Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 PERSEPSI PETANI JAGUNG TERHADAP EFEKTIVITAS METODE PENYULUHAN PERTANIAN DI DESA MODELIDU Corn Farmers' Perceptions on the Effectiveness of Agricultural Extension Methods in Modelidu Village Syamsir. Zainal Abidin. Isran Jafar. Muh Iqbal Jafar. Fakultas Pertanian. Universitas Ichsan Gorontalo *e-mail: ancyagri@gmail. Received : 20 Juli 2024: Accepted : 20 Desember 2024 ABSTRAK Penyuluhan pertanian menjadi salah satu faktor utama dalam berhasilnya sektor pertanian, penyuluh pertanian memegang peranan penting dalam proses penyaluran informasi dan pengetahuan kepada petani termasuk peningkatan keterampilan Penyuluh pertanian dapat berasal dari lembaga pemerintah maupun swasta dengan satu tujuan bersama berupa mensejahterahkan petani dan keluarganya. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis persepsi petani terhadap 4 metode penyuluhan pertanian yang dilaksanakan di Desa Modelidu Kabupaten Gorontalo, yaitu metode temu lapang, temu wicara, demonstrasi dan metode ceramah. Metode pengambilan data menggunakan metode observasi dan wawancara terstruktur menggunakan panduan wawancara. Data primer didapatkan dari petani jagung yang ada di Desa Modelidu, sedangkan data sekunder didapatkan dari kantor desa. Badan Pusat Statistik dan artikel penelitian yang relevan dengan topik Metode analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif, berupa tabulasi hasil jawaban responden penelitian yang disajikan lewat tabel dan grafik kemudian diikuti dengan ulasan deskriptif. Data dianalisis menggunakan skala likert dengan skala lima . angat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju, sangat tidak setuj. persepsi petani terhadap metode penyuluhan temu lapang mendapatkan skor tertinggi dengan rata Ae rata skor 191,67, hal ini membuktikan bahwa petani jagung di Desa Modelidu menganggap metode temu lapang efektif dilaksanakan dalam kegiatan penyuluhan meskipun metode ini merupakan metode konvensional, metode temu wicara tidak terlalu mendapatkan atensi yang besar dari masyarakat dengan sistem pertanian yang masih konvensional dengan skor rata Ae rata persepsi petani sebesar 182. Kata kunci: Penyuluhan Pertanian. Metode Penyuluhan. Petani Jagung ABSTRACT Agricultural extension is one of the main factors in the success of the agricultural sector, agricultural extension workers play an important role in the process of distributing information and knowledge to farmers, including increasing farmer skills. Agricultural instructors can come from government or private institutions with a common goal of improving the welfare of farmers and their families. The aim of this research is to accommodate farmers' perceptions of the 4 agricultural extension methods implemented in Modelidu Village. Gorontalo Regency, namely the field meeting method, talk meeting, demonstration and lecture method. The data collection method uses observation and structured interviews using an interview guide. Primary data was obtained from corn farmers in Modelidu Village, while secondary data was obtained from the village office. Central Statistics Agency and research articles relevant to the research topic. The data analysis method uses a quantitative approach, in the form of tabulation of the results of research respondents' answers which are presented via tables and graphs followed by a descriptive review. Data were analyzed using a Likert scale with four scales . trongly agree, agree, disagree, disagree, strongly disagree. Farmers' perceptions of the field meeting extension method got the highest score with an average score of 191. 