Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Framing Analysis of the Reporting of Pegi Setiawan as a Suspect in the Vina Murder Case in Online Media Detik. Com and Liputan 6 Dini Meidiyanti Putri1. Ernanda2. Anggi Triandana3 Universitas Jambi dinimeidiyantip@gmail. INFORMASI ARTIKEL Riwayat Diterima: 1 Januari 2024 Direvisi: 14 Januari 2024 Disetujui: 31 Januari 2024 Kata Kunci Analisis Framing. Detik. Liputan 6. Media Online. Pan & Kosicki. Pegi Setiawan Keywords Framing Analysis. Detik. Liputan 6. Online Media. Pan & Kosicki. Pegi Setiawan ABSTRAK This research aims to describe the framing carried out by the online media Detik. com and Liputan 6 regarding the issue of reporting Pegi Setiawan as a suspect in the Vina murder case in May-July 2024. This research uses the theory of Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki . with a qualitative descriptive research method. The research data includes words, phrases, sentences, photos, and images in Detik. com and Liputan 6 news discourse in which there are 4 Pan and Kosicki structures. Data collection was carried out by downloading news which was then analyzed using Pan and Kosicki's 4 structural structures which include syntactic, script, thematic and rhetorical structures. The results of this research found that in the syntactic structure, the Detik. com media was inconsistent in framing Pegi, which was originally a contra, turning into a pro. Meanwhile. Liputan 6 tends to present news that is critical of the legal process. The script structures in these two media both contain gaps in one of the 5W 1H elements in the news. terms of thematic structure. Detik. com tends to vary in the number of paragraphs, while Liputan 6 is more consistent in arranging paragraphs Finally, regarding the rhetorical structure. Liputan 6 is superior in presenting photos because it shows the reality of the news, compared to Detik. com which only used photos of Pegi at the time of the arrest and press conference. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembingkaian yang dilakukan oleh media online Detik. com dan Liputan 6 terhadap isu pemberitaan Pegi Setiawan sebagai tersangka kasus pembunuhan Vina pada bulan MeiAiJuli 2024. Penelitian ini menggunakan teori Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki . dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Adapun data penelitian yaitu meliputi kata, frasa, kalimat, foto dan gambar pada wacana berita Detik. com dan Liputan 6 yang di dalamnya terdapat 4 struktural Pan dan Kosicki. Pengumpulan data dilakukan dengan mendownload berita yang kemudian dianalisis menggunakan 4 struktural Pan dan Kosicki yang meliputi struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Hasil dari penelitian tersebut ditemukan pada struktur sintaksis, media Detik. com tidak konsisten dalam memframingkan Pegi yang semula kontra berubah menjadi pro. Sedangkan Liputan 6 lebih cenderung menyajikan berita yang bersifat kritik terhadap proses hukum. Struktur skrip pada dua media ini sama-sama terdapat kekosongan pada salah satu unsur 5W 1H dalam beritanya. Pada struktur tematik. Detik. com cenderung bervariasi dalam jumlah paragrafnya, sedangkan Liputan 6 lebih konsisten dalam menyusun paragraf secara seragam. Terakhir dari struktur retoris. Liputan 6 Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 lebih unggul dalam penyajian foto karena menampilkan realitas berita, dibandingkan Detik. com yang hanya menggunakan foto Pegi pada saat penangkapan dan konferensi pers. Copyright . 2024 Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana Pendahuluan Kasus pembunuhan Vina Cirebon kembali dibuka setelah penayangan film Vina: Sebelum 7 Hari. Adanya penayangan film yang mengangkat tragedi pembunuhan Vina, memicu banyak reaksi emosional dari masyarakat Indonesia (Cahya, 2024: . Insiden tragis yang disajikan melalui film tersebut berhasil menarik perhatian publik, akibatnya banyak masyarakat yang mulai mempertanyakan kembali mengenai penanganan kasus yang dilakukan oleh penegak hukum (Haqqi, 2. Pasalnya diketahui kasus tersebut sempat tertunda selama 8 tahun. Tragedi pembunuhan ini bermula pada malam 27 Agustus tahun 2016 di Cirebon, di mana Vina Dewi Arsita atau yang dikenal juga dengan Vina bersama kekasihnya Eky ditemukan tergeletak tewas di atas jembatan layang Kepongpongan. Talun. Kabupaten Cirebon. Kasus ini awalnya diidentifikasi oleh Polres Talun sebagai kecelakaan lalu lintas tunggal. Namun, kemudian berubah menjadi kasus pembunuhan dan pemerkosaan pada Vina dan Eky setelah adanya intervensi dari Iptu Rudiana (Prasetio, 2. Dalam penyelidikan tersebut, diketahui adanya 11 tersangka yang terlibat. Dari 11 orang tersebut, 8 diantaranya sudah berhasil diamankan dan dihukum oleh pengadilan. Sementara tiga lainnya, masih dalam status buronan (Putri, 2. Melihat belum ada upaya penegak hukum dalam merespons kasus Vina, masyarakat Indonesia beramai-ramai memadati jembatan Talun untuk melakukan aksi tabur bunga, dan orasi sebagai bentuk protes kepada para aparat hukum agar dapat segera mengusut kasus tersebut (Cahya, 2024:. Merasa terdesak oleh masyarakat, para penegak hukum kembali melakukan penyelidikan ulang terhadap kasus pembunuhan Vina Cirebon. Dari penyelidikan ulang tersebut, oleh Polda Jabar mengidentifikasi tiga tersangka yang diduga terlibat, yaitu Pegi Setiawan. Andi, dan Dani. Pada 21 Mei 2024. Pegi berhasil ditangkap di Bandung, sementara dua lainya masih dalam proses pencarian (Samara dkk, 2024: . Akan tetapi, berjalannya proses penyelidikan secara cepat ini dapat menimbulkan upaya salah tangkap. Belum lagi penangkapan para tersangka hanya didasarkan pada Aukesaksian mistisAy berupa kesurupan oleh Linda yang diketahui sebagai teman Vina (Prasetio, 2. Hal inilah yang kemudian menimbulkan momen krusial, karena disinyalir penangkapan Pegi Setiawan sebagai salah tangkap (Haqqi, 2. Praduga awal adanya kecurigaan salah tangkap ini, yaitu terlihat banyaknya keganjilan dalam penangkapan Pegi. Dilansir dari Liputan 6, penangkapan Pegi sejak awal tidak dilakukan dengan prosedur hukum yang benar, yaitu tidak sesuai dengan Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2020 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana, dan Peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyidikan Tindak Pidana. Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Selain itu, foto tersangka yang dimiliki oleh Polda Jabar juga tidak ditemukan kemiripan dengan wajah Pegi. Kembali dibukanya kasus Vina yang membuat Pegi menjadi salah satu tersangka pembunuhan, yang ternyata justru terindikasi sebagai salah tangkap membuat media secara masif menyiarkan isu-isu yang membahas Pegi Setiawan. Karena kasus ini tidak hanya menyangkut kepada permasalahan hukum di Indonesia, tetapi juga menyangkut pada keadilan dan hak asasi Media massa sebagai sumber utama informasi memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat (Wahyuni, 2008: . Media memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan yang dapat memengaruhi opini serta pandangan masyarakat. Terutama dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, media massa tidak hanya hadir sebagai media cetak tetapi juga sebagai media online (Laksono, 2019: . Kecepatan dan kemudahan dalam mengakses informasi menjadikan media online sebagai media massa yang banyak diminati oleh masyarakat (Syaefudin dkk, 2024: . Dengan jangkauan yang begitu luas, media online dapat memengaruhi opini publik terhadap berbagai isu yang berhubungan dengan sosial, politik, dan hukum (Sandi dkk, 2022: . Dalam menyampaikan informasi, media online biasanya memiliki ideologi ataupun gaya penulisan tertentu. Hal ini dikarenakan, informasi yang disampaikan di dalam berita sudah melewati proses framing atau pembingkaian (Fauziati, 2021: . Framing adalah metode yang dilakukan wartawan pada saat menyajikan suatu berita dengan cara menonjolkan bagian-bagian tertentu (Setiaji, 2024: . Dijelaskan juga oleh Tuchman dalam bukunya Making News yaitu AuBerita adalah JendelaAy. Artinya, dengan berita kita bisa mengetahui berbagai informasi, akan tetapi informasi seperti apa yang kita dapatkan maupun kita ketahui itu berdasarkan pada jendela apa yang kita lihat. Dan dalam hal ini, jendela sama halnya dengan frame/ bingkai berita (Sobur, 2. Salah satunya seperti yang terdapat pada media online Detik. com dan Liputan 6. Dalam menyampaikan informasi melalui berita, kedua media ini tentu memiliki perbedaan, baik itu dari segi penonjolan informasi maupun dari ideologi media. Detik. com sesuai dengan namanya AudetikAy yang mengutamakan kecepatan dalam menyampaikan berita, berbeda dengan Liputan 6 yang lebih mementingkan berita yang disampaikan adalah berita yang aktual, tajam, serta Sehingga, membingkai/memframingkan berita dengan cara yang berbeda meski pada isu yang sama. Untuk mengetahui perbedaan framing yang dilakukan media online Detik. com dan Liputan 6, maka dilakukan penelitian dengan menggunakan teori Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki . Analisis framing teori Pan dan Kosicki ini menggunakan 4 perangkat struktural yang meliputi struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Dari 4 perangkat struktural ini memiliki fungsi untuk menjelaskan bagaimana cara wartawan dalam menyusun fakta, mengisahkan fakta, menuliskan fakta, serta dalam menekankan fakta. Dengan teori ini, akan dijelaskan secara detail konsep pembingkaian dalam suatu berita. Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Dengan teori Zhongdang Pan dan Kosicki . akan dilakukan analisis framing terkait isu pemberitaan Pegi Setiawan sebagai tersangka kasus pembunuhan Vina yang terdapat dalam media online Detik. com dan Liputan 6 dengan periode pemberitaan bulan Mei-Juli 2024. Penelitian ini bertujuan untuk membingkai/memframingkan isu pemberitaan Pegi Setiawan sebagai tersangka kasus pembunuhan Vina dengan gaya ungkap yang berbeda. Penelitian mengenai analisis framing dengan teori Pan dan Kosicki ini juga pernah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, yaitu seperti pada penelitian Khoironi dan Rana . dengan judul penelitian AuPembingkaian Pemberitaan Nonton Bareng Film G30S/PKI di Media Daring (Analisis Framing Pan & Kosicki pada Media Detik. com dan Kompas. Ay. lalu terdapat juga penelitian Leasfita dan Budi . yang berjudul AuAnalisis Framing pada Pemberitaan Kasus Penipuan Trading Online Indra Kenz di Kompas. com dan Detik. comAy. dan terakhir penelitian oleh Meita . yang berjudul AuAnalisis Framing Pada Pemberitaan Kasus Pembunuhan Ferdy Sambo di Media Online Kumparan. com dan Tribunnews. comAy. Dari ketiga penelitian terdahulu tersebut terdapat persamaan maupun perbedaan terhadap penelitian yang akan dilakukan. Persamaan penelitian terletak pada analisis framing dengan teori Pan dan Kosicki, serta membandingkan dua media online. Adapun perbedaan penelitian yaitu dilihat dari isu berita yang diangkat, waktu penelitian, serta pemilihan media online. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian dengan pendekatan kualitatif ialah penelitian yang berkaitan dengan data dan bukan angka (Sugiyono: 2. Dijelaskan juga oleh (Setiawan & Sagita, 2. deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan fenomena yang hadir dari subjek penelitian seperti persepsi, motivasi, perilaku, dan mendeskripsikannya melalui bentuk kata dan bahasa. Adapun objek penelitian ini berupa 6 wacana berita dari media online Detik. com dan Liputan 6 yang membahas isu Pegi Setiawan sebagai tersangka kasus pembunuhan Vina dengan waktu pemberitaan pada bulan Mei-Juli 2024. Data penelitian tersebut berupa kata, kalimat, foto, dan gambar yang di dalamnya terdapat 4 struktural Pan dan Kosicki. Teknik pengumpulan data yaitu dengan melakukan observasi, kemudian memilih serta mensortir berita yang dianggap relevan dengan penelitian, setelahnya di download. Data yang sudah disimpan, akan dilakukan pembacaan secara menyeluruh, lalu diklasifikasikan sesuai dengan masing-masing media dan terakhir akan dianalisis menggunakan 4 perangkat struktural Pan dan Kosicki yang meliputi struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Hasil dan Pembahasan Analisis framing dengan menggunakan teori Zhongdang Pan dan Gerald Kosicki terkait isu pemberitaan Pegi Setiawan sebagai tersangka kasus Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 pembunuhan Vina dalam media online Detik. com dan Liputan 6, akan dianalisis menggunakan 4 perangkat struktural. Wacana berita yang dipilih yaitu tiga berita dari Detik. com dan tiga berita dari Liputan 6 dengan periode pemberitaan pada bulan Mei-Juli 2024. Hasil dari penelitian akan dijelaskan sebagai berikut: Analisis Framing pada Media Online Detik. Analisis Berita 1 pada Media Online Detik. Judul : Pegi Otak Pembunuhan Vina Cirebon Dibekuk. Ketua RT Ungkap Gelagatnya Reporter: Devteo Mahardika Tanggal: 23 Mei 2024 Struktur Sintaksis Pada berita 1, headline yang digunakan berjudul AuPegi Otak Pembunuhan Vina Cirebon Dibekuk. Ketua RT Ungkap GelagatnyaAy. Pertama. Pegi digambarkan sebagai dalang dari kasus pembunuhan Vina yang terjadi pada Penyebutan Auotak pembunuhanAy termasuk ke dalam idiom/majas metafora, karena kata AuotakAy secara harfiah merupakan organ dalam kepala manusia yang digunakan sebagai pusat kendali. Tetapi dalam headline tersebut, kata AuotakAy digunakan untuk menggambarkan seseorang yang menjadi pengendali atau yang telah merencanakan kejahatan pembunuhan Kedua, di dalam headline ini juga terdapat bagian yang menjelaskan adanya perilaku mencurigakan yang dilakukan oleh Pegi. Pernyataan ini diperoleh dari salah satu warga yang merupakan ketua RT Desa Kepongpongan tempat Pegi tinggal. Kata AuungkapAy mewakili penggambaran sesuatu yang sebelumnya tersembunyi atau tidak diketahui oleh publik sebelumnya. Berita ini berusaha mengulik informasi yang terjadi pada tahun 2016 dan tahun 2024 mengenai keberadaan dan tingkah laku Pegi sebelum pada akhirnya ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan. Adapun bagian lead sudah merangkum isi berita tersebut, pernyataan dari ketua RT mengenai perilaku mencurigakan oleh Pegi Setiawan, yang pada akhirnya berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian sebagai salah satu pelaku pembunuhan Vina. Dalam paragraf selanjutnya berisikan penjelasan mengenai perilaku-perilaku Pegi yang dijalin ke dalam teks sebagai informasi latar Penjelasan terkait informasi ini diperkuat melalui kutipan langsung yang disampaikan oleh Ketua RT Desa Kepongpongan Aris Lesmana. Fokus utama berita ini yaitu Pegi Setiawan yang digambarkan sebagai otak pembunuhan Vina pada tahun 2016, yang berhasi ditangkap oleh tim gabungan Polda Jabar di kawasan Kopo. Bandung pada Selasa . malam, yang disampaikan pada bagian penutup. Struktur Skrip Pada struktur skrip dalam berita 1 ini, paragraf pembuka dan dua paragraf setelahnya dengan jelas mengidentifikasi aspek siapa . , tindakan . , di mana . , dan kapan . Pada paragraf 8, menjelaskan mengapa . perilaku Pegi terlihat mencurigakan. Perilaku mencurigakan ini, digambarkan dengan Pegi yang selalu menggunakan masker dan topi atau menggunakan jaket kupluk saat hendak keluar rumah. Lalu, pada paragraf Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 setelahnya merupakan bagaimana . perilaku yang dilakukan oleh Pegi. Paragraf ini juga menjelaskan adanya keterangan yang disampaikan oleh Aris Lesmana selaku ketua RT, bahwa ia mengingat betul pada tanggal 15 Mei Pegi meninggalkan rumah neneknya dan menuju ke Bandung untuk menemui Struktur Tematik Secara keseluruhan berita ini memiliki 14 paragraf, yang terdiri dari 8 paragraf berupa kutipan langsung, serta 6 paragraf lainya merupakan pernyataan yang ditulis oleh jurnalis. Berita ini juga terdapat proposisi yang menyajikan secara implisit suatu tindakan yang dilihat sebagai anteseden yaitu pada pernyataan AuPas habis Lebaran juga kan suka lihat Pegi, tapi kalau setiap keluar rumah dia (Pegi Setiawa. suka pakai masker sama topi. Kalau nggak pakai topi ya pakai jaket yang ada kupluknya sama masker jugaAy. Pernyataan ini menunjukkan adanya perilaku aneh yang terjai di masa lampau yang kemudian diungkapkan oleh Aris Lesmana sebagai salah satu informasi dan kesaksian untuk menetapkan Pegi sebagai tersangka. Berita ini tersusun dari hubungan antar kalimat yaitu AuSebelumAy . dan AuSetelahAy . aragraf 5 dan . yang berfungsi untuk menunjukkan alur perisitiwa. Struktur Retoris Terakhir, dilihat dari struktur retoris berita ini menggunakan satu foto yang terletak setelah headline. Foto ini memperlihatkan kondisi Pegi dengan baju kaos bewarna hitam yang diangkat setengah badan, serta memperlihatkan kedua tangan yang sedang diikat. Penggunaan gambar ini dispekulasikan untuk menunjukkan kepada masyarakat bagaimana perlakuan Polda Jabar kepada Pegi. Meski ditetapkan sebagai otak pembunuhan. Polda Jabar digambarkan sebagai seseorang yang bermurah hati dengan tidak memborgol tangan Pegi menggunakan borgol, melainkan hanya dengan kabel ties/cable tie yang biasa digunakan untuk mengikat benda-benda ataupun barang kiriman . Analisis Berita 2 pada Media Online Detik. Judul : Sederet Upaya Pegi Otak Pembunuhan Vina Cirebon Hilangkan Jejak Reporter: Tim detikJabar Tanggal: 27 Mei 2024 Struktur Sintaksis Pada berita 2, headline yang digunakan yaitu AuSederet Upaya Pegi Otak Pembunuhan Vina Cirebon Hilangkan JejakAy. Seperti pada berita 1. Pegi digambarkan sebagai dalang dari kasus pembunuhan Vina yang terjadi pada tahun 2016 dengan penyebutan Auotak pembunuhanAy yang bearti seseorang yang menjadi pengendali atau yang telah merencanakan kejahatan pembunuhan tersebut. Akan tetapi, di dalam headline ini juga terdapat frasa Auhilangkan jejakAy yang merupakan majas metafora. Kata AujejakAy bukanlah yang memiliki arti dengan hubungan jejak fisik, melainkan AujejakAy di sini melambangkan sebagai bukti kejahatan. Headline ini menjelaskan, adanya upaya yang dilakukan Pegi untuk menghilangkan bukti kejahatan yang telah Secara implisit, headline ini mengarahkan pembaca untuk melihat Pegi sebagai pelaku pembunuhan Vina di tahun 2016. Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Adapun bagian lead sudah merangkum isi berita secara keseluruhan, yaitu penetapan Pegi sebagai otak pembunuhan yang didasarkan pada bukti-bukti yang telah ditemukan oleh polisi. Penjabaran serangkaian bukti yang ditemukan oleh Polda Jabar dijelaskan dalam paragraf selanjutnya sebagai latar belakang Beberapa pernyataan ini dikaitkan oleh Dikrimum Polda Jabar Kombes Suarawan. Kabid Humas Polda Jabar Kombes Jules Abraham Abast sebagai pihak yang menuntut Pegi atas tragedi pembunuhan Vina tersebut. Adapun Pegi Setiawan diidentifikasi sebagai pelaku yang melakukan kejahatan. Akan tetapi, di dalam pernyataannya Pegi mengaku tidak terlibat di dalam pembunuhan itu. Pegi bahkan mengatakan Ausaya rela matiAy sebagai ungkapan yang menunjukkan pengorbanan dan tekad yang kuat atas kebenaran yang Meski pada kenyataannya, pernyataan itu tidak cukup untuk membuktikan Pegi tidak bersalah. Pada bagian penutup, dijelaskan kemungkinan yang akan terjadi jika Pegi terbukti sebagai pelaku pembunuhan yaitu penjara 20 tahun, atau seumur hidup, dan bahkan bisa pidana mati. Struktur Skrip Struktur skrip dalam berita 2 ini, terdapat pada paragraf 2, 7, dan 11 yang mengidentifikasi aspek siapa saja . yang terlibat di dalam berita ini, tindakan apa yang dilakukan . , waktu pada saat informasi tersebut di dapatkan . , dimana berita itu didapatkan . dan aspek mengapa . Pegi akhirnya ditangkap. Adapun bagaimana . Pegi berusaha menghilangkan jejak dijelaskan dalam beberapa paragraf setelahnya. Struktur Tematik Berita 2 ini terdiri dari 18 paragraf, diantaranya yaitu 9 paragraf yang berupa kutipan langsung, serta 9 paragraf lainya merupakan pernyataan yang ditulis oleh jurnalis. Berita ini juga terdapat proposisi yang menyajikan secara implisit suatu tindakan yang dilihat sebagai anteseden yaitu pada pernyataan AuSaya tidak terlibat pembunuhan itu, saya rela matiAy . Pernyataan ini merepresetasikan secara implisit sebuah informasi yang berkaitan dengan sebab-akibat. Pernyataan ini menunjukkan adanya konsekuensi yang akan diambil karena tidak melakukan hal tersebut. Hubungan antar kalimat yang membentuk berita ini antara lain adalah AuTak hanya ituAy . AuSementara ituAy . , dan AuSetelahnyaAy . Hubungan antar kalimat ini berfungsi untuk menguhubungkan dua bagian kalimat serta menunjukkan alur dari perisitiwa. Struktur Retoris Terakhir, dari struktur retoris berita ini menggunakan dua foto. Pertama foto yang berada setelah headline, yang menampilkan Pegi dengan baju tahanan sedang dibawa oleh tim Polda Jabar. Diketahui foto ini diambil pada saat akan dilakukannya konferesni pers mengenai penetepan Pegi sebagai Jika dilihat secara teliti, foto tersebut memperlihatkan pandangan Pegi yang seperti sedang melihat seseorang. Entah itu hanya sebuah kebetulan, atau upaya Pegi untuk menarik perhatian awak media. Sebab, pada saat konferensi pers tersebut, dalam kesempatannya Pegi mengaku tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut. Sehingga, dapat diasumsikan Pegi berusaha Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 menarik perhatian awak media untuk dapat mengungkapkan kebenaran yang Lalu pada foto kedua, yaitu memperlihatkan sejumlah bukti yang digunakan Polda Jabar untuk menetepkan Pegi sebagai tersangka. Bukti tersebut meliputi pas foto, ijazah. KK. KTP, dan beberapa foto keluarga. Dari beberapa bukti tersebut, tidak terlihat bukti yang mengarahkan langsung bahwa Pegi adalah otak pembunuhan Vina. Analisis Berita 3 pada Media Online Detik. Judul : Penetapan Tersangka Pegi Setiawan Tidak Sah. Harus Dibebaskan! Reporter: Rifat Alhamidi Tanggal: 08 Juli 2024 Struktur Sintaksis Pada berita 3, telah dilakukan penjabaran data sesuai dengan empat struktur Pan dan Kosicki. Pada struktur sintaksis terdapat enam unit yang perlu Headline yang digunakan yaitu AuPenetapan Tersangka Pegi Setiawan Tidak Sah. Harus Dibebaskan!Ay. Jika dianalisis lebih mendalam, headline ini memberikan dampak yang cukup kuat. Penggunaan klausa pertama AuPenetapan Tersangka Pegi Setiawan Tidak SahAy merupakan klausa deklaratif yang memberikan informasi bahwa penetapan Pegi sebagai tersangka tidak didasarkan pada bukti yang akurat, kata AuTidak SahAy menyiratkan makna hukum yang kuat, yaitu adanya kesalahan yang terjadi dalam proses tersebut. Adapun klausa kedua AuHarus Dibebaskan!Ay menekankan makna yang bersifat harus atau wajib dan merupakan tuntutan yang jelas dan urgensi. Sehingga jika dilihat secara keseluruhan, headline ini seolah ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa berita yang disajikan berupa berita yang berusaha menegakkan keadilan di mata hukum serta bentuk dukungan kepada Pegi dan Tanpa disadari, media ini menunjukkan keberpihakanya yang kemudian dapat mempengaruhi persepsi masyarakat untuk ikut berpihak kepada tersangka yaitu Pegi Setiawan. Adapun lead, terlihat sudah mewakili dari isi berita secara keseluruhan. Latar belakang informasi juga sudah sesuai dengan berita yang disampaikan, yaitu menjelaskan tentang putusan Hakim yang menyatakan penetapan Pegi sebagai tersangka dianggap tidak sah dan batal demi hukum serta Polda Jabar diminta untuk membebaskan Pegi dan mengembalikan harkat dan martabatnya. Akan tetapi, berita ini hanya menggunakan satu sumber rujukan, yaitu Hakim Eman Sulaeman. Pemakaian satu sumber rujukan di dalam berita membuat pembaca hanya bisa mengetahui satu perspektif dari satu pihak saja, tanpa dapat mempertimbangkan perspektif dari pihak Polda Jabar. Ketiga kutipan yang digunakan pun hampir memiliki makna yang sama, yaitu hanya membahas terkait penetapan Pegi sebagai tersangka yang tidak sah, serta perintah kepada Polda Jabar untuk membebaskan Pegi. Struktur Skrip Jika dari struktur skrip, berita 3 ini hanya memasukkan aspek what, where, when, who, dan how yang terdapat pada paragraf pembuka dan paragraf setelahnya. Tidak ditemukan kalimat maupun pernyataan yang di Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 dalamnya terdapat aspek why, yaitu mengapa penetapan tersangka Pegi dianggap tidak sah. Tidak ada pernyataan yang menjelaskan alasan dari penetapan tersangka tersebut tidak sah dan dibatalkan secara hukum. Padahal aspek why ini merupakan sesuatu yang perlu hadir di dalam berita, karena aspek why