Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Teknik Budidaya Ikan Lele Menggunakan Akuaponik Dalam GalonA. Humairani et al. Volume 20,Sistem Nomor 1. Juni 2025: Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-10 https://jurnal. univpgri-palembang. id/index. php/ikan TEKNIK BUDIDAYA IKAN LELE MENGGUNAKAN SISTEM AKUAPONIK DALAM GALON (AKUDALON) Catfish Farming Technique Using An Aquaponics System In Gallons (AKUDALON) Humairani1*. Rahma Mulyani2. Sujaka Nugraha2. Lia Perwita Sari2 Sosial Ekonomi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Kelautan. Universitas PGRI Palembang Budi Daya Ikan. Fakultas Perikanan dan Kelautan. Universitas PGRI Palembang *Corresponding author: humairaniyahdien@gmail. ABSTRAK Budidaya ikan lele menggunakan akuaponik dalam galon . ini mengadaptasi teknik budidaya akuaponik yaitu budidaya sayuran menggunakan air. Akudalon ini dapat memanfaatkan galon bekas sekali pakai dan dapat dilakukan di lahan yang sempit dengan menggunakan air yang tidak terlalu banyak. Akudalon ini dapat menjadi solusi potensial bagi masyarakat untuk mencukupi kebutuhan gizi dengan cara membudidayakan ikan lele di dalam galon sekaligus budidaya sayur. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui teknik budidaya ikan lele menggunakan sistem akudalon. Penelitian teknik budidaya ikan lele menggunakan sistem akudalon ini dilaksanakan selama 2 bulan dengan menggunakan benih ikan lele yang berukuran 6-7 cm. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu akudalon ikan lele (Kontro. , akudalon ikan lele menggunakan sayur kangkung (P. , akudalon ikan lele menggunakan sayur bayam Brazil (P. , dan akudalon ikan lele menggunakan sayur bayam (P. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah tingkat kelangsungan hidup (TKH), laju pertumbuhan spesifik (LPS), dan kualitas air. Teknik budidaya ikan lele menggunakan akudalon dengan menggunakan sayuran kangkung memiliki hasil terbaik yaitu TKH tertinggi sebesar 95,56%. LPS sebesar 3,74% bobot tubuh/hari dan pemanenan sayuran kangkung dapat dilakukan setiap 28 hari. Kata Kunci: Ikan Lele. Akudalon. Akuaponik. Kelangsungan Hidup. Pertumbuhan ABSTRACT The cultivation of catfish using aquaponics in a gallon . adapts the aquaponics cultivation technique, which involves growing vegetables using water. This akudalon can utilize single-use empty gallons and can be done in narrow spaces with minimal water usage. The akudalon can become a potential solution for communities to meet nutritional needs by cultivating catfish in a gallon while also growing vegetables. Therefore, the researchers are interested in understanding the technique of cultivating catfish using the akudalon system. This research on catfish cultivation techniques using the aquaponics system was conducted for 2 months using catfish seeds measuring 6-7 cm. The method used is a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 repetitions, namely aquaponics for catfish (Contro. , aquaponics for catfish using water spinach (P. , aquaponics for catfish using Brazilian spinach (P. , and aquaponics for catfish using spinach (P. The parameters observed in this study were survival rate (SR), specific growth rate (SGR), and water quality. The catfish cultivation technique using aquaponics with e-ISSN 2620-4622 p-ISSN 1693-6442 Teknik Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem Akuaponik Dalam GalonA. Humairani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-10 water spinach showed the best results, with the highest SR of 95. SGR of 3. 