A 2024 Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP JURNAL ILMU LINGKUNGAN Volume 22 Issue 4 . : 1024-1032 ISSN 1829-8907 Perhitungan Potensi Beban Pencemaran Air di DAS Way Sekampung Kabupaten Pringsewu Eka Wardhani1. Athaya Zahrani Irmansyah2*, dan M. Refo Falla Torangi1 1Program Studi Teknik Lingkungan. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Institut Teknologi Nasional 2Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Institut Teknologi Nasional. *e-mail: athaya17002@mail. ABSTRAK Sungai Way Sekampung merupakan salah satu sungai utama di Provinsi Lampung. DAS Way Sekampung mencakup 000 hektar berada di Kabupaten Tanggamus. Lampung Tengah dan Timur. Tata guna lahan di DAS terdiri dari domestik, pertanian, perkebunan, dan peternakan. Penelitian bertujuan menganalisis kualitas air sungai dan mengidentifikasi potensi sumber pencemar dominan di sungai tersebut sebagai dasar dalam perencanaan pengendalian kualitas air sungai tersebut. Metode penelitian mengacu pada Peraturan pemerintah No. 22 tahun 2021 tentang penyelenggaraan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 tahun 2003 tentang pedoman penentuan status mutu air. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 1 tahun 2010 tentang tata laksana pengendalian pencemaran air. Sampling air dilakukan di dua titik yaitu di Kecamatan Pagelaran pada koordinat 104A54'36,388"E. 5A20'21,961"S, dan di Gadingrejo pada koordinat 105A0'24,367"E. 5A20'24,171"S. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 6 dari 21 parameter kualitas air yang tidak memenuhi bakumutu, yaitu DO. BOD. Amonia. PO4-P. Nitrit, dan Fenol. Status mutu air termasuk kategori tercemar sedang. Potensi beban pencemar dari seluruh DAS untuk parameter TSS. BOD. COD. Total Nitrogen, dan Total Fosfat masingmasing 8. 814,59, 10. 415,26, 13. 421,9, 534,53, dan 88,08 kg/hari. Daerah yang memberi konstribusi beban pencemaran terbesar yaitu Kabupaten Pringsewu. Sektor pemberi kontribusi tertinggi yaitu aktivitas domestik. Rekomendasi pengendalian yang dilakukan yaitu pengelolaan air limbah domestik di Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu. Kata kunci: Beban Pencemaran. Indeks pencemaran. Kualitas air. Sungai Way Sekampung. Potensi beban pencemar ABSTRACT Way Sekampung River is one of the main rivers in Lampung Province. The Way Sekampung watershed covers 484,000 hectares in the Tanggamus District. Central and East Lampung. Land use in the watershed consists of domestic, agricultural, plantation and animal husbandry. This research aims to analyze the quality of river water and identify potential sources of dominant pollutants in the river as a basis for planning to control the quality of the river's water. The research method refers to Government Regulation No. 22 of 2021 concerning implementing environmental protection and management. Minister of Environment Decree No. 115 of 2003 concerning guidelines for determining water quality status, and Minister of Environment Regulation No. 1 of 2010 about procedures for controlling water Water sampling was carried out at two points, namely in Pagelaran District at coordinates 104A54'36. 388"E. 5A20'21. 961"S, and in Gadingrejo at coordinates 105A0'24. 367"E. 5A20'24. 171"S. Based on the research results, there were 6 out of 21 water quality parameters that did not meet quality standards, namely DO. BOD. Ammonia. PO4-P. Nitrite, and Phenol. The water quality status is in the medium polluted category. Potential pollutant load from all watersheds for the parameters TSS. BOD. COD. Total Nitrogen, and Total Phosphate were 8,814. 59, 10,415. 13,421. 9, 534. 53, and 88. 