Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. EFEKTIFITAS PENCEGAHAN STUNTING MELALUI PROGRAM POSYANDU DI DESA MPANAU Dhani Sidharta1*. Ahmad Sinala2. Ince Dian Afnita3 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia Universitas Tadulako. Palu. Indonesia RIWAYAT ARTIKEL Diterima: 28-07-2025 Disetujui: 27-08-2025 Dipublikasi: 28-08-2025 Kata Kunci: Stunting. Efektivitas. Kader Kesehatan. Desa Mpanau ABSTRAK Stunting merupakan salah satu masalah gizi kronis yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Upaya pencegahan stunting memerlukan intervensi yang efektif, khususnya di tingkat komunitas melalui program Posyandu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pencegahan stunting melalui program Posyandu di Desa Mpanau. Kecamatan Sigi Biromaru, dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap kader Posyandu dan petugas gizi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program yang dijalankanAimeliputi Inovasi Sejuta Telur. Tangguh Bersinar, dan Pos Penanganan StuntingAi telah berjalan efektif berdasarkan dimensi Robbins dan Coulter, yaitu pencapaian tujuan, efisiensi pelaksanaan, fokus pada output, dan fleksibilitas dalam proses. Program ini mampu meningkatkan pengetahuan kader dan masyarakat, memperbaiki status gizi balita, serta menunjukkan penurunan prevalensi stunting di wilayah tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat. PENDAHULUAN Stunting merupakan salah satu isu strategis dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup, produktivitas, dan daya saing bangsa. Stunting ditandai dengan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi terutama pada 1. 000 hari pertama kehidupan anak, dimulai sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun (Ade, 2020. Sintiawati et , 2021. dan Kusumaningati & Dainy, 2. Dampak stunting tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif dan sosial anak, sehingga berpotensi menurunkan kapasitas belajar serta produktivitasnya di masa dewasa kelak. Secara global, penurunan angka stunting menjadi bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. poin ke-2, yaitu mengakhiri kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030. Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan target nasional untuk menurunkan prevalensi stunting menjadi 14% pada tahun 2024. Namun, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Tengah masih berada pada angka 28,2%. Meskipun angka ini menunjukkan penurunan sebesar 1,5% dibandingkan tahun sebelumnya, capaian tersebut masih jauh dari target nasional yang ditetapkan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa intervensi yang dilakukan belum sepenuhnya optimal, sehingga dibutuhkan pendekatan yang lebih efektif, adaptif, dan partisipatif di tingkat lokal, khususnya melalui pemberdayaan masyarakat desa dan optimalisasi layanan kesehatan dasar seperti Posyandu. PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Dhani Sidharta Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: danisidarta58@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. Upaya penanganan stunting di tingkat desa umumnya dilakukan melalui intervensi gizi sensitif dan spesifik, salah satunya lewat Program Posyandu (Septikasari, 2. Posyandu merupakan layanan kesehatan masyarakat berbasis komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu, bayi, dan balita, serta mempercepat penurunan angka stunting melalui pendekatan partisipatif dan berbasis pemberdayaan lokal (Effendi, 1. Kegiatan Posyandu meliputi pemantauan pertumbuhan, imunisasi, pemberian makanan tambahan, dan penyuluhan gizi yang terintegrasi dalam sistem pelayanan rutin. Sintiawati et al. menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat, terutama ibu balita dan ibu hamil, sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan kegiatan Posyandu dalam mencegah stunting. Semakin tinggi tingkat keterlibatan masyarakat, semakin besar pula peluang keberhasilan program