berfungsi sebagai penjelasan terkait kejadian yang terjadi. Dengan tidak lengkapnya struktur skrip, akan membuat kekosongan yang besar dari berita itu sendiri. Struktur Tematik Selanjutnya dari struktur tematik, dengan unit yang diamati yaitu paragraf, proposisi, kalimat, dan hubungan antar kalimat. Berita tersebut terdiri dari 6 paragraf yang di dalamnya tersusun dari kalimat pernyataan dan kutipan Akan tetapi, di dalam berita ini tidak ditemukan adanya proposisi. Sedangkan konjungsi terdapat kata AudanAy pada paragraf 2 serta 4 yang berfungsi untuk menghubungkan dua kalimat. Struktur Retoris Terakhir, dilihat dari struktur retoris berita ini menggunakan satu foto yang terletak setelah headline. Foto yang digunakan memperlihatkan wajah Pegi seorang diri yang tengah menunduk dengan raut wajah yang menunjukkan kesedihan. Secara waktu, foto tersebut tidak diambil pada sat kejadian terjadi, melainkan merupakan foto lama yang diambil pada tanggal 14 Juni 2024. Detik,com memang sering menggunakan foto-foto lama dan bahkan ditemukan foto yang sama dengan berita yang berbeda. Diasumsikan, foto tersebut digunakan dengan tujuan untuk menarik simpati masyarakat terhadap Pegi yang senada dengan headline berita yang digunakan. Analisis Framing pada Media Online Liputan 6 Analisis Berita 1 pada Media Online Liputan 6 Judul : Ibunda Pegi Berlinang Kenang Perkataan Sang Anak Saat Akan Ditangkap: Pegi Biarin Jadi Tumbal Orang Penting Reporter: Panji Prayitno Tanggal: 23 Mei 2024 Struktur Sintaksis Pada berita 1, dari segi struktur sintaksis headline yang digunakan berjudul AuIbunda Pegi Berlinang Kenang Perkataan Sang Anak Saat Akan Ditangkap: Pegi Biarin Jadi Tumbal Orang PentingAy. Pertama. Ibu Pegi diperlihatkan sebagai sesosok ibu yang tengah bersedih karena anaknya Kata AuberlinangAy secara implisit memiliki makna tangisan atau kesedihan mendalam yang dirasakan oleh ibu Pegi. Kedua, kesedihan yang dirasakan oleh ibu Pegi digambarkan sebagai kesedihan yang akan terus berlanjut, karena kata AukenangAy memiliki makna sebagai sesuatu yang akan terus diingat. Selain itu, kesedihan ini melibatkan kondisi anak yang diyakini menjadi tumbal dari orang penting. Penggunaan frasa Autumbal orang pentingAy bukanlah arti secara harfiah yang menjelaskan bagian dari praktik perdukunan atau dunia mistik dengan mengorbankan seseorang. AuTumbal orang pentingAy adalah majas metafora yang dalam hal ini untuk menyebutkan Pegi yang sengaja dijadikan pelaku agar bisa menutup kesalahan orang penting. AuOrang Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 pentingAy ini bisa berupa pejabat maupun pihak kepolisian yang menangani kasus ini. Secara keseluruhan, headline ini berfokus kepada kondisi Pegi yang ditangkap oleh pihak kepolisian, meski pada kenyataannya Pegi bukanlah pelaku sebenarnya. Headline ini juga menyoroti kepada proses hukum yang Masalah Pegi ini, apakah hanya asumsi semata sebagai tumbal yang sengaja dikorbankan untuk menutupi kelemahan hukum, atau memang Pegi adalah pelaku sebenanrnya. Adapun bagian lead sudah merangkum isi berita tersebut, pernyataan dari ibu Pegi yaitu Kartini yang meyakini anaknya adalah korban salah tangkap, yang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan besar oleh publik. Dalam paragraf selanjutnya berisikan alasan-alasan yang meyakini Kartini jika Pegi bukanlah pelaku pembunuhan yang ditulis ke dalam teks sebagai informasi latar Pernyataan lain juga membahas kondisi terakhir kali Pegi sebelum pada akhirnya ditangkap. Pernyataan ini dikutp langsung dari Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Jules Abraham Abast. Pada bagian penutup berita ini disampaikan bahwa pihak kepolisian akan mendalami kembali terkait kasus Pegi yang dinyatakan sebagai pelaku pembunuhan Vina. Struktur Skrip Struktur skrip dalam berita 1 ini, pada paragraf 3 dengan jelas mengidentifikasi aspek siapa . , tindakan . , di mana . , dan waktu . Pada paragraf 13. Penjelasan terkait aspek mengapa . ibu pegi begitu opitimis jika Pegi bukanlh pelaku pembunuhan terdapat pada Dijelaskan bahwa pada saat terjdinya tragedi pembunuhan tersebut. Pegi sedang tidak berada di Cirebon melainkan di Bandung bersama Adapaun paragraf setelahnya merupakan penjelasan dari aspek bagaimana . kelanjutan Pegi Setiawan. Struktur Tematik Secara keseluruhan berita ini memiliki 19 paragraf, yang terdiri dari 7 paragraf yang berupa kutipan langsung, serta 12 paragraf lainya merupakan pernyataan yang ditulis oleh jurnalis. Terdapat juga proposisi dalam berita ini yang sajikan secara ekspilit melalui kata AukarenaAy yaitu AuOleh karena itu, ia optimis sang anak tidak melakukan perbuatan pembunuhan kepada Eky dan Vina. Kartini memastikan saat kejadian tanggal 27 Agustus 2016 silam. Pegi tidak ada di CirebonAy . Berita ini tersusun dari hubungan antar kalimat yaitu AuDanAy . aragraf 1 dan . AuKemudianAy . aragraf 7 dan . AuSetelahAy . aragraf 6 dan . , dan AuOleh karena ituAy. Hubungan antar kalimat ini penting karena berfungsi untuk mengabungkan dua kalimat, serta menjelaskan alur peristiwa. Struktur Retoris Berita 1 ini menggunakan satu foto yang terletak setelah headline. Foto tersebet menampilkan wajab ibu Pegi pada saat sedang diawawancara. Dengan menggunakan pakaian seadanya, dan dilapisi jilbab bewarna hijau, kesedihan terlihat jelas diwajah Kartini . bu Peg. Meski berusaha terlihat tegar dihadapan awak media, garis-garis kekhawatiran tidak bisa menutupi betapa terpukulnya Kartini atas musibah yang menimpa anaknya. Melalui foto ini, media berusaha menarik perhatian pembaca untuk tidak hanya terfokus kepada isu yang Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 menyebutkan Pegi sebagai Auotak pembunuhanAy, tetapi juga memperhatikan sisi lainnya yang dirasakan oleh keluarga Pegi. Analisis Berita 2 pada Media Online Liputan 6 Judul : Tim Hukum Polda Jabar Tidak Hadir di Sidang Praperadilan Pegi Setiawan. Kuasa Hukum:Tidak Profesional Reporter: Arya Prakasa Tanggal: 24 Juni 2024 Struktur Sintaksis Pada berita 2, headline yang digunakan adalah AuTim Hukum Polda Jabar Tidak Hadir di Sidang Praperadilan Pegi