08 kg/day, respectively. The area that contributes the most significant pollution load is Pringsewu Regency. The highest contributing sector is domestic activity. The recommended control is the management of domestic wastewater in Pringsewu District. Pringsewu Regency. Keywords: Pollution load. Pollution index. Water quality. Way Sekampung River. Potential pollutant load Citation: Wardhani. Irmansyah. , dan Torangi. Perhitungan Potensi Beban Pencemaran Air di DAS Way Sekampung Kabupaten Pringsewu. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1024-xx, doi:10. 14710/jil. 1024-xx PENDAHULUAN Daerah aliran sungai Way Sekampung seluas 000 hektar, dimana daerah aliran sungai Way Sekampung hulu berada di Kabupaten Tanggamus, bagian tengah di Kabupaten Lampung Tengah, dan bagian hilir di Kabupaten Lampung Timur. Sungai Way Sekampung merupakan aliran sungai yang utama di Provinsi Lampung, yang memasok daerah lumbung Wardhani. Irmansyah. , dan Torangi. Perhitungan Potensi Beban Pencemaran Air di DAS Way Sekampung Kabupaten Pringsewu. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1024-1032, doi:10. 14710/jil. pertanian di provinsi ini, perkebunan, serta areal perikanan (Fitriani, 2. Daerah aliran sungai Way Sekampung Hulu merupakan penghasil tanaman perkebunan dan komoditas ekspor penting di Indonesia seperti kopi, kako, lada, dan lainya. Bagian tengah merupakan areal pesawahan, perkebunan palawija, dan kelapa sawit. Sungai ini juga menjadi sumber air untuk jaringan irigasi yang membentang dari Lampung Tengah. Timur, dan serta perikanan dengan ekosistem tambak dan kawasan pesisir yang sesuai dengan agro-ekosistem (Fitriani, 2. Akibat dari aktivitas penduduk di daerah aliran sungai menyebabkan kualitas air sungai ini menjadi Pencemaran air sungai yang terjadi menyebabkan fungsi sungai mengalami gangguan. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan adanya penanganan lebih lanjut terkait dengan pencemaran Sungai Way Sekampung yang dikaitkan dengan tata guna lahan sekitar daerah aliran sungai (Fitriani. Wardhani dan Alessandra, 2. Kualitas suatu badan air baik sungai sangat dipengaruhi oleh aktivitas penduduk di daerah aliran Keberagaman aktivitas, kepadatan penduduk, baik tidaknya pengelolaan lingkungan di daerah aliran sungai akan mempengaruhi kualitas air. Hal tersebut karena sungai merupakan tempat akumulasi dari semua pencemar yang ada di daerah aliran sungai (Wardhani dan Primalaksono, 2022. Wardhani dkk. Bahan pencemar akan terkumpul dalam badan air dan bahan pencemar seperti loham berat dan bahan kimia yang bersifat susah mengurai akan terendapkan dalam sedimen (Wardhani dkk, 2021. Wardhani dkk, 2. Banyaknya zat pencemar yang masuk ke sungai akan menurunkan kadar oksigen terlarut dalam sungai. Penurunan oksigen terlarut dapat menyebabkan perubahan kimia air dan sedimen, ada banyak kualitas air dan sedimen yang mengalami perubahan seperti H2S, logam berat, nitrogen (Wardhani dan Sugiarti, 2. Dampak ikutannya yang akan timbul berupa gangguan terhadap biota air dan penurunan manfaat dari air sungai tersebut (Wardhani dan Sugiarti, 2022. Auvaria dkk, 2020. Hermawan dan Wardhani, 2. Penelitian mengenai kualitas air telah dilakukan di beberapa lokasi di Indonesia seperti analisis kualitas air di Sungai Tuntang Semarang Provinsi Jawa Tengah yang menghasilkan parameter kualitas air yang tidak memenuhi baku mutu dan harus diturunkan (Saputra dan Siwiendrayanti, 2. Analisis kualitas air dan strategi pengendalian pencemaran air Sungai Cimahi Provinsi Jawa Barat yang menghasilkan data upaya pengelolaan yang direncanakan dalam pengelolaan kualitas air di sungai yang diteliti (Wardhani dan Primalaksono, 2. Penentuan indeks kualitas air Sungai Bedadung Kabupaten Jember menggunakan metode IP dan NSF-WQI, menghasilkan mutu air dengan dua metode yang berbeda (Novita dkk, 2. Analisis penentuan mutu air beberapa embung di Jawa Barat dengan Metode Indeks Pencemaran (Wardhani and Sugiarti, 2. Analisis Kualitas air sungai guna menentukan peruntukan ditinjau dari A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP aspek lingkungan (Pohan dkk, 2. Penilaian kualitas