PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Studi Komparatif Makna Konsep Bumi. Dunia, dan Alam Semesta Rilliandi Arindra Putawa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta p@mail. Abstract: Comparative Study of the Meaning of the Concept of the Earth. World, and Universe. Metaphysical problems in the field of philosophy are not only limited to general things such as existence, reality, or space-time alone, but there are other problems related to the conception of what humans say as reality that is in front of their eyes. The concepts of the earth, the world, and the universe are three popular concepts that refer to the set of everything that can be achieved by human knowledge. This research is a comparative study that tries to compare the three concepts and can try to analyze the relationship between the three from a philosophical point of view. The results show that the concept of the world is a concept that can refer to the other two concepts and has implications for each meaning. The method used in this study is a qualitative method, with the method of collecting data through library research. The main sources used in this research come from various books and scientific articles that discuss the development of the meaning of each concept that will be studied in this research, namely the earth, the world, and the universe. To strengthen the philosophical analysis of these three concepts, various writings related to the latest philosophical thoughts that have to do with these three concepts will also be used. Keywords: Earth. World. Universe Abstrak: Studi Komparatif Makna Konsep Bumi. Dunia. Dan Alam Semesta. Permasalahan metafisik pada bidang filsafat tidak hanya dibatasi pada hal-hal general seperti keberadaan, realitas, atau ruang-waktu semata, melainkan terdapat permasalahan lain berkaitan dengan konsepsi pada apa yang manusia katakana sebagai realitas yang ada di depan mata. Konsep bumi, dunia, dan alam semesta merupakan tiga konsep popular yang merujuk pada himpunan segala sesuatu yang dapat dicapai oleh pengetahuan manusia. Penelitian ini merupakan studi komparatif yang berusaha membandingkan tiga konsep tersebut dapat mencoba menganalisis hubungan ketiganya melalui sudut pandang kefilsafatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep dunia merupakan konsep yang dapat merujuk kepada kedua konsep lainnya dan memiliki implikasi dari masing-masing pemaknaan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan metode pengumpulan data melalui studi pustaka. Sumber utama yang digunakan pada penelitian ini berasal dari berbagai buku dan artikel ilmiah yang membahas mengenai perkembangan makna dari masing-masing konsep yang akan dikaji pada penelitian ini, yakni bumi, dunia, dan alam Untuk memperkuat analisis filosofis dari ketigas konsep ini akan digunakan pula berbagai tulisan yang berkaitan dengan pemikiran filosofis terbaru yang memiliki sangkut paut dengan ketiga konsep tersebut. Kata Kunci: Bumi. Dunia. Alam Semesta PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Pendahuluan Realitas merupakan salah satu topik pembahasan utama pada bidang filsafat, khususnya metafisika atau secara lebih Pendekatan memahami realitas tidak lepas dari bagaimana manusia melihat apa yang ada di sekitarnya. Dalam memahami realitas, setidaknya manusia memerlukan konsep tertentu yang akan merujuk kepada kesatuan dari segala sesuatu yang dapat dijangkaunya melalui panca indra. Hal ini yang kemudian melahirkan konsep-konsep yang akan mewakili segala sesuatu yang ada di sekitar manusia. Ada tiga konsep besar yang mewakili realitas di sekitar manusia, seiring berkembangnya waktu, yakni bumi, dunia, dan alam semesta. Konsep bumi mewakili keseluruhan yang dapat dicapai manusia pada awal munculnya peradaban manusia. Konsep ini berlawanan dengan konsep langit, yang kemudian merujuk pada segala sesuatu yang pada