Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. PENDIDIKAN KELUARGA: Integrasi Ayat-Ayat Al Quran pada Pengembangan Potensi Santri Amaliyah1. Siti Latifah2. Muhamad Merdeka3. Riyan Sanjaya4 Universitas Pamulang. Indonesia dosen01610@unpam. id1, lsiti7950@gmail. com2, muhamadmerdeka08@gmail. riyansanjaya914@gmail. Submitted: 08th March 2025 | Edited: 24th June 2025 | Issued: 01st July 2025 Cited on: Amaliyah. Latifah. Merdeka. , & Sanjaya. PENDIDIKAN KELUARGA: Integrasi Ayat-Ayat Al Quran pada Pengembangan Potensi Santri. Jurnal PKM Manajemen Bisnis, 5. , 501513. ABSTRACT This community service activity was driven by the need to integrate QurAoanic values into the educational process of santri (Islamic boarding school student. , particularly in shaping character and developing their spiritual, intellectual, and social potential. The activity was conducted by students of class MPIK001 from the Islamic Education Management (MPI) undergraduate program at Universitas Pamulang (UNPAM) at Nurul Hidayah Islamic Boarding School. Bojongsari. Depok. A total of 87 participants were involved, consisting of 7 lecturers, 7 boarding school teachers, 22 students, and 50 santri. The main objective of this program was to strengthen the understanding and implementation of QurAoanic verses in the daily lives of santri and to enhance awareness of self-potential development based on Islamic values. The implementation used the expository learning model, enabling participants to actively comprehend the concepts and practical applications of QurAoanic integration through direct explanation, discussion, and The results showed increased enthusiasm and understanding among santri regarding the importance of the QurAoan as a guide for personal development. Additionally, the activity fostered collaboration between pesantren management and university students in designing educational strategies based on QurAoanic principles. Keywords: Community Service. Santri. QurAoan. Potential Development. Expository Learning PENDAHULUAN Pengembangan dan pendidikan anak usia dini merupakan investasi strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (Hairiyah & Arifin, 2. Masa kanakkanak adalah periode emas bagi perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosial anak. Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama memiliki peran sentral dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Oleh karena itu, pemberdayaan keluarga dalam mendukung pendidikan anak usia dini perlu menjadi prioritas dalam kebijakan pembangunan nasional (Raudhoh, 2. Ki Hadjar Dewantara menekankan pentingnya peran keluarga dalam pendidikan Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Dalam konsep pendidikan keluarga, orang tua diharapkan menjadi teladan, pembimbing, dan pengarah bagi anak-anaknya (Azzahra, et al. , 2. Pendidikan dalam keluarga harus mencakup aspek moral, sosial, dan intelektual, yang semuanya berkontribusi pada pembentukan karakter anak yang utuh. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami dan mengimplementasikan konsep pendidikan keluarga dalam kehidupan sehari-hari (Harahap. Nirwana, & Sukma, 2. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa kualitas hubungan dalam keluarga, seperti kualitas perkawinan orang tua, berpengaruh signifikan terhadap perilaku anak usia Keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang cenderung menghasilkan anakanak yang memiliki perilaku positif dan kemampuan sosial yang baik (Santika & Sutarjo. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk menjaga kualitas hubungan antar anggota keluarga sebagai bagian dari upaya mendukung pendidikan anak usia dini (Suryani & Setiawati, 2. Tantangan dalam mendidik anak di era modern semakin kompleks akibat pesatnya perkembangan teknologi, globalisasi, serta perubahan nilai-nilai sosial dan budaya. Orang tua dihadapkan pada situasi yang menuntut adaptasi cepat, baik dalam cara berkomunikasi maupun dalam menerapkan pola asuh yang sesuai dengan kebutuhan Sayangnya, banyak orang tua yang belum memahami betapa pentingnya keterlibatan aktif dalam proses pendidikan anak sejak usia dini. Padahal, keluarga memiliki peran sentral sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama dalam kehidupan anak (Nurhadi & Sari, 2. Pendidikan dalam keluarga tidak hanya menjadi pelengkap pendidikan formal, tetapi juga sebagai wahana utama dalam pembentukan karakter, nilai moral, dan dasar-dasar kepribadian anak. Melalui pendidikan keluarga, anak-anak belajar memahami nilai-nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, empati, dan kemandirian secara langsung dari orang tua mereka. Kurangnya pemahaman terhadap pentingnya pendidikan keluarga sering kali menyebabkan anak mengalami hambatan dalam aspek perkembangan akademis, emosional, maupun sosial. Ketidaktahuan orang tua mengenai metode pengasuhan dan pendidikan yang tepat menjadi faktor utama penghambat perkembangan anak secara Menurut Fitriani dan Supriyadi . , masa golden age merupakan periode emas perkembangan anak yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya karena pada masa ini anak sangat peka terhadap stimulasi dari lingkungan. Oleh karena itu, peran Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. orang tua sangat diperlukan dalam menyiapkan strategi yang tepat untuk mendampingi anak, baik melalui pengasuhan yang mendukung, komunikasi yang terbuka, maupun penyediaan aktivitas yang merangsang perkembangan berbagai aspek diri anak. Ketika peran ini tidak dijalankan secara optimal, anak cenderung mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri baik secara akademik maupun sosial. Upaya yang dapat dilakukan orang tua dalam mengembangkan potensi anak antara lain adalah mengenali bakat dan minat anak sejak dini, memberikan stimulus yang sesuai dengan tahap perkembangan, serta menciptakan suasana rumah yang mendukung eksplorasi dan kreativitas. Yulianti dan Wahyuni . menyatakan bahwa pemberian dukungan emosional, pujian yang tepat, serta kebebasan anak untuk berkreasi sesuai dengan minatnya merupakan strategi efektif dalam menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi anak. Potensi yang dapat dikembangkan meliputi potensi moral . emampuan membedakan benar dan sala. , emosional . emampuan mengelola perasaa. , sosial . emampuan berinteraksi dan bekerja sam. , dan intelektual . emampuan berpikir logis dan kriti. Jika semua aspek ini dikembangkan secara holistik, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang seimbang dan mampu mengaktualisasikan dirinya secara optimal di masa depan. Keluarga merupakan pondasi utama dalam pembentukan karakter anak. Ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak memberikan ruang yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai moral, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian anak, khususnya dalam menumbuhkan disiplin diri melalui prinsip-prinsip seperti keteladanan, konsistensi tindakan, dan sikap demokratis dalam interaksi keluarga (Sari & Maulidina. Penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang dalam kehidupan sosial dan profesional lebih banyak dipengaruhi oleh Emotional Quotient (EQ) sebesar 80%, dibandingkan dengan Intelligence Quotient (IQ) yang hanya menyumbang 20% (Rahmawati, 2. Oleh karena itu, keluarga sebagai institusi pertama sangat penting dalam mengembangkan aspek emosional anak sejak dini. Prinsip pengasuhan yang efektifAiseperti keterbukaan komunikasi, kehadiran emosional orang tua, dan kesatuan antara ucapan dan tindakanAiakan membangun rasa percaya dan kewibawaan yang mampu menumbuhkan apresiasi anak terhadap nilai-nilai yang ditanamkan (Yulianti & Wahyuni, 2. Dalam konteks pendidikan karakter. Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. pengasuhan yang dialogis dan penuh empati telah terbukti meningkatkan kemampuan anak dalam mengelola emosi, bekerja sama, serta membentuk identitas diri yang kuat (Fitriani & Supriyadi, 2. Namun demikian, tantangan dalam praktiknya tetap ada, terutama dalam membangun sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan seperti sekolah atau pondok pesantren. Banyak kasus menunjukkan bahwa perbedaan persepsi antara orang tua dan pendidik dalam menanamkan nilai-nilai, memperlakukan anak lakilaki dan perempuan, hingga memahami konteks budaya menjadi penghalang dalam mencapai tujuan pendidikan yang ideal (Hasanah & Nurdiati, 2. Pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh civitas akademika menjadi salah satu cara efektif untuk menjembatani kesenjangan ini. Program pengabdian yang dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Hidayah, misalnya, berfokus pada pembentukan sinergi antara sekolah dan keluarga dalam mendukung pengembangan potensi siswa melalui pendekatan edukatif, dialogis, dan partisipatif. Program ini mencakup pelatihan pola asuh, parenting class, serta forum komunikasi antara guru dan orang tua. Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman orang tua dalam mengenali potensi anak serta peningkatan keterlibatan mereka dalam pendidikan anak di rumah (Putri et al. , 2. Dengan memperkuat kolaborasi ini, diharapkan akan lahir generasi muda yang mandiri, kreatif, percaya diri, serta mampu menghadapi tantangan zaman secara bijak. METODE Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan oleh mahasiswa kelas MPIK001 PRODI Manajemen Pendidikan Islam S1 UNPAM di pondok pesantren Nurul Hidayah. Bojongsari. Depok. Sejumlah 87 Orang, terdiri dari: Pertama, dosen . Orang ). Kedua, guru pondok . orang ). Ketiga, mahasiswa . Oran. Keempat, santri . Metode penyampaian materi PKM PRODI Manajemen Pendidikan Islam (MPI) menggunakan model expectory learning. Adapun desain pemecahan masalah pengabdian kepada Masyarakat pada santri pondok pesantren Nurul Hidayah. Bojongsari. Bogor. Yang dikemas dengan nama kegiatan AuPendidikan Keluarga: Integrasi Ayat-Ayat Al Quran Pada Pengembangan Potensi SantriAy. Selanjutnya materi terkait ayat-ayat al Quran yang terintegrasi dalam pendidikan, yang disampaikan oleh nara sumber dari mahasiswa yaitu : Latifah dan Sakinah. Materi Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. yang disampaikan terkait, pentingnya peran keluarga pada santri di pesantren, metode yang digunakan, ayat-ayat pendidikan, norma dan nilai . akna ayat ), integrasinya dalam pengembangan potensi. Adapun tahapan dalam model expectory learning yang digunakan sebagai berikut : Mendengar Materi NARSUM Menyimak Dan Mencatat Mengungkapkann Kembali Materi Umpan Balik NARSUM Gambar 1. Tahapan Medel Expectory Learning Pada setiap tahapan, akan memberikan gambaran pada santri tentang posisi sebagai anak jauh dari orangtua, dan bagaimana membangun agar kedekatan pada keluarga tetap terjaga dengan sehat. Beberapa hal signifikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat Pondok Pesantren Nurul Hidayah. Bojongsari. Depok. Memberikan mereka pemahaman tentang pentingnya dukungan keluarga dalam mengembangkan potensi mereka di luar sekolah, serta cara berkomunikasi dengan orang tua mengenai harapan dan kebutuhan mereka. Membentuk sinergi antara sekolah dan keluarga untuk mendukung pengembangan potensi siswa. Membantu siswa menemukan potensi diri melalui pendekatan pendidikan keluarga yang berorientasi pada dialog, edukasi, dan fasilitasi. PEMBAHASAN Profil Peserta PKM Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan oleh mahasiswa kelas MPIK001 Program Studi Manajemen Pendidikan Islam S1 Universitas Pamulang (UNPAM) di Pondok Pesantren Nurul Hidayah, yang berlokasi di Bojongsari. Depok. Total peserta kegiatan berjumlah 87 orang, yang terdiri dari berbagai unsur yang saling Pertama, dosen pendamping berjumlah 7 orang yang berperan sebagai narasumber, fasilitator, dan penanggung jawab akademik dalam pelaksanaan kegiatan. Kedua, guru