intervensi gizi di tingkat komunitas. Efektivitas program menjadi indikator utama dalam menilai keberhasilan suatu kebijakan atau kegiatan pelayanan publik, termasuk dalam bidang kesehatan masyarakat. Menurut Robbins dan Coulter . alam Putri et al. , 2. , efektivitas mencakup beberapa dimensi penting, yaitu pencapaian tujuan, efisiensi dalam penggunaan sumber daya, fokus pada output yang dihasilkan, serta fleksibilitas dalam proses pelaksanaan. Pendekatan ini relevan digunakan untuk menilai efektivitas pelaksanaan program Posyandu, karena dapat mengevaluasi kinerja secara menyeluruh mulai dari aspek perencanaan strategis, implementasi teknis di lapangan, hingga dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat sasaran. Melalui kerangka ini, keberhasilan program tidak hanya diukur dari hasil akhir, tetapi juga dari proses dan kemampuan beradaptasi terhadap tantangan Beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa efektivitas program penanggulangan stunting sangat ditentukan oleh implementasi kebijakan yang tepat, partisipasi aktif masyarakat, serta kapasitas kader lapangan yang mumpuni (Probosiwi, 2017. dan Putri et al. , 2. Keberhasilan program tidak semata-mata bergantung pada aspek teknis, tetapi juga pada sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Dalam konteks ini. Posyandu tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan kesehatan dasar, tetapi juga sebagai arena pemberdayaan masyarakat desa melalui pelibatan aktif ibu balita, tokoh lokal, dan kader dalam berbagai kegiatan edukatif dan promotif. Peran ini semakin penting seiring dengan tuntutan pelayanan yang lebih partisipatif dan berbasis kebutuhan lokal. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pencegahan stunting melalui program Posyandu di Desa Mpanau. Kecamatan Sigi Biromaru, dengan menggunakan kerangka teori efektivitas Robbins dan Coulter. Fokus penelitian diarahkan pada sejauh mana pelaksanaan program telah mencapai tujuannya, efisien dalam penggunaan sumber daya, menghasilkan output yang signifikan bagi peningkatan status gizi masyarakat, serta mampu menyesuaikan diri secara fleksibel dengan dinamika sosial dan tantangan lapangan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menilai keberhasilan teknis program, tetapi juga menggambarkan kontribusinya dalam membangun sistem pelayanan kesehatan masyarakat yang responsif, adaptif, dan berkelanjutan di tingkat desa. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk mengevaluasi efektivitas program pencegahan stunting yang dijalankan melalui Posyandu di Desa Mpanau. Kecamatan Sigi Biromaru. Lokasi penelitian terpusat di wilayah kerja Puskesmas Biromaru dan Posyandu yang aktif melayani masyarakat setempat. Pelaksanaan penelitian berlangsung pada bulan Februari hingga Maret 2025. Informan dalam penelitian ini dipilih secara purposif, yakni mereka yang dianggap memiliki pengetahuan dan keterlibatan langsung dalam program. Terdapat tiga orang informan utama yang diwawancarai secara mendalam, yaitu satu orang staf ahli gizi dari Puskesmas Biromaru dan dua orang kader Posyandu yang aktif di Desa Mpanau. PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Dhani Sidharta Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: danisidarta58@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. Pengumpulan data dilakukan melalui dua jenis sumber, yakni data primer dan data Data primer diperoleh melalui observasi langsung terhadap kegiatan Posyandu, wawancara mendalam dengan informan terpilih, serta pengukuran antropometri seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala balita. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan dari dokumen laporan kegiatan Posyandu, buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta data prevalensi stunting dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama dalam proses pengumpulan data. Untuk menunjang akurasi dan kelengkapan data, digunakan pula beberapa alat bantu seperti pedoman wawancara, catatan lapangan, lembar observasi, serta alat perekam. Teknik analisis data yang digunakan mengacu pada model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Reduksi data dilakukan untuk menyaring dan memilih data yang relevan dan sesuai dengan fokus penelitian. Selanjutnya, data disusun secara sistematis dalam bentuk narasi untuk mempermudah pemahaman dan interpretasi. Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi guna memastikan keabsahan makna-makna yang muncul dari data yang telah dianalisis secara mendalam. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Wilayah Penelitian Desa Mpanau merupakan salah satu wilayah administratif di Kecamatan Sigi Biromaru. Kabupaten Sigi. Provinsi Sulawesi Tengah. Sejak dibentuknya Kecamatan Sigi Biromaru pada tahun 1964, terjadi perubahan nama desa dari Biromaru menjadi Mpanau, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang tidak memperbolehkan nama desa sama dengan nama Sejak saat itu. Desa Biromaru resmi berganti nama menjadi Desa Mpanau. Secara geografis. Desa Mpanau terletak di sebelah tenggara Kota Palu, dengan jarak tempuh sekitar 9 kilometer dari pusat kota yang sekaligus menjadi ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah. Desa ini berada di ketinggian kurang lebih 500 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas wilayah sekitar 748 hektar, yang didominasi oleh kawasan dataran rendah . di lereng Pegunungan Lando. Karakteristik topografi tersebut menjadikan iklim di wilayah ini cukup dinamis, dengan dua musim utama: musim kemarau yang biasanya terjadi pada bulan Agustus hingga Oktober, dan musim penghujan pada bulan November hingga Desember. Selebihnya, wilayah ini sering mengalami iklim tak menentu, termasuk potensi kemarau panjang maupun hujan di luar musim. Berdasarkan data tahun 2023, jumlah penduduk Desa Mpanau tercatat sebanyak 7. 588 jiwa yang tersebar dalam 1. 888 kepala keluarga dan terbagi ke dalam empat dusun. Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin terdiri dari 3. 690 jiwa laki-laki dan 3. 898 jiwa perempuan. Dari segi kelompok usia, mayoritas penduduk berada pada rentang usia produktif 15Ae65 tahun 586 jiwa. Sementara itu, anak-anak usia 0Ae15 tahun berjumlah 2. 100 jiwa, dan lansia di atas 65 tahun sebanyak 872 jiwa. Tingkat pendidikan penduduk Desa Mpanau menunjukkan bahwa jenjang pendidikan terbanyak adalah Sekolah Menengah Pertama (SLTP), diikuti oleh Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SLTA). Sementara itu, jumlah penduduk dengan pendidikan tinggi (S. masih tergolong rendah, yakni hanya 205 jiwa. Hal ini menggambarkan bahwa meskipun kesadaran akan pentingnya pendidikan cukup tinggi, akses terhadap pendidikan tinggi masih perlu ditingkatkan. Dari sisi mata pencaharian, mayoritas penduduk bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), yaitu sebanyak 768 orang. Hal ini mencerminkan orientasi masyarakat Desa Mpanau yang menempatkan pendidikan dan profesi formal sebagai prioritas. Sementara itu, jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertahanan dan keamanan (TNI/POLRI) merupakan yang paling sedikit, yaitu hanya 15 orang. PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Dhani Sidharta Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: danisidarta58@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. Secara sosiokultural, penduduk Desa Mpanau didominasi oleh pemeluk agama Islam, dengan persentase sekitar 95%. Selebihnya menganut agama Kristen . %). Buddha . %), dan Konghucu . %). Kondisi ini mencerminkan homogenitas keagamaan yang cukup tinggi, yang pada satu sisi dapat mempermudah konsolidasi sosial dalam pelaksanaan program berbasis komunitas seperti Posyandu. Selain itu, nilai-nilai gotong royong dan solidaritas yang tumbuh dalam masyarakat turut memperkuat keterlibatan warga dalam kegiatan pelayanan kesehatan. Profil Puskesmas Biromaru Puskesmas Biromaru merupakan salah satu pusat layanan kesehatan