang telah dikembangkan tersebut, maka dilakukan uji statistik untuk mengetahui apakah terdapat keselarasan penilaian antara masing-masing validator berkenaan dengan materi/isi panduan. Analisis yang digunakan peneliti adalah uji Koefisien Konkordansi KendallAos yang hasil pengolahan datanya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 18. Hasil Perhitungan Uji Koefisien Konkordansi KendallAos Terhadap Ahli dari Segi Materi/Isi Panduan KendallAos Chi-Square Asymp Sig. Berdasarkan perhitungan pada tabel diatas, maka diperoleh nilai Asymp Sig. sebesar 0,005 yang menunjukkan bahwa probabilitas berada di bawah 0,05. Dengan demikian dapat dimaknai bahwa terdapat keselarasan penilaian dari ketiga ahli terhadap produk penelitian. secara keseluruhan penilaian para ahli terhadap tampilan panduan dalam kategori sangat layak dengan persentase 89,28% Selanjutnya untuk mengetahui tingkat keselarasan penilaian antar para ahli, maka dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji Koefisien Konkordansi KendallAos untuk mendapatkan hasil analisis yang tepat dan akurat serta menghindari resiko kesalahan perhitungan data manual, maka dalam pengolahan ini peneliti menggunakan bantuan program Statistical Product and Service Solution(SPSS) versi 20. hasil pengolahan datanya dapat d ilihat pada tabel berikut. Tabel 20. Hasil Perhitungan Uji Koefisien Konkordansi KendallAosTerhadap Ahli dari Segi Bahasa Panduan KendallAos Chi-Square Asymp Sig. Berdasarkan perhitungan pada tabel di atas, maka diperoleh nilai Asymp Sig sebesar 0. yang menunjukkan bahwa probabilitas berada dibawah 0. dengan demikian dapat dimaknai bahwa terdapat keselarasan penilaian dari ketiga ahli terhadap produk penelitian Selain itu, peneliti juga mempertimbangkan berbagai saran yang telah diberikan para ahli sebagai acuan merevisi panduan yang telah dinilai, sehingga dapat dimplementasikan oleh Guru kepada siswa. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. Tahap Implementasi (Implementatio. Analisis Hasil uji Praktikalitas Tahap implementasi ini masih digunakan untuk menjawab tujuan penelitian 3, yaitu menganalisis hasil uji praktikalitas panduan layananbimbingan kelompok oleh Guru. Pada tahap ini guru melakukan uji praktikalitas panduan kepada siswa. Data hasil uji praktikalitas dihimpun berdasarkan angket penilaian yang diisi oleh 3 orang Guru . Hasil penilaian Guru terhadap semua aspek yang terdapat dalam instrument dikumpulkan dan digunakan sebagai acuan dalam melakukan revisi terhadap produk yang disusunsehingga diperoleh rumusan panduan yang memiliki tingkat praktikalitas dengan kategori tinggi untuk digunakan kembali oleh Guru . Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa secara keseluruhan penilaian yang diberikan oleh Guru terhadap keterpakaian modul ajar fikih fase B yaitu sangat baik dengan persentase 89,52%. Berarti bahwa Guru BK memberikan penilaian yang positif terhadap panduan bimbingan kelompok untuk meningkatkan kohesi sosial dalampencegahan tawuran Selanjutnya hasil penilaian keterpakaian produk panduan dilakukan uji statistik untuk mengetahui keselarasan penilaian antara masing- masing Guru berkenaan dengan keterpakaian Analisis yang digunakan peneliti adalah uji Koefisien Konkordansi KendallAos. mendapatkan hasil analisis yang tepat dan akurat serta menghindari resiko kesalahan perhitungan data manual, maka dalam hal pengolahan ini peneliti menggunakan bantuan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 20. 00 yang hasil pengolahan datanya dapat dilihat pada tabel Tabel 22. Hasil Perhitungan Uji Koefisien Konkordansi KendallAos Terhadap Guru BK KendallAos Chi-Square Asymp Sig. Berdasarkan perhitungan pada tabel di atas, maka diperoleh nilai Asymp Sig sebesar 0. yang menunjukkan bahwa probabilitas berada di bawah 0,05. Dengan demikian, hal ini dapat dimaknai bahwa terdapat keselarasan penilaian antara Guru BK terhadap produk yang Sehingga dapat disimpulkan bahwa panduan ini dapat dipakai oleh Guru. Tahap Evaluasi Pada tahap ini produk yang telah melewati proses uji kelayakan kepada para ahli kemudian dilakukan uji keterpakaian kepada guru Pendidikan Agama Islam dan uji efektivitas bahan ajar Pendidikan agama Islam Elemen Fiqih pada fase B. Tahapan evaluasi adalah tahapan yang Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. bertujuan menilai secara keseluruhan aspek keterpakaian produk yang dikembangkan. Setelah dilakukan revisi produk, penelitian selanjutnya dievaluasi kembali apakah produk yang dikembangkan telah sesuai dengan rencana pengembangan dan analisis kebutuhan yang dilakukan pada tahap awal. Berdasarkan hasil evaluasi yang peneliti lakukan, revisi produk penelitian pada dasarnya telah memenuhi berbagai tuntutan perencanaan, pengembangan dan analisis kebutuhan yang dilakukan terhadap produk yang dikembangkan, sehingga peneliti berkesimpulan bahwa produk telah teruji secara empiris dan siap untuk digunakan. Produk penelitian yang dihasilkan dalam penelitian ini yaitu modul ajar fikih pada fase B Pelaksanaan pengembangan produk ini, peneliti berpedoman pada prosedur yang tertuang dalam model ADDIE yaitu: Analyze. Design. Development. Implementation and Evaluation. Penelitian ini untukmengembangkan bahan ajar elemen fiqih pada fase B. Pembahasan berikut dipaparkan sesuai dengan tujuan penelitian Menghasilkan bahan ajar Pendidikan Agama Islam Fiqih pada Fase B. Pada tahap analyze peneliti melakukan analisis awal, peneliti melakukan need assesment kepada guru Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 0707 Aliaga. Need asessment yang dilakukan peneliti dengan cara wawancara kepada 3 orang guru Pendidikan Agama Islam yang merupakan subjek dalam penelitian ini. Hasilnya banyak siswa yang masig belum melaksanakan ibadah puasa full, bahkan ada yang tidak berpuasa juga saat bulan ramadhan, padahal sejatinya didalam islam puasa wajib dilakukan pada saat bulan ramdhan bahkan harusnya puasa dibulan ramadhan diterapkan sejak siswa masih berada di usiadini, pengenalan puasa ramadhan sejak dini akan membuat siswa akan merasa terbiasa dengan puasa saat bulan Ramadhan selain itu juga sekolah dasar juga telah menunjukkan efektivitas yang positif dalam pelaksanaan puasa dibulan ramdhan walaupun pada saat ramadhan siswa tersebut tetap melaksanakan proses belajar disekolah (Elvira, 2. Hal ini menunujkkan bahwa sangat penting untuk mengenalkan dan mengajak siswa untuk berpuasa sejak masih di sekolah Hasil wawancara kepada guru selanjutnya tentang shalat jumAoat, banyak siswa yang masih belum konsisten dalam melaksnakan shalat jumAoat, artinya siswa masih melaksnakan shalat jumAoat masih belum rutin. Bagi beberapa siswa melaksanakan shalat jumAoat masih seperti shalat sunnah artinya siswa merasa bahwa shalat jumAoat tidak wajib dilakukan padahal shalat jumAoat merupakan shalat yang wajib dilakukan bagi laki-laki dihari jumAoat (Asdlori & Slamet Yahya, 2. Shalat jumAoat juga perlu dibentuk kebiasaan dalam melakukannya karena tak jarang anak laki-laki menganggap bahwa ia tidak wajib dalam melaksanakan shalat jumAoat sehingga pembiasaan sejak sekolah dasar harus dilaksanakan agar siswa menjadi terbiasa dalam pelaksnaan shalat jumAoat (Nawawi, 2. Selain itu pembiasaan shalat jumAoat juga dapat membentuk kakater yanng baik bagi siswa (Prasetyo et al. , 2. Pendidikan Agama Islam Fiqih pada fase B yang layak ditinjau dari validitas, praktikalitas, dan efektifitas. Materi/isi panduan yang dikembangkan sesuai dengan need assessment . nalisis kebutuha. terhadap siswa. buku sebagai pengisi bahan haruslah menampilkan sumber bahan yang Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. mantap, susunan isinya harus teratur dan sistematis, daya tariknya kuat sesuai minat siswa, serta memenuhi kebutuhan siswa. (Ulfiah, 2. Peneliti juga menyesuaikan dengan guru Pendidikan Agama Islam, agar guru Pendidikan Agama Islam mampu memahami materi dan mengikuti berbagai langkah-langkah pelaksanaan secara mandiri Tingkat kelayakan panduan diperoleh melalui validasi yang dilakukan oleh para ahli terhadap panduan. Setiap ahli diminta untuk menilai produk tersebut, sehingga selanjutnya dapat diketahui kelemahan dan kekuatannya. (Elvira, 2. Berdasarkan data uji kelayakan tersebut diperoleh hasil bahwa para ahli menyatakan produk panduan yang dikembangkan dalam kategori sangat layak dari segi materi dengan persentase 88,62% dan dari segi tampilan panduan berada pada kategori 89,28%, sehingga bahan ajar ini dapat dipakai oleh Guru Pendidikan Agama Islam. Nilai kelayakan yang diberikan oleh para ahli merupakan nilai yang didasari oleh objektivitas terhadapai isi yang tertuang dalam panduan. Objektivitas tersebut dapat dilihat melalui hasil uji statistic menggunakan uji Koefisien Konkordansi KendallAos. berdasarkan hasil pengujian tersebut maka diketahui bahwa tingkat keselarasan penilaian yang diberikan mengidentifikasikan bahwa adanya hubungan yang kuat antar Nilai KendallAos untuk validasi materi/isi sebesar 0. 720 dan untuk validasi tampilan 0. Selanjutnya, uji keterpakaian panduan merupakan bagian dari implementation yang dilaksanakan setelah peneliti melakukan uji kelayakan kepada para ahli. Temuan penelitian dalam rangka mengetahui tingkat keterpakaian produk menggambarkan bahwa Bahan ajar yang dikembangkan oleh peneliti berada pada kategori Baik dengan persentase 74,66%. Hal ini dapat dimaknai bahwa Guru Pendidikan Agama Islam mampu mempraktikkan produk dalam proses belajar mengajar Berdasarkan hasil pengujian statistik dengan menggunakan uji Koefisien Konkordansi KendallAos diketahui bahwa nilai KendallAos sebesar 0,305 yang menunjukkan bahwa tingkat keselarasan penilaian yang tinggi antar Guru Pendidikan Agama Islam. Lebih jauh penilaian yang diberikan oleh Guru Pendidikan Agama Islam terkait tiga aspek, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi tidak ada yang menunjukkan penilaian di bawah standar keterpakaian. Sehingga. Bahan ajar yang dikembangkan oleh peneliti yang disusun telah mencapai taraf kegiatan layanan selanjutnya dapat berjalan lebih efektif (Khadafie, 2. Evaluasi dilakukan setiap akhir pertemuan untuk melihat tingkat keberhasilan bahan ajar Pendidikan Agama Islam elemen Fiqih pada Fase B Kurikulum Merdeke di SD Negeri 0707 Aliaga. Mengembangkan dan Menghasilkan bahan ajar Pendidikan agama Islam Elemen fiqih pada fase B yang dapat Digunakan oleh Guru Pendidikan Agama Islam dalam proses belajar mengajar Materi/isi panduan yang dikembangkan sesuai dengan need assessment . nalisis kebutuha. terhadap siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat(Winarni, 2. menyatakan bahwa buku sebagai pengisi bahan haruslah menampilkan sumber bahan yang mantap, susunan isinya harus teratur dan sistematis, daya tariknya kuat sesuai minat siswa, serta memenuhi kebutuhan siswa. Peneliti juga menyesuaikan dengan kemampuan siswa, agar siswa Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. mampu memahami materi dan mengikuti berbagai langkah-langkah pelaksanaan panduan secara mandiri. Tingkat kelayakan panduan diperoleh melalui validasi yang dilakukan oleh para ahli terhadap Setiap ahli diminta untuk menilai produk tersebut, sehingga selanjutnya dapat diketahui kelemahan dan kekuatannya. Berdasarkan data uji kelayakan tersebut diperoleh hasil bahwa para dosen ahli menyatakan produk panduan yang dikembangkan dalam kategori sangat layak dari segi materi dengan persentase 88,62% dan dari segi tampilan panduan berada pada kategori 89,28%, sehingga panduan ini dapat dipakai oleh Guru Pendidikan Agama Islam. Nilai kelayakan yang diberikan oleh para ahli merupakan nilai yang didasari oleh objektivitas terhadapai isi yang tertuang dalam panduan. Objektivitas tersebut dapat dilihat melalui hasil uji statistic menggunakan uji Koefisien Konkordansi KendallAos. berdasarkan hasil pengujian tersebut maka diketahui bahwa tingkat keselarasan penilaian yang diberikan mengidentifikasikan bahwa adanya hubungan yang kuat antar Nilai KendallAos untuk validasi materi/isi sebesar 0. 720 dan untuk validasi tampilan 0. Selanjutnya, uji keterpakaian panduan merupakan bagian dari implementation yang dilaksanakan setelah peneliti melakukan uji kelayakan kepada para ahli. Temuan penelitian dalam rangka mengetahui tingkat keterpakaian produk menggambarkan bahwa bahan ajar Pendidikan agama Islam Elemen Fiqih pad fase B berada pada kategori Baik dengan persentase 74,66%. Berdasarkan hasil uji efektivitas tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahan ajar Pendidikan agama Islam Elemen Fiqih pad fase B dapat membantu guru Pendidikan Agama Islam dalam proses belajar mengajar, melalui pelaksanaan pembelajaran siswa diharapkan paham dan mamou untuk mempraktikkannya kedalam kehidupan sehari-hari. Kemudian, aspek selanjutnya yaitu evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi yang peneliti lakukan, revisi produk penelitian pada dasarnya memenuhi berbagai tuntutan perencanaan pengembangan dan analisis kebutuhan yang dilakukan terhadap produk yang dikembangkan, sehingga Peneliti berkesimpulan bahwa produk telah teruji secara empiris dan siap untuk digunakan. Hasil evaluasi dapat digunakan guru untuk perbaikan proses agar kegiatan layanan selanjutnya dapat berjalan lebih Evaluasi dilakukan setiap akhir pertemuan untuk melihat tingkat keberhasilan pelaksanaan bahan ajar Pendidikan agama Islam Elemen Fiqih pad fase B dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan hasil pengembangan dan pembahasan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai Bahan ajar yang digunakan guru pendidikan agama islam layak dari segi isi dan materi sebagai media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa bahan ajar yang disusun layak untuk diimplementasikan atau digunakan oleh guru. Bahan ajar dapat digunakan oleh guru pendidikan agama islamdan dapat diimplementasikan dengan baik kepada siswa. Artinya, bahwa modul ini dapat digunakan sebagai media dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. Tingkat kelayakan materi berada pada kategori sangat layak didukung dengan adanya peningkatan yang signifikan terhadap hasil pemahaman siswa setelah guru pendidikan agama islam menggunakan bahan ajar yang telah dirancang menggunakan model ADDIE, sehingga bahan ajar ini dapat dikatakan efektif untuk digunakan guru pendidikan Agama Islam dalam proses belajar SIMPULAN Pada Berdasarkan hasil pengembangan dan pembahasan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut. Bahan ajar yang digunakan guru pendidikan agama islam layak dari segi isi dan materi sebagai media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa bahan ajar yang disusun layak untuk diimplementasikan atau digunakan oleh guru. , . Bahan ajar dapat digunakan oleh guru pendidikan agama islam dan dapat diimplementasikan dengan baik kepada siswa. Artinya, bahwa modul ini dapat digunakan sebagai media dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Dan 3. ) Tingkat kelayakan materi berada pada kategori sangat layak didukung dengan adanya peningkatan. DAFTAR RUJUKAN Alwi. Rahmawati, and R. Analisis Implementasi Program Kurikulum Merdeka Belajar Sebagai Strategi Peningkatan. Mutu PendidikanAo, 6. :67Ae73. Asdlori. , & Slamet Yahya. Konsep Pembelajaran PAI Berbasis Media Digital Melalui Pendekatan Humanistik. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan. https://doi. org/10. 29303/jipp. Elvira. Faktor Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan dan Cara Mengatasinya (Studi pada : Sekolah Dasar di Desa Tonggolobib. Iqra: Jurnal Ilmu Kependidikan Dan Keislaman, 16. https://doi. org/10. 56338/iqra. Fiantika. Metodologi Penelitian Kualitatif. In Metodologi Penelitian Kualitatif. In Y. Novita (Ed. Rake Sarasin (Cet. Issue Marc. PT. GLOBAL EKSEKUTIF TEKNOLOGI. Ibrahim. Al-QawaAoid Al-Fiqhiyyah (Kaidah-kaidah Fiqi. st ed. Noerfikri. Ida mutiawati. Konsep Dan Implementasi Pendekatan Kontekstual Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam, 13. , 80. https://doi. org/10. 22373/jm. Kaimuddin. Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013. Dinamika Ilmu. Vol 14 No. Khadafie. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM SISTEM PENDIDIKAN MERDEKA BELAJAR. TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025 Fatimah Hasibuan, et. https://doi. org/10. 52266/tadjid. Nawawi. PENTINGNYA PENDIDIKAN NILAI MORAL BAGI GENERASI PENERUS Ahmad Nawawi Jurusan PLB FIP UPI Bandung. 16, 119Ae133. Nurdin. Guru Profesional Implementasi Kurikulum,. Quantum Teaching ). Prasetyo. Shaleh. , & Ibrahim. Transformasi Pendidikan Dasar Melalui Integrasi Ilmu Pendidikan dan Prinsip-Prinsip Islam: Membentuk Generasi Unggul dan Berakhlak Mulia. Al-Madrasah: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah. https://doi. org/10. 35931/am. Rosidah. Tobroni. , & Faridi. Interfaith Dialogue in Islamic Religious Education. Jurnal Konseling Pendidikan Islam, 5. , 120Ae133. https://doi. org/10. 32806/jkpi. Siswantara. PENDIDIKAN MULTIKULTURAL: Sebuah Tantangan Pendidikan di Indonesia. Majalah Parahyangan. Sugiyono. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D . etakan k. Alfabeta. Ulfiah. Psikologi Keluarga. Wahyudin. Subkhan. Malik. Hakim. Sudiapermana. LeliAlhapip. Maisura. Amalia. Solihin. Ali. , & Krisna. Kajian Akademik Kurikulum Merdeka. In Kemendikbud. Jurnal Al-Ashr. Vol. No. September 2025