air menggunakan metode indeks pencemar di Sungai Tukad Badung (Harmayani, dkk, 2. Penentuan indeks pencemaran air dan daya tampung beban pencemaran menggunakan Software QUAL2Kw yang merujuk pada Studi Kasus Sungai Brantas Kota Malang (Novita dkk, 2. Analisis daya tampung lingkungan . eban pencemaran ai. di Kawasan Porong Kabupaten Sidoarjo ex Penambangan Lapindo (Auvaria dan Munfarida, 2. Penelitian yang dilakukan di DAS Way Sekampung selain melakukan analisis kualitas air, penentuan mutu air juga menghitung potensi beban pencemar dari sektor yang terdapat di daerah aliran sungai seperti domestik, pertanian, peternakan, dan hutan. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui prioritas penanganan pencemar air sesuai dengan sumbernya. Berdasarkan uraian di atas maka terdapat beberapa hal yang harus diidentifikasi yaitu . penyebab pencemaran Sungai Way Sekampung. kualitas air sungai. beban pencemar. upaya pengendalian pencemaran yang dapat direncanakan. Maksud dalam penelitian ini, yaitu melakukan pengendalian pencemaran di daerah Aliran Sungai Way Sekampung Kabupaten Pringsewu. Upaya untuk mencapai maksud tersebut diperlukan penelitian mengenai: kualitas air, status mutu, identifikasi dan inventarisasi sumber pencemar, sektor yang paling dominan menyumbang beban pencemar serta wilayah penyumbang beban pencemar. METODE Penelitian dimulai dengan pengumpulan data sekunder yang berasal dari dinas/instansi di Kabupaten Pringsewu. Data tersebut meliputi dokumen RTRW Kabupaten Pringsewu Tahun 20112031 lengkap dengan peta tata guna lahan, geologi, topografi, dan administrasi yang berasal dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Data sekunder yang berasal dari Dinas Lingkungan Hidup yaitu data kualitas air. Data Penduduk yang terdapat di daerah aliran sungai berasal Kabupaten Pringsewu dalam angka yang dikeluarkan oleh Balaui Pusat Statistik. Kecamatan yang masuk ke daerah aliran sungai yaitu: Pagelaran. Sukoharjo. Gadingrejo. Ambarawa. Adiluwih. Pagelaran utara. Banyumas. Pringsewu. Pardasuka. Kualitas air dibandingkan dengan baku mutu Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Kelas air yang dipergunakan yaitu Kelas II. Penentuan kelas II mengacu pada pasal 527 pada peraturan tersebut yang menyatakan bahwa untuk sungai yang belum ditetapkan kelasnya oleh pemerintah daerah maka menggunakan kelas Mutu air dihitung dari Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 tahun 2003 tentang pedoman penentuan status mutu air. Berdasarkan keputusan tersebut klasifikasi mutu air . ndek pencemaran/IP) jika 0 O IP O 1,0, sungai memenuhi baku mutu . ondisi bai. 1,0 < IP O 5,0, sungai Jurnal Ilmu Lingkungan . , 22 . : 1024-1032. ISSN 1829-8907 tercemar ringan. 5,0 < IP O 10, sungai tercemar dan IP > 10 yaitu sungai tercemar berat. Inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 1 Tahun 2010 tentang tata laksana pengendalian pencemaran air. Penentuan potensi beban pencemar (PBP) dengan menggunakan faktor emisi yang dijabarkan pada Tabel 1 sampai 3. Rumus untuk mencari PBP sektor domestik disajikan pada persamaan 1 (Yusuf, 2. Nilai faktor emisi beban pencemar sektor domestik, pertanian, peternakan, dan perkebunan di Indonesia sampai sekarang belum ada penelitian terbaru, sehingga perhitungan pada penelitian ini menggunakan hasil temuan pada 2007 dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (Pusai. Provinsi Jawa Barat. perkotaan akan berbeda dari pada daerah yang tingkat kehidupan pedesaan. Beban pencemaran yang dihasilkan dari perkotaan akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan desa ataupun daerah pinggiran yang masih mengandalkan kebutuhan dari alam sehingga nilai rasio beban pencemar di kota lebih tinggi dari desa (Yusuf, 2. Perhitungan beban pencemar peternakan dengan faktor emisi yang disajikan pada Tabel 2 (Yusuf. Data yang diperlukan dalam perhitungan ini adalah