74% body weight/day, and harvesting of water spinach can be done every 28 days. Keywords: Catfish. Akudalon. Aquaponics. Survival. Growth PENDAHULUAN Produksi budidaya ikan air tawar setiap tahun semakin meningkat. Ikan lele merupakan ikan air tawar yang banyak Produksi ikan lele (Clarias sp. ) pada tahun 2012 sebesar 226,73 ton/tahun dan meningkat di tahun 2022 menjadi 1. 625,11 ton/tahun (KKP, 2. Ikan lele merupakan ikan air tawar yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, karena memiliki harga yang ekonomis dan nilai gizi cukup tinggi, serta mudah dibudidayakan (Sari, et al. , 2. Seiring dengan bertambahnya penduduk, maka ketersediaan lahan dan air untuk budidaya juga semakin terbatas. Pertumbuhan penduduk yang cepat, disertai dengan perluasan aktivitas industri, pertanian, dan pemukiman, telah menyebabkan alih fungsi lahan budidaya. Akibatnya, ketersediaan lahan untuk kegiatan budidaya terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, diperlukan suatu inovasi yang dapat memproduksi ikan di lahan yang Salah satu bentuk inovasi teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam pemeliharaan ikan dan tanaman melalui sistem akuaponik di dalam suatu wadah tertentu (Haidiputri & Elmas, 2. Pada dasarnya, teknik akuaponik bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan serta memanfaatkan unsur hara yang berasal dari sisa pakan dan hasil metabolisme ikan. Sistem ini dikenal sebagai metode budidaya yang ramah (Setijaningsih & Umar, 2. Penelitian pengembangan dari metode budidaya ikan dalam ember . Namun, dalam penelitian ini media yang digunakan bukan ember, melainkan galon Oleh karena itu, sistem ini disebut . Pemilihan galon bekas didasarkan pada ketersediaannya yang Proses akudalon pada dasarnya serupa dengan budikdamber, dengan perbedaan utama terletak pada jenis wadah yang digunakan, sehingga dapat menjadi alternatif yang lebih ekonomis (Suproborini et al. , 2. Budidaya ikan dalam wadah galon merupakan metode yang praktis karena tidak membutuhkan lahan yang luas maupun biaya yang besar, sehingga sangat cocok diterapkan di area rumah dengan ruang terbatas. Metode akudalon ini merupakan adaptasi dari teknik akuaponik, yaitu sistem budidaya yang mengombinasikan pemeliharaan ikan menggunakan media tanam selain tanah. Inovasi ini menawarkan alternatif yang efisien untuk budidaya ikan di lahan sempit, dengan konsumsi air yang lebih hemat serta pelaksanaan yang mudah bagi masyarakat di lingkungan rumah mereka, bahkan dengan modal yang relatif kecil. Selain mendukung ketersediaan pangan, sistem ini juga berpotensi membantu pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai teknik budidaya ikan lele dengan sistem akuaponik dalam galon atau akudalon. METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian ini dimulai pada bulan Juli hingga Desember 2024. Penelitian ini dilakukan di Workshop Pembenihan Teknik Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem Akuaponik Dalam GalonA. Humairani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-10 Ikan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas PGRI Palembang. Bahan dan Alat Bahan yang digunakaan dalam penelitian ini yaitu ikan lele berukuran 67 cm, pakan, bibit