pondok sebanyak 7 orang, yang terlibat aktif sebagai mitra diskusi serta jembatan komunikasi antara peserta PKM dengan pihak pesantren. Ketiga, mahasiswa sebanyak 22 orang yang merupakan pelaksana utama kegiatan, sekaligus agen perubahan yang mentransformasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh di bangku kuliah kepada masyarakat secara langsung. Keempat, sebanyak 50 orang santri dari Pondok Pesantren Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Nurul Hidayah yang menjadi peserta utama penerima manfaat dalam kegiatan ini. Para santri ini berperan sebagai subjek sekaligus mitra belajar dalam proses penguatan nilainilai manajerial, keislaman, dan karakter. Penyampaian materi PKM dilakukan dengan menggunakan pendekatan expository learning, yaitu model pembelajaran langsung yang menekankan pada penyampaian konsep secara sistematis dan terstruktur, sehingga pesertaAiterutama para santriAidapat memahami dan menyerap materi secara maksimal. Kolaborasi antarelemen peserta ini mencerminkan semangat integratif antara dunia akademik dan pendidikan pesantren dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Pelaksanaan PKM Pola pengasuhan anak usia dini memiliki peran strategis sebagai potensi internal keluarga dalam menstimulasi perkembangan holistik anak, yang mencakup aspek kognitif, afektif, sosial-emosional, motorik, serta pembentukan karakter. Pengasuhan yang dilakukan secara konsisten, penuh kasih sayang, dan berbasis nilai-nilai moral serta spiritual, terbukti mampu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Tugas utama orang tua tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga mencakup pembentukan karakter positif melalui keteladanan, komunikasi yang efektif, serta penanaman nilai-nilai luhur sejak dini. Studi terkini menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan sangat dipengaruhi oleh keyakinan orang tua terhadap peran pengasuhan, nilai-nilai budaya dan agama yang dianut, serta status sosial ekonomi yang menentukan akses terhadap sumber daya pendidikan dan informasi parenting (Putri et al. , 2021. Rahmawati & Arifin, 2. Orang tua yang menerapkan pola asuh otoritatif dengan pendekatan religius dan responsif, terbukti lebih efektif dalam menanamkan karakter seperti tanggung jawab, empati, dan disiplin pada anak (Hidayati & Lestari, 2. Selain itu, keterlibatan ayah dan ibu secara seimbang juga menjadi faktor penting dalam membentuk kestabilan emosional dan perilaku prososial anak (Sari et al. , 2. Dengan demikian, penguatan peran keluarga melalui pola pengasuhan berbasis karakter menjadi fondasi utama dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Perilaku pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan psikologis dan karakter anak sejak usia dini, di mana pengaruh tersebut sangat dipengaruhi oleh keyakinan serta sikap pola asuh yang dimiliki Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. oleh orang tua. Pola asuh yang bersifat autoritatif dengan komunikasi terbuka, penggunaan pendekatan persuasif, dan minim tekanan kekuasaan cenderung menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung pertumbuhan emosional anak secara sehat, sementara pola asuh yang otoriter atau permisif dapat menyebabkan perkembangan karakter yang kurang optimal dan menimbulkan konflik internal (Wijayanti & Nurhadi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sikap orang tua yang responsif dan konsisten dalam mendidik anak, disertai dengan pengelolaan emosi yang baik, mampu mengoptimalkan pembentukan karakter seperti rasa percaya diri, kemandirian, dan empati (Prasetyo et al. , 2. Perspektif teori perkembangan Erik Erikson tetap relevan, dimana tahapan-tahapan psikososial menggarisbawahi pentingnya cara pengasuhan yang tepat agar anak dapat melewati konflik perkembangan secara positif dan membangun karakter yang kuat (Santoso & Wulandari, 2. Pengasuhan yang keliru, terutama yang mengabaikan