jenis dan jumlah ternak yang berasal dari Kabupaten Pringsewu dalam angka yang dikeluarkan oleh Balai Pusat Statistik. Berdasarkan hasil penelitian (Yusuf, 2. , rata-rata beban pencemar dari hasil kegiatan peternakan di indonesia sekitar 20%. Rumus untuk mencari potensi beban pencemar sektor peternakan ada pada Persamaan 2. Tabel 1. Faktor Emisi Sektor Domestik Parameter Debit TSS BOD COD Minyak & lemak Detergen NH4-N NO2-N NO3-N 10 Organik-N 11 Total-N 12 PO4-P 13 Total Fosfat 14 Sulfat 15 Fenol 16 Koli Tinja Sumber: Yusuf, 2007 Beban Pencemar 1,22 0,189 0,002 0,01 0,11 1,95 0,17 0,21 0,001 3 x 1014 Satuan L/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari g/O/Hari Jumlah/orang/Hari PBP Limbah Domestik = x Jumlah Penduduk x Faktor Emisi x Rasio EkivalenAA. Keterangan: Alpha () merupakan koefisien transfer beban . elivery loa. dimana nilai = 1 untuk daerah yang lokasinya berjarak antara 0 sampai 100 m dari sungai, nilai = 0,85 untuk lokasi yang berjarak diantara 100-500 m dari sungai, dan nilai = 0,3 untuk lokasi yang berjarak lebih besar dari 500 m dari Nilai dipengaruhi oleh ketersediaan sistem pengelolaan air limbah domestik dan jarak pemukiman sebagai sumber pencemar limbah domestik dengan lokasi sungai sebagai badan air Nilai ditentukan 1 jika di lokasi tidak terdapat sistem pengelolaan air limbah domestik dan limbah langsung di buang ke sungai sehingga beban pencemaran dari pemukiman tersebut 100% masuk ke sungai. Jarak sumber pencemar mempengaruhi nilai karena ada proses peluruhan dari materi organik yang menyebabkan terjadi pengurangan beban pencemar ke sungai (Wardhani dan Sugiarti, 2021, 2. Rasio ekivalen untuk daerah perkotaan, pinggiran kota dan pedalaman masing-masing bernilai 1,000, 0,8125, dan 0,625 (Yusuf, 2. Pola hidup mempengaruhi besaran beban pencemar yang akan dihasilkan oleh setiap orang. Pola hidup pada daerah Tabel 2. Faktor Emisi Sektor Perternakan Jenis Ternak Sapi Kerbau Kuda Babi Domba Kambing Ayam Angsa Bebek Sumber: Yusuf, 2007 BOD 2,36 2,46 0,88 COD Total-N g/ekor/hari 0,9333 38,083 4,622 0,278 1,624 5,59 0,002 6,67 0,061 2,22 0,001 Total-P 0,153 0,39 0,306 0,276 0,063 0,115 0,003 0,006 0,005 Tabel 3. Faktor Emisi Sektor Pertanian Jenis Pertanian Sawah Palawijaya Perkebunan lain Sumber: Yusuf, 2007 Beban Pencemaran Limbah Pertanian BOD TSS Pestisida L/Ha/Musim Kg/Ha/musim Tanam Tanam 225 20 10 0,16 0,08 1,5 1,6 0,024 PBP = Jumlah Ternak x Faktor Emisi x 20% . Perhitungan PBP air yang bersumber dari aktivitas pertanian diperoleh berdasarkan data luas lahan pertanian dan jenis penggunaan lahan yang ada di wilayah penelitian, rata-rata beban pencemar pertanian yang masuk ke badan air . elivery loa. di indonesia sekitar 10% dari sawah 1% dari palawija dan perkebunan lainya. Faktor emisi pertanian disajikan pada Tabel 4 Rumus yang digunakan disajikan pada persamaan 3 dan 4 (Yusuf, 2. PBP Sawah per Musim Tanam = Luas Lahan x Faktor Emisi x 10%a. PBP Kebun (Palawija dan Perkebunan Lai. per Musim Tanam = Luas Lahan x Faktor emisi x 1%. HASIL DAN PEMBAHASAN Wilayah perencanaan berada di Kabupaten Pringsewu, dimana dalam DAS Way Sekampung tersebut terdapat 9 Kecamatan, yaitu Kecamatan A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP Wardhani. Irmansyah. , dan Torangi. Perhitungan Potensi Beban Pencemaran Air di DAS Way Sekampung Kabupaten Pringsewu. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1024-1032, doi:10. 