masa tersebut tidak dapat dicapai oleh manusia. Konsep yang pada masa tersebut digambarkan sebagai tempat para dewa dan makhluk-makhluk yang ada dalam mitologi. Tidak heran jika pada masa tersebut bumi menjadi identik dengan dunia fana atau dunia, selaku konsep kedua. Pada perkembangannya manusia mulai dapat memahami mekanisme alam semesta, selaku konsep ketiga. Pada masa ini bumi tidak lain hanya merupakan salah satu planet yang menjadi bagian dari alam semesta yang jauh lebih besar. Pada masa ini pandangan manusia mengenai dunia atau dunia fana menjadi lebih luas, sehingga langit tidak lagi menjadi sesuatu yang merujuk pada hal-hal spiritual, seperti Dewa. Malaikat dan Surga. Konsep langit pada masa sini hanya merupakan bagian dari lapisan yang membatasi bumi dengan ruang hampa udara. Adanya ketiga konsep tersebut kemudian menjadi saling tumpeng tindih satu sama lain. Sekalipun pada bidang perbedaan antara ketiga konsep tersebut, namun terdapat perbedaan makna pada beberapa pemikiran atau kepercayaan tertentu yang tetap dipertahankan hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan menggali dan menganalisis lebih lanjut makna ketiga konsep tersebut pada beberapa pemikiran dan kepercayaan manusia, sehingga diharapkan mampu memperoleh penjelasan yang lebih lanjut terkait perbedaan makna dari ketiga konsep tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan metode pengumpulan data melalui studi pustaka. Sumber utama yang digunakan pada penelitian ini berasal dari berbagai buku dan artikel ilmiah yang membahas mengenai perkembangan makna dari masing-masing konsep yang akan dikaji pada penelitian ini, yakni bumi. Untuk memperkuat analisis filosofis dari ketiga konsep ini, akan digunakan pula berbagai tulisan yang berkaitan dengan pemikiran filosofis terbaru yang memiliki sangkut paut dengan ketiga konsep tersebut. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan studi komparatif yang akan menganalisis teoriteori yang berkaitan dengan makna dari masing-masing konsep. Hasil dari analisis berupa suatu hubungan antara masingmasing makna. Berdasarkan keterkaitan antara makna-makna tersebut diharapkan impilkasinya bagi kehidupan modern. Pembahasan Makna Bumi Bumi secara teoritis merupakan planet dengan urutan ketiga terdekat dari matahari pada sistem tata surya yang PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 dikenal oleh manusia saat ini. Seperti halnya merkurius, venus, dan mars, bumi merupakan salah satu planet dalam yang memiliki ukuran kecil jika dibandingkan planet lain di sistem tata surya. Permukaan bumi didominasi oleh air, di mana 71% dari permukaan bumi ditutupi oleh bentuk cairan dari H2O. Bumi juga diselimuti lapisan gas, yang dikenal dengan istilah atmosfer, di mana 77% dari atmosfer merupakan molekul Nitrogen (N. (Mitton. Pemahaman manusia akan bumi sendiri mengalami perubahan paradigma yang sangat berbeda, terutama sejak era Copernicus dan Galileo Galilei, di mana Galileo Galilei menerbitkan salah satu tulisan berjudul AyDialogue Concerning The Two Chief World Sistems yang mendukung pemikiran Copernicus, bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta. Hal ini bertentangan dengan pandangan Katolik Roma pada masa tersebut yang mengarah pada teori bumi Teori yang diperkuat oleh Galileo Galilei kemudian berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi suatu paradigma yang diyakini dan dibuktikan oleh banyak ilmuwan hingga saat ini. Adapun perkembangan paradigma heliosentris, nyatanya tidak membuat teori bumi datar Pada tahun 1956 muncullah organisasi flat eath society yang berusaha membuktikan bahwa bentuk bumi bulat, seperti diyakini sebelum adanya teori bumi bulat (Boden, 2. James Lock sebuah teori mengenai bumi sebagai makhluk, yang dikenal dengan prinsip Gaia. Nama Gaia diambil dari salah satu Dewi pada mitologi Yunani dan menjadi Lovelock mengemukakan bahwa bumi adalah