sayuran, sumbu dan Sedangkan digunakan meliputi galon 15 liter, netpot, bor listrik, serokan, alat uji kualitas air, timbangan, penggaris dan alat tulis. Prosedur Kerja Budidaya Ikan Lele Menggunakan Akuaponik dalam Galon (Akudalo. Budidaya ikan lele dilakukan di dalam galon dengan ukuran 15 liter. Sebelum digunakan, bagian atas galon dilubangi terlebih dahulu menggunakan bor untuk meletakkan netpot yang akan digunakan untuk media tanaman sayur. Selanjutnya galon dicuci terlebih dahulu lalu dikeringkan dan diisi air. Kemudian dilakukan penebaran benih ikan lele ukuran 6-7 cm sebanyak 15 ekor/galon. Setelah itu netpot yang telah diberikan sumbu dimasukkan rockwool yang sudah diisi bibit tanaman sayur. Tanaman sayur yang digunakan yaitu kangkung, bayam Brazil dan bayam. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu: Budidaya ikan lele dalam galon . Akudalon ikan lele menggunakan sayur kangkung (P. Akudalon ikan lele menggunakan sayur bayam Brazil (P. Akudalon ikan lele menggunakan sayur bayam (P. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah jumlah ikan yang mati, bobot ikan, dan data kualitas air (Suhu, pH. Oksigen terlarut, dan TDS). Data yang diambil tersebut akan digunakan untuk menghitung tingkat kelangsungan hidup ikan (TKH), laju pertumbuhan spesifik (LPH) dan kualitas air. Pemeliharaan Ikan Lele Menggunakan Akuaponik dalam Galon (Akudalo. Ikan lele dengan panjang 6-7 cm dipelihara di dalam galon yang berukuran 15 L dengan kepadatan 15 ekor/galon. Ikan lele diberi makan 2 kali/hari . agi dan sor. secara at satiation. Sampling dilakukan setiap 2 minggu. Sampling yang dilakukan adalah menghitung jumlah ikan hidup, pengukuran bobot ikan dan pengukuran parameter kualitas air. Parameter Pengamatan Tingkat Kelangsungan Hidup (TKH) Tingkat kelangsungan hidup (TKH) adalah perbandingan jumlah ikan pada akhir pemeliharaan dihitung (N. dan jumlah ikan pada awal tebar dicatat. Perhitungan TKH digunakan rumus dari Huisman . TKH = Keterangan: TKH : Tingkat kelangsungan hidup (%) : Jumlah ikan akhir . : Jumlah ikan awal . Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) Tingkat pertumbuhan spesifik adalah pertumbuhan harian persentase dan dihitung menggunakan rumus oleh Zenneveld et al. , . LPS = InWt Oe InW 0 Keterangan: LPS = Laju pertumbuhan spesifik = Pertumbuhan akhir rata-rata . = Rata-rata pertumbuhan awal . = Masa pemeliharaan . Teknik Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem Akuaponik Dalam GalonA. Humairani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-10 Kualitas Air Kualitas air diukur setiap 2 Parameter yang diamati yaitu suhu, pH, oksigen terlarut dalam air, dan TDS (Total Dissolved Soli. Pengukuran suhu menggunakan termometer air raksa (H. dengan satuan AC. Nilai pH diukur dengan pH-meter. Oksigen terlarut dapat diukur dengan menggunakan DO-meter. Kadar nutrisi yang terdapat di dalam air dapat diukur menggunakan Sensor TDS. Analisis Data Data pengukuran parameter yang berasal dari penelitian selanjutnya Microsoft Excel 2021 dan dianalisis statistik menggunakan IBM SPSS 25, analisis yang dilakukan adalah analisis ANOVA kepercayaan 95%. Apabila ditemukan perlakuan, maka akan dilanjutkan dengan uji pembeda menggunakan metode Duncan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Kelangsungan Hidup (TKH) Ikan Lele dengan Akudalon TKH teknik budidaya ikan lele menggunakan akuaponik