14710/jil. Pringsewu. Gadingrejo. Amabarawa. Pardasuka. Pagelaran. Banyumas. Adiluwih. Sukoharjo dan Pagelaran Utara (Badan Pusat Statistik Kabupaten Pringsewu, 2. Kabupaten Pringsewu merupakan salah satu wilayah transmigran di Provinsi Lampung yang memiliki perkembangan sangat pesat karena masyarakat setempat berhasil membangun wilayah ini dengan menggantungkan pada sektor pertanian dan perkebunan. Sungai Way Sekampung merupakan salah satu sungai utama di Kabupaten Pringsewu. Kualitas sungai menurun karena menjadi tempat akumulasi bahan pencemar dari seluruh daerah aliran Aktivitas penduduk khususnya pembuangan limbah domestik, pertanian, perkebunan dan peternakan diprediksi adalah penyebab pencemaran di sungai tersebut (Lusiana dkk, 2. Letak geografis DAS Way Sekampung 5A12'0"5A36'0" Lintang Selatan dan 104A46'30"-105A5,5'30" Bujur Timur. Luas wilayah DAS Way Sekampung 866,43 Ha. Sungai Way Sekampung memiliki panjang 25,521 km. DAS Way Sekampung berbatasan dengan DAS Bandar Lampung Kalianda. DAS Kambas Jepara. DAS Seputih 3 DAS yang berbatasan langsung dengan DAS Way Sekampung terlihat pada Gambar 1. Wilayah administrasi DAS Way Sekampung Kabupaten Pringsewu disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 5 terdapat 3 kecamatan yang 100% wilayahnya masuk DAS Way Sekampung yaitu Pagelaran. Pringsewu, dan Ambarawa. Kecamatan yang paling kecil presentasenya masuk ke DAS yaitu Adiluwih sebesar 30%. Jumlah penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Pringsewu sebesar 19 Jiwa/Ha dan terendah di Pagelaran Utara (Peraturan Daerah Kabupaten Pringsewu No. 11 Tahun 2. Kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Pringsewu dan terendah di Pardasuka sebesar 4 Jiwa/Ha. Pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten Pringsewu mengacu pada Peraturan Daerah No. Tahun 2020 tentang Pengelolaan Limbah Domestik. Kondisi pengelolaan limbah domestik tahun 2020, prosentase kepala keluarga yang memiliki fasilitas buang air besar, sebesar 87,57% sisanya sebesar 12,43%, tidak memiliki fasilitas. Pelayanan air limbah di lokasi kegiatan masih rendah saat ini sistem pengelolaan air limbah domestik menggunakan sistem setempat dengan tangki septik (Peraturan Daerah Kabupaten Pringsewu No. 11 Tahun 2. Kepala keluarga yang tidak memiliki fasilitas sanitasi pencemaran air Sungai Way Sekampung. Limbah domestik diprediksi dibuang ke selokan terdekat atau langsung ke sungai atau anak sungai. Limbah domestik yang tidak diolah berpotensi meningkatkan konsentrasi BOD5. COD. TSS. Minyak-lemak, detergen MBAS. Amoniak, dan Total Coliform (Permen LHK No 68 tahun 2016 tentang baku mutu limbah domesti. Guna lahan di DAS Way Sekampung didominasi oleh Pertanian dengan luas 14. 016 Ha, ruang terbuka hijau berupa semak belukar dan hutan dengan seluas 782 Ha, pemukiman seluas 5. 053 Ha, perkebunan A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP 846 Ha, tegalan/ladang seluas 2. 167 Ha. Sebaran penduduk di DAS Way Sekampung terpusat di Kecamatan Pringsewu yang merupakan ibu kota Sektor pertanian menempati luasan paling tinggi berpotensi memberikan pengaruh terhadap kualitas air sungai. Residu pupuk, pestisida, dan bahan kimia yang dipergunakan dalam pertanian akan berakumulasi di Sungai Way Sekampung. Kabupaten Pringsewu kecamatan yang memiliki lahan pertanian . terbesar yaitu Gadingrejo 454,233 Ha. Ruang terbuka hijau terluas terdapat di Kecamatan Pardasuka. Kecamatan Pagelaran Utara memiliki luas tegalan/ladang terluas 902,549 Ha. Luas lahan pertanian di 9 kecamatan yang berada di Kabupaten Pringsewu memiliki berbagai lahan pertanian. Limbah pertanian berpotensi meningkatkan parameter BOD5. Total N. Total P. TSS, dan Pestisida (Alfaroby dan Wardhani Data selengkapnya disajikan pada Tabel 5. Peternakan adalah salah satu sektor yang memengaruhi terjadinya pencemaran air sungai. Kabupaten Pringsewu memiliki berbagai jenis peternakan seperti sapi, kerbau, kambing, domba, babi, dan unggas . yam dan iti. Jumlah hewan ternak tertinggi didominasi sapi dan kambing yang berada pada Kecamatan Adiluwih. Terdapat satu kecamatan yang tidak memiliki peternakan yaitu Kecamatan Pringsewu. Data jumlah hewan ternak yang diperoleh dari Kabupaten Pringsewu Dalam Angka 2020 dapat dilihat pada Tabel 6. Limbah peternakan berpotensi meningkatkan pencemaran air sungai karena terjadinya peningkatan parameter BOD5. COD. Total-P dan Total-N (Yusuf, 2. Analisis Kualitas Air Kualitas air sungai diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu di titik 1 Kecamatan Pagelaran pada koordinat 104A54'36,388" E. 5A20'21,961"S dan titik 2 di Kecamatan Gadingrejo, 105A0'24,367"E. 5A20'24,171"S. Kualitas air yang diperiksa meliputi parameter kualitas fisika, kimia, dan mikrobiologi. Baku mutu yang dipergunakan yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Tahun Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kelas air yang dipergunakan yaitu kelas II, merupakan air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan/atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Berdasarkan hasil analisis parameter kualitas air yang tidak memenuhi bakumutu yaitu: DO. BOD5. Amonia. Nitrit sebagai N. PO4-P, dan Fenol seperti disajikan pada Tabel 7. Way Sekampung termasuk katagori tercemar sedang di kedua titik pemantauan. Angka Indeks Pencemar pada titik 1 dan 2 masingmasing sebesar 8,928 dan 7,541. Jurnal Ilmu Lingkungan . , 22 . : 1024-1032. ISSN 1829-8907 Tabel 4. Luas Wilayah DAS Way Sekampung Kabupaten Pringsewu Luas* yang % Luas* masuk DAS yang Masuk (H. DAS Sukoharjo Adiluwih Banyumas Pagelaran Utara Pagelaran Pringsewu Gadingrejo Pardasuka Ambarawa Total Sumber: * Hasil pengolahan data, 2022 ** BPS Kabupaten Pringsewu, 2021 Kecamatan Luas** Total (H. Jumlah** Penduduk (Jiw. Jumlah Penduduk yang masuk DAS (H. * Kepadatan Penduduk (Jiwa/H. * Gambar 1. Peta Batas DAS Way Sekampung Kabupaten Pringsewu (Peraturan Daerah Kabupaten Pringsewu 11, 2. Tabel 5. Luas Lahan Sawah dan Perkebunan di DAS Way Sekampung Tata Guna Lahan (H. Kecamatan RTH Sawah Sukoharjo 262,756 Adiluwih 240,483 Banyumas 114,270 198,019 Pagelaran Utara 550,670 35,220 Pagelaran 327,155 Pringsewu 263,730 912,827 Gadingrejo 801,747 454,233 Pardasuka 674,630 411,462 Ambarawa 377,100 174,341 Total 782,147 14. 016,496 Sumber: Kabupaten Pringsewu Dalam Angka, 2020 Kebun 405,910 297,561 663,558 805,684 122,287 120,530 317,576 22,225 91,236 846,567 Tegalan/Ladang 902,549 264,922 167,471 Terbangun 572,308 112,143 552,168 52,979 778,192 986,907 103,281 373,618 522,168 053,764 Tabel 6. Populasi Jumlah Ternak di DAS Way Sekampung Kecamatan Sapi Kerbau Populasi Ternak Kabupaten Pringsewu Kuda Kambing Domba Babi Sukoharjo Adiluwih Banyumas Pagelaran Utara Pagelaran Pringsewu Gadingrejo Pardasuka Ambarawa Sumber: BPS Kabupaten Pringsewu, 2021 Keterangan: tanda- artinya data tidak tersedia Ayam Itik A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP Wardhani. Irmansyah. , dan Torangi. Perhitungan Potensi Beban Pencemaran Air di DAS Way Sekampung Kabupaten Pringsewu. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1024-1032, doi:10. 14710/jil. Tabel 7. Kualitas Air Sungai Way Sekampung Titik Sampling Parameter Satuan BOD5 Amonia <0,01 Nitrit sebagai N PO4--P Fenol Sumber: (DLH Kabupaten Pringsewu, 2. Baku Mutu 0,06 0,005 Tingginya konsentrasi DO. BOD5. Amonia. Nitrit sebagai N. PO4-P, dan Fenol harus diidentifikasi sumber pencemarnya. Potensi beban pencemar dihitung untuk sektor domestik, pertanian, perkebunan, dan peternakan. Hasil perhitungan potensi beban pencemar domestik diperhitungkan dengan jumlah penduduk DAS Way Sekampung pada tahun 2021 Tabel 8. Berdasarkan Tabel 8 beban pencemaran COD yang memiliki nilai paling tinggi, yaitu sebesar 12. 754,925 kg/hari diikuti oleh BOD 276,309 kg/hari dan TSS sebesar 8. 812,494 kg/hari. Wilayah yang paling banyak menghasilkan beban pencemar untuk semua parameter yaitu Kecamatan Pringsewu. Gadingrejo, dan Pagelaran. Tabel 8. Perbandingan Kualitas Air dengan Sungai lain di Indonesia Nama Sungai Way Sekampung Mutu Air Cemar sedang Cimahi Cemar Berat Cibaligo Cemar Berat Cibeureum Cemar Berat Tuntang Cemar sedang Bedadung Tukad Badung Embung Cimahi Porong Cemar sedang Cemar ringan Cemar sedang Cemar Berat Sumber Penelitian ini Wardhani dan Primalaksono. Anggraini dan Wardhani, 2021 Hermawan dan Wardhani, 2021 Saputra dan Siwiendrayanti. Novita dkk, 2023 Harmayani dkk, 2023 Wardhani dkk, 2023 Auvaria dan Munfarida, 2020 Jenis lahan yang ditinjau pada sektor pertanian dibagi menjadi 2, yaitu sawah dan perkebunan. Pembagian jenis lahan pertanian dapat dilihat dari sebaran sektor pertanian. Kecamatan Gadingrejo memiliki luas sawah terbesar, yaitu 3. 