masyarakat yang terletak di Desa Mpanau. Kecamatan Sigi Biromaru. Secara administratif. Puskesmas ini berada di bagian selatan Kota Palu dan memiliki wilayah kerja seluas 289,60 kmA. Wilayah kerjanya mencakup 17 desa serta satu unit pemukiman transmigrasi (UPT) yang pengelolaannya telah diserahkan kepada pemerintah daerah. Sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Puskesmas Biromaru mengusung visi AuTerwujudnya Masyarakat Sigi Biromaru yang Sehat dan Mandiri. Ay Untuk mewujudkan visi tersebut, berbagai program pelayanan kesehatan diselenggarakan secara terintegrasi dengan pendekatan promotif dan preventif. Adapun motto pelayanan Puskesmas Biromaru adalah "Melati" yang merupakan akronim dari Melayani Segenap Hati, mencerminkan komitmen petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat. Dengan letaknya yang strategis serta dukungan program berbasis komunitas seperti Posyandu. Puskesmas Biromaru memainkan peran penting dalam upaya pencegahan stunting di wilayah Kecamatan Sigi Biromaru, khususnya Desa Mpanau yang menjadi wilayah terdekat sekaligus pusat implementasi berbagai program intervensi gizi. Puskesmas ini tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan kesehatan dasar, tetapi juga sebagai koordinator teknis bagi kader dan perangkat desa dalam menyelenggarakan kegiatan promotif dan preventif. Keberadaan tenaga kesehatan yang terlatih serta kolaborasi lintas sektor menjadikan Puskesmas Biromaru sebagai simpul utama dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting secara terintegrasi di wilayah kerjanya. Pencegahan stunting di Desa Mpanau dilakukan melalui berbagai program terintegrasi yang melibatkan lintas sektor, baik pemerintah desa, puskesmas, hingga organisasi sosial Kolaborasi multipihak ini menunjukkan pendekatan holistik yang tidak hanya fokus pada aspek kesehatan, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, ekonomi, dan edukatif masyarakat. Secara umum, terdapat tiga program utama yang dilaksanakan secara sinergis, yaitu Program Inovasi Sejuta Telur. Program Tangguh Bersinar, dan Program Pos Penanganan Stunting. Ketiga program tersebut dirancang untuk saling melengkapi, baik dalam bentuk intervensi langsung berupa pemberian makanan tambahan maupun melalui edukasi dan penguatan kapasitas keluarga. Masing-masing program memberikan kontribusi yang signifikan terhadap upaya peningkatan status gizi balita dan ibu hamil sebagai kelompok sasaran utama dalam pencegahan stunting di tingkat desa. Program Inovasi Sejuta Telur Program ini merupakan hasil inovasi lintas sektor yang dikelola oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi, dengan dukungan kuat dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Tujuan utamanya adalah meningkatkan asupan protein hewani bagi anak-anak yang berisiko stunting, dengan membagikan telur secara rutin sebagai sumber gizi yang mudah diakses dan bergizi tinggi. Sumber pendanaan berasal dari kontribusi sukarela lintas OPD yang disalurkan melalui rekening khusus dan dikelola secara transparan serta akuntabel. Kader Posyandu memiliki peran sentral dalam implementasi program ini, mulai dari pendataan sasaran, distribusi telur, hingga memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya konsumsi protein dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat karena tidak hanya bersifat bantuan langsung, tetapi juga mendorong perubahan perilaku konsumsi rumah tangga yang lebih sehat PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Dhani Sidharta Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: danisidarta58@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. dan berkelanjutan. Program ini juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap layanan Posyandu sebagai mitra strategis dalam menjaga kesehatan anak. Program Tangguh Bersinar Program ini merupakan bagian dari kebijakan strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk menekan angka kemiskinan dan stunting secara