dalam galon . dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Tingkat Kelangsungan Hidup (%) Budidaya Ikan Lele dengan Akuaponik Perlakuan Sampling Ke-1 Kontrol 100 A 0 a TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP (%) Sampling Sampling Sampling Ke-2 Ke-3 Ke-4 95,56 A 3,85 86,67 A 0 86,67 A 0a Sampling Ke-5 86,67 A 0 a 100 A 0 a 97,78 A 3,85a 95,56 A 3,85b 95,56 A 3,85b 95,56 A 3,85b 100 A 0 a 95,56 A 3,85a 95,56 A 3,85b 93,33 A 0b 93,33 A 0b 100 A 0 a 93,33 A 0 a 91,11 A 3,85ab 91,11 A 3,85ab 91,11 A 3,85 ab Keterangan: Perlakukan yang berbeda nyata ( P<0,. ditampilkan dengan huruf superscript. Pada sampling ke-1 atau hari pertama pemeliharaan semua ikan dalam keadaan hidup. Pengamatan pada sampling ke-2 . ari ke-. mulai terjadi Perlakuan dengan tanaman kangkung menunjukkan tingkat kelangsungan hidup (TKH) tertinggi, yakni sebesar 95,56%, sementara TKH terendah ditemukan pada perlakuan bayam dengan nilai 93,33%. Berdasarkan hasil pengamatan pada pengambilan sampel kedua, seluruh perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (P>0,. Namun, pada pengambilan sampel ketiga hingga kelima, perbedaan antar perlakuan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap TKH (P<0,. Nilai TKH tertinggi tercatat pada perlakuan P1 . sebesar 95,56%, sedangkan nilai terendah diperoleh pada perlakuan kontrol dengan TKH sebesar 86,67% (Gambar . Teknik Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem Akuaponik Dalam GalonA. Humairani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-10 Tingkat Kelangsungan Hidup (TKH) a a a a a a a a TKH (%) Sampling keKontrol Kangkung Bayam Brazil Bayam Gambar 1. Tingkat kelangsungan hidup (%) budidaya ikan lele dengan akualaon. Perlakukan yang berbeda nyata ( P<0,. ditampilkan dengan huruf superscript. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik budidaya ikan lele dengan sistem akuaponik dalam galon . memberikan pengaruh yang signifikan (P<0,. terhadap tingkat kelangsungan hidup (TKH) ikan. Perlakuan P1 . anaman kangkun. mencatatkan TKH tertinggi sebesar 95,56%, sedangkan TKH terendah ditemukan pada perlakuan kontrol, yaitu sebesar 86,67%. Secara keseluruhan, tingkat kelangsungan hidup ikan lele selama masa pemeliharaan tergolong baik karena berada di atas 80%, sesuai dengan standar SNI 016484. 5:2002 (BSN, 2. Berdasarkan hasil pengamatan, kematian ikan mulai terjadi pada pengambilan sampel kedua . ari ke-14 masa pemeliharaa. Kondisi ini diduga disebabkan oleh rendahnya konsentrasi oksigen terlarut pada perlakuan kontrol . ,5Ae3,9 mg/L OCC) dan perlakuan bayam . ,9Ae4,1 mg/L OCC). Menurut Boyd . , meskipun ikan masih dapat bertahan hidup pada kadar oksigen terlarut antara 1,5 hingga 5,0 mg/L OCC, namun pertumbuhannya cenderung terhambat dan lebih rentan terhadap serangan Penambahan tanaman sayuran dalam sistem budidaya ikan lele galon . turut memengaruhi tingkat kelangsungan hidup. Tanaman berperan menghasilkan oksigen dan menyerap meningkatkan kadar oksigen terlarut pada siang hari. Namun, pada malam hari, saat fotosintesis berhenti dan respirasi tetap berlangsung, kadar oksigen terlarut cenderung menurun (Yusanti, 2. Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) Budidaya Ikan Lele dengan Akudalon LPS menggunakan akudalon selama 56 hari dapat dilihat pada Tabel 2. Teknik Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem Akuaponik Dalam GalonA. Humairani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-10 Tabel 2. Laju Pertumbuhan Spesifik (%) Budidaya Ikan Lele dengan Akudalon Perlakuan LPS (%) Kontrol 3,29 A 0,17a P1 (Kangkun. 