454,233 Ha jika dibandingkan dengan kecamatan lainya. Perkebunan dengan luas terbesar pada Kecamatan Sukoharjo 406,910 Ha. Beban pencemar pada sektor pertanian dihitung menggunakan pendekatan faktor emisi yang ditinjau dari jenis lahan pertanian. Beban pencemaran yang dapat dihitung dari sektor domestik hanya BOD5. Total-N. Total-P dan TSS. Perhitungan potensi beban pencemar dari sektor pertanian ada pada Tabel 9. Dari Tabel 9 penyumbang beban pencemaran dari sektor pertanian tertinggi berasal dari di Kecamatan Gadingrejo yang memiliki nilai beban pencemar BOD5 sebesar 212,932 kg/hari TSS sebesar 0,379 kg/hari. Total-N sebesar 18,927 kg/hari, dan Total-P sebesar 9,464 kg/hari. Beban pencemar dari sektor pertanian 031 kg/hari. Tabel 10 menyajikan penyumbang beban pencemar di sektor perkebunan. Perkebunan merupakan sektor penyumbang pencemaran di DAS Way Sekampung. Beban pencemaran yang dapat dihitung sama seperti dari sektor pertanian yaitu BOD5. Total-N. Total-P dan TSS. Berdasarkan Tabel 11 parameter BOD5 menyumbang beban pencemaran ke sungai sebesar sebesar 11,439 kg/hari. Kecamatan Sukoharjo merupakan wilayah penyumbang beban pencemar terbesar karena kecamatan ini memiliki lahan pertanian terluas yaitu 405,910 Ha. Sama halnya dengan sektor pertanian sumber pencemaran BOD5 dari perkebunan berasal dari sisa-sisa bagian tumbuhan yang membusuk yang lama kelamaan terakumulasi di sungai. Beban pencemaran Total-N dan Total-P berasal dari residu pemakaian pupuk dan penyubur yang tidak terserap oleh akar tanaman sehingga terbawa aliran air hujan dan terakumulasi di sungai. Perkebunan yang ada di Kecamatan Sukoharjo yaitu kakao, kopi, karet, dan Kecamatan ini telah menjadi sentra perkebunan di Provinsi Lampung (Fitriani, 2. Sektor terakhir yang dihitung beban pencemarnya yaitu peternakan. Pencemaran pada sektor ini diperhitungkan dari jenis dan jumlah ternak yang Adapun jenis ternak yang ada pada lokasi penelitian yaitu sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, babi, dan ungags . yam dan iti. Beban pencemar sektor peternakan diperhitungkan menggunakan faktor emisi yang ditinjau dari berbagai jenis hewan Berdasarkan inventarisasai sumber pencemar bahwa tidak semua limbah ternak masuk ke dalam badan air hanya 20% limbah yang terbawa aliran . un of. dari jumlah beban pencemar (Bahagia dkk, 2020. Lusiana dkk, 2020. Wardhani dkk, 2. Dari Tabel 12. Kecamatan Gadingrejo memiliki beban potensi beban pencemar tertinggi dari ternak ayam sebesar 97,538 Kg/hari. Beban pencemar tertinggi pada parameter COD dari ternak ayam. Berdasarkan Tabel 12 beban pencemar tertinggi pada parameter COD dari ternak ayam sebesar 667,898 gram/ekor/hari. Tabel 9. Potensi Beban Pencemar dari Sektor Domestik . g/har. Kecamatan Jumlah Penduduk (Oran. Sukoharjo Adiluwih Banyumas Pagelaran Utara Pagelaran Pringsewu Gadingrejo Pardasuka Ambarawa Total Sumber: Hasil Perhitungan, 2022 TSS 150,536 286,587 308,767 144,550 398,857 209,588 845,438 884,452 583,719 812,494 A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP BOD5 211,090 301,671 325,018 152,158 472,481 325,882 942,566 931,002 614,441 276,309 COD 665,249 414,797 446,900 209,218 024,662 198,087 671,028 280,127 844,857 754,925 Total-N 59,041 14,706 15,845 7,418 71,783 113,387 94,700 45,386 29,954 452,220 Total-P 6,358 1,584 1,706 0,799 7,731 12,211 10,198 4,888 3,226 48,701 Jurnal Ilmu Lingkungan . , 22 . : 1024-1032. ISSN 1829-8907 Tabel 10. Potensi Beban