67, this proves that corn farmers in Modelidu Village considers the field meeting method to be effective in implementing extension activities even Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 though this method is a conventional method, the field meeting method does not get much attention from the community with a conventional agricultural system with an average farmer perception score of 182. Keywords: Agricultural Extension. Extension Method. Corn Farmer PENDAHULUAN Program penyuluhan pertanian bertujuan pengetahuan petani melalui diseminasi teknologi yang berfokus pada perbaikan tanaman, pengembangan sumber daya manusia dan kolaborasi (Fatty et al. , 2. Penyuluhan pertanian menjadi salah satu faktor utama dalam berhasilnya sektor pertanian, terutama dari sistem budidaya yang dilakukan oleh Penyuluh pertanian dapat memberikan intervensi kepada petani berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan (Anwarudin et al. Petani merupakan individu yang mempunyai pola pikir dan mengumpulkan pengalaman dari kegiatan yang dijalaninya. Kemandirian petani, peningkatan kapasitas adaptasi, pemberdayaan dan kesejahteraan petani dapat dicapai melalui pemberdayaan yang dilakukan oleh penyuluh pertanian. Bimbingan yang diberikan oleh penyuluh dapat mengantarkan petani memperoleh pengalaman baru dan kemampuan adaptasi (Astari et al. , 2. Penyuluh pertanian dapat berasal dari lembaga pemerintah maupun swasta dengan satu tujuan Bersama berupa mensejahterahkan petani dan keluarganya. Menurut (Khairunnisa et al. Penyuluhan pertanian secara manajerial dan teknis dilaksanakan oleh seorang penyuluh dengan tugas dan tanggungjwab yaitu layanan pendidikan dan informasi yang petani, sehingga petani dapat berusahatani dengan lebih baik. Sama halnya dengan proses pendidikan, penyuluhan pertanian yang merupakan proses mendidik petani memerlukan proses transfer penggunaan metode yang tepat oleh penyuluh pertanian akan sangat menentukan proses tersebut. Sesuai dengan pendapat (Imran et al. , 2. bahwa metode penyuluhan yang diterapkan oleh penyuluh menentukan kegiatan tersebut terlaksana dengan baik atau tidak, kemampuan penerapan metode yang tepat mempercepat tingkat adopsi petani. Juga dikonfirmasi oleh (Purnomo et al. , 2. yang menyatakan bahwa petani yang merupakan kelompok sosial membutuhkan metode penyuluhan yang berbeda Ae beda pada setiap kelompok atau Kepentingan yang berbeda membutuhkan metode penyuluhan yang berbeda (Tamsah & Yusriadi, 2. Pada kegiatan penyuluhan pertanian, salah satu faktor penentu berhasilnya penyuluh menyampaikan suatu inovasi ke petani yaitu dengan menggunakan komunikasi yang efektif (Maulida & Aulia, 2. Hal tersebut penyuluhan yang tepat dan sesuai adalah suatu keniscayaan bagi pelaksana tugas lapangan, yaitu penyuluh pertanian. Efektivitas metode penyuluhan pertanian dapat dilihat dari perubahan peilaku petani ke arah yang lebih baik, serta bertambahnya pengetahuan dan keterampilan petani (Yohan et al. , 2. Dalam berkembangnya teknologi dikenal model Cyber Extention, model penyuluhan ini memanfaatkan media teknologi sebagai media penyuluhan, namun demikian menurut penelitian (Fangohoi & Sugiyanto, 2. bahwa Cyber Extention tetap memerlukan pendampingan dan monerv berkala oleh penyuluh pertanian agar lebih efektif. (Norton & Alwang, 2. juga mengemukakan bahwa dalam 4 dekade terakhir penyuluhan pertanian telah berubah secara signifikan disebabkan oleh berbagai faktor seperti teknologi, struktur sosial termasuk upaya desentralisasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sekalipun model penyuluhan menggunakan teknologi sebagai media penyampai informasi, peran seorang penyuluh masih tetap dibutuhkan dan berbagai jenis metode yang Dalam peraturan Menteri (Kementan RI, 2. dijelaskan beberapa metode penyuluhan yang dapat digunakan, seperti temu lapang, temu wicara, demonstrasi dan ceramah, selain itu juga terdapat beberapa metode yang dapat dipilih Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 dengan disesuaikan kondisi petani sasaran atau Berdasarkan uraian dan persesuaian dengan beberapa penelitian sebelumnya, peneliti penyuluhan penting untuk dilaksanakan, hal ini terkonfirmasi berdasarkan literatur yang ada bahwa penyuluhan pada setiap daerah atau kelompok masyarakat yang berbeda membutuhkan metode penyuluhan yang berbeda pula. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Modelidu Kabupaten Gorontalo pertimbangan bahwa desa tersebut merupakan salah satu sentra produksi jagung, di samping itu desa ini cukup terkendala dari segi akses teknologi . ignal interne. sehingga dalam pelaksanaan memungkinkan untuk menggunakan media internet dan dituntut untuk bertemu langsung dengan petani METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Desa Modelidu. Kecamatan Telaga. Kabupaten Gorontalo. Responden penelitian adalah petani jagung yang ada di Desa Modelidu, penarikan sampel menggunakan sampling jenuh sejumlah 52 petani. Metode pengambilan data menggunakan metode observasi dan wawancara terstruktur menggunakan panduan wawancara. Data primer didapatkan dari petani jagung yang ada di Desa Modelidu, sedangkan data sekunder didapatkan dari kantor desa. Badan Pusat Statistik dan artikel penelitian yang relevan dengan topik penelitian. Metode pendekatan kuantitatif, berupa tabulasi hasil jawaban responden penelitian yang disajikan lewat tabel dan grafik kemudian diikuti dengan ulasan Data dianalisis menggunakan skala likert dengan skala lima . angat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju, sangat tidak setuj. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Adapun karakteristik responden dalam penelitian berupa Pendidikan, usia, status kepemilikan lahan dan jenis kelamin. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Pendidikan Responden Pendidikan yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu Pendidikan formal yang diperoleh petani (SD. SMP. SMA. Pendidikan Tingg. Secara umum tingginya Pendidikan seseorang akan memperbaiki cara pengambilan keputusan dan metode kerja seseorang. Seperti yang disampaikan oleh (Gusti et al. , 2. bahwa petani dengan tingkat Pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pemikiran yang terbuka dalam menyerap inovasi dan mengerti dengan penerapan Distribusi Pendidikan responden disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Distribusi Pendidikan Responden Pendidikan tidak bersekolah SMP SMA Sarjana Jumlah Persentase 34,62 57,69 5,77 0,00 1,92 100,00 Sumber: Data Primer 2024 Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa dari 52 Orang petani hanya 1 petani dengan Pendidikan level perguruan tinggi dan Pendidikan terbanyak dari responden yaitu tamat sekolah dasar (SD) sebanyak 30 petani atau 57,69%. Usia Responden Usia menggambarkan pengalaman yang telah diperoleh, usia menggambarkan kematangan berpikir dari lamanya hdup yang dijalani. Berikut distribusi usia petani responden di Desa Modelidu (Tabel . Tabel 2. Distribusi Usia Petani Responden Usia Jumlah Responden Persentase 20 - 30 31 - 40 41 - 50 51 - 60 61 - 70 71 - 80 81 - 90 Jumlah Sumber: Data Primer 2024 Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. 15,38 25,00 23,08 21,15 7,69 3,85 3,85 100,00 Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 Tabel 2 menunjukkan bahwa distribusi umur terbanyak pada responden berada pada usia 31 Ae 40 Tahun dengan jumlah 13 Orang petani, ini menggambarkan bahwa petani responden relevan untuk memberikan tanggapan mengenai metode penyuluhan yang efektif untuk dilaksanakan oleh penyuluh pertanian. (Yuniarsih et al. , 2. Mengemukakan bahwa bertambahnya usia bertambahnya pengetahuan seseorang. Jenis Kelamin Distribusi jenis kelamin petani responden di Desa Modelidu disajikan pada Tabel 3 berikut: Tabel 3. Distribusi Jenis Kelamin Responden Jenis Kelamin Jumlah Responden Persentase Laki - Laki 92,31 Perempuan 7,69 Jumlah 100,00 Sumber: Data Primer 2024 Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa sebagian besar jenis kelamin responden didominasi p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 oleh laki Ae laki sebanyak 48 Orang petani. (Permatasari & Rondhi, 2. Menyampaikan bahwa laki Ae laki mengambil keptusan berdasarkan logika dan rasionalitas. Sehingga distribusi jenis kelamin responden mendukung tujuan penelitian yaitu persepsi petani terhadap metode penyuluhan yang efektif untuk diterapkan oleh penyuluh Persepsi Petani Jagung Terhadap Metode Penyuluhan Pertanian Menurut (Pramono et al. , 2. persepsi Penelitian memberikan sarana bagi petani jagung untuk memberikan tanggapan mengenai kegiatan penyuluhan pertanian yang dilaksanakan oleh penyuluh pertanian di Desa Modelidu. Terdapat empat metode penyuluhan pertanian yang dinilai oleh petani responden, yaitu metode temu lapang, temu wicara, demonstrasi dan Berikut hasil persepsi petani responden terhadap empat metode penyuluhan