makhluk hidup yang sangat besar di mana manusia dan makhluk hidup lain yang berada di atasnya merupakan bagian dari organisme besar tersebut. Berdasarkan teori tersebut, bumi mengatur dirinya demi AulukaAy ketidakseimbangan yang terjadi secara Manusia sendiri tidak dapat dianggap sebagai makhluk tertinggi dikarenakan menusia hanya merupakan bagian dari suatu yang jauh lebih besar (Mediastika, 2. Konsep bumi pada Al-Quran seringkali disandingkan dengan langit sebagai pembanding. Langit pada AlQuran tidak dapat dipahami sebagaimana konsep langit yang dikenal secara umum. Ilmu kealaman sendiri hanya membahas mengenai aspek fisik dari konsep langit, tanpa pertimbangan aspek spiritual. Langit pada Al-Quran yang dikenal memiliki tujuh lapisan pada awalnya merujuk pada tujuh planet pada sistem tata surya, meskipun pada akhirnya hal ini dianggap keliru. Langit merupakan lapisan awal di luar permukaan keseluruhan atmosfer. Terlepas dari hal tersebut, manusia masih mengalami kesulitan dalam menentukan makna tiaptiap lapisan langit merujuk pada apa yang telah dipahami oleh manusia (Ruskanda. Makna Dunia Dunia dengan bumi. Dalam KBBI sendiri definisi pertama dari dunia adalah bumi dengan segala sesuatu yang terdapat di atasnya. sisi lain, pada definisi kelima, dunia juga diartikan sebagai segala yang bersifat kebendaan atau tidak kekal. Dunia pada definisi pertama dapat diartikan sebagai bumi dan ditambah dengan segala hal yang ada di atas permukaannya. Makna dari segala hal yang ada di atas permukaan dalam hal ini tidak memiliki batasan sejauh PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 mana segala hal tersebut, apakah terbatas yang berada di bawah atmosfer ataukah lebih jauh dari itu. Adapun makna kedua bermakna lebih luas dan memiliki Batasan yang jelas yakni terbatas pada segala hal yang bersifat tidak kekal. Pada kitab suci Al-Quran, dunia atau dunya dimaknai sebagai alam di mana tempat manusia hidup sebelum mengalami kematian dan menuju ke alam barzah. dalam konteks bahasa Arab, al-dunya berasal dari kata dana yang berarti dekat, rendah, hina, atau sempit (Munawwir. Menurut Al-Ghazali, dunia jika dilihat dari kebahasaan, dapat dilihat dari dua cara, yakni dari segi fisik berarti segala yang menunjuk pada benda-benda dunia, seperti bumi dan isinya dan dari segi metafisik, sebagai segala sesuatu yang menunjuk pada sifat-sifat hati yang benda-benda tersebut, seperti iri, dengki, riyaAo, dan sebagainya (UIN Syarif Hidayatullah, 2. Perbedaan konsep dunia dan bumi telah ditemukan pada kosmologi atau pada saat ini lebih dikenal dengan mitologi nordik kuno. Pada kepercayaan nordik tersebut terdapat sebuah pohon yang dikenal dengan world tree . ohon duni. yang menjadi pusat dari kosmologi mereka. Pohon berdiri di pusat dunia di kelilingi oleh makhluk dan energi di seluruh bumi. Batangnya kemudian terhubung dengan bumi, surga, dan dunia bawah (Schjodt dalam Andryn, 2. Bumi atau lebih dikenal dengan istilah middle earth merupakan dunia yang didiami oleh manusia, layaknya bumi yang dikenal oleh manusia saat ini. Konsep mitologi ini sangat identic dengan teori flat earth, di mana pada masa tersebut bumi belum dikenal sebagai berbentuk bola. Salah satu yang membedakan konsep dunia dan konsep bumi adalah bagaimana konsep dunia begitu identik dengan aspek social dan politik manusia. Dunia seringkali diidentikkan dengan kesatuan negara-negara yang ada di permukaan bumi. Ulrich Beck kemudian mengatakan bahwa, risiko perubahan iklim seharusnya mengubah paham bahwa negara-negara merupakan pusat dari dunia. Adapun sebaliknya, negara-negara lah yang seharusnya berputar mengelilingi dunia dan kemanusiaan, seperti halnya bumi yang mengelilingi matahari. Hal ini yang kemudian dikatakan sebagai revolusi Copernican 2. 