Pencemar dari Sektor Pertanian . g/har. Kecamatan TSS Sukoharjo 0,138 Adiluwih 0,026 Banyumas 0,022 Pagelaran Utara 0,004 Pagelaran 0,255 Pringsewu 0,210 Gadingrejo 0,379 Pardasuka 0,264 Ambarawa 0,238 Total 1,536 Sumber: Hasil Perhitungan, 2022 BOD5 77,841 14,824 12,207 2,171 143,455 117,914 212,932 148,652 134,035 864,031 Total-N 6,919 1,318 1,085 0,193 12,752 10,481 18,927 13,213 11,914 76,803 Total-P 3,460 0,659 0,543 0,096 6,376 5,241 9,464 6,607 5,957 38,401 Tabel 11. Beban Pencemar dari Sektor Perkebunan . g/har. Kecamatan TSS Sukoharjo 0,193 Adiluwih 0,057 Banyumas 0,073 Pagelaran Utara 0,079 Pagelaran 0,049 Pringsewu 0,049 Gadingrejo 0,058 Pardasuka 0,001 Ambarawa 0,004 Total 0,563 Sumber: Hasil perhitungan, 2022 BOD5 3,923 1,155 1,481 1,608 0,999 0,998 1,173 0,020 0,081 11,439 Total N 0,362 0,107 0,137 0,148 0,092 0,092 0,108 0,002 0,007 1,056 Total P 0,181 0,053 0,068 0,074 0,046 0,046 0,054 0,001 0,004 0,528 Tabel 12. Beban Pencemar dari Sektor Peternakan . g/har. Jumlah Ternak BOD Sapi 15,359 Kerbau 5,216 Kuda 0,136 Kambing 16,375 Domba 18,348 Babi 83,866 Ayam 118,156 Itik 4,030 Total 261,485 Sumber: Hasil Pehitungan, 2022 COD 37,714 13,356 0,023 44,611 44,798 237,182 280,047 10,167 667,898 Total-N 0,049 0,066 0,335 0,780 0,092 3,028 0,100 0,005 4,454 Total-P 0,008 0,010 0,000 0,055 0,021 0,181 0,150 0,023 0,448 Total 53,131 18,648 0,493 61,820 63,258 324,257 398,453 14,224 934,285 14000,000 Beban (Kg/har. 12000,000 10000,000 8000,000 6000,000 4000,000 2000,000 0,000 Domestik Pertanian Perkebunan Peternakan TSS 8812,494 1,536 0,563 0,000 BOD 9276,309 864,031 11,439 261,485 COD 12754,925 0,000 0,000 667,898 Total N 452,220 76,803 1,056 4,454 Total -P 48,701 38,401 0,528 0,448 Gambar 2. Total Beban Pencemar 4 Sektor A 2024. Program Studi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana UNDIP Wardhani. Irmansyah. , dan Torangi. Perhitungan Potensi Beban Pencemaran Air di DAS Way Sekampung Kabupaten Pringsewu. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22. , 1024-1032, doi:10. 14710/jil. Berdasarkan hasil perhitungan beban pencemar total dari 4 sektor disajikan pada Gambar 2. Sektor domestik menyumbang beban pencemar terbesar untuk parameter TSS. BOD. COD. Total-N dan TortalP. Kecamatan yang memiliki beban pencemar yang paling tinggi berada pada Kecamatan Pringsewu. Upaya pengelolaan yang tepat untuk pengelolaan limbah domestik yaitu dengan merencanakan sistem pengolahan air limbah domestik (SPALD). SPALD yang paling tepat untuk diterapkan di Kecamatan Pringsewu mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/2017 Tentang Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Air Limbah Dosmetik yaitu sistem SPALD-setempat cocok diterapkan di Kecamatan Pringsewu karena tingkat kepadatan penduduk <150 jiwa/ha. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu mutu air Sungai way Sekampung termasuk katagori cemar sedang. Berdasarkan perhitungan potensi beban pencemar sektor domestik memberi konstribusi tertinggi menyumbang pencemar BOD5. COD. TSS. Total-N, dan Total-P. Kecamatan Pringsewu merupakan daerah yang menyumbang beban pencemar terbesar karena di wilayah ini jumlah penduduk paling tinggi dibanding wilayah lainnya. Upaya pengelolaan yang tepat untuk pengelolaan limbah domestik yaitu dengan merencanakan SPALD setempat menggunakan tangka septik baik individual maupun komunal. Penelitian ini hanya menghitung potensi beban pencemar dari empat sektor yaitu domestik, petrtanian, perkebunan, dan peternakan karena data yang tersedia lengkap hanya untuk sektor-sektor tersebut. Keterbatasan penelitian hanya dapat menghitung potensi beban pencemar untuk 5 parameter TSS. BOD5. COD. Total N, dan Total Parameter lain yang melebihi bakumutu yaitu Amonia dan Fenol tidak dapat dihitung karena belum terdapat penelitian yang menghitung faktor emisi untuk kedua parameter tersebut. DAFTAR PUSTAKA