kebutuhan emosional anak, dapat menghambat perkembangan karakter dan bahkan berdampak negatif jangka panjang, yang disebut sebagai pelanggaran terhadap Auhukum alamAy atau kodrat perkembangan manusia (Putri & Handayani, 2. Oleh karena itu, penguatan pola asuh berbasis komunikasi efektif, pengelolaan emosi, dan pemahaman psikologi perkembangan anak sangat penting agar proses tumbuh kembang anak berjalan harmonis dan menghasilkan individu yang matang secara emosional dan karakter (Amalia & Fauzi, 2023. Hidayat & Ramadhan, 2. UNESCO . menjelaskan bahwa interaksi antara anak dengan orang tua memiliki perwujudan fundamental dan termuat dalam kesatuan hidup tri tunggal bapakibu-anak . ubungan tria. Keluarga juga berpotensi mengembangkan pendidikan holistik berbasis karakter dengan menerapkan: . pendekatan kontekstual sosial . ocial contextual approac. pendekatan bahasa dan interaksi sosial . anguage and social interaction approac. , yang meliputi: prelinguistic, vocabulary development, kalimat dua kata dan intermodal perception. Potensi yang besar pada setiap anak dapat dikembangkan apabila distimulasi dengan baik sehingga kemampuan anak semakin meningkat. Anak yang distimulasi dengan cara yang tepat, tentu hasilnya akan lebih baik. Dibandingkan dengan anak yang tidak mendapatkan stimulasi yang benar. Stimulasi adalah berbagai rangsangan, seperti kesempatan bermain, fasilitas belajar, atau materi . isalnya cerita atau bacaa. , yang dapat memicu anak untuk belajar atau mengolah pengajaran. Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Potensi adalah hal-hal spesifik yang ada pada diri anak, yang tampak lebih bila dibandingkan dengan anak seusianya. Minat adalah dorongan yang kuat bagi seseorang untuk melakukan segala sesuatu yang menjadi keinginannya. Sedangkann bakat adalah sebuah sifat dasar, kepandaian dan pembawaan yang dibawa sejak lahir. Untuk dapat menstimulasi yang tepat terlebih dahulu orang tua dan pendidik harus mengetahui potensi Dalam pengabdian kepada Masyarakat dengan menggunakan model expectory learning dalam materi integrasi ayat-ayat al Quran pada pengembangan potensi anak. Mendengar Materi Tahap pertama ini dilakukan dengan metode ceramah, dimana siswa mendengarkan materi yang disampaikan oleh pemateri. Pentingnya peran keluarga terhadap santri yang berada di pesantren, financial, management emotional, support system, comunication. Anak yang di pondok pesantren tidak kehilangan peran Tidak hanya pada peran tanggung jawab secara finansial saja akan tetapi, secara psikologis juga tetap dapat dirasakan oleh santri di pondok pesantren. Dukungan emosional pada anak melalui komunikasi yang terbuka dan empatik. Dimana anak merasa didengar dan dipahami. Orang tua dapat membantu anak mengembangkan kemandirian dengan memberikan kesempatan anak untuk membuat Keputusan dan menggambil tanggung jawab. Tentu dengan tetap melakukan pengawasan dan pemantauan pada Juga memberikan motivasi untuk mencapai tujuan dan belajar dalam mengatasi tantangan. Peran orangtua ini, sebagai upaya mengembangkan hubungan dengan anak melalui komunikasi yang terbuka dan jujur. Oleh karena itu, komunikasi yang teratur dapat dilakukan secara berkala, baik secara bertemu maupun tidak langsung misalnya melalui pesan singkat atau telpon. Atau dengan mengirimkan kiriman seperti paket atau surat. Orangtua juga mampu mengembangkan rencana, apabila ada hal darurat atau kesulitan yang dihadapi Menyimak dan Mencatat Materi Tahap kedua pada model expectory learning adalah menyimak dan mencatat. Siswa melakukan pencatatan pada materi yang diberikan. pada point-point penting terlebih bagaimana menciptakan strategi efektif bagi anak sebagai santri, untuk Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. membangun kedekatan dengan keluarga dan bagaimana keluarga memiliki eksistensi dalam Pendidikan terhadap anak. Tahapan support system orang tua antara lain, pertama, tahap pemenuhan