Setiawan. Kuasa Hukum:Tidak ProfesionalAy. Headline ini membahas ketidakhadiran tim hukum Polda Jabar pada saat sidang praperadilan Pegi. Perilaku ini dinilai tidak bertanggungjawab oleh tim kuasa hukum Pegi yang ditandai dengan frasa Autidak profesionalAy. Meski tidak diketahui alasan pasti yang menyebabkan tim hukum Polda Jabar tidak bisa hadir, akan tetapi hal ini dapat menimbulkan spekulasi bahwa tim hukum Polda Jabar merasa tidak memiliki cukup bukti untuk melawan Pegi di Sehingga hal ini dapat berpengaruh pada persepsi publik mengenai isu adanya dugaan salah tangkap yang dilakukan Polda Jabar. Akibat ketidakhadiran tim hukum Polda Jabar, terpaksa membut sidang praperadilan tersebut dimundurkan. Adapun bagian lead juga sudah merangkum isi berita tersebut, terdapat pernyataan yang menyatakan secara jelas jika Polda Jabar terbukti melakukan kesalahan dalam penetapan Pegi sebagai tersangka, maka cukup akui saja. jangan sampai merugikan orang lain dengan dimundurkannya jadwal sidang. Informasi yang melatarbelakangi berita 2 ini adalah perihal persidangan praperadilan Pegi, yang tepaksa dimundurkan. Hal ini dikutip langsung dari Hakim Eman Sulaeman. Juru bicara PN Bandung Dalyusra, serta kuasa hukum Pegi yaitu Sugianti. Tim Polda Jabar diminta untuk kembali menghadiri sidang pada 1 Juli 2024, akan tetapi apabila tim Polda Jabar kembali tidak hadir, maka sidang praperadilan tersebut akan tetap dilanjutkan. Struktur Skrip Struktur skrip dalam berita 2 ini, melengkapi struktur 5W 1H. Penjelasan mengenai aspek siapa . , tindakan . , mengapa . di mana . , dan kapan . dijelaskan pada paragraf pembuka dan setelahnya. Sedangkan untuk aspek . yang menjelaskan bagaimana kelanjutan sidang tersebut dijelaskan pada paragraf 6 dan 7. Struktur Tematik Secara keseluruhan berita ini memiliki 9 paragraf, yang terdiri dari 4 paragraf berupa kutipan langsung, serta 5 paragraf lainya merupakan pernyataan yang ditulis oleh jurnalis. Terdapat juga proposisi dalam berita ini yaitu AuApabila tidak hadir, perkara lanjut terusAy . Dari proposisi ini jelaskan adanya hubungan sebab-akibat yang disampaikan secara implisit. Yang bermaksud. Aojika Polda Jabar tetap tidak hadir, maka persidangan akan tetap dilanjutkan sekalipun tidak adanya kehadiran Polda JabarAo. Berita ini tersusun dari hubungan antar kalimat yaitu AuDanAy . aragraf 1 dan . AuKemudianAy Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 aragraf 7 dan . AuSetelahAy . aragraf 6 dan . , dan AuOleh karena ituAy. Hubungan antar kalimat ini penting karena berfungsi untuk mengabungkan dua kalimat, serta menjelaskan alur peristiwa. Struktur Retoris Terakhir, dilihat dari struktur retoris berita ini menggunakan satu foto yang terletak setelah headline. Foto ini memperlihatkan kondisi pengadilan pada saat sidang praperadilan Pegi berlangsung. Dalam foto tersebut terlihat beberapa tim kuasa hukum Pegi serta pihak Polda Jabar yang sudah siap mengikuti perjalanan sidang. Analisis Berita 3 pada Media Online Liputan 6 Judul : Pegi Setiawan Bebas. Anggota Komisi i DPR: Jangan Lagi Rakyat Jadi Kambing Hitam Polisi Reporter: Delvira Hutabarat Tanggal: 10 Juli 2024 Struktur Sintaksis Berita 3 menggunakan headline AuPegi Setiawan Bebas. Anggota Komisi i DPR: Jangan Lagi Rakyat Jadi Kambing Hitam PolisiAy. Headline ini mengangkat isu kritik dengan pemilihan kalimat AuJangan Lagi Rakyat Jadi Kambing Hitam PolisiAy yang menjelaskan bahwa adanya tindakan penyelewengan yang dilakukan polisi kepada masyarakat dengan menjadikan seseorang sebagai AuKambing HitamAy adalah idiom/ungkapan yang biasanya digunakan untuk merepresentasikan seseorang yang dituduh bersalah, tetapi sebenarnya dia tidak bersalah. Adanya kata AuRakyatAy juga menunjukkan bahwa perisitiwa salah tangkap ini bisa terjadi pada siapapun, tidak hanya kepada Pegi. Karena kata AuRakyatAy merujuk kepada sekumpulan orang atau suatu masyarakat yang diatur oleh pihak yang berkuasa. Perisitiwa salah tangkap ini bisa jadi sebagai kesalahan ataupun perbuatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menutupi kelemahan dalam penegakan hukum. Selain itu, dengan menyebutkan AuAnggota Koomisi i DPRAy menunjukkan bahwa kasus ini tidak hanya terkait hukum tetapi juga kepada hak asasi manusia (HAM), serta dampaknya yang dapat berakibat kepada kehidupan sosial. Pada bagian lead, hanya menjelaskan penetapan Pegi sebagai tersangka yang dianggap batal dan tidak sesuai hukum oleh Hakim Eman Sulaeman. Berita ini sendiri dilatarbelakangi oleh tindakan salah tangkap tersangka yang dilakukan oleh Polda Jabar, yang menurut Gilang Dhielafarares sebagai anggota Komisi i DPR RI, kasus salah tangkap tersebut dapat berakibat fatal sebab dapat merusak kehidupan seseorang di masa depan. Pernyataan lain yang dikutip langsung dari Gilang juga menjelaskan perihal tugas dan kewajiban polisi dalam mengayomi masyarakat, bukan hanya karena dorongan dari masyarakat polisi main asal tangkap tanpa berdasarkan bukti yang akurat. Pada bagian penutup. Gilang secara terbuka dalam pernyataannya meminta agar Polda Jabar tidak hanya meminta maf tetapi juga memberikan kompensasi yang layak kepada Pegi sebagai penebusan kesalahan mereka. Struktur Skrip Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Struktur skrip pada berita 3, memiliki kesamaan dengan berita 7 yaitu sama-sama tidak mencamtumkan unsur where. Berita ini hanya memasukan what, when, who, why, dan how dalam menyajikan informasi kepada pembaca. Unsur where yang menjelaskan di mana lokasi atau pun tempat pada saat informasi itu disampaikan, tidak dituliskan secara jelas. Sehingga, berita ini memiliki kelemahan dalam struktur skripnya. Struktur Tematik Berita 3 memiliki 16 paragraf, termasuk di dalamnya 5 paragraf berisi kutipan langsung dan 11 paragraf lainnya berupa kalimat pernyataan. Tidak ditemukan proposisi dalam berita ini. Adapun hubungan antar kalimat yaitu AuDanAy paragraf 1 yang berfungsi untuk menghubungkan dua kalimat atau lebih, serta AuDengan demikianAy pada paragraf ke 15 yang menyatakan konsekuensi dari kalimat sebelumnya. Pada berita ini, yaitu menjelaskan Polda Jabar yang diminta untuk memberikan pertanggungjawaban baik itu secara moril dan materil kepada Pegi agar dapat meningkatkan kembali percayaan masyarakat terhadap integritas kepolisian. Struktur Retoris Berita ini memiliki satu idiom yaitu AuKambing HitamAy. Penggunaan idiom ini biasanya digunakan sebagai ungkapan seseorang yang dituduh bersalah, tetapi sebenarnya dia tidak bersalah. Kemudian, terdapat tiga foto yang digunakan pada berita 3. Antara lain, yaitu foto kepulangan Pegi yang disambut oleh ratusan warga, foto ini terletak setelah headline. Lalu terdapat juga foto Pegi yang memperlihatkan Pegi sedang dipeluk oleh salah satu warga, yang berada ditengah-tengan berita. Dan terakhir, yaitu foto yang memperlihatkan Pegi berusaha membantah tetapi ditahan oleh kedua Polda Jabar, foto ini terletak sebelum bagian penutup Ketiga foto tersebut tentu memiliki maksud dan tujuan tertentu yang ingin disampaikan oleh media Liputan 6 kepada masyarakat. Entah itu untuk menarik simpati masyarakat kepada Pegi, ataupun sebagai peringatan kepada Penegak hukum agar lebih profesional agar tidak berdampak buruk bagi kehidupan seseorang dimasa depan. Pembahasan Analisis Framing Media Online Detik. com dan Liputan . Struktur Sintaksis Pada struktur sintaksis terdapat enam elemen yang perlu diamati, diantaranya yaitu headline, lead, latar informasi, kutipan sumber, pernyataan, dan penutup. Melalui headline, media akan melakukan framing dengan menonjolkan informasi tertentu. Sebab, headline adalah pokok pikiran dari Selain itu, pembaca juga cenderung mengingat headline dari pada isi berita secara keseluruhan. Itulah kenapa, framing dapat terlihat salah satunya melalui headline. Seperti yang dilakukan Detik. com dalam menginformasikan berita terkait Pegi Setiawan sebagai tersangka kasus pembunuhan Vina terlihat jelas perbedaan framing yang dilakukan pada ketiga beritanya. Pada berita 1 dan 2. Detik. com memframingkan Pegi sebagai AuOtak PembunuhanAy, namun framing tersebut berubah menjadi sebuah dukungan kepada Pegi dalam berita Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 3 yang ditunjukkan dengan frasa AuHarus dibebaskan!Ay. Ketiga bentuk framing yang dilakukan Detik. com ini tentu memiliki maksud dan tujuan tertentu. Melalui frasa AuOtak PembunuhanAy. Detik. com menyiratkan maksud bahwa media tersebut kontra terhadap Pegi. Media Detik. com mengakui jika Pegi adalah dalang dari pembunuhan Vina. Tidak hanya itu, headline dengan frasa AuOtak PembunuhanAy tersebut juga dapat menggiring opini masyarakat untuk turut membenarkan Pegi sebagai dalang utama dari pembunuhan Vina. Akan tetapi, framing yang menunjukan kontra terhadap Pegi ini tidak berlangsung Setelah keluar hasil sidang praperadilan yang menjelaskan Pegi tidak bersalah. Detik. com dengan cepat beralih membingkai berita yang menunjukkan dukungannya. Perbedaan framing ini menjelaskan bahwa Detik. com tidak konsisten dalam memframing berita. Adapun Liputan kekonsistenannya dalam membingkai berita. Antara berita satu hingga 3. Liputan 6 menunjukkan headline yang sarat akan kritik. Liputan 6 cenderung menggunakan frasa yang provokatif. Liputan 6 juga tidak segan-segan mengkritik tajam terhadap proses hukum yang berjalan. Pada tanggal yang sama dengan berita 1 Detik. com, alih-alih menyebut Pegi sebagai AuOtak PembunuhanAy. Liputan 6 dengan lantang memframing Pegi sebagai AuTumbal Orang PentingAy. Framing yang sama juga ditunjukkan pada berita 2 dan 3, yaitu AuKuasa Hukum Tidak ProfesionalAy serta AuJangan Lagi Rakyat Jadi Kambing Hitam PolisiAy. Sehingga, dari ketiga berita tersebut Liputan 6 secara konsisten memframingkan beritanya sebagai bentuk kritik terhadap proses hukum yang sedang berjalan mengenai kasus Pegi Setiawan. Lead dari media online Detik. com maupun Liputan 6 sudah mampu menggambarkan keseluruhan isi berita. Latar belakang informasi yang disampaikan juga jelas dan membantu pembaca dalam memahami isi berita. Adapun pemilihan sumber berita, pada berita 1 Detik. com menggambil kutipan sumber yang berasal dari salah satu warga Talun yang diketahui sebagai ketua RT desa Kepongpongan. Lalu pada berita 2 dan 3 Detik. com mengambil sumber informasi dari pernyataan kepolisian dan keputusan hakim Eman Sulaeman. Pernyataan yang disampaikan berisi pembenaran adanya perilaku mencurigakan dari Pegi sebagai dalang pembunuhan. Hanya pada berita 3 yang berisi pernyataan dukungan untuk pembebasan Pegi. Sedangkan Liputan 6, pada berita 1 mengambil kutipan sumber dari pihak keluarga Pegi, yaitu Kartini . bu Peg. Pada berita 2 dan 3, menggunakan kutipan sumber dari ahli hukum, seperti hakim, pengacara, polisi, dan anggota Komisis i DPR. Secara keseluruhan. Liputan 6 menyajikan informasi yang menyatakan kekecewaan dan kritik terhadap proses hukum yang dilakukan oleh Polda Jabar maupun pihak yang berkaitan dengan kasus tersebut. Struktur Skrip Struktur skrip adalah struktur yang berkaitan dengan unsur 5W 1H. Unsur ini memiliki fungsi untuk memastikan bahwa berita yang disajikan sudah terstruktur dengan baik dan disampaikan secara detail. Dalam media online Detik. com dan Liputan 6 sama-sama ditemukan kekosongan unsur 5W 1H pada salah satu beritanya. Seperti pada berita 3 Detik. com menghilangkan Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 unsur why yang menjelaskan alasan mengapa Pegi akhirnya dibebaskan. Ditemukan juga pada berita 3 Liputan 6 yang tidak mencantumkan secara jelas unsur where yang berhubungan dengan lokasi pada saat berita itu disampaikan maupun informasi tersebut didapatkan. Struktur Tematik Dalam hal proposisi, kalimat, dan hubungan antar kalimat, kedua media online, yaitu Detik. com dan Liputan 6 ini sudah menunjukkan kualitas yang cukup baik dalam menyajikan berita. Hanya saja penggunaan paragraf dari Detik. com menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan dari jumlah paragraf. Sebab berita 1 dan 2 yang berisi informasi penangkapan Pegi sebagai otak pembunuhan memiliki lebih banyak paragraf, ketimbang berita 3 yang berisi dukungan pembebasan Pegi. Berbeda dengan Liputan 6 yang terkesan lebih seragam antara