0 (Beck, 2. Makna Alam Semesta Alam semesta jika dilihat dari sudut pandang keilmuan alam merupakan keseluruhan dari segala sesuatu, di mana ukuran dari alam semesta yang dapat diobservasi saat ini hanya terbatas pada jarak yang dapat ditempuh cahaya semenjak peristiwa bigbang. Bigbang sendiri merupakan penjelasan tentang asal mula alam semesta, yang menjelaskan bahwa alam semesta dimulai dari keadaan yang begitu padat dan terus berkembang sejak saat itu. Bigbang sendiri diperkirakan terjadi sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu (Mitton, 2. Alam semesta merupakan konsep yang terus berkembang, setidaknya sejak 60 abad yang lalu. Barulah pada dekade 1920 Hubble bersama tim penelitiannya telah melakukan observasi atas apa yang kemudian dikenal dengan galaksi, di mana alam semesta merupakan kumpulan dari banyak galaksi di dalamnya. Pada tahun 1917. Einstein juga telah secara matematis melakukan penelusuran terkait ruang dan Di masa yang sama Lemaitre mengemukakan sebuah model expanding universe dengan keadaan awal padat, yang kemudian dikenal dengan cosmic egg. Model ini yang kemudian melandasi sebuah teori yang dipublikasikan oleh Ralph Alpher. PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 Hans Bethe, dan George Gamow pada tahun 1948, yang kemudian dikenal dengan istilah Bigbang (Thomsen, 1. Konsep expanding universe kemudian berkembang sedemikian rupa, sehingga tidak hanya satu alam semesta saja yang eksis, melainkan ada banyak alam semesta, yang kemudian dikenal dengan istilah Ada yang beranggapan bahwa tiap-tiap alam semesta tersebut memiliki distribusi materi yang berbeda, namun tetap memiliki hukum fisika yang sama, anggapan ini yang kemudian masuk ke dalam level satu. Anggapan kedua mengatakan bahwa tiap-tiap alam semesta bahkan memiliki hukum fisika, sejarah, bahkan jumlah dimensi yang berbeda. Anggapan ini kemudian dikelompokkan ke dalam level dua (Ellis, 2. Tesis multiverse sendiri merupakan salah satu respon dari grandfather paradox, di mana jika terdapat seorang penjelajah waktu yang membunuh kakeknya sebelum ayahnya lahir, maka akan membuat kejadian tersebut secara logika juga tidak dapat terjadi karena akan membuat si penjelajah waktu tidak pernah dilahirkan. Tesis multiverse secara singkat menjelaskan bahwa jika seorang penjelajah waktu menjelajah ke suatu waktu, maka dia akan tiba ke waktu tersebut, namun pada alam semesta yang berbeda dengan yang Secara singkat mesin waktu sendiri dalam hal ini juga berperan sebagai mesin pencipta alam semesta tiruan (Effingham, 2. Analisis Filosofis Berdasarkan dipaparkan sebelumnya, dunia merupakan konsep yang menengahi sekaligus dapat mewakili konsep bumi dan alam semesta. Konsep dunia di satu dapat mewakili atau setara dengan konsep bumi, di sisi lain pada beberapa pandangan, konsep ini juga dapat mewakili alam semesta. Konsep dunia bergantung pada bagaimana cara pandang manusia dalam melihat apa yang ada di sekitarnya. Cara pandang ini kemudian berkembang seiring waktu, mulai dari masa prafilsafat, hingga masa keemasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada setidaknya ada tiga corak besar dalam pemikiran manusia, yakni teosentrisme, cosmosentrisme, dan antroposentrisme Teosentrisme dengan pemikiran manusia pra-filsafat, di mana pada masa Yunani Kuno sebelum kelahiran Thales, pemahaman bangsa Yunani akan hakikat dunia atau alam semesta berfokus pada kepercayaan akan Dewa. Pada masa hidup Thales, barulah masyarakat Yunani mengarahkan corak berpikirnya ke arah cosmosentrisme, yakni memulai memikirkan hakikat alam semesta dengan tidak terpaku pada aspek keilahian seperti Dewa sebagai pusatnya. Pada perkembangannya, tepatnya masa Socrates, manusia mulai mengalihkan pemikirannya dengan berfokus pada dirinya sendiri. Corak sedemikian rupa menjadi beberapa aliran filsafat di masa depan. Corak berpikir antroposentrisme tidak selamanya langgeng di dunia Pada kemudian manusia mulai mengkritisi kembali tradisi berpikir yang menjadi manusia sebagai pusat pemikirannya, seperti