kebutuhan dasar. Seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal. Maka pada support system ini, orang tua harus memahami pondok pesantren tempat anak akan melakukan proses Pendidikan, apakah anak merasa nyaman dan aman pada pondok pesantren tersebut, termasuk pada sumber daya pengelola yang berintegritas. Dalam hal makanan juga apakah pondok pesantren telah memberikan jaminan kebersihan dan standar gizi untuk santri. Dan bagaimana prosedur pondok pesantren jika santri memiliki kesukaan yang berbeda, sehingga membutuhkan dukungan makanan tambahan dari keluarga. Hal itu juga harus menjadi pemahaman keluarga dalam support system pada anak. Termasuk juga demikian dalam hal pakaian anak yang santri di pondok pesantren. Kedua, tahap pemberian kasih sayang. Anak di pesantren, jangan sampai kehilangan perhatian rasa kasih sayang dari orangtua. Jika perhatian diabaikan anak akan merasa terabaikan dan bisa jadi merasa terbuang. Oleh karena itu, bentuk kasih sayang perlu juga diwujudkan dalam bentuk pengiriman paket, penjengukkan atau lewat telpon yang bisa disalurkan ke anak. Peran kasih sayang secara psikologi sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Dewasa ini, banyak orangtua yang berpandangan bahwa finansial adalah segalanya, dan banyak yang lebih mementingkan kerja daripada perhatian pada Ada juga yang berpandangan bahwa menyerahkan Pendidikan di pondok pesantren sebagai jalan untuk kemudahan dalam kerja. Namun terkadang lupa pada kewajiban pendidikan dan kasih sayang juga masih dalam tanggung jawab Ketiga, tahap pembentukan karakter. Proses pembangunan karakter pada anak dipengaruhi oleh faktor bawaan . dan lingkungan . dimana orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. (Megawati, 2. keluargalah seseorang, sejak dia sadar lingkungan, belajar tata-nilai atau moral. Pendidikan keluarga akan menentukan, bagaimana anak dalam prosesnya, pada perkembangan kepribadian. Seperti pada kejujuran, kedermawanan. Untuk membentuk karakter anak, terdapat tiga syarat dasar antara Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. lain maternal bonding, rasa aman, stimulasi fisik dan mental. Hal tersebut, untuk pengembangan lin gkah laku atau kepribadian. Keempat, tahap pemberian dukungan emosional. Orangtua memberikan dukungan pada anak dalam emosional. Melalui tahapan yaitu mengenali emosi anak, mengakui emosi anak, memberikan empati, mengajarkan anak mengenali emosi, memberikan dukungan. Manfaat dukungan ini yaitu perkembangan emosional anak, hubungan orangtua and anak yang baik, kesejahteraan anak. Kelima, tahap pemberian bimbingan dan arahan. Tahapan bimbingan dan arahan melalui mengenal kebutuhan anak, menetapkan tujuan, memberikan bimbingan, mengarahkan anak. Misalnya ketrampilan, memberikan motivasi, mengajarkan nilai-nilai, mengarahkan anak dan membuat Keputusan, memberikan umpan balik. Keenam, tahap pemberian kemandirian. Pada tahap ini memberikan sebuah kepercayaan pada anak untuk menjaga diri dan melakukan keputusan sendiri dalam aktivitas kebutuhannya. Salah satunya yaitu dengan memberikan pendidikan melalui pondok pesantren. Namun demikian, kewajiban orangtua tetap membersamai anak dalam perjalanan prosesnya. Mengemukakan Kembali materi Dalam proses pemahaman capaian santri, tahap mengemukakan kembali materi pada model expectory learning. Yaitu dengan metode story telling pada pengalaman santri yang jauh dari orang tua. Story telling dilakukan dengan bentuk permainan sehingga santri merasa santai dalam mengemukakan pendapat. Dengan mengunaka metode storytelling, mencoba mengukur keberhasilan dari pengabdian kepada Masyarakat, sejauhmana santri memiliki kedekatan dengan keluarga, dan bagaimana keluarga membangun hubungan tersebut. Juga mengukur pada aspek kognitif dari pemahaman yang cepat, ketekunan santri dalam belajar, dan bagaimana santri dapat mengungkapkan dalam refleksi melalui story telling. Untuk aspek afektif dengan melihat