disampaikan pada Tabel 4. Tabel 4. Persepsi Petani Responden Terhadap Metode Penyuluhan Pertanian Metode Penyuluhan 1 Temu lapang Penyuluh pertanian mengunjungi lahan pertanian penyuluhan pertanian dilaksanakan pada lahan pertanian saya lebih tertarik mengikuti penyuluhan pada lahan pertanian Rata - rata 2 Temu Wicara penyuluh pertanian mengunjungi petani secara individu diskusi dengan petani secara lepas dan tidak teratruktur saya punya waktu untuk ikut dalam kegiatan penyuluhan terstruktur Rata - rata 3 Demonstrasi kegiatan penyuluhan dilakukan dengan demonstrasi langsung dan terstruktur metode demonstrasi lebih efektif metode demonstrasi lebih muda dimengerti Rata - rata 4 Ceramah penyuluh menyampaikan materi kepada petani dalam ruangan dan menurut saya metode ceramah lebih efektif penyuluh menyampaikan materi terlebih dahulu kemudian petani bertanya Rata - rata Data Primer, 2024 Skor Persentase 191,67 91,82 92,78 91,82 91,34 87,01 84,13 184,33 89,42 88,94 93,75 183,33 85,57 83,65 Diterbitkan Oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa http://ejournal. polbangtan-gowa. Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 20 Nomor 2. Desember 2024 Metode Penyuluhan dilaksanakan oleh penyuluh pertanian yang umumnya dilakukan dengan mengunjungi lahan Ae lahan pertanian petani. Menurut (Putri et al. , 2. temu lapang adalah metode penyuluhan dengan melakukan kegiatan penyuluhan pertanian dekat dengan kegiatan petani serta dilaksanakan pada tempat terbuka. Berdasarkan Tabel 4 terlihat persepsi petani terhadap metode penyuluhan temu lapang mendapatkan skor tertinggi dengan rata Ae rata skor 191,67, hal ini membuktikan bahwa petani jagung di Desa Modelidu menganggap metode temu lapang efektif dilaksanakan dalam kegiatan penyuluhan meskipun metode ini merupakan metode konvensional. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian (Akrab & Somba, 2. bahwa sistem kunjungan lapangan oleh penyuluh pertanian kepada petani masih relevan di banyak daerah untuk mengubah perilaku petani. Metode mendapatkan skor terendah dibanding dengan metode yang lain. Metode ini menggunakan konsep kunjungan individu kepada petani yaitu tidak menggunakan ruangan sebagai tempat pelaksanaan penyuluhan, dengan karakteristik petani yang ada di Desa Modelidu metode temu wicara tidak terlalu mendapatkan atensi yang besar dari masyarakat dengan sistem pertanian yang masih konvensional dengan skor rata Ae rata persepsi petani sebesar 182. Sajian grafik skor penilaian petani terhadap 4 metode penyuluhan pertanian disajikan pada Gambar 1. Persepsi petani terhadap metode penyuluhan p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 Metode temu lapang penyuluhan pertanian berkaitan dengan pelayanan yang diberikan oleh penyuluh kepada petani, sehingga selain petani menganggap metode tersebut efektif, petani juga menganggap diberikan pelayanan yang lebih baik jika dikunjungi. Hasil penelitian (Effendi et al. , 2. mengemukakan bahwa relevansi indikator empati masuk dalam kategori memuaskan karena penyuluh harus mampu menempatkan diri sebagai bagian dari kehidupan petani dengan memahami semua masalah yang mereka hadapi dan memberikan solusi terbaik untuk membantu petani mengatasi berbagai masalah, baik yang terkait dengan usahatani maupun sosial. Hal ini dicapai dengan melakukan kunjungan langsung ke lapangan dan memberikan materi penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan petani. Hal ini juga sejalan dengan penelitian (Hernanda et al. , 2. yang menyatakan bahwa pada indikator penilaian petani terhadap kegiatan penyuluhan, indikator mendapatkan skor tertinggi dibandingkan dengan parameter yang lain. KESIMPULAN Penyuluhan pertanian dengan menggunakan metode temu lapang mendapatkan atensi yang paling tinggi dari petani jagung yang ada di Desa Modelidu dengan skor rata Ae rata 191,67. Dapat disimpulkan bahwa pada Desa Modelidu atau desa dengan corak karakteristik yang sama, metode temu lapang lebih efektif digunakan oleh penyuluh pertanian. Namun demikian tidak menutup kemungkinan pelaksanaan penyuluhan pertanian dilakukan dengan metode mixed metode seperti temu lapang dengan metode DAFTAR PUSTAKA