3,74 A 0,10b P2 (Bayam Brazi. 3,50 A 0,03a P3 (Baya. 3,46 A 0,14a Keterangan: Perlakukan yang berbeda nyata ( P<0,. ditampilkan dengan huruf superscript. Berdasarkan hasil analisis statistik, laju pertumbuhan spesifik (LPS) pada perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan perlakuan kontrol, bayam Brazil, dan bayam (P<0,. Nilai LPS tertinggi dicapai oleh perlakuan P1 . , yaitu sebesar 3,74% bobot tubuh per hari. Selanjutnya, secara berurutan, nilai LPS pada perlakuan P2 . ayam Brazi. P3 . , dan kontrol masing-masing sebesar 3,50%, 3,46%, dan 3,29% bobot tubuh per hari (Gambar . 3,74 3,50 3,46 Bayam Brazil Bayam 3,29 LPS (%) Kontrol Kangkung Perlakuan Gambar 2. Laju pertumbuhan spesifik (%) budidaya ikan lele dengan akuaponik. Keterangan: Perlakukan yang berbeda nyata ( P<0,. ditampilkan dengan huruf superscript. Laju pertumbuhan spesifik (LPS) tertinggi diperoleh pada perlakuan P1 . sebesar 3,74% bobot tubuh per hari, diikuti oleh P2 . ayam Brazi. sebesar 3,50%. P3 . sebesar 3,46%, dan perlakuan kontrol sebesar 3,29% bobot tubuh per hari. Secara menunjukkan perbedaan yang signifikan (P<0,. dibandingkan perlakuan lainnya. Perbedaan ini erat kaitannya dengan kualitas air media budidaya, yang kelangsungan hidup ikan. Kehadiran senyawa organik hasil sisa pakan dan metabolisme ikan yang dapat mencemari air dan menurunkan kualitas lingkungan budidaya (Azhari dan Tomasoa, 2. Disamping keseimbangan nutrisi pakan yang diberikan selama pemeliharaan ikan juga mempengaruhi tingkat kecernaan dan laju pertumbuhan ikan (Mulyani et al. Mulyani & haris, 2. Kualitas Air Budidaya Ikan Lele dengan Akuladon Kualitas air budidaya ikan lele menggunakan akuaponik dalam galon . dapat dapat dilihat pada Tabel Teknik Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem Akuaponik Dalam GalonA. Humairani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-10 Tabel 3. Nilai Kisaran Kualitas Air Budidaya Ikan Lele dengan Akuladon Parameter Sampling . g/L) Suhu . C) TDS g/L) Kontrol 6,3-6,4 3,5-3,9 3,6-4,2 4,1-4,4 4,7-4,8 7,02-7,11 6,90-7,03 7,03-7,07 6,51-6,56 6,68-6,78 28,7-28,8 28,3-28,4 Perlakuan (Bayam (Kangkun. Brazi. 6,5-6,9 6,3-6,5 4,4-5 4,2-5,1 4,6-4,8 4,0-4,1 4,8-5,0 5,1-5,7 5,1-5,3 4,9-5,4 7,05-7,09 7,09-7,13 7,00-7,03 6,74-6,90 7,03-7,23 6,84-6,91 6,59-6,65 6,56-6,69 6,66-6,69 6,71-6,74 28,7-28,8 28,7-28,8 28,6-28,7 28,5-28,6 Parameter kualitas air yang diamati selama penelitian meliputi oksigen terlarut (DO), pH, suhu, dan total zat terlarut (TDS). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa nilai pH dan suhu berada dalam kisaran optimal untuk mendukung aktivitas pemeliharaan ikan Oksigen terlarut pada perlakuan kontrol sampling ke-2 dan ke-3, serta perlakuan P3 . pada sampling ke2 berada di bawah oksigen optimum. Sedangkan parameter TDS pada hari pertama sampai hari ke-28 . ampling ke. di bawah batas standar TDS. Ketersediaan oksigen terlarut sangat penting bagi proses respirasi ikan dan tanaman. Jika konsentrasi oksigen berada di bawah kebutuhan minimum, maka proses pertumbuhan akan terganggu karena penyerapan nutrisi menjadi tidak optimal (Farida et al. , 2. Berdasarkan SNI 01-6484. 