bersamaan melalui pendekatan Posyandu berperan sebagai garda terdepan dalam pelaksanaan teknis di lapangan, menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat penerima manfaat. Masyarakat, khususnya keluarga berisiko stunting, memperoleh bantuan sosial berupa pangan bergizi, edukasi kesehatan, serta dukungan ekonomi. Dalam pelaksanaannya, program ini tidak hanya berfokus pada bantuan gizi langsung, tetapi juga membangun sistem pemberdayaan berbasis keluarga melalui pelatihan keterampilan, penyuluhan pola asuh yang tepat, penguatan ketahanan keluarga, dan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan dasar. Keterlibatan aktif Posyandu dalam seluruh tahapan program menunjukkan penguatan fungsi kelembagaan di tingkat desa yang adaptif dan responsif terhadap kebijakan makro. Selain itu, program ini mendorong terbentuknya kolaborasi antarsektor, baik secara vertikal antara pemerintah pusat dan daerah, maupun secara horizontal antarinstansi di tingkat lokal, menciptakan ekosistem pelayanan yang lebih integratif dan berkelanjutan. Program Pos Penanganan Stunting di Desa Mpanau Program ini merupakan bentuk kolaborasi erat antara pemerintah desa. Puskesmas Biromaru, dan lembaga keagamaan seperti BAZNAS dalam upaya menanggulangi stunting secara terpadu di tingkat komunitas. Fokus utama program adalah penyediaan makanan tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil, dengan menu harian yang disusun oleh ahli gizi dari Puskesmas Biromaru agar sesuai dengan kebutuhan nutrisi lokal. Makanan disiapkan oleh kader Posyandu yang telah mendapatkan pelatihan dasar, dengan variasi menu seperti bubur kacang hijau, nasi dengan lauk bernutrisi, puding jagung, nugget sayuran, serta buah-buahan lokal yang mudah Selain meningkatkan asupan gizi, program ini juga berfungsi sebagai media edukasi keluarga tentang pentingnya konsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Keunggulan dari program ini terletak pada pelibatan aktif masyarakat tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaksana utama. Partisipasi langsung warga dalam perencanaan dan pelaksanaan memperkuat rasa kepemilikan terhadap program, sekaligus meningkatkan keberlanjutan intervensi jangka panjang dalam pencegahan stunting di Desa Mpanau. Efektivitas Program Efektivitas program dinilai dengan menggunakan pendekatan Robbins dan Coulter, yang mencakup empat dimensi utama: pencapaian tujuan, efisiensi dan efektivitas, fokus pada output, serta fleksibilitas proses. Pencapaian Tujuan Salah satu indikator pencapaian tujuan adalah meningkatnya pengetahuan kader Posyandu dan keluarga sasaran mengenai stunting dan cara pencegahannya. Wawancara dengan kader menunjukkan bahwa mereka telah memahami penyebab utama stunting, pentingnya gizi seimbang, dan jadwal kegiatan Posyandu. Selain itu, kader juga mampu menyampaikan materi kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami. Hal ini menunjukkan adanya transfer pengetahuan yang berjalan efektif. Masyarakat juga mulai menunjukkan perubahan perilaku, seperti membiasakan anak sarapan, memberikan lauk hewani, dan memperhatikan kebersihan Efisiensi dan Efektivitas Pelaksanaan Program berjalan dengan koordinasi yang baik antar-stakeholder. Tidak ditemukan tumpang tindih jadwal atau pelaksanaan yang tidak relevan dengan sasaran. Perencanaan yang matang terbukti dari adanya jadwal kegiatan rutin yang disosialisasikan kepada masyarakat serta pembagian peran yang jelas antara kader Posyandu dan petugas Puskesmas. Dalam kegiatan PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Dhani Sidharta Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: danisidarta58@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. lapangan, partisipasi masyarakat cukup tinggi, terutama dari ibu-ibu hamil dan balita yang secara rutin mengikuti pelayanan. Ini menunjukkan bahwa program telah dilaksanakan secara efisienAi meminimalkan sumber daya namun menghasilkan dampak yang maksimal. Fokus