pada adab baik santri dalam kegiatan, responsibility dan keaktifan. Sedangkan aspek psikomotorik yaitu berani tampil di depan umum, partisipasi tinggi. Adaptasi baik. Termasuk mengenali pola hubungan anak dengan keluarga dan bagaimana manajemen Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Penting bagi keluarga untuk memahami manajemen emosional anak dengan Pertama, mengenal dan mengakui emosi anak, sehingga anak merasa didengar dan dipahami. Kedua, mengajarkan anak mengenali dan mengelola emosi, sehingga anak dapat mengembangkan kemampuan mengelola emosi yang baik. Ketiga, memberikan contoh yang baik, sehingga anak dapat belajar dari mereka. Keempat, menggunakan komunikasi yang efektif, mendengarkan dan memberikan umpan balik yang konstruktif. Kelima, mengajarkan anak mengenal empati, menghargai perasaan orang lain. Oleh karena itu, menjadi hal yang harus dipahami anak dan keluarga dalam strategi manajemen emosional keluarga antara lain tetap tenang, menggunakan Bahasa yang lembut, menghindari reaksi negative, mengajarkan anak mengenal tehnik mengelola emosi, menggunakan waktu yang tepat. Umpan balik materi Tahap terakhir dari model expectory learning adalah umpan balik dari materi yang telah disampaikan. Umpan balik ini yaitu dengan menanggapi pertanyaan dan story telling dari santri. Maka, anak sangat membutuhkan stimulus agar potensi yang dimiliki berkembang dengan baik. Sebab harus dipahami bahwa ada banyak hal yang dapat mempengaruhi perkembangan dari potensi seorang anak di antaranya adalah suasana yang kondusif. Efektivitas pembelajaran di sekolah akan semakin optimal jika didukung oleh keterlibatan aktif orang tua di rumah, karena kolaborasi ini tidak hanya memperkuat pemahaman materi ajar, tetapi juga menumbuhkan sikap disiplin dan tanggung jawab belajar pada anak. Kesadaran orang tua akan pentingnya penanaman nilai kedisiplinan sejak dini membuat mereka lebih terbuka untuk bekerja sama dengan pihak sekolah atau pembimbing pondok dalam mendampingi proses belajar anak. Dalam kerja sama ini, sikap disiplin ditanamkan melalui empat unsur pokok, yaitu: peraturan sebagai pedoman perilaku yang membentuk moral anak. dalam penerapan aturan yang memberi stabilitas dan memotivasi perilaku positif. penghargaan yang memperkuat perilaku baik dan mendorong anak mengulanginya. serta hukuman yang digunakan secara mendidik untuk menghentikan perilaku menyimpang dan menanamkan pemahaman tentang batasan. Dengan pendekatan ini, kolaborasi antara orang tua dan pendidik menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, holistik, dan berkelanjutan bagi pembentukan karakter anak. Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dapat disimpulkan bahwa kolaborasi antara orang tua dan pendidik memegang peran krusial dalam pengembangan potensi anak secara holistik. Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendampingi tumbuh kembang anak, baik dari sisi emosional, nilai moral, maupun aspek akademik dan kreativitas. Orang tua berkontribusi besar melalui pemberian dukungan emosional, penetapan batasan yang jelas, penanaman nilai-nilai kehidupan, serta mendorong keterlibatan anak dalam aktivitas positif yang membentuk Sementara itu, pendidik di sekolah, sebagai perpanjangan tangan orang tua, memiliki tanggung jawab dalam mengidentifikasi potensi unik setiap anak, memberikan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan individual, serta menciptakan ruang yang mendukung inovasi dan kreativitas anak. Selain itu, guru juga berperan dalam memberikan dukungan psikososial yang penting dalam menunjang kesiapan anak menghadapi tantangan belajar dan kehidupan sosialnya. Dengan terbangunnya sinergi yang kuat antara keluarga dan sekolah, maka upaya untuk melejitkan potensi anak tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, tetapi menjadi gerakan bersama dalam membentuk generasi masa depan yang cerdas, tangguh, dan berkarakter. DAFTAR PUSTAKA