ketiga beritanya, karena tidak menunjukkan perbedaan jumlah paragraf yang cukup signifikan, sehingga terlihat lebih seimbang. Meski begitu, adanya penggunaan elemen seperti proposisi dan hubungan antar kalimat oleh Detik. com dan Liputan 6, dapat membantu berita yang disajikan menjadi terstruktur dengan baik, efisien dan akurat, memiliki pokok pikiran yang jelas, serta hubungan antar kalimat yang logis. Sehingga, berita tersebut lebih mudah dipahami serta dapat memenuhi kebutuhan pembaca akan berita yang informatif. Struktur Retoris Pada struktur retoris media online Detikcom dan Liputan 6 sama-sama menggunakan foto dan idiom pada beritanya. Dari foto-foto tersebut memiliki fungsi yaitu sebagai penunjang dari informasi yang disampaikan. Foto-foto tersebut juga sebagai penguat isi berita serta untuk menarik perhatian Seperti pada Detik. com yang secara keseluruhan menggunakan foto yang menampilkan wajah Pegi pada saat penangkapan, saat konferensi pers, dan foto bukti-bukti yang digunakan untuk menangkap Pegi. Adapun Liputan 6 dalam penggunaan foto lebih kepada foto yang menampilkan kondisi pada saat berita tersebut disampaikan maupun foto pada saat narasumber diwawancara, seperti foto ibu Pegi, foto pengadilan, dan foto pada saat Pegi Setiawan pulang ke kampung halaman yang disambut haru oleh masyarakat. Sehingga jika dibandingkan. Liputan 6 lebih unggul dalam penyajian foto karena menampilkan realitas berita. Ditemukan juga masing-masing idiom dari kedua media tersebut. Yaitu AuOtak PembunuhanAy dari berita 1 dan 2 Detik. com yang digunakan sebagai ungkapan untuk menyebutkan seseorang yang berperan sebagai pengendali atau perencana suatu kejahatan. Idiom ini digunakan untuk menyebut Pegi sebagai dalang dari aksi pembunuhan Vina. Dan terdapat juga pada berita 3 Liputan 6 dengan idiom AuKambing HitamAy yang digunakan untuk mengambarkan seseorang yang dituduh melakukan kesalahan atas perbuatan yang sebenarnya tidak pernah dia lakukan. Idiom ini digunakan untuk menjelaskan perbuatan Polda Jabar kepada Pegi yang dituduh sebagai tersangka pembunuhan, meski pada kenyataannya Pegi tidak melakukan hal Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Kesimpulan Penelitian ini menganalisis framing yang digunakan oleh media online Detik. com dan Liputan 6 dalam menyajikan berita seputar pemberitaan Pegi Setiawan sebagai tersangka kasus pembunuhan Vina dengan teori Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki . yang meliputi empat perangkat struktural, yaitu struktur sintaksis, struktur skrip, sktruktur tematik, dan struktur retoris. Berita yang dianalisis yaitu sebanyak 6 berita, yang terdiri dari 3 berita oleh Detik. com dan 3 berita oleh Liputan 6 dengan periode pemberitaan pada bulan Mei-Juli 2024. Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan framing yang dilakukan oleh media online Detik. com dan Liputan 6. Dengan isu yang sama, ditemukan bahwa dalam menyajikan berita Detik. tidak memiliki konsistensi dalam memframingkan suatu berita. Sebab pada berita 1 dan 2. Detik. com menunjukkan sikap kontra atas Pegi Setiawan, lalu beralih menjadi pro dengan menunjukkan dukungan atas pembebasan Pegi setelah keluar hasil sidang paraperadilan yang mengatakan bahwa Pegi tidaklah Sedangkan Liputan 6 lebih berfokus membahas terkait proses hukum yang terjadi dalam kasus Pegi Setiawan yang ditetapkan sebagai pelaku pembunuhan Vina. Liputan 6 juga memiliki konsistensi dalam menyajikan berita yang berbau kritik terhadap proses hukum. Jika dilihat dari struktur sintkasis, terdapat perbedaan yang menonjol dari penggunaan headline kedua media tersebut. Detik. com sering kali menggunakan headline yang bersifat sensasional dan dramatis berbeda dengan Liputan 6 yang cenderung bersifat persuasif dan provokatif. Selain itu. Detik. com juga menyajikan berita-berita yang menyoroti reaksi publik terhadap kasus Pegi, seperti tanggapan ketua RT yang melihat gelagat aneh dari sikap Pegi. Sedangkan Liputan 6, lebih menonjolkan tanggapan dari ahli hukum dengan memasukkan beberapa nama, seperti Hakim Eman Sulaeman. Pengacara Pegi Sugiyanti, dan Gilang Dhielafarares sebagai anggota Komisi i DPR RI . Meski Liputan 6 juga mendukung atas pembebasan Pegi, akan tetapi Liputan 6 lebih berfokus menyajikan berita yang berkaitan dengan segala proses hukum yang berjalan pada saat penetapan Pegi sebagai tersangka hingga pembebasan Pegi. Dari struktur skrip, ditemukan kedua media ini sama-sama memiliki kekosongan unsur 5W 1H pada beberapa beritanya. Salah satu contohnya Detik. com yang menghilangkan unsur why pada berita 3 yang menjelaskan alasan dari pembebasan Pegi dan Liputan 6 yang menghilangkan unsur where pada berita 3 yang menjelaskan lokasi atau tempat dari berita tersebut di Lalu dari struktur tematik, terdapat perbedaan yang dilihat dari jumlah paragraf yang dilakukan oleh kedua media. Detik. com cukup bervariasi dalam jumlah paragrafnya. Ditemukan perbedaan jumlah paragraf yang dilakukan oleh Detik. com dalam menyajikan beritanya. Jika dikategorikan, berita yang berisi pernyataan yang menyebutkan Pegi sebagai pelaku lebih banyak dari pada dukungan atas pembebasan Pegi. Sedangkan Liputan 6 ditemukan adanya keseragaman dari masing-masing berita yang disajikan. Dalam hal proposisi. Dini Meidiyanti Putri. Ernanda. Anggi Triandana: Analisis Framing Pada Pemberitaan Pegi Setiawan Sebagai Tersangka Kasus Pembunuhan Vina dalam Media Online Detik. com dan Liputan 6 Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 01. Januari 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 kalimat, dan hubungan antar kalimat, kedua media ini sudah menunjukkan kualitas yang cukup baik dalam menyajikan berita. Terakhir dari struktur retoris, baik media Detik. com maupun Liputan 6 sama-sama menggunakan foto dan gambar pada masing-masing beritannya. Meski pada nyatanya Liputan 6 lebih unggul dalam penyajian foto karena menampilkan realitas berita. Ditemukan juga adanya penggunaan idiom dari media Detik. com dan Liputan 6 sebagai ungkapan yang dapat menjelaskan kondisi tertentu pada informasi sebuah berita. Daftar Pustaka