pada Output Output dari program diukur melalui beberapa indikator, di antaranya peningkatan berat badan dan tinggi badan balita yang rutin mengikuti Posyandu, serta penurunan prevalensi stunting yang tercatat dalam laporan bulanan Puskesmas. Berdasarkan data sekunder yang diperoleh, anakanak yang mengikuti program secara konsisten menunjukkan peningkatan status gizi. Selain itu, program juga menghasilkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelayanan Posyandu. Ini ditunjukkan oleh peningkatan angka kehadiran, bahkan pada hari kerja, yang biasanya sulit dihimpun. Fleksibilitas dalam Proses Salah satu keunggulan program di Desa Mpanau adalah fleksibilitasnya dalam menyesuaikan waktu dan metode pelaksanaan. Misalnya, jika terjadi cuaca ekstrem atau hari libur, jadwal pelayanan bisa digeser tanpa mengurangi substansi kegiatan. Selain itu. Posyandu juga memberikan pelayanan tambahan di luar jadwal rutin jika ada kebutuhan mendesak, seperti pemberian vitamin atau penanganan balita dengan gejala kekurangan gizi. Fleksibilitas ini mencerminkan responsifitas program terhadap kondisi lokal dan kebutuhan masyarakat. Secara keseluruhan, temuan penelitian menunjukkan bahwa program pencegahan stunting melalui Posyandu di Desa Mpanau telah berjalan secara efektif. Keberhasilan ini ditunjang oleh sinergi antarlembaga, partisipasi aktif masyarakat, perencanaan yang matang, serta keberlanjutan kegiatan di lapangan. Efektivitas tidak hanya terlihat dari sisi teknis pelaksanaan, tetapi juga dari dampak sosial yang muncul berupa peningkatan pengetahuan, perilaku sehat, dan keterlibatan kolektif masyarakat dalam mengatasi masalah stunting. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Sintiawati et al. yang menyatakan bahwa keberhasilan program pencegahan stunting sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dan kapasitas kader di tingkat lokal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis terhadap pelaksanaan program pencegahan stunting di Desa Mpanau, dapat disimpulkan bahwa program yang dijalankan melalui Posyandu telah berjalan secara efektif dan memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat. Keberhasilan program ini tercermin melalui empat dimensi utama efektivitas: Pertama, dari segi pencapaian tujuan, program mampu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kader serta masyarakat, khususnya ibu hamil dan orang tua balita, mengenai pentingnya gizi, pola asuh yang tepat, dan deteksi dini stunting. Kader Posyandu menunjukkan pemahaman yang baik dalam menyampaikan edukasi dan pelayanan kesehatan dasar. Kedua, dalam hal efisiensi dan efektivitas pelaksanaan, program dirancang dengan perencanaan yang matang, melibatkan lintas sektor, serta dijalankan secara terstruktur dengan partisipasi aktif masyarakat. Tidak ditemukan hambatan signifikan yang mengganggu jalannya kegiatan, dan sumber daya yang ada dimanfaatkan secara optimal. Ketiga, dari aspek output, program menunjukkan hasil yang positif, ditandai dengan penurunan kasus stunting dan meningkatnya status gizi balita secara konsisten. Kegiatan rutin Posyandu tidak hanya memberikan layanan kesehatan, tetapi juga membentuk kebiasaan baru dalam keluarga untuk lebih peduli terhadap asupan gizi dan kesehatan anak. Keempat, dalam dimensi fleksibilitas, program mampu beradaptasi dengan kondisi lokal, baik dari segi waktu pelaksanaan, metode distribusi makanan tambahan, maupun bentuk kegiatan edukatif yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program pencegahan stunting di Desa Mpanau melalui Posyandu merupakan praktik yang efektif, partisipatif, dan adaptif. Model ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam mengembangkan program serupa guna mempercepat penurunan angka stunting di tingkat lokal. PATRIOT e-ISSN: 3109 - 7227 *Korespondensi Dhani Sidharta Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu. Palu. Indonesia e-mail: danisidarta58@gmail. Vol. 1 No. 1 (AGUSTUS - 2. REFERENSI