yang terjadi pada bidang etika Jika pada tradisi filsafat Yunani Kuno antroposentrisme merupakan bentuk dari kebaharuan filsafat, dari yang sebelumnya bersifat cosmosentris, maka pada perkembangannya, terutama pada bidang etika lingkungan antroposentrisme merupakan cara pandang kuno dalam memahami posisi manusia pada alam Pada akhirnya perkembangan PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 filsafat kemudian mulai mengarahkan mengembalikan fokusnya ke permasalahan yang lebih luas dan tidak sebatas pada permasalahan yang dihadapi manusia. Adapun di sisi lain kenyataannya pengembalian pola pikir filosofis ke arah alam semesta. Ekosentrisme memang secara etis dapat dilihat sebagai bentuk perluasan cara pandang manusia dalam memahami posisinya di dunia. Hanya saja di sisi lain, secara metafisik, ekosentrisme juga dapat dikatakan sebagai bentuk penyempitan pemahaman konsep dunia, hanya sebatas pada apa yang terdapat pada permukaan Secara singkat dapat dikatakan ekosentrisme mengarahkan kepada sikap earth-centris dalam memahami dunia secara metafisik. Dunia dalam hal ini menjadi setara dengan konsep bumi, sebagai kumpulan ekosistem, tempat terjadinya relasi antar makhluk hidup dengan yang tak hidup. Jika pada sudut pandang metafisika terjadi penyempitan pandangan manusia akan dunia, maka pada sudut pandang ekologi, terjadi perluasan sudut pandang pola pikir manusia dalam melihat dunia, dengan tidak sekadar fokus pada aspek fisik semata. Dari sudut pandang ekologi, cara pandang mekanistis yang berasal dari keilmuan fisika menjadi akar dari krisis lingkungan hidup global. Penekanan terhadap metode ilmiah, kemampuan analisis, dan rasionalitas manusia kemudian melihat sikap yang tidak ramah terhadap lingkungan hidup. Kemampuan akal budi dan sisi rasional manusia kemudian mengarahkan kepada merupakan benda mati, layaknya mesin untuk dianalisis bagian-bagiannya dan di sisi lain memunculkan sikap agresif manusia untuk bersikap sewenang-wenang terhadap alam semesta (Keraf, 2. Adapun lebih lanjut lagi, jika mengaitkan konsep dunia dengan aspek sosial, maka konsep dunia akan selalu diidentikkan dengan konsep bumi. Adapun sebaliknya, jika mengaitkannya dengan aspek ketuhanan, maka konsep dunia akan identik dengan konsep alam semesta, seperti pada agama Islam, karena jika dunia hanya diidentikkan dengan bumi, maka hari akhir akan identik dengan bencana besar yang hanya terjadi di bumi. Adapun konsekuensi logis lainnya adalah surga, neraka, atau dunia lain yang terdapat pada kepercayaan tersebut dapat dianggap berada di salah satu planet yang tidak dapat dijangkau oleh manusia. Kesimpulan Keterkaitan antara konsep bumi, dunia, dan alam semesta dapat saling menggantikan satu sama lain, bergantung pada konteks pembahasan. Dari sudut pandang social-politik, konsep dunia sangat identik dengan konsep bumi. Adapun sebaliknya jika merujuk pada hal spiritual atau kepercayaan, maka konsep dunia lebih identik dengan alam semesta. Implikasi dari perluasan makna dunia pada aspek sosial dari yang sebelumnya mengarah kepada bumi, berubah menjadi merujuk pada konsep alam semesta adalah keinginan untuk eksplorasi lebih lanjut atas alam Hal ini di satu sisi akan berdampak positif bagi perkembangan ilmu, namun di sisi lain akan berdampak negatif bagi lingkungan karena ada potensi pengabaian atas permasalahan lingkungan di planet bumi, demi memperluas konsepsi mengenai dunia. Corak pemikiran etika lingkungan yang lebih mengarahkan kepada aspek ekosentrisme sekalipun merupakan penyempitan makna dunia hanya sebatas di permukaan bumi, akan PENGELOLA JURNAL ILMIAH NASIONAL MANTHIQ : JURNAL FILSAFAT AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM Website : https://ejournal. id/index. php/manthiq E-ISSN : 2685-0044 P-ISSN : 2527-3337 Information : 0853-8130-5810 tetapi dapat memperluas makna dunia . yang tidak hanya sebatas aspek fisik. Daftar Pustaka