5:2002, nilai optimum oksigen terlarut untuk budidaya ikan lele adalah Ou4 mg/L OCC. Namun, pada (Baya. 6,4-6,7 3,9-4,1 4,1-4,3 5,3-5,4 5,4-5,5 7,05-7,08 6,67-6,81 6,77-6,96 6,53-6,61 6,68-6,71 28,7-28,8 Referensi (SNI 016484. 5:2. 6,5-8,5 (SNI 016484. 5:2. (SNI 016484. 5:2. (Farida et , 2. perlakuan kontrol . ampling ke-2 dan ke. dan P3 . ayam, sampling ke-. , nilai oksigen terlarut berada di bawah ambang batas tersebut. Rendahnya kadar oksigen dalam sistem akuaponik galon ini disebabkan oleh tidak adanya bantuan aerasi eksternal. Peningkatan kadar oksigen hanya terjadi melalui penggantian air, proses fotosintesis tanaman di siang hari, dan difusi oksigen dari udara saat ikan naik ke permukaan. Selain merupakan parameter penting dalam kualitas air karena banyak reaksi kimia di perairan yang dipengaruhi oleh nilai pH. Menurut SNI 01-6484. 5:2002, pH optimal untuk budidaya lele adalah antara 6,5Ae8,5. Selama pemeliharaan, pH cenderung menurun dari nilai netral menuju ke arah asam (<. Penurunan ini diduga akibat akumulasi sisa pakan, feses, respirasi alga, serta konsumsi COCC oleh tanaman dan ikan (Farida et al. , 2. Teknik Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem Akuaponik Dalam GalonA. Humairani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-10 Padatan terlarut (TDS) merupakan gabungan senyawa organik dan anorganik yang larut dalam air. Kadar TDS yang tinggi menunjukkan potensi pencemaran dan dapat menghambat pertumbuhan ikan, bahkan menyebabkan kematian (Nasuki et al. , 2. Namun, dalam sistem akuaponik galon, tanaman mampu memanfaatkan TDS sebagai sumber Hasil tanaman kangkung (P. telah dapat dipanen pada hari ke-28 . ampling ke-. , sedangkan bayam Brazil (P. baru dapat dipanen pada hari ke-56 . ampling ke-. Sementara itu, bayam biasa (P. tidak menunjukkan pertumbuhan yang optimal dan belum layak panen hingga akhir masa Panen Sayuran Pada penelitian budidaya ikan lele menggunakan sistem akuaponik dalam galon . menggunakan beberapa jenis sayuran yaitu kangkung, bayam Brazil dan bayam (Gambar . Panen sayuran pertama adalah pada perlakuan P1. pada sampling ke-3 atau hari ke-28. Setelah sayuran kangkung dipanen, maka dilakukan penanaman kembali dengan bibit yang baru, sehingga P1. dapat dipanen kembali. Pada perlakuan P2 . ayam Brazi. dapat dipanen pada minggu ke-5. Sedangkan P3. pemanenan sayur bayam (Gambar . Gambar 3. Penebaran benih lele dan penanaman sayur kangkung, bayam Brazil dan bayam pada budidaya ikan lele dalam galon Gambar 4. Pemeliharaan lele dan sayur kangkung, bayam Brazil dan bayam pada budidaya ikan lele dalam galon KESIMPULAN Teknik budidaya ikan lele menggunakan akuaponik dalam galon dengan menggunakan sayuran kangkung memiliki hasil terbaik, ditandai dengan tingkat kelangsungan hidup 95,56%, pertumbuhan spesifik sebesar 3,74% Teknik Budidaya Ikan Lele Menggunakan Sistem Akuaponik Dalam GalonA. Humairani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-10 bobot tubuh per hari, serta waktu panen kangkung yang relatif singkat, yaitu setiap 28 hari. Dengan demikian, sistem akudalon berbasis kangkung berpotensi menjadi solusi alternatif budidaya perikanan di lahan terbatas, dengan efisiensi penggunaan air, kemudahan penerapan di tingkat rumah tangga, serta kebutuhan modal yang relatif rendah. Selain itu, sistem ini juga mendukung pemenuhan gizi keluarga secara mandiri dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA